0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan7 halaman

Analisis Rele Differensial Transformator 60 MVA

ss

Diunggah oleh

WAHYU SUBEKTI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan7 halaman

Analisis Rele Differensial Transformator 60 MVA

ss

Diunggah oleh

WAHYU SUBEKTI
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL TEKNIK ELEKTRO

INSTITUT TEKNOLOGI PADANG


Vol. 9, No. 2, JULI 2020
[Link]
P-ISSN: 2252-3472, E-ISSN: 2598-8255

Studi Analisa Rele Differensial Pada Proteksi Transformator 60 MVA


Gardu Induk Pauh Limo

Zulkarnaini, Fauza Hafni


Fakultas Teknik, Institut Teknologi Padang
Jl. Gajah Mada Kandis Nanggalo, Padang, Indonesia
E-mail: zulkarnainieva@[Link]

Informasi Artikel Abstrak


Diserahkan tanggal: Tenaga listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok saat ini. Guna menjaga
28 Mei 2020 kelangsungan saluran tenaga listrik diperlukan proteksi yang sesuai dengan
kebutuhan. Proteksi adalah suatu bentuk perlindungan terhadap perlatan listrik
Direvisi tanggal: yang ada guna menghindari kerusakan peralatan dan juga agar stabilitas
2 Juni 2020 penyaluran tenaga listrik tetap terjaga. Transformator adalah suatu peralatan
Diterima tanggal: yang sangat penting dalam system tenaga listrik. Dalam penelitian ini dibahas
tentang relay differensial yang merupakan pengaman utama transformator
10 Juni 2020
yang bekerja tanpa koordinasi dengan relay yang lain. Relay ini bekerja
Dipublikasikan tanggal: apabila terdapat perbedaan arus pada CT sisi primer dan CT sisi sekunder
31 Juli 2020 dizona proteksi. Apabila gangguan trejadi diluar zona proteksi maka relay
tidak akan bekerja. Penelitian ini berupa simulasi menggunakan ETAP 12.6.
Digital Object Identifier: Error mismatch pada trafo daya1 GI Pauh Limo masih di bawah batas
10.21063/JTE.2020.3133914 maksimal yaitu 5% karena didapat hasil perhitungan masing-masing tarafo
daya1 pada sisi 150 kV dan 20 kV sebesar 0.18% dan 0.23%.

Kata kunci: Pembangkit, Trafo , Penyeimbangan Beban, Susut Energi.

1. PENDAHULUAN
Tenaga listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok saat ini. Tujuan utama dari sistem tenaga listrik
adalah penyaluran daya listrik yang mempunyai mutu dan keandalan yang tinggi dan salah satu hal yang
terpenting dalam suatu sistem tenaga listrik adalah proteksi terhadap peralatan listrik yang digunakan dari
segala macam bentuk gangguan. Berdasarkan ANSI/IEEE Std. 100-1992 gangguan didefinisikan sebagai
suatu kondisi fisis yang disebabkan oleh kegagalan suatu perangkat, komponen, atau suatu elemen yang
bekerja tidak sesuai dengan fungsinya.[1]
Proteksi adalah suatu bentuk perlindungan terhadap peralatan listrik yang berguna menghindari
kerusakan peralatan dan juga agar stabilitas penyaluran tenaga listrik tetap terjaga. Ada beberapa persyaratan
agar sistem proteksi dikatakan baik, apabila : andal, selektif, peka, dan cepat. Sedangkan sistem proteksi itu
terdiri atas beberapa bagian yaitu trafo arus atau trafo tegangan (CT/PT), pengawatan, dan sumber AC/DC.[2].
Salah satu proteksi yang paling penting pada transformator adalah relay differensial. Relay differensial
bekerja tanpa koordinasi dengan relay yang lain, karena relay ini bekerja tanpa koordinasi dengan relay yang
lain maka dari itu kerja relay ini juga diperlukan waktu yang cepat. Perbedaan antara relay differensial dengan
relay yang lain adalah sifat dari relay differensial itu sendiri yaitu : sangat selektif dan cepat dalam mengatasi
gangguan, sebagai pengaman utama pada transformator, relay differensial ini juga tidak dapat digunakan
sebagai backup protection atau proteksi cadangan dan yang terakhir relay differensial ini mempunyai daerah
pengaman yang dibatasi oleh pemasangan trafo arus (CT).[2] Transformator merupakan komponen vital pada
gardu induk. yang berfungsi untuk menyalurkan tenaga listrik dari tegangan tinggi ke rendah atau sebaliknya
dan diharapkan beroperasi secara maksimal karena dapat mempengaruhi sistem tenaga listrik. Karena peran
transformator sangat vital dalam sistem tenaga listrik maka diperlukan sistem proteksi yang handal pada
transformator untuk melindungi dari gangguan yang ada pada transformator. [3-11].
Karakteristik diferensial dibuat sejalan dengan Unbalances current (Iμ), untuk menghindari
terjadinya kesalahan kerja. Kesalahan kerja disebabkan karena CT ratio mismatch, adanya pergeseran fasa
akibat belitan transformator tenaga terhubung (Y) – (Δ). Untuk mengatasi masalah unbalance current (Iμ)
80 JURNAL TEKNIK ELEKTRO ITP, Vol. 9, No. 2, JULI 2020

pada relai diferensial caranya dengan menambahkan kumparan yang menahan bekerjanya relai di daerah
Iμ. Kumparan ini di sebut Restraining Coil, sedangkan kumparan yang mengerjakan relai tersebut di sebut
Operating Coil. Arus diferensial didapat dari menjumlahkan komponen arus sekunder perfasa di belitan 1
(|I1|) dan belitan 2 (|I2|) secara vektor perfasa.
Jika arus berlawanan dalam arti yang satu menuju relai dan yang yang lainnya meninggalkan relai,
maka akan saling mengurangi dan sebaliknya jika arus searah berarti yang kedua-duanya menuju atau
meninggalkan relai, maka akan saling menjumlahkan.[7]. Didalam relay ini kumparan kerjanya
dihubungkan dengan titik tengah kumparan penahan (peredam), total jumlah impedansi belitan didalam
kumparan peredam sama dengan jumlah ampere belitan yang ada pada kedua 1/2 bagian kumparan yaitu
I1N/2 +I2/N yang memberikan rata-rata arus peredam sebesar :
IDiff = I1 + I2.
𝐼1+𝐼2
Irestraint =
2
Slope didapat dengan membagi antara komponen arus diferensial dengan arus penahan. Slope 1 akan
menentukan arus diferensial dan arus penahan pada saat kondisi normal dan memastikan sensitifitas relai
pada saat gangguan internal dengan arus gangguan yang kecil.

Gambar 1 Karakteristik relay differential[6]

2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian studi analisa tentang relay diferensial pada transformator daya1 60
MVA dengan menginputkan data – data yang didapat yang nantinya akan disimulasikan menggunakan
program ETAP 12.6. Berikut diberikan single line diagram trafo daya 60 MVA GI Pauh Limo.

Gambar 2 Single line diagram trafo daya 60 MVA GI Pauh Limo.

Perhitungan Rasio CT Arus nominal merupakan arus yang mengalir pada tegangan tinggi dan
𝑆
tegangan rendah. Rumus dari arus rating dan arus nominal adalah: 𝐼𝑛 =
𝑉𝑥√3
JURNAL TEKNIK ELEKTRO ITP, Vol. 9, No. 2, JULI 2020 81

Keterangan:
𝐼𝑛 = Arus Nominal
𝑆 = Daya Tersalur
𝑉 = Tegangan pada Sisi Primer dan Sekunder

Transformator dapat menarik beban hingga 110% dari kapasitasnya, selama temperatur belitan dibawah
temperatur maksimumnya.
Irating = 110%.

Maka perbandingan rasio transformator arus (CT ratio) dapat dihitung dari nilai arus rating dikedua sisi
tegangan transformator tenaga tersebut dan disesuaikan dengan spesifikasi CT rasio yang ada dipasaran
sedangkan nilai sekunder CT (5A atau 1A) disesuaikan dengan peralatan proteksinya.

Perhitungan Error Mismatch Error mismatch merupakan kesalahan dalam membaca perbedaan arus
dan tegangan disisi primer dan sekunder trafo serta pergeseran fasa ditrafo tersebut. Error mismatch dapat
ditentukan dengan membandingkan ratio CT ideal dengan yang ada dipasaran, dengan pertimbangan tidak
melebihi 5% dari besar ratio CT yang dipilih. Syarat ini ditentukan untuk proteksi agar optimal menjaga
sistem tenaga listrik dari gangguan.[2]
Pada relay differensial unuk melihat error mismatch didapat dari perbandingan CT dengan tegangan
dengan persamaan berikut :
𝐶𝑇1 𝑉1
=
𝐶𝑇2 𝑉2
𝑉1
CT2 (ideal) = CT1 x
𝑉2
Error mismatch untuk relay differensial adalah :
𝐶𝑇𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙
%
𝐶𝑇2

Untuk menghitung arus differensial pada trafo dapat digunakan rumus berikut :
1
Isekunder CT1 = 𝑥 𝐼𝑛.
𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 𝐶𝑇
1
Isekunder CT2 = 𝑥 𝐼𝑛
𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 𝐶𝑇

ACT merupakan suatu alat pendukung yang mempunyai arti penting dalam suatu sistem pengaman
differensial. ACT berfungsi untuk mengoreksi adanya perbedaan arus disisi sekunder CT pada kedua sisi
trafo dengan mengusahakan agar selisih arus keluaran masing – masing CT yang masuk ke relay sekecil
mungkin. Pada sistem pengaman differensial, ACT yang dipasang antara transformator arus dengan relay
masing – masing di sisi tegangan. Arus sekunder masing – masing trafo merupakan input bagi ACT, dimana
nantinya akan diturunkan sesuai dengan arus nominal relay differensial, dengan cara pengaturan posisi tap
[Link].

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Untuk menentukan arus dan tegangan dari simulasi load flow analysis, maka didapatkan arus yang
mengalir pada sisi primer dan sisi sekunder.
82 JURNAL TEKNIK ELEKTRO ITP, Vol. 9, No. 2, JULI 2020

Gambar 3 Simulasi load flow analysis.

Untuk simulasi setting relay differensial dilakukan berdasarkan dua gangguan yaitu gangguan
didalam daerah pengaman dan diluar daerah pengaman, ini dilakukan guna menghindari kegagalan proteksi
dari relay differensial sebagai proteksi transformator daya saat terjadi gangguan. Daerah pengamannya
dibatasi oleh pasangan transformator arus dimana relay differensial dipasang sehingga relay tidak bisa
dijadikan sebagai pengaman cadangan untuk daerah berikutnya. Berikut ini adalah simulasi setting relay
differensial baik saat terjadi gangguan dalam maupun gangguan diluar.

Gambar 4. Simulasi setting relay differensial ganguan didalam


JURNAL TEKNIK ELEKTRO ITP, Vol. 9, No. 2, JULI 2020 83

Gambar 5. Simulasi setting relay differensial gangguan luar.

Gambar 6 Grafik relay Differensial.


84 JURNAL TEKNIK ELEKTRO ITP, Vol. 9, No. 2, JULI 2020

Gambar 7. Grafik perbandingan hasil perhitungan dengan data lapangan

Perbandingan hasil perhitungan dengan data yang ada dilapangan masih dalam kondisi yang sesuai
(perbedaanya tidak terlalu jauh), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan setting relay
differensial yang ada pada GI pauh limo sudah baik.
Pada simulasi ETAP, pada saat gangguan didalam daerah pengaman (gangguan internal) relay
deifferensial dengan indekasi arus setting sebesar 0.063A lebih kecil dari arus operasi sebesar 0.085A
sehingga relay akan bekerja. Dapat dilihat pada gambar 5. Sedangkan pada saat gangguan diluar daerah
pengaman (gangguan eksternal) relay differensial arus setting yang timbul sebesar 0.063A sama dengan
arus operasi sebesar 0.063A sehingga relay tidak akan bekerja, seperti pada gambar 6. Untuk grafik waktu
kerja relay berdasarkan simulasi pada ETAP 12.6 yaitu didapatkan waktunya 0.15s, saat diberi gangguan
pada transformator, arus yang mengalir yaitu sebesar 106A sedangkan arus nominal pada relay differensial
sebesar 5A, jadi melebihi batas arus nominal relay differensial maka relay akan bekerja dengan waktu
seperti grafik pada gambar 7.

4. KESIMPULAN
Dari pembahasan maka dapat dimabil kesimpulan Error mismatch pada trafo daya1 GI Pauh Limo
masih dibawah batas maksimal yaitu 5% karena didapat hasil perhitungan masing-masing trafo daya pada
sisi 150 kv dan 20 kV sebesar 0.18% dan 0.225%. Dari hasil perhitungan didapatkan hasil arus setting
sebesar 0.485A, sedangkan data untuk dilapangan nilai arus setting sebesar 0.3 A. Pada simulasi ETAP,
hasil perhitungan setting dilakukan pada relay differensial yang dimasukkan ke etap, bekerja dengan baik
karena mampu mentripkan CB pada saat gangguan didalam daerah kerja relay differensial dengan arus
setting 0.063A lebih kecil dari pada arus operasi yang besarnya 0.085A. sedangkan pada gangguan luar
daerah pengaman relay, arus setting yang timbul 0.063A sama dengan arus operasi yang besarnya 0.063A
sehingga relay tidak bekerja. Perbandingan hasil perhitungan dan data yang ada dilapangan masih dalam
kondisi yang sesuai (perbedaannya tidak terlalu jauh), sehingga dapat disimpulkan bahwa secara
keseluruhan setting relay differensial yang ada dilapangan sudah baik.

DAFTAR PUSTAKA
[1] F. Widianto, A. Supardi, And A. Budiman, “Analisis Gangguan Hubung Singkat Tiga Fase Pada
Sistem Distribusi Standar Ieee 13 Bus Dengan Menggunakan Etap Power Station 7.0,” Vol. 14, No.
02, Pp. 19–29, 1992.
[2] A. Subari And D. H. Kusumastuti, “Setting Relay Differensial Pada Gardu Induk Kaliwungu Guna
Menghindari Kegagalan Proteksi.”
[3] A. Istimaroh And N. Hariyanto, “Penentuan Setting Rele Arus Lebih Generator Dan Rele Diferensial
Transformator Unit 4 Plta Cirata Ii,” Vol. 1, No. 2, Pp. 131–141, 2013.
[4] A. Goeritno Et Al., “Simulasi Fenomena Gangguan Internal Pada Transformator Daya Untuk
Pengukuran Kinerja Relay Differensial Dan Buchholz,” Pp. 57–72.
[5] B. Wirawan, “Setting Koordinasi Over Current Relay Pada Trafo 60 Mva 150 / 20 Kv Dan Penyulang
20 Kv,” Vol. 18, No. 3, Pp. 134–140, 2014.
JURNAL TEKNIK ELEKTRO ITP, Vol. 9, No. 2, JULI 2020 85

[6] D. Chaudhari And N. G. Chothani, “Common Differential Relaying Scheme For The Protection Of
Various Transformer Configurations,” Nuicone 2015 - 5th Nirma Univ. Int. Conf. Eng., 2016.
[7] D. J. T. Elektro-Fti And U. Trisakti, “Studi Penyetelan Relai Diferensial Pada Transformator Pt
Chevron Pacific Indonesia,” Vol. 6, Pp. 41–68, 2007.
[8] C. Rizky And P. Emtdc, “Analisis Proteksi Relay Differensial Terhadap Gangguan Internal Dan
Ekternal Transformator Menggunakan Pscad/Emtdc,” J. Rekayasa Elektr., Vol. 9, No. 3, Pp. 101–107,
2011.
[9] W. K. Zhao, J. H. He, Z. Q. Bo, And A. Klimek, “The Improvement Of The Digital Differential Relay
In On-Load Tap Changer Transformer,” 1st Int. Conf. Sustain. Power Gener. Supply, Supergen ’09,
No. 1, Pp. 3–6, 2009.
[10] Sumanto "Teori Transformator" Yogyakarta 1996.
[11] Zulkarnaini "Sistem Proteksi Tenaga Listrik". Bahan Ajar Intitut Teknologi Padang, 2018

Anda mungkin juga menyukai