0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran

BAB 2

Diunggah oleh

ayurahmadani846
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan20 halaman

Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran

BAB 2

Diunggah oleh

ayurahmadani846
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Media Pembelajaran

Media pembelajaran berasal dari dua kata yakni, media dan pembelajaran.

Kata media sendiri berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari

kata “medium “ secara harfiah kata mediunm berarti “perantara” yang dapat

diartikan bahwa perantara dari sumber pesan ke penerima pesan. Media adalah

salah satu alat komunikasi yang dapat digunakan dalam menyampaikan suatu

pesan yang tentu sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran. Apabila media

mengandung pesan atau informasi yang mengandung maksud-maksud

pembelajaran maka media itu disebut media pembelajaran.

Miarso (Rusman,dkk:2013:170) mengemukakan bahwa :

“Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk


menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong
terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan dan terkendali”.

Sejalan dengan pendapat tersebut Briggs (Sadiman,dkk:2012:6)

menyatakan bahwa media adalah segala alat-alat fisik yang dapat menyajikan

pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Hal senada juga dikemukakan oleh

Association of edicational and communication technology (Arsyad:2007:3)

memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang

digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.

8
9

Jadi dapat di simpulkan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang

dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga

dapat meransang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses

belajar mengajar terjadi. Pada hakikatnya media merupakan wahana untuk

menyampaikan pesan atau informasi dari sumber pesan kepada penerima pesan.

Pesan atau informasi yang disampaikan adalah materi pembelajaran untuk

mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, sehingga dalam prosesnya

memerlukan media sebagai subsistem pembelajaran.

Kehadiran media pembelajaran bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu

yang digunakan guru dalam penyampaikan materi pelajaran. Namun saat ini,

media pembelajaran juga dapat memberikan dorongan, motivasi, kreativitas siswa,

stimulus maupun pengembangan aspek intelektual maupun emosional siswa. Oleh

karena itu, media perlu dirancang dengan memperhatikan ciri-ciri dan

karakteristik dari sasaran dan kesesuaian dengan tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan, kemudahan dalam penggunaannya, menarik bagi peserta didik

sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai

Hamalik 1986 (Arsyad, 2007) mengemukakan :

Pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran


membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.

Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan

proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.

Selaian membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat
10

membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik

dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.

Hamalik (1994: 15-16) mengemukakan manfaat media pembelajaran

yaitu:

1). Meletakkan dasar-dasar konkrit untuk berpikir, oleh karena


mengurangi verbalisme.2). Memperbesar perhatian para siswa.3).
Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar.
Oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.4.) Memberikan
pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan
berusaha sendiri di kalangan siswa.5). Menumbuhkan pemikiran
yang teratur dan kontinyu. Hal ini terutama terdapat dalam gambar
hidup.6). Membantu tumbuhnya pengertian.7). Memberikan
pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta
membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta
keragaman yang lebih banyak dalam belajar.

Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa besar manfaat media

pembelajaran digunakan karena akan sangat membantu demi optimalnya proses

pembelajaran, baik akan memudahkan bagi guru maupun bagi siswa dalam

memahami materi pelajaran yang diajarkan guru.

Djamarah dan Zain (2002: 143) mengemukakan prinsip-prinsip pemilihan

media pembelajaran, yaitu: “a) tujuan pemilihan, b) karakteristik media

pembelajaran, dan c) alternatif pemilihan”. Prinsip pemilihan media pembelajaran

tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

a. Tujuan pemilihan

Pemilihan media pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran harus

didasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemilihan media

pembelajaran itu untuk siswa, untuk informasi yang lebih luas, atau hanya

sekadar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih spesifik lagi, apakah untuk
11

pembelajaran kelompok atau individual, apakah untuk sasaran tertentu seperti

anak normal, tuna rungu, atau tuna netra. Tujuan pemilihan ini berkaitan

dengan kemampuan berbagai media pembelajaran yang digunakan.

b. Karakteristik media pembelajaran

Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dari segi

keampuhannya, cara pembuatan, maupun cara penggunaannya. Pemahaman

terhadap karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan mendasar

yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan

media pembelajaran. Di samping itu, untuk memberikan kemungkinan

kepada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pembelajaran secara

bervariasi, sedangkan apabila kurang memahami karakteristik media

pembelajaran tersebut, maka guru akan dihadapkan kepada kesulitan dan

cenderung bersifat spekulatif dalam pemilihan media pembelajaran.

c. Alternatif pemilihan

Kegiatan memilih merupakan proses membuat keputusan dari berbagai

alternatif pilihan penggunaan media pembelajaran. Guru bisa menentukan

pilihan media pembelajaran mana yang akan digunakan jika terdapat

beberapa media pembelajaran yang dapat diperbandingkan. Jika media

pembelajaran itu hanya satu saja, maka guru tidak bisa memilih, tetapi

menggunakan media pembelajaran yang apa adanya sehingga hal tersebut

akan dapat mempengaruhi kualitas proses belajar mengajar.

Kriteria pemilihan media harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang

ingin dicapai, kondisi dan keterbasan yang ada, dan mengingat kemampuan
12

dan sifat-sifat khasnya. Pemilihan media pembelajaran seyogyanya tidak

terlepas dari konteksnya bahwa media pembelajaran merupakan komponen

dari sistem instruksional secara keseluruhan. Oleh karena itu, meskipun

tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor lain juga perlu diperhatikan dan

dipertimbangkan baik dari segi alokasi waktu dan sumber serta prosedur

penilaiannya.

Fungsi media.

Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat visual (alat peraga)

dalam kegiatan pembelajaran, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan

pengalaman visual kepada peserta didik guna meningkatkan motivasi belajar,

memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak dan mempertinggi daya

serap siswa. Kemudian, seiring berkembangnya pengetahuan dan teknologi, maka

pelaksanaan kegiatan pembelajaran semakin menuntut untuk menciptakan media

pembelajaran yang bervariasi. Media sangat berperan penting dalam proses

pembelajaran, karena media berfungsi sebagai intruksi dimana informasi yang

terdapat dalam media harus melibatkan siswa secara nyata sehingga pembelajaran

dapat terjadi. Berbicara tentang fungsi media berkaitan dengan manfaat media dan

atau kegunaan media itu sendiri ketika digunakan dalam pembelajaran di dalam

kelas, adapun media dalam pembelajaran menurut beberapa ahli adalah sebagai

berikut;

Menurut Derek Rowntree (Karim:2007:9), media dapat:

a)Membangkitkan motivasi belajar, b)Mengulang apa yang telah


dipelajari, c)Menyediakan stimulus belajar, d)Mengaktifkan
13

respon murid, e)Memberikan feedback dengan segera,


f)Menggalakkan latihan yang serasi.

Berdasarkan pendapat tersebut penulis berkesimpulan bahwa media

memiliki fungsi sebagai alat yang mampu mengulang kembali apa yang pernah

dipelajari sehingga mampu mengaktifkan ingatan dan memicu stimulus untuk

belajar.

Menurut McKown (Karim: 2007:9), media dapat:

a)Mengubah titik berat pendidikan formal dari pendidikan yang


menekankan pada pengajaran akademis beralih kepada
pendidikan yang mementingkan kebutuhan hidup anak,
b)Membangkitkan motivasi belajar siswa, c)Memberikan
kejelasan (Clarification), d)Memberikan rangsangan
(stimulation).
Berdasarkan pendapat ini penulis berkesimpulan bahwa media memiliki

fungsi sebagai alat yang memicu rangsangan dan motivasi untuk belajar.

Menurut Edgar Dale (Karim :2007:10), Finn dan Hobar, media dapat:
a)Memberikan pngalaman konkrit bagi pemikiran yang bastrak,
b)Mempertinggi perhatian murid, c)Memberikan realitas,
mendorong self actifity, d)Memberikan hasil belajar yang
permanen, e)Menambah perbendaharaan bahasa, f)Memberikan
pengalaman lain yang sukar diperoleh dengan cara lain.

Berangkat dari pendapat ini penulis menyimpulkan bahwa media memiliki

fungsi sebagai alat yang mampu menjelaskan materi dengan konkret sehingga

hasil pembelajaran lebih permanen. Hamalik (Azhar:2013) mengemukakan bahwa

pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat

membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan

rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis

terhadap siswa.
14

Berdasarkan pendapat ahli mengenai fungsi media dalam pembelajaran

dapat disimpulakan bahwa terdapat nilai praktis yang dapat diperoleh dari

penggunaan media dalam pembelajaran yakni:

a. Dapat menkonkretkan pesan yang bersifat abstrak

b. Meningkatkan motivasi belajar siswa

c. Hemat waktu dan tempat

d. Dapat mengulang, merekam kejadian yang lalu serta meramalkan kejadian

mendatang

e. Membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna sehingga siswa dapat

mengingat materi dalam jangka waktu yang relatif lebih lama.

Prinsip-prinsip Penggunaan Media

Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan

siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan (Karim :2007:23)yaitu:

1). Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan
diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.2). Media yang
digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran3). Media
harus selalu disesuaikan dengan metode mengajar yang digunakan
oleh guru.4). Media harus selalu disesuaikan dengan minat,
kebutuhan, kondisi, kemampuan dan gaya belajar siswa.5). Media
harus dapat dipilih secara obyektif dan bukan kesenangan pribadi
pemakai.6). Media harus selalu disesuaikan dengan biaya yang
tersedia.7). Media yang dipilih harus sesuai dengan lokasi tau
kondisi fisik lingkungan pembelajaran.8). Media yang digunakan
harus memperhatikan efektivitas dan efesien.9. Guru harus selalu
mengingat bahwa tidak satu pun media yang paling baik untuk
semua tujuan pengajaran.

Berangkat dari pendapat ini penulis menyimpulkan bahwa dalam memilih

media pembelajaran, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan

media pembelajaran dengan menyesuaikan segala kondisi yang ada.


15

Jenis-jenis Media

Media cukup banyak jenis dan bentuknya, dari yang sederhana sampai

yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan yang susah ada secara natural

sampai kepada media yang harus dirancang guru itu sendiri. Dilihat dari jenisnya,

Menurut Sadiman(2012) Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi

beberapa jenis yakni media grafis, media audio dan media proyeksi diam.

1). Media Grafis termasuk Media Visual, sebagaimana halnya


medium yang lain media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan
dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut
indera penglihatan. Pesan-pesan yang akan disampaikan
dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.2). Media
Audio berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan
indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke
dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (ke dalam
kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Ada beberapa jenis
media yang dapat kita kelompokkan dalam media audio antara lain
radio, alat perekam pita magnetik, piringan hitam, dan
laboratorium bahasa.3). Media Proyeksi Diam, media ini
mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan
rangsangan-rangsangan visual. Perbedaan yang jelas diantara
mereka adalah pada media grafis dapat secara langsung
berinteraksi dengan pesan media yang bersangkutan pada media
proyeksi, pesan tersebut harus diproyeksikan dengan proyektor
agar dapat dilihat oleh sasaran; terlebih dahulu. Adakalanya media
jenis ini disertai rekaman audio, tapi ada pula yang hanya visual
saja. Beberapa jenis media proyeksi diam antara lain film bingkai
(slide), film rangkai (film strip), overhead proyektor, proyektor
opque, tachitoscope, micriprojection dengan microfim.

Berangkat dari pendapat ini,penulis menyimpulkan bahwa media memiliki

banyak jenis dan bentuk, t .ergantung kita memilih media apa yang cocok dan

bagus digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang ada.

2. Media Lectora Inspire

Lectora merupakan e-learning software yang lengkap, handal dan cocok

digunakan untuk membuat media pembelajaran. Lectora Inspire adalah perangkat


16

lunak Authoring Tool (Alat yang berkerja secara otomatis) untuk pengembangan

konten e-learning yang dikembangkan oleh Trivansi Corporation. Pendirinya

adalah Timothy D. Loudermilk di Cincinnati, Ohio Amerika tahun 1999. Lectora

Inspire merupakan salah satu software yang dapat digunakan untuk

mengembangkan media pembelajaran interaktif. Untuk Lectora, dari awal

software ini diciptakan memang untuk kebutuhan elearning yang dapat dibuat

dengan cepat dan mudah. Lectora Inspire dapat digunakan untuk kebutuhan

pembelajaran baik secara online maupun offline yang dapat dibuat dengan cepat

dan mudah. Lectora Inspire dapat digunakan untuk menggabungkan flash,

merekam video, menggabungkan gambar, dan screen capture. Lectora Inspire

telah disosialisasikan di beberapa daearah seperti jawa tengah dan yogyakarta

misalnya yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan setempat untuk mendorong para

guru di daerahnya agar mampu menyusun sebuah media pembelajaran yang

interaktif.

Spesifikasi minimal yang dibutuhkan untuk menginstal Lectora Inspire

adalah Processor Intel 1.5 GHZ, 1 GB RAM, 900 MB HD, OS Windows (XP,

Vista, Win 7 dan Win 8) Player 8.0, Browser (IE 6, Firefox 1.0, dan Google

Chrome). Lectora Inspire dapat menghasilkan produk berupa media pembelajaran

yang menarik dan menyenangkan sebab fitur dan komponen yang tersedia cukup

kompleks sehingga pengguna tinggal memuat conten materi kedalamnya.

Menurut (mas;ud:2013) pada Tahun 2011, Lectora memperoleh 5

pengargaan dalam bidang produk E- learning inovatif, Authoring Tool, tool

presentasi terbaik, dan teknologi E- learning terbaik. Sehingga wajar lebih dari 50
17

perusahaan atau instansi di dunia memilih Lectora. Dalam satu paket Lectora

mencakup, Flypaper : untuk membuat pembelajar lebih kreatif dan melibatkannya

dengan menambah animasi flash, transisi dan efek spesial, Camtasia : membuat

tutorial profesional dengan mudah meng-capture video, animasi flash atau

software desain 3 D, Snagit : meng-capture apa yang ada di dekstop untuk

membuat image. Dilengkapi call out, dll.

a. Keunggulan Lectora Inspire

Menurut Mas’ud (2013:2) Lectora Inspire mempunyai beberapa

keunggulan dibanding authoring tool e-learning lainnya yakni :

1). Lectora mudah dioperasikan, sebab tidak membutuhkan


pengetahuan tentang bahasa pemrograman, jadi siapa saja hanya
perlu belajar mengenal fungsi tiap tool yang tersedia.2). Lectora
tergolong software multifungsi, sebab dapat digunakan untuk
membuat website, konten e-learning interaktif, dan presentasi
produk atau profil perusahaan.3). Fitur-fitur yang tersedia sangat
mudah untuk dikenali dan digunakan untuk membuat media
pembelajaran.4). Lectora menyediakan media library yang sangat
membantu pengguna.5). Lectora menyediakan 8 tipe format
evaluasi belajar yang mudah diterapkan disertai skor diahir
evaluasi.6). Konten yang dikembangkan lectora dapat
dipublikasikan ke berbagai out put seperti HTML, exe, CD-ROM,
maupun standar e-learning seperti SCORM dan AICC.

Keunggulan media Lectora diatas, memberikan gambaran betapa menarik

dan menyenangkanya proses pembelajaran jika betul-betul mampu

memaksimalkan penggunaanya dalam produk yang dihasilkan.

b. Cara Mengoprasikan Media Lectora Inspire

Title (Judul) dalam Lectora merupakan project atau file yang dibuat

menggunakan lectora. Title menjadi dasar/acuan pada topik atau pokok bahasan

materi. Membuat Title dapat dilakukan melalui tiga cara, Pertama : melalui Title
18

Wizard, dengan membuat kerangka secara otomatis dengan menentukan style

tampilan, jumlah Chapter dan Page, test, serta tombol navigasi standar. Bagi

pemula disarankan memulai file project melalui Title Wizard. Kedua : melaui

Template, hampir sama dengan Title Wizard tetapi hanya sebatas tombol-tombol

navigasi. Biasanya digunakan oleh pengembang yang sudah agak mahir. Ketiga :

melaui Blank Title/judul kosong, membuat title tanpa pilihan style dan bantuan

wizard. Langkah ini ditempuh oleh pengembang yang sudah mahir

mengoprasikan lectora.

3. Proses Pembelajaran IPA

Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar,

di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang

berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada

pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai sasaran

pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai komponen

lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran.

Arikunto (1993:12) mengemukakan


pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya
proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh
subjek yang sedang belajar”. Lebih lanjut Arikunto
(1993:4)mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah bantuan
pendidikan kepada anak didik agar mencapai kedewasaan di
bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Rohani dan Ahmadi (1995:64) mengemukakan:

Pembelajaran adalah totalitas aktivitas belajar mengajar yang


diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi. Dari
evaluasi ini diteruskan dengan follow up. Pembelajaran sebagai
kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pembelajaran,
19

menyusun rencana pelajaran, memberikan informasi, bertanya,


menilai, dan sebagainya.

Dari pengertian pembelajaran dari berbagai pendapat di atas, maka dapat

ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan proses komunikasi,

yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu

ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan

adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan

dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum,

sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media.

Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama

menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru

sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut

mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa

melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah, maka

hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut

keaktifan guru dan siswa.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu kumpulan pengetahuan

yang tersusun secara sistematis tentang gejala-gejaa alam. Pengertian IPA tidak

hanya ditunjukkan dari kumpulkan fakta tetapi dengan metode ilmiah. Mata

pelajaran fisika merupakan bagian dari IPA. Depdiknas (2006: 47) memaparkan,

bahwa:

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari


tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan
suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat
20

menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri


dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu Pengetahuan Alam dalam proses pembelajarannya menekankan pada

pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar

menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Secara tidak langsung

pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu

peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam

sekitar.

4. Hasil Belajar

Keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi hasil. Asumsi dasar ialah

proses pengajaran yang optimal memungkinkan hasil belajar yang optimal pula.

Ada korelasi antara proses pengajaran dengan hasil yang dicapai. Makin besar

usaha untuk menciptakan kondisi proses pengajaran, makin tinggi pula hasil atau

produk dari pengajaran itu. Hal ini sejalan menurut (Sumatmadja, 1997:122)

bahwa Hasil belajar adalah akumulasi kegiatan belajar mengajar dalam bentuk

pemberian ujian oleh guru sehingga akan diketahui hasil belajar dan mengajar

yang dilakukan siswa dan guru.

Selanjutnya Gagne (Sumantri, 1998 : 16-17) mengemukakan lima macam

kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar sehingga pada gilirannya

membutuhkan sekian macam kondisi belajar untuk pencapaiannya. Kelima

macam kemampuan hasil belajar tersebut adalah:

(a) Keterampilan intelektual, sejumlah pengetahuan mulai dari


baca tulis hitung sampai kepada pemikiran yang rumit.
Kemampuan intelektual tergantung kepada kapasitas
21

intelektual kecerdasan seseorang dan pada kesempatan belajar


yang tersedia.
(b) Strategi Kognitif, mengatur cara belajar dan berfikir seseorang
didalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan
memecahkan masalah,
(c) Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.
Kemampuan ini pada umumnya dikenal dan tidak jarang.
(d) Keterampilan motoric yang diperoleh di sekolah, antara lain
keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka dan
sebagainya.
(e) Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas
emosional yang dimiliki oleh seseorang, sebagaimana dapat
disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap
orang, barang atau kejadian.

Berdasarkan defenisi yang dikemukakan tersebut dapat disimpulkan

bahwa hasil belajar dicapai setelah proses belajar sebagai akibat dari perlakuan

dalam kegiatan belajar. Penguasaan materi yang akan diajarkan bagi seorang

pengajar belumlah cukup untuk menentukan hasil belajar siswa, tetapi juga

pengajar dengan siswa yang diajar atau diantara siswa dengan siswa, sehingga

terjadi dua kegiatan yang saling mempengaruhi yang dapat menentukan hasil

belajar siswa.

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni

faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar siswa terutama

kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya

terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Clark

(Darsono, 2000 : 17) “bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh

kemampuan dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”.

Faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor lain, seperti

motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,

sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Faktor tersebut banyak menarik perhatian
22

para ahli pendidikan untuk diteliti, seberapa jauh kontribusi atau sumbangan yang

diberikan oleh faktor tersebut terhadap hasil belajar siswa.

Menurut Mulyasa (2006 : 210) bahwa hasil belajar siswa dapat dilihat

dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang dengan indikator-

indikator sebagai berikut :

(a) Sekurang-kurangnya 75% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran


dapat dipahami, diterima dan diterapkan oleh para siswa di
kelas.
(b) Sekurang-kurangnya 75% peserta didik merasa mendapat
kemudahan, senang, dan memiliki kemudahan yang tinggi.
(c) Para peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses
pembelajaran.
(d) Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan pesera
didik dan memandang hal ini sangat berguna bagi
kehidupannya kelak sehingga muncul motivasi meningkatkan
hasil belajar.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil

belajar siswa dapat dilihat dalam berbagai indikator penting seperti 75% materi

pelajaran dapat dipahami, diterapkan, serta merasa senang terhadap penyajian

materi dan dapat memudahkannya dalam penerapan kesehariannya dalam

lingkungan sekolah maupun masyarakat sehingga dapat menimbulakan motivasi

dalam peningkatan hasil belajarnya.

Daya tarik pembelajaran biasa diukur dengan mengamati kecenderungan

siswa untuk tetap belajar. Daya tarik pembelajaran erat sekali kaitannya dengan

daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya mempengaruhi

keduanya. Itulah sebabnya pengukuran kecenderungan siswa untuk belajar dapat

dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.
23

Perubahan tingkah laku yang berkesinambungan sebagai hasil belajar

dikatakan proses pembelajaran sepanjang hayat karena perubahan tingkah laku

mengarah kepada hal yang lebih positif terus berubah dan berkembang sesuai

dengan zaman yang dihadapi. Pada umumnya hasil belajar siswa dapat

dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik dan afektif.

Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.

Setiap mata pelajaran mengandung ketiga ranah tersebut, namun penekanannya

selalu berbeda mata pelajaran praktik lebih menekankan pada ranah

psikomotorik, sedangkan pada mata pelajaran yang menekankan pada pemahaman

konsep lebih menekankan pada ranah kogntif. Namun, keduan ranah itu

mengandung ranah afektif.

Ranah psikomotorik berhubungan dengan hasil belajar yang

pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan

kekuatan [Link] psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktifitas

fisik, misalnya menulis, melompat dan membuat [Link] ranah

kognitif sangat berhubungan dengan kemampuan menghafal, memahami,

mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis dan kemampuan mengevaluasi.

Adapun ranah afektif mencakup watak dan perilaku seperti sikap, minat, konsep

diri, nilai dan moral.

Menurut Rohani (1995:23) bahwa aspek kognitif terdiri atas 5 (lima)

tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Lima tingkatan tersebut antara

lain, yaitu :

(a) Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut


siswa mampu mengingat informasi yang telah diberikan.
24

(b) Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori


pemahaman dapat dihubungkan dengan kemampuan
menjelaskan informasi yang diterima.
(c) Tingkat penerapan (aplicatiori), penerapan merupakan
kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi
yang telah diterima.
(d) Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan
mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-
komponen suatu fakta.
(e) Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan
seseorang dalam meningkatkan dan menyatukan berbagai
elemen dan unsur pengetahuan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek

kognitif terdiri atas lima tingkatan yaitu: tingkat pengetahuan; tingkat

pemahaman; tingkat penerapan; tingkat analisis; dan tingkat sintesis. Belajar

merupakan proses aktivitas yang memiliki keterukuran secara jelas. Ukuran hasil

belajar siswa dapat dilihat dari tercapai standar kompetensi dan kompetensi dasar

siswa. Menurut Suprayekti (2004:23) bahwa “keberhasilan atau kegagalan dalam

proses belajar mengajar merupakan sebuah ukuran atau proses pembelajaran”.

Apabila merujuk pada ramusan operasional keberhasilan belajar, maka belajar

dikatakan berhasil apabila diikuti ciri-ciri :

a. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi

tinggi, baik secara individu maupun kelompok.

b. Perilaku yang digariskan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar

telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.

c. Terjadinya proses pemahaman materi yang secara sekuensial mengantarkan

materi pada tahap berikutnya.

Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan

wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu
25

yang diniati dan [Link] harus merasakan adanya suatu kebutuhan

untuk belajar dan [Link] harus berusaha mengarahkan segala daya upaya

untuk mencapainya. Kalaupun demikian, hasil belajar yang dapat diraih masih

juga bergantung dari lingkungan. Artinya, ada faktor-faktor yang berada diluar

dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai.

Salah satunya adalah lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi

hasil belajar di sekolah, ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas

pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses pembelajaran

dalam mencapai tujuan pengajaran. Oleh sebab itu “hasil belajar siswa di sekolah

dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran” (Sudjana, 2005:40).

B. Kerangka Pikir

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui

kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa akandatang.

Seiring dengan tuntutan dunia pendidikan di Indonesia, maka pemerintah

senantiasa melakukan berbagai upaya dalam peningkatan mutu pembelajaran. Di

lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan

dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan

keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan

guru memilih dan menggunakan metode [Link] yang baik adalah

salah satu upaya untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam terhadap

materi dan meningkatkan keterampilan berfikir kiritis serta analitik. Hal ini juga

tidak terlepas dari usaha guru sebagai komponen terpenting dalam pembelajaran

di kelas.
26

Kemajuan teknologi modern merupakan salah satu faktor yang turut

menunjang usaha pembaharuan penggunaan media pembelajaran yaitu

penggunaan media Lectora Inspire, dimana guru dituntut untuk memiliki

kreativitas yang lebih tinggi dalam menyediakan media pembelajaran ini

khususnya pada mata pelajaran IPA kelas VII. Penggunaan media lectora Inspire

sebagai media pembelajaran di samping memudahkan siswa dalam proses

pembelajaran juga mempermudah guru dalam menyampaikan materi

pembelajaran kepada siswa serta penggunaan animasi ini dapat menanamkan

konsep dan pemaknaan yang sama dalam otak siswa dibandingkan dengan media

lain seperti gambar.

Seorang guru dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis

media pembelajaran yang ada di sekitarnya. Penggunaan media lectora Inspire

dapat menarik perhatian siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa, biasanya

berupa tulisan atau gambar yang bergerak-gerak, yang sekiranya akan menarik

perhatian siswa. Adapun Pretest dan Postest sebagai alat tes untuk mengetahui

tingkat hasil belajar siswa, dalam hal ini pretest dilakukan sebelum penggunaan

media Lectora Inspire, sedangkan posttest dilakukan setelah penggunaan media

Lectora Inspire.

Berdasarkan rumusan masalah dari judul penelitian yang diangkat maka

perlu adanya sebuah kerangka pikir sebagai arah dalam penelitian atau tujuan

yang dapat dilihat dari peneliti ini dilakukan. Adapun skema kerangka pikir yang

dihasilkan sebagai berikut :


27

Mata pelajaran IPA


Kelas VII

Pretest Menggunakan media lectora Posttest


inspire

pretest
Hasil belajar

Gambar 2.6 Kerangka Pikir

C. Hipotesis

H0 = Tidak ada pengaruh pada penggunaan media lectora inspire hasil

belajar siswa dalam pelajaran Ipa kelas VII SMP Negeri 1 Duapitue

Kabupaten Sidrap.

H1 =Ada pengaruh setelah penggunaan media lectora inspire terhadap hasil

belajar siswa dalam pelajaran pelajaran Ipa kelas VII SMP Negeri 1

Duapitue Kabupaten Sidrap.

Anda mungkin juga menyukai