0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan28 halaman

Strategi Pembelajaran Fiqih Efektif

Dokumen ini membahas strategi pembelajaran fikih, yang mencakup pengertian, ruang lingkup, prinsip, dan jenis-jenis strategi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran fikih melibatkan interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai pemahaman mendalam tentang hukum-hukum Islam. Strategi pembelajaran yang efektif sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan28 halaman

Strategi Pembelajaran Fiqih Efektif

Dokumen ini membahas strategi pembelajaran fikih, yang mencakup pengertian, ruang lingkup, prinsip, dan jenis-jenis strategi yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran fikih melibatkan interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai pemahaman mendalam tentang hukum-hukum Islam. Strategi pembelajaran yang efektif sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Strategi Pembelajaran Fikih

Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya

untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran berarti upaya

membelajarkan peserta didik. Dengan demikian, strategi pembelajaran

berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam

upaya membelajarkan peserta didik. 1

Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian

kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai

sumber daya dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.2

Menurut Sulistyono, strategi belajar atau pembelajaran adalah

tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah,

mempercepat, lebih menikmati, lebih mudah memahami secara langsung,

lebih efektif dan lebih mudah ditransfer kedalam situasi yang baru. 3

Pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian

aktivitas oleh guru dan siswa berdasarkan hubungan timbal balik untuk

mencapai tujuan tertentu. Dalam pembelajaran terdapat sejumlah tujuan

yang hendak di dicapai. Pembelajaran dalam hal ini merupakan suatu

kumpulan yang terdiri dari komponen komponen pembelajaran yang

1
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009),
h. 19.
2
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), h. 21.
3
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, landasan
teoris-praktis dan implementasinya, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), cet.I., h.86.

8
9

saling berinteraksi, berintegrasi satu sama lain. Oleh karena itu, jika salah

satu komponen tidak dapat terinteraksi, maka proses dalam pembelajaran

akan menghadapi banyak kendala yang menghambat pencapaian tujuan

pembelajaran. 4

Menurut Hafsah pembelajar adalah proses interaksi antara peserta

didik dengan pendidik dan sumber belajar. Pembelajaran adalah suatu

proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu proses

perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dan

pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. 5

Dari beberapa pengertian strategi pembelajaran, disimpulkan

bahwa strategi pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelola

kegiatan, dengan mengintegrasikan urutan kegiatan, peralatan dan bahan

serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk mencapai

tujuan pembelajaran yang telah ditentukan secara aktif dan efisien.

Menurut Amir Syarifuddin dalam Hidayatullah, Fiqih secara

bahasa berasal dari kalimat Faqaha, yang artinya: pemahaman mutlak,

apapun tingkat pemahaman yang dihasilkan. Kata Fiqh secara harfiah

berarti: “pemahaman yang mendalam”. 6Sedangkan Fiqih menurut

istilahpemahaman dan pemahaman tentang sesuatu tentang ilmu agama

karena kemuliaannya.

4
Akhiruddin dkk., Belajar dan Pembelajaran (Gowa: Cahaya Bintang Cemerlang,2009), h.5.
5
Hafsah, Pembelajaran Fiqih, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h.21.
6
Hidayatulloh, Fikih, (Banjarmasin: Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad
Al-Banjari, 2009), h.2.
10

Paham yang dimaksud adalah upaya aqliyah dalam memahami

ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi

Fiqih merupakan ilmu yang mempelajari tentang hukum hukum dalam

ibadah dalam agama islam salah satunya adalah ibadah shalat fardu.

Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah membaca dua kalimat

syahadat, sholat adalah tiang bangunan Islam yang mempunyai banyak

keistimewaan, di dunia dan akhirat.

Jadi pembelajaran fiqih merupakan kegiatan yang terstruktur dan

terencana terkait hak dan kewajiban seluruh manusia sebagai makhluk

ciptaan Allah seperti bertaqwa kepada Allah, beramal sholeh (puasa,

zakat, infaq, dan shodaqoh) juga berakhlak mulia kepada sesama

manusia, serta mempelajari hukum hukum syar’iyah dengan

menggunakan strategi ataupun model sehingga terwujudnya

pembelajaran [Link] proses belajar mengajar, strategi

pembelajaran sangat dibutuhkan. Hal ini bertujuan untuk lebih

meningkatkan kualitas anak didik menuju terbinanya insan yang handal

dan mampu. Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran

termasuk didalamnya mengidentifikasi segala bentuk dalam pelaksanaan

proses belajar mengajar.

Adapun target ideal daristrategi dalam proses pembelajaran adalah

kemampuan siswa memahami apa yang telah dipelajari baik kemampuan

kognitif, afektif maupun psikomotorik. Atas dasar ini maka perhatian

atau dapat dikatakan kesungguhan dan keseriusan siswa dalam proses

belajar mengajar menjadi sangat urgen. Pada prinsip ini menyangkut


11

suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat

menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya.

Berkenaan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, strategi

pendidikan merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan

termasuk dalam merencanakan pembelajaran hingga pada pelaksanaan

pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajar muaranya pada

tercapainya tujuan tersebut.

2. Ruang Lingkup Pembelajaran Fiqih

Secara umum, pembahasan fikih ini mencakup dua bidang yaitu :

a. Fiqih ibadah yang mengatur hamba dengan tuhannya, seperti shalat,

Zakat, Haji, menunaikan Nazar dan membayar Kafarat terhadap

pelanggaran sumpah.

b. Fiqih muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia

lainnya, kajiannya mencakup seluruh bidang fiqih selain persoalan

ubudiyah, seperti ketentuan ketentuan jual beli, sewa menyewa,

perkawinan jinayah dan lain- lain. 7

3. Prinsip -prinsip Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran membutuhkan prinsip belajar

danpembelajaran. Dengan kata lain, ketentuan atau aturanharusdijadikan

pedoman dalam melaksanakan kegiatan belajar, sepertiperhatian dan

motivasi, kegiatan, partisipasi langsung,pengulangan, tantangan,

7
Hafsah, Pembelajaran Fiqih, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h.5.
12

penguatan, umpan balik, dan perbedaanindividu.8Berikut adalah prinsip

umummenggunakan strategi pembelajaran:

a. Orientasi pada tujuan.

Tujuan merupakan komponen utama yang perlu diperhatikandalam

sistem [Link] komponen pembelajaranbermuara

pada tujuan yang telah ditentukan secara sistematisdan terukur.

Dengan mengetahui tujuan pembelajaran makaakan mempermudah

guru untuk menentukan strategipembelajaran apa yang tepat

digunakan dalammenyampaikan materi kepada peserta didik.

b. Aktifitas

Prinsip ini menekankan pada guru untuk lebih

memperhatikanpeserta didik dalam hal pengamalan atau aktifitas

belajar [Link] pembelajaran diupayakan

dapatmendorong aktifitas peserta didik, baik aktifitas fisik

denganmemberikan pekerjaan tugas yang mendorongnya

melakukanpergerakan maupun aktifitas psikis yang mempertebal

rasapercaya diri dan memiliki mental yang kuat dalam

mewujudkan peserta didik yang aktif dan kreatif.

c. Individualitas

Prinsip yang berlaku pada strategi pembelajaran ini adalah

dengan menekankan pada aspek proses yang memperhitungkan

keberhasilan pembelajaran. Guru harus memetakan dengan baik

agar masing-masing peserta didik dapat mengikuti pembelajaran

8
Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama, 2009), h.8.
13

dengan tuntas dan membawa pemahaman dan perubahan. Karena,

inti dari memberikan pembelajaran adalah perubahan perbaikan

pada masingmasing individu peserta didik.

d. Integritas

Strategi pembelajaran dengan memakai prinsip

integritasakan membawa pada perubahan perbaikan peserta

didiksecara totalitas. Integritas yang dimaksud yaitu Upaya

melaksanakan pembelajaran secara menyeluruh yang didalamnya

terdapat aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap(afektif), dan

aspek keterampilan (psikomotorik). Oleh karenaitu, strategi

pembelajaran ini secara komprehensif dapatmengembangkan

seluruh aspek kepribadian siswa.9

Dapat dilihat dari uraian di atas bahwa prinsip-prinsipstrategi

pembelajaran memegang peranan penting dalam praktikperencanaan

pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut merupakanbatasan dan sikap yang

harus dijaga dan dioptimalkan setiap saatagar pembelajaran yang

dilakukan efektif, efisien dan bermanfaat.

Penulis berpendapat bahwa keberhasilan kegiatan mengajarsangat

bergantung pada kegiatan pengajar (guru), oleh karena ituselain memilih

metode, teknologi dan media pembelajaran yangtepat, juga perlu

menetapkan tujuan keberhasilan. Semua kegiatandilakukan. Hal ini

9
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), h. 131-133.
14

penting karena evaluasi menunjukkan seberapaefektif strategi

pembelajaran dalam proses pembelajaran.

Guru harus memahami strategi pembelajaran yangdigunakan di

kelas. Pemahaman yang utuh ini merupakan kajiankomprehensif yang

harus disiapkan guru sebelum mengajarkanmateri kepada siswa. Oleh

karena itu, sangat tepat bahwa strategipembelajaran merupakan faktor

penting bagi pendidik untukmencapai keberhasilan dalam proses belajar

mengajar. Komponen strategi pembelajaran dijelaskan dan dipahami

sepenuhnya, dandigunakan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan

Pendidikan dengan benar.

4. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran

Pada dasarnya banyak strategi pembelajaran progresif yang dapat

digunakan dalampembelajaran. Hal ini sebagaimana penjelasan Rudi

Hartono dalam tulisannyamenguraikan terdapat delapan strategi

pembelajaran, meliputi; strategipembelajaran ekspositori, strategi

pembelajaran inkuiri, strategi pembelajarankonstektual, strategi

pembelajaran kooperatif, berbasis masalah, strategipembelajaran foxfire,

strategi pembelajaran PAIKEM, dan strategi pembelajarantematik.

Strategi tersebut dapat digunakan pada pembelajaran fikih.

Implementasi multi strategi pembelajaran tersebut dalam

pembelajaran diuraikan secara ringkas pada penjelasan berikut:

1) Strategi pembelajaran ekspositori

Abdul Azid Muttaqin menjelaskan bahwa ekspositori adalah bentuk

pembelajaranyang lebih menekankan pada bertutur atau bercerita


15

secara verbal. Gurumempunyai peran paling utama untuk bertutur

di hadapan siswa. Para siswabertugas untuk menyimak dengan baik

materi yang disampaikan oleh guru. Materipelajaran sudah

dirancang dan disiapkan dengan baik oleh guru sehingga Ketika

bertutur atau bercerita mampu menjiwai dengan baik. Strategi

ekspositori inidigunakan secara langsung oleh guru pada materi

yang bersifat fakta-fakta Sejarah yang sudah tidak menuntut lagi

untuk berfikir ulang. Strategi ekspositori cocokdigunakan pada

mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam (SKI), tentunya tidakjuga

digunakan secara berkelanjutan.

2) Strategi pembelajaran inkuiri

Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis

[Link] dan keterampilan yang diperoleh siswa

diharapkan bukan hasilmengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi

hasil dari temuan diri sendiri. Guru harusselalu merancang kegiatan

yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapunmateri yang

diajarkannya. Adapun siklus inkuiri terdiri dari; (1)

observasi(observation), (2) bertanya (questioning), (3) mengajukan

dugaan (hypotesis), (4) pengumpulan data (data gathering), dan (5)

penyimpulan (conclussion). Sementara langkah kegiatan inkuiri

adalah sebagai berikut; (1) merumuskan masalah, (2) mengamati

atau melakukan observasi, (3) menganalisis dan menyajikan hasil

dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4)
16

mengoptimalisasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca,

teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.

3) Strategi pembelajaran konstektual

Strategi pembelajaran konstektual (Contextual Teaching and

Learning/CTL)merupakan strategi pembelajaran yang menekankan

pada proses keterlibatan siswasecara penuh dalam rangka

menemukan materi dan hubungannya dengan realitaskehidupan.

Abdul Rahman Shaleh menjelaskan, pembelajaran konstektual

adalahsuatu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara

materi (bahan ajar) yangdiajarkan dengan situasi dunia nyata dari

lingkungannya diharapkan denganpendekatan demikian akan dapat

mendorong siswa untuk membuat hubunganantara pengetahuan

yang dimilikinya dan lingkungannya dengan penerapannyadalam

kehidupan siswa sebagai individu, sebagai anggota masyarakat

danbangsanya. 10

4) Strategi pembelajaran berbasis masalah

Menurut Abdul Azid Muttaqin, strategi pembelajaran berbasis

masalah merupakanpembelajaran yang menghadapkan siswa pada

suatu masalah sebelum memulaiproses pembelajaran. Siswa

dihadapkan pada suatu masalah nyata yang memacunyauntuk

meneliti, menguraikan, dan mencari [Link]

strategi pembelajaran berbasis masalah pada pembelajaran

bertujuan untuk mengembangkan kemampuan menganalisis siswa

10
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran, (Bandung: [Link]
Aditama, 2009), Cet. Ke. 1, Jilid 1, h. 70.
17

danmenerapkan pengetahuan yang telah diketahui pada situasi yang

baru, sertamenginginkan siswa mampu memecahkan masalah

secara mandiri danbertanggung jawab.

5) Strategi pembelajaran PAIKEM

Salah satu Strategi pembelajaran dianggap mampu mendorong

semangat belajardan menghilangkan rasa jenuh dan monoton

adalah PAIKEM. PAIKEM singkatandari, pembelajaran Aktif,

Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAIKEMbiasa

diartikan sebagai pendekatan mengajar yang digunakan bersama

denganmetode tertentu dan berbagai media pengajaran yang

disertai penataan lingkungandengan baik sehingga proses

pembelajaran menjadi Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,dan

Menyenangkan. Penggunaan PAIKEM pada proses pembelajaran

dapatmemotivasi siswa untuk melakukan aktivitas [Link]

menjelaskan, terdapat delapan prinsip yang harus diperhatikan guru

dalamimplementasi PAIKEM, sebagai berikut; 11

a) Memahami sifat peserta didik,

b) Mengenal peserta didik secara perorangan,

c) Memanfaatkan perilaku peserta didikdalam pengorganisasian

belajar.

d) Mengembangkan kemampuan berpikir kritisdan kreatif serta

mampu memecahkan masalah,

11
Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAII. Media
Group, 2009), Cet. Ke-2, h.46.
18

e) Menciptakan ruangan kelassebagai lingkungan belajar yang

menarik,

f) Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar (fisik,

sosial, dan budaya),

g) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan

kegiatan, dan

h) Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental.

Banyaknya model atau strategi pembelajaran tersebut tidaklah

berartibahwa semua pengajar menerapkan semuanya untuk setiap mata

pelajaran karena tidak semua model atau strategi tersebut cocok untuk

semua topik atau mata pelajaran. Banyaknya model atau strategi

pembelajaran tersebut, merupakan dampak dari adanya perubahan

paradigma pendidikan atau pembelajaran. Seiring dengan munculnya

aliran progresivisme dan konstruktivisme yang keduanya memiliki

pandangan perlunya sebuah pembaharuan dalam pendidikan tradisional

menuju pendidikan modern.

Hal ini dapat dilihat dari perubahan orientasi pembelajaran yang

semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada

siswa (student centered), metodologi yang semula lebih dominasi

ekspositori berganti ke partisipatori, dan pendekatan yang semula

banyak bersifat tekstual berubah menjadikonteksual.

Anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.

Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajari

bukan hanya mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target


19

penguasaan materi terbukti hanya berhasil dalam kompetensi

“mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak

memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

5. Media Pembelajaran Fiqih

Secara harfiah media dapat dimaknai sebagai perantara atau

pengantar. Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa apabila dipahami secara

garis besar media adalah manusia, materi, atau kejadian yang

membangun.

Media pembelajaran fiqih yang dimaksud adalah segala sesuatu

yang bisa digunakan untuk menyalurkan pesan-pesan dalam materi

pelajaran fiqih dari pengirim atau pembelajar kepada penerima atau

pebelajar dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat

serta perhatian pebelajar sehingga terjadi proses belajar mengajar fiqih.

Dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran fiqih ada

beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: 12

a. Dapat menggambarkan materi pelajaran dengan lebih jelas sehingga

dapat mencapai tujuan lebih efektif.

b. Media yang dipilih dapat menarik minat dan perhatian pebelajar untuk

mengikuti pelajaran, serta dapat menuntunnya pada penyajian yang

lebih berstruktur dan terorganisir.

c. Media yang digunakan hendaknya bukan sesuatu yang baru bagi

peserta didik sehingga memungkinkan berkonsentrasi pada pelajaran

bukan hanya memperhatikan medianya.

12
Mazrur, Strategi Pembelajaran Fiqih, (Palangkaraya: Antasari Press, 2008), h.28-32.
20

d. Pembelajar dapat menggunakan dengan baik .

e. Hendaknya disesuaikan dengan tujuan perilaku belajarnya.

6. Faktor- Faktor yang MempengaruhiPelaksanaan Pembelajaran


Fikih.
Agar perubahan-perubahan dalam diri peserta didik sebagai hasil

dari suatu proses belajar mengajar sampai pada tujuan yang diharapkan,

perlu diperhatikan sebab-sebab yang mempengaruhinya. Faktor-faktor

tersebut adalah yang berasal dari diri peserta didik atau faktor dari dalam

dan faktor yang berada di sekitar peserta didik atau faktor dari luar diri

peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran kedua faktor ini sangat

mempengaruhi, karena faktor dari dalam, yaitu peserta didik sebagai

masukan (raw input) yang merupakan bahan baku yang akan diolah

dalam kegiatan pembelajaran.

Faktor dari dalam ini meliputi fisiologis dan psikologis. Faktor

fisiologis yang terdiri dari kondisi fisik seperti keutuhan jasmani,

kebugaran dan sebagainya. dan kondisi indera. Sedang faktor psikologis

yang terdiri dari minat, kecerdasan, motivasi, ingatan,perhatian,

tanggapan dan sikap. Faktor dari dalam ini banyak menentukan terhadap

strategi belajar, artinya cara mengatur kegiatan atau keaktifan peserta

didik untuk belajar dengan menggunakan cara-cara tertentu yang sesuai

dengan dirinya sendiri Faktor dari luar diri pebelajar terdiri dari dua,

yaitu (instrumental) dan (enviromental). Instrumental terdiri dari

kurikulum, program, pedoman belajar, peserta didik dan sarana atau


21

fasilitas pembelajaran. Enveromental terdiri dari: alam (kondisi

lingkungan), fisik dan sosial-budaya. 13

Pembelajaran terkait dengan bagaimana membelajarkan peserta

didikatau bagaimana membuat peserta didik dapat belajar dengan mudah

danterdorong oleh kemauannya sendiri untuk mempelajari apa yang

teraktualisasi dalam kurikulum sebagai [Link]

danhubungan antar komponen yang mempengaruhipembelajaran tersebut

dapat diuraikan lebih rinci sebagai berikut :

1) Kondisi Pembelajaran

Kondisi pembelajaran adalah semua faktor yang

mempengaruhipenggunaan metode pembelajaran dalam rangka

meningkatkan hasil

pembelajaran. Faktor-faktor yang termasuk kondisi pembelajaran:

a) Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran pada hakikatnya mengacu pada

hasilpembelajaran yang diharapkan. Sebagai hasil yang

diharapkan,tujuanpembelajaran harus ditetapkan lebih dahulu

sehingga Upaya pembelajaran diarahkan untuk mencapai

[Link] tujuan khususnya mengacupada konstruk

tertentu (misalnya fakta,konsep, prosedur) dari suatubidang

studi berupa konsep, dalil, kaidah dan keimanan yangmenjadi

landasan dalam mendeskripsikan strategi pembelajaran.

b) Karakteristik bidang studi atau bahan

13
Ma’ruf dan Ana Rosilawati, Pembelajaran Fiqih, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2019),
h.46.
22

Dalam suatu pembelajaran bahan bukan sebagai

tujuan,melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Karena

itu, penentuanbahan pembelajaran harus didasarkan pada

pencapaian tujuan baik darisegi isi, tingkat kesulitan maupun

organisasinya sehingga mampumengantarkan siswa sesuai

dengan tujuan pembelajaran.

c) Karakteristik peserta didik

Karakteristik kemampuan awal peserta didik dapat

dijadikandasar dalam pemilihan strategi pembelajaran.

Kemampuan awal sangatpenting dalam meningkatkan

kebermaknaan pembelajaran, sehinggaakan memudahkan

proses internal yang berlangsung dalam diri pesertadidik.

d) Kendala pembelajaran

Kendala pembelajaran merupakan keterbatasan sumber

belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu, dan

keterbatasan dana yang tersedia. Kendala ini akan

mempengaruhi pemilihan strategi penyampaian dan

penghambat dari tujuan yang telah ditetapkan.

2) Metode pembelajaran Metode pembelajaran merupakan cara yang

digunakan dalam penyampaian materi pada saat pembelajaran.

Dalam Kitab Ruuhu AtTarbiyah Wat Ta’lim dinyatakan bahwa

metode adalah:14

Muhammad ‘Athiyah al-Ibrasi, Ruuhu at-Tarbiyah wat Ta’lim, (Arabiyah: Daar al-Ihya al-Kutub,
14

1950), h.267.
23

“Perantara yang mengikutinya untuk memahamkan seorang murid


terhadap pelajaran yang dipelajari dalam segala materi”.

3) Hasil pembelajaran

Hasil pembelajaran adalah semua akibat yang dapat dijadikan

indikator tentang nilai dari penggunaan metode di bawah kondisi

pembelajaran yang berbeda. Dengan metode yang digunakan dalam

setiap pembelajaran diharapkan dapat membawa keberhasilan. Hasil

pembelajaran akan dievaluasi untuk memberikan informasi

mengenai tingkat pencapaian keberhasilan belajar siswa. Indikator

dari keberhasilan pembelajaran dapat dilihat pada keefektifan,

efisiensi pembelajaran dan daya tarik siswa untuk berkeinginan terus

belajar.

7. Kesadaran Keagamaan

Kesadaran memang telah menjadi satu konsep yang sering di gunakan

psikologi, namun kesadaran merupakan konsep yang membingungkan

dalam ilmu pengetahuan mengenai pikiran. Ada enam arti kesadaran yang

dilengkapi dengan referensinya menurut Taksonomi Bloom yakni

mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi dan

mengkreasi. 15

Kesadaran memiliki arti yang sama dengan mawas diri (awareness).

Kesadaran juga di artikan sebagai kondisi di mana seseorang individu

memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun ekternal.

15
Ma’ruf dan Ana Rosilawati, Pembelajaran Fiqih, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2019),
h.46.
24

Kesadaran beragama menurut Zakiah Darajat ialah, aspek mental dari

aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian atau segi agama yang hadir

(terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Dengan adanya

kesadaran agama dalam diri seseorang yang akan ditunjukan melalui

aktivitas keagamaan, maka munculah pengalaman beragama. Adapun yang

dimaksud dengan pengalaman beragama ialah unsur perasaan dalam

kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang

dihasilkan dalam tindakan (amaliah) nyata. 16

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kesadaran beragama

adalah keadaan tahu dan mengerti seseorang hamba terhadap penciptanya

sehingga keberadaan Tuhannya tercipta di dalam dirinya yang dengan

keadan tersebut ia melaksanakan segala perintah Tuhannya dan menjauhi

larangan-Nya tanpa adanya unsur keterpaksaan.

8. Aspek-Aspek Kesadaran Beragama

Adapun Aspek-Aspek kesadaran beragama pada setiap diri manusia ,

yaitu:

1) Aspek afektif dan konatif

Aspek afektif dan konatif Bahwa yang menjadi keinginan dan

kebutuhan manusia itu bukan hanya terbatas pada kebutuhan

biologis saja, namun manusia juga mempunyai keinginan dan

kebutuhan yang bersifat rokhaniah, yaitu kebutuhan dan keinginan

untuk mencintai dan dicintai Tuhan.

2) Aspek kognitif

16
Ramayulis, Psikologi Agama cet. Ke-9, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), h.7.
25

Aspek kognitif merupakan aspek yang juga menjadi sumber jiwa

agama pada diri seseorang (yaitu melalui berfikir), manusia

berTuhan karena menggunakan kemampuan berfikirnya. Sedangkan

kehidupan beragama merupakan refleksi dari kemampuan berfikir

manusia itu sendiri. Manusia juga menggunakan fikirannya untuk

merenungkan kebenaran atau kesalahan menuju keyakinan terhadap

ajaran agama. Adapun hal-hal yang berhubungan dengan aspek

kognitif dalam kesadaran beragama, yaitu: 17

a) Kecerdasan Qalbiyah

Kecerdasan qalbiyah yaitu kecerdasan untuk mengenal hati dan

aktifitas-aktifitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-

jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina

hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah

dengan Tuhan. Dalam Islam kecerdasan ini dapat dilihat pada

keyakinan seseorang terhadap rukun iman yang jumlahnya ada

enam, selain itu juga dapat dilihat pada peribadatannya kepada

Allah.

b) Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkaitan dengan

pengendalian nafsu-nafsu impulsive dan agresif, sehingga

seseorang akan terarah untuk bertindak secara hati-hati,

waspada, tenang, sabar dan tabah ketika mendapat musibah dan

berterima kasih ketika mendapat kenikmatan.

17
Ramayulis, Psikologi Agama, ( Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet. VI, h. 79-80.
26

c) Kecerdasan Moral

Kecerdasan moral adalah kecerdasan yang berkaitan dengan

hubungan kepada sesame manusia dan alam semesta.

Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat baik.

d) Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berhubungan

dengan kualitas batin seseorang dalam meyakini ajaran agama.

Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih

manusiawi, sehingga dengan menggunakan fikirannya seseorang

dapat menjangkau nilai-nilai luhur dalam agama yang mungkin

belum tersentuh oleh akal pikiran manusia.

e) Kecerdasan Beragama

Kecerdasan beragama adalah kecerdasan yang berhubungan

dengan kualitas beragama pada diri seseorang. Kecerdasan ini

mengarahkan pada diri seseorang untuk berperilaku agama

secara benar, sehingga menghasilkan ketaqwaan dan keimanan

secara mendalam.

3) Aspek Motorik

Aspek motorik dalam kesadaran beragama merupakan aspek yang

berupa perilaku keagamaan yang dilakukan seseorang dalam

beragama. Adapun aspek-aspek tersebut dapat berupa:

a) Kedisiplinan Shalat

Kedisiplinan shalat adalah ketaatan, kepatuhan, keteraturan,

seseorang di dalam menunaikan ibadah shalat. Seseorang


27

berkewajiban menjalankan shalat atas dasar firman Allah dalam

surat An-nisa’ ayat 103, yaitu:

‫ّللاَ ِق َيا ًما َّوقُعُ ْودًا َّوع َٰلى ُجنُ ْو ِب ُك ْم فَ ِاذَا ا ْط َمأْنَ ْنت ُ ْم فَا َ ِق ْي ُموا‬ ْ َ‫ض ْيت ُ ُم الص َّٰلوةَ ف‬
ٰ ‫اذك ُُروا‬ َ َ‫فَ ِاذَا ق‬
‫۝‬ َ ْ‫الص َّٰلوةَ ا َِّن الص َّٰلوةَ كَانَت‬
١٠٣ ‫علَى ا ْل ُم ْؤ ِمنِي َْن ِك ٰتبًا َّم ْوقُ ْوتًا‬
Artinya :”Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada
Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk,
maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat
itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang
waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin”.18

Yangmenyebabkan kedisiplinan shalat menjadi aspek motorik

dalamkesadaran beragama adalah karena dengan mengerjakan

shalat,seseorang akan terhindar dari berbagai perbuatan dosa,

jahat,dan keji. 19

b) Menunaikan ibadah puasa

Yang dimaksud menunaikan ibadah puasa; adalah menahan diri dari

segala sesuatu yang membatalkan puasa, seperti Manahan makan,

minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak berguna dan

sebagainya dengan disertai [Link] berkewajiban menunaikan

ibadah puasa sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-

Baqarah ayat 183:

‫علَى الَّ ِذ ْي َن ِم ْن‬ ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬


َ ‫الص َيا ُم َك َما ُك ِت‬
َ ‫ب‬ َ ‫ٰ ٰٓيا َ ُّي َها الَّ ِذ ْي َن ٰا َمنُ ْوا ُك ِت‬
َ ‫ب‬
.‫قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُ ْو َن‬

18
Departemen Agama Republik Indonesia, Ar-Razzaq al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta:
Pustaka Jaya Ilmu, 2014), h. 95.
19
Hamka, Tafsir Al-azhar, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984), juz. V, h.252.
28

Artinya :” Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu


berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu
agar kamu bertakwa”.20

Yang menyebabkan menunaikan ibadah puasa menjadi aspekmotorik

dalam kesadaran beragama adalah karena dengan menunakan ibadah

puasa, maka seseorang akan memiliki sebagai berikut: 21

1) Sifat terima kasih (syukur) kepada Allah karena semua ibadah

megandung arti terima kasih kepada Allah atas nikmat

pemberiannya yang tidak terbatas banyaknya dan tidak ternilai

harganya.

2) Ketaqwaan; seseorang yang telah sanggung menahan rasa lapar

dan dahaga karena ingat perintah Allah, sudah tentu ia tidak akan

berani meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-

Nya.

3) Perasaan sosial yang tinggi; karena seseorang yang telah merasa

sakit dan pedihnya perut kosong, hal ini akan dapat mengukur

kepedihan dan kesedihan orang yang merasakan kelaparan

karena ketiadaan. Dengan demikian akan timbul perasaan belas

kasihan dan suka menolong orang yang lemah dan fakir miskin.

4) Pengendalian diri terhadap sikap emosional yang terkadang

bertentangan dengan ajaran agama.

5) Kesehatan jiwa dan raga.

20
Departemen Agama Republik Indonesia, Ar-Razzaq al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta:
Pustaka Jaya Ilmu, 2014), h.28.
21
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo, 2000), cet. III, h.220.
29

Dengan demikian menunaikan ibadah puasa juga menjadi salah

satu aspek motorik dalam kesadaran beragama, karena setelah

seseorang menunaikan ibadah puasa dengan baik dan disertai rasa

ikhlas, maka mereka telah bersedia menjalankan perintah agama dan

berarti merekapun sadar beragama.

c) Berakhlak baik

Ketaatan adalah patuh pada aturan-atuan dan ketentuan-ketentuan

yang diatur oleh Alah SWT dan Rasul-Nya. Sikap taat timbul dari

kesadaran kalbu dan jiwa. Sikap ini merupakan bibit pertama yang

harus dipupuk dalam jiwa anak dengan cara yang lembut dan

perlahan-lahan. 22

Di dalam menanamkan ketaatan harus dibekali dengan kesabaran,

tanpa paksaan sehingga akan memermudah untuk mengetuk pintu

kalbu dan rasio mereka serta memperlancar dalam berkomunkasi

dengan mereka . Yang menyebabkan sifat taat menjadi aspek motorik

dalam kesadaran beragama adalah karena dengan memiliki sifat

ketaatan, berarti seseorang telah melaksanakan perintah agama dan

telah melakukan esediannya dalam berperilaku agama. Juga ketaatan

merupakan perilaku keagamaan yang harus dimiliki oleh seseorang

dalam beragama. Untuk mengembangkan ketaatan perlu diajarkan

latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti:

mengerjakan shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an, patuh terhadap

kedua orang tua dan lain sebagainya. Sehingga lama-kelamaan

22
Aba Firdaus Al-halwani, Melahirkan Anak Saleh (Kajian Psikologi Dan Agama), (Yogyakarta:
Mitra Pustaka, 1999), cet. III, h.91.
30

mereka akan terbiasa melakukan ketaatan tersebut tanpa harus

diperintah, melainkan motivasi yang muncul dari dalam dirinya

sendiri sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Kejujuran (ash-sidqu) berarti benar. Yang dimaksud dengan

kejujuran adalah memberitahukan, menuturkan sesuatu dengan

sebenarnya sesuai dengan kenyataan, sedangkan pemberitahuan

tersebut bukan hanya perkataan saja namun juga termasuk dalam

perbuatan. Sifat jujur merupakan tonggak akhlak yang mendasari

pribadi yang benar bagi seseorang, sedangkan sifat pembohong

merupakan kunci segala perbuatan yang jahat. Sifat jujur tidak dapat

ditanamkan pada anak melainkan hanya dengan keteladanan dan

pembinaan yang terus menerus.23

Dengan demikian kejujuran juga termasuk aspek motorik dalam

kesadaran beragama, karena dengan sikap jujur berarti seseorang

telah bertindak sesuai dengan moralitas agama yang diperintahkan

terhadap umatnya.

Amanahsifat amanah yang dimaksud adalah menjaga

pendengaran, pengucapan, dan penggunaan pandangan mata dari

hal-hal yang dilarang agama. Dalam Al-qur’an surat Al-Isra’ ayat 36

dijelaskan bahwa kita diwajibkan untuk memelihara segala

pendengaran, pengucapan, da perbuatan dari sesuatu yang dilarang

agama, karena apa yang kita dengarkan, segala perkataan, dan

perbuatan nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hari

23
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h.61.
31

perhitungan. Oleh karena itu kita harus mampu memelihara anggota

badan dari segala perbuatan dosa melalui latihan dan pembiasaan

diri. Dengan demikian sikap Amanah juga termasuk aspek motorik

dalam kesadaran beragama yang harus dimiliki seseorang, karena

dengan memiliki sifat ini seseorang akan terpelihara dari ucapan,

pendengaran, penglihatan, dan segala perbuatan yang dilarang

agama.

Ikhlas yang dimaksud dengan ikhlas adalah berbadah kepada

Allah SWT yang dilandasi kepasrahan diri, melaksanakan segala

yang diperintahkan agama dengan perasaan tulus dan tanpa

mengharap balasan apapun. Sifat ikhlas ini sangat penting bagi

kepribadian seseorang, maka penanaman sifat ikhlas ini harus

diajarkan secara dini dan bertahap terhadap seorang anak.

Tidak sombong dalam agama Islam Allah SWT telah melarang

keras terhadap orang-orag yang sombong, karena orang yang

mempunyai sifat sombong akan merugikan diri sendiri dan

membawa ke jalan kesesatan. Apabila seseorang telah melaksanakan

sifat ini, berarti mereka telah mentaati ajaran agama dan berarti

menunjukkan kesadarannya dalam beragama.

B. Penelitian Yang Relevan

Berdasarkan kajian kepustakaan, berikut dikemukakan beberapa

penelitian yang relevan dengan penelitian ini, antara lain :


32

1. Mahrum, Implementasi Pembelajaran Fiqih Ibadah DalamMeningkatkan

Kesadaran Ibadah Shalat Fardu Peserta Didik (Studi Kasus Di MTs NW

Ijobalit) Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur. Penelitian

ini berbentuk tesis pada tahun 2023. Hasil dari penelitian ini ialah

Implementasi pembelajaran fiqih ibadah di MTs NW Ijobalit sudah

memuat materi yang terfokus pada materi shalat fardu, design

pembelajaran menggunakan acuan Kementrian Agama, metode

pembelajaran menggunakan metode ceramah, demonstrasi dan nasihat,

media pembelajaran menggunakan audio visual dan evaluasi

pembelajaran menggunakan tes yang menjadi acuan dimana tes yang

dimaksud adalah hasil ulangan semester siswa. Terdapat beberapa cara

yang dapat dilakukan dalam menanamkan iman atau meningkatkan

ketaatan beribadah anak didik yaitu, memberikan contoh atau teladan,

membiasakan (tentunya yang baik), menegakkan disiplin, memberikan

motivasi, memberikan hadiah terutama psikologis, menghukum,


24
menciptakan suasana yang berpengaruh bagi pertumbuhan positif.

Adapun perbedaan dan persamaan kedua penelitian dari kajian yang

relevan, ialah :

a. Persamaan

1) Sama- sama meneliti tentang strategi pembelajaran fikih untuk

meningkatkan kesadaran ibadah melalui sholat Fardh (sholat

Dzuhur)

24
Mahrum, Implementasi Pembelajaran Fiqih Ibadah Dalam Meningkatkan Kesadaran Ibadah
Shalat Fardu Peserta Didik (Studi Kasus Di MTs NW Ijobalit) Kecamatan Labuhan Haji
Kabupaten Lombok Timur, (Tesis: UIN Mataram, 2023), h. 147.
33

b. Perbedaan

2) Tempat penelitian

3) Jenis strategi pembelajaran fikih

2. Fatmawati, Strategi Guru Fikih Dalam Meningkatkan Kesadaran

Beribadah Siswa di MTs Ulul Albab Desa Sangga Kecamatan Lamu

Kabupaten Bima. Penelitian ini berbentuk skripsi pada tahun 2022.

Adapun hasil dari penelitian ini, yaitu : strategi guru fikih dalam

meningkatkan kesadaran siswa ialah , strategi pembiasaan, strategi

nasehat, dan strategi hukuman.25Adapun perbedaan dan persamaan kedua

penelitian dari kajian yang relevan, ialah :

a. Persamaan

1) Sama- sama meneliti tentang strategi pembelajaran fikih untuk

meningkatkan kesadaran ibadah melalui sholat Fardh (sholat

Dzuhur)

b. Perbedaan

2) Tempat penelitian

3) Jenis strategi pembelajaran fikih

4) kedua penelitian yang relevan meneliti tentang kesadaran

ibadah, sedangkan peneliti mengkaji mengenai kesadaran

beragama yang tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan

saja , melainkan pengaruh dari ibadah tersebut.

25
Fatmawati, Strategi Guru Fikih Dalam Meningkatkan Kesadaran Beribadah Siswa di MTs Ulul
Albab Desa Sangga Kecamatan Lamu Kabupaten Bima, (skripsi : UIN Mataram, 2022),
h.76.
34

Kajian yang relevan ini dibuat untuk membedakan antara penelitian lain

dengan skripsi ini apakah terdapat perbedaan dan persamaan yang signifikan

dengan hasil mengenai Strategi Pembelajaran Fikih Dalam Menumbuhkan

Kesadaran Keagamaan Di MIS NU Po. Manduamas.

C. Kerangka Konseptual

Adapun kerangka konseptual pada penelitian ini ialah variabel yang ada

pada skripsi ataupun tesis relevan dengan variabel masalah yang sedang diteliti

oleh penulis yaitu mengenai strategi pembelajaran Fikih dalam menumbuhkan

kesadaran keagamaan pada diri anak.

Anda mungkin juga menyukai