BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Strategi Pembelajaran Fikih
Kata strategi berarti cara dan seni menggunakan sumber daya
untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran berarti upaya
membelajarkan peserta didik. Dengan demikian, strategi pembelajaran
berarti cara dan seni untuk menggunakan semua sumber belajar dalam
upaya membelajarkan peserta didik. 1
Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian
kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai
sumber daya dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan tertentu.2
Menurut Sulistyono, strategi belajar atau pembelajaran adalah
tindakan khusus yang dilakukan oleh seseorang untuk mempermudah,
mempercepat, lebih menikmati, lebih mudah memahami secara langsung,
lebih efektif dan lebih mudah ditransfer kedalam situasi yang baru. 3
Pembelajaran adalah suatu proses yang mengandung serangkaian
aktivitas oleh guru dan siswa berdasarkan hubungan timbal balik untuk
mencapai tujuan tertentu. Dalam pembelajaran terdapat sejumlah tujuan
yang hendak di dicapai. Pembelajaran dalam hal ini merupakan suatu
kumpulan yang terdiri dari komponen komponen pembelajaran yang
1
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009),
h. 19.
2
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), h. 21.
3
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, landasan
teoris-praktis dan implementasinya, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007), cet.I., h.86.
8
9
saling berinteraksi, berintegrasi satu sama lain. Oleh karena itu, jika salah
satu komponen tidak dapat terinteraksi, maka proses dalam pembelajaran
akan menghadapi banyak kendala yang menghambat pencapaian tujuan
pembelajaran. 4
Menurut Hafsah pembelajar adalah proses interaksi antara peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar. Pembelajaran adalah suatu
proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu proses
perubahan prilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dan
pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan. 5
Dari beberapa pengertian strategi pembelajaran, disimpulkan
bahwa strategi pembelajaran merupakan pendekatan dalam mengelola
kegiatan, dengan mengintegrasikan urutan kegiatan, peralatan dan bahan
serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditentukan secara aktif dan efisien.
Menurut Amir Syarifuddin dalam Hidayatullah, Fiqih secara
bahasa berasal dari kalimat Faqaha, yang artinya: pemahaman mutlak,
apapun tingkat pemahaman yang dihasilkan. Kata Fiqh secara harfiah
berarti: “pemahaman yang mendalam”. 6Sedangkan Fiqih menurut
istilahpemahaman dan pemahaman tentang sesuatu tentang ilmu agama
karena kemuliaannya.
4
Akhiruddin dkk., Belajar dan Pembelajaran (Gowa: Cahaya Bintang Cemerlang,2009), h.5.
5
Hafsah, Pembelajaran Fiqih, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h.21.
6
Hidayatulloh, Fikih, (Banjarmasin: Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad
Al-Banjari, 2009), h.2.
10
Paham yang dimaksud adalah upaya aqliyah dalam memahami
ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi
Fiqih merupakan ilmu yang mempelajari tentang hukum hukum dalam
ibadah dalam agama islam salah satunya adalah ibadah shalat fardu.
Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah membaca dua kalimat
syahadat, sholat adalah tiang bangunan Islam yang mempunyai banyak
keistimewaan, di dunia dan akhirat.
Jadi pembelajaran fiqih merupakan kegiatan yang terstruktur dan
terencana terkait hak dan kewajiban seluruh manusia sebagai makhluk
ciptaan Allah seperti bertaqwa kepada Allah, beramal sholeh (puasa,
zakat, infaq, dan shodaqoh) juga berakhlak mulia kepada sesama
manusia, serta mempelajari hukum hukum syar’iyah dengan
menggunakan strategi ataupun model sehingga terwujudnya
pembelajaran [Link] proses belajar mengajar, strategi
pembelajaran sangat dibutuhkan. Hal ini bertujuan untuk lebih
meningkatkan kualitas anak didik menuju terbinanya insan yang handal
dan mampu. Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran
termasuk didalamnya mengidentifikasi segala bentuk dalam pelaksanaan
proses belajar mengajar.
Adapun target ideal daristrategi dalam proses pembelajaran adalah
kemampuan siswa memahami apa yang telah dipelajari baik kemampuan
kognitif, afektif maupun psikomotorik. Atas dasar ini maka perhatian
atau dapat dikatakan kesungguhan dan keseriusan siswa dalam proses
belajar mengajar menjadi sangat urgen. Pada prinsip ini menyangkut
11
suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat
menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya.
Berkenaan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, strategi
pendidikan merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan
termasuk dalam merencanakan pembelajaran hingga pada pelaksanaan
pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajar muaranya pada
tercapainya tujuan tersebut.
2. Ruang Lingkup Pembelajaran Fiqih
Secara umum, pembahasan fikih ini mencakup dua bidang yaitu :
a. Fiqih ibadah yang mengatur hamba dengan tuhannya, seperti shalat,
Zakat, Haji, menunaikan Nazar dan membayar Kafarat terhadap
pelanggaran sumpah.
b. Fiqih muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia
lainnya, kajiannya mencakup seluruh bidang fiqih selain persoalan
ubudiyah, seperti ketentuan ketentuan jual beli, sewa menyewa,
perkawinan jinayah dan lain- lain. 7
3. Prinsip -prinsip Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran membutuhkan prinsip belajar
danpembelajaran. Dengan kata lain, ketentuan atau aturanharusdijadikan
pedoman dalam melaksanakan kegiatan belajar, sepertiperhatian dan
motivasi, kegiatan, partisipasi langsung,pengulangan, tantangan,
7
Hafsah, Pembelajaran Fiqih, (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2008), h.5.
12
penguatan, umpan balik, dan perbedaanindividu.8Berikut adalah prinsip
umummenggunakan strategi pembelajaran:
a. Orientasi pada tujuan.
Tujuan merupakan komponen utama yang perlu diperhatikandalam
sistem [Link] komponen pembelajaranbermuara
pada tujuan yang telah ditentukan secara sistematisdan terukur.
Dengan mengetahui tujuan pembelajaran makaakan mempermudah
guru untuk menentukan strategipembelajaran apa yang tepat
digunakan dalammenyampaikan materi kepada peserta didik.
b. Aktifitas
Prinsip ini menekankan pada guru untuk lebih
memperhatikanpeserta didik dalam hal pengamalan atau aktifitas
belajar [Link] pembelajaran diupayakan
dapatmendorong aktifitas peserta didik, baik aktifitas fisik
denganmemberikan pekerjaan tugas yang mendorongnya
melakukanpergerakan maupun aktifitas psikis yang mempertebal
rasapercaya diri dan memiliki mental yang kuat dalam
mewujudkan peserta didik yang aktif dan kreatif.
c. Individualitas
Prinsip yang berlaku pada strategi pembelajaran ini adalah
dengan menekankan pada aspek proses yang memperhitungkan
keberhasilan pembelajaran. Guru harus memetakan dengan baik
agar masing-masing peserta didik dapat mengikuti pembelajaran
8
Masitoh dan Laksmi Dewi, Strategi Pembelajaran (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama, 2009), h.8.
13
dengan tuntas dan membawa pemahaman dan perubahan. Karena,
inti dari memberikan pembelajaran adalah perubahan perbaikan
pada masingmasing individu peserta didik.
d. Integritas
Strategi pembelajaran dengan memakai prinsip
integritasakan membawa pada perubahan perbaikan peserta
didiksecara totalitas. Integritas yang dimaksud yaitu Upaya
melaksanakan pembelajaran secara menyeluruh yang didalamnya
terdapat aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap(afektif), dan
aspek keterampilan (psikomotorik). Oleh karenaitu, strategi
pembelajaran ini secara komprehensif dapatmengembangkan
seluruh aspek kepribadian siswa.9
Dapat dilihat dari uraian di atas bahwa prinsip-prinsipstrategi
pembelajaran memegang peranan penting dalam praktikperencanaan
pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut merupakanbatasan dan sikap yang
harus dijaga dan dioptimalkan setiap saatagar pembelajaran yang
dilakukan efektif, efisien dan bermanfaat.
Penulis berpendapat bahwa keberhasilan kegiatan mengajarsangat
bergantung pada kegiatan pengajar (guru), oleh karena ituselain memilih
metode, teknologi dan media pembelajaran yangtepat, juga perlu
menetapkan tujuan keberhasilan. Semua kegiatandilakukan. Hal ini
9
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007), h. 131-133.
14
penting karena evaluasi menunjukkan seberapaefektif strategi
pembelajaran dalam proses pembelajaran.
Guru harus memahami strategi pembelajaran yangdigunakan di
kelas. Pemahaman yang utuh ini merupakan kajiankomprehensif yang
harus disiapkan guru sebelum mengajarkanmateri kepada siswa. Oleh
karena itu, sangat tepat bahwa strategipembelajaran merupakan faktor
penting bagi pendidik untukmencapai keberhasilan dalam proses belajar
mengajar. Komponen strategi pembelajaran dijelaskan dan dipahami
sepenuhnya, dandigunakan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan
Pendidikan dengan benar.
4. Jenis-Jenis Strategi Pembelajaran
Pada dasarnya banyak strategi pembelajaran progresif yang dapat
digunakan dalampembelajaran. Hal ini sebagaimana penjelasan Rudi
Hartono dalam tulisannyamenguraikan terdapat delapan strategi
pembelajaran, meliputi; strategipembelajaran ekspositori, strategi
pembelajaran inkuiri, strategi pembelajarankonstektual, strategi
pembelajaran kooperatif, berbasis masalah, strategipembelajaran foxfire,
strategi pembelajaran PAIKEM, dan strategi pembelajarantematik.
Strategi tersebut dapat digunakan pada pembelajaran fikih.
Implementasi multi strategi pembelajaran tersebut dalam
pembelajaran diuraikan secara ringkas pada penjelasan berikut:
1) Strategi pembelajaran ekspositori
Abdul Azid Muttaqin menjelaskan bahwa ekspositori adalah bentuk
pembelajaranyang lebih menekankan pada bertutur atau bercerita
15
secara verbal. Gurumempunyai peran paling utama untuk bertutur
di hadapan siswa. Para siswabertugas untuk menyimak dengan baik
materi yang disampaikan oleh guru. Materipelajaran sudah
dirancang dan disiapkan dengan baik oleh guru sehingga Ketika
bertutur atau bercerita mampu menjiwai dengan baik. Strategi
ekspositori inidigunakan secara langsung oleh guru pada materi
yang bersifat fakta-fakta Sejarah yang sudah tidak menuntut lagi
untuk berfikir ulang. Strategi ekspositori cocokdigunakan pada
mata pelajaran Sejarah Kebudayan Islam (SKI), tentunya tidakjuga
digunakan secara berkelanjutan.
2) Strategi pembelajaran inkuiri
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis
[Link] dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasilmengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
hasil dari temuan diri sendiri. Guru harusselalu merancang kegiatan
yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapunmateri yang
diajarkannya. Adapun siklus inkuiri terdiri dari; (1)
observasi(observation), (2) bertanya (questioning), (3) mengajukan
dugaan (hypotesis), (4) pengumpulan data (data gathering), dan (5)
penyimpulan (conclussion). Sementara langkah kegiatan inkuiri
adalah sebagai berikut; (1) merumuskan masalah, (2) mengamati
atau melakukan observasi, (3) menganalisis dan menyajikan hasil
dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, (4)
16
mengoptimalisasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca,
teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.
3) Strategi pembelajaran konstektual
Strategi pembelajaran konstektual (Contextual Teaching and
Learning/CTL)merupakan strategi pembelajaran yang menekankan
pada proses keterlibatan siswasecara penuh dalam rangka
menemukan materi dan hubungannya dengan realitaskehidupan.
Abdul Rahman Shaleh menjelaskan, pembelajaran konstektual
adalahsuatu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara
materi (bahan ajar) yangdiajarkan dengan situasi dunia nyata dari
lingkungannya diharapkan denganpendekatan demikian akan dapat
mendorong siswa untuk membuat hubunganantara pengetahuan
yang dimilikinya dan lingkungannya dengan penerapannyadalam
kehidupan siswa sebagai individu, sebagai anggota masyarakat
danbangsanya. 10
4) Strategi pembelajaran berbasis masalah
Menurut Abdul Azid Muttaqin, strategi pembelajaran berbasis
masalah merupakanpembelajaran yang menghadapkan siswa pada
suatu masalah sebelum memulaiproses pembelajaran. Siswa
dihadapkan pada suatu masalah nyata yang memacunyauntuk
meneliti, menguraikan, dan mencari [Link]
strategi pembelajaran berbasis masalah pada pembelajaran
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan menganalisis siswa
10
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran, (Bandung: [Link]
Aditama, 2009), Cet. Ke. 1, Jilid 1, h. 70.
17
danmenerapkan pengetahuan yang telah diketahui pada situasi yang
baru, sertamenginginkan siswa mampu memecahkan masalah
secara mandiri danbertanggung jawab.
5) Strategi pembelajaran PAIKEM
Salah satu Strategi pembelajaran dianggap mampu mendorong
semangat belajardan menghilangkan rasa jenuh dan monoton
adalah PAIKEM. PAIKEM singkatandari, pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAIKEMbiasa
diartikan sebagai pendekatan mengajar yang digunakan bersama
denganmetode tertentu dan berbagai media pengajaran yang
disertai penataan lingkungandengan baik sehingga proses
pembelajaran menjadi Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif,dan
Menyenangkan. Penggunaan PAIKEM pada proses pembelajaran
dapatmemotivasi siswa untuk melakukan aktivitas [Link]
menjelaskan, terdapat delapan prinsip yang harus diperhatikan guru
dalamimplementasi PAIKEM, sebagai berikut; 11
a) Memahami sifat peserta didik,
b) Mengenal peserta didik secara perorangan,
c) Memanfaatkan perilaku peserta didikdalam pengorganisasian
belajar.
d) Mengembangkan kemampuan berpikir kritisdan kreatif serta
mampu memecahkan masalah,
11
Ismail, Strategi Pembelajaran Agama Islam Berbasis PAIKEM, (Semarang: RaSAII. Media
Group, 2009), Cet. Ke-2, h.46.
18
e) Menciptakan ruangan kelassebagai lingkungan belajar yang
menarik,
f) Memanfaatkan lingkungan sebagai lingkungan belajar (fisik,
sosial, dan budaya),
g) Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan
kegiatan, dan
h) Membedakan antara aktif fisik dengan aktif mental.
Banyaknya model atau strategi pembelajaran tersebut tidaklah
berartibahwa semua pengajar menerapkan semuanya untuk setiap mata
pelajaran karena tidak semua model atau strategi tersebut cocok untuk
semua topik atau mata pelajaran. Banyaknya model atau strategi
pembelajaran tersebut, merupakan dampak dari adanya perubahan
paradigma pendidikan atau pembelajaran. Seiring dengan munculnya
aliran progresivisme dan konstruktivisme yang keduanya memiliki
pandangan perlunya sebuah pembaharuan dalam pendidikan tradisional
menuju pendidikan modern.
Hal ini dapat dilihat dari perubahan orientasi pembelajaran yang
semula berpusat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada
siswa (student centered), metodologi yang semula lebih dominasi
ekspositori berganti ke partisipatori, dan pendekatan yang semula
banyak bersifat tekstual berubah menjadikonteksual.
Anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.
Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajari
bukan hanya mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target
19
penguasaan materi terbukti hanya berhasil dalam kompetensi
“mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak
memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
5. Media Pembelajaran Fiqih
Secara harfiah media dapat dimaknai sebagai perantara atau
pengantar. Gerlach dan Ely menjelaskan bahwa apabila dipahami secara
garis besar media adalah manusia, materi, atau kejadian yang
membangun.
Media pembelajaran fiqih yang dimaksud adalah segala sesuatu
yang bisa digunakan untuk menyalurkan pesan-pesan dalam materi
pelajaran fiqih dari pengirim atau pembelajar kepada penerima atau
pebelajar dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat
serta perhatian pebelajar sehingga terjadi proses belajar mengajar fiqih.
Dalam pemilihan dan penggunaan media pembelajaran fiqih ada
beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: 12
a. Dapat menggambarkan materi pelajaran dengan lebih jelas sehingga
dapat mencapai tujuan lebih efektif.
b. Media yang dipilih dapat menarik minat dan perhatian pebelajar untuk
mengikuti pelajaran, serta dapat menuntunnya pada penyajian yang
lebih berstruktur dan terorganisir.
c. Media yang digunakan hendaknya bukan sesuatu yang baru bagi
peserta didik sehingga memungkinkan berkonsentrasi pada pelajaran
bukan hanya memperhatikan medianya.
12
Mazrur, Strategi Pembelajaran Fiqih, (Palangkaraya: Antasari Press, 2008), h.28-32.
20
d. Pembelajar dapat menggunakan dengan baik .
e. Hendaknya disesuaikan dengan tujuan perilaku belajarnya.
6. Faktor- Faktor yang MempengaruhiPelaksanaan Pembelajaran
Fikih.
Agar perubahan-perubahan dalam diri peserta didik sebagai hasil
dari suatu proses belajar mengajar sampai pada tujuan yang diharapkan,
perlu diperhatikan sebab-sebab yang mempengaruhinya. Faktor-faktor
tersebut adalah yang berasal dari diri peserta didik atau faktor dari dalam
dan faktor yang berada di sekitar peserta didik atau faktor dari luar diri
peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran kedua faktor ini sangat
mempengaruhi, karena faktor dari dalam, yaitu peserta didik sebagai
masukan (raw input) yang merupakan bahan baku yang akan diolah
dalam kegiatan pembelajaran.
Faktor dari dalam ini meliputi fisiologis dan psikologis. Faktor
fisiologis yang terdiri dari kondisi fisik seperti keutuhan jasmani,
kebugaran dan sebagainya. dan kondisi indera. Sedang faktor psikologis
yang terdiri dari minat, kecerdasan, motivasi, ingatan,perhatian,
tanggapan dan sikap. Faktor dari dalam ini banyak menentukan terhadap
strategi belajar, artinya cara mengatur kegiatan atau keaktifan peserta
didik untuk belajar dengan menggunakan cara-cara tertentu yang sesuai
dengan dirinya sendiri Faktor dari luar diri pebelajar terdiri dari dua,
yaitu (instrumental) dan (enviromental). Instrumental terdiri dari
kurikulum, program, pedoman belajar, peserta didik dan sarana atau
21
fasilitas pembelajaran. Enveromental terdiri dari: alam (kondisi
lingkungan), fisik dan sosial-budaya. 13
Pembelajaran terkait dengan bagaimana membelajarkan peserta
didikatau bagaimana membuat peserta didik dapat belajar dengan mudah
danterdorong oleh kemauannya sendiri untuk mempelajari apa yang
teraktualisasi dalam kurikulum sebagai [Link]
danhubungan antar komponen yang mempengaruhipembelajaran tersebut
dapat diuraikan lebih rinci sebagai berikut :
1) Kondisi Pembelajaran
Kondisi pembelajaran adalah semua faktor yang
mempengaruhipenggunaan metode pembelajaran dalam rangka
meningkatkan hasil
pembelajaran. Faktor-faktor yang termasuk kondisi pembelajaran:
a) Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran pada hakikatnya mengacu pada
hasilpembelajaran yang diharapkan. Sebagai hasil yang
diharapkan,tujuanpembelajaran harus ditetapkan lebih dahulu
sehingga Upaya pembelajaran diarahkan untuk mencapai
[Link] tujuan khususnya mengacupada konstruk
tertentu (misalnya fakta,konsep, prosedur) dari suatubidang
studi berupa konsep, dalil, kaidah dan keimanan yangmenjadi
landasan dalam mendeskripsikan strategi pembelajaran.
b) Karakteristik bidang studi atau bahan
13
Ma’ruf dan Ana Rosilawati, Pembelajaran Fiqih, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2019),
h.46.
22
Dalam suatu pembelajaran bahan bukan sebagai
tujuan,melainkan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Karena
itu, penentuanbahan pembelajaran harus didasarkan pada
pencapaian tujuan baik darisegi isi, tingkat kesulitan maupun
organisasinya sehingga mampumengantarkan siswa sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
c) Karakteristik peserta didik
Karakteristik kemampuan awal peserta didik dapat
dijadikandasar dalam pemilihan strategi pembelajaran.
Kemampuan awal sangatpenting dalam meningkatkan
kebermaknaan pembelajaran, sehinggaakan memudahkan
proses internal yang berlangsung dalam diri pesertadidik.
d) Kendala pembelajaran
Kendala pembelajaran merupakan keterbatasan sumber
belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu, dan
keterbatasan dana yang tersedia. Kendala ini akan
mempengaruhi pemilihan strategi penyampaian dan
penghambat dari tujuan yang telah ditetapkan.
2) Metode pembelajaran Metode pembelajaran merupakan cara yang
digunakan dalam penyampaian materi pada saat pembelajaran.
Dalam Kitab Ruuhu AtTarbiyah Wat Ta’lim dinyatakan bahwa
metode adalah:14
Muhammad ‘Athiyah al-Ibrasi, Ruuhu at-Tarbiyah wat Ta’lim, (Arabiyah: Daar al-Ihya al-Kutub,
14
1950), h.267.
23
“Perantara yang mengikutinya untuk memahamkan seorang murid
terhadap pelajaran yang dipelajari dalam segala materi”.
3) Hasil pembelajaran
Hasil pembelajaran adalah semua akibat yang dapat dijadikan
indikator tentang nilai dari penggunaan metode di bawah kondisi
pembelajaran yang berbeda. Dengan metode yang digunakan dalam
setiap pembelajaran diharapkan dapat membawa keberhasilan. Hasil
pembelajaran akan dievaluasi untuk memberikan informasi
mengenai tingkat pencapaian keberhasilan belajar siswa. Indikator
dari keberhasilan pembelajaran dapat dilihat pada keefektifan,
efisiensi pembelajaran dan daya tarik siswa untuk berkeinginan terus
belajar.
7. Kesadaran Keagamaan
Kesadaran memang telah menjadi satu konsep yang sering di gunakan
psikologi, namun kesadaran merupakan konsep yang membingungkan
dalam ilmu pengetahuan mengenai pikiran. Ada enam arti kesadaran yang
dilengkapi dengan referensinya menurut Taksonomi Bloom yakni
mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi dan
mengkreasi. 15
Kesadaran memiliki arti yang sama dengan mawas diri (awareness).
Kesadaran juga di artikan sebagai kondisi di mana seseorang individu
memiliki kendali penuh terhadap stimulus internal maupun ekternal.
15
Ma’ruf dan Ana Rosilawati, Pembelajaran Fiqih, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2019),
h.46.
24
Kesadaran beragama menurut Zakiah Darajat ialah, aspek mental dari
aktivitas agama. Aspek ini merupakan bagian atau segi agama yang hadir
(terasa) dalam pikiran dan dapat diuji melalui introspeksi. Dengan adanya
kesadaran agama dalam diri seseorang yang akan ditunjukan melalui
aktivitas keagamaan, maka munculah pengalaman beragama. Adapun yang
dimaksud dengan pengalaman beragama ialah unsur perasaan dalam
kesadaran agama, yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang
dihasilkan dalam tindakan (amaliah) nyata. 16
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kesadaran beragama
adalah keadaan tahu dan mengerti seseorang hamba terhadap penciptanya
sehingga keberadaan Tuhannya tercipta di dalam dirinya yang dengan
keadan tersebut ia melaksanakan segala perintah Tuhannya dan menjauhi
larangan-Nya tanpa adanya unsur keterpaksaan.
8. Aspek-Aspek Kesadaran Beragama
Adapun Aspek-Aspek kesadaran beragama pada setiap diri manusia ,
yaitu:
1) Aspek afektif dan konatif
Aspek afektif dan konatif Bahwa yang menjadi keinginan dan
kebutuhan manusia itu bukan hanya terbatas pada kebutuhan
biologis saja, namun manusia juga mempunyai keinginan dan
kebutuhan yang bersifat rokhaniah, yaitu kebutuhan dan keinginan
untuk mencintai dan dicintai Tuhan.
2) Aspek kognitif
16
Ramayulis, Psikologi Agama cet. Ke-9, (Jakarta: Kalam Mulia, 2011), h.7.
25
Aspek kognitif merupakan aspek yang juga menjadi sumber jiwa
agama pada diri seseorang (yaitu melalui berfikir), manusia
berTuhan karena menggunakan kemampuan berfikirnya. Sedangkan
kehidupan beragama merupakan refleksi dari kemampuan berfikir
manusia itu sendiri. Manusia juga menggunakan fikirannya untuk
merenungkan kebenaran atau kesalahan menuju keyakinan terhadap
ajaran agama. Adapun hal-hal yang berhubungan dengan aspek
kognitif dalam kesadaran beragama, yaitu: 17
a) Kecerdasan Qalbiyah
Kecerdasan qalbiyah yaitu kecerdasan untuk mengenal hati dan
aktifitas-aktifitasnya, mengelola dan mengekspresikan jenis-
jenis kalbu secara benar, memotivasi kalbu untuk membina
hubungan moralitas dengan orang lain dan hubungan ubudiyah
dengan Tuhan. Dalam Islam kecerdasan ini dapat dilihat pada
keyakinan seseorang terhadap rukun iman yang jumlahnya ada
enam, selain itu juga dapat dilihat pada peribadatannya kepada
Allah.
b) Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkaitan dengan
pengendalian nafsu-nafsu impulsive dan agresif, sehingga
seseorang akan terarah untuk bertindak secara hati-hati,
waspada, tenang, sabar dan tabah ketika mendapat musibah dan
berterima kasih ketika mendapat kenikmatan.
17
Ramayulis, Psikologi Agama, ( Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet. VI, h. 79-80.
26
c) Kecerdasan Moral
Kecerdasan moral adalah kecerdasan yang berkaitan dengan
hubungan kepada sesame manusia dan alam semesta.
Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat baik.
d) Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berhubungan
dengan kualitas batin seseorang dalam meyakini ajaran agama.
Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebih
manusiawi, sehingga dengan menggunakan fikirannya seseorang
dapat menjangkau nilai-nilai luhur dalam agama yang mungkin
belum tersentuh oleh akal pikiran manusia.
e) Kecerdasan Beragama
Kecerdasan beragama adalah kecerdasan yang berhubungan
dengan kualitas beragama pada diri seseorang. Kecerdasan ini
mengarahkan pada diri seseorang untuk berperilaku agama
secara benar, sehingga menghasilkan ketaqwaan dan keimanan
secara mendalam.
3) Aspek Motorik
Aspek motorik dalam kesadaran beragama merupakan aspek yang
berupa perilaku keagamaan yang dilakukan seseorang dalam
beragama. Adapun aspek-aspek tersebut dapat berupa:
a) Kedisiplinan Shalat
Kedisiplinan shalat adalah ketaatan, kepatuhan, keteraturan,
seseorang di dalam menunaikan ibadah shalat. Seseorang
27
berkewajiban menjalankan shalat atas dasar firman Allah dalam
surat An-nisa’ ayat 103, yaitu:
ّللاَ ِق َيا ًما َّوقُعُ ْودًا َّوع َٰلى ُجنُ ْو ِب ُك ْم فَ ِاذَا ا ْط َمأْنَ ْنت ُ ْم فَا َ ِق ْي ُموا ْ َض ْيت ُ ُم الص َّٰلوةَ ف
ٰ اذك ُُروا َ َفَ ِاذَا ق
َ ْالص َّٰلوةَ ا َِّن الص َّٰلوةَ كَانَت
١٠٣ علَى ا ْل ُم ْؤ ِمنِي َْن ِك ٰتبًا َّم ْوقُ ْوتًا
Artinya :”Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada
Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk,
maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat
itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang
waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin”.18
Yangmenyebabkan kedisiplinan shalat menjadi aspek motorik
dalamkesadaran beragama adalah karena dengan mengerjakan
shalat,seseorang akan terhindar dari berbagai perbuatan dosa,
jahat,dan keji. 19
b) Menunaikan ibadah puasa
Yang dimaksud menunaikan ibadah puasa; adalah menahan diri dari
segala sesuatu yang membatalkan puasa, seperti Manahan makan,
minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak berguna dan
sebagainya dengan disertai [Link] berkewajiban menunaikan
ibadah puasa sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-
Baqarah ayat 183:
علَى الَّ ِذ ْي َن ِم ْن ِ علَ ْي ُك ُم
َ الص َيا ُم َك َما ُك ِت
َ ب َ ٰ ٰٓيا َ ُّي َها الَّ ِذ ْي َن ٰا َمنُ ْوا ُك ِت
َ ب
.قَ ْب ِل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُ ْو َن
18
Departemen Agama Republik Indonesia, Ar-Razzaq al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta:
Pustaka Jaya Ilmu, 2014), h. 95.
19
Hamka, Tafsir Al-azhar, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984), juz. V, h.252.
28
Artinya :” Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu
agar kamu bertakwa”.20
Yang menyebabkan menunaikan ibadah puasa menjadi aspekmotorik
dalam kesadaran beragama adalah karena dengan menunakan ibadah
puasa, maka seseorang akan memiliki sebagai berikut: 21
1) Sifat terima kasih (syukur) kepada Allah karena semua ibadah
megandung arti terima kasih kepada Allah atas nikmat
pemberiannya yang tidak terbatas banyaknya dan tidak ternilai
harganya.
2) Ketaqwaan; seseorang yang telah sanggung menahan rasa lapar
dan dahaga karena ingat perintah Allah, sudah tentu ia tidak akan
berani meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-
Nya.
3) Perasaan sosial yang tinggi; karena seseorang yang telah merasa
sakit dan pedihnya perut kosong, hal ini akan dapat mengukur
kepedihan dan kesedihan orang yang merasakan kelaparan
karena ketiadaan. Dengan demikian akan timbul perasaan belas
kasihan dan suka menolong orang yang lemah dan fakir miskin.
4) Pengendalian diri terhadap sikap emosional yang terkadang
bertentangan dengan ajaran agama.
5) Kesehatan jiwa dan raga.
20
Departemen Agama Republik Indonesia, Ar-Razzaq al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta:
Pustaka Jaya Ilmu, 2014), h.28.
21
Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Bandung: PT. Sinar Baru Algensindo, 2000), cet. III, h.220.
29
Dengan demikian menunaikan ibadah puasa juga menjadi salah
satu aspek motorik dalam kesadaran beragama, karena setelah
seseorang menunaikan ibadah puasa dengan baik dan disertai rasa
ikhlas, maka mereka telah bersedia menjalankan perintah agama dan
berarti merekapun sadar beragama.
c) Berakhlak baik
Ketaatan adalah patuh pada aturan-atuan dan ketentuan-ketentuan
yang diatur oleh Alah SWT dan Rasul-Nya. Sikap taat timbul dari
kesadaran kalbu dan jiwa. Sikap ini merupakan bibit pertama yang
harus dipupuk dalam jiwa anak dengan cara yang lembut dan
perlahan-lahan. 22
Di dalam menanamkan ketaatan harus dibekali dengan kesabaran,
tanpa paksaan sehingga akan memermudah untuk mengetuk pintu
kalbu dan rasio mereka serta memperlancar dalam berkomunkasi
dengan mereka . Yang menyebabkan sifat taat menjadi aspek motorik
dalam kesadaran beragama adalah karena dengan memiliki sifat
ketaatan, berarti seseorang telah melaksanakan perintah agama dan
telah melakukan esediannya dalam berperilaku agama. Juga ketaatan
merupakan perilaku keagamaan yang harus dimiliki oleh seseorang
dalam beragama. Untuk mengembangkan ketaatan perlu diajarkan
latihan-latihan keagamaan yang menyangkut ibadah seperti:
mengerjakan shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an, patuh terhadap
kedua orang tua dan lain sebagainya. Sehingga lama-kelamaan
22
Aba Firdaus Al-halwani, Melahirkan Anak Saleh (Kajian Psikologi Dan Agama), (Yogyakarta:
Mitra Pustaka, 1999), cet. III, h.91.
30
mereka akan terbiasa melakukan ketaatan tersebut tanpa harus
diperintah, melainkan motivasi yang muncul dari dalam dirinya
sendiri sebagai suatu kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kejujuran (ash-sidqu) berarti benar. Yang dimaksud dengan
kejujuran adalah memberitahukan, menuturkan sesuatu dengan
sebenarnya sesuai dengan kenyataan, sedangkan pemberitahuan
tersebut bukan hanya perkataan saja namun juga termasuk dalam
perbuatan. Sifat jujur merupakan tonggak akhlak yang mendasari
pribadi yang benar bagi seseorang, sedangkan sifat pembohong
merupakan kunci segala perbuatan yang jahat. Sifat jujur tidak dapat
ditanamkan pada anak melainkan hanya dengan keteladanan dan
pembinaan yang terus menerus.23
Dengan demikian kejujuran juga termasuk aspek motorik dalam
kesadaran beragama, karena dengan sikap jujur berarti seseorang
telah bertindak sesuai dengan moralitas agama yang diperintahkan
terhadap umatnya.
Amanahsifat amanah yang dimaksud adalah menjaga
pendengaran, pengucapan, dan penggunaan pandangan mata dari
hal-hal yang dilarang agama. Dalam Al-qur’an surat Al-Isra’ ayat 36
dijelaskan bahwa kita diwajibkan untuk memelihara segala
pendengaran, pengucapan, da perbuatan dari sesuatu yang dilarang
agama, karena apa yang kita dengarkan, segala perkataan, dan
perbuatan nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hari
23
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), h.61.
31
perhitungan. Oleh karena itu kita harus mampu memelihara anggota
badan dari segala perbuatan dosa melalui latihan dan pembiasaan
diri. Dengan demikian sikap Amanah juga termasuk aspek motorik
dalam kesadaran beragama yang harus dimiliki seseorang, karena
dengan memiliki sifat ini seseorang akan terpelihara dari ucapan,
pendengaran, penglihatan, dan segala perbuatan yang dilarang
agama.
Ikhlas yang dimaksud dengan ikhlas adalah berbadah kepada
Allah SWT yang dilandasi kepasrahan diri, melaksanakan segala
yang diperintahkan agama dengan perasaan tulus dan tanpa
mengharap balasan apapun. Sifat ikhlas ini sangat penting bagi
kepribadian seseorang, maka penanaman sifat ikhlas ini harus
diajarkan secara dini dan bertahap terhadap seorang anak.
Tidak sombong dalam agama Islam Allah SWT telah melarang
keras terhadap orang-orag yang sombong, karena orang yang
mempunyai sifat sombong akan merugikan diri sendiri dan
membawa ke jalan kesesatan. Apabila seseorang telah melaksanakan
sifat ini, berarti mereka telah mentaati ajaran agama dan berarti
menunjukkan kesadarannya dalam beragama.
B. Penelitian Yang Relevan
Berdasarkan kajian kepustakaan, berikut dikemukakan beberapa
penelitian yang relevan dengan penelitian ini, antara lain :
32
1. Mahrum, Implementasi Pembelajaran Fiqih Ibadah DalamMeningkatkan
Kesadaran Ibadah Shalat Fardu Peserta Didik (Studi Kasus Di MTs NW
Ijobalit) Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur. Penelitian
ini berbentuk tesis pada tahun 2023. Hasil dari penelitian ini ialah
Implementasi pembelajaran fiqih ibadah di MTs NW Ijobalit sudah
memuat materi yang terfokus pada materi shalat fardu, design
pembelajaran menggunakan acuan Kementrian Agama, metode
pembelajaran menggunakan metode ceramah, demonstrasi dan nasihat,
media pembelajaran menggunakan audio visual dan evaluasi
pembelajaran menggunakan tes yang menjadi acuan dimana tes yang
dimaksud adalah hasil ulangan semester siswa. Terdapat beberapa cara
yang dapat dilakukan dalam menanamkan iman atau meningkatkan
ketaatan beribadah anak didik yaitu, memberikan contoh atau teladan,
membiasakan (tentunya yang baik), menegakkan disiplin, memberikan
motivasi, memberikan hadiah terutama psikologis, menghukum,
24
menciptakan suasana yang berpengaruh bagi pertumbuhan positif.
Adapun perbedaan dan persamaan kedua penelitian dari kajian yang
relevan, ialah :
a. Persamaan
1) Sama- sama meneliti tentang strategi pembelajaran fikih untuk
meningkatkan kesadaran ibadah melalui sholat Fardh (sholat
Dzuhur)
24
Mahrum, Implementasi Pembelajaran Fiqih Ibadah Dalam Meningkatkan Kesadaran Ibadah
Shalat Fardu Peserta Didik (Studi Kasus Di MTs NW Ijobalit) Kecamatan Labuhan Haji
Kabupaten Lombok Timur, (Tesis: UIN Mataram, 2023), h. 147.
33
b. Perbedaan
2) Tempat penelitian
3) Jenis strategi pembelajaran fikih
2. Fatmawati, Strategi Guru Fikih Dalam Meningkatkan Kesadaran
Beribadah Siswa di MTs Ulul Albab Desa Sangga Kecamatan Lamu
Kabupaten Bima. Penelitian ini berbentuk skripsi pada tahun 2022.
Adapun hasil dari penelitian ini, yaitu : strategi guru fikih dalam
meningkatkan kesadaran siswa ialah , strategi pembiasaan, strategi
nasehat, dan strategi hukuman.25Adapun perbedaan dan persamaan kedua
penelitian dari kajian yang relevan, ialah :
a. Persamaan
1) Sama- sama meneliti tentang strategi pembelajaran fikih untuk
meningkatkan kesadaran ibadah melalui sholat Fardh (sholat
Dzuhur)
b. Perbedaan
2) Tempat penelitian
3) Jenis strategi pembelajaran fikih
4) kedua penelitian yang relevan meneliti tentang kesadaran
ibadah, sedangkan peneliti mengkaji mengenai kesadaran
beragama yang tidak hanya berfokus pada ritual keagamaan
saja , melainkan pengaruh dari ibadah tersebut.
25
Fatmawati, Strategi Guru Fikih Dalam Meningkatkan Kesadaran Beribadah Siswa di MTs Ulul
Albab Desa Sangga Kecamatan Lamu Kabupaten Bima, (skripsi : UIN Mataram, 2022),
h.76.
34
Kajian yang relevan ini dibuat untuk membedakan antara penelitian lain
dengan skripsi ini apakah terdapat perbedaan dan persamaan yang signifikan
dengan hasil mengenai Strategi Pembelajaran Fikih Dalam Menumbuhkan
Kesadaran Keagamaan Di MIS NU Po. Manduamas.
C. Kerangka Konseptual
Adapun kerangka konseptual pada penelitian ini ialah variabel yang ada
pada skripsi ataupun tesis relevan dengan variabel masalah yang sedang diteliti
oleh penulis yaitu mengenai strategi pembelajaran Fikih dalam menumbuhkan
kesadaran keagamaan pada diri anak.