0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
367 tayangan21 halaman

Weekly Assignment - Module 2 Aggregate Planning

Dokumen ini membahas perencanaan agregat untuk perusahaan sepeda Lá Familia Bike yang menghadapi lonjakan permintaan. Tujuan praktikum adalah untuk menjelaskan prinsip perencanaan agregat, menganalisis jenis-jenis perencanaan, serta mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk mengoptimalkan operasi perusahaan. Terdapat analisis biaya dan strategi seperti Zero Inventory Plan, Constant Workforce Plan, dan Overtime + Subcontract untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Diunggah oleh

misbah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
367 tayangan21 halaman

Weekly Assignment - Module 2 Aggregate Planning

Dokumen ini membahas perencanaan agregat untuk perusahaan sepeda Lá Familia Bike yang menghadapi lonjakan permintaan. Tujuan praktikum adalah untuk menjelaskan prinsip perencanaan agregat, menganalisis jenis-jenis perencanaan, serta mengevaluasi kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk mengoptimalkan operasi perusahaan. Terdapat analisis biaya dan strategi seperti Zero Inventory Plan, Constant Workforce Plan, dan Overtime + Subcontract untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Diunggah oleh

misbah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Weekly Assignment – Module 2 Aggregate Planning

Group : POA05 Date : 16 Desember 2024


Class : ARDA Score :

1. Objectives
Praktikum ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan prinsip perencanaan agregat dalam konteks produksi sepeda.
2. Menganalisis jenis-jenis perencanaan produksi agregat yang dapat diterapkan
oleh Lá Familia Bike.
3. Mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan dari setiap jenis perencanaan
produksi agregat untuk memenuhi permintaan yang meningkat serta
mengembangkan strategi perencanaan produksi yang efektif dan efisien untuk
mengoptimalkan operasi perusahaan dengan biaya minimal.

2. Data
Pada perusahaan sepeda Lá Familia Bike, yang mengkhususkan diri dalam
memproduksi sepeda anak-anak untuk usia 7-10 tahun, terdapat tantangan signifikan
dalam menghadapi lonjakan permintaan yang sangat tinggi selama beberapa tahun
terakhir, khususnya sejak pandemi yang mendorong banyak orang untuk beralih ke
gaya hidup sehat seperti bersepeda. Seiring dengan meningkatnya permintaan,
perusahaan menghadapi kesulitan dalam hal perencanaan produksi yang efisien dan
pengelolaan sumber daya manusia yang optimal. Menghadapi tantangan ini,
perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai alternatif solusi, seperti perencanaan
agregat untuk memastikan kelancaran proses produksi tanpa menambah biaya secara
berlebihan.

Pada praktikum ini, kami akan membahas prinsip-prinsip perencanaan agregat,


menganalisis jenis perencanaan yang diterapkan, serta mengevaluasi kelebihan dan
kekurangan dari setiap jenis perencanaan agregat yang relevan dengan situasi yang
dihadapi oleh Lá Familia Bike. Selain itu, dilakukan analisis kelayakan membuka
pabrik produksi kecil atau gudang baru untuk mengimbangi permintaan yang terus
meningkat.

1
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
Berikut adalah data yang digunakan untuk menganalisis rencana produksi
dengan pendekatan Zero Inventory Plan (ZIP). Informasi ini mencakup berbagai aspek
terkait perencanaan, biaya, dan kapasitas produksi, termasuk data inventori,
permintaan, biaya, serta parameter tenaga kerja. Data dirangkum untuk periode Januari
hingga Desember 2022, dengan rincian sebagai berikut:

Description Amount
Ending inventory at December 2021
2.172
(yellow)
Expected ending inventory 8.750
Subcontract cost per unit Rp520.000
Production cost Rp365.000
Wage/month Rp5.067.381
Work hours/day 8
Overtime fee per hour Rp200.000
Max overtime/worker 3
Average production 32.764
Number of workers on last period (Dec-21) 85
Number of working days per worker 20
Cost Lost of sales each unit Rp530.000
Inventory cost each unit Rp35.000
Hiring cost Rp770.000
Firing cost Rp8.120.000
K 19,27
Worker 85
Number of Unit Production 32.764
Number of Working days per worker 20
2.1 Zero Inventory Plan
Zero Inventory Plan adalah strategi perencanaan yang bertujuan untuk
meminimalkan atau bahkan menghilangkan persediaan yang ada dengan cara
memastikan bahwa produksi dan pengiriman dilakukan tepat sesuai dengan
permintaan yang diperkirakan. Pada perencanaan ini, perusahaan berusaha untuk
menjaga tingkat persediaan yang rendah, dengan fokus pada pemenuhan permintaan
tepat waktu tanpa akumulasi barang yang berlebihan. Hal ini melibatkan penyesuaian
kapasitas produksi, tenaga kerja, dan pengelolaan inventaris secara efisien agar dapat
memenuhi kebutuhan pelanggan tanpa adanya persediaan yang tidak terpakai.

Tabel berikut menyajikan data Forecast Demand, yang digunakan dalam


perencanaan Zero Inventory Plan untuk menentukan kapasitas produksi yang
dibutuhkan dan mengelola persediaan secara optimal.

Tabel 2.1.1 Data Forecast Demand Berdasarkan Jumlah Hari Kerja Tahun 2022
Number of Forecast
Period
Working Days Demand
January 2022 17 37.154
February 2022 20 38.334
March 2022 23 39.248
April 2022 21 39.589
May 2022 22 39.932
June 2022 20 39.770
July 2022 21 40.723
August 2022 23 40.659
September 2022 22 41.016
October 2022 21 41.403
November 2022 22 41.813
December 2022 20 41.854
Sumber : Lab POA

Tabel 2.1.2 Tabel Data Production dan Workforce


K 19,27
Worker 85
Number of Unit Production 32.764
Number of Working days per worker 20
Sumber: Lab POA

3
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
Tabel 2.1.3 Biaya Operasional dan Produksi
Hiring cost Rp 770.000
Firing cost Rp 8.120.000
Wage Rp 5.067.381
Inventory cost Rp 35.000
Production cost Rp 365.000
Sumber: Lab POA

Tabel 2.1.2 digunakan untuk menentukan kapasitas produksi yang tersedia,


termasuk jumlah tenaga kerja yang ada dan jumlah unit yang dapat diproduksi setiap
pekerja dalam periode tertentu. Data ini membantu dalam merencanakan alokasi
sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi permintaan yang telah diperkirakan di
Tabel 2.1.1.

Tabel 2.1.3 digunakan untuk menghitung biaya terkait dengan berbagai aspek
produksi, termasuk biaya perekrutan, pemecatan, gaji pekerja, biaya inventaris, dan
biaya produksi. Data ini penting untuk memperhitungkan biaya-biaya yang timbul
dalam penyesuaian kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan, yang merupakan
bagian dari perencanaan Zero Aggregate Planning.

Berikut adalah perhitungan yang mencakup perencanaan tenaga kerja dan


produksi untuk tahun 2022.

Tabel 2.1.4 Perhitungan Zero Aggregate Planning untuk Tahun 2022


Number of Minimum
Number of
Units Forecast Net Number of Number Number Number of Units Cumulative Cumulative Ending
No Period Working
Produced per Demand Workers Hired Fired Produced Production Demand Inventory
Days
Worker Required

0 December 2021 85 2.172


1 January 2022 17 327,64 36.162 111 26 0 36.368 36.368 36.162 206
2 February 2022 20 385,46 38.334 100 0 11 38.545 74.913 74.496 417
3 M arch 2022 23 443,28 39.248 89 0 11 39.451 114.364 113.744 620
4 April 2022 21 404,73 39.589 98 9 0 39.663 154.027 153.333 694
5 M ay 2022 22 424,00 39.932 95 0 3 40.280 194.307 193.265 1.042
6 June 2022 20 385,46 39.770 104 9 0 40.087 234.394 233.035 1.359
7 July 2022 21 404,73 40.723 101 0 3 40.877 275.271 273.758 1.513
8 August 2022 23 443,28 40.659 92 0 9 40.781 316.052 314.417 1.635
9 September 2022 22 424,00 41.016 97 5 0 41.128 357.180 355.433 1.747
10 October 2022 21 404,73 41.403 103 6 0 41.687 398.867 396.836 2.031
11 November 2022 22 424,00 41.813 99 0 4 41.976 440.843 438.649 2.194
12 December 2022 20 385,46 44.026 115 16 0 44.327 485.170 482.675 2.495
Expected Ending Inventory 8.750
Total 1.204 71 41 15.953

Sumber : LAB POA


Setelah perhitungan terkait tenaga kerja dan produksi, tabel berikut menyajikan
total biaya yang terkait dengan implementasi Zero Aggregate Planning (ZAP) untuk
tahun 2022. Tabel ini merangkum semua biaya operasional yang terlibat, termasuk
biaya produksi, biaya perekrutan, biaya pemecatan, biaya gaji, dan biaya inventaris.
Total biaya yang dihitung menggunakan metode ZIP (Zero Inventory Planning)
memberikan gambaran menyeluruh tentang biaya yang diperlukan untuk memenuhi
permintaan yang diperkirakan sambil mempertahankan efisiensi dalam manajemen.
Tabel 2.1.5 Rincian Total Biaya Zero Aggregate Planning Tahun 2022
Total Production Cost Rp [Link]
Total Hiring Cost Rp 54.670.000
Total Firing Cost Rp 332.920.000
Total Wage Cost Rp [Link]
Total Inventory Cost Rp 558.355.000
Total Cost ZIP Method Rp [Link]
Sumber : LAB POA
2.2 Constant Workforce Plan
Constant Workforce Plan adalah rencana yang dirancang untuk
menghilangkan kebutuhan untuk merekrut atau memberhentikan tenaga kerja
sepanjang periode perencanaan. Dalam strategi ini, perusahaan merekrut jumlah
pekerja maksimum yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan selama periode
yang direncanakan. Oleh karena itu, jumlah pekerja akan disesuaikan pada awal
periode perencanaan untuk memastikan bahwa kapasitas produksi dapat memenuhi
permintaan tanpa perubahan signifikan pada jumlah tenaga kerja yang ada.
Tabel 2.2.1 Perencanaan Produksi dan Inventaris untuk Constant Workforce Plan Tahun 2022
Number of Cummulative
Forecast Net Cummulative Net Unit Unit Monthly Cummulative Ending
No Period Ratio
Demand Demand Produced / Produced / Production Production Inventory
Worker Worker

0 December 2021 85
1 January 2022 36.162 36.368 327,64 327,64 111 36.368 36.368 0
2 February 2022 38.334 74.913 385,46 713,10 106 42.785 79.153 4.240
3 March 2022 39.248 114.364 443,28 1156,38 99 49.203 128.356 13.992
4 April 2022 39.589 154.027 404,73 1561,11 99 44.925 173.281 19.254
5 May 2022 39.932 194.307 424,00 1985,11 98 47.064 220.345 26.038
6 June 2022 39.770 234.394 385,46 2370,57 99 42.785 263.130 28.736
7 July 2022 40.723 275.271 404,73 2775,30 100 44.925 308.055 32.784
8 August 2022 40.659 316.052 443,28 3218,58 99 49.203 357.258 41.206
9 September 2022 41.016 357.180 424,00 3642,59 99 47.064 404.322 47.142
10 October 2022 41.403 398.867 404,73 4047,32 99 44.925 449.247 50.380
11 November 2022 41.813 440.843 424,00 4471,32 99 47.064 496.311 55.468
12 December 2022 44.026 485.170 385,46 4856,78 100 42.785 539.096 53.926
Expected Ending Inventory 8.750
T otal 381.916

Sumber : LAB POA

5
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
Total biaya yang terkait dengan implementasi rencana Constant Workforce
Plan, termasuk biaya produksi, biaya perekrutan, gaji, biaya inventaris, serta total
biaya keseluruhan dituangkan pada tabel sebagai berikut.
Tabel 2.2.2 Perencanaan Produksi dan Inventaris untuk Constant Workforce Plan Tahun 2022
Production cost Rp [Link]
Total Hiring Cost Rp 77.000.000
Total Wage Rp 506.738.100
Total Inventory Rp [Link]
Total Cost Rp [Link]
Sumber : Lab POA

Tabel 2.2.3 Data Produksi dan Tenaga Kerja dalam Constant Workforce Plan
K 19,27
Worker 85
Number of Unit Production 32.764
Number of Working days per worker 20
Sumber : Lab POA

Tabel 2.2.4 Komponen Biaya dan Tenaga Kerja dalam Constant Workforce Plan

Worker 85
Hiring Cost Rp 770.000
Wage Rp 5.067.381
Holding Cost Rp 35.000
Production cost Rp 365.000
Sumber : Lab POA

2.3 Overtime + Subcontract

Strategi Overtime + Subcontract merupakan upaya perusahaan untuk


menyesuaikan kapasitas produksi dengan fluktuasi permintaan produk. Pendekatan ini
dilakukan dengan meningkatkan jam kerja lembur para pekerja saat permintaan
meningkat, sehingga perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan tanpa
kehilangan peluang pasar. Tambahan kapasitas produksi ini, permintaan produk yang
lebih tinggi dapat terpenuhi secara optimal.

Tabel di bawah ini merupakan hasil implementasi strategi Overtime +


Subcontract, yang menunjukkan data terkait jumlah produksi per pekerja, tambahan
produksi melalui lembur, total jam lembur, serta jumlah unit yang diproduksi setiap
bulan.
Tabel 2.3.1 Strategi Produksi Overtime dan Subcontract
Number of Unit Production Number of Unit Overtime per Total Production Subcontract End
2.172
327,64 27.849 32,76 3,00 51 8.354 0 1.221
385,46 32.764 38,55 2,00 40 6.552 0 2.551
443,28 37.678 44,33 0,00 0 0 0 1.709
404,73 34.402 40,47 1,00 21 3.440 0 634
424,00 36.040 42,40 1,00 22 3.604 0 826
385,46 32.764 38,55 2,00 40 6.552 0 590
404,73 34.402 40,47 2,00 42 6.880 0 2.650
443,28 37.678 44,33 1,00 23 3.767 0 3.752
424,00 36.040 42,40 1,00 22 3.604 0 3.075
404,73 34.402 40,47 1,00 21 3.440 0 505
424,00 36.040 42,40 2,00 44 7.208 0 2.457
385,46 32.764 38,55 3,00 60 9.829 0 3.087
8.750
412.823 486 19 386 63.230 - 31.807
Sumber : LAB POA
Tabel 2.3.2 Data Produksi per Pekerja Berdasarkan Kapasitas Kerja
K 19,27
Worker 85
Number of Unit Production 32.764
Number of Working days per worker 20
Sumber : Lab POA

Tabel 2.3.3 Data Awal dan Akhir untuk Periode Desember 2021 - Desember 2022
Number of workers on last period (Dec-21) 85
Ending inventory at December 2021 2.172
Expected ending inventory at December 2022 8.750
Sumber : Lab POA

Tabel 2.3.4 Total Biaya Produksi dengan Strategi Overtime dan Subkontrak
Total Wage Rp [Link]
Total Overtime Cost Rp [Link]
Total Subcontract Cost Rp -
Total Inventory Cost Rp [Link]
Total Production Cost Rp [Link]
Total Cost Rp [Link]
Sumber : Lab POA

2.4 Overtime + Lost of Sales

Overtime + Lost of Sales adalah pendekatan produksi yang diterapkan dengan


cara menyesuaikan kapasitas produksi melalui peningkatan jam kerja (lembur).

Strategi ini bertujuan untuk menjaga efisiensi produksi sambil mengelola


permintaan yang tidak dapat dipenuhi. Rincian data terkait strategi Overtime + Lost
of Sales adalah sebagai berikut.

7
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
Tabel 2.4.1 Rincian Data Strategi Overtime + Lost of Sales
Number
of Unit
Number Number of Overtime Total Productio
Produced End
Forecast of Unit Production per Worker Overtime n per Lost of
No Period per Inventory
Demand Working Produced (Unit) per Month per Month Month Sales (Unit)
Worker (Unit)
Days / Worker (hour ) (Hour) (Overtime)
(Overtime
)
0 December 2021 0 2.172
1 January 2022 37.154 17 327,64 27.849 32,76 3,00 51 8.354 0 1.221
2 February 2022 37.986 20 385,46 32.764 38,55 2,00 40 6.552 0 2.551
3 March 2022 38.520 23 443,28 37.678 44,33 0,00 0 0 0 1.709
4 April 2022 38.917 21 404,73 34.402 40,47 1,00 21 3.440 0 634
5 May 2022 39.452 22 424,00 36.040 42,40 1,00 22 3.604 0 826
6 June 2022 39.552 20 385,46 32.764 38,55 2,00 40 6.552 0 590
7 July 2022 39.222 21 404,73 34.402 40,47 2,00 42 6.880 0 2.650
8 August 2022 40.343 23 443,28 37.678 44,33 1,00 23 3.767 0 3.752
9 September 2022 40.321 22 424,00 36.040 42,40 1,00 22 3.604 0 3.075
10 October 2022 40.412 21 404,73 34.402 40,47 1,00 21 3.440 0 505
11 November 2022 41.296 22 424,00 36.040 42,40 2,00 44 7.208 0 2.457
12 December 2022 41.963 20 385,46 32.764 38,55 3,00 60 9.829 0 3.087
Safety Stock 8.750
Total 412.823 19 386 63230 0 31.807
Sumber : LAB POA

Tabel 2.4.2 Data yang Diperlukan untuk Perhitungan Overtime + Lost of Sales

Result

Perhitungan data penjualan Perusahaan Lá Familia dengan menggunakan Metode


Time-series Decomposition (TSD) dapat ditemukan dalam Tabel 3.1 hingga Tabel 3.3.
Tabel-tabel ini menyajikan proses dekomposisi yang memisahkan elemen-elemen
musiman, tren, dan residual dari data penjualan untuk mendapatkan gambaran yang
lebih jelas, yang kemudian digunakan dalam peramalan penjualan ke depan.

Sumber : LAB POA

2.5 Total Cost Termurah


Dari analisis empat metode yang telah diterapkan, dapat disimpulkan bahwa
metode Overtime + Subcontract memiliki total biaya terendah dibandingkan metode
lainnya. Hal ini dikarenakan pendekatan yang fleksibel dalam menyesuaikan kapasitas
produksi melalui lembur dan subcontracting, sehingga perusahaan dapat memenuhi
permintaan tanpa perlu mempertahankan persediaan besar atau mengurangi potensi
pasar.

Tabel berikut menunjukkan perbandingan total biaya dari setiap metode, dengan
Overtime + Subcontract menempati posisi sebagai strategi dengan biaya paling
rendah.
Tabel 2.5.1 Perbandingan Total Biaya dari Berbagai Metode Perencanaan Produksi

Total Cost Termurah


Zero Inventory Plan Rp [Link]
Constant Workforce Plan Rp [Link]
Overtime + Lost of Sales Rp [Link]
Overtime + Subcontract Rp [Link]
Minimum Cost
Sumber : Lab POA

2.6 Disaggregate TSD


Metode Time Series Decomposition (TSD) digunakan untuk menganalisis pola
data historis penjualan guna menghasilkan prediksi yang lebih akurat di masa
mendatang. Proses disagregasi ini memecah data menjadi beberapa komponen utama,
yaitu tren, musiman, dan sisa (residual), yang masing-masing berkontribusi pada
fluktuasi data secara keseluruhan.

TSD membantu mengidentifikasi pola musiman berdasarkan periode waktu


tertentu, seperti bulanan atau tahunan, sehingga perusahaan dapat memahami
bagaimana permintaan berubah sepanjang tahun. Selain itu, metode ini juga
memungkinkan evaluasi proporsi penjualan masing-masing produk, memberikan
wawasan strategis untuk pengalokasian sumber daya, perencanaan produksi, dan
pengelolaan persediaan.

Tabel berikut menyajikan hasil disagregasi data Time Series Decomposition (TSD)
untuk memprediksi permintaan produk sepeda hijau dan sepeda kuning dari tahun
2019 hingga 2023. Data dalam tabel mencakup periode, bulan, total penjualan,
proporsi penjualan berdasarkan jenis produk, hingga hasil peramalan permintaan
menggunakan metode TSD. Analisis ini bertujuan untuk membantu perencanaan
produksi yang lebih akurat dan memenuhi kebutuhan pasar dengan
mempertimbangkan pola musiman serta tren pertumbuhan dari kedua produk tersebut.

9
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
Tabel 2.6.1 Disaggregate TSD
Sales Total Proportion Final Forecast
No Year Period Month Forecast
Green Bike Yellow Bike Sales Green Bike Yellow Bike Green Bike Yellow Bike
1 1 January 2019 28.911 28.281 65.442 44,18% 43,22% 60.516 26.735 26.153
2 2 February 2019 25.868 25.633 59.751 43,29% 42,90% 62.540 27.076 26.830
3 3 March 2019 27.723 27.209 63.182 43,88% 43,06% 63.390 27.815 27.299
4 4 April 2019 30.939 30.414 69.603 44,45% 43,70% 63.325 28.149 27.671
5 5 May 2019 29.755 29.397 67.402 44,15% 43,61% 64.525 28.485 28.143
6 6 June 2019 28.721 28.563 65.534 43,83% 43,59% 64.937 28.460 28.303
2019
7 7 July 2019 30.780 29.646 68.676 44,82% 43,17% 65.221 29.232 28.155
8 8 August 2019 31.800 31.553 71.603 44,41% 44,07% 65.917 29.275 29.048
9 9 September 2019 31.282 30.752 70.284 44,51% 43,75% 66.552 29.621 29.120
10 10 October 2019 30.910 30.170 69.330 44,58% 43,52% 66.880 29.818 29.104
11 11 November 2019 32.953 32.546 73.749 44,68% 44,13% 69.041 30.850 30.469
12 12 December 2019 32.974 33.060 74.284 44,39% 44,50% 69.905 31.031 31.112
13 1 January 2020 31.562 31.101 70.913 44,51% 43,86% 69.759 31.049 30.595
14 2 February 2020 30.830 30.920 70.000 44,04% 44,17% 71.007 31.274 31.365
15 3 March 2020 33.238 33.292 74.780 44,45% 44,52% 71.389 31.731 31.783
16 4 April 2020 35.624 35.061 78.935 45,13% 44,42% 71.631 32.328 31.817
17 5 May 2020 34.093 33.969 76.312 44,68% 44,51% 72.325 32.312 32.195
18 6 June 2020 33.666 33.696 75.612 44,52% 44,56% 72.952 32.482 32.511
2020
19 7 July 2020 35.950 34.754 78.954 45,53% 44,02% 73.244 33.351 32.241
20 8 August 2020 36.681 36.468 81.399 45,06% 44,80% 75.542 34.042 33.844
21 9 September 2020 35.730 35.314 79.294 45,06% 44,54% 76.419 34.435 34.034
22 10 October 2020 35.232 34.615 78.097 45,11% 44,32% 76.193 34.374 33.772
23 11 November 2020 36.984 36.584 81.818 45,20% 44,71% 77.490 35.028 34.649
24 12 December 2020 38.007 37.466 83.723 45,40% 44,75% 77.841 35.337 34.834
25 1 January 2021 37.284 36.753 82.287 45,31% 44,66% 78.040 35.360 34.857
26 2 February 2021 36.534 35.910 80.694 45,27% 44,50% 78.733 35.647 35.038
27 3 March 2021 38.009 38.260 84.519 44,97% 45,27% 79.352 35.686 35.922
28 4 April 2021 39.714 39.678 87.642 45,31% 45,27% 79.608 36.074 36.041
29 5 May 2021 38.201 37.897 84.348 45,29% 44,93% 82.043 37.158 36.862
30 6 June 2021 37.704 37.419 83.373 45,22% 44,88% 82.933 37.506 37.222
2021
31 7 July 2021 39.825 39.499 87.574 45,48% 45,10% 82.627 37.576 37.268
32 8 August 2021 40.251 39.764 88.265 45,60% 45,05% 83.972 38.294 37.830
33 9 September 2021 39.757 39.682 87.689 45,34% 45,25% 84.293 38.218 38.146
34 10 October 2021 39.229 38.248 85.727 45,76% 44,62% 84.450 38.645 37.679
35 11 November 2021 41.002 40.684 89.936 45,59% 45,24% 85.141 38.816 38.515
36 12 December 2021 41.996 41.699 91.945 45,68% 45,35% 85.753 39.168 38.891
37 1 January 2022 44,18% 43,22% 85.972 37.981 37.154
38 2 February 2022 43,29% 42,90% 88.544 38.334 37.986
39 3 March 2022 43,88% 43,06% 89.447 39.248 38.520
40 4 April 2022 44,45% 43,70% 89.061 39.589 38.917
41 5 May 2022 44,15% 43,61% 90.455 39.932 39.452
42 6 June 2022 43,83% 43,59% 90.745 39.770 39.552
2022
43 7 July 2022 44,82% 43,17% 90.859 40.723 39.222
44 8 August 2022 44,41% 44,07% 91.549 40.659 40.343
45 9 September 2022 44,51% 43,75% 92.153 41.016 40.321
46 10 October 2022 44,58% 43,52% 92.864 41.403 40.412
47 11 November 2022 44,68% 44,13% 93.576 41.813 41.296
48 12 December 2022 44,39% 44,50% 94.287 41.854 41.963
49 1 January 2023 44,51% 43,86%
50 2 February 2023 44,04% 44,17%
51 3 March 2023 44,45% 44,52%
52 4 April 2023 45,13% 44,42%
53 5 May 2023 44,68% 44,51%
54 6 June 2023 44,52% 44,56%
2023
55 7 July 2022 45,53% 44,02%
56 8 August 2023 45,06% 44,80%
57 9 September 2022 45,06% 44,54%
58 10 October 2023 45,11% 44,32%
59 11 November 2022 45,20% 44,71%
60 12 December 2023 45,40% 44,75%

Sumber : Lab POA


Tabel 2.6.2 Data NIM Mahasiswa POA 05
Mahasiswa NIM 3 last NIM Total 3 last NIM
DHIMAS PAMUNGKAS 2602317940 940
M REFI NURUL A 2602316982 982
MISBAKHUL MUNIR 2602333673 673 4.125
NURLANDI SUHENDAR 2602332834 834
TEDY SAPUTRA 2602332696 696
Sumber : Lab POA

3. Result
3.1 Zero Inventory Plan
Langkah awal dalam penerapan metode Zero Inventory Plan (ZIP) adalah
menghitung nilai K, yang mewakili jumlah unit agregat yang dapat diproduksi oleh
satu pekerja dalam satu hari. Rumus untuk menghitung nilai K dijelaskan sebagai
berikut:
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
𝐾=
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
Dimana :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎
Sebagai contoh, jika rata-rata tingkat produksi dihitung berdasarkan:
32.764
𝑅𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 = = 1.638
20
Maka nilai K dapat dihitung dengan:
1.638
𝐾= = 19,27
85
Setelah nilai K diperoleh, langkah berikutnya adalah menghitung jumlah unit
yang dapat diproduksi oleh setiap pekerja. Rumusnya adalah:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑟 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 × 𝐾
Sebagai contoh, untuk bulan pertama dengan jumlah hari kerja sebanyak 25
hari:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑒𝑟 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 = 17 × 19,27 = 327,64
Setelah nilai tersebut diketahui, perhitungan berlanjut ke forecast net demand
(permintaan bersih yang diproyeksikan) untuk bulan pertama hingga bulan ke-12.
Rumus untuk forecast net demand pada bulan pertama adalah:
𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑1 = 𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑1 − 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦0

11
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑1 = 37.154 − 2.172 = 36.162

Nilai forecast net demand untuk bulan kedua hingga bulan ke-11 dianggap
sama dengan nilai forecast demand yang telah ditentukan. Namun, untuk bulan ke-12,
nilai forecast net demand akan ditambahkan dengan proyeksi expected ending
inventory bulan ke-13. Adapun rumus dan perhitungan untuk bulan ke-12 adalah
sebagai berikut:
𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑12 = 𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑 12 + 𝐸𝑥𝑝𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦13

𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑12 = 41.854 + 2.172 = 44.026

Setelah nilai forecast net demand untuk seluruh bulan (Januari hingga
Desember) dihitung, langkah selanjutnya adalah menentukan jumlah minimum
pekerja yang dibutuhkan (minimum number of workers required). Rumus yang
digunakan untuk menghitung nilai ini adalah:

𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑


𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑 =
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 𝑝𝑒𝑟 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟

Sebagai contoh, perhitungan untuk bulan pertama adalah:

36.162
𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑 = = 110,37 ≈ 111
327,64

Setelah menentukan jumlah minimum pekerja yang diperlukan, langkah


berikutnya adalah menghitung jumlah pekerja yang direkrut (number hired) dan
pekerja yang diberhentikan (number fired). Nilai number hired atau number fired akan
dianggap 0,00 jika hasil perhitungan bernilai negatif. Rumus yang digunakan adalah:

𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 ℎ𝑖𝑟𝑒𝑑 = 𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑𝑡 –


𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑𝑡−1

𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑓𝑖𝑟𝑒𝑑 = 𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑𝑡−1 –


𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑𝑡𝑡
Sebagai contoh, perhitungan pada bulan pertama adalah:
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 ℎ𝑖𝑟𝑒𝑑 = 111 − 85 = 26
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑓𝑖𝑟𝑒𝑑 = 85 − 111 = −26 = 0
Setelah nilai number hired dan number fired dihitung, langkah selanjutnya
adalah menentukan jumlah unit yang diproduksi (number of units produced). Rumus
perhitungannya adalah:
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 = 𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑 ×
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 𝑝𝑒𝑟 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟
Sebagai ilustrasi, perhitungan untuk bulan pertama adalah:
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 = 111 × 36.162 = 36.368,04 ≈ 36.368
Setelah mengetahui jumlah unit yang diproduksi dan nilainya secara kumulatif,
serta kumulatif dari forecast net demand, langkah berikutnya adalah menghitung
ending inventory dengan rumus:
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = 𝐶𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 − 𝐶𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑
Sebagai contoh, perhitungan untuk bulan pertama adalah:
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = 36.368 − 36.162 = 206
Dengan mengetahui nilai total dari minimum number of workers required,
number hired, number fired, dan ending inventory, tahap akhir adalah menghitung
total cost. Rumusnya dirinci sebagai berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡
+ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑔𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡
Komponen perhitungan masing-masing biaya:
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 × 𝑐𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 365.000 × 485.170 = 𝑅𝑝 [Link]
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 ℎ𝑖𝑟𝑒𝑑 × 𝐻𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝. 770.000 × 71 = 54.670.000
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑓𝑖𝑟𝑒𝑑 × 𝐹𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 8.120.000 × 41 = 𝑅𝑝 332.920.000
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑔𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑
× 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑔𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 1.204 × 𝑅𝑝 5.067.381 = 𝑅𝑝 [Link]
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡 = (𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 +
𝐸𝑥𝑝𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦) × 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 15.953 × 𝑅𝑝 35000 = 𝑅𝑝. 558.335.000

13
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
Keseluruhan perhitungan total cost adalah:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 [Link] + 𝑅𝑝 56.670.000 + 𝑅𝑝 332.920.000
+ 𝑅𝑝 [Link] + 558.355.000
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝. [Link]

3.2 Constant Workforce Plan


Pada metode Constant Workforce Plan (CWP), nilai forecast net demand dan
number of units produced per worker diambil dari hasil perhitungan pada metode Zero
Inventory Plan (ZIP). Setelah diperoleh nilai forecast net demand dan number of units
produced per worker beserta nilai kumulatifnya, langkah berikutnya adalah
menghitung ratio. Rumus untuk menghitung ratio adalah sebagai berikut:

𝐶𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑


𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐶𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑛𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑢𝑛𝑖𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 𝑝𝑒𝑟 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟

Sebagai ilustrasi, berikut adalah contoh perhitungan ratio untuk bulan


pertama:
36.368
𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = = 110,99 ≈ 111
327,64

Setelah nilai ratio dari bulan pertama hingga bulan ke-12 dihitung, nilai
tertinggi dari seluruh ratio diambil untuk digunakan dalam perhitungan berikutnya.
Pada kasus ini, nilai ratio tertinggi adalah 111, yang terjadi pada bulan ke-1. Nilai ini
digunakan untuk menghitung monthly production dengan rumus berikut:

𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ𝑙𝑦 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 = 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑒𝑑 𝑝𝑒𝑟 𝑤𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟


× 𝐻𝑖𝑔ℎ𝑒𝑠𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑖𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒
Contoh perhitungan monthly production untuk bulan pertama:
𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ𝑙𝑦 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 = 327,64 × 111 = 36.368
Setelah mengetahui nilai monthly production dan nilai kumulatifnya,
perhitungan ending inventory dilakukan menggunakan rumus berikut:
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = 𝐶𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 − 𝐶𝑢𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑛𝑒𝑡 𝑑𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑
Sebagai contoh, perhitungan ending inventory pada bulan pertama:
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = 36.368 − 36.368 = 0
Setelah nilai number of hired dan ending inventory dihitung, total biaya (total
cost) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut:
Total cost = Total hiring cost + Total wage + Total inventory cost
Komponen perhitungan biaya dirinci sebagai berikut:
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 × 𝐶𝑢𝑚𝑚𝑢𝑙𝑎𝑡𝑖𝑣𝑒 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝365.000 × 539.096
= 𝑅𝑝[Link]
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 ℎ𝑖𝑟𝑒𝑑 × 𝐻𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 ℎ𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 770.000 × 100 = 𝑅𝑝 77.000.000
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑔𝑒 = 𝐻𝑖𝑔ℎ𝑒𝑠𝑡 𝑣𝑎𝑙𝑢𝑒 𝑖𝑛 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒 × 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑤𝑎𝑔𝑒 = 100 × 𝑅𝑝 5.067.381 = 𝑅𝑝 506.738.100
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡 = (𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 +
𝐸𝑥𝑝𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝑒𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦) × 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑖𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 35.000 × 381.916 = 𝑅𝑝 [Link]
Dengan demikian, total biaya dihitung sebagai berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝[Link] + 𝑅𝑝 77.000.000 + 𝑅𝑝 506.738.100
+ 𝑅𝑝 [Link]
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝[Link]

3.3 Overtime + Subcontract


Pada metode Mix Strategy: Overtime + Subcontract, nilai-nilai seperti forecast net
demand, number of units produced per worker, monthly production, overtime per worker
per month, dan production per month adalah sama. Setelah semua nilai tersebut diperoleh,
langkah selanjutnya adalah menghitung subcontract. Jika hasil perhitungan subcontract
melebihi nilai forecast net demand, maka hasilnya dianggap 0,00. Rumus perhitungan
subcontract dijabarkan sebagai berikut:
𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 = 𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ𝑙𝑦 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 + 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ (𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒)
+ 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦𝑖−1
Sebagai contoh, berikut adalah perhitungan subcontract pada bulan pertama:
𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 = 8.354 + 27.849 + 2.172 = 38.375
38.375 > 37.154 , 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑠𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 = 0,00
Setelah nilai subcontract dihitung, langkah berikutnya adalah menghitung ending
inventory. Rumus untuk perhitungan ini adalah:
15
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = (𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 + 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ (𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒)
+ 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦𝑖−1 ) − 𝐹𝑜𝑟𝑒𝑐𝑎𝑠𝑡 𝐷𝑒𝑚𝑎𝑛𝑑
Contoh perhitungan ending inventory pada bulan pertama:
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = ( 27.849 + 8.354 + 2.172 + 0 ) − 37.154
𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 = 1.221
Setelah mengetahui nilai overtime per worker per month, subcontract, dan ending
inventory, total biaya (total cost) dapat dihitung dengan rumus berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡
+ 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡
Komponen perhitungan biaya dijabarkan sebagai berikut:
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 × 𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟 × 12
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 5.067.8381 × 85 × 12 = 𝑅𝑝 [Link]
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 × 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 ×
𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 200.000 × 386 × 85 = 𝑅𝑝 [Link]
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡 × 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑆𝑢𝑏𝑐𝑜𝑛𝑡𝑟𝑎𝑐𝑡 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 520.000 × 0 = −
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡 = (𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 +
𝐸𝑥𝑝𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦) ×
𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 31.087 × 𝑅𝑝 35000 = 𝑅𝑝 [Link]
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑜𝑠𝑡 × 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑐𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 365.000 × 412.823
= 𝑅𝑝 [Link]
Dengan demikian, total biaya dihitung sebagai berikut:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 [Link] + 𝑅𝑝 [Link] + 𝑅𝑝 [Link]
+ 𝑅𝑝 [Link]
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 [Link]
3.4 Overtime + Lost of Sales
Overtime + Lost of Sales merupakan strategi yang mengkombinasikan
penggunaan jam lembur pekerja untuk memenuhi sebagian permintaan pasar dengan
tetap menerima konsekuensi dari ketidakterpenuhinya seluruh permintaan (lost of
sales). Perusahaan memanfaatkan lembur untuk meningkatkan produksi hingga
kapasitas tertentu, tetapi jika permintaan masih melebihi kapasitas produksi, maka sisa
permintaan tersebut dikategorikan sebagai kehilangan penjualan (lost of sales).

• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ ×


𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠 × 12

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 5.067.381 × 85 × 12 = 𝑅𝑝[Link]

• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 × 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐻𝑜𝑢𝑟𝑠 ×


𝑁𝑢𝑚𝑏𝑒𝑟 𝑜𝑓 𝑊𝑜𝑟𝑘𝑒𝑟𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 200.000 × 36 × 85 = 𝑅𝑝 [Link]

• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝐿𝑜𝑠𝑡 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 (𝑢𝑛𝑖𝑡𝑠) ×


𝑆𝑒𝑙𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 0 × 𝑅𝑝 530.000 = −

• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡 = (𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 +


𝐸𝑥𝑝𝑒𝑐𝑡𝑒𝑑 𝐸𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦) × 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑝𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 31.807 × 𝑅𝑝 35.000 = 𝑅𝑝 [Link]

• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑀𝑜𝑛𝑡ℎ𝑙𝑦 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 ×


𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑝𝑒𝑟 𝑈𝑛𝑖𝑡

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝 365.000 × (412.823 + 63.230)

= 𝑅𝑝 [Link]

17
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
• 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑊𝑎𝑔𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑂𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑚𝑒 𝐶𝑜𝑠𝑡 +
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐿𝑜𝑠𝑡 𝑜𝑓 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦 𝐶𝑜𝑠𝑡 +
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 𝐶𝑜𝑠𝑡

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝[Link] + 𝑅𝑝[Link]


+ 𝑅𝑝[Link] + 𝑅𝑝[Link]
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡 = 𝑅𝑝[Link]

4. Analysis
1) Zero Inventory Plan
Konsepnya adalah Produksi dilakukan sesuai permintaan tanpa
mempertahankan inventaris. Perencanaan produksi dengan pendekatan Zero
Inventory Plan (ZIP) bertujuan untuk meminimalkan persediaan dengan
menyesuaikan produksi sesuai permintaan. Metode ini efektif untuk
mengurangi biaya inventaris, yakni Rp 35.000 per unit, namun melibatkan
pengeluaran signifikan seperti biaya perekrutan sebesar Rp 770.000 per
pekerja dan biaya pemecatan Rp 8.120.000 per pekerja. Dengan total biaya
mencapai Rp [Link], pendekatan ini cocok untuk perusahaan yang
ingin mengurangi risiko overstock dan kerugian akibat barang menumpuk.
Namun, kelemahannya adalah ketergantungan tinggi pada prediksi
permintaan yang akurat sehingga rentan terhadap perubahan pasar yang tak
terduga. Metode Zero Inventory Plan (ZIP) membantu menekan biaya
inventaris, yang bermanfaat dalam menghadapi permintaan yang tidak stabil.
Namun, biaya produksi dan tenaga kerja menjadi sangat tinggi, khususnya
biaya terkait perekrutan dan pemberhentian tenaga kerja. Penggunaan
metode ini memerlukan pengelolaan yang sangat baik agar fluktuasi
permintaan tidak mengakibatkan kegagalan pemenuhan dan meningkatnya
biaya total, seperti yang terlihat dalam data ini
2) Constant Workforce Plan (CWP)
Memiliki konsep bahwa jumlah tenaga kerja selalu tetap sepanjang periode.
Metode Constant Workforce Plan (CWP) menggunakan jumlah tenaga kerja
yang tetap sepanjang tahun. Strategi ini menjaga stabilitas tenaga kerja dan
menghindari fluktuasi biaya terkait perekrutan dan pemecatan. Biaya
produksi tetap berada di angka Rp 365.000 per unit, dengan total pengeluaran
mencapai Rp [Link]. Meskipun metode ini menawarkan stabilitas
tenaga kerja, kelemahannya adalah biaya yang lebih tinggi akibat kebutuhan
untuk menyimpan inventaris tambahan ketika permintaan turun, yakni Rp
35.000 per unit. Contant Workforce Plan mempertahankan jumlah tenaga
kerja yang tetap sepanjang waktu. Kelebihan produksi disimpan sebagai
inventaris, yang kemudian digunakan saat permintaan meningkat. Meskipun
ini memberikan stabilitas bagi tenaga kerja dan mengurangi biaya perekrutan
atau pemecatan, metode ini menghasilkan inventaris besar, yang menambah
biaya penyimpanan. Metode ini lebih cocok untuk perusahaan yang ingin
menghindari gangguan operasional akibat perubahan kapasitas tenaga kerja.
3) Overtime + Subcontract
Metode ini mengakomodasi fluktuasi permintaan melalui lembur dan kerja
sama dengan pihak ketiga. Pendekatan Overtime + Subcontract menawarkan
fleksibilitas dalam menyesuaikan produksi dengan permintaan yang
berfluktuasi melalui lembur dan subkontrak. Biaya lembur Rp 200.000 per
jam digunakan untuk meningkatkan produksi tanpa perlu menambah pekerja,
sementara biaya subkontrak Rp 520.000 per unit diterapkan saat kapasitas
internal tidak mencukupi. Total biaya dari metode ini adalah Rp
[Link], menjadikannya opsi paling ekonomis dibandingkan
metode lainnya. Metode ini sangat efektif untuk memenuhi lonjakan
permintaan tanpa harus menyimpan inventaris besar atau menambah
kapasitas tenaga kerja tetap. Namun, perusahaan perlu berhati-hati dalam
mengelola beban kerja karyawan agar tidak terjadi penurunan produktivitas.
4) Overtime + Lost of Sales
Konsepnya adalah mengoptimalkan lembur tetapi sebagian permintaan tidak
dipenuhi sehingga ada kehilangan penjualan. metode Overtime + Lost of
Sales mengandalkan lembur untuk meningkatkan produksi sambil menerima
konsekuensi dari kehilangan permintaan yang tidak dapat dipenuhi. Biaya
lembur tetap Rp 200.000 per jam, namun kehilangan penjualan dihitung
sebesar Rp 530.000 per unit. Total pengeluaran dengan pendekatan ini
mencapai Rp [Link], lebih tinggi dari metode Overtime +
Subcontract, tetapi tetap lebih rendah dari ZIP atau CWP. Strategi ini cocok
bagi perusahaan yang tidak keberatan dengan sedikit kehilangan pasar demi

19
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University
menjaga efisiensi produksi. Namun, risiko dari metode ini adalah potensi
kehilangan loyalitas pelanggan akibat ketidaksesuaian antara kapasitas
produksi dengan permintaan.

5. Conclusion
Berikut adalah kesimpulan dari masing – masing metode yang telah dilakukan
analisis:
1) Zero Inventory Plan (ZIP):
Metode ini menghasilkan total biaya sebesar Rp [Link], dengan
rincian utama berasal dari biaya produksi sebesar Rp [Link], biaya
perekrutan Rp 54.670.000, dan biaya pemecatan Rp 332.920.000. Keunggulan
utama ZIP adalah meminimalkan biaya inventaris (Rp 558.355.000), tetapi
tingginya biaya tenaga kerja akibat fluktuasi perekrutan dan pemecatan
menjadi kelemahan. ZIP cocok untuk situasi di mana prediksi permintaan
sangat akurat dan perusahaan ingin menghindari biaya penyimpanan yang
berlebihan.
2) Constant Workforce Plan (CWP):
Metode ini menghasilkan biaya total yang lebih tinggi, yaitu Rp
[Link]. Rincian biaya terbesar berasal dari inventaris sebesar Rp
[Link], disebabkan oleh kelebihan produksi di masa permintaan
rendah. Meski biaya tenaga kerja lebih stabil karena menghindari perekrutan
dan pemecatan berulang, total biaya yang tinggi menunjukkan bahwa metode
ini kurang efisien jika permintaan berfluktuasi.
3) Overtime + Subcontract:
Metode ini menjadi strategi dengan total biaya terendah, yaitu Rp
[Link], terdiri dari biaya produksi sebesar Rp [Link], gaji
lembur Rp [Link], dan biaya inventaris Rp [Link]. Fleksibilitas
yang ditawarkan membuat metode ini paling efisien untuk menghadapi
fluktuasi permintaan, terutama karena biaya perekrutan dan pemecatan tidak
diperlukan, serta inventaris tetap terkendali pada angka yang optimal.
4) Overtime + Lost of Sales:
Dengan total biaya sebesar Rp [Link], metode ini lebih efisien
dibanding ZIP dan CWP. Namun, biaya kehilangan penjualan akibat
ketidakmampuan memenuhi permintaan sebesar Rp 530.000 per unit
berpotensi mengurangi loyalitas pelanggan dalam jangka panjang. Hal ini
menunjukkan bahwa meskipun cukup efektif dari sisi efisiensi biaya, strategi
ini tidak ideal untuk menjaga pertumbuhan pasar.

Jadi metode terbaik yang dapat digunakan adalah Overtime + Subcontract.


Berdasarkan data, metode Overtime + Subcontract terbukti memberikan total biaya
paling rendah, yakni Rp [Link]. Fleksibilitasnya dalam memanfaatkan
lembur pekerja dengan biaya Rp [Link] dan kemampuan melakukan
subkontrak dengan biaya Rp 520.000 per unit memungkinkan perusahaan untuk
mengakomodasi lonjakan permintaan secara efisien. Biaya inventaris sebesar Rp
[Link] menunjukkan kontrol yang lebih baik dibandingkan metode lain seperti
ZIP atau CWP.
Strategi ini memungkinkan Lá Familia Bike untuk memenuhi permintaan pasar
tanpa mengorbankan efisiensi biaya. Namun, implementasi yang efektif memerlukan
pengawasan ketat terhadap hubungan dengan pihak subkontrak untuk memastikan
kualitas tetap terjaga dan pengelolaan waktu lembur yang optimal untuk menghindari
penurunan produktivitas karyawan. Dengan metode ini, perusahaan dapat memenuhi
permintaan yang berfluktuasi sambil memaksimalkan efisiensi biaya operasional.
Overtime + Subcontract tidak hanya menawarkan efisiensi biaya tetapi juga
mendukung fleksibilitas dan keandalan dalam operasional produksi.

21
Industrial Engineering Laboratory
Industrial Engineering Department
BINUS University

Anda mungkin juga menyukai