BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Media Pembelajaran
Media pembelajaran berasal dari dua kata yakni, media dan pembelajaran.
Kata media sendiri berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari
kata “medium “ secara harfiah kata mediunm berarti “perantara” yang dapat
diartikan bahwa perantara dari sumber pesan ke penerima pesan. Media adalah
salah satu alat komunikasi yang dapat digunakan dalam menyampaikan suatu
pesan yang tentu sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran. Apabila media
mengandung pesan atau informasi yang mengandung maksud-maksud
pembelajaran maka media itu disebut media pembelajaran.
Miarso (Rusman,dkk:2013:170) mengemukakan bahwa :
“Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk
menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong
terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan dan terkendali”.
Sejalan dengan pendapat tersebut Briggs (Sadiman,dkk:2012:6)
menyatakan bahwa media adalah segala alat-alat fisik yang dapat menyajikan
pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Hal senada juga dikemukakan oleh
Association of edicational and communication technology (Arsyad:2007:3)
memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang
digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.
8
9
Jadi dapat di simpulkan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga
dapat meransang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses
belajar mengajar terjadi. Pada hakikatnya media merupakan wahana untuk
menyampaikan pesan atau informasi dari sumber pesan kepada penerima pesan.
Pesan atau informasi yang disampaikan adalah materi pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan, sehingga dalam prosesnya
memerlukan media sebagai subsistem pembelajaran.
Kehadiran media pembelajaran bukan hanya berfungsi sebagai alat bantu
yang digunakan guru dalam penyampaikan materi pelajaran. Namun saat ini,
media pembelajaran juga dapat memberikan dorongan, motivasi, kreativitas siswa,
stimulus maupun pengembangan aspek intelektual maupun emosional siswa. Oleh
karena itu, media perlu dirancang dengan memperhatikan ciri-ciri dan
karakteristik dari sasaran dan kesesuaian dengan tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan, kemudahan dalam penggunaannya, menarik bagi peserta didik
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
Hamalik 1986 (Arsyad, 2007) mengemukakan :
Pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran
membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa
pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan
proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.
Selaian membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pembelajaran juga dapat
10
membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik
dan terpercaya, memudahkan penafsiran data dan memadatkan informasi.
Hamalik (1994: 15-16) mengemukakan manfaat media pembelajaran
yaitu:
1). Meletakkan dasar-dasar konkrit untuk berpikir, oleh karena
mengurangi verbalisme.2). Memperbesar perhatian para siswa.3).
Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar.
Oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.4.) Memberikan
pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan
berusaha sendiri di kalangan siswa.5). Menumbuhkan pemikiran
yang teratur dan kontinyu. Hal ini terutama terdapat dalam gambar
hidup.6). Membantu tumbuhnya pengertian.7). Memberikan
pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain serta
membantu berkembangnya efisiensi yang lebih mendalam serta
keragaman yang lebih banyak dalam belajar.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa besar manfaat media
pembelajaran digunakan karena akan sangat membantu demi optimalnya proses
pembelajaran, baik akan memudahkan bagi guru maupun bagi siswa dalam
memahami materi pelajaran yang diajarkan guru.
Djamarah dan Zain (2002: 143) mengemukakan prinsip-prinsip pemilihan
media pembelajaran, yaitu: “a) tujuan pemilihan, b) karakteristik media
pembelajaran, dan c) alternatif pemilihan”. Prinsip pemilihan media pembelajaran
tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
a. Tujuan pemilihan
Pemilihan media pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran harus
didasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Apakah pemilihan media
pembelajaran itu untuk siswa, untuk informasi yang lebih luas, atau hanya
sekadar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih spesifik lagi, apakah untuk
11
pembelajaran kelompok atau individual, apakah untuk sasaran tertentu seperti
anak normal, tuna rungu, atau tuna netra. Tujuan pemilihan ini berkaitan
dengan kemampuan berbagai media pembelajaran yang digunakan.
b. Karakteristik media pembelajaran
Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dari segi
keampuhannya, cara pembuatan, maupun cara penggunaannya. Pemahaman
terhadap karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan mendasar
yang harus dimiliki guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan
media pembelajaran. Di samping itu, untuk memberikan kemungkinan
kepada guru untuk menggunakan berbagai jenis media pembelajaran secara
bervariasi, sedangkan apabila kurang memahami karakteristik media
pembelajaran tersebut, maka guru akan dihadapkan kepada kesulitan dan
cenderung bersifat spekulatif dalam pemilihan media pembelajaran.
c. Alternatif pemilihan
Kegiatan memilih merupakan proses membuat keputusan dari berbagai
alternatif pilihan penggunaan media pembelajaran. Guru bisa menentukan
pilihan media pembelajaran mana yang akan digunakan jika terdapat
beberapa media pembelajaran yang dapat diperbandingkan. Jika media
pembelajaran itu hanya satu saja, maka guru tidak bisa memilih, tetapi
menggunakan media pembelajaran yang apa adanya sehingga hal tersebut
akan dapat mempengaruhi kualitas proses belajar mengajar.
Kriteria pemilihan media harus dikembangkan sesuai dengan tujuan yang
ingin dicapai, kondisi dan keterbasan yang ada, dan mengingat kemampuan
12
dan sifat-sifat khasnya. Pemilihan media pembelajaran seyogyanya tidak
terlepas dari konteksnya bahwa media pembelajaran merupakan komponen
dari sistem instruksional secara keseluruhan. Oleh karena itu, meskipun
tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor lain juga perlu diperhatikan dan
dipertimbangkan baik dari segi alokasi waktu dan sumber serta prosedur
penilaiannya.
Fungsi media.
Pada awalnya media hanya berfungsi sebagai alat visual (alat peraga)
dalam kegiatan pembelajaran, yaitu berupa sarana yang dapat memberikan
pengalaman visual kepada peserta didik guna meningkatkan motivasi belajar,
memperjelas dan mempermudah konsep yang abstrak dan mempertinggi daya
serap siswa. Kemudian, seiring berkembangnya pengetahuan dan teknologi, maka
pelaksanaan kegiatan pembelajaran semakin menuntut untuk menciptakan media
pembelajaran yang bervariasi. Media sangat berperan penting dalam proses
pembelajaran, karena media berfungsi sebagai intruksi dimana informasi yang
terdapat dalam media harus melibatkan siswa secara nyata sehingga pembelajaran
dapat terjadi. Berbicara tentang fungsi media berkaitan dengan manfaat media dan
atau kegunaan media itu sendiri ketika digunakan dalam pembelajaran di dalam
kelas, adapun media dalam pembelajaran menurut beberapa ahli adalah sebagai
berikut;
Menurut Derek Rowntree (Karim:2007:9), media dapat:
a)Membangkitkan motivasi belajar, b)Mengulang apa yang telah
dipelajari, c)Menyediakan stimulus belajar, d)Mengaktifkan
13
respon murid, e)Memberikan feedback dengan segera,
f)Menggalakkan latihan yang serasi.
Berdasarkan pendapat tersebut penulis berkesimpulan bahwa media
memiliki fungsi sebagai alat yang mampu mengulang kembali apa yang pernah
dipelajari sehingga mampu mengaktifkan ingatan dan memicu stimulus untuk
belajar.
Menurut McKown (Karim: 2007:9), media dapat:
a)Mengubah titik berat pendidikan formal dari pendidikan yang
menekankan pada pengajaran akademis beralih kepada
pendidikan yang mementingkan kebutuhan hidup anak,
b)Membangkitkan motivasi belajar siswa, c)Memberikan
kejelasan (Clarification), d)Memberikan rangsangan
(stimulation).
Berdasarkan pendapat ini penulis berkesimpulan bahwa media memiliki
fungsi sebagai alat yang memicu rangsangan dan motivasi untuk belajar.
Menurut Edgar Dale (Karim :2007:10), Finn dan Hobar, media dapat:
a)Memberikan pngalaman konkrit bagi pemikiran yang bastrak,
b)Mempertinggi perhatian murid, c)Memberikan realitas,
mendorong self actifity, d)Memberikan hasil belajar yang
permanen, e)Menambah perbendaharaan bahasa, f)Memberikan
pengalaman lain yang sukar diperoleh dengan cara lain.
Berangkat dari pendapat ini penulis menyimpulkan bahwa media memiliki
fungsi sebagai alat yang mampu menjelaskan materi dengan konkret sehingga
hasil pembelajaran lebih permanen. Hamalik (Azhar:2013) mengemukakan bahwa
pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat
membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan
rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis
terhadap siswa.
14
Berdasarkan pendapat ahli mengenai fungsi media dalam pembelajaran
dapat disimpulakan bahwa terdapat nilai praktis yang dapat diperoleh dari
penggunaan media dalam pembelajaran yakni:
a. Dapat menkonkretkan pesan yang bersifat abstrak
b. Meningkatkan motivasi belajar siswa
c. Hemat waktu dan tempat
d. Dapat mengulang, merekam kejadian yang lalu serta meramalkan kejadian
mendatang
e. Membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna sehingga siswa dapat
mengingat materi dalam jangka waktu yang relatif lebih lama.
Prinsip-prinsip Penggunaan Media
Agar media pembelajaran benar-benar digunakan untuk membelajarkan
siswa, maka ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan (Karim :2007:23)yaitu:
1). Media yang akan digunakan oleh guru harus sesuai dan
diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.2). Media yang
digunakan harus sesuai dengan materi pembelajaran3). Media
harus selalu disesuaikan dengan metode mengajar yang digunakan
oleh guru.4). Media harus selalu disesuaikan dengan minat,
kebutuhan, kondisi, kemampuan dan gaya belajar siswa.5). Media
harus dapat dipilih secara obyektif dan bukan kesenangan pribadi
pemakai.6). Media harus selalu disesuaikan dengan biaya yang
tersedia.7). Media yang dipilih harus sesuai dengan lokasi tau
kondisi fisik lingkungan pembelajaran.8). Media yang digunakan
harus memperhatikan efektivitas dan efesien.9. Guru harus selalu
mengingat bahwa tidak satu pun media yang paling baik untuk
semua tujuan pengajaran.
Berangkat dari pendapat ini penulis menyimpulkan bahwa dalam memilih
media pembelajaran, guru harus memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan
media pembelajaran dengan menyesuaikan segala kondisi yang ada.
15
Jenis-jenis Media
Media cukup banyak jenis dan bentuknya, dari yang sederhana sampai
yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan yang susah ada secara natural
sampai kepada media yang harus dirancang guru itu sendiri. Dilihat dari jenisnya,
Menurut Sadiman(2012) Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa jenis yakni media grafis, media audio dan media proyeksi diam.
1). Media Grafis termasuk Media Visual, sebagaimana halnya
medium yang lain media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan
dari sumber ke penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut
indera penglihatan. Pesan-pesan yang akan disampaikan
dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual.2). Media
Audio berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan
indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke
dalam lambang-lambang auditif, baik verbal (ke dalam
kata-kata/bahasa lisan) maupun non verbal. Ada beberapa jenis
media yang dapat kita kelompokkan dalam media audio antara lain
radio, alat perekam pita magnetik, piringan hitam, dan
laboratorium bahasa.3). Media Proyeksi Diam, media ini
mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan
rangsangan-rangsangan visual. Perbedaan yang jelas diantara
mereka adalah pada media grafis dapat secara langsung
berinteraksi dengan pesan media yang bersangkutan pada media
proyeksi, pesan tersebut harus diproyeksikan dengan proyektor
agar dapat dilihat oleh sasaran; terlebih dahulu. Adakalanya media
jenis ini disertai rekaman audio, tapi ada pula yang hanya visual
saja. Beberapa jenis media proyeksi diam antara lain film bingkai
(slide), film rangkai (film strip), overhead proyektor, proyektor
opque, tachitoscope, micriprojection dengan microfim.
Berangkat dari pendapat ini,penulis menyimpulkan bahwa media memiliki
banyak jenis dan bentuk, t .ergantung kita memilih media apa yang cocok dan
bagus digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang ada.
2. Media Lectora Inspire
Lectora merupakan e-learning software yang lengkap, handal dan cocok
digunakan untuk membuat media pembelajaran. Lectora Inspire adalah perangkat
16
lunak Authoring Tool (Alat yang berkerja secara otomatis) untuk pengembangan
konten e-learning yang dikembangkan oleh Trivansi Corporation. Pendirinya
adalah Timothy D. Loudermilk di Cincinnati, Ohio Amerika tahun 1999. Lectora
Inspire merupakan salah satu software yang dapat digunakan untuk
mengembangkan media pembelajaran interaktif. Untuk Lectora, dari awal
software ini diciptakan memang untuk kebutuhan elearning yang dapat dibuat
dengan cepat dan mudah. Lectora Inspire dapat digunakan untuk kebutuhan
pembelajaran baik secara online maupun offline yang dapat dibuat dengan cepat
dan mudah. Lectora Inspire dapat digunakan untuk menggabungkan flash,
merekam video, menggabungkan gambar, dan screen capture. Lectora Inspire
telah disosialisasikan di beberapa daearah seperti jawa tengah dan yogyakarta
misalnya yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan setempat untuk mendorong para
guru di daerahnya agar mampu menyusun sebuah media pembelajaran yang
interaktif.
Spesifikasi minimal yang dibutuhkan untuk menginstal Lectora Inspire
adalah Processor Intel 1.5 GHZ, 1 GB RAM, 900 MB HD, OS Windows (XP,
Vista, Win 7 dan Win 8) Player 8.0, Browser (IE 6, Firefox 1.0, dan Google
Chrome). Lectora Inspire dapat menghasilkan produk berupa media pembelajaran
yang menarik dan menyenangkan sebab fitur dan komponen yang tersedia cukup
kompleks sehingga pengguna tinggal memuat conten materi kedalamnya.
Menurut (mas;ud:2013) pada Tahun 2011, Lectora memperoleh 5
pengargaan dalam bidang produk E- learning inovatif, Authoring Tool, tool
presentasi terbaik, dan teknologi E- learning terbaik. Sehingga wajar lebih dari 50
17
perusahaan atau instansi di dunia memilih Lectora. Dalam satu paket Lectora
mencakup, Flypaper : untuk membuat pembelajar lebih kreatif dan melibatkannya
dengan menambah animasi flash, transisi dan efek spesial, Camtasia : membuat
tutorial profesional dengan mudah meng-capture video, animasi flash atau
software desain 3 D, Snagit : meng-capture apa yang ada di dekstop untuk
membuat image. Dilengkapi call out, dll.
a. Keunggulan Lectora Inspire
Menurut Mas’ud (2013:2) Lectora Inspire mempunyai beberapa
keunggulan dibanding authoring tool e-learning lainnya yakni :
1). Lectora mudah dioperasikan, sebab tidak membutuhkan
pengetahuan tentang bahasa pemrograman, jadi siapa saja hanya
perlu belajar mengenal fungsi tiap tool yang tersedia.2). Lectora
tergolong software multifungsi, sebab dapat digunakan untuk
membuat website, konten e-learning interaktif, dan presentasi
produk atau profil perusahaan.3). Fitur-fitur yang tersedia sangat
mudah untuk dikenali dan digunakan untuk membuat media
pembelajaran.4). Lectora menyediakan media library yang sangat
membantu pengguna.5). Lectora menyediakan 8 tipe format
evaluasi belajar yang mudah diterapkan disertai skor diahir
evaluasi.6). Konten yang dikembangkan lectora dapat
dipublikasikan ke berbagai out put seperti HTML, exe, CD-ROM,
maupun standar e-learning seperti SCORM dan AICC.
Keunggulan media Lectora diatas, memberikan gambaran betapa menarik
dan menyenangkanya proses pembelajaran jika betul-betul mampu
memaksimalkan penggunaanya dalam produk yang dihasilkan.
b. Cara Mengoprasikan Media Lectora Inspire
Title (Judul) dalam Lectora merupakan project atau file yang dibuat
menggunakan lectora. Title menjadi dasar/acuan pada topik atau pokok bahasan
materi. Membuat Title dapat dilakukan melalui tiga cara, Pertama : melalui Title
18
Wizard, dengan membuat kerangka secara otomatis dengan menentukan style
tampilan, jumlah Chapter dan Page, test, serta tombol navigasi standar. Bagi
pemula disarankan memulai file project melalui Title Wizard. Kedua : melaui
Template, hampir sama dengan Title Wizard tetapi hanya sebatas tombol-tombol
navigasi. Biasanya digunakan oleh pengembang yang sudah agak mahir. Ketiga :
melaui Blank Title/judul kosong, membuat title tanpa pilihan style dan bantuan
wizard. Langkah ini ditempuh oleh pengembang yang sudah mahir
mengoprasikan lectora.
3. Proses Pembelajaran IPA
Pembelajaran mengandung makna adanya kegiatan mengajar dan belajar,
di mana pihak yang mengajar adalah guru dan yang belajar adalah siswa yang
berorientasi pada kegiatan mengajarkan materi yang berorientasi pada
pengembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa sebagai sasaran
pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan mencakup berbagai komponen
lainnya, seperti media, kurikulum, dan fasilitas pembelajaran.
Arikunto (1993:12) mengemukakan
pembelajaran adalah suatu kegiatan yang mengandung terjadinya
proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap oleh
subjek yang sedang belajar”. Lebih lanjut Arikunto
(1993:4)mengemukakan bahwa “pembelajaran adalah bantuan
pendidikan kepada anak didik agar mencapai kedewasaan di
bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap.
Rohani dan Ahmadi (1995:64) mengemukakan:
Pembelajaran adalah totalitas aktivitas belajar mengajar yang
diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan evaluasi. Dari
evaluasi ini diteruskan dengan follow up. Pembelajaran sebagai
kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan khusus pembelajaran,
19
menyusun rencana pelajaran, memberikan informasi, bertanya,
menilai, dan sebagainya.
Dari pengertian pembelajaran dari berbagai pendapat di atas, maka dapat
ditarik suatu kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan proses komunikasi,
yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan melalui saluran/media tertentu
ke penerima pesan. Pesan, sumber pesan, saluran/media dan penerima pesan
adalah komponen-komponen proses komunikasi. Proses yang akan
dikomunikasikan adalah isi ajaran ataupun didikan yang ada dalam kurikulum,
sumber pesannya bisa guru, siswa, orang lain ataupun penulis buku dan media.
Pembelajaran menuntut keaktifan kedua belah pihak yang sama-sama
menjadi subjek pembelajaran. Jadi, jika pembelajaran ditandai oleh keaktifan guru
sedangkan siswa hanya pasif, maka pada hakikatnya kegiatan itu hanya disebut
mengajar. Demikian pula bila pembelajaran di mana siswa yang aktif tanpa
melibatkan keaktifan guru untuk mengelolanya secara baik dan terarah, maka
hanya disebut belajar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran menuntut
keaktifan guru dan siswa.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan suatu kumpulan pengetahuan
yang tersusun secara sistematis tentang gejala-gejaa alam. Pengertian IPA tidak
hanya ditunjukkan dari kumpulkan fakta tetapi dengan metode ilmiah. Mata
pelajaran fisika merupakan bagian dari IPA. Depdiknas (2006: 47) memaparkan,
bahwa:
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari
tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan
suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat
20
menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri
dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmu Pengetahuan Alam dalam proses pembelajarannya menekankan pada
pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Secara tidak langsung
pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu
peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam
sekitar.
4. Hasil Belajar
Keberhasilan pengajaran dapat dilihat dari segi hasil. Asumsi dasar ialah
proses pengajaran yang optimal memungkinkan hasil belajar yang optimal pula.
Ada korelasi antara proses pengajaran dengan hasil yang dicapai. Makin besar
usaha untuk menciptakan kondisi proses pengajaran, makin tinggi pula hasil atau
produk dari pengajaran itu. Hal ini sejalan menurut (Sumatmadja, 1997:122)
bahwa Hasil belajar adalah akumulasi kegiatan belajar mengajar dalam bentuk
pemberian ujian oleh guru sehingga akan diketahui hasil belajar dan mengajar
yang dilakukan siswa dan guru.
Selanjutnya Gagne (Sumantri, 1998 : 16-17) mengemukakan lima macam
kemampuan manusia yang merupakan hasil belajar sehingga pada gilirannya
membutuhkan sekian macam kondisi belajar untuk pencapaiannya. Kelima
macam kemampuan hasil belajar tersebut adalah:
(a) Keterampilan intelektual, sejumlah pengetahuan mulai dari
baca tulis hitung sampai kepada pemikiran yang rumit.
Kemampuan intelektual tergantung kepada kapasitas
21
intelektual kecerdasan seseorang dan pada kesempatan belajar
yang tersedia.
(b) Strategi Kognitif, mengatur cara belajar dan berfikir seseorang
didalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan
memecahkan masalah,
(c) Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta.
Kemampuan ini pada umumnya dikenal dan tidak jarang.
(d) Keterampilan motoric yang diperoleh di sekolah, antara lain
keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka dan
sebagainya.
(e) Sikap dan nilai, berhubungan dengan arah serta intensitas
emosional yang dimiliki oleh seseorang, sebagaimana dapat
disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap
orang, barang atau kejadian.
Berdasarkan defenisi yang dikemukakan tersebut dapat disimpulkan
bahwa hasil belajar dicapai setelah proses belajar sebagai akibat dari perlakuan
dalam kegiatan belajar. Penguasaan materi yang akan diajarkan bagi seorang
pengajar belumlah cukup untuk menentukan hasil belajar siswa, tetapi juga
pengajar dengan siswa yang diajar atau diantara siswa dengan siswa, sehingga
terjadi dua kegiatan yang saling mempengaruhi yang dapat menentukan hasil
belajar siswa.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni
faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar siswa terutama
kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya
terhadap hasil belajar yang dicapai. Seperti yang dikemukakan oleh Clark
(Darsono, 2000 : 17) “bahwa hasil belajar siswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan dan 30% dipengaruhi oleh lingkungan”.
Faktor kemampuan yang dimiliki oleh siswa, juga ada faktor lain, seperti
motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan,
sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis. Faktor tersebut banyak menarik perhatian
22
para ahli pendidikan untuk diteliti, seberapa jauh kontribusi atau sumbangan yang
diberikan oleh faktor tersebut terhadap hasil belajar siswa.
Menurut Mulyasa (2006 : 210) bahwa hasil belajar siswa dapat dilihat
dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang dengan indikator-
indikator sebagai berikut :
(a) Sekurang-kurangnya 75% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran
dapat dipahami, diterima dan diterapkan oleh para siswa di
kelas.
(b) Sekurang-kurangnya 75% peserta didik merasa mendapat
kemudahan, senang, dan memiliki kemudahan yang tinggi.
(c) Para peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam proses
pembelajaran.
(d) Materi yang dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan pesera
didik dan memandang hal ini sangat berguna bagi
kehidupannya kelak sehingga muncul motivasi meningkatkan
hasil belajar.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar siswa dapat dilihat dalam berbagai indikator penting seperti 75% materi
pelajaran dapat dipahami, diterapkan, serta merasa senang terhadap penyajian
materi dan dapat memudahkannya dalam penerapan kesehariannya dalam
lingkungan sekolah maupun masyarakat sehingga dapat menimbulakan motivasi
dalam peningkatan hasil belajarnya.
Daya tarik pembelajaran biasa diukur dengan mengamati kecenderungan
siswa untuk tetap belajar. Daya tarik pembelajaran erat sekali kaitannya dengan
daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya mempengaruhi
keduanya. Itulah sebabnya pengukuran kecenderungan siswa untuk belajar dapat
dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.
23
Perubahan tingkah laku yang berkesinambungan sebagai hasil belajar
dikatakan proses pembelajaran sepanjang hayat karena perubahan tingkah laku
mengarah kepada hal yang lebih positif terus berubah dan berkembang sesuai
dengan zaman yang dihadapi. Pada umumnya hasil belajar siswa dapat
dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, psikomotorik dan afektif.
Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain.
Setiap mata pelajaran mengandung ketiga ranah tersebut, namun penekanannya
selalu berbeda mata pelajaran praktik lebih menekankan pada ranah
psikomotorik, sedangkan pada mata pelajaran yang menekankan pada pemahaman
konsep lebih menekankan pada ranah kogntif. Namun, keduan ranah itu
mengandung ranah afektif.
Ranah psikomotorik berhubungan dengan hasil belajar yang
pencapaiannya melalui keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan
kekuatan [Link] psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktifitas
fisik, misalnya menulis, melompat dan membuat [Link] ranah
kognitif sangat berhubungan dengan kemampuan menghafal, memahami,
mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis dan kemampuan mengevaluasi.
Adapun ranah afektif mencakup watak dan perilaku seperti sikap, minat, konsep
diri, nilai dan moral.
Menurut Rohani (1995:23) bahwa aspek kognitif terdiri atas 5 (lima)
tingkatan dengan aspek belajar yang berbeda-beda. Lima tingkatan tersebut antara
lain, yaitu :
(a) Tingkat pengetahuan (knowledge), pada tahap ini menuntut
siswa mampu mengingat informasi yang telah diberikan.
24
(b) Tingkat pemahaman (comprehension), pada tahap ini kategori
pemahaman dapat dihubungkan dengan kemampuan
menjelaskan informasi yang diterima.
(c) Tingkat penerapan (aplicatiori), penerapan merupakan
kemampuan untuk menggunakan atau menerapkan informasi
yang telah diterima.
(d) Tingkat analisis (analysis), analisis merupakan kemampuan
mengidentifikasi, memisahkan dan membedakan komponen-
komponen suatu fakta.
(e) Tingkat sintesis (synthesis), sintesis merupakan kemampuan
seseorang dalam meningkatkan dan menyatukan berbagai
elemen dan unsur pengetahuan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek
kognitif terdiri atas lima tingkatan yaitu: tingkat pengetahuan; tingkat
pemahaman; tingkat penerapan; tingkat analisis; dan tingkat sintesis. Belajar
merupakan proses aktivitas yang memiliki keterukuran secara jelas. Ukuran hasil
belajar siswa dapat dilihat dari tercapai standar kompetensi dan kompetensi dasar
siswa. Menurut Suprayekti (2004:23) bahwa “keberhasilan atau kegagalan dalam
proses belajar mengajar merupakan sebuah ukuran atau proses pembelajaran”.
Apabila merujuk pada ramusan operasional keberhasilan belajar, maka belajar
dikatakan berhasil apabila diikuti ciri-ciri :
a. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi
tinggi, baik secara individu maupun kelompok.
b. Perilaku yang digariskan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar
telah dicapai oleh siswa baik secara individual maupun kelompok.
c. Terjadinya proses pemahaman materi yang secara sekuensial mengantarkan
materi pada tahap berikutnya.
Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan
wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu
25
yang diniati dan [Link] harus merasakan adanya suatu kebutuhan
untuk belajar dan [Link] harus berusaha mengarahkan segala daya upaya
untuk mencapainya. Kalaupun demikian, hasil belajar yang dapat diraih masih
juga bergantung dari lingkungan. Artinya, ada faktor-faktor yang berada diluar
dirinya yang dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai.
Salah satunya adalah lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi
hasil belajar di sekolah, ialah kualitas pengajaran. Yang dimaksud dengan kualitas
pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses pembelajaran
dalam mencapai tujuan pengajaran. Oleh sebab itu “hasil belajar siswa di sekolah
dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran” (Sudjana, 2005:40).
B. Kerangka Pikir
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan bagi peranannya di masa akandatang.
Seiring dengan tuntutan dunia pendidikan di Indonesia, maka pemerintah
senantiasa melakukan berbagai upaya dalam peningkatan mutu pembelajaran. Di
lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah, keberhasilan pendidikan
dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam prestasi belajarnya. Kualitas dan
keberhasilan belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan ketepatan
guru memilih dan menggunakan metode [Link] yang baik adalah
salah satu upaya untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam terhadap
materi dan meningkatkan keterampilan berfikir kiritis serta analitik. Hal ini juga
tidak terlepas dari usaha guru sebagai komponen terpenting dalam pembelajaran
di kelas.
26
Kemajuan teknologi modern merupakan salah satu faktor yang turut
menunjang usaha pembaharuan penggunaan media pembelajaran yaitu
penggunaan media Lectora Inspire, dimana guru dituntut untuk memiliki
kreativitas yang lebih tinggi dalam menyediakan media pembelajaran ini
khususnya pada mata pelajaran IPA kelas VII. Penggunaan media lectora Inspire
sebagai media pembelajaran di samping memudahkan siswa dalam proses
pembelajaran juga mempermudah guru dalam menyampaikan materi
pembelajaran kepada siswa serta penggunaan animasi ini dapat menanamkan
konsep dan pemaknaan yang sama dalam otak siswa dibandingkan dengan media
lain seperti gambar.
Seorang guru dituntut mampu memilih dan menggunakan berbagai jenis
media pembelajaran yang ada di sekitarnya. Penggunaan media lectora Inspire
dapat menarik perhatian siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa, biasanya
berupa tulisan atau gambar yang bergerak-gerak, yang sekiranya akan menarik
perhatian siswa. Adapun Pretest dan Postest sebagai alat tes untuk mengetahui
tingkat hasil belajar siswa, dalam hal ini pretest dilakukan sebelum penggunaan
media Lectora Inspire, sedangkan posttest dilakukan setelah penggunaan media
Lectora Inspire.
Berdasarkan rumusan masalah dari judul penelitian yang diangkat maka
perlu adanya sebuah kerangka pikir sebagai arah dalam penelitian atau tujuan
yang dapat dilihat dari peneliti ini dilakukan. Adapun skema kerangka pikir yang
dihasilkan sebagai berikut :
27
Mata pelajaran IPA
Kelas VII
Pretest Menggunakan media lectora Posttest
inspire
pretest
Hasil belajar
Gambar 2.6 Kerangka Pikir
C. Hipotesis
H0 = Tidak ada pengaruh pada penggunaan media lectora inspire hasil
belajar siswa dalam pelajaran Ipa kelas VII SMP Negeri 1 Duapitue
Kabupaten Sidrap.
H1 =Ada pengaruh setelah penggunaan media lectora inspire terhadap hasil
belajar siswa dalam pelajaran pelajaran Ipa kelas VII SMP Negeri 1
Duapitue Kabupaten Sidrap.