0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Program PONEK RS Bhayangkara 2018

Diunggah oleh

Fristy Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Program PONEK RS Bhayangkara 2018

Diunggah oleh

Fristy Amalia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM KERJA

PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL


EMERGENCY KOMPREHENSIP (PONEK)
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA HASTA BRATA BATU
TAHUN 2018

A. LATAR BELAKANG
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator
kesejahteraan suatu bangsa yang mencerminkan tingkat masalah kesehatan masyarakat.
Data di seluruh Dunia menunjukan bahwa setiap tahun diperkirakan empat juta bayi
meninggal pada tahun pertama kehidupannya dan dua pertiga meninggal pada bulan
pertama. Dua pertiga dari yang meninggal pada bulan pertama meninggal pada minggu
pertama. Penyebab utama kematian pada minggu pertama kehidupan adalah komplikasi
kehamilan dan persalinan seperti asfiksia, sepsis, dan komplikasi berat lahir rendah.
Kurang lebih 99% kematian ini terjadi di Negara berkembang dan sebagian kematian ini
dapat dicegah dengan pengenalan dini dan pengobatan yang tepat (Suradi dkk,2008).

Penyebab kematian Ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi dan eklamsi, partus
lama dan komplikasi abortus. Penyebab kematian utama adalah perdarahan yang
sebagain besar dsebabkan oleh retensi plasenta. Hal ini menunjukan adanya manajemen
persalinan kala III yang kurang adekuat. Sedangkan kematian ibu akibat infeksi
merupakan indikator kurang baiknya upaya pencegahan dan manajemen infeksi.
Kematian ibu yang disebabkan karena komplikasi aborsi adalah akibat dari kehamilan
yang tidak dikehendaki (KTD). Program menurunkan angka kematian ibu dan bayi
(maternal neonatal) dan meningkatkan pelayan Ibu dan Bayi yang mempunyai masalah
komplikasi persalinan dan kelahiran kurang bulan sangat diperlukan. Sehubungan hal
tersebut perlu diperoleh dukungan faktor keterampian tenaga kesehatan khusus PONEK
serta pelayanan kesehatan Ibu dan Bayi yang berkualitas di Rumah Sakit. Konferensi
Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa – Bangsa pada tahun 2000 disepakati bahwa
Terdapat tujuan Pembangunan Millenium (mellenium Devolment Goals) pada tahun
2015. Dua antara tujuan tersebut mempunyai sasaran dan indikator yang terkait dengan
kesehatan ibu, bayi dan anak yaitu :
1. Mengurangi angka kematian Bayi dan Balita sebesar dua pertiga dari AKB pada tahun
1990 menjadi 20 dari 25/1000 kelahiran hidup.
2. Mengurangi angka kematian ibu sebesar tiga perempat dari AKI pada tahun 1990 dari
307 menjadi 125/100.000 kelahiran hidup, meskipun tampaknya target tersebut cukup

1
tinggi, namun tetap dapat dicapai apabila dilakukan upaya terobosan yang inovatif
untuk mengatasi penyebab utama kematian yang tersebut yang didukung kebijakan
dan sistem yang efektif dalam mengatasi berbagai kendala yang timbul selama ini.
Kematian bayi baru lahir umumnya dapat dihindari penyebabnya seperti Berat Badan
Lahir Rendah (40,4%), Asfiksia (24,6%), dan Infeksi (sekitar 10%). Hal tersebut
kemungkinan disebabkan oleh keterlambatan pengambilan keputusan, merujuk, dan
mengobati. Sedangkan kematian Ibu umumnya disebabkan perdarahan (25%), Infeksi
(15%), Pre-eklamsi / Eklamsi (15%), Persalinan macet dan Abortus. Mengingat
kematian Bayi mempunyai hubungan erat dengan mutu penangan Ibu, maka proses
persalinan dan perawatan Bayi harus dilakukan dalam sistem terpadu ditingkat
nasional dan regional. Pelayanan Obstetri Neonatal regional merupakan upaya
penyediaan pelayanan bagi Ibu dan Bayi baru lahir secara terpadu.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah kesakitan dan kematian ibu
maupun bayi. Tahun 2000 dicanangkan gerakan Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai
strategi kesehatan mengacu pada tujuan global MPS yaitu mempercepat penurunan
angka kematian bayi (AKB) menjadi kurang dari 35 per 1000 KH pada tahun 2015. Salah
satu fokus perhatiannya bahwa setiap ibu hamil mendapat pelayanan antenatal
berkualitas, persalinan hendaknya ditolong tenaga profesional dan setiap komplikasi
obstetrik neonatal mendapat penanganan akurat.

Upaya upaya untuk menurunkan angka kesakitan maupun kematian ibu dan bayi di
RS Bhayangkara Hasta brata batu telah dilaksanakan melalui program – program
peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusian (SDM), sarana prasarana dan
menajeman pelayanan serta pelaksanaan Program Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
(PKMRS).

B. TUJUAN UMUM DAN KHUSUS


1. Umum
Meningkatkan pelayanan Maternal dan Perinatal yang bermutu dalam upaya
penurunan AKI dan AKB di RS Bhayangkara Hasta brata batu
2. Khusus
a. Adanya kebijakan Rumah Sakit dan dukungan penuh manajemen dalam
pelayanan PONEK
b. Terbentuknya Tim PONEK Rumah Sakit

2
c. Tercapainya kemampuan teknis Tim PONEK sesuai standar PONEK
d. Adanya koordinasi dan sinkronisasi antara pengelola dan penanggung jawab program
pada tingkat kabupaten / kota, provinsi, dan pusat dalam manajemen program
PONEK Rumah Sakit.

C. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


1. Rapat koordinasi team PONEK RS Bhayangkara Hasta brata batu
 Rapat tim bulanan
 Rapat evaluasi
 Rapat monev
2. Merencanakan pelayanan PONEK sesuai standar meliputi :
a .Menyiapkan tenaga PONEK terlatih dan terampil dibidangnya sesuai standar
PONEK
b. Menyiapkan anggaran yang diperlukan sesuai kebutuhan yang diperlukan dalam
pelayanan PONEK
c. Menyiapkan obat-obatan sesuai standar PONEK Rumah Sakit
d. Menyiapkan peralatan dan fasilitas sesuai standar PONEK
e. Membuat panduan sesuai pedoman PONEK nasional
3. Pemenuhan fasilitas standart PONEK
a. Ruang PONEK
1) Ruang Bersalin
2) Ruang nifas
3) Ruang perinatology
4) Pojok laktasi
5) Ruang imunisasi
6) Ruang poli kebidanan dan kandungan
b. Standart Fasilitas PONEK
1) Kriteria Umum Rumah Sakit PONEK
o Ada dokter jaga yang terlatih di IGD untuk mengatasi kasus
emergency baik secara umum maupun emergency obstetrik neonatus.
o Dokter, bidan dan perawat telah mengikuti pelatihan tim PONEK di rumah
sakit meliputi resusitasi neonatus, kegawat-daruratan obstetrik dan
neonatus.
o Mempunyai Standar Operating Prosedur penerimaan dan
penanganan pasien kegawat-daruratan obstetrik dan neonatus.
o Kebijakan tidak ada uang muka bagi pasien kegawat-daruratan obstetrik
dan neonatus.

3
o Mempunyai standar respon time di IGD selama 10 menit, di kamar
bersalin kurang dari 30 menit, pelayanan darah kurang dari 1 jam.
o Tersedia kamar operasi yang siap (siaga 24 jam) untuk melakukan
operasi, bila ada kasus emergency obstetrik atau umum.
o Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi dalam waktu
kurang dari 30 menit.
o Memiliki kru/petugas yang siap melakukan operasi atau
melaksanakan tugas sewaktu-waktu, meskipun on call.
o Adanya dukungan semua pihak dalam tim pelayanan PONEK, antara
lain dokter kebidanan, dokter anak, dokter/petugas anestesi, dokter
penyakit dalam, dokter spesialis lain serta dokter umum, bidan dan
perawat.
o Tersedia pelayanan darah yang siap 24 jam.
o Tersedia pelayanan penunjang lain yang berperan dalam PONEK, seperti
laboratorium dan radiologi selama 24 jam, recovery room 24 jam, obat dan
alat penunjang yang selalu siap tersedia.
o Perlengkapan
 semua perlengkapan harus bersih (bebas, debu, kotoran, bercak,
cairan dll)
 permukaan metal harus bebas karat atau bercak
 semua perlengkapan harus kokoh (tidak ada bagian yang longgar
atau tidak stabil)
 permukaan yang dicat harus utuh dan bebas dari goresan besar
 roda perlengkapan (jika ada) harus lengkap dan berfungsi baik
 instrumen yang siap digunakan harus disterilisasi
 semua perlengkapan listrik harus berfungsi baik (saklar, kabel dan
steker menempel kokoh)
o Bahan
Semua bahan harus berkualitas tinggi dan jumlahnya cukup untuk
memenuhi kebutuhan unit ini.
2) Kriteria Khusus
a. Prasarana dan sarana. Dalam rangka Program Menjaga Mutu pada
penyelenggaraan PONEK diperlukan :
− Ruang rawat inap yang leluasa dan nyaman
− Ruang tindakan gawat darurat dengan instrumen dan bahan
yang lengkap.
− Ruang pulih/observasi pasca tindakan.
− Protokol pelaksanaan dan uraian tugas pelayanan termasuk
koordinasi internal
b. Kriteria umum ruangan :
1. Sruktur Fisik
− Lantai dari porselin atau plastik
− Dinding di cat dengan bahan yang bisa dicuci
2. Kebersihan
4
− Cat dan lantai berwarna terang sehingga kotoran dapat terlihat
dengan mudah.
− Ruang bersih dan bebas debu, kotoran, sampah atau limbah
rumah sakit.
− Hal tersebut berlaku pula untuk lantai, mebel, perlengkapan,
instrumen, pintu, jendela, dinding, steker listrik dan langit-langit.
3. Pencahayaan
− Pencahayaan terang dari cahaya alami atau listrik.
− Semua jendela diberi kawat nyamuk agar serangga tidak masuk.
− Listrik berfungsi baik, kabel dan steker tidak membahayakan dan
semua lampu berfungsi baik dan kokoh.
− Tersedia peralatan gawat darurat.
− Ada cukup lampu untuk setiap neonatus
4. Ventilasi
− Ventilasi, termasuk jendela cukup jika dibandingkan dengan ukuran
ruang.
− Kipas angin atau pendingin ruang harus berfungsi baik.
− Suhu ruangan harus dijaga 24-26ºC.
− Pendingin ruang harus dilengkapi filter (sebaiknya anti bakteri).
5. Pencucian tangan
− Wastafel harus dilengkapi dengan dispenser sabun atau
desinfektan yang dikendalikan dengan siku atau kaki.
− Wastafel, kran dan dispenser harus dipasang pada ketinggian
yang sesuai (dari lantai dan dinding).
− Tidak boleh ada saluran pembuangan air yang terbuka.
− Pasokan air panas harus cukup dan dilengkapi pemanas air yang
dipasang kokoh di dinding, pipa ledeng sesuai dan tidak ada kawat
terbuka.
− Harus ada handuk (kain bersih) atau tisu untuk mengeringkan
tangan, diletakkan di sebelah wastafel.
c. Kriteria khusus ruangan
1. Area cuci tangan di ruang obstetrik dan neonatus
Di ruang dengan lebih dari satu tempat tidur, jarak tempat tidur
adalah 6 meter dengan wastafel.
2. Area resusitasi dan stabilisasi di Ruang Obstetri dan Neonatus/IGD
 Paling kecil, ruangan berukuran 6 meter dan ada di dalam
Unit Perawatan Khusus
 Kamar PONEK di unit gawat darurat harus terpisah dari kamar
gawat darurat [Link] privasi ini penting untuk kebutuhan ibu
bersalin dan bayi.
 Tujuan kamar ini ialah: memberikan pelayanan darurat untuk
stabilisasi kondisi pasien, misalnya syok, henti jantung, hipotermi,
asfiksia dan apabila perlu menolong darurat serta resusitasi.
 Perlu dilengkapi dengan meja resusitasi bayi, dan inkubator.

5
 Kamar PONEK membutuhkan :
o ruang berukuran 15 m²
o berisi : lemari dan troli darurat
o tempat tidur bersalin serta tiang infus.
o incubator transport
o pemancar pemanas
o meja, kursi
o aliran udara bersih dan sejuk
o pencahayaan
o lampu sorot dan lampu darurat
o mesin isap
o defibrillator
o oksigen dan tabungnya atau berasal dari sumber dinding
o lemari isi : perlengkapan persalinan, vakum, forceps, kuret,
obat/infus
o alat resusitasi dewasa dan bayi
o wastafel dengan air mengalir dan antiseptic
o alat komunikasi dan telepon ke kamar bersalin
o nurse station dan lemari rekam medic
o Sarana pendukung, meliputi : toilet, kamar tunggu keluarga,
kamr persiapan peralatan (linen dan instrument), kamar kerja
kotor, kamar jaga, ruang sterilisator dan jalur ke ruang
bersalin/kamar operasi terletak saling berdekatan dan
merupakan bagian dari unit gawat darurat.
3) Ruangan Maternal.
a. Kamar Bersalin.
− Lokasi berdekatan dengan kamar operasi dan IGD
− Luas minimal : 6 m² per orang. Berarti bagi 1 pasien, 1 penunggu dan
2 penolong diperlukan 4x4m²=16 m².
− Paling kecil, ruangan berukuran 12 m² (6 m² untuk masing- masing
pasien).
− Harus ada tempat untuk isolasi ibu di tempat terpisah.
− Tiap ibu bersalin harus punya privasi agar keluarga dapat hadir.
− Ruangan bersalin tidak boleh merupakan tempat lalu lalang orang.
− Bila kamar operasi juga ada dalam lokasi yang
sama,upayakan tidak ada keharusan melintas pada ruang bersalin.
− Minimal 2 kamar bersalin terdapat pada setiap rumah sakit umum.
− Kamar bersalin terletak sangat dekat dengan kamar neonatal,
untuk memudahkan transport bayi dengan komplikasi ke ruang rawat.
− Idealnya sebuah ruang bersalin merupakan unit ter- integrasi :
kala1, kala2 dan kala 3 yang berarti setiap pasien diperlakukan
utuh sampai kala 4 bagi ibu bersama bayinya secara [Link] tidak

6
memungkinkan, maka diperlukan dua kamar kala 1 dan sebuah kamar
kala 2.
− Kamar bersalin harus dekat dengan ruang jaga perawat (nurse
station agar memudahkan pengawasan ketat setelah pasien partus
sebelum dibawa ke ruang rawat (post partum).Selanjutnya bila
diperlukan operasi, pasien akan dibawa ke kamar operasi yang
berdekatan dengan kamar bersalin.
− Harus ada kamar mandi-toilet berhubungan kamar bersalin
− Ruang post partum harus cukup luas,
− Ruang tersebut terpisah dari fasilitas : toilet, kloset, lemari.
− Pada ruang dengan banyak tempat tidur, jarak antar tempat tidur
minimum 1 m s.d 2 m dan antara dinding 1 m.
− Jumlah tempat tidur per ruangan maksimal 4.
− Tiap ruangan harus mempunyai jendela sehingga cahaya dan udara
cukup.
− Harus ada fasilitas untuk cuci tangan pada tiap ruangan.
− Tiap pasien harus punya akses ke kamar mandi privasi (tanpa ke
koridor)
− Ruang perawat (nurse station) berisi meja, telepon, lemari berisi
perlengkapan darurat atau obat
b. Pojok Laktasi
Terdapat ruangan yang berisi meja, kursi, wastafel.
Minimal ruangan berukuran 6 m².
c. Ruang Operasi
 Instalasi kamar operasi diperlukan untuk tindakan operasi seksio
sesaria dan laparatomi.
 Disediakan unit komunikasi dengan kamar [Link] dalam kamar
operasi tersedia: pemancar panas dan perlengkapan resusitasi
dewasa dan bayi.
 Kamar pulih ialah ruangan bagi pasien pasca bedah berisi: meja, kursi,
perawat, lemari obat, mesin pemantau tensi/nadi oksigen dan
sebagainya, tempat rekam medic, troli darurat.
 Pengawasan langsung dari meja perawat ke tempat pasien.
 Fasilitas pelayanan berikut untuk unit operasi :
1. Nurse station yang juga berfungsi sebagai tempat pengawas lalu
lintas orang.
2. Ruang kerja kotor yang terpisah dari ruang kerja bersih ruang
ini berfungsi membereskan alat dan kain kotor, tempat cuci
wastafel besar untuk cuci tangan dan fasilitas air panas atau dingin,
ada meja kerja dan kursi kursi,troli.
3. Saluran pembuangan kotoran atau cairan.
4. Ruang tunggu keluarga
5. Kamar sterilisasi yang berhubungan dengan kamar [Link]
autoklaf besar berguna bila darurat.

7
6. Kamar obat berisi lemari dan meja untuk distribusi obat.
7. Ruang cuci tangan (scrub) sekurangnya untuk 2 orang terdapat
di depan kamar operasi atau kamar [Link] itu dirancang
agar tidak membuat basah [Link] cuci tangan haruslah steril.
8. Ruang kerja bersih .Ruang ini berisi meja dan lemari berisi linen,
baju dan perlengkapan [Link] terdapat troli pembawa linen.
9. Kamar ganti
4) Ruangan penunjang harus disediakan seperti:
 Ruang perawat/bidan
 Kantor perawat
 Ruang rekam medic
 Toilet staf
 Ruang staf medic
 Ruang loker staf/perawat
 Ruang rapat/konferensi
 Ruang keluarga pasien
 Ruang cuci
 Ruang persiapan diperlukan bila ada kegiatan persiapan alat/bahan
 Gudang peralatan
 Ruang linen bersih
5) Unit penanggung jawab layanan darah 24 jam
6) Laboratorium 24 jam
7) Radiologi 24 jam
c. Kualifikasi Sumber Daya Manusia
No. Standart Kualifikasi jumlah

1. Dokter spesialis [Link] 1


[Link] 1
Sertifikat PONEK
2. Dokter umum [Link] 1
Sertifikat PONEK
3. Bidan D3 Kebidanan 3
Sertifikat PONEK
4. Perawat D3 Keperawatan 2
Sertifikat PONEK

8
Berdasarkan persyaratan standar ketenagaan yang harus dimiliki oleh tim
PONEK adalah sebagai berikut:
1. 1 dokter Spesialis Kebidanan Kandungan*
2. 1 dokter Spesialis Anak*
3. 1 dokter di Unit Gawat Darurat
4. 3 orang bidan (1 koordinator dan 2 penyelia)
5. 2 orang perawat.
Keterangan tanda * : dalam kondisi khusus tenaga dokter spesialis tersebut tidak
ada di wilayah rujukan, maka masing-masing tenaga dokter spesialis dapat
digantikan oleh dokter umum yang memiliki kompetensi yang diperlukan terkait
obstetri dan neonatal emergensi, diberikan wewenang khusus oleh direktur RS.
Tim PONEK ideal ditambah:
1. 1 Dokter spesialis anesthesi
2. 1 Perawat anesthesi
3. 6 Bidan pelaksana
4. 10 Perawat (tiap shift 2-3 perawat jaga)
5. 1 Petugas laboratorium (setingkat analis)
6. 1 Pekarya kesehatan
7. 1 Petugas administrasi
8. Dokter spesialis anak yang telah mengikuti pelatihan khusus neonatologi, harus
tersedia/dapat dihubungi 24 jam
9. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, harus tersedia/ dapat dihubungi 24 jam
10. Dokter spesialis anestesi, harus tersedia/dapat dihubungi 24 jam
11. Dokter dan perawat harus terlatih dalam asuhan neonatal (ASI, resusitasi
neonatus, kegawatdaruratan neonatus). Tim UGD sebaiknya sebagai
pemeriksa awal dan cepat untuk menemukan kegawatdaruratan dan
melakukan tindakan stabilisasi untuk penyelamatan jiwa, sedangkan
tindakan definitif sebaiknya dilakukan di kamar bersalin.
4. Pendokumentasian
a) Pencatatan pelaksanaan kegiatan PONEK
Pelaksanaan kegiatan PONEK menggunakan pencatatan dengan menggunakan
blangko maupun formulir yang dibuat di RS Bhayangkara Hasta brata batu
antara lain:
1) Rekam Medik (RM) pasien rawat jalan dan rawat inap
2) Register rawat jalan
3) Register persalinan
9
4) Register obstetri
5) Register gynekologi
6) Register bayi
7) Pelaporan bulanan dan 6 bulanan
8) Blangko AMP
9) Blangko RESTI

b) Pelaporan Hasil Kegiatan


1) Petugas masing-masing ruangan melakukan pencatatan pasien dalam
register harian.
2) Masing-masing ruangan membuat laporan harian pasien dan menyerahkan
ke bagian Rekam Medis.
3) Tenaga bagian Rekam Medis menindaklanjuti pelaporan ke Kepala Rumah
Sakit Bhayangkara Hasta brata batu setiap 6 bulan
4) Pelaporan MOU RS rujukan
5) Pelaporan Monev tentang rujukan dan jumlah rujukan setiap bulan.
6) Membuat laporan kegiatan PONEK setiap 6 bulan dan melaporkan ke
Karumkit
c) Evaluasi Program
Evaluasi program dibuat dalam bentuk pelaporan setiap tahun yang diserahkan
kepada Kepala RS Bhayangkara Hasta brata batu. Isi laporan memuat tentang
rencana program, pelaksanaan dan hasil kegiatan.
D. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
Kegiatan team PONEK RS Bhayangkara Hasta brata batu adalah :
1. Melakukan rapat
 Menyiapkan undangan
 Menyiapkan daftar hadir
 Dokumentasi
 Notulen
2. Melaksanakan kegiatan PONEK di rumah sakit sesuai standart dan SOP
3. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan harian dan bulanan
4. Melaksanakan monitoring dan evaluasi setiap 6 bulan
5. Melaksanakan pelatihan untuk tim PONEK

10
6. Melaksanakan audit maternal perinatal (AMP)bila ada kematian ibu dan bayi di
lingkungan internal dan menghadiri kegiatan AMP di luar rumah sakit
7. Mengikuti pelatihan ponek baik di dalam maupun di luar rumah sakit untuk
meningkatkan pengetauan,keterampilan, dan perilaku dalam pelayanan pasien
terutama tim ponek RS Bhayankara hasta brata batu.
E. SASARAN
1. Menurunkan AKI sesuai target MDGs 2015 yaitu 102/100.000 KH
2. Menurunkan AKB menjadi sesuai target MDGs 20/1000 KH
3. Menurunkan angka persalinan SC kurang dari 40%
4. Cakupan ASI eksklusif dirawat gabung menjadi 90% persen
5. Meningkatkan keberhasilan perawatan BBLR menjadi

F. JADWAL PELAKSANAAN
Tahun 2016
Kegiatan
Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agu

Sep

Okt

Nov

Des
1 Rapat
koordinasi tim X
PONEK RS
2 Merencanakan
pelayanan
X
ponek sesuai
standart
3 Pemenuhan
x
fasilitas ponek
4 Pemenuhan
fasilitas
perinatologi
x

5 Penambahan
X
SDM ponek
6 Penambahan X
SDM

11
perinatologi
7 Pelatihan ponek
luar RS sesuai
X
standart

8 Pelatihan ponek
X
dalam RS
9 Pencatatan
X X X X X X X X X X X
PONEK
10 Pelaporan
X X X X X X X X X X X
PONEK
G. ANGGARAN
Semua anggraan yang di pakek untuk program PONEK di ambilkan dari dana
BLU dan APBN
H. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN
Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan akan di lakukan pada ahir tahun sesuai
jadwal yang telah di tentukan. Evaluasi dilaksanakan pada setiap program
diantaranya:
1. Pemenuhan Fasilitas
2. Pelayanan
3. Peningkatan kualitas SDM
I. PENUTUP
Demikian program kerja Tim PONEK Rumah Sakit Bhayangkara Hasta Brata batu
TA.2018 dibuat sebagai gambaran dalam pelaksanaan tugas-tugas lainnya agar dapat
terselesaikan tepat pada waktunya

Mengetahui, BATU, JANUARI 2018


KETUA TIM PONEK

12
KARUMKIT BHAYANGKARA dr. BENNY M.P SP OG(K)
HASTA BRATA BATU SIP.446/034/422.206/[Link]/2016

drg. Wahyu Ari Prananto, MARS

KOMISARIS POLISI NRP. 76030927

13
14
15

Anda mungkin juga menyukai