Pemahaman Hipertensi: Penyebab dan Klasifikasi
Pemahaman Hipertensi: Penyebab dan Klasifikasi
HIPERTENSI
RENI SUSANTI
01202208185
B. Etiologi
Menurut Udjianti(2013) berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi
menjadi dua, yaitu:
1. Hipertensi esensial atau hipertensi primer
Merupakan 90% dari seluruh kasus hipertensi adalah hipertensi
esensial yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah
yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik). Beberapa faktor
diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi esensial adalah :
a. Genetik
Individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi,
beresiko tinggi untuk terkena penyakit ini. Faktor genetik ini
tidak dapat dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang
memiliki tekanan darah tinggi.
d. Berat badan
Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat
badan dalam keadaan normal atau ideal. Obesitas (>25%
diatas BB ideal) dikaitkan dengan berkembangnya
peningkatan tekanan darah atau hipertensi.
e. Gaya hidup
Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan
pola hidup sehat dengan menghindari factor pemicu hipertensi
terjadi yaitu merokok, dengan merokok berkaitan dengan
jumlah rokok yang dihisap dalam waktu sehari dan dapat
menghabiskan beberapa punting rokok dan lama merokok
berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi alcohol
yang sering, atau berlebihan dan terus menerus dapat
meningkatkan tekanan darah pasien, sebaiknya jika memiliki
tekanan darah tinggi pasien diminta untuk menghindari
alkohol agar tekanan darah pasien dalam batas stabil dan
memelihara gaya hidup sehat penting agar terhindar dari
komplikasi yang bisa terjadi.
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi
adalah hipertensi sekunder, yang didefinisikan sebagai
peningkatan tekanan darah karena suatu kondisi fisik yang ada
sebelumnya seperti penyakit ginjal atau gangguan tiroid,
hipertensi endokrin, hipertensi renal, kelainan saraf pusat yang
dapat mengakibatkan hipertensi. Dari penyakit tersebut karena
hipertensi sekunder yang terkait dengan ginjal disebut hipertensi
ginjal (renal hypertension).
C. Klasifikasi
D. Manifestasi Klinis
E. Patofisiologi
Reseptor yang menerima perubahan tekanan daerah yaitu reflex
baroreseptor yang terdapat pada sinus karotis dan arkus aorta. Pada
hipertensi karena adanya berbagai gangguan genetic dan resiko
lingkungan, maka terjadi gangguan neurohormonal yaitu sistem saraf
pusat dan sistem renin-angiotensin-aldosterone, serta terjadinya
inflamasi dan resistensi insulin. Resistensi insulin dan gangguan
neurohormonal menyebabkan vasokonstriksi sistemik dan peningkatan
resistensi perifer. Inflamasi menyebabkan gangguan ginjal yang disertai
gangguan system renin-angiotensin-aldosteron (RAA) yang
menyebabkan retensi garam dan air ginjal, sehingga terjadi peningkatan
volume darah. Peningkatan resistensi perifer dan volume darah
merupakan dua penyebab utama terjadinya hipertensi (Asikin, dkk,
2016).
F. Patofisiologi
G. Penatalaksanaan
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Udjianti(2013) menjelaskan bahwa pemeriksaan
penunjang atau pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk pasien
dengan hipertensi antara lain:
1. Hitung darah lengkap (complete Blood cells Count) meliputi
pemeriksaan hemoglobin, hematokrit untuk menilai viskositas dan
indikator faktor risiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
2. Kimia darah
a. BUN kreatinin: peningkatan kadar menandakan penurunan
perfusi atau faal renal.
b. Serum glukosa: hiperglisemia (diabetes mellitus adalah
presipitator hipertensi) akibat peningkatan kadar katekolamin.
c. Kadar kolesterol atau trigliserida: peningkatan kadar
mengindikasikan predisposisi pembentukan plaque atheromatus.
d. Kadar serum aldosterone: menilai adanya aldosteronisme
primer.
e. Studi tiroid (T3 dan T4) menilai adanya hipertiroidisme
yang berkontribusi terhadap vasokontriksi dan hipertensi.
f. Asam urat: hiperurisemia merupakan implikasi factor risiko
hipertensi.
3. Elektrolit
a. Serum potasium atau kalium (hipokalemia mengindikasikan
adanya aldosteronisme atau efek samping terapi diuretik).
b. Serum kalsium bila meningkat berkontribusi terhadap hipertensi.
4. Urine
a. Analisis urine adanya darah, protein, glukosa dalam urine
mengindikasikan disfungsi renal atau diabetes.
b. Urine VMA (catecholamine metabolite): peningkatan kadar
mengindikasikan adanya pheochromacytoma.
c. Steroid urine: peningkatan kadar mengindikasikan
hiperadrenalisme, pheochomacytoma, atau disfungsi pituitasi,
sindrom cushing’s, kadar renin juga meningkat.
5. Radiologi
a. Intra Venous Pyelografi (IVP), mengidentifikasi penyebab
hipertensi seperti renal pharenchymal disease, urolithiasis,
benign prostate hyperplasia (BPH).
b. Rontgen toraks, menilai adanya klasifikasi obstruksi katup
jantung, deposit kalsium pada aorta, dan pembesaran jantung.
6. EKG
Menilai adanya hipertrofi miokard, pola strain, gangguan
konduksi atau disritmia.
I. Komplikasi
Menurut Dalimartha (2019), penderita hipertensi berisiko terserang
penyakit lain yang menyebabkan komplikasi, beberapa penyakit yang
timbul sebagai akibat hipertensi di antaranya sebagai berikut:
1. Penyakit Jantung coroner
Penyakit ini sering di alami penderita hipertensi sebagai akibat
terjadinya pengapuran pada dinding pembuluh darah jantung.
Penyempitan lubang pembuluh darah jantung menyebabkan
berkurangnya aliran darah pada beberapa bagian otot jantung. Hal
ini menyebabkan rasa nyeri di dada dan dapat berakibat
gangguanpada otot jantung. Bahkan dapat menyebabkan timbul nya
serangan jantung.
2. Gagal Jantung
Tekanan darah yang tinggi memaksa otot jantung bekerja lebih
berat untuk memompa darah. Kondisi itu berakibat otot jantung akan
menebal dan merenggang sehingga daya pompa otot menurun. Pada
akhirnya dapat terjadi kegagalan kerja jantung secara umum. Tanda -
tanda adanya komplikasi yaitu sesak napas, napas putus - putus
(pendek), dan terjadi pembengkakan pada tungkai bawah serta kaki.
3. Kerusakan pembuluh darah otak
Beberapa penelitian di luar negeri mengungkapkan bahwa
hipertensi menjadi penyebab utama pada kerusakan pembuluh darah
otak. Ada dua jenis kerusakan yang di timbulkan yaitu pecahnya
pembuluh darah dan rusaknya dinding pembuluh darah. Dampak
akhirnya, seseorang bisa mengalami stroke dan kematian.
4. Gagal Ginjal
Gagal ginjal merupakan peristiwa di mana ginjal tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya. Ada dua jenis kelainan ginjal
akibat hipertensi, yaitu nefrosklerosis benigna dan nefrosklerosis
maligna. Nefrosklerosis benigna terjadi pada hipertensi yang
berlangsung lama sehingga terjadi pengendapan fraksi - fraksi
plasma pada pembuluh darah akibat proses menua. Hal itu akan
menyebabkan daya permeabilitas dinding pembuluh darah
berkurang. Adapun nefrosklerosis maligna merupakan kelainan
ginjal yang di tandai dengan naiknya tekanan diastole di atas 130
mmHg yang disebabkan terganggunya fungsi ginjal.
5. Stroke
Stroke dapat terjadi akibat hemoragi tekanan tinggi di otak atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh selain otak yang
terpajang tekanan tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik
apabila arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi dan
penebalan, sehingga aliran darah ke area otak yang diperdarahi
berkurang. Arteri otak yang mengalami arterosklerosis dapat
melemah sehingga meningkatkan kemingkinan terbentuknya
aneurisma.
6. Infark Miokard
Infark miokard dapat terjadi apabila arteri coroner yang
arterosklerotik tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium
atau apabila terbentuk trombus yang menghambat aliran darah
melewati pembuluh darah. Pada hipertensi kronis dan hipertrofi
ventrikel, kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat
dipenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark.
Demikian juga, hipertrofi ventrikel sehingga terjadi disritmia,
hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembekuan darah.
7. Ensefalopati (kerusakan otak)
Ensefalopati dapat terjadi, terutama pada hipertensi
maligna(hipertensi yang meningkat cepat dan berbahaya). Tekanan
sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan kapiler dan
mendorong cairan keruang interstisial di seluruh susunan saraf pusat.
Neuron - neuron di sekitarnya kolaps dan terjadi koma serta kematian.
8. Kejang
Kejang dapat terjadi pada wanita preeklamsi. Bayi yang lahir
mungkin memiliki berat lahir kecil masa kehamilan akibat perfusi
plasenta yang tidak adekuat, kemudian dapat mengalami hipoksia, ibu
mengalami kejang selama atau sebelum proses persalinan.
J. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Proses kesehatan fungsional menurut Gordon dalam Aspiani
(2016) yaitu:
a. Identitas klien
1) Identitas klien meliputi : Nama, umur, tempat tanggal lahir,
jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku atau bangsa, agama,
status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit (MRS),
nomor register, dan diagnosa medik.
2) Identitas penanggung jawab meliputi : Nama, umur, jenis
kelamin, alamat, pekerjaan, serta status hubungan dengan
pasien.
b. Keluhan utama
Keluhan yang dapat muncul antara lain: nyeri kepala, gelisah,
palpitasi, pusing, leher kaku, penglihatan kabur, nyeri dada,
mudah lelah, dan impotensi.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Pengkajian yang mendukung keluhan utama dengan
memberikan pertanyaan tentang kronologi keluhan utama.
Keluhan lain yang menyertai biasanya : sakit kepala, pusing,
penglihatan buram, mual, detak jantung tak teratur, nyeri dada.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Kaji adanya riwayat penyakit hipertensi, penyakit jantung,
penyakit ginjal, stroke. Penting untuk mengkaji mengenai
riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat
alergi terhadap jenis obat.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji didalam keluarga adanya riwayat penyakit hipertensi,
penyakit metabolik, penyakit menular seperi TBC, HIV, infeksi
saluran kemih, dan penyakit menurun seperti diabetes militus,
asma, dan lain-lain.
f. Aktivitas atau istirahat,
Gejala :
1) Kelemahan.
2) Letih.
3) Napas pendek.
4) Gaya hidup monoton.
Tanda :
1) Frekuensi jantung meningkat.
2) Perubahan irama jantung.
3) Takipnea.
g. Sirkulasi
Gejala :
1) Riwayat hipertensi.
2) Aterosklerosis.
3) Penyakit jantung koroner atau katup.
4) Penyakit serebrovaskuler.
5) Episode palpitasi.
Tanda :
1) Peningkatan tekanan darah.
2) Nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis,
takikardia.
3) Murmur stenosis valvular.
4) Distensi vena jugularis.
5) Kulit pucat, sianosis, suhu dingin (vasokonstriksi perifer).
6) Pengisian kapiler mungkin lambat atau tertunda.
h. Intergritas Ego
Gejala :
1) Riwayat perubahan kepribadian.
2) Ansietas.
3) Faktor stress multiple (hubungan keuangan, yang
berkaitan dengan pekerjaan).
Tanda :
1) Gelisah.
2) Penyempitan perhatian.
3) Tangisan meledak.
4) Otot muka tegang.
5) Menghela napas.
6) Peningkatan pola bicara.
i. Eliminasi
Gejala: Gangguan ginjal saat ini (seperti obstruksi) atau riwayat
penyakit ginjal pada masa lalu.
j. Makanan atau cairan
Gejala :
1) Makanan yang disukai yang mencakup makanan tinggi garam,
lemak, serta kolesterol.
2) Mual, muntah dan perubahan berat badan saat ini (meningkat
atau turun).
3) Riwayat penggunaan diuretik.
Tanda :
1) Berat badan normal atau
obesitas.
2) Adanya edema.
3) Glikosuria.
k. Neurosensori
Gejala :
1) Keluhan pusing atau pening, berdenyut, sakit kepala,
suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara
spontan setelah beberapa jam).
2) Gangguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur,
epistaksis).
Tanda :
1) Status mental, perubahan keterjagaan, orientasi, pola atau
isi bicara, efek, proses pikir.
2) Penurunan kekuatan genggaman tangan.
l. Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala: Angina (penyakit arteri koroner atau keterlibatan jantung),
sakit kepala deskripsi verbal tentang nyeri klien merupakan penilai
terbaik dari nyeri yang dialaminya danmharus diminta untuk
menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi yang
diperlukan harus menggambarkan nyeri klien terdapat dalam
beberapa cara yaitu sebagai berikut :
1) Intensitas nyeri. Klien dapat diminta untuk membuat
tingkatan nyeri pada skala verbal (misal : tidak nyeri, sedikit
nyeri, nyeri hebat, atau sangat hebat, atau 0 sampai 10 dimana
0 = tidak ada nyeri, 10 = nyeri sangat hebat).
2) Karakteristik nyeri. Termasuk letak (untuk area di mana
nyeri pada berbagai organ mungkin merupakan alih), durasi
(menit, jam, hari, bulan, dan sebagainya), irama (terus-
menerus, hilang timbul, periode bertambah dan berkurangnya
intensitas atau keberadaan dari nyeri) dan kualitas (nyeri
seperti ditusuk-tusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti
digencet).
3) Faktor-faktor yang meredakan nyeri. (misalnya gerakan,
kurang bergerak, pengerahan tenaga, istirahat, obat-obat
bebas, dan sebagainya), dan apa yang dipercaya klien dapat
membantu mengatasi nyerinya. Banyak orang yang
mempunyai ide-ide tertentu tentang apa yang akan
menghilangkan nyerinya. Perilaku ini sering didasarkan pada
pengalaman.
4) Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari
(misalnya tidur, nafsu makan, konsentrasi, interaksi dengan
orang lain, gerakan fisik, bekerja, dan aktivitas-aktivitas
santai). Nyeri akut sering berkaitan dengan ansietas dan nyeri
kronis dengan depresi.
5) Kekhawatiran klien tentang nyeri. Dapat meliputi berbagai
masalah yang luas, seperti beban ekonomi, prognosis,
pengaruh terhadap peran dan perubahan citra diri (Smeltzer,
2013 : 217).
m. Pernapasan
Gejala :
1) Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas atau kerja,
takipnea, ortopnea, dispnea.
2) Batuk dengan atau tanpa sputum.
3) Riwayat merokok.
Tanda :
1) Distress respirasi atau penggunaan otot aksesoris pernapasan.
2) Bunyi napas tambahan (crackles atau mengi).
3) Sianosis.
n. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara jalan, hipotensi
postural.
o. Pembelajaran atau penyuluhan.
Gejala :
1) Faktor risiko keluarga: Hipertensi, aterosklerosis,
penyakit jantung, diabetes melitus, penyakit ginjal.
2) Faktor lain: Risiko etnik, penggunaan pil KB atau
hormone, penggunaan alkohol atau obat.
K. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan peningkatan tekanan
darah.
3. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
afterload.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
L. Perencanaan Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Intervens Rasional
Kriteria Hasil (SIKI)
Keperawatan (SLKI)
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen
berhubungan dengan tindakan Nyeri(I.08238)
agen pencedera keperawatan 1X2 Observasi:
fisiologis(D.0077). jam, diharapkan Observasi:
1. Untuk mengetahui
nyeri yang 1. Identifikasi lokasi, tingkat nyeri klien.
dirasakan dapat karakteristik, durasi, 2. Untuk mengetahui
berkurang atau frekuensi, kualitas, tingkat
hilang. Dengan intensitas nyeri. ketidaknyamanan
kriteria hasil : 2. Identifikasi skala nyeri. yang dirasakan
Kontrol Nyeri 3. Identifikasi respon nyeri klien.
(L.08063) : non verbal.
1. Melaporkan Terapeutik:
bahwa nyeri Terapeutik:
berkurang. 1. Berikan teknik
2. Mampu nonfarmakologis untuk 1. Memberikan
mengenali mengurangi rasa nyeri pengetahuan kepada
onset nyeri. (mis. Tens, hypnosis pasien untuk
3. Mampu akupresur, terapi musik, menangani rasa nyeri
mengenali kompres hangat atau secara mandiri.
penyebab dingin, teknik relaksasi 2. Dengan memberikan
nyeri. nafas dalam). posisi nyaman klien
2. Memberikan posisi dapat beristirahat.
nyaman.
Edukasi: Edukasi
Edukasi: Terapeutik:
1. Untuk mengetahui
perkembangan kondisi
kesehatan klien.
2. Memberitahukan hasil
pemantauan kepada
klien
No Diagnosa Tujuan dan Intervens Rasional
Kriteria Hasil (SIKI)
Keperawatan (SLKI)
Kolaborasi:
1. Untuk
memaksimalkan
proses penyembuhan
pasien.
K. Implementasi Keperawatan
M. Evaluasi
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan yang
berguna apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu
pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur keberhasilan dan rencana dan pelaksanaan
tindakan keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. Penilaian adalah
tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan yaitu
pada komponen kognitif, efektif, psikomotor, perubahan fungsi dan tanda gejala yang spesifik
Evaluasi penelitian ini menggunakan SOAP. Subjective (subjektif), Objective, Assesment
(penilaian), dan Plan (perencanaan).
DAFTAR PUSTAKA
Canadia Best Practice Recommendation For Stroke Care. (2013). Diunduh pada tanggal
20 Juli 2017 dari [Link]
Depkes RI. (2013). Pola pembinaan kesehatan usia lanjut di panti werdha. Jakarta : Directorat
Bina Kesehatan Keluarga.
Lemone, P., & Burke, K. (2004). Medical surgical nursing: assement & management of
clinical problem. 7th Edition. St. Louis: Missouri. Mosby-Year Book, Inc
Mutaqqin, A. (2013). Buku ajar asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem
persarafan
Price, S.A., & Wilson, L. M. (2002). Patofisiologi konsep klinis proses penyakit. Edisi
6. Jakarta : EGC
Sitorus, R. J. (2008). Faktor-faktor resiko yangb mempengaruhi kejadian stroke pada usia
muda kurang dari 40 tahun (studi kasus di semarang). Jurnal Epidemiologi.
Diunduh pada tanggal 23 Juli 2017 dari
[Link]
Stockslager, J., & Schaeffer, L. (2008). Buku Saku: Asuhan Keperawatan Geriatric.