0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Perbandingan Pengukuran AWS dan Konvensional

Pengamatan aws

Diunggah oleh

Yyy Bubble
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Perbandingan Pengukuran AWS dan Konvensional

Pengamatan aws

Diunggah oleh

Yyy Bubble
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

II.2.

4 Sensor dalam Automatic Weather Station

Menurut Akhirta (2013), jenis-jenis sensor dalam Automatic Weather Station


(AWS) dibagi menjadi 3 yaitu :

a) Analog Sensor, keluaran sensor berupa tegangan, arus, resistensi/kapasitansi.

b) Digital Sensor, keluaran sensor berupa frekuensi.

c) Inteligent Sensor. Di dalam sensor terdapat mikroprosesor dan keluarannya


berbentuk digital yang keluarnya melalui serial maupun pararel port.

Menurt Akhirta (2013), sensor yang digunakan pada Automatic Weather Station
(AWS) secara, yaitu:

a) Sensor Tekanan. Penyebab penyimpangan nilai tekanan adalah karena adaya


efek suhu dan adanya efek mekanik. Rata-rata penyimpangan tekanan setiap 6
bulan, yaitu 0,2 – 0,3 hpa, dimana perlu dilakukan secara berkala. Selain itu,
perawatan sensor tekanan udara juga sangat diperlukan untuk menjaga
keakuratan sensor saat pengambilan data. Di bawah kondisi operasi normal,
sensor tekanan hanya memerlukan pemeliharaan minimum, yaitu:

- Menjaga kebersihan pressure port

Setiap tahun, bandingkan nilai tekanan dengan standar kalibrasi portable.

b) Sensor suhu.

Tipe sensor suhu yang digunakan dalam Automatic Weather Station (AWS) ,
yaitu:

- Platinum Resistance Thermometer (100 ohm pada 0⁰c)

- Thermistor, linear respon

- Thermistor, exponential respon

9
- Bimetallic Thermometer

c) Sensor Kelembaban. Untuk menjaga kestabilan dan keakuratan sensor, maka


diperlukan adanya perawatan sensor suhu dan kelembaban, dimana kalibrasi
dan pemeliharaan harus dapat ditunjukkan pada interval yang regular,
tergantung pada kondisi dari penggunaan dan keinginan akan akurasi, antara
lain sebagai berikut :

- Untuk sensor suhu, yaitu memeriksa penyimpangan nilai penunjukan setiap


1 tahun dan melakukan pengecekan wiring.

- Untuk sensor kelembapan, yaitu memeriksa penyimpangan nilai


penunjukan setiap 6 bulan dan lakukan pengecekan wiring.

d) Sensor arah dan Kecepatan Angin

1. Sensor arah angin. Tipe sensor yang digunakan dalam Automatic Weather
Station (AWS) biasanya sistem potensiometer atau menggunakan peralatan
dengan format keluaran digital. Sensor arah angin yang menggunakan
keluaran digital melalui serial port, dapat menampilkan (wind peak, wind
average 2/10 menit, wind direction dan kondisi ekstrim). Bentuk sensor
seperti ini termasuk intelligent sensor.

2. Sensor keceparan angin. Tipe sensor yang digunakan adalah sistem digital,
Gray Code. Standar deviasi yang telah ditetapkan CIMO, untuk kecepatan
angin 0,1 m/s dan arah angin 10°

Selain itu, untuk penempatan sensor angin yang baik, seyogyanya tidak
diletakkan di samping bangunan dan objek lain yang mungkin dapat
mempengaruhi arah angin. Lebih lanjut, disarankan untuk melakukan
pemeriksaan cup anemometer dan vane setiap tahun. Jika cup/vane tidak
berotasi dengan lancar atau menciptakan suara yang berisik, harus diganti
dengan yang baru.

10
e) Sensor radiasi matahari. Sinyal keluaran sensor radiasi matahari berbentuk
tegangan (analog), berdasarkan sinar dari matahari dan jenis yang digunakan
adalah silicon photovoltaic cell. Pada belahan bumi utara sensor solar radiasi
harus diinstal disisi selatan dari Automatic Weather Station (AWS) utuk
menghindari struktur stasiun cuaca lain yang menghalangi sensor. Untuk
memudahkan pemeliharaan dipasang pada ketinggian 3 m atau kurang. Selain
itu, untuk perawatan sensor radiasi matahari, dimana pyranometer adalah
instrumen cuaca dan memerlukan sedikit perawatan. Bersihkan detektor secara
rutin dengan menggunakan air atau alkohol.

f) Sensor curah hujan. Sensor hujan yang digunakan dalam Automatic Weather
Station (AWS) adalah tipe Tipping Bucket, dengan sinyal keluaran berbentuk
digital (pulsa). Lubang Gauge harus mendatar dan menghadap ke atas. Secara
umum, tidak boleh tertutup dari benda – benda dengan jarak 2x tinggi
permukaan gauge. Tinggi tanaman harus dijaga supaya berada di bawah level
lubang gauge dengan dipotong secara teratur. Selanjutnya, melalui tipe tipping
bucket ini, curah hujan yang diterima dihitung dengan menjumlahkan berapa
banyak tip yang dapat dihitung, dimana tip demi tip ini akan membangkitkan
pulsa tegangan.

II.2.5 Standarisasi Penempatan Peralatan Automatic Weather Station

Dalam memilih dan menentukan penempatan peralatan Automatic Weather Station


(AWS) bahwa yang harus diperhatikan yaitu:

a) Kedudukan standar peralatan Automatic Weather Station (AWS)


1. Di atas tanah yang tertutup rumput pendek atau pada area lokal
reperesentatif.
2. Sensor-sensor meteorologi harus diletakkan jauh dari pengaruh luar, seperti
bangunan dan pohon (jarak tergantung daripada variabel jenis penghalang).
3. Sensor harus diletakkan pada ketinggian yang sama (dan ditempakan) sesuai
dengan peralatan konvensional.

11
4. Jaga kestabilan terhadaap lokasi (perubahan tumbuh-tumbuhan, bangunan,
dll)

b) Sensor temperatur dan kelembaban


1. Diletakkan di bagian dalam dan teduh atau terlindung pada ketinggian 1.25
sampai 2.0 m (tidak berventilasi atau berventilasi).
2. Jenis, bentuk dan warna perisai yang berbeda memberi hasil pengukuran
berbeda.
3. Unutk perbandingan dan kompaibel data dapat dilakukan penginstalan.

c) Pengukuran curah hujan


1. Berada pada lokasi terbuka yang kebanyakan intrumentasinya dipasangkan
agak jauh dari rain gauge.
2. Pada ketinggian 1 m di atas permukaan tanah akan memberikan hasil ynag
berbeda dari pengukuran pada ketinggian 3 m atau 30 cm di atas tanah atau
di dalam suatu lubang (galian) kecil.

d) Pengukuran angin
1. Ketinggian standar baku adaah 10 m di atas tanah lapang terbuka (jarak dari
penghalang sekitar 10 klai dari tinggi penghalang).
2. Kecepatan angin terukur pada ketinggian rendah adalah ±10 m di atas
permukaan tanah, serta diperlukan untuk pengamatan lainnya.

II.3 Prinsip Dasar Pengukuran Parameter Cuaca


Toruan (2009) menyatakan bahwa pengukuran adalah untuk menentukan nilai
besaran ukur, dan yang dimaksud dengan proses pengukuran adalah suatu proses
yang meliputi spesifikasi besaran ukur, metode pengukuran dan prosedur
pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat
diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti
tingkat ketidakpastian. Secara umum, hasil pengukuran hanya merupakan taksiran
atau pendekatan nilai besaran ukur, oleh karena itu hasil tersebut hanya lengkap bila
disertai dengan pernyataan ketidakpastian dari pernyataan tersebut. Ketidakpastian
adalah ukuran sebaran yang secara layak dapat dikaitkan dengan nilai terukur, yang

12
memberikan rentang, terpusat pada nilai terukur, dimana di dalam rentang tersebut
terletak nilai benar dengan kemungkinan tertentu. Ketidakpastian hasil pengukuran
mencerminkan kurangnya pengetahuan yang pasti tentang nilai besaran ukur. Hal
yang paling utama Automatic Weather Station (AWS) adalah mengamati unsur
cuaca melalui proses pengukuran besaran fisis yang dilakukan dengan bantuan
sensor.

II.4 Pengukuran Suhu


Menurut Toruan (2009), suhu suatu sistem adalah sifat yang menentukan apakah
sistem itu setimbang termal dengan sitem lainnya atau tidak. Apabila dua sitem atau
lebih berada dalam kesetimbangan termal, maka sistem-sitem itu dikatakan
mempunyai suhu yang sama. Dalam pengertian sehari-hari, suhu juga disebut
ukuran panas atau dinginnya suatu sistem. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu
benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan
energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-
masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat
berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi
suhu benda tersebut.

II.5 Pengukuran Kelembaban Udara


Menurut Toruan (2009), udara di atmosfer merupakan campuran berbagai gas, yaitu
80% nitrogen, 18% oksigen, dan selebihnya karbon dioksida, uap air, beberapa gas
lainnya dalam jumlah kecil. Kelembaban udara menggambarkan tingkat
ketersediaan uap air di udara dan untuk massa uap air persatuan volume dinamakan
kelembaban mutlak. Perbandingan tekanan uap air yang tersedia terhadap tekanan
uap air jenuh pada suhu yang sama dinamakan kelembaban relatif (Relative
Humidity/RH) dan dinyatakan dalam persen (%).

𝑒 (2.1)
𝑅𝐻 = × 100%
𝑒𝑤

Dimana, RH adalah kelembaban relative, e adalah tekanan uap air saat pengukuran
dan ew adalah tekanan uap air jenuh. Lebih lanjut, metode yang lebih sederhana

13
untuk menentukan kelembaban relatif adalah dengan memakai termometer bola
basah dan bola kering yang diletakkan berdampingan dan dinamakan sebagai
Physichrometer. Pengukuran kelembaban udara secara digital menggunakan sensor
kapasitif dimana tingkat ketersediaan uap air diantara lempeng kapasitor yang
mewakili udara sekitarnya akan mempengaruhi nilai kapasitansi kapasitor.

II.6 Pengukuran Arah dan Kecepatan Angin


Menurut Toruan (2009), arah angin di tentukan bedasarkan derajat arah (0 s/d 360
derajat). Arah angin didefenisikan dari mana angin datang, yaitu pada 0° atau 360°
menyatakan arah angin dari arah Utara, 90° dari arah Timur, 180° dari arah Selatan,
dan 270° angin dari arah Barat, dan skala arah ditentukan dengan resolusi 1º. Alat
ukur arah angin menggunakan wind vane yang dihubungankan dengan resistor
variabel yang dapat berputar 360º dimana perubahan nilai resistor sebanding
dengan perubahan tegangan yang dapat dinyatakan sebagai perubahan arah angin
pada wind vane. Selanjutnya, kecepatan angin dapat diukur dengan menggunakan
cup anemometer, dimana kecepatan putaran cup anemometer menghasilkan pulsa
dengan frekuensi sebanding dengan kecepatan angin yang diukur. Satuan kecepatan
angin dalam pengukuran meteorologi menggunakan knot (1 knot = 0,514 m/s).

II.7 Pengukuran Hembusan Angin


Menurut el-Banjary (2017), angin bertiup karena adanya perbedaan tekanan udara
atau perbedaan suhu udara pada suatu daerah atau wilayah. Hal ini berkaitan dengan
besarnya energi panas matahari yang diterima oleh permukaan bumi. Pada suatu
wilayah, daerah yang menerima energi panas matahari lebih besar akan mempunyai
suhu udara yang lebih panas dan tekanan udara cenderung lebih rendah, sehingga
akan terjadi perbedaan suhu dan tekanan udara antara daerah yang menerima energi
panas lebih besar dengan daerah lain yang lebih sedikit menerima energi panas.
Akibatnya akan terjadi aliran udara pada wilayah tersebut. Aliran naiknya udara
panas dan turunnya udara dingin dinamakan konveksi. Menurut Angela, dkk.
(2018), hembusan angin menunjukkan dari mana datangnya bukan ke mana angin
itu bergerak. Kecepatan dan arah angin dapat diketahui dengan mengukurnya.
Anemometer merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukuran kecepatan

14
dan arah angin yang juga digunakan pada stasiun-stasiun pemantau cuaca.

Gambar II. 7 Tingkat kecepatan angin 10 meter di atas permukaan tanah


(Habibie, dkk., 2011)

Gambar II. 8 Skala Beaufort (Stewart,2008 dadalam Aji, dkk., 2015)

15
Menurut Hasse dan Dobson (1986) dalam (Okstrifiani, 2013), perbedaan tekanan
udara dapat menyebabkan terjadinya angin, semakin besar perbedaan tekanan
udara, maka semakin besar pula kecepatan angin berhembus. Pariwono (1989)
dalam (Okstrifiani, 2013) menyatakan bahwa kuat atau lemahnya hembusan angin
ditentukan oleh besarnya kelandaian tekanan udara, atau dengan kata lain kecepatan
angin sebanding dengan kelandaian tekanan udaranya. Di samping kelandaian
tekanan, gerakan angin ditentukan oleh faktor-faktor lainnya seperti pengaruh rotasi
bumi dan gaya gesek (frictional process).

II.8 Pengukuran Curah Hujan


Menurut Toruan (2009), curah hujan diukur dengan menggunakan tipping bucket
suatu penakar hujan yang memiliki luas corong tertentu (200 cm 2 = 20000 mm2
atau 400 cm2 = 40000 mm2) dan di dalamnya dilengkapi dengan penampung yang
akan terjungkit bila volumenya sudah penuh, yaitu 4000 mm 3 dan untuk luas corong
yaitu 20000 mm2, serta 20000 mm3 untuk luas corong 40000 mm2, yang setara
dengan curah hujan 0,2 mm atau 0,5 mm (tergantung tipe alat), dimana satu kali
jungkit akan menghasilkan satu pulsa. Hal tersebut sesuai dengan satuan curah
hujan adalah millimeter, yaitu apabila mengukur ke dalam curah hujan yang jatuh
pada tabung berbentuk silinder dengan luas permukaan 20000 mm 2 dengan volume
4000 mm3.
𝑉 = 𝐴×𝑡 (2.2)

Dimana, V adalah Volume tipping bucket, A adalah luas penampang corong dan t
adalah tinggi curah hujan. 1 mm curah hujan didefenisikan bila terjadi hujan di
suatu tempat akan terjadi genangan setinggi 1 mm dengan catatan air hujan tersebut
tidak mengalir kemana-mana.

II.9 Pengukuran Intensitas Matahari


Menurut Toruan (2009), intensitas matahari atau irradiance didefinisikan sebagai
fluks yang masuk ke dalam satu satuan luas yang diberi simbol E, yaitu:

𝐸 = 𝑑∅/𝑑𝐴 (2.3)

16
Dimana, E menyatakan intensitas radiasi dalam Watt/m 2, dalam bentuk energi
Joule/m2. Lebih lanjut, Pengamatan radiasi matahari menggunakan sensor
Pyranometer yang dilengkapi dengan photovoltaic cell bila terkena radiasi akan
menghasilkan pulsa yang setara dengan intensitas atau energi matahari saat itu.

II.10 Pengukuran Tekanan Udara


Menurut Toruan (2009), tekanan didefinisikan sebagai gaya persatuan luas, yaitu
𝑃 = 𝐹/𝐴 (2.4)

P adalah tekanan, F adalah gaya dan A adalah luasan daerah yang ditekan. Tekanan
udara didefinisikan sebagai berat sekolom udara hinggan ketinggian atmosfer yang
menekan suatu luasan permukaan, dimana gaya berat 𝐹 = 𝑚𝑔, sehingga persamaan
2.3 dapat ditulis menjadi :
𝑚∙𝑔 (2.5)
𝑃=
𝐴
P adalah tekanan udara, m adalah massa kolom udara dan g adalah percepatan
gravitasi, serta A adalah luas permukaan yang mendapat gaya. Selanjutnya, dengan
mengingat bahwa atmosfer juga merupakan fluida, maka tekanan hidrostatik juga
berlaku pada atmosfer, sehingga persamaan 2.4 bisa ditulis menjadi :
𝑃 = 𝜌𝑔ℎ (2.6)

P adalah tekanan udara, ρ adalah rapat massa udara dan h adalah tinggi kolom udara
diukur dari batas luar atmosfer. Dengan demikian besarnya tekanan atmosfir sangat
bergantung pada ketinggian, dimana semakin tinggi suatu tempat, maka tekanan
udara semakin kecil, serta pada rapat massa udara (ρ), bahwa semakin besar ρ suatu
udara untuk ketinggian yang sama, maka tekanan udara juga semakin besar. Alat
ukur tekanan atmosfer adalah Barometer, satuan yang biasa digunakan dalam dunia
meteorologi adalah millibar (mb), dimana 1 mb = 1 hPa.

II.11 Awan
Andika (2008) menyatakan di atmosfer terdapat butiran-butiran air kecil (water
doplets) hasil kondensasi atau kristal yang membeku yang mengambang di
atmosfer, biasanya berdiameter 0.01 mm. sehingga jika ada milyaran yang

17
berkumpul dengan kepadatan tertentu, butiran-butiran air atau kristal ini akan
menjadi kasar mata. Hal seperti ini disebut awan. Awan merupakan nada dari
kondisi stabil di atmosfer. Sehingga, langit yang bebas awan diasosiasikan dengan
kondisi antisiklonik atau pengaruh dari udara kontinental yang kering, sementara
itu keadaan mendung pada wilayah yang luas menunjukkan ketidakstabilan.

Gambar II. 9 Klasifikasi Awan

II.11.1 Awan Cirrus


Awan tipe Cirrus tidak termasuk awan yang menurunkan hujan (air atau salju).
Awna ini terletak pada altitude di atas 7 km dan berbentuk seperti rambut atau
filamen tipis. Tipe ini memantulkan kembali radiasi inframerah (panas) dari
permukaan bumi (greenhouse effect). Tapi juga memantulkan sinar matahari
kembali ke luar bumi. Jika terdapat banyak awan cirrus di atmosfer, biasanya akan
terjadi perubahan cuaca dalam waktu 24 jam. Awan ini juga biasa muncul setelah
badai terjadi (Andika, 2008).

Gambar II. 10 Awan Cirrus

18
II.11.2 Awan Cirrostratus
Awan tipe cirrostratus berada pada altitude di atas 6 km. awan ini terlibat seperti
tabir tipis yang menyelimuti seluruh langit sehingga dapat terjadi halo phenomena.
Awan ini menandakan akan turun hujan pada 12-24 jam berikutnya (Andika, 2008).

Gambar II.6 Awan Cirrostratus

II.11.3 Awan Cirrocumulus


Awan cirrocumulus berada pada ketinggian di atas 6 km. awna ini pembawa water
doplets (potensi hujan), namun tetap tampak berwarna putih tidak seperti
cumulonimbus atau nimbostratus berwarna abu-abu. Awan ini bisa bertrasformasi
menjadi altocumulus atau cirrostratus (Andika, 2008).

Gambar II. 7 Awan Cirrocumulus

19
II.11.4 Awan Altostratus
Altostratus berada pada ketinggian 2-5 km serta berwarna abu-abu, lebih terang dari
nimbostratus dan lebih gelap dari cirrostratus. Terkadang, terlihat sinar matahari
menembus awan ini. Awan altostratus berpotensi membahayakan penerbangan
karena dapat terjadi ice accretion yaitu terbentuknya lapisan es pada dinding luar
pesawat (Andika, 2008).

Gambar II. 8 Awan Altostratus

II.11.5 Awan Altocumulus


Awan altocumulus berada pada ketinggian 2.4 – 6.1 km. awan ini mempunyai
karakteristik berbentuk globular-globular pada lapisannya, setiap globularnya lebih
luas dan gelap dari pada cirrocumulus dan lebih kecil daripada stratocumulus.
Altocumulus sering kali didahului oleh udara dingi dan jika kedatangannya
membuat udara menjadi hangat, lembab dan ketika pagi hari pada musim panas
artinya pertanda akan terbentuknya badai disertai petir (Andika, 2008).

Gambar II. 9 Awan Altocumulus

20
II.11.6 Awan Stratocumulus
Karakteristik dari awan stratocumulus adalah mempunyai area yang luas dan gelap,
tiap elemen lebih luas daripada altocumulus dan terdiri dari gumpalan-gumpalan
awan yang biasanya berada dalam grup, garis, atau gelombang. Secara umum,
stratocumulus hanya membawa hujan gerimis namun seringkali merupakan awal
dari cuaca yang lebih buruk. Awna ini berada pada ketinggian di bawah 2.4 km
(Andika, 2008).

Gambar II. 10 Awan Stratocumulus

II.11.7 Awan Stratus


Awan Stratus mempunyai karakteristik berupa lapisan tipis berwarna abu-abu gelap
mendekati putih, membawa gerimis kecil, berada pada altitude di bawah 2 km.
cuaca yang berawan biasnaya berarti seluruh langit ditutupi oleh awan strataus
(Andika, 2008).

Gambar II. 11 Awan Stratus

21
II.11.8 Awan Nimbostratus
Awan nimbostratus berada pada ketinggin di bawah 2.4 km, berwarna abu-abu
gelap. Awan pembawa hujan ini mempunyai hamparan yang luas dan mempunyai
ketebalan 2-3 km sehingga menghalau sejumlah besar sinar matahari untuk jatuh
kepermukaan bumi (Andika, 2008).

Gambar II. 12 Awan Nimbostratus

II.11.9 Awan Cumulonimbus


Karakteristik awan cumulonimbus (hujan besar disertai badai dan petir) adalah
mempunyai ketebalan dan densitas yang besar.

Gambar II. 13 Awan Cumulonimbus

Awan dapat menyebabkan efek pembauran dari raddiasi matahari yang jatuh ke
permukaan bumi. Sehingga intensitas radiasi matahari akan menurun dengan
meningkatnya ketebalan/kepadatan awan. Tutupan awan ini juga menyebabkan
adanya sebagian radiasi matahari yang dipantullkan. Proporsi pemantulan radiasi
ini disebut albedo, atua koefisien refleksi. Tabel II.1 menunjukkan tingkat albedo
beberapa jenis permukaan yang berbeda.

22
Tabel 2. 2 Albedo beberapa macam permukaan (Barry dan Chorley, 1998 dalam
Andika 2008)

Planet earth 0.31

Global surface 0.14 – 0.16

Global cloud 0.23

Cumulonimbus 0.9

Stratocumulus 0.6

Cirrus 0.4 – 0.5

Fresh snow 0.8 – 0.9

Melting snow 0.4 – 0.6

Sand 0.30 – 0.35

Grass, vereal crops 0.18 – 0.25

Deciduous forest 0.15 – 0.18

Coniferous forest 0.09 – 0.15

Tropical rainforest 0.07 – 0.15

Water bodies 0.06 – 0.10

23

Anda mungkin juga menyukai