0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan53 halaman

Pancasila dan Kehidupan Sehari-hari

Diunggah oleh

websdn3purwosari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan53 halaman

Pancasila dan Kehidupan Sehari-hari

Diunggah oleh

websdn3purwosari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul Ajar Pendidikan Pancasila

Pendekatan Deep Learning

A. Identitas Penulis
 Nama Penyusun: Umar Tholib
 Satuan Pendidikan: SDN Karangsari 02
 Tahun Ajaran: 2025/2026
 Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
 Fase: C
 Kelas/Semester: 6/1
 Alokasi Waktu: 18 JP

B. 8 Dimensi Profil Kelulusan


 [✓] Keimanan dan Ketakwaan: Memiliki keyakinan yang kuat kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan
sehari- hari.
 [✓] Kewargaan: Menjadi warga negara yang bertanggung jawab,
menghargai keberagaman, dan aktif berpartisipasi dalam kehidupan
bermasyarakat.
 [✓] Penalaran Kritis: Mampu berpikir logis, analitis, dan sistematis
dalam memecahkan masalah serta membuat keputusan.
 [✓] Kreativitas: Mampu menghasilkan gagasan orisinal, berinovasi,
dan menemukan solusi baru.
 [✓] Kolaborasi: Mampu bekerja sama dengan orang lain secara
efektif, menghargai perbedaan pendapat, dan mencapai tujuan
bersama.
 [✓] Kemandirian: Memiliki inisiatif, bertanggung jawab atas tindakan,
dan mampu belajar secara mandiri.
 [ ] Kesehatan: Menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menunjang
aktivitas belajar dan kehidupan.
 [✓] Komunikasi: Mampu menyampaikan ide dan informasi secara
lisan maupun tulisan dengan jelas, efektif, dan santun.

C. 7 Kegiatan Anak Indonesia Hebat


Guru dapat menanyakan tentang pelaksanaan 7 kegiatan Anak Indonesia Hebat
kepada peserta didik melalui berbagai cara yang mendorong refleksi dan
berbagi pengalaman, seperti:
1. Bangun Tidur: "Anak-anak, siapa yang tadi pagi bangunnya semangat?
Coba ceritakan, apa yang pertama kali kalian lakukan setelah bangun tidur?"
2. Beribadah: "Setelah bangun, apakah kalian menyempatkan diri untuk
beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing? Bagaimana rasanya
setelah beribadah?"
3. Berolahraga: "Selain ibadah, apakah ada yang suka bergerak atau
berolahraga di pagi hari? Olahraga apa yang kalian lakukan dan
bagaimana dampaknya untuk tubuh kalian?"
4. Gemar Belajar: "Bagaimana dengan semangat belajar kalian hari ini?
Ceritakan, pelajaran apa yang paling kalian sukai dan bagaimana
kalian mempelajarinya di rumah?"
5. Makan Sehat dan Bergizi: "Saat sarapan tadi, makanan apa yang
kalian santap? Apakah makanan itu sehat dan bergizi agar kalian punya
energi untuk belajar?"
6. Bermasyarakat: "Apakah kalian pernah membantu orang tua atau tetangga
di rumah? Kegiatan apa yang kalian lakukan untuk berinteraksi dengan
lingkungan sekitar?"
7. Tidur Cepat: "Semalam, apakah kalian tidur cukup dan tidak terlalu
malam? Mengapa tidur yang cukup itu penting untuk kesehatan dan
konsentrasi belajar kita?"

D. Capaian dan Tujuan Pembelajaran


Capaian Pembelajaran:

Elemen: Pancasila

Peserta didik memahami kronologi sejarah kelahiran Pancasila; meneladani sikap


para perumus Pancasila dan menerapkan di lingkungan masyarakat;
menghubungkan sila-sila dalam Pancasila sebagai suatu kesatuan yang utuh,
menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup,
dan ideologi bangsa dan negara.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan


mampu:

1. Menganalisis kronologi sejarah perumusan dan kelahiran Pancasila dengan


benar.
2. Mengidentifikasi tokoh-tokoh perumus Pancasila dan meneladani sikap
patriotisme serta semangat gotong royong mereka.
3. Menghubungkan keterkaitan antar sila dalam Pancasila sebagai satu
kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan.
4. Menguraikan makna nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara Republik
Indonesia.
5. Menjelaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang
membimbing dalam bersikap dan bertindak.
6. Menganalisis peran Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara
yang mempersatukan keberagaman.
7. Menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
sekolah dan masyarakat.
E. Sarana dan Prasarana
1. Papan tulis/Whiteboard dan spidol
2. Proyektor dan layar
3. Laptop/Komputer
4. Buku teks Pendidikan Pancasila kelas 6
5. Gambar atau poster pahlawan perumus Pancasila

F. Target Peserta Didik


Peserta didik reguler/tipikal yang tidak memiliki kesulitan dalam mencerna dan
memahami materi ajar.

G. Model Pembelajaran
Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) dengan pendekatan deep
learning.

Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, role-playing,


penugasan individu.

Pendekatan deep learning dalam PBL akan mendorong peserta didik untuk tidak
hanya menghafal fakta, tetapi juga memahami konsep secara mendalam,
mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, dan menerapkan
pemahaman tersebut dalam konteks nyata.

H. Pertanyaan Pemantik
Mindful Learning:
 "Coba pejamkan mata sejenak, bayangkan sebuah negara yang aman
dan damai. Menurut kalian, apa yang membuat negara itu bisa damai dan
bersatu?"
 "Apa yang kalian rasakan ketika mendengar kata 'Pancasila'? Adakah
hubungan Pancasila dengan kehidupan kalian sehari-hari?"
Meaningful Learning:
 "Mengapa penting bagi kita untuk mengetahui sejarah lahirnya Pancasila?
Apa hubungannya dengan kehidupan kita saat ini?"
 "Menurut kalian, jika tidak ada Pancasila, apa yang akan terjadi dengan
bangsa Indonesia yang sangat beragam ini?"
Joyful Learning:
 "Jika kalian bisa menjadi salah satu tokoh perumus Pancasila, kira-kira apa
ide atau nilai yang ingin kalian sumbangkan?"
 "Bagaimana cara kita sebagai anak Indonesia bisa membuat Pancasila 'hidup'
dalam perbuatan sehari-hari, agar Pancasila tidak hanya dihafal tapi juga
diamalkan?"
I. Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu Total: 18 JP (asumsi 1 JP = 35 menit)

Pembagian Pertemuan: Disesuaikan dengan jumlah jam pelajaran, misalnya 6


pertemuan @ 3 JP.

Pertemuan 1: Sejarah Kelahiran Pancasila (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek
kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menampilkan gambar atau video singkat tentang
perjuangan kemerdekaan Indonesia. . Guru mengajukan pertanyaan
pemantik "Mindful Learning" untuk mengaktifkan perhatian peserta didik.
3. Motivasi: Guru menjelaskan pentingnya memahami sejarah Pancasila
sebagai dasar negara.
4. Orientasi Masalah (PBL): Guru menyampaikan bahwa hari ini mereka akan
berperan sebagai "detektif sejarah" untuk mencari tahu bagaimana Pancasila
lahir.
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik dibagi menjadi kelompok-
kelompok kecil (4-5 orang).
2. Bimbingan Penyelidikan: Guru menyediakan berbagai sumber belajar (buku
teks, artikel singkat, infografis, atau video edukasi) tentang kronologi
perumusan dan kelahiran Pancasila, termasuk peran BPUPKI dan PPKI.
3. Diskusi Kelompok (Aktif & Kolaboratif): Setiap kelompok menganalisis
sumber-sumber tersebut untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan seperti: "Siapa saja tokoh yang berperan penting dalam
perumusan Pancasila?", "Kapan dan di mana Pancasila lahir?", "Bagaimana
proses perumusan Pancasila?", "Sikap apa yang bisa kita teladani dari para
perumus Pancasila?". Peserta didik didorong untuk saling berbagi informasi
dan berdiskusi secara aktif. Guru berkeliling membimbing dan memfasilitasi
diskusi.
4. Presentasi Hasil Diskusi (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok diminta
membuat mind map atau poster sederhana yang menggambarkan kronologi
sejarah kelahiran Pancasila dan tokoh-tokohnya. Mereka kemudian
mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Guru memberikan penguatan.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Guru meminta beberapa peserta didik
menyampaikan refleksi singkat tentang pembelajaran hari ini: "Apa hal baru
yang kalian pelajari tentang Pancasila hari ini?", "Bagaimana perasaan kalian
setelah belajar tentang sejarah Pancasila?".
2. Pemberian Tugas: Peserta didik diminta mencari tahu lebih lanjut tentang
salah satu tokoh perumus Pancasila dan meneladani sikapnya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran dengan salam.

Pertemuan 2: Pancasila sebagai Satu Kesatuan Utuh (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meninjau kembali materi sebelumnya tentang kelahiran
Pancasila. Guru memutarkan lagu nasional yang berkaitan dengan persatuan.
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa Pancasila bukan hanya kumpulan sila,
tetapi satu kesatuan yang utuh.
4. Orientasi Masalah (PBL): Guru menunjukkan gambar pohon dengan akar,
batang, dan ranting. Guru bertanya: "Apa yang terjadi jika akar, batang,
atau ranting tidak lengkap pada pohon ini? Apakah Pancasila juga seperti
itu?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik tetap dalam kelompok yang
sama.
2. Bimbingan Penyelidikan: Guru menyediakan kartu-kartu berisi potongan
teks atau gambar yang merepresentasikan masing-masing sila Pancasila.
Setiap kelompok diminta untuk menganalisis hubungan antar sila, misalnya
bagaimana sila Ketuhanan Yang Maha Esa berkaitan dengan Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.
3. Diskusi Kelompok (Aktif & Kolaboratif): Kelompok mendiskusikan
bagaimana sila-sila Pancasila saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Mereka
diminta untuk menemukan contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari
yang menunjukkan keterkaitan antar sila.
4. Permainan "Rantai Sila" (Bermakna & Menyenangkan): Setiap kelompok
membuat "rantai sila" dari potongan kertas, di mana setiap potongan adalah
satu sila dan mereka harus menjelaskan bagaimana sila satu berhubungan
dengan sila berikutnya. Kemudian, mereka mempresentasikan rantai sila
mereka. Guru memberikan contoh konkret untuk memperdalam pemahaman.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menuliskan satu kalimat yang
paling menggambarkan "Pancasila sebagai satu kesatuan utuh" di kertas
post-it dan menempelkannya di papan tulis.
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mencari berita atau artikel yang
menunjukkan implementasi salah satu sila Pancasila dan bagaimana
sila tersebut berkaitan dengan sila lainnya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 3: Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pandangan Hidup


(3 JP)
Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meminta peserta didik menyebutkan kembali kelima
sila Pancasila dan bertanya "Mengapa kita harus tahu dan memahami
Pancasila?".
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa Pancasila adalah fondasi negara
dan pedoman hidup.
4. Orientasi Masalah (PBL): Guru menyajikan sebuah kasus sederhana
tentang masalah di masyarakat (misalnya, masalah sampah yang
menumpuk). Guru bertanya: "Bagaimana Pancasila dapat membantu
kita menyelesaikan masalah ini?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik bekerja secara individu atau
berpasangan.
2. Bimbingan Penyelidikan: Guru memberikan materi bacaan atau infografis
tentang makna Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup.
Peserta didik diminta untuk mengidentifikasi poin-poin penting.
3. Diskusi dan Analisis (Aktif & Bermakna): Peserta didik mendiskusikan
makna dari "dasar negara" dan "pandangan hidup". Mereka juga diminta
untuk memberikan contoh nyata bagaimana Pancasila menjadi dasar dalam
pembuatan peraturan dan kebijakan di Indonesia, serta bagaimana
Pancasila membimbing sikap dan perilaku individu dalam kehidupan sehari-
hari.
4. Role-Playing (Bermakna & Menyenangkan): Guru menyiapkan beberapa
skenario singkat yang menggambarkan situasi sehari-hari (misalnya, memilih
ketua kelas, menyelesaikan konflik antarteman, menjaga kebersihan
lingkungan). Peserta didik secara berpasangan atau kelompok kecil
melakukan role-playing untuk menunjukkan bagaimana mereka akan
bertindak berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik secara bergantian
menyebutkan satu hal yang akan mereka lakukan hari ini atau besok sebagai
wujud pengamalan Pancasila sebagai pandangan hidup.
2. Pemberian Tugas: Peserta didik membuat jurnal singkat tentang bagaimana
mereka menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan sehari-hari di
rumah.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 4: Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menampilkan beberapa simbol negara atau lambang
yang mewakili ideologi suatu negara (misalnya, bendera, lambang negara).
Guru bertanya: "Apa yang dimaksud dengan ideologi? Mengapa negara
membutuhkan ideologi?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan pentingnya Pancasila sebagai ideologi
yang menyatukan bangsa Indonesia yang beragam.
4. Orientasi Masalah (PBL): Guru mengajukan pertanyaan "Meaningful
Learning": "Menurut kalian, jika tidak ada Pancasila, apa yang akan terjadi
dengan bangsa Indonesia yang sangat beragam ini?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik dalam kelompok.
2. Bimbingan Penyelidikan: Guru menyediakan teks singkat atau video
penjelasan tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara. Peserta
didik menganalisis mengapa Pancasila sangat cocok untuk Indonesia yang
multikultural.
3. Diskusi Kelompok (Aktif & Kolaboratif): Kelompok mendiskusikan peran
Pancasila dalam mempersatukan keberagaman suku, agama, dan budaya di
Indonesia. Mereka juga mencari contoh-contoh tantangan yang mungkin
dihadapi jika tidak ada ideologi pemersatu.
4. Debat Sederhana (Aktif & Bermakna): Guru membagi kelas menjadi dua
kubu: pro dan kontra terhadap pentingnya ideologi dalam suatu negara.
Peserta didik diminta untuk mempertahankan argumen mereka dengan dasar
Pancasila. Guru berperan sebagai moderator. Ini melatih penalaran kritis dan
kemampuan komunikasi.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menuliskan satu kalimat
pendek tentang "Mengapa Pancasila adalah ideologi yang paling tepat
untuk Indonesia?".
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mencari berita atau contoh kasus yang
menunjukkan tantangan terhadap persatuan bangsa dan bagaimana
Pancasila dapat menjadi solusi.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 5: Penerapan Nilai-nilai Pancasila (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meminta peserta didik menyebutkan salah satu
nilai Pancasila yang paling mereka ingat.
3. Motivasi: Guru menekankan bahwa pemahaman tanpa penerapan adalah
sia-sia.
4. Orientasi Masalah (PBL): Guru memutar video singkat tentang perilaku
positif atau negatif di lingkungan masyarakat. Guru bertanya: "Perilaku mana
yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila? Bagaimana cara kita
mengembangkan perilaku positif itu?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik bekerja dalam kelompok.
2. Bimbingan Penyelidikan: Guru memberikan "Kartu Situasi" yang berisi
berbagai skenario kehidupan sehari-hari (di sekolah, rumah, masyarakat).
Setiap skenario mengandung dilema atau tantangan yang membutuhkan
penerapan nilai Pancasila.
3. Diskusi Kasus (Aktif & Bermakna): Setiap kelompok memilih beberapa
Kartu Situasi dan mendiskusikan bagaimana mereka akan bertindak
sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Mereka harus menjelaskan sila mana
yang relevan dan mengapa.
4. Proyek Mini "Pahlawan Pancasila Cilik" (Kreatif & Kolaboratif): Setiap
kelompok merencanakan sebuah aksi sederhana di lingkungan sekolah atau
rumah yang menunjukkan pengamalan salah satu nilai Pancasila (misalnya,
"Gerakan Memungut Sampah Bersama", "Aksi Berbagi Makanan Sehat",
"Kampanye Anti-Bullying"). Mereka membuat rencana aksi dan
menuliskannya di papan presentasi.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Setiap kelompok
membagikan satu ide aksi mereka. Guru memberikan apresiasi. "Apa yang
membuat kalian senang saat bisa mengamalkan Pancasila?"
2. Pemberian Tugas: Setiap kelompok diminta untuk benar-benar
melaksanakan aksi sederhana yang mereka rencanakan dan
mendokumentasikannya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 6: Refleksi dan Penguatan (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru mengajak peserta didik mengingat kembali seluruh materi
yang telah dipelajari tentang Pancasila.
3. Motivasi: Guru menekankan bahwa Pancasila adalah pedoman hidup
sepanjang masa.
4. Orientasi Masalah (PBL): Guru bertanya: "Setelah belajar tentang
Pancasila, apa yang akan kalian ceritakan kepada adik atau teman kalian
agar mereka juga mencintai Pancasila?"
Inti (60 menit)
1. Presentasi Hasil Proyek Mini (Aktif & Kreatif): Setiap kelompok
mempresentasikan hasil aksi "Pahlawan Pancasila Cilik" mereka, termasuk
foto atau cerita singkat tentang pengalaman mereka.
2. Galeri Belajar (Joyful Learning): Guru menyiapkan area di kelas di mana
semua hasil karya (mind map, poster, rantai sila, jurnal, foto aksi)
ditampilkan. Peserta didik dapat berkeliling melihat hasil karya teman-
temannya.
3. Diskusi Terbuka "Pancasila di Hatiku" (Meaningful Learning): Guru
memfasilitasi diskusi terbuka tentang bagaimana peserta didik merasa nilai-
nilai Pancasila telah menjadi bagian dari diri mereka dan bagaimana mereka
akan terus mengamalkannya di masa depan. Guru dapat menggunakan
pertanyaan pemantik "Joyful Learning": "Bagaimana cara kita sebagai anak
Indonesia bisa membuat Pancasila 'hidup' dalam perbuatan sehari-hari, agar
Pancasila tidak hanya dihafal tapi juga diamalkan?"
Penutup (15 menit)
1. Refleksi Akhir: Guru memimpin refleksi secara umum tentang
seluruh kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila.
2. Umpan Balik: Guru meminta peserta didik memberikan umpan balik
tentang pengalaman belajar mereka.
3. Apresiasi: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi dan
antusiasme peserta didik.
4. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

J. Asesmen Formatif dan Sumatif


Asesmen Formatif
 Observasi Selama Diskusi: Guru mengamati keaktifan, kolaborasi, dan
kemampuan penalaran kritis peserta didik saat diskusi kelompok.
 Penilaian Presentasi Kelompok: Penilaian terhadap mind map/poster, rantai
sila, dan presentasi lisan (rubrik terlampir di LKPD).
 Jurnal Refleksi Individu: Penilaian terhadap kemampuan peserta didik
merefleksikan pemahaman dan penerapan nilai Pancasila.
 Kuis Singkat/Tanya Jawab Lisan: Untuk mengecek pemahaman konsep-
konsep dasar secara berkala.
 Penilaian Aksi "Pahlawan Pancasila Cilik": Keberlanjutan dan dampak dari
aksi sederhana yang dilakukan.
Asesmen Sumatif
 Tes Tertulis: Soal pilihan ganda dan esai yang mencakup
pemahaman kronologi sejarah, makna sila-sila, Pancasila sebagai
dasar negara,
pandangan hidup, dan ideologi bangsa, serta kemampuan menguraikan dan
menghubungkan konsep.
 Proyek Akhir Individu: Peserta didik membuat poster digital atau infografis
tentang "Implementasi Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari" dengan
memberikan contoh konkret.

K. Pemahaman Bermakna
Pancasila bukanlah sekadar lima sila yang dihafalkan, melainkan fondasi hidup
berbangsa dan bernegara yang mempersatukan keberagaman serta pedoman
dalam berpikir dan bertindak. Memahami Pancasila secara mendalam berarti
mampu mengaitkan setiap silanya dengan realitas kehidupan, meneladani
semangat para pendiri bangsa, dan menerapkan nilai-nilai luhurnya dalam setiap
aspek kehidupan sehari-hari demi terwujudnya Indonesia yang adil, makmur, dan
beradab. Pemahaman ini akan membentuk karakter peserta didik yang Pancasilais,
berjiwa nasionalis, dan berintegritas.

L. Materi Bahan Ajar


Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia, pandangan hidup bangsa, dan
ideologi nasional yang lahir dari perjuangan panjang para pahlawan bangsa.
Kelahirannya tidak terlepas dari perdebatan dan pemikiran mendalam para tokoh
seperti Ir. Soekarno, Mohammad Yamin, dan Soepomo dalam sidang BPUPKI
(Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tahun
1945. Proses perumusan Pancasila menunjukkan semangat musyawarah, gotong
royong, dan toleransi untuk mencapai kesepakatan demi masa depan bangsa
Indonesia.

Lima sila dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang
Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi
Seluruh Rakyat Indonesia, merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat
dipisahkan. Setiap sila saling berkaitan dan menjiwai sila lainnya, membentuk
sistem nilai yang menyeluruh. Pancasila sebagai dasar negara berarti semua
peraturan dan kebijakan di Indonesia harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Sebagai pandangan hidup, Pancasila menjadi pedoman bagi seluruh rakyat


Indonesia dalam bersikap, bertindak, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari,
baik dalam lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Sementara
itu, sebagai ideologi bangsa, Pancasila berfungsi sebagai cita-cita bersama yang
ingin diwujudkan dan mempersatukan keberagaman suku, agama, ras, dan
antargolongan di Indonesia. Memahami dan mengamalkan Pancasila adalah
tanggung jawab setiap warga negara untuk menjaga keutuhan dan kemajuan
bangsa.

M. Refleksi
Refleksi Peserta Didik
1. Apa bagian paling menarik dari pembelajaran Pancasila hari ini? Mengapa?
2. Sila Pancasila mana yang paling mudah kalian terapkan dalam kehidupan
sehari-hari? Berikan contohnya!
3. Apa tantangan terbesar yang kalian hadapi saat belajar tentang
Pancasila, dan bagaimana kalian mengatasinya?
Refleksi Pendidik
1. Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran?
Jika tidak, apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan partisipasi
mereka?
2. Apakah penggunaan model Problem-Based Learning dan pendekatan deep
learning telah efektif membantu peserta didik memahami materi secara
mendalam?
3. Bagian mana dari kegiatan pembelajaran yang paling disukai peserta
didik? Bagaimana saya bisa mengembangkan kegiatan serupa di masa
depan?

N. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)


LKPD 1: Detektif Sejarah Pancasila
Nama Kelompok:

Anggota:

Tujuan: Mengidentifikasi kronologi sejarah perumusan dan kelahiran Pancasila serta


tokoh-tokoh pentingnya.
Petunjuk:
1. Bersama kelompokmu, bacalah dan analisis sumber-sumber yang
diberikan (buku, artikel, video).
2. Temukan informasi penting tentang:
o Siapa saja tokoh yang berperan dalam perumusan Pancasila?
o Kapan dan di mana sidang-sidang penting terkait perumusan
Pancasila dilaksanakan?
o Bagaimana proses perumusan Pancasila berlangsung?
o Sikap-sikap positif apa yang bisa kita teladani dari para perumus
Pancasila?
3. Buatlah mind map atau poster yang menarik dan jelas untuk
memvisualisasikan kronologi sejarah kelahiran Pancasila dan tokoh-tokohnya.
4. Siapkan presentasi singkat (maksimal 5 menit) di depan kelas.

Rubrik Penilaian Analitik untuk Tugas Diskusi Kelompok dan


Presentasi Siswa
Tema: Sejarah Kelahiran Pancasila dan Penerapannya
4 (Sangat
Kriteria 1 (Kurang) 2 (Cukup) 3 (Baik)
Baik)

Pemahama
Pemahaman
Pemahaman Pemahaman n konsep
konsep
konsep konsep sangat
Isi Materi sangat
dasar cukup, mendalam, mendalam,
(Pengetahu terbatas,
beberapa informasi informasi
an) banyak
kesalahan akurat dan akurat,
kesalahan
informasi. relevan. relevan, dan
informasi.
detail.

Sangat
Kurang Cukup Aktif
aktif,
berpartisipas berpartisipas berpartisipas
inisiatif,
i, sering i, terkadang i,
Kolaborasi mendengar
tidak mendengark mendengark
Kelompok kan aktif,
mendengark an, an,
(Sikap) menghargai
an, tidak ada pembagian berkontribusi
, pembagian
pembagian tugas , pembagian
tugas
tugas. kurang jelas. tugas jelas.
efektif.

Produk tidak Produk


Produk Produk rapi,
rapi, tidak sangat rapi,
Kreativitas cukup rapi, cukup
menarik, menarik,
Produk kurang menarik,
atau tidak inovatif,
(Keterampil menarik, relevan,
relevan sangat
an) relevansi menunjukka
dengan relevan, dan
kurang. n ide baru.
tema. orisinal.

Sangat
percaya diri,
sangat
Tidak Cukup Percaya diri,
jelas,
percaya diri, percaya diri, jelas,
persuasif,
Presentasi sulit kadang menjawab
menjawab
(Komunikas dipahami, kurang jelas, pertanyaan
pertanyaan
i) tidak kurang dengan baik,
secara
menjawab menjawab bahasa
komprehens
pertanyaan. pertanyaan. santun.
if, bahasa
sangat
santun.

Tidak Cukup Mampu Sangat


Penerapan
mampu mampu mengaitkan mampu
Nilai
mengaitkan mengaitkan, materi mengaitkan
Pancasila
materi namun dengan nilai secara
(Penalaran
dengan nilai contoh Pancasila, mendalam,
4 (Sangat
Kriteria 1 (Kurang) 2 (Cukup) 3 (Baik)
Baik)

Kritis & Pancasila penerapan memberikan memberikan


Kewargaan) atau kurang contoh contoh
memberikan relevan atau penerapan penerapan
contoh mendalam. yang yang
penerapan. relevan. beragam
dan
inspiratif.
Skala Penilaian Likert untuk setiap kriteria:
 1 = Sangat Kurang

 2 = Kurang
 3 = Cukup
 4 = Baik
 5 = Sangat Baik
Catatan: Untuk rubrik ini, skala yang digunakan adalah 1-4. Jika ingin menggunakan
skala Likert 1-5, tinggal disesuaikan deskripsi dari setiap angka.

O. Pengayaan dan Remedial


Pengayaan
 Bagi peserta didik yang telah mencapai ketuntasan, dapat diberikan tugas
untuk membuat esai singkat atau video vlog tentang "Peran Pancasila dalam
Menghadapi Tantangan Global Abad 21".
 Mempelajari lebih dalam tentang nilai-nilai Pancasila dalam perbandingan
dengan ideologi lain.
 Menjadi tutor sebaya untuk teman-teman yang masih kesulitan.
Remedial
 Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, guru dapat
memberikan bimbingan individual atau kelompok kecil.
 Mengulang kembali materi yang belum dikuasai dengan metode yang
berbeda (misalnya, menggunakan media visual yang lebih sederhana
atau permainan edukasi).
 Memberikan lembar kerja tambahan dengan soal-soal latihan yang lebih
fokus pada area kesulitan peserta didik.

P. Glosarium
1. Deep Learning: Pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman
konsep secara mendalam, menghubungkan ide-ide, dan menerapkan
pengetahuan dalam berbagai konteks, bukan sekadar menghafal fakta.
2. Pancasila: Dasar negara Republik Indonesia yang terdiri dari lima sila,
menjadi pandangan hidup, dan ideologi bangsa yang mengatur
kehidupan bernegara.
3. Ideologi: Kumpulan gagasan, keyakinan, dan nilai-nilai yang sistematis
dan menyeluruh, yang menjadi dasar bagi suatu negara atau masyarakat
dalam mengatur kehidupannya.

Q. Daftar Pustaka
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Buku Guru Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas VI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan.
2. Susilowati, N. (2023). Modul Ajar Pendidikan Pancasila untuk Sekolah Dasar.
(Tidak dipublikasikan).
3. [Link]. (Berbagai artikel dan literatur pendidikan). Diakses
pada 13 Juli 2025.

Mengetahui,
Kepala SDN 3 Purwosari Guru Kelas 6

Titik Purwanti, [Link]. Toni Adhi Putranto, [Link].


NIP. 19731220 200501 2 012 NIP. 19910411 202012 1 003
Modul Ajar Pendidikan Pancasila
Pendekatan Deep Learning

A. Identitas Penulis
 Nama Penyusun: Umar Tholib
 Satuan Pendidikan: SDN Karangsari 02
 Tahun Ajaran: 2025/2026
 Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
 Fase: C
 Kelas/Semester: 6/1
 Alokasi Waktu: 18 JP

B. 8 Dimensi Profil Kelulusan


 [✓] Keimanan dan Ketakwaan: Memiliki keyakinan yang kuat kepada
Tuhan Yang Maha Esa dan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan
sehari- hari, termasuk ketaatan pada aturan Tuhan dan aturan negara.
 [✓] Kewargaan: Menjadi warga negara yang bertanggung jawab,
memahami hak dan kewajiban, menghargai keberagaman, dan aktif
berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat sesuai norma.
 [✓] Penalaran Kritis: Mampu berpikir logis, analitis, dan sistematis
dalam mengidentifikasi norma, hak, dan kewajiban serta memecahkan
masalah terkait penerapan aturan.
 [✓] Kreativitas: Mampu menghasilkan gagasan orisinal dalam
menyajikan identifikasi norma serta dalam mencari solusi musyawarah.
 [✓] Kolaborasi: Mampu bekerja sama dengan orang lain secara efektif
dalam diskusi kelompok, musyawarah, dan praktik penerapan norma.
 [✓] Kemandirian: Memiliki inisiatif dan bertanggung jawab atas
pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban.
 [ ] Kesehatan: Menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menunjang
aktivitas belajar dan kehidupan.
 [✓] Komunikasi: Mampu menyampaikan ide dan informasi secara
lisan maupun tulisan dengan jelas, efektif, dan santun, terutama dalam
musyawarah.

C. 7 Kegiatan Anak Indonesia Hebat


Guru dapat menanyakan tentang pelaksanaan 7 kegiatan Anak Indonesia Hebat
kepada peserta didik melalui berbagai cara yang mendorong refleksi dan
berbagi pengalaman, seperti:
1. Bangun Tidur: "Anak-anak, siapa yang tadi pagi bangunnya tepat waktu?
Coba ceritakan, apa yang pertama kali kalian lakukan setelah bangun tidur
untuk memulai hari dengan baik?"
2. Beribadah: "Setelah bangun, apakah kalian menyempatkan diri untuk
beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing? Bagaimana rasa
syukur kalian saat beribadah?"
3. Berolahraga: "Selain ibadah, apakah ada yang suka bergerak atau
berolahraga di pagi hari? Olahraga apa yang kalian lakukan dan
bagaimana dampaknya untuk tubuh kalian agar tetap sehat?"
4. Gemar Belajar: "Bagaimana dengan semangat belajar kalian hari ini?
Ceritakan, pelajaran apa yang paling kalian sukai dan bagaimana
kalian mempelajarinya di rumah untuk terus menambah ilmu?"
5. Makan Sehat dan Bergizi: "Saat sarapan tadi, makanan apa yang
kalian santap? Apakah makanan itu sehat dan bergizi agar kalian punya
energi untuk belajar dan beraktivitas seharian?"
6. Bermasyarakat: "Apakah kalian pernah membantu orang tua atau tetangga
di rumah? Kegiatan apa yang kalian lakukan untuk berinteraksi dan
berkontribusi di lingkungan sekitar?"
7. Tidur Cepat: "Semalam, apakah kalian tidur cukup dan tidak terlalu
malam? Mengapa tidur yang cukup itu penting untuk kesehatan dan
konsentrasi belajar kita?"

D. Capaian dan Tujuan Pembelajaran


Capaian Pembelajaran:

Elemen: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Peserta didik menyajikan hasil identifikasi bentuk-bentuk norma, hak, dan kewajiban
dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga, warga sekolah, dan warga negara;
mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari; melaksanakan praktik musyawarah
untuk membuat kesepakatan dan aturan bersama, serta menerapkannya dalam
lingkungan keluarga dan sekolah.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan


mampu:

1. Mengidentifikasi berbagai bentuk norma (agama, kesusilaan, kesopanan,


hukum) yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat
dengan tepat.
2. Menganalisis hak-hak yang dimiliki sebagai anggota keluarga, warga
sekolah, dan warga negara sesuai dengan UUD NRI Tahun 1945.
3. Menganalisis kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai
anggota keluarga, warga sekolah, dan warga negara sesuai dengan UUD
NRI Tahun 1945.
4. Menyajikan hasil identifikasi norma, hak, dan kewajiban dalam
berbagai bentuk (poster, mind map, infografis) secara kreatif dan
sistematis.
5. Mempraktikkan pelaksanaan hak dan kewajiban di lingkungan keluarga,
sekolah, dan masyarakat secara bertanggung jawab.
6. Melaksanakan praktik musyawarah untuk membuat kesepakatan dan aturan
bersama di lingkungan kelas/sekolah dengan menjunjung tinggi nilai-nilai
demokrasi.
7. Menerapkan hasil musyawarah (kesepakatan dan aturan) dalam kehidupan
sehari-hari di lingkungan sekolah.

E. Sarana dan Prasarana


1. Papan tulis/Whiteboard dan spidol
2. Proyektor dan layar
3. Laptop/Komputer
4. Buku teks Pendidikan Pancasila kelas 6
5. Kartu kasus/situasi terkait norma, hak, kewajiban, dan musyawarah

F. Target Peserta Didik


Peserta didik reguler/tipikal yang tidak memiliki kesulitan dalam mencerna dan
memahami materi ajar.

G. Model Pembelajaran
Model Pembelajaran: Project-Based Learning (PjBL) dengan pendekatan deep
learning.

Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, role-playing,


presentasi proyek, penugasan individu.

Pendekatan deep learning dalam PjBL akan mendorong peserta didik untuk tidak
hanya menghafal norma, hak, dan kewajiban, tetapi juga memahami konsep secara
mendalam, mengaitkan informasi dengan konteks kehidupan nyata, serta
menghasilkan produk atau solusi yang bermakna melalui proyek.

H. Pertanyaan Pemantik
Mindful Learning:
 "Coba pejamkan mata sejenak, bayangkan sekolah kita tanpa aturan. Apa
yang mungkin terjadi? Bagaimana perasaan kalian?"
 "Apa yang kalian rasakan ketika diberi tanggung jawab? Mengapa kita perlu
memiliki hak dan juga kewajiban?"
Meaningful Learning:
 "Mengapa kita perlu memiliki norma atau aturan di rumah, sekolah,
dan masyarakat? Apa manfaatnya bagi kehidupan kita sehari-hari?"
 "Bagaimana cara kita agar hak kita terpenuhi, dan kewajiban kita
bisa terlaksana dengan baik?"
Joyful Learning:
 "Jika kalian bisa membuat satu aturan baru di kelas yang paling
menyenangkan tapi tetap adil, aturan apa itu?"
 "Bagaimana rasanya ketika kalian berhasil menyelesaikan masalah bersama
teman-teman melalui musyawarah?"

I. Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu Total: 18 JP (asumsi 1 JP = 35 menit)

Pembagian Pertemuan: Disesuaikan dengan jumlah jam pelajaran, misalnya 6


pertemuan @ 3 JP.

Pertemuan 1: Mengenal Norma di Lingkungan Sekitar (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek
kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menampilkan gambar atau video singkat tentang situasi di
masyarakat yang menunjukkan adanya aturan atau tidak ada aturan
(misalnya, lalu lintas tertib vs macet). . Guru mengajukan pertanyaan
pemantik "Mindful Learning": "Apa yang kalian rasakan ketika melihat gambar
ini? Apa bedanya?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan pentingnya norma untuk menciptakan
keteraturan dan kenyamanan dalam hidup.
4. Orientasi Proyek (PjBL): Guru menyampaikan bahwa di akhir unit ini,
mereka akan membuat sebuah "Buku Panduan Norma, Hak, dan
Kewajiban" atau "Kampanye Kesadaran Norma" di sekolah. Hari ini adalah
tahap awal pengumpulan informasi.
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik dibagi menjadi kelompok-
kelompok kecil (4-5 orang).
2. Penentuan Pertanyaan Mendasar (PjBL): Guru membimbing kelompok
untuk merumuskan pertanyaan seperti: "Apa saja jenis norma yang ada?", "Di
mana saja norma itu berlaku?", "Apa saja contoh-contoh norma di keluarga,
sekolah, dan masyarakat?".
3. Penyusunan Jadwal (PjBL): Guru bersama peserta didik merencanakan
jadwal pengumpulan data tentang norma.
4. Bimbingan Penyelidikan (Aktif & Kolaboratif): Guru menyediakan berbagai
sumber (buku teks, infografis, video singkat) tentang jenis-jenis norma
(agama, kesusilaan, kesopanan, hukum) dan contohnya di berbagai
lingkungan. Setiap kelompok bertugas mengidentifikasi dan mencatat jenis
norma serta contohnya. Guru berkeliling membimbing diskusi.
5. Diskusi Kelompok (Aktif & Bermakna): Peserta didik mendiskusikan
perbedaan antar jenis norma dan pentingnya mematuhi norma
tersebut. Mereka juga berbagi pengalaman pribadi terkait norma.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Guru meminta beberapa peserta didik
menyampaikan refleksi singkat: "Apa yang kalian pelajari hari ini tentang
norma? Mengapa norma itu penting untuk kita?"
2. Pemberian Tugas: Setiap kelompok diminta mencari contoh norma
tambahan dari lingkungan sekitar mereka (rumah, tetangga) untuk dicatat.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran dengan salam.

Pertemuan 2: Hak dan Kewajiban di Lingkungan Keluarga dan


Sekolah (3 JP)
Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meninjau kembali materi sebelumnya tentang norma. Guru
bertanya: "Selain aturan, apa lagi yang penting dalam kehidupan bersama?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa setiap orang memiliki hak yang
harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dilaksanakan.
4. Orientasi Masalah (PjBL): Guru membagikan "Kartu Peran" (contoh: anak,
kakak, adik, siswa, ketua kelas). Guru bertanya: "Sebagai [peran tertentu],
apa hak yang kalian miliki? Apa kewajiban kalian?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik tetap dalam kelompok yang
sama.
2. Bimbingan Penyelidikan (Aktif & Bermakna): Guru menyediakan materi
tentang hak dan kewajiban anak di keluarga dan sekolah, termasuk pasal-
pasal relevan dari UUD NRI Tahun 1945 secara sederhana. Kelompok
mengidentifikasi hak dan kewajiban sesuai peran yang telah ditentukan.
3. Diskusi Kelompok (Aktif & Kolaboratif): Kelompok mendiskusikan contoh
nyata hak dan kewajiban, serta bagaimana keduanya saling berkaitan.
Mereka juga membahas konsekuensi jika hak tidak terpenuhi atau kewajiban
tidak dilaksanakan.
4. Simulasi "Papan Hak dan Kewajiban" (Kreatif & Menyenangkan): Setiap
kelompok membuat papan sederhana (bisa dari kertas manila) yang dibagi
dua: satu sisi "Hakku", satu sisi "Kewajibanku". Mereka menempelkan atau
menuliskan contoh-contoh hak dan kewajiban mereka di keluarga dan
sekolah. Kemudian, beberapa kelompok mempresentasikan papan mereka.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menyebutkan satu hak yang
paling mereka syukuri dan satu kewajiban yang akan mereka lakukan hari
ini.
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mewawancarai orang tua atau anggota
keluarga tentang hak dan kewajiban mereka di rumah.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 3: Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menanyakan kembali hak dan kewajiban di sekolah.
Guru bertanya: "Apakah hak dan kewajiban kita hanya di rumah dan
sekolah? Bagaimana sebagai warga negara?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa sebagai warga negara Indonesia,
kita memiliki hak dan kewajiban yang diatur oleh konstitusi.
4. Orientasi Masalah (PjBL): Guru menampilkan gambar kegiatan warga
negara (misalnya, membayar pajak, ikut pemilu, menjaga lingkungan). .
Guru bertanya: "Mengapa kegiatan ini penting untuk negara kita?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik dalam kelompok.
2. Bimbingan Penyelidikan (Aktif & Bermakna): Guru menyediakan materi
yang disederhanakan tentang hak dan kewajiban warga negara
berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 (misalnya, hak berpendapat, hak
mendapatkan pendidikan, kewajiban bela negara, kewajiban menaati
hukum). Kelompok mengidentifikasi dan mencatat contoh-contohnya.
3. Diskusi Kelompok (Aktif & Kolaboratif): Kelompok mendiskusikan
perbedaan hak dan kewajiban warga negara dengan yang di
keluarga/sekolah. Mereka juga menganalisis bagaimana hak dan kewajiban
ini berkontribusi pada kehidupan bernegara.
4. Debat Mini "Jika Aku Presiden" (Kreatif & Bermakna): Guru membagi
kelas menjadi dua kelompok: satu kelompok "pro hak" dan satu kelompok
"pro kewajiban". Masing-masing kelompok harus memberikan argumen
mengapa hak atau kewajiban lebih penting untuk diutamakan, dengan
memberikan contoh konkret. Guru memfasilitasi agar debat berjalan
konstruktif.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menuliskan satu kalimat
tentang "Apa yang akan saya lakukan sebagai warga negara yang
baik?".
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mencari berita atau contoh kasus di
masyarakat yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
warga negara.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 4: Musyawarah untuk Kesepakatan Bersama (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru bertanya: "Bagaimana cara kita memutuskan sesuatu
yang terbaik untuk semua orang di kelas atau di rumah?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan pentingnya musyawarah untuk mencapai
kesepakatan yang adil.
4. Orientasi Masalah (PjBL): Guru mengajukan skenario masalah (misalnya,
kelas kotor, jadwal piket tidak berjalan). Guru bertanya: "Bagaimana cara kita
menyelesaikan masalah ini agar semua setuju dan mau melaksanakannya?"
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik dalam kelompok.
2. Bimbingan Penyelidikan (Aktif & Kolaboratif): Guru memberikan materi
singkat tentang konsep musyawarah, ciri-ciri musyawarah yang baik, dan
manfaatnya. Kelompok menganalisis contoh kasus musyawarah.
3. Simulasi Musyawarah (Aktif & Bermakna): Guru menyiapkan beberapa
"Kasus Musyawarah" sederhana di lingkungan sekolah (misalnya,
"Menentukan Tujuan Kegiatan Bakti Sosial Kelas", "Membentuk Aturan
Penggunaan Perpustakaan Kelas"). Setiap kelompok memilih satu kasus dan
melakukan simulasi musyawarah untuk mencapai kesepakatan. Mereka
harus mencatat proses dan hasil musyawarah mereka.
4. Presentasi Hasil Musyawarah (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok
mempresentasikan hasil musyawarah mereka, termasuk kesulitan dan solusi
yang ditemukan.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
pengalaman: "Apa yang membuat kalian senang saat musyawarah? Apa
tantangannya?"
2. Pemberian Tugas: Peserta didik diminta untuk mengamati atau berpartisipasi
dalam musyawarah di lingkungan rumah atau masyarakat.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 5: Praktik Penerapan Norma, Hak, Kewajiban, dan Hasil


Musyawarah (3 JP)
Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru mengingatkan kembali tentang pentingnya praktik dan
penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Motivasi: Guru menekankan bahwa pemahaman tanpa praktik adalah sia-sia.
4. Orientasi Proyek (PjBL): Guru mengingatkan kembali tentang "Buku
Panduan Norma, Hak, dan Kewajiban" atau "Kampanye Kesadaran Norma"
sebagai proyek akhir. Hari ini adalah tahap pengerjaan proyek.
Inti (60 menit)
1. Pengorganisasian Peserta Didik: Peserta didik bekerja dalam kelompok.
2. Pengerjaan Proyek (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok mulai
mengerjakan proyek akhir mereka. Guru membimbing proses pengerjaan,
memastikan mereka menyajikan hasil identifikasi norma, hak, dan kewajiban
secara sistematis dan menarik. Proyek bisa berupa:
o Buku Panduan Mini: Berisi rangkuman norma, hak, dan kewajiban
di keluarga, sekolah, dan masyarakat, dilengkapi dengan ilustrasi dan
contoh nyata.
o Poster Kampanye: Poster berisi ajakan untuk mematuhi norma,
melaksanakan kewajiban, dan menuntut hak, dilengkapi dengan
slogan dan gambar.
o Video Pendek: Video yang menampilkan skenario praktik hak dan
kewajiban atau simulasi musyawarah.
3. Bimbingan dan Feedback (Aktif & Bermakna): Guru berkeliling
memberikan bimbingan, menjawab pertanyaan, dan memberikan masukan
konstruktif terhadap proyek yang sedang dikerjakan. Peserta didik
didorong untuk saling memberikan masukan antar anggota kelompok.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
progress proyek mereka dan apa yang mereka pelajari selama proses
pengerjaan.
2. Pemberian Tugas: Menyelesaikan proyek dan mempersiapkan presentasi
untuk pertemuan berikutnya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.
Pertemuan 6: Presentasi Proyek dan Refleksi Akhir (3 JP)
Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menanyakan kesiapan peserta didik untuk
mempresentasikan proyek mereka.
3. Motivasi: Guru mengingatkan bahwa presentasi adalah kesempatan
untuk berbagi pengetahuan dan karya.
4. Orientasi Proyek (PjBL): Guru menjelaskan bahwa hari ini adalah puncak
dari proyek mereka.
Inti (60 menit)
1. Presentasi Proyek (Aktif, Kreatif & Komunikatif): Setiap kelompok
mempresentasikan "Buku Panduan Norma, Hak, dan Kewajiban" atau
"Kampanye Kesadaran Norma" mereka. Mereka menjelaskan isi proyek,
proses pengerjaan, dan makna yang didapatkan. Kelompok lain diberi
kesempatan untuk bertanya dan memberikan masukan.
2. Diskusi dan Umpan Balik (Bermakna & Kolaboratif): Setelah setiap
presentasi, guru memfasilitasi diskusi dan memberikan umpan balik
konstruktif. Guru menekankan bagaimana proyek tersebut mencerminkan
pemahaman mendalam tentang norma, hak, kewajiban, dan musyawarah.
3. Refleksi Bersama (Meaningful Learning): Guru memimpin diskusi tentang
bagaimana peserta didik akan terus menerapkan nilai-nilai yang telah
mereka pelajari dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah,
maupun masyarakat.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi Akhir: Guru memimpin refleksi secara umum tentang seluruh
kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila. "Apa hal terpenting yang kalian
bawa pulang dari pembelajaran ini?"
2. Apresiasi: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi, kreativitas, dan
kerja keras peserta didik selama pembelajaran.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

J. Asesmen Formatif dan Sumatif


Asesmen Formatif
 Observasi Selama Diskusi dan Simulasi: Guru mengamati keaktifan,
kolaborasi, kemampuan penalaran kritis, dan partisipasi peserta didik
dalam diskusi dan simulasi musyawarah.
 Penilaian Peta Konsep/Mind Map Awal: Penilaian terhadap pemahaman
awal identifikasi norma.
 Jurnal Refleksi Individu: Penilaian terhadap kemampuan peserta didik
merefleksikan pemahaman dan praktik hak serta kewajiban.
 Umpan Balik Proyek Berkelanjutan: Guru memberikan umpan balik
selama proses pengerjaan proyek mini (misalnya, buku panduan, poster
kampanye, video pendek).
Asesmen Sumatif
 Presentasi Proyek Akhir Kelompok: Penilaian terhadap produk proyek
(buku panduan/poster/video) dan presentasi kelompok yang mencakup
identifikasi, analisis, dan penyajian norma, hak, dan kewajiban. (Rubrik
terlampir di LKPD).
 Tes Tertulis: Soal esai dan studi kasus yang mencakup pemahaman
tentang jenis-jenis norma, hak dan kewajiban di berbagai lingkungan, serta
kemampuan menganalisis dan memberikan solusi terkait masalah yang
membutuhkan musyawarah.
 Penilaian Praktik Musyawarah Individu: Observasi guru terhadap peran
serta dan kontribusi setiap peserta didik dalam simulasi musyawarah.

K. Pemahaman Bermakna
Memahami norma, hak, dan kewajiban secara mendalam berarti menyadari bahwa
keteraturan hidup bermasyarakat dan bernegara sangat bergantung pada
kesadaran setiap individu untuk mematuhi aturan, menuntut haknya secara
bertanggung jawab, melaksanakan kewajibannya dengan penuh kesadaran,
serta menyelesaikan masalah melalui musyawarah untuk mencapai
kesepakatan bersama. Ini bukan sekadar hafalan, tetapi sebuah praktik nyata yang
membentuk karakter warga negara yang bertanggung jawab, peduli, dan
berpartisipasi aktif dalam menciptakan lingkungan yang harmonis dan berkeadilan.

L. Materi Bahan Ajar


Kehidupan kita sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun di lingkungan
masyarakat, diatur oleh berbagai norma. Norma adalah aturan-aturan yang berisi
petunjuk tingkah laku yang harus atau tidak boleh dilakukan. Ada empat jenis norma
utama: norma agama (bersumber dari Tuhan), norma kesusilaan (bersumber dari
hati nurani), norma kesopanan (bersumber dari pergaulan masyarakat), dan norma
hukum (bersumber dari peraturan negara yang memaksa). Mematuhi norma-norma
ini penting untuk menciptakan ketertiban, kenyamanan, dan keadilan bagi semua,
karena tanpa norma, kehidupan bisa menjadi kacau.
Selain norma, setiap individu juga memiliki hak dan kewajiban. Hak adalah sesuatu
yang seharusnya kita terima atau dapatkan, sedangkan kewajiban adalah sesuatu
yang harus kita lakukan atau laksanakan. Hak dan kewajiban ini saling berkaitan
dan harus dilaksanakan secara seimbang. Sebagai anggota keluarga, kita punya
hak untuk mendapatkan kasih sayang dan pendidikan, serta kewajiban untuk
membantu orang tua. Sebagai warga sekolah, kita punya hak untuk belajar dan
menggunakan fasilitas sekolah, serta kewajiban untuk menaati peraturan sekolah.
Demikian pula sebagai warga negara, hak dan kewajiban kita diatur dalam Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, seperti hak untuk
berpendapat dan kewajiban untuk membela negara.
Ketika ada perbedaan pendapat atau masalah yang perlu diselesaikan bersama,
musyawarah adalah cara terbaik untuk mencapai kesepakatan. Musyawarah
adalah proses bertukar pikiran untuk mencapai mufakat atau kesepakatan bersama
secara kekeluargaan. Dalam musyawarah, setiap orang berhak menyampaikan
pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencari solusi terbaik yang
diterima semua pihak. Hasil musyawarah yang telah disepakati kemudian menjadi
aturan atau keputusan bersama yang harus ditaati dan dilaksanakan demi kebaikan
bersama di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
M. Refleksi
Refleksi Peserta Didik
1. Apa yang paling berkesan bagi saya dari pembelajaran tentang norma,
hak, dan kewajiban hari ini?
2. Bagaimana saya bisa menerapkan nilai-nilai musyawarah dalam menghadapi
perbedaan pendapat dengan teman atau keluarga?
3. Apakah saya merasa bahwa hak-hak saya sudah terpenuhi dan kewajiban
saya sudah terlaksana dengan baik? Apa yang bisa saya tingkatkan?
Refleksi Pendidik
1. Apakah peserta didik menunjukkan peningkatan pemahaman tentang norma,
hak, dan kewajiban? Bagaimana saya bisa mengukur pemahaman mendalam
mereka?
2. Bagaimana saya dapat lebih efektif memfasilitasi diskusi dan praktik
musyawarah agar semua peserta didik merasa nyaman
berpartisipasi?
3. Apakah proyek yang diberikan mampu mendorong kreativitas dan
kolaborasi peserta didik secara maksimal? Apa yang bisa saya perbaiki
untuk proyek berikutnya?

N. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)


LKPD 1: Studi Kasus Norma, Hak, dan Kewajiban
Nama Kelompok:

Anggota:

Tujuan: Mengidentifikasi norma, hak, dan kewajiban dalam studi kasus dan
menyajikan solusinya.
Petunjuk:
1. Baca dengan seksama studi kasus di bawah ini.
2. Bersama kelompokmu, diskusikan:
o Norma apa saja yang dilanggar atau perlu diterapkan dalam kasus ini?
o Hak-hak siapa saja yang terabaikan atau perlu dipenuhi?
o Kewajiban siapa saja yang tidak dilaksanakan atau perlu dilakukan?
o Bagaimana solusi yang bisa dicapai melalui musyawarah untuk
menyelesaikan masalah ini?
3. Tuangkan hasil diskusimu dalam bentuk peta konsep (mind map) atau
infografis sederhana yang menarik.
4. Siapkan presentasi singkat (maksimal 7 menit) di depan
kelas. Studi Kasus:

Di lingkungan RT tempat tinggal Budi, sering terjadi masalah sampah yang


menumpuk di saluran air, terutama setelah hujan. Hal ini menyebabkan bau tidak
sedap dan kadang-kadang banjir kecil di sekitar rumah warga. Beberapa warga
mengeluh, tetapi belum ada tindakan nyata. Budi ingin lingkungannya bersih dan
nyaman.

Rubrik Penilaian Analitik untuk Tugas Diskusi Kelompok dan


Presentasi Siswa
Tema: Norma, Hak, Kewajiban, dan Musyawarah
1 5
3
Kriteria (Sangat 2 (Kurang) 4 (Baik) (Sangat
(Cukup)
Kurang) Baik)

Mampu Sangat
Hampir Mampu
mengide mampu
tidak Cukup mengide
ntifikasi mengide
mampu mampu ntifikasi
Identifik norma, ntifikasi
mengide mengidentifik dengan
asi hak, dan secara
ntifikasi asi, namun cukup
Konsep kewajiba kompreh
norma, banyak baik,
(Isi) n secara ensif,
hak, dan kesalahan/ke beberap
akurat mendala
kewajiba kurangan. a kurang
dan m, dan
n. akurat.
lengkap. relevan.

Mampu Sangat
mengan mampu
Tidak
alisis mengana
mampu Analisis
kasus lisis
Analisis mengan Analisis cukup
dengan secara
Solusi alisis dangkal, baik,
logis, kritis,
(Penalar kasus solusi tidak solusi
memberi solusi
an atau relevan/kura cukup
kan sangat
Kritis) memberi ng logis. logis dan
solusi logis,
kan relevan.
relevan kreatif,
solusi.
dan dan
inovatif. aplikatif.

Aktif
Sangat
berpartisi
Cukup aktif,
Tidak pasi,
aktif, ada inisiatif,
Kolabor ada kerja Kerja sama saling
pembagi kolaborat
asi sama, kurang, menghar
an tugas, if,
Kelomp pasif, kadang gai,
menden memimpi
ok atau berpartisipasi pembagi
garkan n diskusi,
(Sikap) mendomi . an tugas
anggota memberd
nasi. jelas,
lain. ayakan
mendoro
anggota.
ng ide.
1 5
3
Kriteria (Sangat 2 (Kurang) 4 (Baik) (Sangat
(Cukup)
Kurang) Baik)

Produk
Produk sangat
tidak Produk Produk rapi,
Kreativit sesuai Produk rapi, rapi, sangat
as format, sesuai cukup menarik, menarik,
Produk tidak format, menarik, kreatif, inovatif,
(Ketera rapi, kurang dan dan dan
mpilan) atau rapi/menarik. sesuai sesuai menunju
tidak format. format. kkan
menarik. pemikira
n orisinal.

Sangat
percaya
Percaya diri,
Percaya diri, sangat
Tidak diri, jelas, jelas,
percaya Cukup cukup interaktif, persuasif
Present
diri, tidak percaya diri, jelas, mampu , mampu
asi
jelas, kurang jelas, interaktif, menjawa merespo
(Komuni
tidak ada kurang menjawa b ns
kasi)
kontak interaktif. b pertanya pertanya
mata. pertanya an, an,
an. bahasa bahasa
lugas. santun
dan
efektif.
Skala Penilaian Likert:
 1 = Sangat Kurang
 2 = Kurang
 3 = Cukup
 4 = Baik
 5 = Sangat Baik

O. Pengayaan dan Remedial


Pengayaan
 Bagi peserta didik yang telah mencapai ketuntasan, dapat diberikan tugas
untuk meneliti dan mempresentasikan contoh kasus nyata (dari berita atau
lingkungan) tentang pelanggaran norma atau hak/kewajiban dan bagaimana
diselesaikan melalui jalur hukum atau musyawarah.
 Membuat proposal kegiatan sosial di sekolah yang berlandaskan pada
pemenuhan hak dan kewajiban warga sekolah.
 Menjadi mentor bagi teman yang kesulitan.
Remedial
 Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, guru dapat
memberikan bimbingan individual atau kelompok kecil dengan fokus pada
konsep yang belum dikuasai (misalnya, perbedaan hak dan kewajiban).
 Mengulang kembali materi dengan menggunakan media visual yang lebih
konkret atau permainan peran yang lebih sederhana.
 Memberikan lembar kerja tambahan dengan contoh-contoh kasus yang lebih
sederhana dan terarah.

P. Glosarium
1. Norma: Aturan atau kaidah yang mengikat perilaku individu atau kelompok
dalam masyarakat, baik tertulis maupun tidak tertulis.
2. Hak: Sesuatu yang mutlak menjadi milik seseorang atau kelompok, yang
penggunaannya tergantung pada yang bersangkutan.
3. Kewajiban: Segala sesuatu yang harus dilaksanakan atau dilakukan oleh
seseorang sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku.

Q. Daftar Pustaka
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Buku Guru Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas VI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan.
2. Susilowati, N. (2023). Modul Ajar Pendidikan Pancasila untuk Sekolah Dasar.
(Tidak dipublikasikan).
3. [Link]. (Berbagai artikel dan literatur pendidikan). Diakses
pada 13 Juli 2025.

Mengetahui,
Kepala SDN 3 Purwosari Guru Kelas 6

Titik Purwanti, [Link]. Toni Adhi Putranto, [Link].


NIP. 19731220 200501 2 012 NIP. 19910411 202012 1 003
Modul Ajar Pendidikan Pancasila
Pendekatan Deep Learning

A. Identitas Penulis
 Nama Penyusun: Umar Tholib
 Satuan Pendidikan: SDN Karangsari 02
 Tahun Ajaran: 2025/2026
 Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
 Fase: C
 Kelas/Semester: 6/2
 Alokasi Waktu: 18 JP

B. 8 Dimensi Profil Kelulusan


 [✓] Keimanan dan Ketakwaan: Mampu mensyukuri keberagaman
sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa dan menerapkannya dalam
toleransi antarumat beragama.
 [✓] Kewargaan: Menjadi warga negara yang menghargai dan melestarikan
keberagaman budaya, serta bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia.
 [✓] Penalaran Kritis: Mampu menganalisis isu-isu terkait keberagaman
dan menemukan solusi untuk menjaga persatuan dalam bingkai Bhinneka
Tunggal Ika.
 [✓] Kreativitas: Mampu menghasilkan ide-ide orisinal dalam
menyajikan identifikasi dan praktik pelestarian budaya.
 [✓] Kolaborasi: Mampu bekerja sama dengan orang lain dari berbagai
latar belakang dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
 [✓] Kemandirian: Memiliki inisiatif untuk belajar dan memahami
keberagaman serta bertanggung jawab dalam menjaga persatuan.
 [ ] Kesehatan: Menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menunjang
aktivitas belajar dan kehidupan.
 [✓] Komunikasi: Mampu menyampaikan gagasan tentang
pentingnya keberagaman dan cara melestarikannya secara efektif
dan santun.

C. 7 Kegiatan Anak Indonesia Hebat


Guru dapat menanyakan tentang pelaksanaan 7 kegiatan Anak Indonesia Hebat
kepada peserta didik melalui berbagai cara yang mendorong refleksi dan
berbagi pengalaman, seperti:
1. Bangun Tidur: "Anak-anak, siapa yang tadi pagi bangunnya tepat waktu?
Coba ceritakan, apa yang pertama kali kalian lakukan setelah bangun tidur
untuk memulai hari dengan baik?"
2. Beribadah: "Setelah bangun, apakah kalian menyempatkan diri untuk
beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing? Bagaimana rasa
syukur kalian saat beribadah?"
3. Berolahraga: "Selain ibadah, apakah ada yang suka bergerak atau
berolahraga di pagi hari? Olahraga apa yang kalian lakukan dan
bagaimana dampaknya untuk tubuh kalian agar tetap sehat?"
4. Gemar Belajar: "Bagaimana dengan semangat belajar kalian hari ini?
Ceritakan, pelajaran apa yang paling kalian sukai dan bagaimana
kalian mempelajarinya di rumah untuk terus menambah ilmu?"
5. Makan Sehat dan Bergizi: "Saat sarapan tadi, makanan apa yang
kalian santap? Apakah makanan itu sehat dan bergizi agar kalian punya
energi untuk belajar dan beraktivitas seharian?"
6. Bermasyarakat: "Apakah kalian pernah membantu orang tua atau tetangga
di rumah? Kegiatan apa yang kalian lakukan untuk berinteraksi dan
berkontribusi di lingkungan sekitar?"
7. Tidur Cepat: "Semalam, apakah kalian tidur cukup dan tidak terlalu
malam? Mengapa tidur yang cukup itu penting untuk kesehatan dan
konsentrasi belajar kita?"

D. Capaian dan Tujuan Pembelajaran


Capaian Pembelajaran:

Elemen: Bhinneka Tunggal Ika

Peserta didik menyajikan hasil identifikasi sikap menghormati, menjaga, dan


melestarikan keberagaman budaya dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di
lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan


mampu:

1. Mengidentifikasi bentuk-bentuk keberagaman budaya (suku, bahasa,


agama, adat istiadat, kesenian) di lingkungan rumah, sekolah, dan
masyarakat dengan tepat.
2. Menganalisis pentingnya sikap menghormati dan menjaga keberagaman
budaya sebagai kekayaan bangsa Indonesia.
3. Menjelaskan makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang
mempersatukan keberagaman bangsa.
4. Menyajikan hasil identifikasi keberagaman budaya serta praktik sikap
menghormati dan melestarikannya melalui berbagai media (peta budaya,
kolase, presentasi, proyek).
5. Mempraktikkan sikap toleransi dan menghormati antarbudaya di lingkungan
sekolah dan keluarga.
6. Merencanakan kegiatan sederhana untuk melestarikan salah satu bentuk
keberagaman budaya di lingkungan sekitar.
7. Menunjukkan sikap bangga terhadap keberagaman budaya Indonesia
sebagai identitas bangsa.
E. Sarana dan Prasarana
1. Papan tulis/Whiteboard dan spidol
2. Proyektor dan layar
3. Laptop/Komputer
4. Buku teks Pendidikan Pancasila kelas 6
5. Atlas, peta Indonesia, atau poster keberagaman budaya

F. Target Peserta Didik


Peserta didik reguler/tipikal yang tidak memiliki kesulitan dalam mencerna dan
memahami materi ajar.

G. Model Pembelajaran
Model Pembelajaran: Discovery Learning dengan pendekatan deep learning.

Metode Pembelajaran: Eksplorasi, diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, role-


playing, proyek mini.

Pendekatan deep learning dalam Discovery Learning akan mendorong peserta didik
untuk menemukan dan memahami konsep keberagaman secara mandiri,
mengaitkan fakta-fakta dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika, serta menerapkan
pemahaman tersebut dalam tindakan nyata untuk menghormati dan melestarikan
budaya.

H. Pertanyaan Pemantik
Mindful Learning:
 "Coba pejamkan mata sejenak, bayangkan teman-teman kita di kelas.
Apakah ada yang berbeda suku, bahasa, atau kebiasaan? Apa yang
kalian rasakan saat melihat perbedaan itu?"
 "Pernahkah kalian melihat pertunjukan tari daerah yang berbeda?
Atau mendengar lagu dari suku lain? Bagaimana perasaan kalian saat
itu?"
Meaningful Learning:
 "Mengapa Indonesia memiliki banyak sekali suku, bahasa, dan budaya? Apa
manfaatnya bagi kita?"
 "Bagaimana cara kita agar semua perbedaan itu tidak menjadi masalah,
tapi justru menjadi kekuatan?"
Joyful Learning:
 "Jika kalian bisa bertukar budaya dengan teman dari daerah lain selama
sehari, budaya apa yang ingin kalian kenali dan coba?"
 "Apa cara paling seru yang bisa kita lakukan untuk merayakan dan
melestarikan keberagaman budaya di sekolah kita?"
I. Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu Total: 18 JP (asumsi 1 JP = 35 menit)

Pembagian Pertemuan: Disesuaikan dengan jumlah jam pelajaran, misalnya 6


pertemuan @ 3 JP.

Pertemuan 1: Keberagaman Budaya di Indonesia (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek
kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menampilkan beberapa gambar keberagaman budaya
Indonesia (pakaian adat, rumah adat, tarian daerah). . Guru mengajukan
pertanyaan pemantik "Mindful Learning": "Apa yang kalian lihat dari gambar-
gambar ini? Adakah yang berbeda?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya
akan keberagaman budaya.
4. Orientasi Masalah (Discovery Learning): Guru bertanya: "Bagaimana
caranya kita bisa memahami dan menghargai semua keberagaman ini?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Discovery Learning): Guru memutar video singkat tentang
berbagai suku dan budaya di Indonesia atau menampilkan peta Indonesia
yang menyoroti persebaran budaya.
2. Identifikasi Masalah (Aktif & Kolaboratif): Peserta didik secara individu
atau berpasangan mengidentifikasi bentuk-bentuk keberagaman yang mereka
temukan dari video/gambar (misalnya, bahasa daerah, pakaian adat,
makanan khas, rumah adat, kepercayaan/agama).
3. Pengumpulan Data (Aktif & Bermakna): Guru menyediakan kartu informasi
singkat tentang beberapa suku di Indonesia (lengkap dengan ciri khas
budayanya) atau meminta peserta didik melakukan riset singkat dari buku
teks. Peserta didik mencatat informasi penting tentang keberagaman
tersebut.
4. Pengolahan Data (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok membuat "Peta
Budaya Mini" dari kertas manila yang berisi gambar dan nama beberapa
suku serta ciri khas budayanya. Mereka juga mencatat hal-hal yang membuat
setiap budaya itu unik. Guru berkeliling membimbing.
5. Verifikasi (Aktif & Bermakna): Setiap kelompok mempresentasikan Peta
Budaya Mini mereka di depan kelas. Guru memberikan umpan balik dan
meluruskan konsep yang kurang tepat.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Guru meminta peserta didik
menyampaikan refleksi singkat: "Apa yang membuat kalian kagum dengan
keberagaman budaya Indonesia hari ini?"
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mewawancarai anggota keluarga tentang
asal suku dan budaya mereka.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran dengan salam.

Pertemuan 2: Makna Bhinneka Tunggal Ika (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meninjau kembali keberagaman budaya yang telah
diidentifikasi. Guru menampilkan lambang negara Garuda Pancasila dan
menunjuk pita yang dicengkeramnya. .
3. Motivasi: Guru memperkenalkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai
perekat keberagaman.
4. Orientasi Masalah (Discovery Learning): Guru bertanya: "Apa arti
'berbeda- beda tetapi tetap satu'? Mengapa semboyan ini penting untuk
Indonesia?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Discovery Learning): Guru memutarkan lagu nasional atau video
pendek yang menunjukkan harmoni dalam keberagaman di Indonesia.
2. Identifikasi Masalah (Aktif & Bermakna): Peserta didik diminta untuk
mengartikan frasa "Bhinneka Tunggal Ika" secara harfiah dan mencoba
menghubungkannya dengan kondisi Indonesia.
3. Pengumpulan Data (Aktif & Kolaboratif): Guru menyediakan teks singkat
tentang sejarah dan makna Bhinneka Tunggal Ika. Setiap kelompok
menganalisis bagaimana semboyan ini relevan dengan keberagaman yang
telah mereka identifikasi sebelumnya.
4. Pengolahan Data (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok membuat poster
sederhana "Harmoni dalam Keberagaman" yang menggambarkan makna
Bhinneka Tunggal Ika dengan ilustrasi atau kata-kata kunci. Poster harus
menunjukkan bagaimana perbedaan dapat bersatu.
5. Verifikasi (Aktif & Bermakna): Presentasi poster dan diskusi tentang contoh-
contoh Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari (misalnya,
perayaan hari besar agama yang berbeda, gotong royong antarwarga, festival
budaya).
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menuliskan satu kalimat yang
paling menggambarkan "Bhinneka Tunggal Ika bagiku".
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mencari contoh berita atau peristiwa yang
menunjukkan penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam masyarakat.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 3: Sikap Menghormati dan Menjaga Keberagaman (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meminta peserta didik menyebutkan salah satu
bentuk keberagaman dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa menghormati keberagaman adalah kunci
persatuan.
4. Orientasi Masalah (Discovery Learning): Guru memutar video singkat
tentang konflik yang disebabkan oleh perbedaan atau contoh toleransi. Guru
bertanya: "Bagaimana cara kita mencegah konflik dan menciptakan
kerukunan dalam keberagaman?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Discovery Learning): Guru menyajikan "Kartu Situasi" yang
berisi skenario-skenario tentang interaksi antarbudaya atau agama di
lingkungan
sekolah/masyarakat (misalnya, teman yang berbeda agama beribadah, teman
dari suku lain memiliki kebiasaan berbeda).
2. Identifikasi Masalah (Aktif & Bermakna): Peserta didik secara individu
atau berpasangan menganalisis Kartu Situasi dan mengidentifikasi sikap-
sikap yang seharusnya ditunjukkan untuk menghormati keberagaman.
3. Pengumpulan Data (Aktif & Kolaboratif): Guru menyediakan materi bacaan
singkat tentang contoh-contoh sikap toleransi, gotong royong, dan saling
menghargai. Kelompok mendiskusikan berbagai cara untuk menghormati dan
menjaga keberagaman.
4. Pengolahan Data (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok memilih salah
satu Kartu Situasi dan membuat mind map atau flowchart tentang "Sikapku
Terhadap Keberagaman". Mereka harus menyertakan sikap positif dan
dampak baiknya.
5. Verifikasi (Aktif & Bermakna): Setiap kelompok mempresentasikan mind
map mereka. Guru memfasilitasi diskusi tentang "bagaimana jika" sikap positif
tidak ditunjukkan, dan pentingnya empati.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menyebutkan satu tindakan
kecil yang akan mereka lakukan hari ini untuk menunjukkan sikap
menghormati keberagaman.
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mengamati dan mencatat contoh sikap
menghormati keberagaman di lingkungan keluarga atau tetangga.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 4: Melestarikan Keberagaman Budaya (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menanyakan kembali pentingnya menghormati
keberagaman. Guru bertanya: "Selain menghormati, apa lagi yang bisa
kita lakukan agar budaya kita tidak hilang?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa melestarikan budaya adalah
tanggung jawab kita bersama.
4. Orientasi Masalah (Discovery Learning): Guru menampilkan gambar
atau video tarian daerah yang sudah jarang ditampilkan atau kerajinan
tangan yang mulai ditinggalkan. Guru bertanya: "Bagaimana kita bisa
membuat budaya ini tetap hidup dan dikenal banyak orang?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Discovery Learning): Guru menyajikan informasi tentang upaya-
upaya pelestarian budaya yang dilakukan oleh pemerintah atau masyarakat
(misalnya, festival budaya, pelatihan seni tradisional, museum).
2. Identifikasi Masalah (Aktif & Bermakna): Peserta didik diminta untuk
mengidentifikasi mengapa beberapa budaya terancam punah dan bagaimana
kita bisa mencegahnya.
3. Pengumpulan Data (Aktif & Kolaboratif): Guru membagikan "Kartu Ide
Pelestarian" yang berisi berbagai cara melestarikan budaya (misalnya, belajar
tari daerah, memakai pakaian adat, mengenalkan makanan khas, berbicara
bahasa daerah). Kelompok mendiskusikan efektivitas setiap ide.
4. Pengolahan Data (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok memilih satu
bentuk keberagaman budaya (misalnya, tari, musik, makanan, cerita rakyat)
dan merancang sebuah "Proyek Pelestarian Cilik". Proyek ini bisa berupa:
membuat poster ajakan melestarikan tari, menulis cerita pendek rakyat yang
diadaptasi, membuat resep masakan daerah, atau ide lainnya.
5. Verifikasi (Aktif & Bermakna): Setiap kelompok mempresentasikan rencana
proyek pelestarian mereka dan mendapatkan masukan dari teman serta
guru. Guru memberikan contoh konkret untuk memperdalam pemahaman.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
ide proyek yang paling menarik bagi mereka. "Apa yang membuat kalian
bersemangat untuk melestarikan budaya?"
2. Pemberian Tugas: Setiap kelompok mulai mengumpulkan bahan atau
informasi yang dibutuhkan untuk proyek pelestarian mereka.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 5: Menyajikan Hasil Identifikasi dan Praktik Pelestarian (3


JP)
Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menanyakan kembali proyek pelestarian yang telah
direncanakan.
3. Motivasi: Guru menekankan pentingnya menyajikan hasil karya dengan baik.
4. Orientasi Proyek (Discovery Learning): Guru menjelaskan bahwa hari
ini adalah tahap pengerjaan dan penyelesaian proyek pelestarian.
Inti (60 menit)
1. Pengerjaan Proyek (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok melanjutkan
pengerjaan "Proyek Pelestarian Cilik" mereka. Guru membimbing proses
pengerjaan, memastikan produk yang dihasilkan mencerminkan pemahaman
dan kreativitas. Contoh produk:
o Buku Komik Digital/Manual: Berisi cerita rakyat dari suatu daerah.
o Video Dokumenter Pendek: Menampilkan proses pembuatan
kerajinan daerah atau wawancara dengan seniman lokal.
o Mini Pameran Budaya: Menampilkan miniatur rumah adat atau poster
pakaian adat.
o Persembahan Sederhana: Menampilkan pertunjukan singkat (puisi
daerah, lagu daerah, gerakan tari sederhana).
2. Bimbingan dan Feedback (Aktif & Bermakna): Guru berkeliling
memberikan bimbingan, menjawab pertanyaan, dan memberikan masukan
konstruktif terhadap proyek yang sedang dikerjakan. Peserta didik
didorong untuk saling memberikan masukan antar anggota kelompok.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
progress proyek mereka dan tantangan yang dihadapi.
2. Pemberian Tugas: Menyelesaikan proyek dan mempersiapkan presentasi
untuk pertemuan berikutnya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 6: Refleksi dan Penguatan (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru mengajak peserta didik mengingat kembali seluruh materi
yang telah dipelajari tentang keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika.
3. Motivasi: Guru menekankan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah aset
berharga yang harus terus dijaga.
4. Orientasi (Discovery Learning): Guru bertanya: "Setelah belajar
tentang keberagaman, apa yang akan kalian ceritakan kepada teman-
teman dari sekolah lain agar mereka juga bangga dengan Indonesia?"
Inti (60 menit)
1. Presentasi Proyek Pelestarian (Aktif, Kreatif & Komunikatif): Setiap
kelompok mempresentasikan "Proyek Pelestarian Cilik" mereka. Mereka
menjelaskan isi proyek, proses pengerjaan, dan pesan yang ingin
disampaikan. Kelompok lain diberi kesempatan untuk bertanya dan
memberikan umpan balik.
2. Galeri Budaya Mini (Joyful Learning): Guru menyiapkan area di kelas di
mana semua hasil karya proyek dipajang. Peserta didik dapat berkeliling
melihat dan mengapresiasi karya teman-temannya.
3. Diskusi Terbuka "Aku Bangga Indonesia" (Meaningful Learning): Guru
memfasilitasi diskusi terbuka tentang bagaimana peserta didik merasa
bangga menjadi bagian dari Indonesia yang beragam, dan bagaimana
mereka akan terus menjaga persatuan dalam perbedaan. Guru dapat
menggunakan pertanyaan pemantik "Joyful Learning": "Apa cara paling seru
yang bisa kita lakukan untuk merayakan dan melestarikan keberagaman
budaya di sekolah kita?"
Penutup (15 menit)
1. Refleksi Akhir: Guru memimpin refleksi secara umum tentang
seluruh kegiatan pembelajaran Pendidikan Pancasila.
2. Umpan Balik: Guru meminta peserta didik memberikan umpan balik
tentang pengalaman belajar mereka.
3. Apresiasi: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi dan
antusiasme peserta didik.
4. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

J. Asesmen Formatif dan Sumatif


Asesmen Formatif
 Observasi Selama Diskusi dan Eksplorasi: Guru mengamati keaktifan,
kolaborasi, kemampuan penalaran kritis, dan partisipasi peserta didik dalam
diskusi dan aktivitas eksplorasi.
 Penilaian Peta Budaya Mini/Poster Harmoni: Penilaian terhadap produk
visual awal yang dibuat kelompok.
 Jurnal Refleksi Individu: Penilaian terhadap kemampuan peserta didik
merefleksikan pemahaman dan sikap terhadap keberagaman.
 Kuis Singkat/Tanya Jawab Lisan: Untuk mengecek pemahaman konsep-
konsep dasar secara berkala.
 Umpan Balik Proyek Berkelanjutan: Guru memberikan umpan balik
selama proses pengerjaan proyek pelestarian.
Asesmen Sumatif
 Presentasi Proyek Pelestarian Kelompok: Penilaian terhadap produk
proyek (komik/video/pameran/persembahan) dan presentasi kelompok yang
mencakup identifikasi, analisis, dan penyajian upaya pelestarian
keberagaman. (Rubrik terlampir di LKPD).
 Tes Tertulis: Soal pilihan ganda dan esai yang mencakup pemahaman
tentang bentuk-bentuk keberagaman, makna Bhinneka Tunggal Ika, serta
sikap menghormati dan melestarikan keberagaman.
 Penilaian Diri (Self-Assessment): Peserta didik mengisi lembar penilaian
diri tentang sejauh mana mereka telah menunjukkan sikap menghormati dan
melestarikan keberagaman.

K. Pemahaman Bermakna
Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sekadar semboyan yang dihafal, melainkan
sebuah filosofi hidup yang mengajarkan bahwa dalam segala perbedaan
(suku, agama, bahasa, adat istiadat), kita tetap adalah satu bangsa Indonesia.
Memahami Bhinneka Tunggal Ika secara mendalam berarti mampu melihat
keberagaman sebagai kekayaan tak ternilai, bukan sebagai pemicu perpecahan. Ini
melibatkan kesadaran untuk senantiasa menghormati, menjaga, dan melestarikan
setiap bentuk budaya sebagai identitas bangsa, serta mampu menumbuhkan rasa
persatuan dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia yang majemuk.

L. Materi Bahan Ajar


Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas dengan lebih dari 17.000
pulau. Dari Sabang sampai Merauke, tersebar berbagai macam suku bangsa yang
memiliki ciri khas masing-masing, seperti suku Jawa, Sunda, Batak, Minangkabau,
Bugis, Dayak, Papua, dan masih banyak lagi. Setiap suku memiliki bahasa daerah
yang unik, pakaian adat yang indah, rumah adat yang khas, kesenian tradisional
seperti tari-tarian, musik, dan ukiran, serta adat istiadat dan upacara yang berbeda-
beda. Selain itu, masyarakat Indonesia juga memeluk beragam agama dan
kepercayaan, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, yang
hidup berdampingan secara harmonis.
Meski begitu beragam, Indonesia memiliki semboyan yang mempersatukan, yaitu
Bhinneka Tunggal Ika, yang berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu". Semboyan
ini menjadi pilar penting bagi persatuan bangsa Indonesia, yang mengajarkan kita
untuk selalu menjaga toleransi, saling menghormati, dan tidak membeda-bedakan
satu sama lain berdasarkan suku, agama, ras, atau golongan. Dengan semangat
Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan yang ada justru menjadi kekuatan dan keindahan
yang membuat Indonesia menjadi bangsa yang istimewa.
Untuk menjaga keutuhan bangsa, penting bagi kita untuk tidak hanya menghormati,
tetapi juga melestarikan keberagaman budaya. Caranya bisa dengan mempelajari
bahasa daerah, ikut serta dalam tarian atau musik tradisional, memperkenalkan
makanan khas daerah kita, berkunjung ke museum budaya, atau bahkan membuat
karya seni yang terinspirasi dari budaya lokal. Dengan melestarikan budaya, kita
turut menjaga warisan leluhur dan memperkenalkan kekayaan bangsa kepada
dunia, sehingga nilai-nilai luhur dan identitas bangsa Indonesia tetap terjaga.
M. Refleksi
Refleksi Peserta Didik
1. Apa hal baru yang paling mengejutkan atau menarik yang saya
pelajari tentang keberagaman budaya Indonesia?
2. Bagaimana saya akan menunjukkan sikap menghormati keberagaman di
lingkungan rumah atau sekolah mulai besok?
3. Apakah saya merasa bangga dengan keberagaman budaya Indonesia?
Mengapa ya atau mengapa tidak?
Refleksi Pendidik
1. Apakah peserta didik menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang
Bhinneka Tunggal Ika dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari?
2. Bagaimana saya dapat lebih mendorong kreativitas dan inisiatif peserta
didik dalam merancang proyek pelestarian budaya?
3. Apakah suasana belajar sudah cukup menyenangkan dan inklusif
sehingga semua peserta didik merasa nyaman untuk berpartisipasi dan
mengungkapkan pandangannya tentang keberagaman?

N. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)


LKPD 1: Jelajah Keberagaman di Sekitarku
Nama Kelompok:

Anggota:

Tujuan: Mengidentifikasi bentuk-bentuk keberagaman budaya di lingkungan sekitar


dan merencanakan cara melestarikannya.
Petunjuk:
1. Diskusikan bersama kelompokmu:
o Apa saja bentuk keberagaman budaya (suku, bahasa, makanan,
pakaian, adat istiadat, dll.) yang ada di lingkungan rumah atau
sekolahmu? (Minimal 3 contoh).
o Bagaimana sikap yang seharusnya kita tunjukkan terhadap
keberagaman tersebut? (Sikap menghormati).
o Ide kegiatan sederhana apa yang bisa kalian lakukan untuk
melestarikan salah satu bentuk keberagaman budaya tersebut?
(Contoh: membuat poster tentang makanan khas, mempraktikkan
gerakan tari sederhana, menulis cerita pendek tentang adat istiadat).
2. Buatlah kolase gambar dan tulisan atau peta konsep yang
menggambarkan keberagaman yang kalian temukan dan rencana
pelestarian kalian.
3. Siapkan presentasi singkat (maksimal 7 menit) di depan kelas.
Rubrik Penilaian Analitik untuk Tugas Diskusi Kelompok dan
Presentasi Siswa
Tema: Keberagaman Budaya dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika
1 (Sangat 2 5 (Sangat
Kriteria 3 (Cukup) 4 (Baik)
Kurang) (Kurang) Baik)

Mampu
Mampu mengiden Sangat
Hanya
Menyebu mengiden tifikasi mampu
menyebut
tkan tifikasi berbagai mengident
Identifika kan
beberap keberaga bentuk ifikasi
si sedikit
a bentuk, man keberaga secara
Keberag bentuk
namun dengan man komprehe
aman keberaga
kurang cukup secara nsif,
(Isi) man,
detail/ak lengkap lengkap, mendalam
kurang
urat. dan akurat, , dan kaya
akurat.
akurat. dan contoh.
relevan.

Sangat
mampu
Mampu
Penjelas menganali
Penjelasa menganal
Sikap & Tidak an sis secara
n sikap isis sikap
Pelestari mampu sikap/ide kritis,
menghor menghor
an menjelask pelestari menyajika
mati dan mati dan
(Penalar an sikap an n ide
ide menyajika
an Kritis menghor kurang pelestaria
pelestaria n ide
& mati/ide relevan/k n yang
n cukup pelestaria
Kewarga pelestaria urang inovatif,
jelas dan n yang
an) n. mendala dan
relevan. logis dan
m. menunjuk
kreatif.
kan
komitmen.

Aktif
Sangat
berpartisi
Cukup aktif,
pasi,
Tidak ada Kerja aktif, ada inisiatif,
saling
Kolabora kerja sama pembagia kolaboratif
mengharg
si sama, kurang, n tugas, ,
ai,
Kelompo pasif, atau kadang mendeng memimpin
pembagia
k (Sikap) mendomin berpartisi arkan diskusi,
n tugas
asi. pasi. anggota memberd
jelas,
lain. ayakan
mendoron
anggota.
g ide.

Kreativit Produk Produk Produk Produk Produk


as tidak sesuai rapi, rapi, sangat
1 (Sangat 2 5 (Sangat
Kriteria 3 (Cukup) 4 (Baik)
Kurang) (Kurang) Baik)

Produk sesuai format, cukup menarik, rapi,


(Keteram format, kurang menarik, kreatif, sangat
pilan) tidak rapi, rapi/men dan dan menarik,
atau tidak arik. sesuai sesuai inovatif,
menarik. format. format. dan
menunjuk
kan
pemikiran
orisinal.

Sangat
percaya
diri,
Percaya Percaya
sangat
Tidak Cukup diri, diri, jelas,
jelas,
percaya percaya cukup interaktif,
Presenta persuasif,
diri, tidak diri, jelas, mampu
si mampu
jelas, kurang interaktif, menjawa
(Komuni merespon
tidak ada jelas, menjawa b
kasi) s
kontak kurang b pertanyaa
pertanyaa
mata. interaktif. pertanyaa n, bahasa
n, bahasa
n. lugas.
santun
dan
efektif.
Skala Penilaian Likert:
 1 = Sangat Kurang
 2 = Kurang
 3 = Cukup
 4 = Baik
 5 = Sangat Baik

O. Pengayaan dan Remedial


Pengayaan
 Bagi peserta didik yang telah mencapai ketuntasan, dapat diberikan tugas
untuk membuat riset mini tentang salah satu kebudayaan daerah yang
belum banyak dikenal dan menyajikannya dalam bentuk presentasi digital.
 Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang berhubungan dengan seni dan
budaya tradisional.
 Menjadi "Duta Keberagaman" di kelas, membantu teman-teman lain
memahami dan menghargai perbedaan.
Remedial
 Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, guru dapat
memberikan bimbingan individual atau kelompok kecil dengan fokus pada
pengenalan bentuk-bentuk keberagaman dasar.
 Mengulang kembali materi dengan menggunakan media visual yang lebih
konkret atau cerita sederhana tentang toleransi.
 Memberikan lembar kerja tambahan dengan latihan mengidentifikasi contoh-
contoh sikap menghormati dan melestarikan budaya dari gambar atau video.

P. Glosarium
1. Bhinneka Tunggal Ika: Semboyan negara Indonesia yang berarti
"Berbeda- beda tetapi tetap satu".
2. Keberagaman Budaya: Perbedaan dalam bentuk suku, bahasa, adat
istiadat, kesenian, dan kepercayaan yang dimiliki oleh suatu kelompok
masyarakat.
3. Toleransi: Sikap menghargai dan menghormati perbedaan pendapat,
pandangan, kepercayaan, atau kebiasaan orang lain.

Q. Daftar Pustaka
1. [Link]. (Berbagai artikel dan literatur pendidikan). Diakses
pada 13 Juli 2025.
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Buku Guru Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas VI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan.

Mengetahui,
Kepala SDN 3 Purwosari Guru Kelas 6

Titik Purwanti, [Link]. Toni Adhi Putranto, [Link].


NIP. 19731220 200501 2 012 NIP. 19910411 202012 1 003
Modul Ajar Pendidikan Pancasila
Pendekatan Deep Learning

A. Identitas Penulis
 Nama Penyusun: Umar Tholib
 Satuan Pendidikan: SDN Karangsari 02
 Tahun Ajaran: 2025/2026
 Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
 Fase: C
 Kelas/Semester: 6/2
 Alokasi Waktu: 18 JP

B. 8 Dimensi Profil Kelulusan


 [✓] Keimanan dan Ketakwaan: Menunjukkan rasa syukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah NKRI yang utuh dan berdaulat.
 [✓] Kewargaan: Mengenali diri sebagai bagian dari wilayah Indonesia,
menunjukkan rasa cinta tanah air, dan berperilaku gotong royong
untuk menjaga persatuan.
 [✓] Penalaran Kritis: Mampu menganalisis pentingnya menjaga keutuhan
wilayah dan menemukan solusi untuk tantangan yang mengancam
persatuan.
 [✓] Kreativitas: Mampu menghasilkan ide-ide orisinal dalam
menyajikan informasi tentang wilayah Indonesia dan kampanye bela
negara.
 [✓] Kolaborasi: Mampu bekerja sama dengan teman-teman dalam proyek
dan kegiatan gotong royong untuk menjaga lingkungan sekolah dan sekitar.
 [✓] Kemandirian: Memiliki inisiatif untuk memahami wilayah Indonesia
dan bertanggung jawab dalam menjalankan perilaku bela negara
sederhana.
 [ ] Kesehatan: Menjaga kesehatan fisik dan mental untuk menunjang
aktivitas belajar dan kehidupan.
 [✓] Komunikasi: Mampu menyampaikan gagasan tentang
pentingnya persatuan dan bela negara secara jelas dan persuasif.

C. 7 Kegiatan Anak Indonesia Hebat


Guru dapat menanyakan tentang pelaksanaan 7 kegiatan Anak Indonesia Hebat
kepada peserta didik melalui berbagai cara yang mendorong refleksi dan
berbagi pengalaman, seperti:
1. Bangun Tidur: "Anak-anak, siapa yang tadi pagi bangunnya tepat waktu?
Coba ceritakan, apa yang pertama kali kalian lakukan setelah bangun tidur
untuk memulai hari dengan semangat?"
2. Beribadah: "Setelah bangun, apakah kalian menyempatkan diri untuk
beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing? Bagaimana rasa
syukur kalian atas karunia kehidupan yang diberikan Tuhan?"
3. Berolahraga: "Selain ibadah, apakah ada yang suka bergerak atau
berolahraga di pagi hari? Olahraga apa yang kalian lakukan dan bagaimana
dampaknya untuk tubuh kalian agar tetap sehat dan kuat membela
negara?"
4. Gemar Belajar: "Bagaimana dengan semangat belajar kalian hari ini?
Ceritakan, pelajaran apa yang paling kalian sukai dan bagaimana kalian
mempelajarinya di rumah untuk terus menambah ilmu pengetahuan tentang
Indonesia?"
5. Makan Sehat dan Bergizi: "Saat sarapan tadi, makanan apa yang
kalian santap? Apakah makanan itu sehat dan bergizi agar kalian punya
energi untuk belajar dan beraktivitas demi masa depan bangsa?"
6. Bermasyarakat: "Apakah kalian pernah membantu orang tua atau tetangga
di rumah? Kegiatan apa yang kalian lakukan untuk berinteraksi dan
berkontribusi di lingkungan sekitar, misalnya ikut kerja bakti?"
7. Tidur Cepat: "Semalam, apakah kalian tidur cukup dan tidak terlalu
malam? Mengapa tidur yang cukup itu penting untuk kesehatan dan
konsentrasi belajar kita, agar kita bisa fokus membangun negara?"

D. Capaian dan Tujuan Pembelajaran


Capaian Pembelajaran:

Elemen: Negara Kesatuan Republik Indonesia

Peserta didik mengenal wilayahnya dalam konteks kabupaten/kota, provinsi sebagai


bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia; menunjukkan perilaku
gotong royong untuk menjaga persatuan di lingkungan sekolah dan sekitar sebagai
wujud bela negara.

Tujuan Pembelajaran:

Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, peserta didik diharapkan


mampu:

1. Mengidentifikasi wilayah kabupaten/kota dan provinsi tempat tinggalnya


sebagai bagian dari wilayah NKRI dengan tepat.
2. Menjelaskan pentingnya menjaga keutuhan wilayah NKRI sebagai harga
mati.
3. Menganalisis berbagai perilaku gotong royong yang dapat menjaga
persatuan di lingkungan sekolah dan sekitar.
4. Menyajikan informasi tentang wilayah NKRI (kabupaten/kota, provinsi, pulau-
pulau besar) secara kreatif dan sistematis.
5. Mempraktikkan sikap gotong royong dalam berbagai kegiatan di lingkungan
sekolah dan sekitar.
6. Menunjukkan perilaku bela negara sederhana dalam kehidupan sehari-
hari sebagai wujud cinta tanah air.
7. Merencanakan aksi nyata gotong royong atau kampanye menjaga
kebersihan/keamanan lingkungan sebagai bentuk bela negara.
E. Sarana dan Prasarana
1. Papan tulis/Whiteboard dan spidol
2. Proyektor dan layar
3. Laptop/Komputer
4. Peta Indonesia (fisik atau digital)
5. Alat-alat kebersihan (sapu, tempat sampah) untuk kegiatan gotong royong

F. Target Peserta Didik


Peserta didik reguler/tipikal yang tidak memiliki kesulitan dalam mencerna dan
memahami materi ajar.

G. Model Pembelajaran
Model Pembelajaran: Inquiry-Based Learning dengan pendekatan deep learning.

Metode Pembelajaran: Eksplorasi peta, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi,


proyek aksi nyata, presentasi.

Pendekatan deep learning dalam Inquiry-Based Learning akan mendorong peserta


didik untuk secara aktif menemukan informasi tentang wilayah Indonesia,
menganalisis mengapa persatuan itu penting, dan merumuskan serta
mempraktikkan perilaku gotong royong dan bela negara sebagai wujud pemahaman
mendalam mereka.

H. Pertanyaan Pemantik
Mindful Learning:
 "Coba pejamkan mata sejenak, bayangkan betapa luasnya Indonesia. Apa
yang kalian rasakan ketika tahu bahwa kita tinggal di negara yang sangat
besar ini?"
 "Jika kalian melihat teman sedang kesulitan membersihkan kelas, apa yang
pertama kali terlintas di pikiran kalian? Apakah kalian akan membantunya?"
Meaningful Learning:
 "Mengapa penting bagi kita untuk tahu di mana letak kabupaten/kota
dan provinsi tempat kita tinggal? Apa hubungannya dengan Indonesia
secara keseluruhan?"
 "Mengapa kita harus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia
yang sangat beragam ini?"
Joyful Learning:
 "Jika kalian bisa melakukan perjalanan ke seluruh Indonesia, daerah mana
yang paling ingin kalian kunjungi? Mengapa?"
 "Kegiatan gotong royong apa yang paling seru dan bermanfaat yang
pernah kalian lakukan bersama teman-teman atau tetangga?"
I. Kegiatan Pembelajaran
Alokasi Waktu Total: 18 JP (asumsi 1 JP = 35 menit)

Pembagian Pertemuan: Disesuaikan dengan jumlah jam pelajaran, misalnya 6


pertemuan @ 3 JP.

Pertemuan 1: Mengenal Wilayahku dalam NKRI (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Guru membuka pelajaran dengan salam, doa, dan mengecek
kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menampilkan peta Indonesia.
Gambar
. Guru meminta peserta didik menunjuk pulau-pulau besar yang mereka
ketahui. Guru mengajukan pertanyaan pemantik "Mindful Learning": "Apa
yang kalian lihat dari peta ini? Seberapa luas negara kita?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara kesatuan
yang sangat luas dengan beragam wilayah.
4. Orientasi Masalah (Inquiry-Based Learning): Guru bertanya: "Bagaimana
cara kita bisa mengenal lebih dekat wilayah kita sendiri dan bagaimana
wilayah kita itu menjadi bagian dari Indonesia yang besar ini?"
Inti (60 menit)
1. Observasi (Inquiry-Based Learning): Guru membagikan peta provinsi atau
peta kabupaten/kota yang lebih detail. Peserta didik secara individu atau
berpasangan mengamati peta tersebut, mencari nama kabupaten/kota dan
provinsinya sendiri.
2. Perumusan Hipotesis (Aktif & Kolaboratif): Guru membimbing peserta
didik untuk merumuskan pertanyaan-pertanyaan terkait wilayah mereka
(misalnya, "Di mana letak Kabupaten Karangsari di Provinsi Jawa Timur?",
"Berapa banyak provinsi di Indonesia?", "Apa saja batas-batas wilayah
Indonesia?").
3. Eksplorasi Data (Aktif & Bermakna): Guru menyediakan buku teks,
atlas, atau sumber digital sederhana tentang wilayah Indonesia. Setiap
kelompok bertugas mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
telah dirumuskan, serta mengidentifikasi pulau-pulau besar dan provinsi-
provinsi utama di Indonesia.
4. Inferensi/Generalisasi (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok membuat
"Peta Eksplorasi Wilayah" sederhana di kertas manila, dengan menandai
lokasi kabupaten/kota dan provinsi mereka, serta beberapa provinsi/pulau
lain yang menarik perhatian mereka. Mereka juga menuliskan satu fakta
menarik tentang wilayah yang mereka pilih.
5. Diskusi dan Verifikasi: Setiap kelompok mempresentasikan Peta Eksplorasi
Wilayah mereka. Guru memberikan penguatan dan meluruskan konsep yang
kurang tepat, menegaskan bahwa semua wilayah adalah bagian tak
terpisahkan dari NKRI.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Guru meminta beberapa peserta didik
menyampaikan refleksi singkat: "Apa hal baru yang kalian pelajari tentang
wilayah Indonesia hari ini? Mengapa penting untuk mengenal wilayah kita?"
2. Pemberian Tugas: Peserta didik diminta mencari tahu lebih banyak tentang
kekayaan alam atau budaya yang ada di kabupaten/kota atau provinsi
mereka.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran dengan salam.

Pertemuan 2: Pentingnya Menjaga Keutuhan NKRI (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru meninjau kembali materi sebelumnya tentang luasnya
wilayah Indonesia. Guru bertanya: "Mengapa semua wilayah yang
beragam ini harus tetap bersatu?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa menjaga keutuhan NKRI adalah harga
mati bagi bangsa Indonesia.
4. Orientasi Masalah (Inquiry-Based Learning): Guru menampilkan gambar
perbatasan negara atau simbol-simbol kedaulatan. . Guru bertanya: "Apa
yang akan terjadi jika wilayah kita tidak dijaga dengan baik? Mengapa
NKRI harus tetap utuh?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Inquiry-Based Learning): Guru memutar video atau
menampilkan ilustrasi tentang pentingnya persatuan dan bahaya
perpecahan.
2. Perumusan Hipotesis (Aktif & Bermakna): Peserta didik dibimbing
untuk merumuskan pertanyaan: "Mengapa persatuan itu sangat penting
bagi Indonesia?", "Apa risiko jika Indonesia terpecah belah?", "Siapa saja
yang bertanggung jawab menjaga keutuhan NKRI?".
3. Eksplorasi Data (Aktif & Kolaboratif): Guru menyediakan studi kasus
sederhana (bisa berupa cerita fiksi) tentang sebuah daerah yang
mengalami masalah karena kurangnya persatuan atau ancaman dari luar.
Kelompok menganalisis dampak dari perpecahan.
4. Inferensi/Generalisasi (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok membuat
"Diagram Dampak Perpecahan" atau "Pohon Persatuan" yang menunjukkan
mengapa persatuan penting dan apa konsekuensinya jika tidak ada
persatuan. Diagram harus memuat ide-ide kunci mengapa NKRI harus tetap
utuh.
5. Diskusi dan Verifikasi: Presentasi hasil analisis kelompok dan diskusi kelas
tentang mengapa NKRI adalah sebuah kesatuan yang tidak boleh dipisahkan.
Guru menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan wilayah.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning): Peserta didik menuliskan satu kalimat yang
paling menggambarkan "Mengapa NKRI harus utuh?".
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mencari tahu tentang peran pahlawan lokal
dalam menjaga persatuan daerahnya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 3: Perilaku Gotong Royong untuk Persatuan (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru bertanya: "Bagaimana cara kita menjaga agar semua
orang di Indonesia tetap bersatu?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa gotong royong adalah salah satu
kunci persatuan bangsa.
4. Orientasi Masalah (Inquiry-Based Learning): Guru menampilkan gambar
kegiatan gotong royong di masyarakat (misalnya, kerja bakti membersihkan
lingkungan). . Guru bertanya: "Apa yang kalian lihat di gambar ini? Mengapa
kegiatan seperti ini penting?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Inquiry-Based Learning): Guru memutar video atau
menampilkan foto-foto kegiatan gotong royong di berbagai daerah di
Indonesia.
2. Perumusan Hipotesis (Aktif & Bermakna): Peserta didik dibimbing untuk
merumuskan pertanyaan: "Apa itu gotong royong?", "Apa saja contoh gotong
royong di sekolah dan sekitar?", "Bagaimana gotong royong bisa memperkuat
persatuan?".
3. Eksplorasi Data (Aktif & Kolaboratif): Guru menyediakan "Kartu Kasus
Gotong Royong" berisi skenario-skenario tentang masalah di sekolah atau
lingkungan yang bisa diselesaikan dengan gotong royong (misalnya, taman
sekolah kotor, buku perpustakaan berantakan, persiapan acara sekolah).
Kelompok menganalisis bagaimana gotong royong dapat menjadi solusi.
4. Inferensi/Generalisasi (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok memilih
satu kasus dan merancang "Rencana Aksi Gotong Royong" sederhana.
Mereka harus menjelaskan masalahnya, apa yang akan mereka lakukan
secara gotong royong, dan bagaimana hasilnya akan memperkuat
persatuan.
5. Diskusi dan Verifikasi: Setiap kelompok mempresentasikan Rencana Aksi
Gotong Royong mereka. Guru memberikan umpan balik dan menekankan
bahwa gotong royong tidak hanya tentang pekerjaan fisik, tetapi juga
kebersamaan dan kekeluargaan.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
pengalaman gotong royong yang paling berkesan bagi mereka. "Apa yang
membuat kalian senang saat melakukan gotong royong?"
2. Pemberian Tugas: Peserta didik mengidentifikasi satu masalah kecil di
rumah atau lingkungan sekitar yang bisa diselesaikan dengan gotong royong
bersama keluarga atau tetangga.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 4: Perilaku Bela Negara Sederhana (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menanyakan kembali manfaat gotong royong. Guru
bertanya: "Selain gotong royong, apa lagi yang bisa kita lakukan untuk
menunjukkan cinta kita pada Indonesia?"
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa membela negara tidak hanya
berperang, tetapi juga melalui tindakan sederhana sehari-hari.
4. Orientasi Masalah (Inquiry-Based Learning): Guru menampilkan gambar
anak-anak yang belajar dengan rajin, menjaga lingkungan, atau upacara
bendera. . Guru bertanya: "Apakah ini juga termasuk membela negara?
Bagaimana caranya?"
Inti (60 menit)
1. Stimulasi (Inquiry-Based Learning): Guru menampilkan berbagai contoh
perilaku bela negara sederhana (belajar giat, menjaga fasilitas umum,
membuang sampah pada tempatnya, menaati peraturan, menghargai jasa
pahlawan, mencintai produk dalam negeri).
2. Perumusan Hipotesis (Aktif & Bermakna): Peserta didik dibimbing
untuk merumuskan pertanyaan: "Apa itu bela negara?", "Apa saja contoh
bela negara yang bisa kita lakukan sebagai anak SD?", "Bagaimana
perilaku sederhana ini bisa melindungi negara kita?".
3. Eksplorasi Data (Aktif & Kolaboratif): Guru menyediakan "Kartu Perilaku"
berisi berbagai tindakan (positif dan negatif) sehari-hari. Kelompok
mengidentifikasi mana yang termasuk perilaku bela negara dan mana yang
tidak, serta menjelaskan alasannya.
4. Inferensi/Generalisasi (Kreatif & Kolaboratif): Setiap kelompok membuat
"Papan Aksi Bela Negara Cilik" yang berisi daftar perilaku bela negara
sederhana yang dapat mereka lakukan di rumah dan sekolah, disertai
gambar atau ilustrasi.
5. Diskusi dan Verifikasi: Setiap kelompok mempresentasikan Papan Aksi
mereka. Guru memberikan penguatan bahwa setiap tindakan positif yang
dilakukan demi kebaikan bersama adalah wujud bela negara.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
satu perilaku bela negara yang akan mereka mulai lakukan hari ini. "Apa
yang membuat kalian merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia?"
2. Pemberian Tugas: Peserta didik diminta untuk mendokumentasikan
(foto/video pendek/cerita) salah satu perilaku bela negara yang
mereka lakukan di rumah atau sekolah.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 5: Perencanaan dan Persiapan Proyek Aksi Nyata (3 JP)


Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru menanyakan kembali tentang gotong royong dan bela
negara.
3. Motivasi: Guru menjelaskan bahwa kita akan melakukan aksi nyata
untuk menjaga persatuan.
4. Orientasi Proyek (Inquiry-Based Learning): Guru menyampaikan bahwa
di pertemuan berikutnya, mereka akan melaksanakan proyek "Aksi Gotong
Royong Bela Negara" di lingkungan sekolah. Hari ini adalah tahap
perencanaan.
Inti (60 menit)
1. Perencanaan Proyek (Kreatif & Kolaboratif): Guru membagi peserta didik
menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok berdiskusi untuk menentukan
jenis aksi gotong royong bela negara yang akan mereka lakukan di
lingkungan sekolah (misalnya, membersihkan taman sekolah, merapikan
perpustakaan kelas, membuat poster ajakan menjaga kebersihan,
menghemat air/listrik di sekolah).
2. Pembagian Tugas (Aktif & Bermakna): Setiap kelompok menyusun
rencana aksi yang detail: tujuan, kegiatan yang akan dilakukan, alat dan
bahan yang dibutuhkan, serta pembagian tugas antar anggota kelompok.
3. Bimbingan dan Feedback: Guru berkeliling membimbing setiap kelompok,
memberikan masukan, dan memastikan rencana aksi mereka realistis dan
sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru juga membantu mengidentifikasi
potensi masalah dan solusinya.
Penutup (15 menit)
1. Refleksi (Meaningful Learning & Joyful Learning): Peserta didik berbagi
rencana aksi mereka dan antusiasme mereka untuk melaksanakan
proyek. "Apa yang paling kalian tunggu dari proyek ini?"
2. Pemberian Tugas: Mempersiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
untuk aksi gotong royong di pertemuan berikutnya.
3. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

Pertemuan 6: Pelaksanaan Proyek Aksi Nyata dan Refleksi Akhir (3


JP)
Pendahuluan (30 menit)
1. Pembukaan: Salam, doa, dan check-in kehadiran.
2. Apersepsi: Guru mengingatkan kembali tentang rencana aksi gotong royong
bela negara.
3. Motivasi: Guru menekankan pentingnya kerja sama dan tanggung
jawab dalam melaksanakan aksi nyata.
4. Orientasi Proyek (Inquiry-Based Learning): Guru menjelaskan bahwa
hari ini adalah hari untuk melaksanakan aksi nyata.
Inti (60 menit)
1. Pelaksanaan Proyek Aksi Nyata (Aktif, Kreatif & Kolaboratif): Setiap
kelompok melaksanakan proyek aksi gotong royong bela negara yang telah
mereka rencanakan di lingkungan sekolah. Guru mengamati, memfasilitasi,
dan memberikan dukungan yang diperlukan. Contoh kegiatan:
o Membersihkan area kelas atau taman sekolah.
o Menyortir dan merapikan buku di perpustakaan kelas.
o Membuat poster-poster ajakan menjaga kebersihan/menghemat energi
di lingkungan sekolah dan menempelkannya.
2. Dokumentasi (Kreatif & Bermakna): Peserta didik didorong untuk
mendokumentasikan kegiatan mereka (foto/video singkat) sebagai bukti
pelaksanaan dan untuk bahan presentasi.
3. Refleksi dan Evaluasi Diri (Meaningful Learning): Setelah aksi selesai,
setiap kelompok duduk bersama untuk merefleksikan proses dan hasil aksi
mereka. Apa yang berjalan baik? Apa tantangannya? Bagaimana perasaan
mereka setelah melakukan aksi ini?
Penutup (15 menit)
1. Presentasi Singkat (Komunikatif): Beberapa kelompok secara singkat
mempresentasikan hasil aksi dan refleksi mereka.
2. Refleksi Akhir (Joyful Learning): Guru memimpin diskusi tentang
bagaimana aksi kecil mereka berkontribusi pada keutuhan NKRI dan
menumbuhkan rasa cinta tanah air. "Bagaimana perasaan kalian setelah
berhasil melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk sekolah dan negara
kita?"
3. Apresiasi: Guru memberikan apresiasi atas partisipasi, kerja keras, dan
semangat gotong royong peserta didik.
4. Penutupan: Guru menutup pelajaran.

J. Asesmen Formatif dan Sumatif


Asesmen Formatif
 Observasi Selama Diskusi dan Eksplorasi: Guru mengamati
keaktifan, kolaborasi, dan kemampuan penalaran kritis peserta didik.
 Penilaian Peta Eksplorasi Wilayah/Diagram Dampak: Penilaian terhadap
pemahaman awal tentang wilayah dan pentingnya persatuan.
 Jurnal Refleksi Individu: Penilaian terhadap kemampuan peserta didik
merefleksikan perilaku gotong royong dan bela negara.
 Umpan Balik Rencana Aksi: Guru memberikan umpan balik pada
rencana proyek aksi nyata.
Asesmen Sumatif
 Laporan dan Presentasi Proyek Aksi Nyata: Penilaian terhadap
pelaksanaan proyek gotong royong bela negara (termasuk dokumentasi) dan
presentasi hasil serta refleksi kelompok. (Rubrik terlampir di LKPD).
 Tes Tertulis: Soal esai dan studi kasus yang mencakup pemahaman
tentang wilayah NKRI, pentingnya keutuhan, konsep gotong royong, dan
contoh perilaku bela negara.
 Penilaian Kinerja (Praktik Gotong Royong): Observasi langsung guru
terhadap partisipasi dan kontribusi setiap peserta didik selama
pelaksanaan aksi nyata.

K. Pemahaman Bermakna
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah rumah kita bersama, yang harus
dikenal, dicintai, dan dijaga keutuhannya oleh setiap warga negara. Memahami
NKRI secara mendalam berarti menyadari bahwa setiap wilayah, dari
kabupaten/kota hingga provinsi, adalah bagian tak terpisahkan dari satu kesatuan
utuh. Pemahaman ini akan menumbuhkan kesadaran bahwa persatuan adalah
kekuatan utama bangsa, dan bahwa perilaku gotong royong serta aksi bela
negara sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah wujud nyata dari cinta
tanah air dan tanggung jawab kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Ini akan
membentuk karakter peserta didik yang nasionalis, peduli lingkungan, dan siap
berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

L. Materi Bahan Ajar


Indonesia adalah sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang
terbentang luas dari Sabang di ujung barat hingga Merauke di ujung timur. NKRI
terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil, yang terbagi menjadi banyak provinsi, dan
di setiap provinsi terdapat kabupaten/kota. Mengenal wilayah kita sendiri, seperti
nama kabupaten/kota dan provinsi tempat kita tinggal, adalah langkah awal untuk
memahami bahwa kita adalah bagian dari sebuah negara yang besar dan beragam.
Keutuhan wilayah ini adalah hasil perjuangan para pahlawan yang harus kita jaga
dengan sekuat tenaga, karena tanpa keutuhan, negara kita bisa terpecah belah.
Menjaga persatuan dan kesatuan adalah hal yang sangat penting bagi NKRI yang
memiliki berbagai suku, agama, dan budaya. Salah satu nilai luhur bangsa
Indonesia yang menjadi perekat persatuan adalah gotong royong. Gotong royong
adalah kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama dan sukarela untuk mencapai
tujuan bersama. Contohnya bisa berupa membersihkan lingkungan sekolah,
membantu teman yang kesulitan, atau bekerja bakti di lingkungan rumah. Dengan
gotong royong, pekerjaan menjadi ringan, hubungan antar sesama menjadi erat, dan
rasa persatuan pun semakin kuat.
Selain gotong royong, setiap warga negara juga memiliki kewajiban untuk
melakukan bela negara. Bela negara tidak selalu berarti berperang mengangkat
senjata. Sebagai anak-anak, kita bisa melakukan bela negara dalam bentuk yang
sederhana, seperti belajar dengan rajin untuk masa depan bangsa, menjaga
kebersihan lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, menghemat energi,
menaati peraturan sekolah dan lalu lintas, menghargai jasa para pahlawan, serta
mencintai produk-produk buatan dalam negeri. Setiap tindakan positif yang kita
lakukan demi kebaikan bersama dan kemajuan bangsa adalah wujud dari cinta
tanah air dan bela negara.

M. Refleksi
Refleksi Peserta Didik
1. Apa yang paling membuat saya bangga menjadi warga negara Indonesia
setelah mempelajari materi ini?
2. Satu kegiatan gotong royong apa yang paling ingin saya lakukan
lagi bersama teman-teman?
3. Bagaimana saya akan menjelaskan kepada adik atau teman kecil tentang
pentingnya menjaga keutuhan NKRI?
Refleksi Pendidik
1. Apakah peserta didik menunjukkan pemahaman yang komprehensif tentang
wilayah NKRI dan pentingnya persatuan?
2. Bagaimana saya dapat lebih mendorong perilaku gotong royong dan
bela negara secara berkelanjutan di luar jam pelajaran?
3. Apakah suasana pembelajaran sudah cukup memfasilitasi peserta didik
untuk berpikir kritis dan berpartisipasi aktif dalam aksi nyata?

N. LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik)


LKPD 1: Proyek Aksi Gotong Royong Bela Negara
Nama Kelompok:

Anggota:

Tujuan: Merencanakan dan melaksanakan aksi gotong royong sederhana sebagai


wujud bela negara di lingkungan sekolah.
Petunjuk:
1. Diskusikan bersama kelompokmu, masalah apa di lingkungan sekolah kita
yang bisa diselesaikan dengan gotong royong? (Contoh: area kelas
kotor, tanaman di taman layu, papan pengumuman berantakan).
2. Pilih satu masalah. Susun rencana aksi gotong royong yang akan
kalian lakukan:
o Tujuan Aksi: Apa yang ingin kalian capai?
o Kegiatan yang akan dilakukan: Langkah-langkahnya secara rinci.
o Alat dan Bahan: Apa saja yang dibutuhkan?
o Pembagian Tugas: Siapa melakukan apa?
o Waktu Pelaksanaan: Kapan akan dilaksanakan?
3. Laksanakan aksi gotong royong tersebut dengan penuh tanggung jawab.
Dokumentasikan kegiatanmu (bisa berupa foto atau video singkat).
4. Setelah selesai, buat laporan singkat (bisa dalam bentuk
poster/infografis/presentasi sederhana) yang berisi:
o Deskripsi kegiatan yang telah dilakukan.
o Manfaat gotong royong bagi persatuan dan kebersihan lingkungan.
o Refleksi perasaan kalian setelah melaksanakan aksi.
5. Siapkan presentasi (maksimal 7 menit) untuk menceritakan pengalamanmu di
depan kelas.

Rubrik Penilaian Analitik untuk Tugas Diskusi Kelompok dan


Presentasi Siswa
Tema: Mengenal Wilayah NKRI dan Menjaga Persatuan Melalui Gotong Royong
Bela Negara
1 (Sangat 2 3 5 (Sangat
Kriteria 4 (Baik)
Kurang) (Kurang) (Cukup) Baik)

Perencan
Perencan Perencan aan
Perenca
Perencan aan aan jelas, sangat
naan
Perencana aan tidak cukup detail, jelas,
kurang
an Proyek jelas, jelas, tujuan/lan detail,
jelas,
(Penalaran tidak ada tujuan/lan gkah kreatif,
beberap
Kritis) tujuan/lan gkah terstruktu tujuan/lan
a bagian
gkah. teridentifi r dan gkah
missing.
kasi. logis. inovatif &
realistis.

Pelaksana Kurang Aktif Sangat


Tidak Cukup
an Gotong berpartisi berpartisi aktif,
berpartisi aktif, ada
Royong pasi, pasi, memimpi
pasi, tidak pembagi
(Kemandir kerja inisiatif, n,
ada an tugas,
ian & sama bertangg bertangg
inisiatif, kerja
Kolaboras kurang ung ung
tidak sama
i) efektif. jawab, jawab
1 (Sangat 2 3 5 (Sangat
Kriteria 4 (Baik)
Kurang) (Kurang) (Cukup) Baik)

kerja cukup kerja penuh,


sama. baik. sama kerja
efektif. sama
sangat
efektif.

Laporan
Laporan Laporan
Penyajian Laporan Laporan sangat
sesuai cukup
Laporan/P tidak rapi, rapi,
format, rapi,
roduk sesuai menarik, sangat
kurang cukup
(Kreativita format, kreatif, menarik,
rapi/men menarik,
s& tidak rapi, jelas, inovatif,
arik, jelas,
Komunika sulit sesuai sangat
kurang sesuai
si) dipahami. format. jelas,
jelas. format.
orisinal.

Mampu
Sangat
merefleks
mampu
Tidak ikan
Refleksi merefleks
mampu Refleksi secara
Refleksi & cukup ikan
merefleks dangkal, mendala
Bela baik, secara
ikan kaitan m,
Negara dapat mendala
makna dengan mengaitk
(Pemaham mengaitk m,
aksi atau bela an
an an analisis
kaitannya negara dengan
Bermakna dengan tajam
dengan kurang konsep
) bela tentang
bela jelas. bela
negara. makna
negara. negara
bela
secara
negara.
konkret.

Sangat
percaya
diri,
Percaya
Percaya sangat
diri, jelas,
Tidak Cukup diri, jelas,
interaktif,
percaya percaya cukup persuasif,
mampu
Presentasi diri, tidak diri, jelas, mampu
menjawa
(Komunik jelas, kurang interaktif, merespo
b
asi) tidak ada jelas, menjawa ns
pertanya
kontak kurang b pertanya
an,
mata. interaktif. pertanya an,
bahasa
an. bahasa
lugas.
santun
dan
efektif.
Skala Penilaian Likert:
 1 = Sangat Kurang

 2 = Kurang
 3 = Cukup
 4 = Baik
 5 = Sangat Baik

O. Pengayaan dan Remedial


Pengayaan
 Bagi peserta didik yang telah mencapai ketuntasan, dapat diberikan tugas
untuk membuat vlog singkat tentang "Wisata Edukasi" ke salah satu tempat
bersejarah di daerahnya yang berkaitan dengan perjuangan mempertahankan
NKRI.
 Mempelajari lebih dalam tentang berbagai bentuk ancaman terhadap NKRI
dan upaya penanggulangannya.
 Menjadi "agen perdamaian" di kelas, membantu menyelesaikan konflik kecil
dengan semangat gotong royong.
Remedial
 Bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, guru dapat
memberikan bimbingan individual atau kelompok kecil dengan fokus pada
pengenalan peta Indonesia dan konsep dasar gotong royong.
 Mengulang kembali materi dengan menggunakan media visual yang lebih
sederhana atau permainan peran yang menstimulasi kerja sama.
 Memberikan lembar kerja tambahan dengan contoh-contoh kasus yang lebih
sederhana dan terarah tentang gotong royong dan bela negara.

P. Glosarium
1. NKRI: Negara Kesatuan Republik Indonesia, bentuk negara Indonesia yang
utuh dan tidak terpecah belah.
2. Gotong Royong: Kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama
dan sukarela untuk mencapai tujuan bersama, mencerminkan
semangat kebersamaan.
3. Bela Negara: Sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaan
kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam
menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Q. Daftar Pustaka
1. [Link]. (Berbagai artikel dan literatur pendidikan). Diakses
pada 13 Juli 2025.
2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Buku Guru Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Kelas VI. Jakarta: Pusat Kurikulum dan
Perbukuan.
3. Susilowati, N. (2023). Modul Ajar Pendidikan Pancasila untuk Sekolah Dasar.
(Tidak dipublikasikan).

Mengetahui,
Kepala SDN 3 Purwosari Guru Kelas 6

Titik Purwanti, [Link]. Toni Adhi Putranto, [Link].


NIP. 19731220 200501 2 012 NIP. 19910411 202012 1 003

Anda mungkin juga menyukai