MAKALAH HUKUM JAMINAN
“JAMINAN KEBENDAAN SEBAGAI UPAYA PERLINDUNGAN
HUKUM
PEMILIK PIUTANG DALAM LEMBAGA PERBANKAN”
Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara
Nama : Fiky Prameidya
Nim : 1911121069
Kelas : 8B
A. Latar Belakang
Kesejahteraan rakyat merupakan tujuan nasional dari negara Indonesia, maka dari itu kegiatan di
bidang ekonomi merupakan prioritas utama dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dan
kesejahteraan rakyat. Berbagai kebijakan dibuat untuk memudahkan para pelaku ekonomi
demimeningkatkan dan mengembangkan usahanya. Pengembangan dunia usaha tentu saja
sangat membutuhkan fasilitas modal dalam jumlah yang besar ,untuk itu dibutuhkan
lembaga terkait yang memberikan dukungan dana bagi kegiatan suatu [Link] bagi
suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanyadapat diperoleh dari berbagai
sumber , dapat berupa modal dan utang. Dana berupa modal diperoleh dari para pendirinya
berupa setoran modal pendiri dan diperoleh dari pemodal (investor). Dana berupa utang
dapat diperoleh dari sumber sumber seperti bankbank , lembaga -lembaga pembiayaan ,
pasar uang , pasar modal.
Sumber -sumber yang memberikan utang kepada perusahaan atau perorangan
tersebut disebut Kreditor,dengan kata lain perusahaan ataupun perorangan tersebut
adalah Debitor dari para Kreditor tersebut, salah satu sumber yang dapat memberikan dana
atau modal bagi para pelaku usaha adalah lembaga perbankan. Pemberian kredit Pemberian
kredit merupakan salah satu fungsi bank dalam meningkatkanperedaran dan lalu lintas
[Link] dalam memberikan kredit kepada masyarakatberdasarkan atas asas kepercayaan.
Kepercayaan tersebut timbul karena dipenuhinya segala ketentuan dan persyaratan untuk
memperoleh kredit bank oleh debitur, antara lain jelasnya peruntukan kredit, dan lain-lain
(Hermansyah, 2005 :56). Selain berdasarkan atas asas kepercayaan, bank juga menuntut kepada
debitur untuk memberikan jaminan untuk mencegah terjadinya risiko di kemudian
[Link] (warranties) merupakan penegasan dari debitur dalam melaksanakan kewajiban
untuk melakukan (tindakan positif) atau tidak melakukan (Tindakan negatif) yang sudah
ditentukan dalam perjanjian (Sutarno, 2003
: 122). Meskipun jaminan telah ditetapkan, namun risiko dalam perjanjian kreditbukanlah suatu
1
yang mustahil terjadi.
Salah satu jaminan yang digunakan dalam proses kredit perbankan adalah jaminan kebendaan,
yang mana harta kekayaan debitur dalam perjanjian kredit perbankan merupakan upaya preventif
1
dari bank agar kredit yang dicairkan akan dikembalikan oleh pihak debitur. Agar benda dapat
dijaminkan dalam perjanjian kredit syarat haruslah memenuhisyarat-syarat tertentu yaitu
memiliki nilai ekonomis dan harus dapat dipindah tangankan,Pada Pasal 499KUHPer
diberikan pengertian tentang benda “ yang dinamakan kebendaanialah tiap-tiap barang dan tiap-
tiap hak yang dapat dikuasai oleh hak milik”.
Benda dalamranah hukum perdata dapat memiliki makna baik sebagai barang maupun hak,
dalam
konteks tersebut barang merupakan sesuatu yang berwujud sedangkan hak adalah mengenai
benda yang tidak berwujud. 2
Dalam perjanjian kredit di perbankan banyak dijumpai debitur tidak mampu membayar
utangnya atau dapat dikatakanpembayarannya kurang lancar. Apabila terjadi kredit macet
oleh debitur dalam perjanjian kredit, maka kekayaan debiturlah yang pertama kali menjadi
jaminan utangnya, jika memang kekayaan debitur tidak mencukupi maka pihak ketiga
sebagai penanggung memiliki tanggung jawab dalam melunasi utang debitur.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Bagaimana pengaturan jaminan kebendaan pada hukum positif Indonesia?
2. Bagaimana perlindungan hukum bagi kreditur dalam proses pemberian kredit?
3. Bagaimana solusi apabila mengacu pada dasar hukum jika terjadinya wanprestasi atau
debitur tidak memenuhi prestasinya?
C. Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
2
1. Untuk memaparkan pengaturan jaminan kebendaan menurut peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
2. Untuk menjelaskan perlindungan hukum bagi kreditur dalam proses pemberian kredit.
3. Untuk memberikan solusi jika terjadinya wanprestasi oleh debitur sesuai peraturan
perundangundangan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengertian Jaminan Kebendaan
Jaminan Kebendaan Jaminan kebendaan dapat diberi arti, adalah jaminan yang objeknya berupa
barang baik barang bergerak maupun tidak bergerak yang khusus diperuntukkan untuk menjamin
utang debitur kepada kreditur apabila dikemudian hari utang tersebut tidak dapat dibayar oleh
debitur. Barangbarang yang dijaminkan itu milik debitur dan selama menjadi jaminan utang tidak
dapat dialihkan atau dipindah tangankan baik debitur maupun kreditur. Apabila debitur
wanprestasi atas utangnya, objek jaminan tidak dapat dimiliki oleh kreditur, karena lembaga
jaminan bukan bertujuan untuk memindahkan hak milik atas suatu barang. Menurut Soedewi
didalam buku Gatot Supramono “Perjanjian Utang Piutang” bahwa Jaminan kebendaan adalah
jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu benda yang mempunyai hubungan langsung atas
benda tertentu, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat
dialihkan.
Dari uraian tersebut dapat dikemukakan unsur-unsur yang tercantum pada jaminan materiil, yaitu
:
1) Hak mutlak suatu benda;
2) Cirinya mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu;
3) Dapat dipertahankan;
4) Selalu mengikuti bendanya; dan
5) Dapat dialihkan kepada pihak lain.
Tujuan dari jaminan yang bersifat kebendaan bermaksud memberikan hak verbaal (hak untuk
meminta pemenuhan piutangnya) kepada sikreditor, terhadap hasil penjualan benda-benda
tertentu dari debitor untuk pemenuhan piutangnya. Selain itu hak kebendaan dapat dipertahankan
(dimintakan pemenuhan) terhadap siapapun juga, yaitu terhadap mereka yang memperoleh hak
baik berdasarkan atas hak yang umum maupun khusus, juga terhadap para kreditor dan pihak
lawannya.
Jaminan kebendaan dapat dilakukan pembebanan dengan :
1) Gadai (pand), yang diatur didalam Bab 20 Buku II KUH Perdata;
2) Hipotek, yang diatur dalam Bab 21 Buku II KUH Perdata;
3) Credietverband, yang diatur dalam Stb. 1908 No. 542 sebagaimana telah diubah dengan Stb.
1937
No. 190;
4) Hak Tanggungan, sebagaimana diatur didalam UU No. 4 Tahun 1996;
5) Jaminan Fidusia, sebagaimana diatur dalam UU No. 42 Tahun 1999. Dari beberapa bentuk
jaminan diatas jaminan kebendaan yang masih berlaku adalah Gadai, Jaminan Fidusia, dan
Hak tanggungan
Dasar Hukum Benda
Benda yang dalam hukum perdata diatur dalam Buku II BW, pengaturan tentang hukum
benda dalam Buku II BWI ini mempergunakan system tertutup, artinya orang tidak
diperbolehkan mengadakan hak hak kebendaan selain dari yang telah diatur dalam undang
undang ini. Selain itu, hukum benda bersifat memaksa (dwingend recht), artinya harus
dipatuhi,tidak boleh disimpangi, termasuk membuat peraturan baru yang menyimpang dari yang
telah ditetapkan . Lebih lanjut dalam hukum perdata, yang namanya benda itu bukanlah segala
sesuatu yang berwujud atau dapat diraba oleh pancaindera saja, melainkan termasuk juga
pengertian benda yang tidak berwujud, seperti misalnya kekayaan seseorang. Istilah benda yang
dipakai untuk pengertian kekayaan, termasuk didalamnya tagihan / piutang, atau hak hak lainnya,
misalnya bunga atas deposito Meskipun pengertian zaak dalam BWI tidak hanya meliputi benda
berwujud saja, namun sebagian besar dari materi Buku II tentang Benda mengatur tentang benda
yang berwujud. Selain itu, istilah zaak didalam BWI tidak selalu berarti benda, tetapi bisa berarti
yang lain, seperti : “perbuatan hukum “ (Ps.1792 BW), atau “kepentingan” (Ps.1354 BW), dan
juga berarti “kenyataan hukum” (Ps.1263 BW).
Pada masa kini, selain diatur di Buku II BWI, hukum benda juga diatur dalam:
1. Undang-Undang Pokok Agraria No.5 Tahun 1960, dimana diatur hak-hak kebendaan
yang berkaitan dengan bumi, air dan kekayaan yang terkandung didalamnya.
2. Undang-Undang Merek No.21 Tahun 1961, yang mengatur tentang hak atas penggunaan
merek perusahaan dan merek perniagaan .
3. Undang-Undang Hak Cipta No.6 Tahun 1982, yang mengatur tentang hak cipta sebagai
benda tak berwujud, yang dapat dijadikan obyek hak milik .
4. Undang-Undang tentang Hak Tanggungan tahun 1996, yang mengatur tentang hak atas
tanah dan bangunan diatasnya sebagai pengganti hipotik dan crediet verband .
Macam-macam Benda
Doktrin membedakan berbagai macam benda menjadi :
1. Benda berwujud dan benda tidak berwujud.
• Jika benda berwujud itu benda bergerak, pemindah tanganannya harus secara nyata dari
tangan ke tangan.
• Jika benda berwujud itu benda tidak bergerak, pemindah tanganannya harus dilakukan
dengan balik nama.
Penyerahan benda tidak berwujud dalam bentuk berbagai piutang dilakukan dengan :
• Piutang atas nama (op naam) dengan cara Cessie
• Piutang atas tunjuk (an toonder) dengan cara penyerahan surat dokumen yang
bersangkutan dari tangan ke tangan
• Piutang atas pengganti (aan order) dengan cara endosemen serta penyerahan dokumen
yang bersangkutan dari tangan ke tangan ( Ps. 163 BWI).
2. Benda Bergerak dan Benda Tidak Bergerak
3. Benda bergerak adalah benda yang menurut sifatnya dapat dipindahkan (Ps.509 BWI). Benda
bergerak karena ketentuan undang undang adalah hak hak yang melekat pada benda bergerak
(Ps.511 BWI), misalnya hak memungut hasil atas benda bergerak, hak memakai atas benda
bergerak, saham saham perusahaan. Benda tidak bergerak adalah benda yang menurut sifatnya
tidak dapat dipindah-pindahkan, seperti tanah dan segala bangunan yang berdiri melekat
diatasnya. Benda tidak bergerak karena tujuannya adalah benda yang dilekatkan pada benda
tidak
Arti penting pembedaan ini adalah pada saat pemindah tanganan benda dimaksud, yaitu :
bergerak sebagai benda pokoknya, untuk tujuan tertentu, seperti mesin mesin yang dipasang pada
pabrik. Tujuannya adalah untuk dipakai secara tetap dan tidak untuk dipindah-pindah (Ps.507
BWI).
1. Benda sudah ada dan benda akan ada
Arti penting pembedaan ini terletak pada pembebanan sebagai jaminan hutang, atau pada
pelaksanaan perjanjian. Benda sudah ada dapat dijadikan jaminan hutang dan pelaksanaan
perjanjiannya dengan cara menyerahkan benda tersebut. Benda akan ada tidak dapat dijadikan
jaminan hutang, bahkan perjanjian yang obyeknya benda akan ada bisa terancam batal bila
pemenuhannya itu tidak mungkin dapat dilaksanakan (Ps.1320 btr 3 BWI) .
2. Benda dalam perdagangan dan benda luar perdagangan.
Arti penting dari pembedaan ini terletak pada pemindah tanganan benda tersebut karena jual beli
atau karena warisan. Benda dalam perdagangan dapat diperjual belikan dengan bebas, atau
diwariskan kepada ahli waris,sedangkan benda luar perdagangan tidak dapat diperjual belikan
atau diwariskan, umpamanya tanah wakaf, narkotika, benda benda yang melanggar ketertiban
dan kesusilaan.
3. Benda dapat dibagi dan benda tidak dapat dibagi.
Letak pembedaannya menjadi penting dalam hal pemenuhan prestasi suatu perjanjian, di mana
terhadap benda yang dapat dibagi, prestasi pemenuhan perjanjian dapat dilakukan tidak sekaligus
dapat bertahap. Lain halnya dengan benda yang tidak dapat dibagi, maka pemenuhan prestasi
tidak dapat dilakukan sebagian demi sebagian, melainkan harus secara seutuhnya.
1. Benda terdaftar dan benda tidak terdaftar.
Arti penting pembebannya terletak pada pembuktian kepemilikannya. Benda terdaftar dibuktikan
dengan bukti pendaftarannya.
PEMBAHASAN
1. Pengaturan Jaminan Kebendaan
Jaminan kebendaan benda bergerak diikat dengan hak gadai sebagaimana diatur dalam Kitab
Undang- undang Hukum Perdata pada Buku Kedua Bab XX pasal 1150 sampai dengan pasal
1161. Adapun obyek hak gadai adalah benda atau barang bergerak baik bertubuh/ berwujud /
berbentuk (lichamelijke zaken ) maupun tidak bertubuh/ berwujud/ berbentuk (onlichamelijke
zaken). Setelah berlakunya Undang- undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-
Pokok Agraria, hak - hak adat yang bersifat bertentangan dengan ketentuan- ketentuan
undangundang tersebut tetapi berhubung dengan keadaan masyarakat sekarang ini belum dapat
dihapuskan diberi sifat sementara dan akan diatur . Contohnya adalah hak gadai yang disebut
dalam pasal 53 jo pasal 52 ayat(2) daan ayat (3) Undang- undang Pokok Agraria yang
menentukan , bahwa hak gadai sebagai hak yang bersifat sementara diatur untuk membatasi
sifat- sifatnya yang bertentangan
dengan Undang - undang Pokok Agraria dan hak gadai itu diusahakan hapusnya didalam
waktu yang singkat , karena didaalam hak gadai ada unsur- unsurnya yang bersifat pemerasan.
Jaminan kebendaan hak hipotik pengaturannya terdapat dalam Kitab Undang- undang Hukum
Perdata Buku Kedua ,yaitu pasal 1162 sampai dengan pasal 1170, pasal 1173 sampai dengan
pasal 1185, pasal 1189 sampai dengan pasal 1194 dan pasaal 1198 sampai dengan pasal 1232.
Pasal pasal lainnya yang mengatur hipotik sejak semula belum pernah berlaku,Dalam hukum
jaminan kebendaan apabila benda obyek jaminan beralih kepada kreditor ( menjadi milik kreditor
) maka perjanjian jaminan tersebut batal demi hukum ( pasal 1154 KUH Perdata bagi gadai,
pasal 1178 ayat (1) KUH Perdata bagi hipotik , pasal 12 UU No. 4 tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan,pasal 33 UU No. 42 tahun 1999 tentang Fidusia ) , sehingga dengan demikian jelas
bahwa dalam hukum jaminan kebendaan tidak diperkenankan pengalihan hak atas benda obyek
jaminan kepada kreditor.
2. Perlindungan Hukum Bagi Kreditur dalam Proses Pemberian Kredit
Perlindungan hukum terhadap kreditur ini diatur secara umum, yaitu:diatur dalam
KUH Perdata Pasal 1131 dan 1132 dan Undang-Undang No.42 Tahun 1999 tentang
Jaminan Fidusia. Pasal 1131 KUH Perdata menyebutkansegala kebendaan, baik
yangsudah ada maupun yang baru akanadadikemudian hari, menjadi tanggungan untuk
segala perikatan [Link] diatas dapat diartikan, sejak seseorang mengikatkan
diri pada suatu perjanjian maka sejak itu semua harta kekayaan baik yangsudah ada
maupun yang baru akanada di kemudian hari menjadi tanggungan untuk segala
perikatannya.
Pasal 1132 KUH Perdata menyebutkan “kebendaan tersebut menjadi jaminan
bersamasama bagi semua orang yang mengutangkan kepadanya, pendapatan
penjualan bendabenda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar
kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila diantara para berpiutang itu ada alasan-
alasan yang sah didahulukan.” Pasal ini menjelaskan bahwa harta kekayaan debitur
menjadi jaminan bagi para krediturnya. Hasil penjualan dibagi menurut imbangan
masing-masing kecuali ada hak untuk didahulukan.
Undang-undang No.42 Tahun 1999 dalam hal ini menjelaskan perlindungan
hukum bagi para pihak yang berkepentingan dalam perjanjian kredit dengan jaminan
fidusia, dengan kata lain Undang-undang yang secara khusus mengatur tentang
jaminan fidusia, Pasal 11, 14, dan 15 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 yang
pada intinya menyebutkan bahwa benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib
didaftarkan kemudian dibuat sertifikat jaminan fidusia yang mencantumkan irah-irah
“DEMI KEADILAN DAN KETUHANAN YANG
MAHA ESA”, sehingga sertifikat jaminan fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial
yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap.26Kreditur mempunyai hak untuk melaksanakan title eksekutorial sebagaimana
tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia, apabila debitur wanprestasi.26Munir Fuady,
Hukum Perkreditan......,Op Cit, hal.59.
Kreditur juga mempunyai hak untuk menjual benda yang menjadi objek jaminan
fidusia melalui pelelangan umum serta pelunasan piutang dari hasil penjualan
atau penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama antara
kreditur dan [Link]-undang Nomor 42 Tahun 1999 ini juga mengatur
mengenai ketentuan pidana bagi pemberi fidusia atau debitur yang mengalihkan,
mengendalikan, atau menyewakan benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang
dilakukan tanpa persetjuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia atau kreditur.
Maka dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling
banyak Rp.50.000.000,00.3
3. Solusi Apabila Terjadinya Wanprestasi dalam Proses pemberian Kredit.
Wanprestasi mengandung arti tidak dipenuhinya suatu prestasi yang diwajibkan bagi debitur
sebagaimana telah disepakati dalam perjanjian yang dibuat dengan pihak kreditur. Tidak
dipenuhinya kewajibannya tersebut dapat terjadi karena datang dalam debitur sendiri dan dapat
juga karena datangnya dari luar debitur”. Tidak dipenuhinya kewajiban itu ada dua kemungkinan
alasan, yaitu Kelalaian/kesalahan debitur baik karena kesengajaan maupun karena kelalaian :
3
Karena keadaan memaksa (force majeure) jadi di luar kemampuan debitur. membagi Debitur tidak
bersalah.
Menurut ketentuan pasal 1234 KUH Perdata, tiap-tiap perikatan adalah untuk memberikan
sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau untuk tidak berbuat sesuatu, maka dari itu wujud prestasi itu
berupa : Memberikan sesuatu Dalam pasal 1235 KUH Perdata dinyatakan : dalam tiap-tiap
perikatan untuk memberikan sesuatu adalah kewajiban si berutang untuk menyerahkan
kebendaan yang bersangkutan dan untuk merawatnya sebagai seorang bapak rumah yang baik,
sampai pada saat penyerahannya ; Berbuat sesuatu ; Tidak berbuat sesuatu . Syarat wanprestasi
diketahui melalui 3 keadaan berikut : Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali, Debitur
memenuhi prestasi, tetapi tidak baik atau keliru dan Debitur memenuhi prestasi, tetapi tidak tepat
waktunya.
ada beberapa penyebab debitur menegalami wanprestasi yaitu debitur tidak menjalankan
kewajiban ; debitur terlambat melakukan pembayaran ; debitur tidak membayar sama sekali
Terjdinya wanprestsi karena tidak dipenuhinya perjanjian, dimana debitur tidak sungguh-
sungguh memenuhi kewajibannya, tindakan tersebut karena debitur sama sekali tidak berprestasi
atau salah berprestasi dan terlambat berprestasi, secara hukum debitur yang mengalami
wanprpestasi belum tentu dikatakan sebagai kata gori kredit macet, wanprestasi terjadi hanyalah
terhadap debitur yang belum jatuh tempo, kalau debitur telah jatuh tempo tidak mampu
membayar dikatagorikan kredit macet.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesejahteraan rakyat merupakan tujuan nasional dari negara Indonesia, maka dari itu
kegiatan di bidang ekonomi merupakan prioritas utama dalam meningkatkan taraf hidup
masyarakat dan kesejahteraan rakyat. Berbagai kebijakan dibuat untuk memudahkan para
pelaku ekonomi demi meningkatkan dan mengembangkan usahanya. Pengembangan dunia
usaha tentu saja sangat membutuhkan fasilitas modal dalam jumlah yang besar ,untuk
itu dibutuhkan lembaga terkait yang memberikan dukungan dana bagi kegiatan suatu
[Link] bagi suatu perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanyadapat
diperoleh dari berbagai sumber , dapat berupa modal dan utang. Dana berupa modal
diperoleh dari para pendirinya berupa setoran modal pendiri dan diperoleh dari pemodal
(investor). Dana berupa utang dapat diperoleh dari sumber sumber seperti bank-
bank , lembaga -lembaga pembiayaan , pasar uang , pasar [Link] Kebendaan
Jaminan kebendaan dapat diberi arti, adalah jaminan yang objeknya berupa barang baik
barang bergerak maupun tidak bergerak yang khusus diperuntukkan untuk menjamin utang
debitur kepada kreditur apabila dikemudian hari utang tersebut tidak dapat dibayar oleh
debitur.
Dasar hukum benda yang dalam hukum perdata diatur dalam Buku II BW, pengaturan
tentang hukum benda dalam Buku II BWI ini mempergunakan system tertutup, artinya orang
tidak diperbolehkan mengadakan hak hak kebendaan selain dari yang telah diatur dalam undang
undang ini. Selain itu, hukum benda bersifat memaksa (dwingend recht), artinya harus
dipatuhi,tidak boleh disimpangi, termasuk membuat peraturan baru yang menyimpang dari yang
telah ditetapkan .
Benda berwujud dan benda tidak berwujud ialah Arti penting pembedaan ini adalah pada saat
pemindah tanganan benda dimaksud, yaitu : Jika benda berwujud itu benda bergerak, pemindah
tanganannya harus secara nyata dari tangan ke tangan. Dan Jika benda berwujud itu benda tidak
bergerak, pemindah tanganannya harus dilakukan dengan balik nama.
DAFTAR PUSTAKA
R. Subekti, 1991, Jaminan – jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, Citra Aditya
Bakti, Bandung
[Link] H.S. 2004. Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Niken Prasetyawati, Tony Hanoraga. Vol 8 No.1, Juni 2015. Jaminan Kebendaan dan Jaminan
Perorangan Sebagai Upaya perlindungan hukum bagi pemilik piutang, Jurnal Sosial Humaniora
Peter Mahmud Marzuki, Hukum Jaminan Indonesia, Elips, Jakarta 1998.
[Link], Hukum Jaminan Kebendaan, Laksbang, Jakarta, 2016.