0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan28 halaman

Pemahaman Hipertensi: Penyebab dan Klasifikasi

Diunggah oleh

wORO Anggonowati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan28 halaman

Pemahaman Hipertensi: Penyebab dan Klasifikasi

Diunggah oleh

wORO Anggonowati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI

RENI SUSANTI
01202208185

PRODI PROFESI NERS FAKULTAS


ILMU KESEHATAN
ITS PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2022/2023
A. Pengertian

Hipertensi merupakan kondisi yang tidak normal dimana tekanan


darah meningkat melebihi batas normal yang dapat mengganggu kerja
organ dan dapat menyebabkan komplikasi penyakit seperti stroke serta
penyakit arteri coroner. Hipertensi masuk dalam the silent killer dimana
seseorang yang mengalami hipertensi tidak menyadari bahwa tubuhnya
terkena hipertensi apabila tidak melakukan pemeriksaan tekanan darah
(Bruner & Suddart dalam, istichomah, 2020).

Menurut (Hariawan&Tatisina, 2020) hipertensi adalah kondisi


dimana peningkatan tekanan darah individu meningkat diatas normal dan
meningkatkan angka kematian. Penyakit hipertensi masih menjadi
persoalan besar masalah kesehatan yang apabila tidak diatasi dengan baik
akan mengakibatkan keparahan lainnya. Dibutuhkan penatalaksanaan
hipertensi yang tepat dan akurat.

Hipertensi urgensi merupakan situasi terkait peningkatan tekanan


darah yang berat pada kondisi klinis stabil tanpa adanya perubahan akut
atau ancaman kerusakan organ target atau disfungsi organ.1 Pada kondisi
ini tidak terdapat bukti klinis kerusakan organ akut diperantarai
hipertensi, Hipertensi urgensi: peningkatan tekanan darah sama seperti
hipertensi emergensi, namun tanpa kerusakan organ akut/TOD(Kaplan,
2015).

Hipertensi Urgensi merupakan suatu keadaan yang mirip dengan


krisis hipertensi (tekanan darah sistolik > 180 mmHg dan tekanan darah
diastolik > 120 mmHg), akan tetapi tanpa disertai kerusakan organ
target. Hipertensi Urgensi tidak dimasukkan juga ke dalam klasifikasi
JNC 7, akan tetapi juga merupakan suatu keadaan yang khusus dimana
tekanan darah ini harus diturunkan dalam waktu 24 jam dengan pemberian
obat antihipertensi(Firdaus, 2013).

Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,


dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan
meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan
jantung, dan kerusakan ginjal.

B. Etiologi
Menurut Udjianti(2013) berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi
menjadi dua, yaitu:
1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer
Merupakan 90% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi
esensial yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah
yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Beberapa faktor
diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi esensial adalah :
a. Genetik
Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi,
beresiko tinggi untuk terkena penyakit ini. Faktor genetik ini
tidak dapat dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang
memiliki tekanan darah tinggi.

b. Jenis kelamin dan usia


Laki-laki berusia 35-50 tahun dan wanita menopause beresiko
tinggi untuk mengalami hipertensi. ketika perempuan memasuki
usia tua (menopause) hormon estrogen akan menurun kadarnya
sehingga perempuan lebih rentan terhadap hipertensi. Penderita
hipertensi pada perempuan dipengaruhi oleh kadar hormon
estrogen. Jika usia bertambah maka tekanan darah meningkat.
Faktor ini dapat dikendalikan, serta jenis kelamin laki laki lebih
tinggi dari pada perempuan.
c. Diet
Konsumsi diet garam atau lemak secara langsung berhubungan
dengan berkembangnya hipertensi. Faktor ini bisa dikendalikan
oleh penderita dengan mengurangi konsumsi garam. Karena
dengan mengkonsumsi banyak garam dapat meningkatkan
tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya
dengan penderita hipertensi, diabetes, serta orang dengan usia
yang tua karena jika garam yang dikonsumsi berlebihan, ginjal
yang bertugas untuk mengolah garam akan menahan cairan lebih
banyak dari pada yang seharusnya didalam tubuh.

Banyaknya cairan yang tertahan menyebabkan


peningkatan pada volume darah seseorang atau dengan kata lain
pembuluh darah membawa lebih banyak cairan. Beban ekstra
yang dibawa oleh pembuluh darah inilah yang menyebabkan
pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan
tekanan darah didalam dinding pembuluh darah. Kelenjar
adrenal memproduksi suatu hormon yang dinamakan Ouobain.
Kelenjar ini akan lebih banyak memproduksi hormone tersebut
ketika seseorang mengkonsumsi terlalu banyak garam.

Hormon ouobain berfungsi untuk menghadirkan protein


yang menyeimbangkan kadar garam dan kalsium dalam
pembuluh darah, namun ketika konsumsi garam meningkat
produksi hormon ouobain menganggu keseimbangan kalsium
dan garam dalam pembuluh darah.

d. Berat badan
Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat
badan dalam keadaan normal atau ideal. Obesitas (>25%
diatas BB ideal) dikaitkan dengan berkembangnya
peningkatan tekanan darah atau hipertensi.
e. Gaya hidup
Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan
pola hidup sehat dengan menghindari factor pemicu hipertensi
terjadi yaitu merokok, dengan merokok berkaitan dengan
jumlah rokok yang dihisap dalam waktu sehari dan dapat
menghabiskan beberapa punting rokok dan lama merokok
berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi alcohol
yang sering, atau berlebihan dan terus menerus dapat
meningkatkan tekanan darah pasien, sebaiknya jika memiliki
tekanan darah tinggi pasien diminta untuk menghindari
alkohol agar tekanan darah pasien dalam batas stabil dan
memelihara gaya hidup sehat penting agar terhindar dari
komplikasi yang bisa terjadi.
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi
adalah hipertensi sekunder, yang didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada
sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid,
hipertensi endokrin, hipertensi renal, kelainan saraf pusat yang
dapat mengakibatkan hipertensi. Dari penyakit tersebut karena
hipertensi sekunder yang terkait dengan ginjal disebut hipertensi
ginjal (renal hypertension).

Gangguan ginjal yang paling banyak menyebabkan tekanan


darah tinggi karena adanya penyempitan pada arteri ginjal, yang
merupakan pembuluh darah utama penyuplai darah ke kedua
organ ginjal. Bila pasokan darah menurun maka ginjal akan
memproduksi berbagai zat yang meningkatkan tekanan darah
serta gangguan yang terjadi pada tiroid juga merangsang aktivitas
jantung, meningkatkan produksi darah yang mengakibatkan
meningkatnya resistensi pembuluh darah sehingga mengakibatkan
[Link] pencetus munculnya hipertensi sekunder
antara lain: penggunaan kontrasepsi oral, coarctation aorta,
neurogenik (tumor otak, ensefalitis, gangguan psikiatris),
kehamilan, peningkatan volume intravaskuler, luka bakar ,dan
stress.

C. Klasifikasi

Klasifikasi hipertensi menurut american society of hypertension and the


international society of hypertension 2013

Kategori Tekanan darah Tekanan darah


sistolik (mmHg) diastolic (mmHg)

Optimal < 120 mmHg < 80 mmHg

Normal 120 – 129 mmHg < 80 mmHg

Normal Tinggi 130 - 139 mmHg 80 – 89 mmHg

Hipertensi derajat 1 140 - 159 mmHg 90 - 99 mmHg

Hipertensi derajat 2 160 – 179 100 – 109 mmHg


mmHg
Hipertensi derajat 3 ≥180 mmHg ≥110 mmHg

Hipertensi sistolik ≥140 mmHg <90 mmHg


terisolasi
Tabel 2.1 Klasifikasi tekanan darah (Julianty Pradono
2020)

D. Manifestasi Klinis

Menurut (Oktavianus; Febriana Sartika Sari 2014) kebanyakan


orang dengan darah tinggi tidak memiliki tanda atau mengalami gejala,
meskipun tekanan darah mencapai level tinggi yang membahayakan
kesehatan. Meskipun beberapa orang dengan hipertensi tahap awal
mungkin mengalami “dull headaches”, pusing atau beberapa lagi
mimisan, tanda dan gejala ini biasanya tidak muncul sampai hipertensi
tahap yang berat bahkan tingkat yang mengancam nyawa.
Secara umum orang dengan hipertensi terlihat sehat dan sebagian
besar tidak menimbulkan gejala. Tapi ada pula gejala awal yang mungkin
timbul dari hipertensi yaitu sakit kepala, perdarahan dari hidung, pusing,
wajah kemerahan, kelelahan.

E. Patofisiologi
Reseptor yang menerima perubahan tekanan daerah yaitu reflex
baroreseptor yang terdapat pada sinus karotis dan arkus aorta. Pada
hipertensi karena adanya berbagai gangguan genetic dan resiko
lingkungan, maka terjadi gangguan neurohormonal yaitu sistem saraf
pusat dan sistem renin-angiotensin-aldosterone, serta terjadinya
inflamasi dan resistensi insulin. Resistensi insulin dan gangguan
neurohormonal menyebabkan vasokonstriksi sistemik dan peningkatan
resistensi perifer. Inflamasi menyebabkan gangguan ginjal yang disertai
gangguan system renin-angiotensin-aldosteron (RAA) yang
menyebabkan retensi garam dan air ginjal, sehingga terjadi peningkatan
volume darah. Peningkatan resistensi perifer dan volume darah
merupakan dua penyebab utama terjadinya hipertensi (Asikin, dkk,
2016).
F. Patofisiologi

G. Penatalaksanaan

Menurut (nixson Manurung 2018) penatalaksanaan hipertensi dapat


dilakukan dengan Terapi farmakologi dan Terapi non Farmakologi:
1. Terapi Farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi adalah penatalaksanaan hipertensi
dengan menggunakan obat kimiawi, seperti jenis obat anti hipertensi.
Ada berbagai macam jenis obat anti hipertensi pada penatalaksanaan
farmakologis, yaitu :
a. Diuretik
Diuretik menurunkan tekanan darah dengan cara mengurangi
jumlah air dan garam di dalam tubuh serta melonggarkan
pembuluh darah. Sehingga tekanan darahsecara perlahan
lahan mengalami penurunan karena hanya fluida yang sedikit di
dalam sirkulasi dibandingkan dengan sebelum menggunakan
diuretik. Selain itu, jumlah garam di dinding pembuluh darah
menurun sehingga menyebabkan pembuluh darah membesar.
Kondisi tersebut membantu tekanan darah menjadi normal.
b. Penghambat adrenergenik
Mekanisme kerja obat ini melalui penurunan daya pompa
jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang
telah diketahui mengidap gangguan pernafasan seperti asma
bronkial.
c. Vasodilator
Agen vasodilator bekerja langsung pada pembuluh darah dengan
merelaksasi otot pembuluh darah. Contoh yang termasuk obat
jenis vasodilator adalah prasosin dan hidralasin. Kemungkinan
yang akan terjadi akibat pemberian obat ini adalah sakit kepala
dan pusing.
d. Penghambat enzim konversi angiotensin (penghambat ACE).
Obat ini bekerja melalui penghambatan aksi dari sistem renin-
angiotensin. Efek utama ACE inhibitor adalah menurunkan efek
enzim pengubah angiotensin (angiotensin-converting enzyme).
Kondisi ini akan menurunkan perlawanan pembuluh darah dan
menurunkan tekanan darah.
e. Antagonis kalsium
Merupakan sekelompok obat yang bekerja mempengaruhi jalan
masuk kalsium sel sel dan mengendurkan otot - otot di dalam
dinding pembuluh darah sehingga menurunkan perlawanan
terhadap aliran darah dan tekanan darah. Yang termasuk obat ini
adalah Nifedipin, Diltiazem dan Verapamil. Efek samping yang
mungkin timbul adalah sembelit, pusing, sakit kepala dan
muntah.
2. Terapi Non Farmakologi
Upaya pengobatan hipertensi dapat dilakukan dengan pengobatan
non farmakologis, termasuk mengubah gaya hidup yang tidak sehat.
Penderita hipertensi membutuhkan perubahan gaya hidup yang sulit
dilakukan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, factor yang
menentukan dan membantu kesembuhan pada dasarnya adalah diri
sendiri. Perubahan gaya hidup sehat bagi penderita hipertensi yaitu :
a. Mengontrol pola makan.
Mengkonsumsi garam sebaiknya tidak lebih dari 2000 sampai
2500 miligram, karena tekanan darah dapat meningkat bila
asupan garam meningkat. Pembatasan asupan sodium dapat
mempertinggi efek sebagian besar obat yang digunakan untuk
mengobati tekanan darah tinggi kecuali kalsium antagonis.
Penderita hipertensi sebaiknya lemak kurang dari 30% dari
konsumsi kalori setiap hari. Mengkonsumsi banyak lemak akan
berdampak pada kadar kolesterol yang tinggi. Kadar kolesterol
yang tinggi meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.
b. Tingkatkan konsumsi potasium dan magnesium.
Pola makan yang rendah potassium dan magnesium menjadi
salah satu faktor pemicu tekanan darah tinggi. Buah buahan dan
sayuran segar merupakan sumber nutrisi terbaik untuk
menurunkan tekanan darah.
c. Makan makanan jenis padi padian
Bagi orang yang mengkonsumsi sedikitnya satu porsi sereal dari
jenis padi padian per hari mempunyai kemungkinan yang sangat
kecil untuk terkena penyakit jantung. Semakin banyak
mengkonsumsi padi - padian, semakin rendah risiko penyakit
jantung koroner, termasuk terkena penyakit hipertensi.
d. Aktivitas olahraga.
Melalui olahraga yang isotonik dan teratur (aktivitas fisik
aerobic selama 30-45 menit per hari) dapat menurunkan
tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah, berjalan
kaki misal jalan jalan dipagi/sore hari, berenang di kolam renang
selama 30 menit, bersepeda selama 2-3 kali selama satu minggu,
berlari setiap hari dimana melakukan latihan ringan pada
awalnya dan ditingkatan secara perlahan dll.
e. Bantuan dari kelompok pendukung
Sertakan keluarga dan teman menjadi kelompok pendukung pola
hidup sehat. Sehingga keluarga dan teman teman mengerti
sepenuhnya tentang besarnya risiko jika tekanan darah tidak
terkendali. Dengan demikian keluarga dan teman akan
membantu dengan memperhatikan makanan atau mengingatkan
saat tiba waktunya untuk minum obat atau untuk untuk
melakukan aktivitas berjalan jalan setiap hari.
f. Berhenti merokok dan hindari konsumsi alkohol berlebihan.
Nikotin dalam tembakau adalah penyebab meningkatnya tekanan
darah. Nikotin diserap oleh pembuluh darah di dalam paru paru
dan diedarkan ke aliran darah. Demikian dengan alkohol, efek
mengkonsumsi alkohol maka semakin tinggi tekanan darah,
sehingga peluang terkena hipertensi semakin tinggi karena
alcohol dalam darah merangsang pelepasan epinefrin(adrenalin)
dan hormon lain yang membuat pembuluh darah menyempit atau
menyebabkan penumpukan lebih natrium dan air. Selain itu
alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan kekekurangan gizi
yaitu penurunan kadar kalsium dan magnesium, rendahnya kadar
dari kalsium dan magnesium berkaitan dengan peningkatan
pembuluh darah.
3. Terapi Herbal.
Di dalam Traditional Chinesse Pharmacology, ada lima
macam cita rasa dari tanaman obat yaitu pedas, manis, asam, pahit
dan asin. Pengkajian jenis obat obatan herbal khususnya dalam terapi
hipertensi disuguhkan dengan beberapa cara, misalnya dengan
dimakan langsung, disajikan dengan dibuat jus untuk diambil sarinya,
diolah menjadi obat ramuan ataupun dimasak sebagai pelengkap
menu sehari hari. Adapun tanaman obat tradisional yang dapat
digunakan untuk penyakit hipertensi yaitu: bawang putih, seledri,
belimbing wuluh, belimbing, wortel, teh, mengkudu, mentimun, dan
lain lain.

H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Udjianti(2013) menjelaskan bahwa pemeriksaan
penunjang atau pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk pasien
dengan hipertensi antara lain:
1. Hitung darah lengkap (complete Blood cells Count) meliputi
pemeriksaan hemoglobin, hematokrit untuk menilai viskositas dan
indikator faktor risiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
2. Kimia darah
a. BUN kreatinin: peningkatan kadar menandakan penurunan
perfusi atau faal renal.
b. Serum glukosa: hiperglisemia (diabetes mellitus adalah
presipitator hipertensi) akibat peningkatan kadar katekolamin.
c. Kadar kolesterol atau trigliserida: peningkatan kadar
mengindikasikan predisposisi pembentukan plaque atheromatus.
d. Kadar serum aldosterone: menilai adanya aldosteronisme
primer.
e. Studi tiroid (T3 dan T4) menilai adanya hipertiroidisme
yang berkontribusi terhadap vasokontriksi dan hipertensi.
f. Asam urat: hiperurisemia merupakan implikasi factor risiko
hipertensi.
3. Elektrolit
a. Serum potasium atau kalium (hipokalemia mengindikasikan
adanya aldosteronisme atau efek samping terapi diuretik).
b. Serum kalsium bila meningkat berkontribusi terhadap hipertensi.
4. Urine
a. Analisis urine adanya darah, protein, glukosa dalam urine
mengindikasikan disfungsi renal atau diabetes.
b. Urine VMA (catecholamine metabolite): peningkatan kadar
mengindikasikan adanya pheochromacytoma.
c. Steroid urine: peningkatan kadar mengindikasikan
hiperadrenalisme, pheochomacytoma, atau disfungsi pituitasi,
sindrom cushing’s, kadar renin juga meningkat.
5. Radiologi
a. Intra Venous Pyelografi (IVP), mengidentifikasi penyebab
hipertensi seperti renal pharenchymal disease, urolithiasis,
benign prostate hyperplasia (BPH).
b. Rontgen toraks, menilai adanya klasifikasi obstruksi katup
jantung, deposit kalsium pada aorta, dan pembesaran jantung.
6. EKG
Menilai adanya hipertrofi miokard, pola strain, gangguan
konduksi atau disritmia.
I. Komplikasi
Menurut Dalimartha (2019), penderita hipertensi berisiko terserang
penyakit lain yang menyebabkan komplikasi, beberapa penyakit yang
timbul sebagai akibat hipertensi di antaranya sebagai berikut:
1. Penyakit Jantung coroner
Penyakit ini sering di alami penderita hipertensi sebagai akibat
terjadinya pengapuran pada dinding pembuluh darah jantung.
Penyempitan lubang pembuluh darah jantung menyebabkan
berkurangnya aliran darah pada beberapa bagian otot jantung. Hal
ini menyebabkan rasa nyeri di dada dan dapat berakibat
gangguanpada otot jantung. Bahkan dapat menyebabkan timbul nya
serangan jantung.
2. Gagal Jantung
Tekanan darah yang tinggi memaksa otot jantung bekerja lebih
berat untuk memompa darah. Kondisi itu berakibat otot jantung akan
menebal dan merenggang sehingga daya pompa otot menurun. Pada
akhirnya dapat terjadi kegagalan kerja jantung secara umum. Tanda -
tanda adanya komplikasi yaitu sesak napas, napas putus - putus
(pendek), dan terjadi pembengkakan pada tungkai bawah serta kaki.
3. Kerusakan pembuluh darah otak
Beberapa penelitian di luar negeri mengungkapkan bahwa
hipertensi menjadi penyebab utama pada kerusakan pembuluh darah
otak. Ada dua jenis kerusakan yang di timbulkan yaitu pecahnya
pembuluh darah dan rusaknya dinding pembuluh darah. Dampak
akhirnya, seseorang bisa mengalami stroke dan kematian.
4. Gagal Ginjal
Gagal ginjal merupakan peristiwa di mana ginjal tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya. Ada dua jenis kelainan ginjal
akibat hipertensi, yaitu nefrosklerosis benigna dan nefrosklerosis
maligna. Nefrosklerosis benigna terjadi pada hipertensi yang
berlangsung lama sehingga terjadi pengendapan fraksi - fraksi
plasma pada pembuluh darah akibat proses menua. Hal itu akan
menyebabkan daya permeabilitas dinding pembuluh darah
berkurang. Adapun nefrosklerosis maligna merupakan kelainan
ginjal yang di tandai dengan naiknya tekanan diastole di atas 130
mmHg yang disebabkan terganggunya fungsi ginjal.
5. Stroke
Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan tinggi di otak atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang
terpajang tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik
apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi
berkurang. Arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat
melemah sehingga meningkatkan kemingkinan terbentuknya
aneurisma.
6. Infark Miokard
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri coroner yang
arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium
atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah
melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan hipertrofi
ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
Demikian juga, hipertrofi ventrikel sehingga terjadi disritmia,
hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembekuan darah.
7. Ensefalopati (kerusakan otak)
Ensefalopati dapat terjadi, terutama pada hipertensi
maligna(hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan
sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan kapiler dan
mendorong cairan keruang interstisial di seluruh susunan saraf pusat.
Neuron - neuron di sekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
8. Kejang
Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir
mungkin memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi
plasenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia, ibu
mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan.

J. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Proses kesehatan fungsional menurut Gordon dalam Aspiani
(2016) yaitu:
a. Identitas klien
1) Identitas klien meliputi : Nama, umur, tempat tanggal lahir,
jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku atau bangsa, agama,
status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit (MRS),
nomor register, dan diagnosa medik.
2) Identitas penanggung jawab meliputi : Nama, umur, jenis
kelamin, alamat, pekerjaan, serta status hubungan dengan
pasien.
b. Keluhan utama
Keluhan yang dapat muncul antara lain: nyeri kepala, gelisah,
palpitasi, pusing, leher kaku, penglihatan kabur, nyeri dada,
mudah lelah, dan impotensi.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Pengkajian yang mendukung keluhan utama dengan
memberikan pertanyaan tentang kronologi keluhan utama.
Keluhan lain yang menyertai biasanya : sakit kepala, pusing,
penglihatan buram, mual, detak jantung tak teratur, nyeri dada.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Kaji adanya riwayat penyakit hipertensi, penyakit jantung,
penyakit ginjal, stroke. Penting untuk mengkaji mengenai
riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat
alergi terhadap jenis obat.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji didalam keluarga adanya riwayat penyakit hipertensi,
penyakit metabolik, penyakit menular seperi TBC, HIV, infeksi
saluran kemih, dan penyakit menurun seperti diabetes militus,
asma, dan lain-lain.
f. Aktivitas atau istirahat,
Gejala :
1) Kelemahan.
2) Letih.
3) Napas pendek.
4) Gaya hidup monoton.
Tanda :
1) Frekuensi jantung meningkat.
2) Perubahan irama jantung.
3) Takipnea.
g. Sirkulasi
Gejala :
1) Riwayat hipertensi.
2) Aterosklerosis.
3) Penyakit jantung koroner atau katup.
4) Penyakit serebrovaskuler.
5) Episode palpitasi.
Tanda :
1) Peningkatan tekanan darah.
2) Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis,
takikardia.
3) Murmur stenosis valvular.
4) Distensi vena jugularis.
5) Kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokonstriksi perifer).
6) Pengisian kapiler mungkin lambat atau tertunda.

h. Intergritas Ego
Gejala :
1) Riwayat perubahan kepribadian.
2) Ansietas.
3) Faktor stress multiple (hubungan keuangan, yang
berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda :
1) Gelisah.
2) Penyempitan perhatian.
3) Tangisan meledak.
4) Otot muka tegang.
5) Menghela napas.
6) Peningkatan pola bicara.
i. Eliminasi
Gejala: Gangguan ginjal saat ini (seperti obstruksi) atau riwayat
penyakit ginjal pada masa lalu.
j. Makanan atau cairan
Gejala :
1) Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam,
lemak, serta kolesterol.
2) Mual, muntah dan perubahan berat badan saat ini (meningkat
atau turun).
3) Riwayat penggunaan diuretik.
Tanda :
1) Berat badan normal atau
obesitas.
2) Adanya edema.
3) Glikosuria.
k. Neurosensori
Gejala :
1) Keluhan pusing atau pening, berdenyut, sakit kepala,
suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara
spontan setelah beberapa jam).
2) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur,
epistaksis).
Tanda :
1) Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola atau
isi bicara, efek, proses pikir.
2) Penurunan kekuatan genggaman tangan.
l. Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala: Angina (penyakit arteri koroner atau keterlibatan jantung),
sakit kepala deskripsi verbal tentang nyeri klien merupakan penilai
terbaik dari nyeri yang dialaminya danmharus diminta untuk
menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi yang
diperlukan harus menggambarkan nyeri klien terdapat dalam
beberapa cara yaitu sebagai berikut :
1) Intensitas nyeri. Klien dapat diminta untuk membuat
tingkatan nyeri pada skala verbal (misal : tidak nyeri, sedikit
nyeri, nyeri hebat, atau sangat hebat, atau 0 sampai 10 dimana
0 = tidak ada nyeri, 10 = nyeri sangat hebat).
2) Karakteristik nyeri. Termasuk letak (untuk area di mana
nyeri pada berbagai organ mungkin merupakan alih), durasi
(menit, jam, hari, bulan, dan sebagainya), irama (terus-
menerus, hilang timbul, periode bertambah dan berkurangnya
intensitas atau keberadaan dari nyeri) dan kualitas (nyeri
seperti ditusuk-tusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti
digencet).
3) Faktor-faktor yang meredakan nyeri. (misalnya gerakan,
kurang bergerak, pengerahan tenaga, istirahat, obat-obat
bebas, dan sebagainya), dan apa yang dipercaya klien dapat
membantu mengatasi nyerinya. Banyak orang yang
mempunyai ide-ide tertentu tentang apa yang akan
menghilangkan nyerinya. Perilaku ini sering didasarkan pada
pengalaman.
4) Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari
(misalnya tidur, nafsu makan, konsentrasi, interaksi dengan
orang lain, gerakan fisik, bekerja, dan aktivitas-aktivitas
santai). Nyeri akut sering berkaitan dengan ansietas dan nyeri
kronis dengan depresi.
5) Kekhawatiran klien tentang nyeri. Dapat meliputi berbagai
masalah yang luas, seperti beban ekonomi, prognosis,
pengaruh terhadap peran dan perubahan citra diri (Smeltzer,
2013 : 217).
m. Pernapasan
Gejala :
1) Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas atau kerja,
takipnea, ortopnea, dispnea.
2) Batuk dengan atau tanpa sputum.
3) Riwayat merokok.
Tanda :
1) Distress respirasi atau penggunaan otot aksesoris pernapasan.
2) Bunyi napas tambahan (crackles atau mengi).
3) Sianosis.
n. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan, hipotensi
postural.
o. Pembelajaran atau penyuluhan.
Gejala :
1) Faktor risiko keluarga: Hipertensi, aterosklerosis,
penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit ginjal.
2) Faktor lain: Risiko etnik, penggunaan pil KB atau
hormone, penggunaan alkohol atau obat.
K. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan peningkatan tekanan
darah.
3. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
afterload.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

L. Perencanaan Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Intervens Rasional
Kriteria Hasil (SIKI)
Keperawatan (SLKI)
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen
berhubungan dengan tindakan Nyeri(I.08238)
agen pencedera keperawatan 1X2 Observasi:
fisiologis(D.0077). jam, diharapkan Observasi:
1. Untuk mengetahui
nyeri yang 1. Identifikasi lokasi, tingkat nyeri klien.
dirasakan dapat karakteristik, durasi, 2. Untuk mengetahui
berkurang atau frekuensi, kualitas, tingkat
hilang. Dengan intensitas nyeri. ketidaknyamanan
kriteria hasil : 2. Identifikasi skala nyeri. yang dirasakan
Kontrol Nyeri 3. Identifikasi respon nyeri klien.
(L.08063) : non verbal.
1. Melaporkan Terapeutik:
bahwa nyeri Terapeutik:
berkurang. 1. Berikan teknik
2. Mampu nonfarmakologis untuk 1. Memberikan
mengenali mengurangi rasa nyeri pengetahuan kepada
onset nyeri. (mis. Tens, hypnosis pasien untuk
3. Mampu akupresur, terapi musik, menangani rasa nyeri
mengenali kompres hangat atau secara mandiri.
penyebab dingin, teknik relaksasi 2. Dengan memberikan
nyeri. nafas dalam). posisi nyaman klien
2. Memberikan posisi dapat beristirahat.
nyaman.

Edukasi: Edukasi

1. Jelaskan penyebab, 1. Menjelaskan kepada


periode, dan pemicu klien apa penyebab,
nyeri. dan pemicu
2. Anjurkan monitor nyeri timbulnya nyeri.
secara mandiri.
3. Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(teknik nafas dalam).
Kolaborasi: Kolaborasi:

1. Pemberian analgetik 1. Zat aktif yang


jika perlu. terdapat pada obat
analgetik berfungsi
dapat menghambat
mediator nyeri.

No Diagnosa Tujuan dan Intervens Rasional


Kriteria Hasil (SIKI)
Keperawatan (SLKI)
2 Perfusi perifer tidak Setelah dilakukan Pemantauan tanda vital
efektif berhubungan tindakan (I.02060) :
dengan peningkatan keperawatan 1X2 Observasi:
tekanan darah(D.0009). jam, diharapkan Observasi:
1. Untuk mengetahui
perfusi perifer 1. Monitor tekanan darah. tekanan darah klien.
meningkat. Dengan 2. Monitor nadi (frekuensi, 2. Untuk mengetahui
kriteria hasil : kekuatan, irama). nadi (frekuensi,
Perfusi 3. Monitor pernapasan kekuatan, irama)
Perifer(L.02011) : (frekuensi, kedalaman). klien.
1. Nadi perifer 4. Monitor suhu tubuh. 3. Untuk mengetahui
teraba kuat. 5. Monitor oksimetri nadi. frekuensi kedalaman
2. Akral teraba 6. Identifikasi penyebab klien dalam bernapas.
hangat. perubahan tanda vital. 4. Untuk mengetahui
3. Warna kulit suhu tubuh dan
Terapeutik: oksimetri nadi.
tidak pucat
1. Atur interval 5. Mengetahui tekanan
pemantauan sesuai nadi klien.
kondisi pasien. 6. Untuk mengetahui
2. Dokumentasikan hasil penyebab perubahan
pemantauan. tanda vital pada klien.

Edukasi: Terapeutik:

1. Jelaskan tujuan dan 1. Mendokumentasikan


prosedur pemantauan. hasil pemeriksaan
2. Informasikan hasil tanda vital klien.
pemantauan, jika perlu. Edukasi:

1. Untuk mengetahui
perkembangan kondisi
kesehatan klien.
2. Memberitahukan hasil
pemantauan kepada
klien
No Diagnosa Tujuan dan Intervens Rasional
Kriteria Hasil (SIKI)
Keperawatan (SLKI)

3 Resiko penurunan Setelah dilakukan Perawatan Observasi:


curah jantung tindakan jantung(I.02008) :
berhubungan dengan keperawatan 1X2 1. Penurunan curah
perubahan jam, diharapkan Observasi: jantung dapat di
afterload(D.0011). curah jantung identifikasi melalui
1. Identifikasi tanda atau gejala yang muncul.
membaik. Dengan gejala primer penurunan
kriteria hasil : Meliputi dyspnea,
curah jantung (meliputi kelelahan, edema,
Curah dispnea, kelelahan,
jantung(L.02008) : ortopnea, dan adanya
edema, ortopnea, peningkatan CVP).
1. Kekuatan nadi paroxysmal nocturnal 2. Tekanan darah pada
perifer dyspnea, peningkatan klien dengan curah
meningkat. CVP). jantung perlu untuk
2. Tanda vital 2. Identifikasi tanda atau dimonitor karena
dalam rentang gejala sekunder untuk membantu
normal. penurunan curah penegakan diagnostic.
3. Nadi teraba jantung(mis: 3. Untuk mengetahui
kuat. peningkatan berat intake dan output
4. Pasien tidak badan, cairan klien .
mengeluh lelah. hepatomegali,distensi 4. Nyeri dada yang
5. Tekanan darah vena jugularis, palpitasi, muncul biasanya
cukup membaik. ronkhi basah, memicu adanya
oliguria, batuk, kulit komplikasi atau
pucat). kelainan yang terjadi
3. Monitor tekanan darah. berhubungan dengan
4. Monitor intake dan system coroner.
output cairan.
5. Monitor keluhan nyeri Terapeutik:
dada.
1. Posisi semi fowler
Terapeutik: atau fowler diberikan
agar klien nyaman dan
1. Posisikan pasien semi membuat sirkulasi
fowler atau fowler darah berjalan dengan
dengan kaki ke bawah baik.
atau posisi nyaman. 2. Terapi relaksasi dapat
2. Berikan terapi relaksasi mengurangi rasa stress
untuk mengurangi yang dirasakan klien.
strees, jika perlu.
Edukasi:
Edukasi: 1. Menganjurkan klien
untuk beraktivitas
1. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai dengan
fisik sesuai toleransi. toleransi dan
2. Anjurkan beraktivitas dilaksanakan secara
fisik secara bertahap. bertahap.
Kolaborasi: Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian 1. Antiaritmia adalah
antiaritmia, jika perlu. obat yang digunakan
untuk menangani
kondisi aritmia atau
ketika denyut jantung
berdetak terlalu cepat
atau terlalu lambat,
dan tidak teratur.
No Diagnosa Tujuan dan Intervens Rasional
Kriteria Hasil (SIKI)
Keperawatan (SLKI)

4 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Manajemen energi


berhubungan dengan tindakan (I.05178) :
kelemah(D.0056). keperawatan 1X2 Observasi:
jam, diharapkan Observasi:
1. Untuk mengetahui
toleransi aktivitas 1. Identifikasi gangguan gangguan fungsi
membaik. Dengan fungsi tubuh yang tubuh yang dialami
kriteria hasil : melibatkan kelelahan. klien akibat kelelahan.
Toleransi 2. Monitor kelelahan fisik 2. Untuk mengetahui
aktivitas(L.02011) dan emosional.
: tingkat kelelahan fisik
3. Monitor pola dan jam dan emosional klien.
1. Pasien tidur. 3. Untuk mengetahui
mampu 4. Monitor lokasi dan pola tidur klien
melakukan ketidaknyamanan apakah teratur atau
aktivitas selama melakukan tidak.
sehari-hari. aktivitas. 4. Untuk mengetahui
2. Pasien Terapeutik: lokasi dan tingkat
mampu ketidaknyamanan
berpindah 1. Sediakan lingkungan klien selama
tanpa yang nyaman dan melakukan aktivitas.
bantuan. rendah stimulus (mis:
3. Pasien cahaya, suara, Terapeutik:
mengatakan kunjungan). 1. Untuk memberikan
keluhan 2. Lakukan latihan rasa nyaman kepada
lemah rentang gerak pasif dan pasien.
berkurang. atau aktif. 2. Untuk meningkatkan
3. Berikan aktifitas dan melatih massa
distraksi yang otot dan gerak
menenangkan. ekstremitas klien.
4. Fasilitas duduk disisi 3. Untuk mengalihkan
tempat tidur, jika tidak
rasa ketidaknyamanan
dapat berpindah atau
yang dialami klien.
berjalan.
4. Untuk melatih gerak
Edukasi: mobilisasi klien
selama dirawat.
1. Anjurkan tirah baring.
2. Anjurkan melakukan Edukasi:
aktifitas secara
bertahap. 1. Untuk memberikan
3. Anjurkan strategi kenyamanan klien saat
koping untuk beristirahat.
mengurangi kelelahan. 2. Untuk menunjang
Kolaborasi: proses kesembuhan
pasien.
1. Kolaborasi dengan ahli 3. Agar klien dapat
gizi tentang cara mengatasi
meningkatkan asupan kelelahannya secara
makanan. mandiri dengan
mudah.

Kolaborasi:
1. Untuk
memaksimalkan
proses penyembuhan
pasien.
K. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah pengetahuan dan perwujudan rencana keperawatan yang telah di


susun pada tahap perencanaan. Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien
terkait degan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi, pendidikan untuk
klien dan keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul
dikemudian hari.

M. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan yang
berguna apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu
pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur keberhasilan dan rencana dan pelaksanaan
tindakan keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. Penilaian adalah
tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan yaitu
pada komponen kognitif, efektif, psikomotor, perubahan fungsi dan tanda gejala yang spesifik
Evaluasi penelitian ini menggunakan SOAP. Subjective (subjektif), Objective, Assesment
(penilaian), dan Plan (perencanaan).
DAFTAR PUSTAKA

Canadia Best Practice Recommendation For Stroke Care. (2013). Diunduh pada tanggal
20 Juli 2017 dari [Link]

Depkes RI. (2013). Pola pembinaan kesehatan usia lanjut di panti werdha. Jakarta : Directorat
Bina Kesehatan Keluarga.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (KEMENKES). (2014). Profil kesehatan


indonesia tahun 2014. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Lemone, P., & Burke, K. (2004). Medical surgical nursing: assement & management of

clinical problem. 7th Edition. St. Louis: Missouri. Mosby-Year Book, Inc

Mutaqqin, A. (2013). Buku ajar asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem
persarafan

Tarwanto,(2013),Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta:CV Sagung Seto.

Price, S.A., & Wilson, L. M. (2002). Patofisiologi konsep klinis proses penyakit. Edisi

6. Jakarta : EGC

Sitorus, R. J. (2008). Faktor-faktor resiko yangb mempengaruhi kejadian stroke pada usia
muda kurang dari 40 tahun (studi kasus di semarang). Jurnal Epidemiologi.
Diunduh pada tanggal 23 Juli 2017 dari

[Link]

Smeltzer,S.C., & Bare, B. G. (2002). Brunner & Suddarth’s textbook of medical

surgical nursing. 11th edition. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins

Stockslager, J., & Schaeffer, L. (2008). Buku Saku: Asuhan Keperawatan Geriatric.

Edisi 2. Alih Bahasa: Nike BS. Jakarta: EGC

Word Health Organization (WHO). (2014). Environmental [Link] pada 23 juli


2017 dari [Link]
28

Anda mungkin juga menyukai