PROPOSAL
MENINGKATKAN MOTIVASI DAN MINAT BELAJAR SEJARAH
MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING
DI SMA NEGERI BENLUTU
NAMA : NOVALINDA [Link]
NIM : 2201090070
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
berkat dan rahmat-Nyalah sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal
yang berjudul “MENINGKATKAN MOTIVASI DAN MINAT BELAJAR
SEJARAH MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN PROJECT BASED
LEARNING DI SMA NEGERI BENLUTU” tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan proposal penelitian ini adalah untuk
mempelajari cara pembuatan proposal pada Universitas Nusa Cendana
Kupang dan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan jurusan Sejarah.
Pada kesempatan ini, penulis hendak menyampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan moril maupun materiil
sehingga proposal penelitian ini dapat selesai. Ucapan terima kasih ini penulis
tujukan kepada:
1. Bapak Susilo S Utomo,[Link] selaku Dosen yang telah mendidik
dan memberikan bimbingan selama.
2. Ibu kepala Sekolah SMA Negeri Benlutu dan seluruh Guru SMA
Negeri Benlutu atas kesempatan dan bantuan yang diberikan kepada
penulis dalam melakukan penelitian dan memperoleh informasi yang
diperlukan selama penulisan proposal ini.
3. Teman-temanku satu bimbingan penelitian proposal,Helda, Priska,
Nirmala yang telah berjuang bersama-sama dalam menyelesaikan
proposal ini.
Meskipun telah berusaha menyelesaikan proposal penelitian ini sebaik
mungkin, penulis menyadari bahwa proposal penelitian ini masih ada
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca guna menyempurnakan segala kekurangan
dalam penyusunan proposal penelitian ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga proposal ini berguna bagi para
pembaca dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Kupang, Mei 2024
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat diperlukan oleh
semua manusia di seluruh dunia. Meski demikian, pendidikan di Indonesia
memiliki kelebihan dibanding negara-negara negara maju lainnya dengan
dasar pendidikan Pancasila dan undang-undang tahun 1945 yang berakar
pada budaya bangsa yang mengedepankan karakter yang sangat diperlukan
dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Pembelajaran abad ke-21 merupakan pembelajaran yang
mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan,
keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi.
Karakteristik pembelajaran pada abad ke-21 merupakan pembelajaran
yang harus mempersiapkan generasi dengan kemajuan teknologi dan
komunikasi yang berkembang begitu cepat. Perkembangan tersebut
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk dalam proses
pembelajaran.
Kurikulum merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran
intrakurikuler yang beragam. Pembelajaran akan lebih maksimal agar
peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan
memperkuat kompetensinya melalui kurikulum. Ini guru dapat memilih
perangkat ajar untuk menyesuaikan kebutuhan belajar dan mengingat
masing-masing peserta didik. Untuk menjaga tujuan tersebut di atas
pendekatan pembelajaran yang cukup menantang bagi guru adalah
pendekatan pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning
atau PBL. Pembelajaran sejarah di sekolah selain melatih siswa berpikir
kritis, juga memiliki fungsi pragmatis sebagai pembentukan identitas dan
eksistensi bangsa. Selain pengetahuan kesejarahan yang kognitif
pembelajaran sejarah juga menyimpan pendidikan nilai untuk
pembentukan sejarah, kepribadian bangsa dan sikap.
Hal ini menjadi tantangan bagi guru untuk memotivasi dan
meningkatkan prestasi peserta didik dalam pembelajaran sejarah. Di
tingkat SMA masih banyak peserta didik yang kurang mempunyai
motivasi belajar sejarah. Hal ini dilihat dari isinya hanya merupakan
hafalan saja dari tahun ke tahun tokoh dan peristiwa sejarah sebelum
informasi dijadwalkan begitu saja kepada siswa dan siswa tinggal
menghafalkannya di luar kepala. Memang menghafal atau mengingat
adalah salah satu secara belajar seperti halnya menirukan, kadang-kadang
juga kita berpikir atau merenungkan apa yang kita lihat dan kita alami
dengan hasil yang berbeda-beda mengenai kondisi yang memicu
kebesaran mereka dalam mengikuti pelajaran Sejarah adalah disebabkan
guru kurang menarik dalam mengajar di dalam kelas dan jarang
menggunakan media mengajar yang dapat menarik siswa untuk
memperhatikan penjelasan materi pembelajaran yang disampaikan di
dalam kelas metode yang digunakan oleh guru membuat siswa merasa
jenuh dan mengantuk dalam mengikuti pelajaran sejarah sedikit peserta
didik dalam mengumpulkan untuk evaluasi materinya keterlambatan dan
tidak kelengkapan tugas-tugas yang mereka kerjakan.
Oleh karena itu dibutuhkan walaupun pembelajaran yang berorientasi
pada peserta didik sehingga mampu mengembangkan kemampuan berpikir
kritis dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-
hari. Problem Besed Learning merupakan salah satu model pembelajaran
yang dapat diterapkan pada pembelajaran sejarah kurikulum merdeka
karena dapat mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, keterampilan
menyelesaikan masalah yang menghubungkan pengetahuan mengenai
masalah-masalah dan isu-isi di dunia. Berdasarkan uraian di atas penelitian
tindakan kelas ini penerapan model problem based learning dalam
pembelajaran sejarah untuk meningkatkan motivasi dan minat belajar
peserta didik SMA Negeri Benlutu yaitu melalui penelitian tindakan ini
diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar pada mata
pelajaran sejarah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang menyebabkan siswa kurang berminat dengan pembelajaran
sejarah ?
2. Bagaimana pembelajaran sejarah dengan menggunakan metode Project
Based Learning ?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi siswa
a. Minat peserta didik terhadap materi pembelajaran sejarah akan
meningkat
b. Memahami materi dengan mudah menggunakan model
pembelajaran Problem Besed Learning
2. Bagi Guru
a. Sebagai upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru sejarah
sebagai tenaga pendidik dalam menggunakan Problem Based
Learning dalam proses belajar mengajar di kelas.
b. Untuk mengenal kondisi secara objektif penggunaan Problem
Based Learing dikelas.
3. Bagi Mahasiswa
a. Hasil penulisan yang diharapkan dapat menjadi acuan agar
penulisan dikemudian hari dapat lebih baik
b. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk penelitian
lebih lanjut yang sebaiknya lebih variatif dalam mengembangkan
metode-metode lainnya untuk mengatasi masalah kelas yang
dihadapi.
4. Bagi Sekolah
a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang
berarti dalam meningkatkan mutu pembelajaran khususnya dalam
mata pelajaran sejarah menggunakan Program Based Learning.
b. Dengan adanya penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi kegiatan
belajar mengajar di kelas selanjutnya mengenai kegiatan belajar
mengajar yang akan mampu meningkatkan minat belajar di sekolah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 LANDASAN TEORI
1. Metode Problem Based Learning
a. pengertian Problem Based Learning
Problem based learning merupakan salah satu model
pembelajaran kontekstual menekankan pada proses
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk
menemukan materi sendiri, artinya proses belajar berorientasi
pada pengalaman langsung dari kehidupan sehari-hari peserta
didik di lingkungan sosial. Model pembelajaran berbasis
masalah merupakan model pembelajaran yang
mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan
masalah, melalui pengajuan situasi kehidupan nyata yang
autentik dan bermakna, yang mendorong siswa untuk
melakukan penyelidikan, dengan menghindari jawaban
sederhana, serta memungkinkan adanya berbagai macam solusi
dari situasi tersebut (Krisna, 2013:2). Pembelajaran berbasis
masalah (problem based learning) juga menekankan pemecahan
masalah dengan pendekatan pembelajaran peserta didik pada
masalah autentik. Peserta didik diupayakan dapat menyusun
pengetahuannya sendiri, menumbuh kembangkan keterampilan
yang lebih tinggi, memandirikan peserta didik dan
meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends, 1997:13).
Berdasarkan beberapa pendapat yang disampaikan diatas, dapat
disimpulkan bahwa PBL adalah model kontekstual berbasis
masalah yang memungkinkan peserta didik untuk
mengeksplorasi setiap kemungkinan penyebab maupun dampak
serta solusi permasalahan dengan terlibat aktif pada persoalan
yang nyata, sehingga peserta didik dapat mengembangkan
kemampuan berpikir kritis dan memiliki kemampuan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi dalam dunia nyata. Tujuan
Problem Based Learning Hosnan (2014:299), menyatakan
bahwa tujuan utama problem based learning bukanlah
penyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada peserta didik,
melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk secara aktif membangun
pengetahuan sendiri.
Keunggunlan dan kelemahan Model Pembelajaran Problem
Based Learning
Keunggulan Model Pembelajaran Problem Based Learning
adalah :
1) Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami
isi pelajaran,
2) Menantang kemampuan peserta didik serta memberikan
kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi peserta
didik,
3) Meningkatkan aktivitas pembelajaran bagi peserta didik,
4) Membantu peserta didik mentransfer pengetahuan mereka
untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata,
5) Membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan
barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang
mereka lakukan.
Sedangkan kelemahan Model Pembelajaran Problem Based
Learning adalah:
1) Ketika peserta didik tidak memiliki minat atau kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, mereka akan
merasa enggan untuk mencoba,
2) Keberhasilan pembelajaran melalui
problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan,
3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, mereka tidak akan
belajar apa yang mereka ingin pelajari (Hamruni, 2012:108).
Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran PBL Tabel 1
Sintak Model
Pembelajaran Problem Based Learning:
Tahap 1 Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah. Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran dan sarana atau logistik yang
dibutuhkan.
Tahap 2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar. Guru
membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasi
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang sudah
diorientasikan pada tahap sebelumnya.
Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun
kelompok. Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai dan melaksanakan eksperimen untuk
mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk menyelesaikan
masalah.
Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru
membantu peserta didik untuk berbagi tugas dan merencanakan
karya yang sesuai sebagai hasil pemecahan masalah dalam
bentuk laporan.
Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan
masalah. Guru membantu peserta didik untuk melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap proses pemecahan masalah yang
dilakukan. Sumber : Nur, 2011
1. Motivasi
a. Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan
sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu, yang
menyebabkan individu tersebut bertindak atau
berbuat. Motivasi merupakan dorongan yang terdapat dalam diri
seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku
yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya (Uno, 2009 : 3).
Menurut Sardiman (2007: 73) motif adalah daya atau upaya
yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi
berpangkal dari kata motif yang dapat diartiakan sebagai daya
penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan
aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya satu tujuan. Bahkan
motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern
(kesiapsiagaan). Adapun menurut [Link] (Sardiman, 2007:
73) motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan
tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang
dikemukakan oleh [Link] ini mengandung tiga elemen/ ciri
pokok dalam motivasi itu sebagai berikut.
1) Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri
setiap individu siswa. Perkembangan motivasi siswa akan
membawa beberapa perubahan energi di dalam system
“neurophysiological” yang ada pada organisme manusia.
2) Motivasi ditandai dengan munculnya rasa/”feeling” afeksi
seseorang. Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-
persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang dapat menentukan
tingkah laku manusia.
3) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi motivasi
dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi,
yaitu tujuan. Motivasi memang muncul dari dlam diri manusia,
tetapi kemunculanya karena terangsang/terdorong karena adanya
unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan ini akan
menyangkut soal kebutuhan. Motivasi dapat dipahami sebagai
suatu variable penyelang yang digunakan untuk menimbulkan
faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan,
mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku
menuju sasaran (Sagala, 2009: 100). Menurut Djamarah (2008:
148) motivasi adalah sebagai suatu pendorong yang mengubah
energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata
untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi dibagi menjadi dua
yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi
intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau
berfungsinya tidak perlu dari luar, karena dalam setiap individu
sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi
ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena
adanya perangsang dari luar(Djamarah 2008: 149-151)
b. Ciri-ciri Motivasi
Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam
belajar, orang yang memiliki motivasi dapat terlihat dari tingkah
lakunya dalam belajar sehingga dapat dibedakan orang yang
memiliki motivasi belajar dengan orang yang tidak memiliki
motivasi belajar. Menurut Sardiman (2007: 83) motivasi dalam
diri setiap orang itu memilki ciri-ciri sebagi berikut.
1) Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam
waktu yang lama,tidak pernah berhenti sebelum selesai).
2) Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak
memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik
mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah
dicapainya).
3) Menunjukan minat terhadap macam-macam masalah, untuk
orang dewasa (misalnya masalah pembangunan agama, politik,
ekonomi, keadilan, pembrantas korupsi, penentangan pada
setiap tindakan kriminal, amoral dan sebagainya).4) Lebih
senang bekerja mandiri.5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang
rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja,
sehingga kurang kreatif).6) Dapat mempertahankan pendapatnya
(kalau sudah yakin akan sesuatu).7) Tidak mudah melepaskan
hal yang diyakini itu.8) Senang mencari dan memcahkan
masalah dan soal-soal.
3. Pembelajran Sejarah
Menurut Widja (Sutrisno, 2011: 50) pembelajaran Sejarah
adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang
didalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang
erat kaitannya dengan masa kini. Dari pendapat yang ada dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah adalah proses belajar
yang ada dalam sebuah lingkungan yang mempelajari kejadian-
kejadian masa lampau yang dipelajari dimasa kini sebagai
pedoman untuk melangkah kedepan. Pembelajaran sejarah
merupakan interaksi yang ada dalam proses pada saat siswa
belajar tentang keadaan masa lalu, guna untuk kepentingan yang
akan datang. Pembelajaran sejarah merupakan mata pelajaran
yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses
perubhan dan perkembangan masyarakat yang ada di Indonesia
maupun dunia dari masa lampau hingga sekarang. Pembelajaran
merupakan kegiatan proses pembelajaran tentang kehidupan
yang ada dimasa lalu.
Fungsi Pembelajaran Sejarah
Kartodirjo (Haryono, 1995: 191-192) menjelaskan fungsi
pembelajaran sejarah adalah untuk mengembangkan kepribadian
serta peserta didik terutama dalam hal:
1. Membangkitkan perhatian serta minat kepada sejarah
masyarakatnya sebgai satu kesatuan komunitas.
2. Mendapat inspirasi dari cerita sejarah, baik dari yang kisah-
kisah kepahlawanan maupun peristiwa-peristiwa yang
merupakan tragedi nasional untuk menciptakan kehidupan yang
lebih baik.
3. Memupuk kebiasan berfikir secara kontekstual, terutama
dalam meruang dan mewaktu,tanpa menghilang hakekat
perubahan yang terjadi dalam proses sosio kultural.
4. Tidak mudah terjebak pada opini, karena dalam berfikir lebih
mengutamakan sikap kritis dan rasional dengan dukungan dan
fakta yang benar.
5. Menghormati dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Fungsi pembelajaran sejarah pada hakikatnya untuk
meningkatkan pengertian atau pemahaman yang mendalaam dan
lebih baik tentang masa lampau dan juga masa sekarang dalam
interelasinya antara masa sekarang dengan masa lampau. Karena
ada dua sifat ganda sejarah ialah yang di ungkapkan sebagai
berikut: “belajar dari sejarah tidak hanya belajar melalui satu
kali proses”. Untuk mempelajari masa sekarang melalui sorotan
tinjauan masa sekarang.
2.2 PENELITIAN YANG RELEVAN
2.3 KERANGKA BERPIKIR
Berdasarkan observasi dapat disimpulkan bahwa kondisi awal peserta
didik X.3 masih banyak yang belum termotivasi belajar sejarah dan prestasi
belajar peserta didik yang menurun, hal ini dilihat dari kehadiran dalam
pembelajaran daring yang masih sedikit dan tugas tugas yang belum
diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Perbaikan
pembelajaran akan dilakukan menggunakan daur siklus. Setiap siklus terdiri
dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Jika siklus I belum
memenuhi syarat ketuntasan belajar, maka akan dilakukan tindakan pada
siklus II dan seterusnya. Pada siklus II di harapkan sudah memenuhi kriteria
ketuntasan belajar. Kerangka berpikir secara garis besar dapat digambarkan
sebagai berikut:
2.4 HIPOTESIS TINDAKAN
BAB III
METODE PENEITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan yang dilakukan di kelas
dengan tujuanmeningkatkan motivasi dan prestasi belajar sejarah. Penelitian
tindakan kelas ini dilaksanakan dalam lima langkah yaitu perencanaan,
pelaksanaan, observasi, evaluasi, dan refleksi.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2023-
2024 yang dilakukan selama 1 minggu dan penelitian dilakukan secara tatap
muka atau luring di SMA Negeri Benlutu.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas X
MIPA1 dengan jumlah 36 peserta didik.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas merupakan salah satu cara yang strategis untuk
memperbaiki layanan kependidikan yang harus diselenggarakan dalam
konteks pemebelajaran di kelas dan penigkatan kualitas program sekolah
secara keseluruhan. Pengertian penelitian tindakan kelas menurut Hopkins
yang dikutip oleh Wiriatmadja (2009:10) adalah penelitian yang
mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu
tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang
untuk memahami yang sedang terjadi, sambil erlibat dalam sebuah proses
perbaikan dan perubahan. Penelitian tindakan kelas yang telah direncanakan
oleh peneliti sebanyak 2 siklus, dan di dalam setiap siklus terdapat dua kali
tindakan, untuk satu kali tindakan membutuhkan 2 jam pelajaran (waktu, 2 x
45 menit). Penelitian pendidikan pada umumnya ditunjukan untuk
memperoleh landasan dalam mempertimbangkan suatu prosedur kerja,
khususnya prosedur pemebelajaran yang menjamin cara kerja dalam
pendidikan dan dapat menghindarkan situasi yang dapat merusak, serta
meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan pembelajaran. Secara
garis besar penelitian tindakan kelas umumnya mengenal 4 langkah penting
yaitu: Setiap siklusnya meliputi: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan,
(3) observasi, dan (4) refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut
(Suharsini Arikunto dkk(2008:74)):
Siklus I
siklus II
A. Teknik Pengumpulan Data
Gambar 1.2
Skema Penelitian
Untuk mendapatkan data yang akurat, teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini
adalah dengan menggunakan tes formatif dan angket siswa.
E. Teknik Analisis Data
Analisis yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan data yang terkumpul.
Data
yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sesuai
dengan
karakteristik data, alasanya untuk menjelaskan kegiatan pada saat penelitian
berlangsung,
agar dapat mengetahui gambaran proses penelitian. Adapun analisis data dari
masing-
masing aspek hasil belajar siswa dan observasi guru adalah sebagai berikut:
Pelaksanaan
Tindakan 1
Perencanaan
Permasalaha Tindakan 1
Pengamatan/
Pengumpulan data 1
Refleksi 1
Pelaksanaan
Tindakan II
Perencanaan
Tindakan II
Permasalahan baru
Hasil refleksi
Refleksi II Pengamatan/
Pengumpuln data II
Apabila
permasalahan belum
terselesaikan
Dilanjutkan ke
siklus berikutnya
16
1. Angket Motivasi Siswa
Angket menggunakan skala likert. Pemberian skor pada setiap pernyataan
sebagai
berikut.
Tabel 1.1 Skor Angket Motivasi Siswa
Keterangan Skor
Pernyataan positif Pernyataan negatif
SS (sangat setuju) 4 1
S (setuju) 3 2
TS (tidak setuju) 2 3
STS (sangat tidak
setuju)
14
Menurut Arikunto.S (2009:100)
Rumus
Keterangan :
x = nilai rata -rata (mean)
∑x = jumlah seluruh skor
N = banyaknya subyek
Kriteria pensekoran sebagai berikut :
1 < skor rata – rata < 2 : sangat tidak baik
2 < skor rata - rata < 3 : tidak baik
3 < skor rata - rata < 4 : kurang baik
4< rata - rata < 5 : baik
Skor rata - rata 5 : sangat baik
17
2. Prestasi belajar
Dilakukan dengan cara membandingkan nilai yang diperoleh pada siklus I dan
siklus II
dengan menghitung nilai rata-rata setiap peserta didik pada setiap akhir siklus
dan
menghitung nilai rata-rata kelas, menggunakan rumus:
Nilai peserta didik
100
Nilai = x
Keterangan :
n = Yang diperoleh tiap peserta didik
N = Jumlah seluruh skor
Rumus untuk mencari niai rata - rata menggunakan
Rumus :
Keterangan :
= Nilai rata -rata (mean)
∑x = Jumlah skor keseluruhan yang diperoleh
n = Jumlah peserta didik
Persentase (P) =
x100%
Keterangan :
P = Angka persentase peserta tuntas belajar
F = Jumlah peserta tuntas belajar
N = Jumlah peserta keseluruhan
18
Adapun penggolongan rentang nilai akhir adalah sebagai berikut:
80 keatas : Baik sekali
66 – 79 : Baik
56 – 65 : Cukup baik
46 – 55 : Kurang baik
45 – Kebawah : gagal
Adapun penggolongan rentang ketuntasan belajar sebagai berikut:
80-100% : baik sekali
66-79% : baik
56-65% : cukup
40-55% : kurang
Kurang dari 40% : kurang sekali
F. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila terjadi peningkatan
motivasi dan prestasi belajar sejarah dengan penerapan model pembelajara
problem based
learning belajar telah mencapai target yang telah ditentukan.
Indikator keberhasilan yang ditentukan dalam penelitian untuk mengukur
aspek
prestasi belajar adalah 75% dari 36 siswa kelas X.3 SMA Negeri 1
Paguyangan mencapai
nilai dengan KKM adalah 70 sesuai dengan KKM yang ditentukan oleh
sekolah
BAB III
METODE PENELITIAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN