BAB II
KAJIAN TEORETIK
2.1 Kerangka Teoritis
2.1.1 Pembelajaran
a). Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu proses belajar mengajar, karena adanya
pemberi informasi dan penerima informasi. Suyono & Hariyanto (dalam Setiawan
2019 : 20) mengatakan bahwa pembelajaran identik dengan pengajaran, suatu
kegiatan dimana guru mengajar atau membimbing anak-anak menuju proses
pendewasaan diri. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pembelajaran erat
kaitannya dengan pengajaran. Pengajaran sebagaian bagian yang terintegral dalam
pembelajaran dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lain. Dimana
ada pembelajaran maka di situ pula terjadi proses pengajaran. Asmar (2020 : 8)
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik
dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai
dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi
individu anak karena mereka yang akan belajar.
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dan
siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara
tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. didasari
oleh adanya perbedaan interaksi tersebut, maka kegiatan pembelajaran dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai pola pembelajaran.
Sejalan dengan pendapat di atas menurut Warsita (dalam darman 2020:17)
"Pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat peserta didik belajar atau suatu
kegiatan untuk membelajarkan peserta didik." Dengan kata lain, pembelajaran
merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Pembelajaran
itu menunjukkan pada usaha siswa mempelajari bahan pelajaran sebagai akibat
perlakuan guru.
Dari berbagai pengertian pembelajaran diatas dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh
7
8
pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan
menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat
melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil yang
optimal.
b). Ciri ciri pembelajaran
Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran Hamalik
(dalam darman 2020:19), ialah:
1) Rencana
Penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur
sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
2) Kesalingtergantungan
Saling tergantung antara usur-unsur sistem pembelajaran yang serasi
dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing
memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3) Tujuan
Sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri
ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem
yang alami (natural). Sistem yang dibuat oleh manusia seperti sistem transportasi,
sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tuujuan. Tujuan
utama sistem pembelajaran agar siswa belajar. Tugas seorang perancang sistem
ialah mengorganisasi tenaga, material, dan prosedur agar siswa belajar secara
efisien dan efektif. Dengan proses mendesain sistem pembelajaran si perancang
membuat rancangan untuk memberikan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan
sistem pembelajaran tersebut.
c). Komponen Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan hasil integrasi dari beberapa
komponen yang memiliki fungsi tersendiri dengan maksud agar ketercapaian
tujuan pembelajaran dapat terpenuhi. Rusman, (dalam Regina Ade Darman
2020:20).
Penjelasan mengenai komponen-komponen pembelajaran di atas sebagai
berikut:
9
a. Tujuan
Tujuan pendidikan sendiri adalah untuk meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri
dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dengan kata lain, pendidikan merupakan
peran sentral dalam upaya mengembangkan sumber daya manusia.
b. Sumber Belajar
Sumber belajar diartikan segala bentuk atau segala sesuatu yang ada di
luar diri seseorang yang bisa digunakan untuk membuat atau memudahkan
terjadinya proses belajar pada diri sendiri atau peserta didik, apapun bentuknya,
apapun bendanya, asal bisa digunakan untuk memudahkan proses belajar, maka
benda itu bisa dikatakan sebagai sumber belajar.
c. Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran adalah tipe pendekatan yang spesifik untuk
menyampaikan informasi, dan kegiatan yang mendukung penyelesaian tujuan
khusus. Strategi pembelajaran pada hakikatnya merupakan penerapan prinsip-
prisip psikologi dan prinsip-prinsip pendidikan bagi perkembangan siswa.
d. Media Pembelajaran
Media pembelajaran merupakan salah satu alat untuk mempertinggi proses
interaksi guru dengan siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan dan sebagai
alat bantu mengajar dapat menunjang penggunaan metode mengajar yang
digunakan oleh guru dalam proses belajar.
e. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran merupakan alat indikator untuk menilai pencapaian
tujuan- tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar
secara keseluruhan. Evaluasi bukan hanya sekedar menilai suatu aktifitas secara
spontan dan insidental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu
secara terencana sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas.
2.1.2. Pengertian Belajar
Secara umum belajar dapat dikatakan sebagai suatu proses perubahan
tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya. Belajar menurut kamus bsar bahasa Indonesia
10
adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah
laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Pada dasarnya ada banyak ahli yang menyatakan pendapat mengenai
pengertian belajar baik secara umum maupun secara khusus, antara lain:
a) Belajar menurut pandangan Skinner
Skinner dalam Seto Mulyadi, dkk. (2018: 34) mendefinisikan belajar sebagai
"a process of progressive behavior adaption." Jadi, belajar merupakan suatu
proses adaptasi (penyesuaian) peri- laku yang bersifat progresif. Ini berarti akibat
dari belajar terjadi perilaku adaptasi yang bersifat progresif, perilaku adaptasi
yang cenderung ke arah yang lebih baik. Pada saat belajar responsnya menjadi
lebih baik. Sebaliknya, bila tidak belajar maka responsnya menurun. Seorang anak
belajar sungguh-sungguh dengan demikian pada waktu ulangan peserta didik
tersebut dapat menjawab semua dengan benar. Atas perolehan hasil belajarnya
yang baik peserta didik tersebut mendapatkan nilai yang baik, karena
mendapatkan nilai yang baik ini, maka anak akan belajar lebih giat lagi. Nilai
tersebut dapat merupakan operant conditioning atau penguatan (reinforcement).
Berdasarkan eksperimen, B.F. Skinner percaya bahwa proses adap- tasi tersebut
akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinfocer).
b). Belajar menurut pandangan Cronbach
Cronbach dalam (Regina Ade Darman 2020 : 5) mengemukakan "Learning
is shown by change in behavior as resulut of experience".Belajar merupakan
perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman, belajar yang sebaik-baiknya
adalah dengan mengalami sesuatu yaitu mempergunakan panca indera. Belajar
merupakan kecenderungan perubahan pada diri manusia yang dapat dipertahankan
selama proses pertumbuhan, belajar merupakan peristiwa yang terjadi dalam
kondisi-kondisi tertentu yg dapat diamati, diubah dan dikontrol.
c). Belajar menurut pandangan Gagne
Belajar menurut Gagne (dalam Regina Ade Darman 2020 : 6) adalah suatu
proses di mana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.
Dari pe- ngertian tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar, yaitu: (1)
proses; (2) perubahan perilaku; dan (3) pengalaman.
11
1. Proses
Belajar merupakan proses mental dan emosional atau proses berpikir dan
merasakan. Seseorang dikatakan belajar apabila pi- kiran dan perasaannya aktif.
Aktivitas pikiran dan perasaan itu sendiri tidak dapat diamati, akan tetapi
dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Guru tidak dapat melihat aktivitas
pikiran dan perasaan peserta didik. Guru dapat mengamati dari kegiatan peserta
didik akibat adanya aktivitas pikiran dan perasaan peserta didik.
2. Perubahan perilaku
Hasil belajar akan tampak pada perubahan perilaku seseorang yang belajar.
Seseorang yang belajar akan mengalami perubahan perilaku sebagai akibat
aktivitas belajarnya. Pengetahuan dan keterampilannya bertambah, dan
penguasaan nilai-nilai dan sikapnya bertambah. Menurut para ahli psikologi tidak
semua perubahan perilaku sebagai hasil belajar. Perubahan perilaku karena faktor
kematangan, karena lupa, karena minum minuman keras bukan karena sebagai
hasil belajar, karena bukan perubahan dari hasil pengalaman (berinteraksi dengan
lingkungannya) dan tidak terjadi proses mental emosional dan beraktivitas.
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
kognitif, afektif, dan psikomotorik. a. Domain kognitif, meliputi perilaku daya
cipta, yakni berkaitan dengan kemampuan intelektual manusia, antara lain
kemampuan mengingat (knowledge), memahami (comprehension), menerapkan
(application), menganalisis (analysis), mensintesis (synthesis), dan mengevaluasi
(evaluation). b. Domain afektif, berkaitan dengan perilaku daya rasa dan
emosional manusia, yaitu kemampuan menguasai nilai-nilai yang membentuk
sikap seseorang. c. Domain psikomotorik, berkaitan dengan perilaku dalam
bentuk keterampilan–keterampilan motorik (gerakan fisik). Pada pembelajaran
tersebut perubahan perilaku sebagai hasil belajar yang diharapkan dapat
diformulasikan dalam bentuk tujuan pembelajaran atau rumusan kompetensi yang
ingin dicapai dengan segala indikator. Sebagai contoh rumusan tujuan pembe-
lajaran yang ingin dicapai: "Siswa dapat mengubah pecahan desimal ke dalam
bentuk pecahan biasa." Kata dapat mengubah merupakan perilaku hasil belajar
yang akan dicapai dalam pembelajaran.
12
3. Pengalaman Belajar
Pengalaman belajar adalah mengalami, dalam artian bahwa belajar itu
terjadi akibat adanya interaksi individu dengan lingkungannya, baik lingkungan
fisik maupun lingkungan sosial. Belajar dapat diperoleh melalui pengalaman
langsung maupun pengalaman tidak langsung.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
dasarnya belajar adalah sebuah proses perubahan di dalam kepribadian manusia
dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan
kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap,
kebiasaan, pemahaman, ketrampilan, daya pikir, dan kemampuan-kemampuan
yang lain.
2.1.3 Motivasi Belajar
a) Pengertian motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Latin, Movere yang berarti dorongan atau daya
penggerak. Banyak ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi
dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing, namun intinya sama,
sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam
bentuk aktifitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut S Nasution, “motif adalah daya yang mendorong orang untuk
melakukan sesuatu” anak akan berbuat yang seharusnya karena adanya motivasi
untuk menyediakan kondisi-kondisi agar anak melakukan sesuatu. Hal ini
berhubungan dengan adanya kebutuhan yang ada pada dirinya. Menurut Mc.
Donald yang dikutip oleh Oemar Hamalik (2002), motivasi adalah suatu
perubahan energi di dalam diri pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya
afektif, dan reaksi untuk mencapai tujuan, juga sebagai dorongan dari dalam diri
seseorang dan dorongan ini merupakan motor penggerak. Pupuh Fathurohman &
Sobry Sutikno (2014: 19) motivasi merupakan kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
Motif juga dikatakan sebagai keadaan dalam pribadi yang mendorong
individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan
Sondang P. Siagian (dalam Andi Setiawan 2017 :29), mendefinisikan motivasi
13
sebagai daya dorong yang mengakibatkan seseorang bersedia untuk mengerahkan
kemampuan, tenaga dan waktunya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya. Motivasi dapat dikatakan sebagai pengaruh kebutuhan
dan keinginan pada intensitas dan arah seseorang yang menggerakkan orang
tersebut untuk mencapai tujuan dari tingkat tertentu.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa
motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu
kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan terjadi apabila individu merasa
ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dan ia harapkan.
Sedangkan dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan
dalam rangka memenuhi harapan. Dorongan merupakan kekuatan mental
yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan dan
tujuan merupakan hal ingin di capai oleh seorang individu. Tujuan tersebut
akan mengarahkan perilaku dalam hal ini yaitu perilaku untuk belajar.
b). Pengertian motivasi belajar
Motivasi belajar merupakan salah satu faktor yang turut menentukan
keefektifan dalam pembelajaran. Seorang peserta didik akan belajar dengan baik
apabila ada faktor pendorongnya yaitu motivasi belajar. Peserta didik akan belajar
dengan sungguh-sungguh jika memiliki motivasi belajar yang tinggi .
Menurut Hamzah (2013: 23) “motivasi belajar adalah dorongan internal dan
eksternal pada siswa yang sedang belajar untuk mengadakan tingkah laku, pada
umumnya dengan beberapa indikator atau unsur-unsur yang mendukung.
Indikator indikator tersebut, antara lain: adanya hasrat dan keinginan berhasil,
dorongan dan kebutuhan dalam belajar, harapan dan cita-cita masa depan,
penghargaan dalam belajar, dan lingkungan belajar yang kondusif. Selain itu
Abraham Maslow dalam Nashar (dalam Andi Setiawan 2017 : 31) motivasi
belajar adalah suatu dorongan internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang
atau individu untuk bertindak atau mencapai tujuan, sehingga perubahan tingkah
laku pada diri peserta didik diharapkan terjadi. Nyayu Khodijah (2014: 151)
14
motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
belajar.
Sesuai dengan konsep di atas motivasi belajar adalah dorongan baik
internal atau ekternal yang membuat seseorang bertindak dalam rangka mencapai
tujuan yaitu hasil belajar yang maksimal. Belajar dan motivasi memiliki
keterkaitan yang sangt erat, motivasi akan mendorong hasil belajar menjadi lebih
baik. Motivasi bagi guru dan peserta didik sangat penting, bagi peserta didik
motivasi menunjukan kekuatan belajar, mengarahkan kegiatan belajar,
membesarkan semangat belajar, menunjukan adanya proses belajar yang
berkesinambungan. Sedangkan bagi guru motivasi membangkitkan semangat
siswa, memahami masing- masing motivasi siswa, memamami peranan guru,
peluang unjuk kerja.
c). Jenis motivasi
Dalam membicarakan soal macam-macam motivasi hanya akan dibahas dari
dua sudut pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang
yang disebut “motivasi intrinsik” dan motivasi yang berasal dari luar diri
seseorang yang disebut “motivasi ekstrinsik”.
a. Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif
atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri
individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi instrinsik
merupakansuatu pendorong kerja yang bersumber dari dalam diri pekerja sebagai
individu, berupa kesadaran mengenai pentingnya pekerjaan yang
dilaksanakan (Maulana, 2015).
Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia
secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari
luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan.
Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas
belajar terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin
maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positif
bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat
15
berguna kini dan di masa mendatang. Misalnya anak belajar bukan karena
mengharapkan hadiah akan tetapi belajar itu adalah kesadaran dan mengetahui
manfaat belajar.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi
ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu siswa yang
mendorong untuk melakukan tindakan belajar. Misalnya: hadiah, pujian,
peraturan, atau tata tertib sekolah, suri tauladan orang tua, guru dan sebagainya.
Motivasi ekstrinsik disebut demikian karena tujuan utama individu
melaksanakankegiatan adalahuntuk mendapatkantujuan yang beradadi luar
aktivitas belajar itu sendiri, atau tujuan tersebuttidak terlibat di dalam aktivitas
belajar. Motivasi ekstrinsik adalah segala sesuatu yang didapatkanmelalui
pengamatan sendiri, ataupun melalui saran, anjuran,atau dorongan dari orang
lain (Ena & Djami, 2021: 68-72)
Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan
belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Motivasi ekstrinsik bukan berarti
motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi
ekstrinsik diperlukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Misalnya anak
belajar karena untuk mendapat ijazah, mendapatkan hadiah, ingin memperoleh
penghargaan dan sebagainya. Akan tetapi yang lebih penting lagi dengan motivasi
ini agar siswa lebih berhasil dalam belajarnya.
d). Fungsi motivasi dalam belajar
Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh motivasi belajar
siswa. Guru selaku pendidik perlu mendorong siswa untuk belajar dalam
mencapai tujuan. Dua fungsi motivasi dalam proses pembelajaran yang
dikemukakan oleh Wina Sanjaya (2010: 251-252) yaitu:
1. Mendorong siswa untuk beraktivitas
Perilaku setiap orang disebabkan karena dorongan yang muncul dari dalam
yang disebut dengan motivasi. Besar kecilnya semangat seseorang untuk bekerja
sangat ditentukan oleh besar kecilnya motivasi orang tersebut. Semangat siswa
dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tepat waktu dan ingin
16
mendapatkan nilai yang baik karena siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk
belajar.
2. Sebagai pengarah
Tingkah laku yang ditunjukkan setiap individu pada dasarnya diarahkan
untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dengan demikian Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian
prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang
baik. Selanjutnya menurut Winarsih (2009:111) ada tiga fungsi motivasi yaitu:
a. Mendorong manusia untuk berbuat baik, jadi sebagai penggerak atau motor
yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak
dari setiap kegiatan yang dilakukan.
b. Menentukan arah perbuatan kearah yang ingin dicapai. Dengan demikian
motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai
dengan rumusan tujuannya.
c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dikerjakan untuk mencapai tujuan,
Jadi adanya motivasi akan memberikan dorongan, arah dan perbuatan
yang akan dilakukan dalam upaya mencapai tujuan yang telah dirumuskan
sebelumnya. Fungsi motivasi sebagai pendorong usaha dalam mencapai prestasi,
karena seseorang melakukan usaha harus mendorong keinginannya, dan
menentukan arah perbuatannya kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan
demikian siswa dapat menyeleksi perbuatan untuk menentukan apa yang harus
dilakukan yang bermanfaat bagi tujuan yang hendak dicapainya.
e). Indikator motivasi belajar
Menurut Sudirman motivasi berasal dari kata dasar motif, yang diartikan
sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif
dapat dikatakan sebagai daya penggerak diri dalam dan di dalam subjek untuk
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif
dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Berdasarkan
pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah suatu dorongan
internal maupun eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang untuk
17
melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu dengan indikator 1)Ketekunan
dalam belajar, 2)Ulet dalam menghadapi kesulitan, 3)Minat dan ketajaman
perhatian dalam belajar, 4)Berprestasi dalam belajar, 5)Mandiri dalam belajar.
2.1.4. Model Pembelajaran
a). Pengertian model pembelajaran
Menurut Trianto (dalam Shilphy A. Octavia 2020 : 12) model pembelajaran
adalah suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model
pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,
termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Jadi model
pembelajaran adalah prosedur atau pola sistematis yang digunakan sebagai
pedoman untuk mencapai tujuan pembelajaran di dalamnya terdapat strategi,
teknik, metode bahan, media dan alat.
Menurut Arend (dalam Mulyono, 2018:89) memilih istilah model
pembelajaran didasarkan pada dua alasan penting. Pertama, istilah model
memiliki makna yang lebih luas dari pada pendekatan, strategi, metode dan
teknik. Kedua model dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting,
apakah yang dibicarakan tentang mengajar di kelas atau praktik mengawasi anak-
anak. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan
prosedur sistematik (teratur) dalam pengorganisasian kegiatan (pengalaman)
belajar untuk mencapai tujuan belajar (kompetensi belajar). Dengan kata lain,
model pembelajaran adalah rancangan kegiatan belajar agar pelaksanaan KBM
dapat berjalan dengan baik, menarik, mudah dipahami dan sesuai dengan urutan
yang jelas.
Model pembelajaran adalah pola konseptual yang menggambarkan
prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai
tujuan belajar. Fungsi model pembelajaran adalah sebagai acuan bagi perancang
pengajaran dan para pendidik dalam melaksanakan pembelajaran. Pemilihan
model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis materi yang akan
18
diajarkan, tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, serta tingkat kemampuan
atau kompetensi peserta didik.
Dari teori diatas dapat diartikan bahwa model pembelajaran adalah suatu
perencanaan pengalaman belajar yang mengaju sebagai pedoman bagi para
pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.
b). Ciri ciri model pembelajaran
Pada hakikatnya istilah model pembelajaran ini memiliki makna yang begitu
luas daripada pendekatan, strategi, metode, atau prosedur. Beragamnya model
pembelajaran yang bisa guru atau tenaga pendidik pilih dan digunakan yang
sesuai dan efisien guna mencapai tujuan pembelajaran yang dikehendaki. Model
pembelajaran ini memiliki ciri-ciri sebagaimana dikemukakan Rusman (2018:
136) sebagai berikut:
1. Bersumber pada teori pendidikan serta teori belajar dari para pakar tertentu.
Sebagai contoh, model riset kelompok yang disusun oleh Herbert Thelen serta
bersumber pada teori John Dewey. Model ini dirancang dan didesain guna
melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis.
2. Memiliki misi ataupun tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya model berfikir
induktif dirancang guna meningkatkan proses berfikir induktif.
3. Bisa dijadikan sebagai pedoman ataun acuan untuk melakukan perbaikan dan
pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Sebagai contoh
model Synectic yang kemudian dirancang untuk memperbaiki kreativitas
dalam pelajaran mengarang.
4. Memiliki bagian-bagian model dalam pelaksanaan, yaitu: (a) urutan langkah
langkah pembelajaran (syntax), (b) adanya prinsip-prinsip reaksi, (c) sistem
sosial, dan (d) sistem pendukung. Keempat bagian tersebut ialah pedoman
praktis yang bisa digunakan oleh guru dalam melaksanakan suatu model
pembelajaran.
5. Memiliki dampak sebagai akibat dari hasil terapan model pembelajaran.
Beberapa Dampak yang dimaksud adalah sebagai berikut: (a)dampak
pembelajaran yaitu hasil dari proses pembelajaran yang dapat diukur dan
(b)dampak pengiring yaitu hasil belajar jangka panjang.
19
6. Membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan berpedoman pada
model pembelajaran yang dipilihnya.
2.1.5. Model Problem Based Learning
a). Pengertian model problem based learning
Secara umum, PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk
belajar tentang cara berpikir kritis danketerampilan pemecahan masalah, serta
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensialdari materi kuliah atau
materi pelajaran.
Model pembelajaran adalah rencana dalam proses belajar mengajar dengan
langkah-langkah tertentu. Suatu Model pembelajaran problem based learning
terdapat inovasi dalam pembelajaran karena dalam problem based learning
kompetensi berpikir peserta didik benarbenar dimaksimalkan melalui proses kerja
kelompok atau tim yang sistematis, sehingga peserta didik dapat memberdayakan,
melatih, menguji, dan menumbuhkan kompetensi berpikirnya secara
berkesinambungan Rusman (dalam La Amaludin 2021 : 15).
Model pembelajaran PBL. selain dapat diterapkan oleh pendidik dalam
ruang kelas, model ini juga dapat digunakan pihak sekolah untuk pengembangan
kurikulum. Kurikulum yang melibatkan model pembelajaran problem based
learning meliputi masalah-masalah yang dipilih dan didesain dengan cermat yang
menuntut berpikir kritis peserta didik dalam mendapatkan pengetahuan,
menyelesaikan masalah, belajar secara mandiri, dan mempunyai kemampuan
dalam berpartisipasi yang baik.
Menurut Sutarjo (dalam La Amaludin 2021 : 16) pembelajaran problem
based learning adalah model pembelajaran yang memberikan peluang kepada
peserta didik untuk merumuskan dan menentukan topik masalah yang akan
dijawab dan berhubungan dengan materi pembelajaran tertentu. Peserta didik
diarahkan pada aktivitas pembelajaran yang mengarah pada penyelesaian masalah
secara teratur dan masuk akal. Sehubungan dengan model pembelajaran problem
based learning merupakan salah satu model pembelajaran inovatif dan dapat
memberikan suasana belajar aktif kepada peserta didik. Pengertian model
20
pembelajaran problem based learning diperkuat oleh Mudlofir (dalam La
Amaludin 2021: 16) bahwa pembelajaran problem based learning ialah suatu
model pembelajaran yang mengaitkan peserta didik untuk memecahkan suatu
masalah dengan langkah-langkah metode ilmiah sehingga peserta didik dapat
mengkaji pengetahuan yang berkaitan dengan masalah tersebut dan sekaligus
memiliki keterampilan untuk memecahkan suatu masalah.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas dapat diartikan bahwa model
pembelajaran problem based learning merupakan model pembelajaran yang
melibatkan keaktifan peserta didik untuk selalu berpikir kritis dan selalu terampil
dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Model ini bercirikan penggunaan
masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk
melatih dan meningkatkan ketrampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah
serta mendapatkan pengetahuan konsep-konsep penting, dimana tugas guru harus
memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan
diri. Pembelajaran berbasis masalah penggunaannya di dalam tingkat berfikir
yang lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah, termasuk bagaimana
belajar. Problem Based Learning atau Pembelajaran berbasis masalah meliputi
pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin,
penyelidikan autentik, kerjasama dan menghasilkan karya serta peragaan.
b). Karakteristik model problem based learning
Setiap model pasti mempunyai karakteristik yang menjadi kekhasan
tersendiri. Menurut Amir (2013: 22) mengemukakan bahwa terdapat tujuh ciri-ciri
model pembelajaran berbasis masalah di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Masalah digunakan sebagai awal pembelajaran.
2. Biasanya, masalah yang digunakan merupakan masalah dunia nyata yang
disajikan secara mengambang (ill-structured).
3. Masalah biasanya menuntut perspektif majemuk (multiple perspective).
Solusinya menuntut pembelajar menggunakan dan mendapatkan konsep
dari beberapa bab perkuliahan (SAP) atau lintas ilmu ke bidang lain.
21
4. Masalah membuat pembelajar tertantang untuk mendapatkan pembelajaran
di ranah pembelajaran yang baru.
5. Sangat mengutamakan belajar mandiri (self directed learning).
6. Memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak satu sumber saja,
Pencarian evaluasi serta penggujian pengetahuan ini menjadi kunci penting.
7. Pembelajarannya kolaboratif, komunikatif dan kooperatif. pembelajar
bekerja dalam kelompok, berinteraksi, saling mengajarkan (peer teaching),
dan melakukan presentasi.
c). Langkah langkah model pembelajaran problem based learning
langkah pembelajaran problem based learning menurut Shoimin (2017: 131)
adalah:
1. Menjelaskan tujuan pembelajaran meliputi menjelaskan logistik yang
dibutuhkan dan memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah yang
dipilih,
2. Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan permasalahan tersebut,
3. Mendorong siswa dalam mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen
untuk penjelasan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan
masalah,
4. Membantu siswa dalam merencanakan serta menyiapkan laporan hasil karya
yang sesuai seperti laporan,
5. Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan
mereka.
d). Kekurangan dan kelebihan model pembelajaran problem based learning
Shoimin (2017:132) mengungkapkan beberapa kelebihan model
pembelajaran berbasis masalah yang meliputi:
1. Mendorong siswa untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah pada
dunia nyata,
2. Membangun pengetahuan siswa melalui aktivitas belajar,
3. Mempelajari materi yang sesuai dengan permasalahan,
4. Terjadi aktivitas ilmiah melalui kerja kelompok pada siswa,
22
5. Kemampuan komunikasi akan terbentuk melalui kegiatan diskusi dan
presentasi hasil pekerjaan,
6. Melalui kerja kelompok siswa yang mengalami kesulitan secara individual
dapat diatasi.
Sementara itu, kelemahan penerapan model pembelajaran Problem Based
Learning menurut Shoimin (2017: 132) antara lain:
Tidak semua materi pembelajaran dapat menerapkan PBL, guru harus tetap
berperan aktif dalam menyajikan materi.
Keragaman siswa yang tinggi dalam suatu kelas akan menyulitkan dalam
pembagian tugas berdasarkan masalah nyata.
2.1.6. Materi Pembelajaran
KEWAJIBAN DAN HAKKU
Secara umum kewajiban adalah perbuatan yang harus dilakukan
seseorang. Tindakan yang dilakukan, baik legal maupun moral, merupakan bentuk
tanggung jawab penuh atas masalah yang timbul. Oleh karena itu, kewajiban
selalu dibebankan pada kehidupan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang
dewasa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kewajiban adalah sesuatu
yang diwajibkan atau sesuatu yang harus dilaksanakan atau keharusan. Kewajiban
adalah tugas atau pekerjaan yang harus dilakukan dan diselesaikan dengan benar
dan dengan memikul kewajiban, kita akan memperoleh hak. Misalnya, setelah
karyawan menyelesaikan pekerjaan yang merupakan kewajibannya maka dia akan
menerima gaji yang adalah haknya sehingga tunjangan dapat ditingkatkan.
Contoh Kewajiban :
[Link] di Rumah
1. Menghemat listrik di rumah
2. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar
3. Membantu sesama antar anggota keluarga
4. Mematuhi peraturan keluarga
23
B. Kewajiban di Lingkungan Masyarakat
1. Mematuhi rambu lalu lintas
2. Menjaga keselamatan dan keamanan
3. Menjaga kelestarian alam
4. Bersikap sopan
5. Tidak mengangu orang lain
6. Saling menghargai
C. Kewajiban Di Sekolah
Kewajiban untuk hadir di sekolah sebelum bel tanda masuk sekolah berbunyi
Kewajiban untuk mengikuti seluruh kegiatan sekolah sesuai dengan ketentuan
yang berlaku
Kewajiban untuk mewujudkan dan memelihara ketertiban, keamanan, keindahan,
dan kekeluargaan
Kewajiban untuk memelihara seluruh fasilitas sekolah.
Kewajiban untuk meninggalkan kawasan sekolah dengan segera setelah kegiatan
yang diikuti telah berakhir
Secara umum, hak adalah peluang yang diberikan kepada setiap individu untuk
bisa mendapatkan, melakukan, serta memiliki sesuatu yang diinginkan oleh
individu tersebut.
Menurut Bahasa atau kita bisa ambil rujukan dari KBBI (Kamus Besar Bahasa
Indonesia), Hak dapat diartikan sebagai bentuk dari kewenangan, suatu kekuasaan
yang memungkinkan seorang individu untuk berbuat (atas dasar undang-undang
karena hal tersebut telah diatur serta ditentukan oleh undang-undang atau aturan
tertentu), serta kekuasaan yang mutlak berdasarkan dari sesuatu atau difungsikan
untuk menuntut sesuatu.
Contoh hak :
A. Hak Anak Di Rumah
1. Hak mendapatkan perlindungan
2. Hak mendapatkan makanan
3. Hak mendapat bimbingan dan pendidikan
24
B. Hak Anakk Di Sekolah
1. Hak mendapatkan ilmu
2. Hak mendapatkan istirahat
3. Hak bertanya di kelas
C. Hak Anak Di Masyarakat
1. Hak mendapatkan perlindungan
2. Hak menyampaikan pendapat
3. Hak untuk mendapatkan pelayanan
2.2 Kerangka Berpikir
Menurut Widayat dan Amirullah(dalam Ismail Nurdin, Sri Hartati 2019 : 125)
kerangka berpikir atau juga disebut sebagai kerangka konseptual merupakan
model konseptual tentang bagaimana teori berbubungan dengan berbagai
faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku atau penampilan dengan
serangkaian aktivitas seperti membaca, mengamati, mendengar, meniru dan
lainnya sebagai hasil dari pengalaman. Secara umum belajar dapat dipahami
sebagai proses memperoleh pengetahuan melalui latihan dan pengalaman untuk
membentuk tingkah laku. Belajar bukan hanya masalah hasil akan tetapi juga
suatu proses. Sehingga hasil dari belajar jarang dapat dilihat secara instan ada
proses-proses yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh
pendidik untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, mengorganisasi dan
menciptakan sistem lingkungan dengan berbagai metode sehingga siswa dapat
melakukan kegiatan belajar secara efektif dan efisien serta dengan hasil yang
optimal.
Motivasi adalah dorongan yang dimiliki seseorang demi tercapainya suatu
tujuan yang diinginkan. Motivasi dalam belajar sangat diperlukan. Keberhasilan
tujuan pembelajaran bergantung seberapa besar antusias peserta didik dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran. Setiap peserta didik memiliki motivasi belajar
masing-masing. Pada umumnya motivasi belajar datang dari dua arah, yaitu
25
motivasi dari dalam peserta didik itu sendiri (motivasi intrinsik) dan motivasi
yang datang dari luar peserta didik (motivasi ekstrinsik). Adanya motivasi yang
baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.
Model pembelajaran problem based learning adalah model pembelajaran yang
melibatkan keaktifan peserta didik untuk selalu berpikir kritis dan selalu terampil
dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Alur kerja peserta didik bergantung
pada beberapa kompleks permasalahan yang diberikan, tingkat keberhasilan
metode ini bergantung pada keaktifan peserta didiknya. Semakin aktif peserta
didik memanfaatkan ketrampilan berpikirnya, semakin besar peluang masalah
untuk diselesaikan.
Berdasarkan uraian diatas, maka diduga ada pengaruh yang positif antara
penggunaan model pembelajaran problem based learning terhadap motivasi
belajar siswa. Artinya motivasi belajar dapat timbul karena faktor adanya
dorongan dan kebutuhan belajar, harapan akan cita cita. Maka untuk mendorong
supaya motivasi belajar siswa meningkat, guru perlu menggunakan model
pembelajaran yang efektif salah satunya model pembelajaran problem based
learning.
Model problem Motivasi
based learning belajar siswa
(x (Y)
Gambar 2.1 Arah kerangka berpikir pengaruh model problem based
learning terhadap motivasi belajar siswa
26
2.3 Hipotesis Penelitian
Abdullah (2015): ”Hipotesis adalah jawaban sementara yang hendak diuji
kebenarannya melalui penelitian”. Creswell & Creswell (2018): ”Hipotesis adalah
pernyataan formal menyajikan hubungan yang diharapkan antara variabel
independen dan variabel dependen”.
Berdasarkan pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hipotesis
adalah dugaan sementara atau kesimpulan sementara, terhadap permasalahan
penelitian yang sedang diteliti. Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir
yang telah dikemukakan diatas, maka peneliti mengajukan hipotesis yaitu:
a. Hipotesis nol (H0)= terdapat pengaruh variabel X (model PBL) terhadap
variabel (motivasi belajar siswa) secara signifikan.
b. Hipotesis alternatif (Ha)= tidak terdapat pengaruh variabel X (model
PBL) terhadap variabel Y (motivasi belajar siswa) secara signifikan.