0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan20 halaman

Metode Efektif Menghafal Al-Qur'an

Diunggah oleh

mohhuzaifa8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan20 halaman

Metode Efektif Menghafal Al-Qur'an

Diunggah oleh

mohhuzaifa8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Menghafal Al-Qur’an, Metode Menghafal Al-Qur’an dan Kendala-

Kendala dalam Menghafal Al-Qur’an

1. Pengertian Menghafal Al-Qur’an

Menurut etimologi, kata menghafal berasaal dari kata dasar hafal yang dalam

bahasa Arab disebut al-Hifdz yang artinya ingat. Kata menghafal juga bisa

diartikan dengan mengingat. Mengingat menurut Wasty Soemanto berarti

menyerap atau meletakkan pengetahuan dengan jalan pengecaman secara aktif.

Kemudian secara terminologi istilah menghafal mempunyai arti suatu tindakan

yang berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat. Menghafal adalah

suatu aktifitas menanamkan suatu materi di dalam ingatan, sehingga nantinya

dapat diingat kembali secara harfiah, sesuai dengan materi yang asli.1

Menghafal Al-Qur’an merupakan suatu proses mengingat materi yang

dihafalkan harus sempurna, karena ilmu tersebut dipelajari untuk dihafalkan,

bukan untuk dipahami. Seseorang yang berniat untuk menghafal Al-Qur’an

disarankan untuk mengetahui materi-materi yang berhubungan dengan cara

menghafal, semisal cara kerja otak atau cara memori otak.2 Menghafal Al-Qur’an

juga merupakan suatu sikap dan aktifitas yang mulia, dengan menggabungkan Al-

Qur’an dalam bentuk menjaga serta melestarikan semua keaslian Al-Qur’an baik

1
Yusron Masduki, Implikasi Psikologis Bagi Penghafal Al-Qur’an, Medina-Te, Vol. 18, No. 1, 2018,
hal. 21
2
Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an, Jogjakarta:DIVA Press, Cet. VII,
2014, hal. 14

1
dari tulisan maupun pada bacaan dan pengucapan atau teknik melafalkannya.

Sikap dan aktifitas tersebut dilakukan dengan dasar dan tujuan.3

Menghafal Al-Qur’an yang ideal adalah membaca ayat-ayat itu dengan tajwid

yang benar, memahami makna kata demi kata, lalu berusaha menyimpannya di

dada. Menghafal Al-qur’an adalah menyimpan kata demi kata dari ayat-ayat suci

Al-Qur’an di dalam benak dan hati kita.4

Jadi, dapat disimpulkan bahwa menghafal Al-Qur’an adalah sebuah proses

mengingat ayat-ayat Al-Qur’an secara sempurna baik dari tajwid, tulisan maupun

pada pengucapan atau makhrajul hurufnya secara benar dan menyimpannya di

dalam hati agar ayat yang sudah dihafal tidak mudah lupa.

2. Metode Menghafal Al-Qur’an

Pada dasarnya metode menghafal Al-Qur’an difokuskan pada bacaan ayat-

ayat Al-Qur’an terlebih dahulu, yang mana hal tersebut dianggap sebagai

pengenalan terhadap ayat setelah itu baru dihafalkan. Dalam menggunakan

metode menghafal Al-Qur’an setiap orang memang berbeda-beda, ada yang

menggunakan metode seluruhnya yaitu membaca satu halaman mushaf dari

barisan pertama hingga barisan terakhir secara berulang-ulang sampai ayat yang

dibaca bener-bener hafal. Dan ada juga yang menggunakan metode bagian, yaitu

menghafalkan ayat per ayat, atau kalimat per kalimat yang dirangkai menjadi satu

halaman penuh.5

3
Yusron Masduki, Implikasi Psikologis Bagi Penghafal Al-Qur’an, Medina-Te, Vol. 18, No. 1, 2018,
hal. 22
4
Dina Y. Sulaeman, Mukjizat Abad 20, Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Qur’an: Wonderful Profile
of Husein Tabataba’I, Bandung:Pustaka IIMaN, Cet. Xv, 2008, hal. 130
5
Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an, Yogyakarta:DIVA Press, Cet. VII,
2014, hal. 69

2
Dalam proses menghafal, peran metode menghafal sangatlah besar untuk

mendukung keberhasilan hafalan. Penggunaan metode yang tepat akan membantu

seorang penghafal Al-Qur’an untuk dapat menghafal dengan baik dan cepat.

Menurut Muhaimin zen, secara umum metode yang dipakai dalam menghafal ada

dua macam yaitu metode tahfizh dan takrir. Kedua metode ini pada dasarnya tidak

dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Metode tahfizh adalah menghafal

materi baru yang belum pernah dihafal, sedangkan metode takrir adalah

mengulang hafalan yang sudah diperdengarkan pada instruktur.

Dalam proses menghafal umumya penghafal menggunakan perpaduan antara

metode tahfizh (menambah hafalan) dan metode takrir (mengulang hafalan),

karena dengan menyeimbangkan keduanya kuantitas dan kualitas hafalan akan

dapat terjaga dengan baik.6Adapun lebih spesifiknya metode dalam menghafal

akan lebih terperinci sebagai berikut:

a. Metode Wahdah

Metode wahdah adalah menghafal satu persatu ayat yang ingin dihafal.

Untuk mencapai hafalan pertama, setiap ayat hendaknya dibaca sebanyak

sepuluh kali atau lebih hingga proses ini mampu membentuk pola dalam

bayangan, agar dapat kemudian membentuk gerak reflek dari lisan. Setelah

benar-benar hafal kemudian barulah dilanjutkan pada ayat seterusnya sampai

satu halaman. Setelah ayat-ayat didalam satu halaman tersebut sudah dihafal ,

tahap selanjutnya menghafal urutan ayat-ayat tersebut, kemudian diulang-

ulang sampai benar-benar hafal.

6
Yusron Masduki, Implikasi Psikologis Bagi Penghafal Al-Qur’an, Medina-Te, Vol. 18, No. 1,
2018, hal. 23

3
b. Metode kitabah (menulis)

Untuk metode ini, yaitu penghafal Al-Qur’an lebih dulu menulis ayat

dikertas, kemudian dibaca dengan baik dan mulai untuk dihafal . kemudian

dalam menghafalnya bisa dengan metode wahdah atau dengan berulang-ulang

dalam menulisnya. Dengan demikian seorang akan dapat menghafal karena ia

sudah dapat memahami bentuk-bentuk huruf dengan baik dan mengingatnya

dalam hati.

c. Metode Simai (mendengar)

Dalam metode simai penghafal mendengarkan terlebih dahulu ayat-ayat

Al-Qur’an yang akan dihafal kemudian berusaha untuk mengingatnya.

Metode ini sangat cocok untuk anak tunanetra dan anak kecil yang belum

mengenal baca tulis. Metode ini bisa dilakukan dengan mendengar bacaan dari

guru, atau dari rekaman bacaan Al-Qur’an (murattal Al-Qur’an).

d. Metode Gabungan

Yakni metode gabungan antara metode pertama dengan metode yang

kedua yaitu wahdah dan kitabah. Dengan metode gabungan ini penghafal

berusaha untuk menghafalkan dahulu kemudian menuliskan ayat yang telah ia

hafal dalam kertas.

e. Metode Jama’ (kolektif)

Metode jama’ ini menggunakan pendekatan menghafal Al-Qur’an secara

kolektif, yaitu membaca ayat-ayat yang telah dihafal secara bersama-sama

dipimpin oleh seorang guru.7

7
Yusron Masduki, Implikasi Psikologis Bagi Penghafal Al-Qur’an, Medina-Te, Vol. 18, No. 1, 2018,
hal. 23-24

4
Dalam redaksi yang lain menyebutkan metode untuk menghafal Al-

Qur’an adalah:

a. Bin-Nazhar

Metode ini ialah membaca dengan cermat yaitu dengan memperhatikan

tajwid dan makhrajul huruf pada ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafal

dengan melihat mushaf Al-Qur’an secara terus-menerus. Proses bin-nazhar ini

hendaknya dilakukan sebanyak mungkin atau 40 kali seperti yang dilakukan

ulama terdahulu.

b. Tahfizh

Yaitu menghafal sedikit demi sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang telah

dibaca berulang-ulang secara bin-nazhar tersebut. Misalnya menghafala satu

baris, beberapa kalimat, atau sepotong ayat pendek sampai tidak ada kesalahan

yang menghafalkannya.

c. Talaqqi

Metode talaqqi ialah menyetorkan atau memperdengarkan hafalan yang

baru dihafal kepada seorang ustadz. Proses talaqqi ini dilakukan untuk

mengetahui hasil hafalan seorang calon hafizh dan mendapatkan bimbingan

seperlunya. Seorang guru tahfizh juga hendaknya benar-benar mempunyai

silsilah guru yang sampai kepada Nabi Muhammad Saw.8

d. Takrir

Yaitu mengulang-ulang hafalan atau mensima’kan hafalan yang pernah

dihafal atau yang sudah pernah disetorkan kepada guru tahfizh. Tujuan dari

takrir ini adalah mengulang supaya hafalan yang sudah dihafalkan tetap

8
Sa’dulloh, 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an, Jakarta:Gema Insani, 2008, hal. 52

5
terjaga dengan baik, kuat, dan lancar. Mengulang hafalan selain dengan ustadz

juga bisa dilakukan sendiri.9

e. Tasmi’

Metode tasmi’ yaitu mendengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada

satu orang maupun kepada banyak orang. Dengan metode tasmi’ ini seorang

penghafal Al-Qur’an dapat diketahui kekurangan pada dirinya. Karena bisa

saja dia lengah dalam mengucapkan huruf atau harakat. Dengan tasmi’ juga

dapat meningkatkan konsentrasi seseorang dalam menghafal.10

Menurut pemahaman penulis bahwa metode menghafal Al-Qur’an adalah

cara atau teknik dalam menghafalkan Al-Qur’an. Seperti yang sudah

dijelaskan di atas, ada banyak sekali metode dalam menghafal Al-Qur’an dan

setiap orang memiliki metode yang berbeda-beda dalam menghafalkan Al-

Qur’an. Secara umum untuk menghasilkan hafalan yang terjaga dengan baik

atau hafalan yang mutqin (lancar) kebanyakan dari para penghafal Al-Qur’an

memperpadukan antara metode tahfizh (menambah hafalan) dengan metode

takrir (mengulang hafalan).

9
Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat & Mudah hafal Al-Qur’an, Yogyakarta:KAKTUS, Cet.1,
2018, 74-75
10
Sa’dulloh, 9 Cara Praktis Menghafal Al-Qur’an,…hal. 52

6
3. Kendala-Kendala dalam Menghafal Al-Qur’an

Berikut beberapa kendala-kendala dalam menghafal Al-Qur’an, antara lain

sebagai berikut:

a. Banyak dosan dan maksiat. Hal ini bisa membuat seorang hamba lupa pada

Al-Qur’an dan lupa pada dirinya pula, membutakan hatinya dari ingat kepada

Allah Swt, serta dari membaca dan menghafal Al-Qur’an.

b. Tidak senantiasa mengikuti, mengulang-ulang dan memperdengarkan hafalan

Al-Qur’annya.

c. Perhatian yang lebih pada urusan-urusan dunia yang menjadikan hati terikat

dengannya, dan pada gilirannya hati menjadi keras sehingga tidak bisa

menghafal dengan mudah.

d. Menghafal banyak ayat pada waktu yang singkat dan pindah sebelum

menguasainya dengan baik.

e. Semangat yang tinggi untuk menghafal di permulaan membuatnya menghafal

banyak ayat tanpa menguasainya dengan baik, kemudian ketika ia merasakan

dirinya tidak menguasainya dengan baik, ia pun malas menghafal dan

meninggalkannya.11

Pada dasarnya kendala atau problem dalam menghafalkan Al-Qur’an terbagi

menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:

a. Muncul dari dalam diri penghafal

11
Ahmad Salim Badwilan, Cara Mudah Bisa Menghafal Al-Qur’an, Yogyakarta:Bening, 2010, hal.
105-106

7
Pada dasarnya, kendala atau problem dalam menghafalkan Al-Qur’an juga

timbul dari diri sang penghafal itu sendiri. Problem-problem tersebut

diantaranya adalah:

1) Tidak merasakan kenikmatan Al-Qur’an ketika membaca dan menghafal

2) Terlalu malas

3) Mudah putus asa

4) Semangat dan keinginanya melemah

5) Menghafal Al-Qur’an karena paksaan orang lain

b. Timbul dari luar diri penghafal

Selain muncul dari dalam diri penghafal, kendala dalam menghafal Al-

Qur’an juga banyak disebabkan dari luar dirinya, seperti:

a. Tidak mampu mengatur waktu dengan efektif

b. Adanya kemiripan ayat-ayat yang satu dengan yang lainnya, sehingga

sering menjebak, membingungkan dan membuat ragu

c. Tidak sering mengulang-ulang ayat yang sedang atau sudah dihafal

d. Tidak adanya pembimbing atau guru ketika menghafal Al-Qur’an.12

Dapat disimpulkan ketika menghafal Al-Qur’an pasti setiap orang

mengalami faktor kesulitan. Secara umum faktor kesulitan itu dibagi menjadi dua,

yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern berasal dari dalam diri

seseorang itu sendiri seperti munculnya rasa malas, tidak semangat dan putus asa

dalam menghafal Al-Qur’an. Kemudian faktor ekstern berasal dari luar seperti

12
Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an, Yogyakarta:DIVA Press, Cet. VII,
2014, hal. 122-123

8
kesulitan dalam membagi waktu, lingkungan yang tidak mendukung dan tidak

memiliki guru ketika menghafal Al-Qur’an.

B. Pengertian Motivasi, Fungsi Motivasi, Jenis-Jenis Motivasi dan Motivasi

Menurut Pandngan Islam

1. Pengertian Motivasi

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu Movere yang berarti bergerak

(move) yang artinya motivasi berasal dari kata motif yang artinya dorongan yang

datang dari dalam untuk berbuat. Motivasi menjelaskan apa yang membuat orang

orang melakukan sesuatu, membuat mereka tetap melakukannya, dan membuat

mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas. Hal ini berarti bahwa konsep motivasi

digunakan untuk menjelaskan keinginan berperilaku, pilihan, dan penyelesaian

atau prestasi yang sesungguhnya. Karena itu motif diartikan sebagai kekuatan

yang terdapat dalam diri seseorang yang mendorong untuk berbuat. 13

Dalam konteks sekarang, motivasi dapat diartikan sebagai proses psikologi

yang menghasilkan suatu intensitas, arah dan ketekunan individual dalam usaha

untuk mencapai suatu tujuan.14 Motivasi yang ada dalam diri seseorang yaitu

suatu kemampuan atau faktor yang terdapat dalam diri seseorang untuk

menimbulkan, mengarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya. 15Motivasi

13
Angga Sucitra Hendrayaa, Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Vol. 4, No. 2, 2014, hal.
83
14
Diny Kristianty Wardany, Psikologi Pendidikan Islam, Bandung:CV. CONVIDENT, 2016, hal.
99
15
Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan, Jakarta:Kencana, Cet. 1, 2011, hal. 356

9
adalah suatu dorongan yang diberikan oleh orang lain untuk mencapai suatu

tujuan tertentu.

Motivasi juga tidak hanya mengacu pada beberapa hal saja atau kegiatan saja,

namun motivasi juga memasuki beberapa aspek yang dilakukan oleh makhluk

hidup baik individu maupun kelompok. Dengan termotivasinya seseorang, maka

ia akan dengan mudahnya terpanggil untuk melakukan kegiatan yang telah

menjadi suatu keajaibannya. Namun perlu diketahui juga bahwa motivasi

bukanlah suatu kekuatan yang kebal dan netral terhadap faktor-faktor yang lain

dalam hal belajar.16

Motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah dan kegigihan perilaku.

Artinya perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan

bertahan lama.17Motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Makin berharga

tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motivasinya. Jadi motivasi itu

sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang.

2. Fungsi Motivasi

Motivasi mempunyai fungsi yang penting dalam belajar, karena motivasi akan

menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan seseorang. Sardiman

mengemukakan ada tiga fungsi motivasi, yaitu:

a. Mendorong manusia untuk berbuat. Motivasi dalam hal ini merupakan motor

penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

16
Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan…,hal. 357
17
John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta:Kencana, Cet. 6, 2015, hal. 510

10
b. Menuntut arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai, dengan

demikian motivasi dapat memberi arah dan kegiatan yang harus dikerjakan

sesuai dengan rumusan tujuannya.

c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang

harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan

perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. 18

3. Jenis-jenis Motivasi

Motivasi digolongkan menjadi dua jenis yaitu instrinsik dan ekstrinsik:

a. Motivasi instrinsik yaitu motivasi yang lahir dalam diri manusia berupa

dorongan yang kuat yang keluar dari dalam dirinya dan memberikan suatu

kemampuan untuk melakukan pekerjaan tanpa adanya suatu keterpaksaan.

Misalnya, keinginan mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi

kehidupan dan keinginan untuk mendapat keteramplan tertentu.

b. Motivasi ekstrinsik, yaitu motivasi yang tumbuh karena adanya dorongan dari

luar yang diberikan oleh orang tua, guru dan juga masyarakat. 19 Misalnya,

murid akan belajar keras menghadapi ujian untuk mendaptkan nilai yang

baik.20

4. Motivasi dalam Perspektif Islam

18
Suharni dan Purwanti, Jurnal Bimbingan dan Konseling, Upaya menigkatkan Motivasi Belajar
Siswa, Vol. 3, No. 1, 2018, hal. 144. Diakses pada tanggal 02 April 2021, Pukul 14:52
19
Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan…, hal. 357
20
John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Jakarta:Kencana, Cet. 6, 2015, hal. 514

11
Dalam perspektif islam para umatnya sangat dianjurkan untuk memiliki

motivasi belajar yang tinggi, sehingga dengan adanya motivasi yang tinggi, ilmu

pengetahuan akan mudah didapat. Motivasi belajar merupakan yang sangat

diperhatikan dan perlu dipandang dalam Islam. Karena hal ini dapat meningkatkan

ilmu pengetahuan umat atau hamba Allah Swt.21 Allah berfirman dalam Al-

Qur’an:

‫ات ِم ْن بَْي ِن يَ َديِْه َوِم ْن َخ ْل ِف ِه يَ ْح َفظُونَهُ ِم ْن أ َْم ِر اللَّ ِه إِ َّن اللَّهَ ال يُغَيُِِّر َما بَِق ْوٍ َََّ يُغَيُِِّروا َما‬ ِ
ٌ َ‫لَهُ ُم َع ِّقب‬
)١١( ‫بِأَنْ ُف ِس ِه ْم َوإِذَا أ ََر َاد اللَّهُ بَِق ْوٍ ُسوءًا فَال َمَرَّد لَهُ َوَما لَ ُه ْم ِم ْن ُدونِِه ِم ْن َوال‬
Artinya:Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya
bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas
perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu
kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu
kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.(Qs. Ar-Ra’d 13: 11)22

Dari ayat di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa motivasi yang

paling kuat adalah motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang itu sendiri.

Semangat belajar atau motivasi dalam belajar sudah dikenal lama dalam islam hal

ini dapat dilihat dalam kisah Nabi Musa as , para nabi juga memiliki semangat

yang luar biasa dalam belajar dan menuntut ilmu. Nabi Musa as menuntut ilmu

pada Khidzir as, sebagaimana Allah kisahkan dalam surah al-kahfi ayat 60-82.

Dari firman Allah Swt:

ِ ‫ال موس لَِفََّاه ال أَب رح ََّ أَب لُ َغ مجمع الْبحري ِن أَو أَم‬
)٠٦( ‫ض َي َُ ُقبًا‬ ِ
ْ ْ َْ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ ُ َْ ُ َ ُ َ َ‫َوإ ْذ ق‬
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya23 "Aku tidak
akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah

21
Harmalis, Motivasi Belajar Dalam Perspektif Islam, Indonesian Journal of Counseling &
Development, Vol. 01, No. 01, 2019,hal. 59
22
Lihat Qs. Ar-Ra’d ayat 11
23
Menurut ahli tafsir, murid Nabi Musa as. itu ialah Yusya 'bin Nun.

12
lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".([Link]-Kahfi
18:60)24

Sampai perkataan Khidhzir:

‫صالِ ًحا فَأ ََر َاد‬


َ ‫وه َما‬
ِ ِ ِ َِّ‫وأ ََّما الْ ِجدار فَ َكا َن لِغالمي ِن ي‬
ُ ُ‫يمْي ِن في الْ َمدينَة َوَكا َن تَ ْحََّهُ َكْن ٌز لَ ُه َما َوَكا َن أَب‬ َ َ َْ ُ َُ َ
ِ ِ
‫يُ َما لَ ْم‬ ِ َ ‫ك َوَما فَ َع ْلَُّهُ َع ْن أ َْم ِري َذل‬
ُ ‫ك تَأْو‬ َ ِِّ‫َّه َما َويَ ْسََّ ْخ ِر َجا َكْن َزُه َما َر َْ َمةً م ْن َرب‬ ُ ‫ك أَ ْن يَْب لُغَا أ‬
ُ ‫َشد‬ َ ُّ‫َرب‬
)٢٨( ‫صْب ًرا‬ ِ ِ
َ ‫تَ ْسط ْع َعلَْيه‬
Artinya: Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di
kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka
berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka
Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada
kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai
rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut
kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-
perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya". (Qs. Al-
Kahfi 18:82)25

Dapat dipahami dari kisah di atas bahwa para Nabi pun menuntut ilmu dan

memiliki motivasi yang tinggi dalam melakukan aktivitas belajar. Jangan sampai

kita merasa sombong dan tidak mau menuntut ilmu pada orang yang dibawah kita

kalau memang mereka memiliki ilmu lebih daripada kita. Dalam kisah ini Nabi

Musa lebih mulia Karena beliau termasuk seorang Nabi Ulul Azmi, sedangkan

khidzir masih diperselisihkan kenabiannya, tetapi beliau tetap mau

mendatanginya dengan penuh semangat dan mempunyai motivasi dalam belajar

yang tinggi untuk belajar dan menuntut ilmu.26

Kesimpulannya bahwa di dalam agama Islam umatnya sangat dianjurkan

untuk memiliki motivasi belajar yang tinggi. Begitu pun dengan para Nabi,

mereka juga memiliki semangat yang luar biasa dalam belajar dan mencari ilmu.

24
Lihat [Link]-Kahfi ayat 60
25
Lihat Qs. Al- Kahfi ayat 82
26
Harmalis, Motivasi Belajar Dalam Perspektif Islam, Indonesian Journal of Counseling &
Development, Vol. 01, No. 01, 2019, hal. 60

13
Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas dalam surah Ar-Ra’d ayat 11

menjelaskan bahwasannya motivasi yang paling kuat adalah motivasi yang

berasal dari dalam diri sendiri.

C. Penafsiran Beberapa Mufassir Terhadap Surah Al-Hijr Ayat 9

1. M. Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

)٩( ‫الذ ْكَر َوإِنَّا لَهُ لَ َحافِظُو َن‬


ِِّ ‫إِنَّا نَحن نََّزلْنا‬
َ ُْ
Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Qs. Al- Hijr
15:9).27

Ayat ini sebagai bantahan atas ucapan mereka yang meragukan sumber

datangnya Al-Qur’an. Karena itu ia dikuatkan dengan kata sesungguhnya dan

dengan menggunakan kata kami yakni Allah Swt yang memerintahkan malaikat

Jibril as. Sehingga dengan demikian kami menurunkan Adz-Dzikr yakni Al-

Qur’an yang kamu ragukan itu, dan sesungguhnya kami juga bersama semua

kaum muslimin benar-benar baginya yakni bagi Al-Qur’an adalah yang akan

menjadi para pemelihara otentisitas dan kekekalannya.

Ayat ini dapat merupakan dorongan kepada orang-orang kafir untuk

mempercayai Al-Qur’an sekaligus memutus harapan mereka untuk dapat

mempertahankan keyakinan sesat mereka. Betapa tidak Al-Qur’an dan nilai-

nilainya tidak akan punah tetapi akan bertahan. Itu berarti bahwa kepercayaan

yang bertentangan dengannya pada akhirnya cepat atau lambat pasti akan

27
Lihat [Link]-Hijr ayat 9

14
dikalahkan oleh ajaran Al-Qur’an. Dengan demikian tidak ada gunanya mereka

memeranginya dan tidak berguna pula mempertahankan kesesatan mereka.28

Bentuk jamak yang digunakan ayat ini yang menunjukAllah Swt baik pada

kata ‫نَ ْح ُن نََّزلْ َن‬ (kami menurunkan) maupun dalam hal pemeliharaan Al-Qur’an

mengisyaratkan adanya keterlibatan selain Allah Swt yakni malaikat Jibril as,

dalam menurunkannya dan kaum muslimin dalam pemeliharaannya. Memang

tidak ada wahyu yang berupa ayat Al-Qur’an yang tidak dibawa oleh malaikat

Jibril as sesuai dengan penegasan Al-Qur’an bahwa wahyu-wahyu Allah Swt itu

dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin, yakni malaikat Jibril as.29

)١٩١( ‫ك لََِّ ُكو َن ِم َن الْ ُمْن ِذ ِري َن‬


َ ِ‫) َعلَ قَ ْلب‬١٩١( ‫ين‬ ِ
ُ ‫وح األم‬ُّ ‫نََزَل بِِه‬
ُ ‫الر‬
Artinya: Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Kedalam hatimu
(Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-
orang yang memberi peringatan.(Qs. Asy-Syu’ara 26:193-194)30

Para ulama menggaris bawahi bahwa ada informasi lain dari Allah Swt yang

dapat diterima oleh sementara manusia termasuk Nabi Muhammad Saw bukan

melalui malaikat Jibril as atau bahkan bukan melalui malaikat. Boleh jadi melalui

mimpi, atau percakapan langsung dibelakang hijab atau malaikat yang lain.

ِِ ِِ ِ ِ ِ ِ ِ ِ َّ ِ ِ
ُ‫َوَما َكا َن لبَ َشر أَ ْن يُ َكلِّ َمهُ اللهُ إال َو َْيًا أ َْو م ْن َوَراء َ َجاب أ َْو يُْرس َُ َر ُسوال فَيُوَ َي بإ ْذنه َما يَ َشاء‬
)١١( ‫يم‬ ِ ِ ِ
ٌ ‫إنَّهُ َعل ٌّي ََك‬
Artinya: Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah
berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau
dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat)
lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia

28
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah : Pesan, kesan dan keserasian, Jilid 7, Jakarta:Lentera Hati,
2002, hal. 95
29
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah…,hal 96
30
Lihat Qs. Asy-Syu’ara ayat 193-194

15
kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.
(Qs. Asy-Syura [42] : 51)31

Kaum muslimin juga ikut memelihara otentisitas Al-Qur’an dengan banyak

cara baik dengan menghafalnya, menulis dan membukukannya, merekamnya

dalam berbagai alat seperti piringan hitam, kaset, CD, dan lain-lain ini disamping

memelihara makna-makna yang dikandungnya. Karena itu bila ada yang salah

dalam menafsirkan maknanya kesalahan yang tidak dapat ditoleransi atau yang

keliru dalam membacanya, maka akan tampil sekian banyak orang yang

meluruskan kesalahan dan kekeliruan itu, apa yang dilakukan manusia itu tidak

terlepas dari taufik dan bantuan Allah Swt guna pemeliharaan kitab suci umat

Islam itu.

Para ulama menggarisbawahi perbedaan antara Al-Qur’an dan kitab suci yang

lalu dari segi pemeliharaan otensititasnya yang ditugaskan memelihara kitab suci

yang lalu adalah para penganutnya (saja).

ِ ِ َِّ ِ َّ ِ ِ ِ ِ
‫األَبَ ُار‬
ْ ‫ادوا َوالَّربَّانيُّو َن َو‬ُ ‫ين َه‬ َ ‫َسلَ ُموا للذ‬
ْ ‫ين أ‬َ ‫ور يَ ْح ُك ُم ب َها النَّبيُّو َن الذ‬ ٌ ُ‫إنَّا أَنْ َزلْنَا الَّ َّْوَرا َة ف َيها ُه ًدى َون‬
‫اخ َش ْو ِن َوال تَ ْشََّ ُروا بِييَاتِي‬ ِ ِ َّ ِ ِ ِ ِ
ْ ‫َّاس َو‬
َ ‫اسَُّ ْحفظُوا م ْن كََّاب الله َوَكانُوا َعلَْيه ُش َه َداءَ فَال تَ ْخ َش ُوا الن‬ ْ ‫بِ َما‬
)١١( ‫ك ُه ُم الْ َكافُِرو َن‬ ِ
َ ِ‫ثَ َمنًا قَليال َوَم ْن لَ ْم يَ ْح ُك ْم بِ َما أَنْ َزَل اللَّهُ فَأُولَئ‬
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya
(ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab
itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang
menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan
pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan
memelihara Kitab-Kitab Allah dan mereka menjadi saksi
terhadapnya. karena itu janganlah kamu takut kepada manusia,
(tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-
ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu
adalah orang-orang yang kafir.(Qs. Al-Maidah [5]:44)32

31
Lihat Qs. Asy-Syura ayat 51
32
Lihat Qs. Al-Maidah ayat 44

16
Selanjutnya karena penganut kitab suci itu lengah, dan tidak melaksanakan

tugas mereka dengan baik, maka kitab-kitab suci tersebut hilang atau berubah

dengan penambahan, pengurangan dan pemutarbalikkan. Adapun Al-Qur’an

karena Allah Swt yang secara langsung menegaskan bahwa Allah terlibat dalam

pemeliharaannya, maka insya Allah Al-Qur’an akan langgeng tanpa perubahan

sedikitpun.33

Sejak dahulu hingga kini sekian banyak orang bahkan anak-anak sebelum

dewasa telah mampu menghafal keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an, bahkan sekian

banyak diantara mereka yang menghafalnya adalah orang-orang yang tidak

memahami artinya. Bahkan tidak jarang mereka yang berhasil meraih juara dalam

musabaqah-musabaqah tilawatil Qur’an pada tingkat internasional adalah

pemuda-pemuda yang bahasa ibunya bukan bahasa Al-Qur’an.

Sementara orang entah dengan maksud baik atau buruk pernah memasukkan

satu kalimat dalam rangkaian ayat-ayat Al-Qur’an. Kalimat itu adalah shalla

Allahu ‘alaihi wa sallam yang mereka tambahkan pada Qs. Al-Fath [48]: 29 yang

berbunyi Muhammadun Rasulullah. Sisipan kata itu sebenarnya merupakan

penghormatan kepada Nabi Saw dan anjuran untuk diucapkan setiap mendengar

nama beliau. Tetapi walaupun demikiania tidak dibenarkan untuk ditambahkan

kedalam Al-Qur’an dan ketika itu juga Mushaf yang mengandung tambahan itu

dimusnahkan.

Dari hari kehari bertambah jelas bukti-bukti kebenaran janji tersebut berkat

kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan dalam

pemeliharaannya. Dahulu ketika turunya ayat ini, pernyataan tersebut baru

33
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah…, hal 96

17
merupakan janji sebagaimana dipahami dari bentuk kata (‫حافِظُو َن‬
َ َ‫ )ل‬tetapi kini

setelah berlalu lebih dari seribu lima ratus tahun, janji itu telah menjadi kenyataan

walaupun sekian banyak upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk

mengubah atau menghapusnya dan walaupun upaya tersebut dilaksanakan pada

masa-masa umat Islam dalam keadaan lemah dan dijajah. Orang-orang yahudi

yang memiliki pengalaman dan keahlian dalam mengubah dan memalsukan kitab

suci, walaupun berhasil memalsukan ribuan hadits-hadits Nabi Muhammad saw,

serta memutarbalikkan sejarah Islam, tetapi sedikit pun mereka tidak berhasil

melakukan perubahan terhadap Al-Qur’an. Ini semua adalah bukti kebenaran janji

Allah Swt itu.34

Menurut pemahaman penulis maksud dari ayat ini dengan merujuk tafsir Al-

Misbah bahwa ayat ini mempunyai dhamir ‫ح ُن‬


ْ َ‫ ن‬dalam bentuk jamak yang

mengisyaratkan bahwa dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an ada keterlibatan

selain Allah Swt yaitu malaikat jibril yang diberi tugas menyampaikan ayat-ayat

Al-Qur’an dari Allah swt kepada Nabi Muhammad Saw. Allah menjamin dan

manusia ikut terlibat dalam menjaga kemurniaan Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an

yang dibaca oleh Nabi Saw dulu, itulah yang kita baca sekarang tanpa adanya

tambahan dan pengurangan.

Banyak cara yang dilakukan oleh umat muslim dalam menjaga kemurniaan

Al-Qur’an, yaitu dengan cara menghafal, menulis, membukukannya dan

merekamnya dalam bentuk kaset, CD dan lainnya . Dan ini merupakan jaminan

bahwa Al-Qur’an terjaga kemurniannya sampai sekarang, itu sebabnya Allah akan

mempermudah orang yang menghafal Al-Qur’an.

34
M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah …, hal 97

18
2. Wahbah Az-Zuhaili (Tafsir Al-Munir)

)٩( ‫الذ ْكَر َوإِنَّا لَهُ لَ َحافِظُو َن‬


ِِّ ‫إِنَّا نَحن نََّزلْنا‬
َ ُْ
Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(Qs. Al-Hijr 15:
9)35

a. Mufradaat Lughawiyyah

ِِّ ‫ إِنَّا نَحن نََّزلْنا‬sesungguhnya kami benar-benar menurunkan Al-Qur’an ini


‫الذ ْكَر‬ َ ُْ

adalah sanggahan terhadap pengingkaran dan olok-olokkan mereka. ُ‫َوإِنَّا لَه‬

‫ لَ َحافِظُو َن‬dan kami yang benar-benar menjaga dan memelihara Al-Qur’an dari

pengubahan dan dari usaha menambah dan mengurangi. Hal itu diantaranya

adalah dengan menjadikan Al-Qur’an suatu mukjizat yang berbeda dari

perkataan manusia. Jika ada suatu pengubahan, pasti akan dengan sangat

mudah bisa diketahui oleh orang-orang yang paham bahasa Arab. Atau

maksudnya adalah tidak akan pernah ada suatu kekurangan sedikitpun yang

bisa masuk kedalamnya dengan adanya jaminan penjagaan terhadapnya.36

b. Tafsir dan Penjelasan

Ayat ini masih berhubungan dengan ayat sebelumnya yang melanjutkan

penjelasan dari ayat sebelumnya yaitu: kemudian, Allah Swt menjawab

ِِّ ‫ إِنَّا نَحن نََّزلْنا‬Allah lah yang telah menurunkan Al-


pertannyaan mereka ‫الذ ْكَر‬ َ ُْ

Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw, dan dia yang menjaganya dari

pengubahan. Silahkan kalian mengatakan bahwa Muhammad gila, namun

35
Lihat Qs. Al-Hijr ayat 9
36
Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir, Jilid 7, Jakarta: Gema Insani, 2013, hal. 282

19
kami mengatakan bahwa kami yang menurunkan dan menjaga Al-Qur’an. Ini

adalah keistimewaan Al-Qur’an karena Allah Swt telah menjamin untuk

menjaga dan memeliharanya sepanjang masa. Beda dengan kitab-kitab

terdahulu, para rahib dan pendeta yang diperintahkan untuk menjaganya justru

menodainya, menyalahgunakannya, dan menggantinya. Bahkan kitab-kitab

terdahulu yang asli telah hilang tanpa diketahui jejaknya.37 Menurut

pemahaman penulis dengan merujuk tafsir Al-Munir bahwa ayat ini

menjelaskan sesungguhnya Allah lah yang menurunkan Al-Qur’an kepada

Nabi Muhammad Saw dan Allah juga akan menjaganya dan memeliharanya

sepanjang masa dari pengubahan baik menambah maupun mengurangi. Sebab

itulah Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang sangat istimewa.

Berbeda dengan kitab-kitab yang terdahulu banyak dari mereka yang

diperintahkan untuk menjaganya justru menodainya, menyalahgunakannya,

dan menggantinya. Bahkan kitab-kitab yang terdahulu yang asli telah hilang.

37
Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir…, hal 284

20

Anda mungkin juga menyukai