8/19/25, 9:42 AM Benarkah Kekayaan Bisa Menjamin Kesejahteraan?
Ini Pandangan Ibnu Khaldun
Baca Juga
Khutbah Jumat: Ketakwaan sebagai Fondasi Kesejahteraan Sosial
Ibnu Khaldun mengutip pandangan Aristoteles tentang kesejahteraan. Aristoteles
mengibaratkan kesejahteraan di dunia seperti metafora kebun. Kesejahteraan hanya
bisa terwujud bila negara, pemimpin, rakyat, dan keadilan saling menopang. Ia
mengutip pandangan Aristoteles dalam bukunya:
الملك نظام، الّس ّنة سياسة يسوسها الملك، الّد ولة سلطان تحيا به الّس ّنة،العالم بستان سياجه الّد ولة
، الّرعّية عبيد يكنفهم العدل، المال رزق تجمعه الّرعّية، الجند أعوان يكفلهم المال،يعضده الجند
العالم بستان،العدل مألوف وبه قوام العالم.
Artinya, “Dunia ini bagaikan kebun, yang pagar pelindungnya adalah negara. Negara
adalah kekuasaan yang menghidupkan syariat. Syariat adalah kebijakan yang
dijalankan oleh sang raja. Raja adalah sistem yang didukung oleh tentara. Tentara
adalah para pembantu yang dijamin kehidupannya oleh harta. Harta adalah rezeki
yang dikumpulkan oleh rakyat. Rakyat adalah para hamba yang dilindungi oleh
keadilan. Keadilan adalah hal yang akrab dan dengannya dunia menjadi tegak. Dan
dunia ini kembali menjadi kebun.” (Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, [Beirut, Dar al-Fikr,
1981], jilid I, hlm. 51)
Kebun menjadi metafora kesejahteraan yang harus dirawat. Negara menjadi pagar
yang melindungi kebun itu dari gangguan. Baik dari dalam, maupun luar. Pemimpin
merupakan pengatur yang memastikan aturan dijalankan dengan adil.
Tentara menjadi penjaga stabilitas sosial dan keamanan. Hidupnya dijamin oleh harta
yang dikumpulkan dari rakyat. Rakyat sendiri menjadi sumber kesejahteraan negara.
Karena dari usaha dan kerja mereka, negara mendapat sumber pendanaan.
Namun, kesejahteraan akan tercapai jika dilandasi oleh keadilan. Keadilan menjadi
pilar yang menjaga harmoni, keamanan, dan dukungan rakyat, pemimpin, dan negara.
Kesejahteraan sosial menjadi capaian kolektif dari kerja sama dan keadilan yang
merawat kebun kehidupan ini.
[Link] 4/7