BAB II
LANDASAN TEORI
A. Rapat
1. Pengertian Rapat
Rapat merupakan pertemuan atau kumpulan dalam suatu organisasi,
perusahaan, instansi pemerintahan baik dalam situasi formal maupun non
formal untuk membicarakan, merundingkan dan memustuskan suatu masalah
berdasarkan hasil kesepakatan bersama. Beberapa ahli pun mendefinisikan
tentang pengertian rapat diantaranya Hardjana (Reswari, 2013) menyatakan
bahwa “rapat adalah pertemuan sejumlah orang di suatu tempat dalam
jangka waktu tertentu, untuk membahas sesuatu hal secara bersama.”
Kemudian Wursanto (2000:136) bahwa rapat, merupakan suatu bentuk
media komunikasi kelompok yang bersifat tatap muka yang sering
diselenggarakan oleh banyak organisasi, baik swasta maupun pemerintahan.
Rapat merupakan alat untuk mendapatkan mufakat, melalui musyawarah
kelompok dan rapat juga merupakan media pengambilan keputusan secara
musyawarah untuk mufakat.
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa rapat
adalah suatu pertemuan dalam suatu perusahaan, baik dalam situasi formal
atau nonformal untuk membicarakan, membahas serta menyelesaikan suatu
permasalahan berdasarkan kesepakatan bersama demi tercapainya suatu
tujuan.
5
6
2. Fungsi Rapat
Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan oleh sekretaris mengenai
kegunaan dari rapat menurut Hendrarto dan Tulusharyono (2003:168), antara
lain :
a. Forum untuk memecahkan suatu masalah dan mengambil keputusan.
Dalam rapat sangat diperlukan keaktifan dari para peserta, agar tidak
minim pendapat. Pendapat pro dan kontra dari peserta rapat adalah hal
yang wajar, agar rapat dapat berlangsung sesuai dengan tujuan.
b. Saran untuk bernegosiasi, contohnya perusahaan akan melakukan
kerjasama dengan perusahaan lain, harus diadakan proses tawar menawar
dengan perusahaan tersebut hingga kedua belah pihak sepakat, dan tidak
ada yang dirugikan.
c. Alat untuk membuat peserta rapat berpartisipasi pada masalah yang
dikemukakan.
d. Alat koordinasi dan pembentukan tim rapat juga untuk mengkoordinasi
dalam suatu tim guna untuk pembentukan tim yang solid.
e. Media komunikasi
Rapat juga sebagai salah satu alat komunikasi baik komunikasi formal
atau informal.
f. Brainstorming – sumbang saran. Kegunaan rapat juga untuk menampung
saran dari peserta demi kemajuan dalam rapat tersebut maupun untuk
perusahaan.
7
g. Ketentuan hukum/legal dan prosedural rapat dapat juga digunakan untuk
memutuskan suatu ketentuan hukum.
h. Proses demokrasi – dengar – pendapat dan menerima pertanggung
jawaban. Dalam hal ini kegunaan rapat yaitu untuk mendengarkan
pendapat dari peserta dan menerima pertanggung jawaban.
i. Media konsultasi, rapat dapat juga sebagai sarana konsultasi. Karena
dalam rapat antara pemimpin dan peserta diharapkan mempunyai rasa
kekeluargaan, sehingga apabila ada yang sedang berkonsultasi, yang lain
memberikan masukan.
3. Syarat Rapat
Menurut Wahyuni (Reswari, 2013) rapat akan menghasilkan tujuan yang
diharapkan, jika pelaksaannya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Suasana terbuka.
Suasana rapat yang terbuka berarti setiap peserta rapat siap untuk
menerima informasi dari siapa pun. Hindrari sikap saling mencurigai
atau berprasangka negatife diantara sesama peserta rapat. Suasana rapat
yang terbuka akan membangkitkan rasa kekeluargaan dan kerja sama
yang tinggi diantara pasa peserta rapat.
b. Tidak ada monopoli
Dalam suatu rapat, monopoli pembicaraan oleh seorang peserta rapat
atau oleh pimpinan rapat harus dihindari. Hal ini akan menghambat
jalanya rapat karena rapat menjadi kaku dan peserta rapat menjadi pasif
8
(tidak berpartisipasi). Dalam rapat semua pihak yang terlibat mempunyai
hak yang sama dalam mengeluarkan pendapat.
c. Partisipasi aktif dari peserta rapat.
Rapat yang baik apabila para peserta rapat turut aktif dalam memecahkan
permasalahan yang dibahas dalam rapat. Peserta rapat hendaknya
menjadi pendengar yang baik saat diberikan penjelasan-penjelasan dan
harus dapat memberikan sumbangan saran atau pendapat yang positif
saat kegiatan tanya jawab atau diskusi.
d. Bimbingan dan pengawasan dari pimpinan.
Pimpinan rapat harus dapat memberikan bimbingan kepada seluruh
peserta rapat agar mau berperan aktif dalam pelaksanaan rapat. Seorang
pemimpin rapat juga harus dapat memonitori jalanya rapat sehingga
pembahasaan tidak menyimpan dari tujuan rapat.
e. Perdebatan berdasarkan argumentasi bukan emosi.
Dalam sebuah rapat terjadi perdebatan adalah hal yang biasa, namun jika
perdebatan menjadi berkepanjangan dan tidak berdasarkan argumentasi
yang benar akan mengakibatkan suasana rapat menjadi panas dan tegang,
dan akhirnya rapat akan dimonopoli oleh peserta yang saling berdebat,
oleh karena itu hindari perdebatan yang bekepanjangan. Perdebatan
hendaknya berdasarkan alasan-alasan yang kuat atas dasar fakta bukan
emosi.
9
f. Pertanyaan singkat dan jelas.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam rapat hendaknya cukup
singkat, padat, dan jelas sehingga mudah dimengerti oleh seluruh peserta
rapat. Pertanyaan yang berliku-liku atau bertele-tele akan membuat
pertanyaan menjadi tidak jelas dan cukup menyita waktu. Padahal dalam
rapat, waktu sangat berharga sekali.
g. Disiplin waktu.
Membiasakan pelaksanaan rapat sesuai waktu yang telah ditentukan akan
membuat para peserta rapat menjadi lebih disiplin dan pelaksanaan rapat
menjadi lebih tertib.
4. Macam – Macam Rapat
Menurut Hendrarto dan Tulusharyono (2008:168), macam- macam rapat
dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Rapat Formal.
Rapat Formal memiliki aturan/norma yang harus diikuti yang mana
dalam situasi tertentu memiliki status legal/sah menurut hukum, aturan –
aturan, seperti cara mengundang, kourum, atauran pengambil keputusan,
dan pembuatan.
b. Rapat Informal.
Merupakan kebalikan dari rapat formal – tidak memiliki aturan-aturan
yang harus diikuti. Panggilan rapat bisa dilakukan dengan menelepon,
10
tidak ada aturan kuorum dan tak ada notulen yang mencatat hasil rapat
tersebut.
Sedangkan menurut Kamus praktis sekertaris Indonesia dalam Rahardi dan
Indrojiono (2005:193), rapat meliputi beberapa jenis, antara lain:
a. Rapat Akbar atau rapat raksasa, yaitu rapat besar untuk umum, biasanya
diadakan di lapangan terbuka dan luas.
b. Rapat Anggota, yaitu sidang yang diadakan untuk anggota perserikatan,
partai, dan sebagainya.
c. Rapat kerja, yaitu:
1) Sidang untuk membahas suatu masalah yang berkenaan dengan bidang
pekerjaan yang dihadapi; dan
2) Pertemuan para karyawan untuk membahas hal-hal yang berhubungan
dengan pelaksanaan tugas suatu instansi.
d. Rapat kilat, yaitu:
1) Sidang yang berlangsung dengan mendadak; dan
2) Sidang yang berlangsung di waktu singkat.
e. Rapat lengkap, yaitu rapat lengkap anggota dan pimpinan dan merupakan
forum tertinggi dalam melaksanakan wewenang dan tugas.
f. Rapat panipurna, yaitu rapat lengkap anggota dan pimpinan dan merupakan
forum tertinggi dalam melaksanakan wewenang dan tugas.
g. Rapat terbuka, yaitu rapat yang boleh dihadiri oleh semua orang (rapat
umum).
11
h. Rapat tertutup, yaitu rapat yang dihadiri oleh anggota tertentu dan ruang atau
tempatnya tertutup bagi yang tidak berkepentingan.
Macam-macam rapat menurut Ernawati (2004:170) ada dua, yaitu:
a. Rapat tidak resmi (informal meeting)
Rapat tidak resmi adalah rapat kecil dan tidak memerlukan persiapan
istimewa. Biasanya diselenggarakan oleh pimpinan dengan stafnya di ruang
kantor pimpinan atau di ruang rapat. Walaupun rapat kecil, sekertaris harus
tetap mempersiapkan sebaik-baiknya, antara lain:
1) Menghubungi pimpinan unit lain apakah dapat hadir atau tidak pada
rapat yang akan diadakan; dan
2) Memeriksa ruang apakah sudah siap dipakai, termasuk dengan kursi dan
alat-alat yang digunakan dalam rapat.
Dalam rapat tidak resmi, tidak ada aturan ketat seperti dalam rapat resmi.
Biasanya hanya berupa diskusi, saling bertukar pikiran atau informasi, dan
untuk mengakrabkan hubungan antara pimpinan dengan stafnya. Sekertaris
hanya membuat ringkasan sederhana hasil rapat menjadi kesimpulan. Rapat
kecil biasanya diselenggarakan secara periodik untuk keperluan
mengevaluasi kegiatan dan hal-hal yang dianggap perlu dibahas bersama.
Kegiatan seperti ini merupakan saran komunikasi dua arah antara pimpinan
dengan stafnya.
12
b. Rapat resmi (formal meeting)
Rapat resmi adalah rapat yang diselenggarakan untuk membahas masalah-
masalah yang sangat penting dan berlaku peraturan protokol yang mengatur
kelancaran jalanya rapat. Di dalam rapat resmi apabila terjadi perbedaan
pendapat di antara para anggota, maka peraturanya adalah pendapat
mayoritas menjadi keputusan, tetapi minoritas tetap dilindungi dengan
membatasi pembahasan pada pokok-pokok saja dan perlu ditekankan bahwa
semua peserta/anggota diperlakukan sebaik-baiknya.
Menurut Wursanto (2000:134), rapat dapat dibedakan menjadi beberapa macam,
tergantung pada peninjauanya.
a. Menurut tujuanya, rapat dibedakan menjadi rapat penjelasan, pemecahan,
dan perundingan.
1) Rapat penjelasan adalah rapat yang bertujuan untuk memberikan
penjelasan kepada para anggota, tentang kebijaksanaan yang diambil
oleh pimpinan organisasi, misalnya tentang prosedur kerja atau tata cara
kerja baru, untuk mendapat keseragaman kerja.
2) Rapat pemecahan masalah adalah rapat yang bertujuan untuk mencari
pemecahan tentang suatu masalah yang sedang dihadapi. Suatu masalah
dikatakan sebagai problem solving apabila masalah itu pemecahanya
berhubungan dengan masalah-masalah lain yang saling mengait.
13
3) Rapat perundingan, yaitu rapat yang bertujuan menghindari timbulnya
suatu perselisihan, mencari jalan tengah agar tidak saling merugikan
kedua belah pihak.
b. Menurut sifatnya, rapat dibedakan menjadi:
1) Rapat formal, yaitu rapat yang diadakan dengan suatu perencanaan
terlebih dahulu, menurut ketentuan yang berlaku, dan pesertanya secara
resmi mendapat undangan.
2) Rapat informal, yaitu rapat yang diadakan tidak berdasarkan suatu
perencanaan formal. Rapat informal dapat terjadi setiap saat, dengan
siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan kemudian membicarakan suatu
masalah yang mempunyai kepentingan bersama.
3) Rapat terbuka, yaitu rapat yang dapat dihadiri oleh setiap anggota. Materi
yang dibahas bukan masalah yang bersifat rahasia.
4) Rapat tertutup, yaitu rapat yang hanya dihadiri oleh peserta tertentu, dan
biasanya yang dibahas menyangkut masalah – masalah yang masih
bersifat rahasia.
c. Menurut jangka waktunya, dapat dibedakan menjadi:
1) Rapat mingguan, yaitu rapat yang diadakan sekali seminggu untuk
membahas masalah-masalah yang bersifat rutin yang dihadapi oleh
masing-masing manajer.
14
2) Rapat bulanan, yaitu rapat yang diadakan sebulan sekali, setiap akhir
bulan, untuk membahas hal-hal atau peristiwa yang terjadi pada bulan
yang lalu. Misalnya, membahas rugi laba bulan yang lalu.
3) Rapat semesteran, yaitu rapat yang diadakan sekali setiap semester
(setiap enam bulan), yang bertujuan untuk mengadakan evaluasi hasil
kerja sama enam bulan yang lalu, dan mengambil langkah-langkah
selanjutnya, jangka waktu enam bulan berikutnya.
4) Rapat tahunan, yaitu rapat yang diadakan sekali setahun. Misalnya rapat
dewan komisaris, rapat umum pemegang saham.
d. Menurut frekuensinya, dapat dibedakan menjadi:
1) Rapat rutin, yaitu rapat yang sudah ditentukan waktunya (mingguan,
bulanan, tahunan).
2) Rapat incidental, yaitu rapat yang tidak berdasarkan jadwal, tergantung
pada masalah yang dihadapi. Biasanya rapat diadakan apabila masalah
yang dihadapi itu merupakan masalah yang sangat urgent, yang harus
segera dipecahkan bersama.
Demikian pula Sumarto dan Dwiantara (2000:90), rapat dapat dibedakan
menurut hal-hal berikut ini.
a. Berdasarkan tujuan, rapat dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
1) Rapat untuk menyajikan berita atau informasi, rapat ini bisa
diselenggarakan apabila pimpinan atau pihak manajemen ingin
menginformasikan kebijakan baru dan sebagian atau semua orang dalam
15
perusahaan perlu mengetahuinya. Walaupun rapat ini sifatnya hanya
penyampian informasi, tidak menutup kemungkinan menjadi diskusi atau
bahkan bargaining kepentingan, sehingga pimpinan hendaknya juga
mempersiapkan argumentasi sehubungan dengan rencana dan
pelaksanaan kebijakan baru tersebut.
2) Rapat untuk pemecahan masalah, rapat ini diadakan bila ada masalah
yang harus dipecahkan dan kemudian dicari jalan keluarnya. Para peserta
rapat diharapkan dapat membantu memecahkan masalah. Untuk itu pihak
manajemen:
a) Harus mengidentifikasi masalah dengan jelas dan lengkap
b) Dituntut untuk membuat alternatif solusi pemecahan masalah bila
rapat mengalami dead lock.
3) Rapat untuk mengambil keputusan, rapat ini serupa dengan rapat untuk
memecahkan masalah. Dalam rapat ini peserta juga aktif menuangkan
gagasannya, dan bila perlu berdebat. Perbedaan dengan rapat
pemecahaan masalah setelah dicapai konsensus kemudian diidentifikasi
pemecahan masalah yang disepakati, sedangkan dalam rapat ini pada
akhir rapat diambil suatu keputusan.
b. Berdasarkan perencanaanya, rapat dapat dibedakan menjadi dua macam:
1) Rapat formal, adalah rapat yang telah direncanakan sebelumnya,
sehingga juga ada pemberitahuan kepada orang-orang yang diundang.
Dengan demikian, peserta rapat bisa mengetahui apa yang akan dibahas
16
dan mempersiapkan materi tersebut, tak perlu bertanya-tanya lagi tentang
masalah yang akan dibahas.
2) Rapat informal, rapat ini diselenggarakan tanpa dipersiapkan terlebih
dahulu, karena rapat ini membahas masalah yang mendadak ada. Peserta
rapat pada umumnya tidak siap dengan materi yang akan dibahas,
bahkan pemberitahuannya secara langsung atau lisan secara mendadak.
c. Berdasarkan periodisasi, sekurang-kurangnya rapat dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu rapat berkala dan rapat khusus.
1) Rapat berkala (regular meeting), yaitu rapat yang diadakan menurut
jangka waktu tertentu, misalnya satu minggu sekali, satu bulan sekali,
atau tiga bulan sekali pada waktu dan tempat tertentu. Rapat ini
digunakan untuk membahas masalah-masalah rutin dalam organisasi,
misalnya rapat koordinasi antara satuan-satuan organisasi.
2) Rapat khusus (temporary meeting), yaitu rapat yang diadakan di luar
rapat berkala. Rapat ini diselenggarakan untuk mengatasi permasalahan
yang sifatnya mendadak atau untuk mengatasi pertentangan atau
kesalahpahaman dan dipandang harus diselesaikan secepatnya, tidak
dapat ditunda menunggu rapat berkala atau rapat rutin.
d. Berdasarkan pesertanya, rapat sekurang-kurangnya dapat dibedakan menjadi
dua, yakni vertikal dan horizontal.
1) Rapat vertikal, merupakan rapat yang berlangsung antara atasan dan
bawahan. Dalam rapat ini ide-ide bawahan untuk menyelesaikan suatu
17
masalah organiasi diharapkan muncul, sehingga dapat bermanfaat dalam
pengambilan keputusan. Bagaimanapun juga, untuk mencapai tujuan
organisasi tanggung jawab tidak hanya di puncak pimpinan, tetapi juga
pada seluruh personil yang ada.
2) Rapat horizontal, merupakan rapat yang diadakan antara pejabat yang
sedrajat. Biasanya rapat ini diselenggarakan untuk membicarakan
masalah-masalah yang memerlukan koordinasi antar bagian dalam
organiasi dan pengembangan organiasi.
e. Berdasarkan tingkat urgensinya, rapat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
rapat biasa dan rapat penting.
1) Rapat biasa, yaitu rapat yang diadakan untuk membahas masalah-
masalah yang dianggap masalah biasa. Rapat ini dapat berupa rapat
memberi informasi pada anggota suatu organisasi ataupun rapat
koordinasi.
2) Rapat penting, yaitu rapat yang dilaksanakan untuk membahas hal-hal
dan masalah-malah yang dipandang penting bagi kemajuan lembaga, dan
biasanya rapat ini akan menghasilkan keputusan yang akan membawa
dampak bagi anggota organisasi maupun organisasi itu sendiri.
f. Berdasarkan jumlah anggota yang hadir, di dalam bahasa Inggris disebut
dengan istilah:
1) Small meeting, yakni rapat yang hanya dihadiri anggota
organisasi/perusahaan tertentu dan pelaksanaanya tidak rumit
18
2) Large meeting, yakni rapat yang melibatkan jumlah anggota rapat yang
banyak dan membutuhkan persiapan dan pelayanan yang cukup sulit.
Jumlah anggota rapat yang sedikit atau banyak, sebetulnya berbeda-beda.
diantara suatu organisasi/perusahaan yang satu dengan yang lain. Bagi
organisasi/perusahaan yang memiliki anggota atau karyawan total 100 orang,
maka rapat yang diadakan untuk 50 orang disebut large meeting. Namun
sebaliknya, bila organisasi/perusahaan yang memiliki 500 orang/karyawan
mengundang rapat untuk 50 orang, bisa dianggap itu adalah small meeting.
Berdasarkan uraian di atas, selanjutnya dapat dibuat suatu ikhtisar
tentang macam-macam rapat seperti pada Gambar 2.1.
Sumber : Hendarto dan Tulusharyono (2008)
Gambar 2.1 Ikhtisar Berbagai Macam Rapat
19
5. Tujuan Rapat
Rahardi dan Indrojiono (2005:195) berpendapat, bahwa secara garis besar
rapat mempunyai tujuan, yaitu :
a. Menyampaikan suatu atau beberapa informasi.
Dalam keadaan tertentu, seseorang pimpinan atau pejabat ingin
menyampaikan informasi secara langsung akan menimbulkan salah
persepsi bagai pegawai atau karyawannya.
b. Mendapatkan masukan dari anggota rapat.
Apabila perusahaan atau organisasi mengalami kesulitan terhadap
masalah tertentu, misalnya masalah mengenai semua karyawan atau
pegawai. Agar keputusan yang diambil tidak berat sebelah, maka
masukan dari semua anggota dibutuhkan sekali.
c. Melibatkan beberapa orang yang memiliki kemampuan tertentu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi, sehingga diharapkan masalah dapat
segera diatasi.
d. Menjalin kerja sama di antara anggota untuk membentuk suatu sikap
yang diinginkan. Dalam setiap bagian, bila tidak saling bertemu maka
dimungkinkan sekali hanya memikirkan pekerjaan mereka sendiri.
Dengan adanya rapat tersebut diharapkan mereka akan memperhatikan
kepentingan bagian lainnya.
e. Menyampaikan masalah, keadaan tertentu, komplain, dan lain-lain.
Banyak hal yang dapat disampaikan secara terbuka dalam rapat, jika kita
20
dapat memanfaatkan hal ini, maka akan banyak waktu yang dihemat
melalui rapat.
f. Memberi motivasi atau semangat kerja kepada anggotanya. Perusahaan
dapat menghemat waktu dalam memotivasi karyawan atau pegawai
asalkan mereka dalam keadaan normal tidak ada masalah yang krusial.
g. Mengambil keputusan sesuai dengan kewewenangan dari orang-orang
yang terlibat didalamnya.
Sedarmayanti (2005:112) juga menyatakan bahwa rapat perlu
diselenggarakan antara lain karena:
a. Untuk memecahkan masalah.
b. Untuk menyampaikan informasi.
c. Membuat peserta rapat berpartisipasi pada masalah yang dikemukakan.
d. Sebagai alat koordinasi yang baik antara peserta dan perusahaan.
Selanjutnya menurut Sedarmayanti (2005:111), dalam
menyelenggarakan rapat hendaknya berdasarkan prinsip dadar dengan cara
menjawab enam pertanyaan pokok yang disebut dengan lima “W” dan satu
“H” (5 W dan 1 H), yaitu:
a. Why : Mengapa rapat perlu diselenggarakan. Hal ini untuk menentukan
pentingnya rapat.
b. What : apa masalah yang akan dibicarakan dalam rapat. hal ini perlu
untuk menyiapkan agenda rapat.
c. Who : Siapa yang akan diundang. Peserta yang diundang hendaknya
21
sesuai dengan masalah yang akan dibicarakan.
d. Where : Di mana sebaiknya rapat diselenggarakan.
e. When : Kapan sebaiknya rapat diselenggarakan. Ini menyangkut hari dan
waktu yang dianggap paling sesuai bagi seluruh calon peserta rapat.
f. How : Bagaimana rapat akan diselenggarakan. Apakah rapat akan
diselenggarakan :
1) Secara berkala atau cukup sekali.
2) Tertutup atau terbuka.
3) Bahan rapat akan dibagi terlebih dahulu atau tidak.
4) Memerlukan overhead projector, atau lainnya.
B. Peran Sekretaris dalam Pengelolaan Rapat
1. Perencanaan Rapat
Menurut Priansa (2014 : 368) Rapat yang berlangsung baik, dilaksanakan
dengan persiapan yang baik pula. Berikut ini disajikan beberapa penjelasan
tentang beberapa tahapan dalam penyelanggaraan rapat :
a. Membuat Surat Undangan Rapat.
Undang dibuat jauh hari sebelum rapat dimulai. Undangan rapat yang
akan dikerjakan lengkap berisi :
1) Judul atau tema rapat.
2) Hari, tanggal, dan Jam.
3) Tempat rapat.
4) Acara rapat atau bahan (materi) yang akan dibahas di dalam rapat.
22
b. Persiapan Ruangan Rapat.
Pengaturan tata ruang rapat yang baik sangat besar pengaruhnya terhadap
keberhasilan dalam rapat. tata ruang rapat harus disesuaikan dengan
jumlah peserta rapat dan maksud rapat. Penataan ruang rapat menjadi
perhatian sekretaris dalam rangka persiapan rapat.
c. Alat – alat tulis.
Dalam rapat-rapat yang cukup besar perlengkapan alat-alat tulis sangat
penting. Alat-alat tulis yang diperlukan pada saat rapat diantaranya :
1) Map dan kertas HVS.
2) Jadwal rapat.
3) Dokumen yang akan dibahas dalam rapat.
4) Peralatan menulis.
5) Buku note.
6) Dan kebutuhan lainnya sesuai dengan kepentingan rapat itu sendiri
d. Perlengkapan rapat.
Komputer atau laptop, sistem suara, infokus, video, whiteboard, alat
perekam, dan peralatan lainnya yang sangat membantu keberhasilan
rapat. Agar rapat berjalan lancar, pastikan peralatan-peralatan tersebut
siap dipakai sebelum rapat berlangsung.
23
e. Akomodasi.
Untuk penyelenggara rapat yang cukup lama, maka perlu dipersiapkan
akomodasi antara lain, hotel atau penginapan, dan transportasi untuk para
peserta rapat.
f. Konsumsi.
Hidangan makanan dan minuman (kopi, air putih) saat peserta datang
akan menimbulkan kesan penyambutan yang baik. Pelayanan dan
penyajian minuman dan makanan sebaiknya :
1) Tidak menggangu jalannya rapat.
2) Memperhatikan kebersihan.
e. Kesehatan.
Kesehatan penyelenggara rapat yang cukup lama perlu disediakan
ruangan kesehetan untuk mencegah terhambatnua pelaksanaanya rapat
akibat ada peserta yang sakit. Maka, faktor kesehatan peserta rapat perlu
diperhatikan. Agar lebih jelas, dibawah ini dibuat bagan persiapan
penyelenggaraan rapat sebagai berikut :
2. Pelaksanaan Rapat
Berikut ini menurut Priansa (2014 : 368) yang beberapa kegiatan teknis
berkenaan dengan berlangsungnya rapat.
a. Membuka rapat.
Hal-hal yang harus dikemukakan dalam membuka sebuah rapat adalah :
24
1) Acara tepat .
2) Tata tertib rapat (bersifat fleksible).
3) Motivasi (pentingnya masalah yang akan dibahas).
4) Pengenalan masalah atau persoalan masalah yang akan dibahas.
5) Tujuan diadakanya rapat.
6) Tanggapan-tanggapan atau saran.
b. Berlangsungnya rapat.
Selama rapat berlangsung pemimpin rapat harus dapat mengatur jalanya
rapat agar tertib. Masalah yang dihadapi dalam rapat harus dapat diatasi,
seperti terjadinya perdebatan yang bekepanjangan, adanya monopoli
pembicaraan oleh salah seorang peserta rapat, tidak konsentrasinya
peserta rapat dan sebagainya.
Selama rapat berlangsung sekretaris bertanggung jawab untuk membuat
catatan pelaksanaan rapat. bentuk catatannya disesuaikan dengan
keinginan pimpinan rapat. Ada dua bentuk catatan rapat, yaitu :
1) Verbatim.
Catatan lengkap semua pembicaraan dalam rapat yang diberi tanda
ditambahi ataupun dikurangi.
2) Notula.
Catatan yang berisi pokok-pokok pembicaraan yang dibahas dalam
rapat.
25
c. Menutup rapat.
Rapat yang telah berlangsung beberapa waktu, pada akhirnya akan
ditutup. Apabila dalam rapat belum ditemukan keputusan, maka
pemimpin rapat dapat menunjuk tim khusus untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Akan tetapi, bila dalam rapat menyelesaikan masalah
tersebut tidak ditemukan hambatan dan telah menghasilkan keputusan
maka di akhir rapat, pemimpin rapat dapat membacakan hasil dari
pertemuan/rapat tersebut dan memberikan kesempatan bagi peserta rapat
untuk mengemukakan hal-hal yang sekiranya belum tercakup dalam hasil
keputusan rapat. setelah tidak ada lagi permasalahan, maka pemimpin
rapat dapat menutup rapat.
3. Penyelesaian Rapat
a. Notulen Rapat.
Notulen Rapat menurut Hendarto dan Tulusharyono (2008:168) Notulen
rapat adalah catatan singkat/risalah/pokok yang dibicarakan dalam sebuah
rapat.
Dalam membuat notulen rapat :
1) Mengetahui tema dan tujuan rapat.
Hal-hal yang tidak berkaitan dengan tema rapat tidak perlu dicantumkan.
Tujuan rapat digunakan apakah sumbangan pikiran yang diberikan sesuai
dan harus dicantumkan dalam notulen atau tidak.
26
2) Dengan memperhatikan tema dan tujuan rapat, mahir menilai dan sigap
menangkap hal – hal penting yang muncul dan menulisnya dengan cepat.
3) Pandai mengeolah pendapat menjadi kesimpulan.
4) Berkonsentrasi pada pembicara yang sedang berlangsung sehingga tidak
ada hal penting yang terlewatkan.
5) Pandai dan jelas dalam memilih kata yang tepat serta bahasa yang logis
dan efektif sehingga benar-benar sesuai dengan yang dimaksud.
6) Cepat mengetahui nama-nama peserta yang hadir.
7) Berani bertanya bila ada hal yang kurang jelas.
8) Hati-hati dan teratur dalam menyimpan semua dokumen dan notulen
sehingga mudah dicari bila diperlukan, tetapi tidak mudah ditemukan
oleh yang tidak berwenang membacanya.
Sedangkan menurut Priansa (2014 : 368) Notulen bermakna catatan
singkat mengenai jalanya persidangan (rapat) serta hal yang dibicarakan dan
diputuskan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berdasarkan pengertian tersebut,
maka notula bisa digunakan sebagai buki telah diadakanya suatu rapat, bisa pula
digunakan sebagai bukti telah diadakanya suatu rapat, bisa pula digunakan
sebagai manometer atau ukuran kesuksesan rapat. apakah semua tujuan rapat
yang tertuang dalam notula telah berhasil dilaksanakan atau tidak, dan juga
notulen rapat dapat digunakan sebagai acuan jika akan diadakan pembahasan
mengenai kegiatan dalam notulen tersebut.
27
Notulen ditulis oleh seorang notulis, yang akan dilaporkan oleh ketua
kegiatan, dan akan dipertanggungjawabkan suatu saat pada seluruh anggota atau
peserta acara. Persyaratan menjadi seorang notulis adalah :
1) Mampu melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu mendengar dan menulis.
2) Kemampuan untuk memilih bagian yang penting dan yang tidak penting.
3) Kemampuan untuk berkonsentrasi.
4) Kemampuan untuk menyesuaikan diri, kemampuan melapor secara netral.
5) Memahami bahasa teknik, dan menguasai materi pembahasan.
6) Kemampuan mengetahui kebutuhan pembaca.
7) Mendengarkan dengan maksud menemukan sesuatu.
8) Kemampuan menulis cepat.
9) Mampu mengemukakan pikiran secara tepat.
10) Menguasai metode mencatat.
11) Menguasai berbagai metode pengelolahan data.
12) Mengenal berbagai struktur rapat.
Notulis memiliki sejumlah kepentingan yang berhubungan dengan tugas
yang diembannya. Beberapa kepentingan notulis antara lain :
1) Sebelum rapat
Memperoleh informasi mengenai latar belakang materi yang akan disajikan
dalam rapat.
28
2) Pada saat rapat berlangsung
a) Meminta perumusan yang jelas mengenai tujuan rapat apabila belum
mendapatkannya.
b) Menerima semua dokumen yang dibagikan pada saat rapat.
c) Memberi saran kepada ketua sidang apabila ada kekacuan dalam
berlangsungnya rapat.
d) Duduk di dekat ketua sidang.
e) Pembebasan dari tugas lain.
3) Sesudah rapat
a) Mendapatkan waktu yang cukup untuk menglola catatan.
b) Berhak atas persediaan para peserta rapat, mendapatkan informasi
tambahan rapat.
Susunan notulen disajikan agar para notulis dapat dengan mudah
mengerti bagaimana cara penulisan notulen dengan baik dan benar.
Selain itu, juga agar notulen dapat tersusun dengan rapi dan sistematis.
Berikut ini disajikan susunan notulen rapat yang disajikan secara
sedarhana :
(1) Bagian kepala notulen
Kepala notulen merupakan bagian-bagian yang pertama kali
harus diingat dalam penulisan tanpa tertinggal. Adapun kepala
notulen terdiri atas :
29
(a) Nama atau tema yang akan dibahas.
(b) Hari dan tanggal acara dilaksanakan.
(c) Waktu (jam) pelaksanaan acara.
(d) Tempat pelaksanaan acara.
(e) Acara saat berlangsung.
(f) Unsur-unsur yang terlibat dalam rapat, yaitu : ketua, wakil
ketua, sekretaris, notulis, dan peserta.
(2) Bagian isi notulen
Isi notulen merupakan suatu bagian dari susuan notulen yang
isisnya berupa hal-hal yang dianggap penting dalam kegiatan
tersebut, tanpa ada yang tertinggal. Maksud dari pembuatam isi
notulen adalah agar dapat membedakan dari susunan matematis
dalam notulen tersebut. Adapaun susunan sistematika dalam
penulisan notulen adalah :
(a) Kata pembukaan.
(b) Pembahasan.
(c) Pembacaan keputusan dari hasil.
(d) Waktu (jam) penutupan.
(3) Bagian akhir notulen
Bagian akhir dari notulen merupakan penulisan atau penjelasan
tentang hal-hal yang berada pada khir penulisan notulen. Namun,
walaupun letaknya di akhir, pengertian dan kedudukanya sangat
30
penting dalam penulisan notulen. Susunan sistematika dari bagian
akhir notulen antara lain :
(a) Nama jabatan.
(b) Tanda tangan.
(c) Nama pejabat dan jabatanya.
(4) Penandatanganan
Penandatanganan merupakan kumpulan tanda tangan orang-orang
yang dianggap penting terhadap pertanggung jawaban acara yang
dilaksanakan. Notulen yang ditandatangani oleh pejabat di
lingkungan sekretariat daerah dibuat dalam kertas ukuran folio
dengan menggunakan kop naskah dinas sekretariat. Sementara
notulen yang ditandatangani oleh pejabat di lingkungan satuan
organisasi dibuat dalam kertas ukuran folio, dengan
menggunakan kop naskah dinas satuan organisasi yang
bersangkutan. Notulen ditandatangani oleh ketua, wakil ketua,
sekretaris, dan notula.