0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan2 halaman

Tanda Biru dan Misteri Amalia

Diunggah oleh

webidevolution
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan2 halaman

Tanda Biru dan Misteri Amalia

Diunggah oleh

webidevolution
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tanda Biru dan Keheningan yang Mencekam

Ponsel di tangan Hafiz terasa dingin, namun goresan tipis berwarna kebiruan di
bawah mata kanannya terasa membakar. Ia mengusapnya perlahan. Bukan luka, melainkan
seperti noda yang meresap ke dalam kulit. Ketika ia mencoba menggosoknya, noda itu
tidak hilang, malah terasa semakin menyatu dengan kulitnya. Hafiz mendekat ke
cermin kecil di meja belajarnya, meneliti tanda itu di bawah cahaya remang.
Bentuknya melengkung tipis, seperti ekor komet yang terputus.

"Amalia..." bisiknya, suaranya parau. Ia mencoba lagi menghubungi kontak Amalia,


namun hanya nada sambung yang seolah mati. Tidak ada getaran, tidak ada dering.
Seolah-olah nomor itu tidak pernah ada. Cepat-cepat ia membuka aplikasi perpesanan.
Riwayat percakapannya dengan Amalia masih ada, sampai pesan terakhir yang berubah
itu: "Aku... menjagamu..."

Di bawah pesan itu, tidak ada apa-apa lagi. Seolah Amalia lenyap begitu saja dari
dunianya, menyisakan jejak digital yang mengambang. Perasaan bersalah menyeruak.
Apa yang telah Amalia lakukan? Apakah ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan
Hafiz dari bayangan mengerikan itu? Dan apakah tanda biru ini adalah bagian dari
"penjagaan" Amalia?

Pagi menjelang, namun kamar Hafiz terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma melati
memang sudah hilang, digantikan oleh bau anyir yang samar, yang kini tercium
seperti sisa mimpi buruk yang tak sepenuhnya menguap. Hafiz bangkit dengan hati-
hati, memastikan tidak ada lagi pecahan cangkir atau kursi yang terbalik. Semuanya
kembali rapi, terlalu rapi, seolah kejadian semalam hanyalah ilusi semata.

Ia keluar dari kamar, berniat mencari udara segar. Lorong indekos yang biasanya
ramai dengan obrolan atau suara musik kini hening. Pintu-pintu kamar lain tertutup
rapat. Bahkan bibi pemilik indekos, yang biasanya sudah sibuk di dapur, tidak
terlihat. Keheningan ini terasa aneh, tidak seperti keheningan pagi hari biasa,
melainkan keheningan yang mencekam, seolah seluruh dunia telah terlelap dalam tidur
yang tak kunjung usai.

Hafiz berjalan menuju dapur umum, berniat membuat teh hangat untuk menenangkan
diri. Saat ia melewati jendela ruang tamu yang menghadap ke jalan, ia berhenti. Di
balik kaca jendela, refleksi dirinya tampak jelas. Dan di bawah mata kanannya,
tanda biru itu masih ada, kontras dengan kulit pucatnya.

Ia menatap tanda itu, mencoba memikirkan maknanya. Kemudian, perhatiannya tertuju


pada sesuatu di luar jendela. Sebuah mobil berhenti di seberang jalan, tepat di
bawah pohon beringin tua yang menjulang. Mobil itu hitam legam, tampak mewah namun
kusam, seolah sudah sangat lama tidak bergerak dari tempatnya. Jendela mobil gelap,
tidak menampakkan siapa pun di dalamnya.

Anehnya, Hafiz merasa pernah melihat mobil itu sebelumnya.

Saat ia sedang memikirkan di mana ia pernah melihat mobil itu, tiba-tiba, kaca
spion mobil itu berkedip. Bukan pantulan cahaya matahari, melainkan kedipan yang
disengaja, seperti sebuah lampu yang menyala dan mati. Satu kali. Dua kali. Tiga
kali.

Hafiz terpaku. Apakah ada seseorang di dalam mobil itu? Seseorang yang mencoba
berkomunikasi dengannya?

Rasa penasaran bercampur takut mendorong Hafiz untuk melangkah lebih dekat ke
jendela. Namun, sebelum ia sempat mendekat, kaca spion itu kembali berkedip, kali
ini lebih cepat dan intens, seolah memberi peringatan. Dan di antara kedipan-
kedipan itu, Hafiz melihat siluet samar di kursi pengemudi.
Siluet itu tidak berbentuk jelas, namun entah mengapa, Hafiz merasakan hawa dingin
yang sama seperti saat ia berhadapan dengan bayangan di kamarnya semalam. Siluet
itu bergerak, bukan untuk menyalakan mesin atau membuka pintu, melainkan seperti
sedang menoleh, menatap lurus ke arah Hafiz.

Dan kemudian, ponsel Hafiz yang ada di saku celananya bergetar. Bukan panggilan,
bukan pesan. Itu adalah getaran aneh, seperti vibrasi yang beresonansi dengan
tubuhnya. Hafiz merogoh ponselnya. Layarnya menyala, bukan menampilkan notifikasi
apa pun, melainkan hanya sebuah gambar.

Gambar itu adalah foto lama. Foto saat KKN di Gunungkidul, diambil di depan rumah
yang mereka tinggali. Di foto itu ada Hafiz, Amalia, dan teman-teman lainnya yang
berpose canggung.

Namun, ada yang aneh.

Di balik rumah itu, di antara semak belukar yang rimbun, terlihat samar sesosok
bayangan. Bayangan itu mirip dengan yang ia lihat semalam. Dan di samping bayangan
itu, nyaris tak terlihat, ada sebuah mobil hitam legam yang sama persis dengan yang
terparkir di seberang jalan indekosnya saat ini.

Mata Hafiz melebar. KKN. Desa terpencil. Mobil ini.

Dan di foto itu, di samping bayangan itu, hanya beberapa inci dari sosok Amalia
yang tersenyum ceria, ada sebuah tanda biru samar di dinding rumah. Tanda yang sama
persis dengan yang kini ada di bawah mata Hafiz.

Anda mungkin juga menyukai