1.
Permasalahan atau Peluang yang Menjadi Dasar Proyek Keripik Pisang Milo
Minimnya Inovasi pada Produk Keripik Pisang Tradisional:
Keripik pisang umumnya hanya tersedia dalam rasa manis gula pasir atau asin gurih. Inovasi rasa
seperti milo jarang ditemukan, sehingga konsumen muda merasa bosan dengan varian yang
monoton.
Kurangnya Nilai Tambah dari Produk Pisang Lokal:
Banyak daerah penghasil pisang di Indonesia belum mengolah pisang menjadi produk bernilai
ekonomi tinggi, padahal produksi pisang nasional sangat besar.
Kelebihan Stok atau Pisang Tidak Terjual:
Petani pisang sering menghadapi overproduksi, terutama pada musim panen. Jika tidak segera
diolah, pisang cepat membusuk.
Peluang:
Tingginya Minat Pasar Terhadap Camilan Unik dan Manis:
Produk berbasis rasa cokelat, terutama milo, sangat populer di kalangan anak muda. Kombinasi ini
sangat menjanjikan secara pemasaran.
Pasar Digital Camilan yang Tumbuh Cepat:
Penjualan melalui platform seperti Shopee, Tokopedia, Instagram, dan TikTok membuka peluang
besar bagi produk kreatif seperti keripik pisang milo untuk menjangkau konsumen luas.
Potensi Produk Oleh-Oleh Kekinian:
Keripik pisang milo berpotensi menjadi oleh-oleh khas daerah yang unik dan mudah dibawa serta
tahan lama.
2. Relevansi dengan Sektor Ekonomi Kreatif
Keripik pisang milo masuk ke dalam *subsektor kuliner* dalam ekonomi kreatif. Relevansinya:
Inovasi Produk Tradisional:
Mengubah keripik pisang biasa menjadi produk dengan rasa kekinian (milo) merupakan bentuk
inovasi dalam pengembangan ekonomi kreatif.
Mendorong Kewirausahaan UMKM:
Produk seperti ini sangat cocok dijalankan oleh pelaku usaha mikro dan kecil. Dengan kreativitas
dalam rasa, kemasan, dan pemasaran, produk sederhana bisa memiliki nilai jual tinggi.
Penciptaan Lapangan Kerja Lokal:
Dengan memproduksi secara lokal, usaha ini bisa menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar,
terutama ibu rumah tangga dan pemuda.
3. Dukungan Data atau Fakta
Pertumbuhan Ekonomi Kreatif:
Menurut Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif), sektor kuliner menyumbang lebih dari *41% terhadap PDB
ekonomi kreatif Indonesia*. Kuliner menjadi subsektor terbesar dan paling berkembang.
Tren Konsumsi Camilan Cokelat di Kalangan Milenial dan Gen Z:
Riset dari *Mintel* menunjukkan bahwa rasa cokelat adalah salah satu varian camilan favorit di
Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Popularitas Produk Milo di Pasar Indonesia:
Milo merupakan merek cokelat malt populer yang telah digunakan sebagai campuran dalam
berbagai produk kreatif, seperti minuman kekinian, donat, dan roti. Produk yang mengandung milo
biasanya mudah diterima pasar.