Keesokan harinya, langit di atas Akademi Thalvareth berwarna terang,
tapi suasana di aula duel terasa menegangkan.
Semua murid berkumpul di tribun karena Kael Avelis putra mahkota
kerajaan Avelis akan tampil dalam duel terbuka.
Elira duduk di barisan depan, tangan menangkup pipi sambil tersenyum
kecil.
Wajahnya berbinar saat melihat Kael berdiri gagah di tengah arena,
jubahnya berkibar tertiup angin, aura cahayanya menyala seperti bintang.
“Itu jubahnya udah di cuci belum yahh” Gumamnya saat melihat Kael
terlihat baangga mengenakan jubah andalannya itu
Sementara itu, nama lawannya disebut “Ashran ”
Elira hanya mengerutkan alis.
Ia tidak menyadari kalau itu adalah pemuda yang menjadi rival sejati
Kakaknya di akademi
Ashran melangkah ke arena dengan tenang, tanpa bicara. Tatapannya
lurus, dan tak ada ekspresi di wajahnya.
Duel akhirnya di mulai
Kael membentuk tombak cahaya yang tajam dan menakjubkan, membuat
murid-murid bersorak.
Ashran… hanya mengangkat tangannya pelan. Tak ada cahaya, tak ada
mantra—tapi bayangan di lantai merayap seperti kabut gelap.
Seketika duel berubah menjadi pertarungan antara cahaya murni dan
kegelapan tak berwujud. Elira mulai terlihat cemas, tapi bukan karena
Ashran yang menakutkan, tapi karena Kael semakin terlihat serius dan
marah.
“Kenapa Kak Kael kelihatan seperti… bertarung sungguhan?”
Kael menyerang berkali-kali, matanya mulai tajam dan tak sabar. Ashran
menangkis semua serangan dengan bayangan dingin—dan bahkan
berhasil membuat Kael terdorong mundur beberapa langkah.
“Itu… tidak mungkin, Kael mundur…?”
Beberapa murid mulai berbisik. Ini pertama kalinya mereka berdua
melakukan duel, keduanya terkenal tak terkalahkan, dan karena alasan itu
mereka tak pernah di pertemukan dalam duel. Namun kali ini, mereka
terlihat mengeluarkan segenap kekuatannya untuk menghancurkan satu
sama lain
Dan Elira—yang tadinya hanya menonton dengan kagum—sekarang
terlihat khawatir.
Ini adalah minggu pertamanya di akademi sihir, ia tak perna melihat
Kakaknya menunjukkan ekspresi seperti itu sebelumnya sambil
mengeluarkan senjata
Duel memanas, energi di udara mulai tak stabil. Sihir mereka mulai
meretakkan lantai kristal arena.
Profesor Yndra akhirnya turun tangan.
“Cukup! Kalian ingin menghancurkan seluruh aula?!”
Duel dihentikan paksa. Arena hancur sebagian. Kael berdiri terengah-
engah, Ashran tetap tenang seperti tak terjadi apa-apa.
Elira langsung berlari turun.
“Kak!”
“Elira?” Kael sedikit cemas melihat adiknya.
Tapi Elira justru menatapnya marah.
“Kakak kenapa seperti itu?! Itu Cuma duel latihan! Kakak menyerang
seperti sedang perang sungguhan!”
“Dia aneh , Elira—”
“Tapi itu bukan alasan untuk kehilangan kendali!”
Kael terdiam, menatap adiknya yang untuk pertama kalinya terlihat
benar-benar kecewa padanya.
Sementara itu, Ashran hanya berjalan pergi dalam diam, tapi matanya
sempat melirik Elira.
☆☆☆
Sudah beberapa bulan sejak Elira resmi menjadi murid di Akademi
Thalvareth.
Tidak banyak hal yang berjalan lancar baginya di sana—selain satu hal:
hubungannya dengan Kael semakin erat.
Dulu, ia hanya bisa bertemu Kael setahun sekali di Istana, ketika sang
kakak mendapat libur dari akademi. Tapi sekarang…
Elira bisa melihat Kael setiap hari. Dan untuk itu saja, ia sangat bersyukur.
Meskipun… terkadang ia tak bisa menahan perasaan kecil dan tak
berguna di tengah gemerlapnya para penyihir hebat.
“Mereka semua keren... kecuali aku.”
Ia bergumam lirih, matanya menatap para murid berlalu-lalang di
sekitarnya—membawa tongkat sihir, buku mantra, dan aura yang
mencolok.
Kepalanya tertunduk lesu. Tangannya terus-menerus melipat selembar
kertas menjadi kupu-kupu kecil.
“Aku tidak boleh begini terus!”
Ia bangkit dari tempat duduk, membuat kupu-kupu kertasnya terjatuh dari
pangkuan dan terbawa angin.
“Aku harus berusaha lebih keras… kasihan Kak Kael. Aku juga harus bisa!”
Tekadnya menggema di dada, disambut lembut oleh angin yang menyapu
rambut peraknya.
Kupu-kupu kertas itu melayang indah, tepat saat suara yang familiar
menghampirinya.
“Wahh, hebat! Elira jadi semangat, ya?”
Kael berjalan mendekat, dan kupu-kupu kertas itu mendarat tepat di
tangannya.
Ia mengelus kepala adiknya dengan lembut, membuat Elira terpukau.
“Wah! Kupunya bisa terbang!” Matanya berbinar.
“Kak Kael memang hebat!”
“Tentu saja, Kakaknya siapa dulu?” Kael tersenyum hangat.
“Kakakku!”
Elira langsung memeluk Kael, yang membalas pelukan itu tanpa ragu.
Namun momen manis itu segera diselingi oleh suara riuh dari arah
belakang.
“Wahh~ Kakak beradik yang soswit banget ya~”
Sekelompok penyihir elite—teman-teman sekelas Kael—datang
menghampiri.
“Halo, Elira.” Sapa salah satu dari mereka dengan ramah.
“H-halo…” Elira membalas dengan senyum lembut, sedikit malu.
“Astaga, Kael! Bukannya waktu makan siang sudah selesai, kenapa masih
ada yang manis-manis di sini?” Gareth, si playboy dramatis, menggoda.
“Pantas aja Kael nggak pernah memperkenalkan adiknya. Ternyata
semanis ini. Pelit, ya!” Arvin ikut menimpali.
Elira langsung bersembunyi di belakang Kael, wajahnya memerah.
“K-Kak, mereka menakutkan…”
Kael tertawa kecil sambil mengusap kepala Elira lembut.
“Jangan takut, mereka memang kelihatan bodoh… karena memang begitu
aslinya.”
“Hei! Kami dengar itu!”
“Memang sengaja biar kalian dengar.”
Tawa pun pecah di antara mereka.
Namun tawa itu tiba-tiba berhenti… karena terdengar suara gemuruh
keras dari arah Elira.
“Eh? Apa itu barusan?” tanya Gareth, menoleh bingung.
“Guntur,” jawab Kael tanpa ekspresi.
Sejurus kemudian, semua kembali tertawa keras.
Elira menutup wajahnya, pipinya memerah karena malu.
“Kamu belum makan ya, Elira?” tanya Kael sambil tersenyum.
“U-udah… tapi Cuma sedikit,” jawabnya pelan.
“Pantas. Ayo, kita ke kantin.”
“Kita ke kantin atas saja, yuk,” saran Ken.
“Ayok!” jawab mereka serempak.
“A-ayok…” Elira ikut menyusul dengan suara kecil, tapi wajahnya kini
tersenyum cerah.
☆☆☆
Hari itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah, dan
gerimis turun pelan membasahi halaman Akademi Thalvareth.
Suasana terasa lebih lengang dari biasanya. Para murid memilih
beristirahat di asrama atau tenggelam dalam tumpukan buku di
perpustakaan.
Hanya suara dedaunan yang bergoyang dan langkah kecil Elira yang
terdengar di taman belakang.
Ia berjalan seorang diri, memeluk erat sebuah buku sihir dan sekotak kue
mungil yang baru saja ia panggang sendiri.
Ia hanya ingin mencari tempat sunyi untuk membaca… dan sedikit
menjauh dari rasa cemas yang perlahan menumpuk di hatinya.
“Kenapa semua orang selalu membandingkanku dengan Kak Kael…Kak
Kael memang luar biasa, berbeda jauh dariku.”
Langkahnya terhenti saat ia mendengar suara samar dari balik pilar
taman.
Ia menoleh, lalu melangkah perlahan melewati semak kecil dengan rasa
penasaran yang tumbuh dalam dadanya.
“Eh…?”
Di bawah paviliun batu yang dikelilingi kabut tipis, duduk seseorang yang
tak asing—Ashran.
Ia sendirian, tampak diam dengan satu tangan memegang bahunya yang
terlihat memar, samar oleh kain pakaiannya.
Elira terdiam. Matanya membulat, bibirnya terbuka sedikit.
“I-Itu… ”
Ashran menoleh perlahan. Tatapan tajamnya langsung bertemu dengan
mata Elira.
Wajahnya tetap tenang, dingin—tapi cukup untuk membuat Elira gugup
bukan main.
Ia menggenggam kotak kue erat-erat dan memberanikan diri melangkah
mendekat.
“Aku… mau minta maaf!”
Suara Elira sedikit gemetar, tapi ia tetap membungkuk sopan.
“Soal duel waktu itu… Kak Kael hampir menyakitimu. Aku tahu itu hanya
latihan, tapi… aku merasa tidak enak.”
Ashran hanya menatapnya diam. Lurus. Dalam.
“Kenapa kau meminta maaf atas tindakan orang lain?” tanyanya datar.
“Karena dia kakakku… dan kata Mama, kita harus meminta maaf kalau
merasa sudah merugikan orang lain.”
Ashran menatapnya lebih lama. Diam. Tak berkata apa-apa. Tapi
pikirannya bergerak liar. “Manusia… meminta maaf untuk hal yang tak
mereka lakukan. Untuk apa…?”
“Itu bukan apa-apa,” gumamnya akhirnya, nyaris seperti bicara pada
angin.
Tapi Elira tetap berdiri di sana. Masih memeluk kotak kuenya.
“Tapi tetap saja… um… aha! Aku tahu!”
Ia mendekat sedikit, wajahnya kembali berbinar.
“Aku punya sihir penyembuhan! Aku bisa menyembuhkan apa pun…
bahkan luka dalam. Mau aku bantu?”
Ashran tak menjawab. Tapi sesuatu dalam dirinya bergerak…
Sihir penyembuhan—hal yang selama ini tak bisa disentuh oleh klannya.
Dengan diam, ia mengulurkan lengannya.
Elira menyentuhnya lembut, kedua tangannya kecil tapi hangat, dan ia
mulai melantunkan mantra pelan.
Cahaya lembut menyelimuti luka itu.
Dalam sekejap, bukan hanya lukanya yang pulih—ether dalam tubuh
Ashran pun kembali stabil.
Ashran membeku.
“Etherku… pulih? Ini… tidak mungkin… bagaimana bisa?”
Namun lebih dari itu, yang membuat dadanya bergetar… adalah senyum
Elira—tulus, cerah, polos.
“Yey! Sudah sembuh!”
Elira tertawa kecil sambil memandang tangannya dengan bangga, seperti
anak kecil yang berhasil menyusun puzzle untuk pertama kali.
Ashran buru-buru menarik lengannya kembali dan memalingkan wajah,
seolah ingin menyembunyikan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
“Oh iya! Aku bawa kue.”
Elira menyodorkan kotaknya, penuh dengan kue mungil berbentuk kupu-
kupu, daun ether, dan bintang-bintang kecil.
“Kamu mau coba?”
Ashran hanya melirik, lalu menjawab singkat.
“Tidak.”
“Yey!—eh, maksudku… yahh, kok nggak mau sih? Padahal ini enak banget
loh. Tapi kalau nggak mau, ya udah, aku makan sendiri aja~”
Ia langsung memakan satu, pipinya mengembung sedikit saat
mengunyah.
“Kalau nanti berubah pikiran… bilang yaaa~”
Ashran menoleh sekali lagi.
Elira masih duduk di sisi paviliun, tersenyum sambil menggigit kuenya,
seperti dunia tidak pernah punya kegelapan. Seolah semuanya baik-baik
saja.
Dan entah mengapa…
Untuk pertama kalinya, Ashran merasa luka dalam dirinya bukan hanya
sembuh—tapi juga menjadi lebih manusiawi.
☆☆☆
Malam telah larut.
Kamar Elira sunyi. Jendela terbuka sedikit, membiarkan angin malam
mengayun lembut tirai putih. Ia tertidur pulas, tubuh mungilnya
meringkuk di balik selimut, tangan masih memeluk buku sihir yang belum
ia pahami.
Lalu… Ia bermimpi.
Langit—hitam. Tanah—berkilau seperti obsidian. Tak ada suara, hanya
denyutan lembut di udara, seperti jantung bumi berdetak.
Elira berdiri sendirian di tempat asing itu. Di sekelilingnya, batu-batu
melayang dengan simbol aneh menyala merah keemasan seperti mata
naga yang tertidur.
“Di mana ini…?”
Suara gemuruh terdengar… seperti napas besar dari sesuatu yang sangat
tua. Lalu dari kejauhan, cahaya muncul—tapi bukan cahaya hangat. Itu
nyala api berputar, membentuk sosok naga raksasa berwarna hitam
pekat, dengan mata emas yang menembus jiwa.
Naga itu tidak menyerang. Ia hanya menatap Elira. Dan perlahan, ia
membuka mulutnya.
“Kau… yang membangunkanku.”
Suara itu terdengar di dalam pikirannya, berat dan dalam, menggema
seperti gema ribuan tahun.
“Kau… yang membawa denyut darah kami kembali… tanpa kau sadari.”
“Aku? Tidak mungkin aku. Aku tidak bisa apa-apa tau… Siapa kau? Naga
kok bisa bicara?”
Naga itu mendekat. Nafasnya membuat rambut Elira terbang. Sisiknya
berkilau seperti langit malam. Di antara cakarnya, muncul simbol yang
sama dengan yang Elira lihat di lantai kelas tadi—hanya kali ini, simbol itu
berpijar di dadanya sendiri.
Elira menatap tangannya—dan dengan ngeri, simbol itu juga ada di
kulitnya. Terukir. Menyala.
“Sang Pemicu telah bangkit… dan pintu akan terbuka… darah akan
mencari darah….”
“Haah!?… apa maksudmu?! Aku tidak mengerti—!”
Api tiba-tiba menyambar langit, bumi pecah, dan sosok naga itu
menghilang dalam letupan cahaya…
Elira terbangun dengan teriakan. Nafasnya tersengal, keringat dingin
membasahi pelipisnya. Dadanya terasa panas, seolah benar-benar
terbakar.
Ia menarik lengan bajunya—tidak ada simbol. Tapi rasa itu… masih terasa.
Dan jauh di luar jendela, di puncak menara tertua akademi, Ashran
berdiri, menatap ke arah kamarnya, dengan mata menyala redup seperti
bara.
☆☆☆
Sudah dua hari berlalu sejak mimpi aneh itu…
Dan sejak saat itu, Elira mulai berubah.
Bukan perubahan yang mencolok—hanya hal-hal kecil yang perlahan
terasa asing.
Ia mulai menghindari tempat gelap.
Kadang tersentak hanya karena bayangan pohon di jendela.
Dan yang paling aneh, ia kini takut pada reptil… padahal sebelumnya ia
sangat menyukai Grego, reptil peliharaan Profesor Martis.
Kael—tentu saja menyadarinya.
Ia yang biasanya cuek terhadap perubahan kecil sekalipun, tidak bisa
mengabaikan kegelisahan yang mulai terlihat di wajah adiknya.
Malam itu, setelah pelajaran tambahan selesai, Kael berjalan
berdampingan dengan Elira menyusuri lorong menuju asrama putri.
Hujan tipis turun di luar kaca, dan udara malam membawa kabut dingin
yang menyelimuti jalanan akademi.
“Kenapa, El?”
Kael menoleh. Suaranya lembut namun penuh perhatian. “Ada yang
salah?”
“Kenapa apanya?” Elira bertanya balik, pura-pura tidak mengerti.
“Kamu akhir-akhir ini agak… aneh. Biasanya pulang sendiri, sekarang
malah minta diantar?”
“Entahlah,” jawab Elira santai, “Cuma… ya, mau aja diantar sama Kakak.”
Kael tersenyum kecil, tapi tatapannya tidak berubah. Ia tahu Elira sedang
menyembunyikan sesuatu.
“Dan kamu juga jarang ke tempat Profesor Martis. Biasanya kamu suka
main sama Grego.”
“Aku… sibuk.”
“Mau belajar, biar bisa sepintar Kakak.”
Kael menghela napas panjang.
Seberapa keras pun ia mencoba, Elira tetap tidak jujur.
Tapi ia juga tahu, adiknya tidak akan berkata apa-apa sampai ia siap.
Saat mereka tiba di depan pintu asrama putri, Kael menghentikan
langkahnya. Ia berdiri di hadapan Elira, menatap wajah adiknya dalam
diam beberapa detik.
“El.”
Suaranya lembut namun tegas.
“Kalau ada masalah… atau kalau kamu takut… bilang ke Kakak, ya?”
Tangannya terangkat, mengelus lembut pipi Elira.
“Aku nggak apa-apa, kok,” Elira menjawab sambil tersenyum, tapi senyum
itu tidak sepenuhnya meyakinkan.
Kael mencubit pipinya gemas.
“Aduh! Sakit!” Elira mengerucutkan bibirnya.
Kael tertawa ringan, lalu menarik Elira ke dalam pelukannya.
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri, ya?”
“Kakakmu yang tampan dan seksi ini akan selalu siap membantumu.”
Elira ikut tertawa, membalas pelukan hangat itu dengan pelan.
“Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Di atas mereka, bulan bersinar lembut di langit mendung, seolah menjadi
saksi betapa kuatnya ikatan di antara kakak-beradik itu—hangat,
melindungi, dan tak tergantikan.
☆☆☆