Teror di Balik Cermin dan Panggilan Amalia
"Dia... milikku..."
Bisikan serak itu bergaung di telinga Hafiz, bukan hanya di udara, tetapi seolah
langsung menembus otaknya. Aroma melati yang memabukkan kini bercampur dengan bau
anyir yang samar, membuat perutnya bergejolak. Tubuhnya gemetar hebat, kakinya
terasa lemas, namun ia tak bisa memalingkan pandangan dari cermin. Sosok bayangan
hitam itu, yang kini sepenuhnya membelakangi, masih terpasak di tempatnya, seolah
menunggu reaksi Hafiz. Tangan pucat dengan kuku hitam yang menjijikkan itu masih
mencengkeram erat bahu bayangan, dan sepasang mata merah menyala itu terus mengunci
pandangannya, memancarkan kebencian yang mendalam.
Dalam kepanikan yang mendalam, Hafiz akhirnya menemukan suaranya. Jeritan tertahan
meluncur dari bibirnya, lebih seperti lenguhan kesakitan. Ia mundur selangkah,
menabrak meja di belakangnya, membuat tumpukan buku dan cangkir kopi berdebam jatuh
ke lantai. Suara pecahnya keramik menggema di keheningan mencekam kamar.
Bayangan di cermin tidak bergerak, tidak pula bereaksi terhadap suara gaduh itu.
Hanya mata merah menyala itu yang terus menatapnya, seolah menelanjangi jiwanya.
Nafas Hafiz memburu, paru-parunya terasa sesak. Ia harus lari. Ia harus pergi dari
sana.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan menerjang pintu, berusaha memutar kenop.
Tangannya gemetar begitu hebat hingga ia sulit memegang kenop kuningan itu.
Keringat dingin membasahi dahinya. Ia menarik dan mendorong, namun pintu seolah
terkunci rapat.
"Tidak... tidak mungkin..." gumamnya panik. Pintu kamarnya tidak pernah dikunci
dari dalam.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di lantai, tempat ia terjatuh bersama kursi tadi.
Layarnya menyala, menampilkan nama Amalia yang terus menelepon. Dalam keadaan
normal, Hafiz akan mengangkatnya segera. Tapi tidak sekarang. Ia terlalu takut.
Terlalu lumpuh oleh ketakutan.
Dari sudut matanya, ia melihat gerakan di cermin. Sosok bayangan itu, yang tadinya
membelakangi, kini mulai berputar kembali, sangat perlahan. Mata merah menyala itu
memudar, digantikan oleh kegelapan yang lebih pekat, seolah bayangan itu semakin
padat, semakin nyata. Tangan pucat di bahunya juga menghilang, seperti telah
terserap ke dalam kegelapan bayangan itu sendiri.
Aroma melati semakin kuat, seolah bunga-bunga tak kasat mata itu tumbuh di setiap
sudut kamar, mengeluarkan racun mematikan. Hafiz merasakan kulitnya merinding,
seperti ada jutaan serangga yang merayapi tubuhnya.
Ia mendengar suara detak jam dinding di ruang tamu indekos, berdetak lambat, setiap
detiknya terasa seperti palu yang menghantam telinganya. Kemudian, suara Amalia
terdengar dari ponselnya, yang masih bergetar di lantai. Kali ini, bukan suara dari
telepon, melainkan suara yang sangat jelas, seolah Amalia berada di sampingnya.
"Fiz... kamu kenapa? Suaramu... Suaramu kenapa begitu?"
Suara Amalia terdengar panik, tercampur dengan dengungan statis yang aneh, seperti
sambungan telepon yang buruk. Tapi yang paling mengerikan adalah, suara itu seolah
memohon, penuh ketakutan.
Hafiz menoleh kembali ke cermin. Bayangan itu kini berdiri sepenuhnya menghadapnya.
Tidak ada mata merah lagi, tidak ada tangan pucat. Hanya siluet hitam pekat,
setinggi manusia, yang memancarkan aura dingin yang membekukan. Ia merasakan hawa
dingin menusuk tulang, jauh lebih dingin dari angin malam manapun.
Ia tahu ia harus menjawab Amalia. Ia tahu ia harus mencari pertolongan. Tapi ia tak
bisa bicara. Ia tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap bayangan yang kini mulai
melangkah maju, sangat lambat, namun pasti, menuju ke arahnya.
Dan kemudian, Hafiz melihat sesuatu yang lebih menakutkan dari apa pun yang pernah
ia saksikan.
Di atas kepala bayangan hitam itu, tergantung sehelai rambut. Bukan rambut biasa.
Rambut itu hitam legam, panjang, dan tampak sangat basah. Rambut itu meneteskan
cairan gelap yang menyerupai tinta, menodai lantai di bawahnya. Dan dari setiap
helai rambut yang basah itu, Hafiz melihat titik-titik kecil merah menyala, seolah
ada mata-mata kecil yang tak terhitung jumlahnya bersembunyi di dalamnya,
menatapnya.
Ponsel Amalia di lantai berhenti bergetar. Layarnya padam. Dan suara Amalia, yang
tadi terdengar panik, kini berubah menjadi bisikan lirih, seolah ia berada dalam
kondisi yang sama dengan Hafiz, atau bahkan lebih buruk.
"Fiz... kamu harus lari... dia... dia di sini..." yang Merayap dan Pengorbanan yang
Tak Terduga
"Fiz... kamu harus lari... dia... dia di sini..."
Bisikan Amalia, yang kini terdengar begitu putus asa, seolah bukan lagi berasal
dari ponsel di lantai, melainkan langsung berbisik di telinga Hafiz. Suara itu
begitu dekat, begitu nyata, seolah Amalia entah bagaimana telah berbagi ruang horor
ini dengannya. Ketakutan yang membekukan itu terasa merayap dari ujung kaki hingga
ubun-ubun.
Hafiz melihat bayangan itu melangkah. Bukan seperti orang berjalan, melainkan
meluncur. Gerakannya halus, tanpa suara, namun setiap sentimeter pergerakannya
terasa seperti palu godam yang menghantam jantung Hafiz. Rambut hitam basah di atas
kepalanya meneteskan cairan pekat yang bukan air, bukan pula darah, melainkan
sesuatu yang terasa hidup dan menjijikkan saat menodai lantai kayu. Titik-titik
mata merah menyala yang tak terhitung jumlahnya di antara helaian rambut itu
berkedip-kedip, seolah ribuan makhluk kecil mengintai dari kegelapan.
Ponsel di lantai kembali menyala. Bukan panggilan masuk, melainkan tampilan pesan
WhatsApp yang baru saja masuk dari Amalia. Tertera tulisan, "Fiz, lari! Dia tahu
kamu sendirian. Jangan pernah berbalik! Jangan..."
Pesan itu terpotong di tengah jalan. Seolah Amalia sendiri terinterupsi, atau
sesuatu menahannya untuk melanjutkan.
Rasa dingin yang menusuk tulang itu semakin pekat. Hafiz merasakan napasnya
tertahan. Ia mencoba berteriak lagi, memohon, bahkan sekadar mengeluarkan suara,
namun pita suaranya seolah diikat erat. Tubuhnya kaku, terpaku, matanya tak mampu
berkedip. Ia hanya bisa menatap bayangan yang kini semakin mendekat, hanya berjarak
beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Aroma melati yang mematikan itu kini
terasa seperti gas beracun, mengisi paru-parunya dengan kehampaan yang dingin.
Bayangan itu berhenti tepat di hadapan Hafiz. Lebih tinggi dari tubuh Hafiz
sendiri, siluetnya menguasai seluruh pandangannya. Kegelapan pekatnya seolah
menyerap seluruh cahaya di kamar, membuat ruangan terasa semakin suram. Tidak ada
bentuk wajah, tidak ada ekspresi, hanya kehampaan yang menakutkan.
Kemudian, dengan gerakan yang nyaris tak terlihat, sebuah lengan gelap terulur dari
bayangan itu. Bukan lengan manusia, lebih mirip sulur akar yang panjang dan
berliku, namun dengan sentuhan yang terasa dingin dan tajam seperti bilah pisau.
Sulur itu bergerak perlahan, sangat perlahan, menuju wajah Hafiz.
Hafiz ingin menghindar, ingin berontak, tapi tubuhnya tetap mematung. Ia merasakan
sulur itu menyentuh pipinya, dinginnya seperti es yang membakar. Rasa sakit yang
tajam muncul, seolah kulitnya terkoyak. Namun, rasa sakit fisik itu tak seberapa
dibandingkan teror di benaknya.
Pada saat sulur itu hendak menggores matanya, tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya biru
terang menyambar dari arah ponsel Amalia yang tergeletak di lantai. Kilatan itu
bukan berasal dari layar ponsel, melainkan dari dalam benda itu sendiri, memancar
kuat seperti sambaran petir.
Cahaya biru itu melesat cepat, bukan ke arah bayangan, melainkan langsung menembus
tubuh Hafiz. Hafiz merasakan sengatan listrik yang aneh, dingin sekaligus panas,
yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya terpejam rapat. Ia merasakan tubuhnya
limbung, dan dalam sekejap, ia ambruk ke lantai.
Saat jatuh, ia mendengar suara jeritan. Bukan jeritan Hafiz, dan bukan jeritan
bayangan itu. Itu adalah jeritan Amalia, yang kini terdengar begitu dekat, begitu
mengerikan, seolah ia tengah menghadapi sesuatu yang jauh lebih buruk dari yang
Hafiz alami. Jeritan itu panjang, melengking, dan penuh dengan keputusasaan yang
tak terbayangkan.
Dan kemudian, sunyi.
Ketika Hafiz membuka matanya, ia masih tergeletak di lantai. Kamarnya kembali
seperti semula. Lampu neon dari luar jendela masih temaram, laptopnya masih
menyala, dan kursi yang tadinya terbalik kini sudah tegak kembali. Tidak ada
bayangan, tidak ada aroma melati, tidak ada bau anyir. Bahkan pecahan cangkir kopi
di lantai telah lenyap.
Namun, ponselnya masih tergeletak di tempat yang sama. Layarnya masih menyala. Dan
di sana, tertera pesan terakhir dari Amalia, yang kini berubah menjadi:
"Aku... menjagamu..."
Hafiz meraih ponselnya dengan tangan gemetar. Pesan itu terpampang jelas. Ia
mencoba menelepon Amalia, namun panggilannya tidak terhubung. Ia mencoba mengirim
pesan, tapi pesannya tidak terkirim. Kontak Amalia seolah-olah telah menghilang
dari ponselnya.
Dan yang paling mengerikan, di layarnya, ia melihat pantulan wajahnya sendiri. Di
bawah mata kanannya, ada goresan tipis berwarna kebiruan, seperti bekas cakaran.
Hafiz menyentuhnya, terasa dingin. Bukan luka dari sentuhan sulur tadi, melainkan
sebuah tanda, seperti tato.
Ia tahu, apa pun yang terjadi, itu bukan mimpi. Dan Amalia... entah apa yang telah
ia lakukan, atau apa yang telah terjadi padanya.