0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien DSS

askep

Diunggah oleh

icurswhk88
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan25 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien DSS

askep

Diunggah oleh

icurswhk88
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGUE SYOK SYNDROM (DSS)

Disusun Oleh:

ALFAERA NOVEN DONILLA [Link]

20721042
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Segala puji
syukur bagi Allah SWT yang dengan ridho-Nya saya dapat menyelesaikan Laporan
Pendahuluan ini dengan baik dan lancar. Shalawat serta salam semoga tetap
tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang kita tunggu syafa’atnya
di akhirat kelak.

Laporan Pendahuluan ini disusun untuk memenuhi presentasi asuhan


keperawatan. Dalam laporan pendahuluan ini saya membahas tentang “DENGUE SYOK
SYNDROM (DSS)” yang dibuat menurut referensi yang telah dicari dan dikumpulkan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan Laporan Pendahuluan


ini jauh dari sempurna baik dari segi teknik maupun isi. Atas segala kekurangan dalam
penulisan ini, mohon untuk dimaklumi. Penulis mengharap kritik dan saran dari
pembaca agar dapat memperbaiki kesalahan yang ada di lain kesempatan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Blitar, 18 September 2024

Alfaera Noven Donilla [Link].

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Demam dengue adalah suatu penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditransmisikan ke manusia
melalui gigitan nyamuk. Perantara utama penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti dan pada tingkat
yang lebih rendah adalah nyamuk Aedes albopictus.1 Virus dengue (DENV) termasuk genus Flavivirus, famili
Flaviridae, dan terdiri dari empat serotipe DENV (DENV-1, DENV-2, DENV-3, DENV-4).2 (Marvianto et al., 2023).

Syok pada penyakit DBD yang dikenal dengan Dengue Shock Syndrome (DSS)merupakan syok
hipovolemikyang dapat mengakibatkan gangguan sirkulasi dan membuat penderita tidak sadar kerena
hilangnya cairan plasma (Harisnal, 2021). Dengue Shock Syndrome (DSS) yaitu terjadinya kegagalan
sirkulasi darah karena plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah yang mengakibatkan darah semakin
mengental yang ditandai dengan denyut nadi yang lemah dan cepat, disertai hipotensi dengan tanda kulit yang
teraba dingin dan lembab serta penderita tampak gelisah hingga terjadinya syok/renjatan berat
(denyut nadi menjadi tidak teraba, dan tekanan darah tidak terukur) (WHO., 2022). Apabila tidak segera
mendapatkan tindakan yang tepat, DSS bisa menyebabkan berbagai komplikasi penyakit hingga yang terburk
adalah kematian (Hafizh & Lubis, 2021).
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa prevalensi DSS di Indonesia mengalami peningkatan selama 50
tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang siklik. Puncak peningkatan kasus berkisar tiap 6-8 tahun
Sebaliknya, case fatality rate telah menurun setengahnya setiap dekade sejak 1980. Pulau Jawa
menyumbangkan rata-rata kasus demam berdarah dengue tertinggi setiap tahunnya. Dalam beberapa tahun
terakhir, Bali dan Kalimantan memiliki tingkat insiden tertinggi sementara Pulau Papua, wilayah paling timur
kepulauan Indonesia, memiliki tingkat insiden terendah.7 Prevalensi kasus infeksi dengue primer dan sekunder
berbeda-beda bergantung lokasi geografisnya. Sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan prevalensi
kasus dengue sekunder dan primer secara global. (Marvianto et al., 2023).
Pasien DSS biasanya mengalami demam tinggi, penurunan jumlah trombosit secara drastis (Wang et al.,
2019), sakit kepala, mual, muntah, nyeri sendi dan ruam pada kulit (Pare et al., 2020). Hal ini dapat menyebabkan
beberapa orang tua meremehkan tingkat keparahan penyakitnya dan hanya memberikan obat, menunggu
beberapa hari sebelum membawa pasien ke dokter atau pusat kesehatan. Jika pasien tidak dirujuk dan dirawat

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


dengan segera, kondisinya bisa menjadi kritis (Wang et al., 2019). Pasien dengan DHF yang tidak diobati bisa
terjadinya Dengue Shock Syndrome (DSS), dimana bisa 3 mengakibatkan kematian mencapai 40%. Ini disebabkan
karena pasien terkena hipovolemia atau defisit volume cairan dari adanya peningkatan permeabilitas kapiler, dan
menyebabkan darah bocor keluar dari pembuluh darah (Pare et al., 2020).
Umumnya, lingkungan dan perilaku manusia berperan besar dalam menjadi penyebab utama DSS. Ini
terjadi ketika manusia tidak membersihkan bak air dan membiarkan genangan air di sekitar rumah mereka. (Wang
et al., 2019). Dalam hasil penelitian yang dilaksanakan oleh (Asri et al., 2017), faktor perilaku seperti sikap,
pengetahuan, serta tindakan berpengaruh terhadap penyebaran DSS, selain faktor vektor dan lingkungan. Perilaku
masyarakat juga berperan penting dalam penularan penyakit DSS, tetapi perilaku yang tepat harus didorong
dengan, sikap, pengetahuan dan tindakan yang tepat. Namun, saat ini ada pendapat dalam masyarakat yang
menjelaskan adanya tindakan kurang tepat, seperti menganggap jika DSS hanya dialami dalam wilayah yang
kumuh dan bahwa pengasapan atau fogging yaitu sebuah cara sebagai pencegahan demam berdarah. Padahal,
pemerintah telah melakukan berbagai program pencegahan, termasuk aktivitas Pemberantasan Sarang Nyamuk
(PSN) memakai metode 3M Plus yang merupakan metode yang terefektif dan terefisien sampai saat ini (Kemenkes
RI, 2022).
Dari hasil pemaparan masalah pada paragraf sebelumnya maka penulis tertarik untuk membuat laporan
yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS (Dengue Syok Syndrom)”, Dengan
demikian maka penulis dapat menambah wawasan serta menyumbangkan informasi tambahan guna untuk
mengembangkan asuhan keperawatan pada pasien dengan DSS (Dengue Syok Syndrom)”

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH


Sebagaimana yang telah diuraikan pada latar belakang, maka rumusan masalah ini adalah bagaimanakah asuhan
keperawatan pada pasien dengan Dengue Syok Syndrome (DSS)?

1.3 TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan tugas ini mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnose
Dengue Syok Syndrome (DSS)

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


2. Tujuan Khusus
a. Mampu menyusun pengkajian pada pasien Dengue Syok Syndrome (DSS).
b. Mampu menegakkan diagnose keperawatan pada pasien Dengue Syok Syndrome (DSS).
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada pasien Dengue Syok Syndrome (DSS).
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien Dengue Syok Syndrome (DSS).
e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan pada pasien Dengue Syok Syndrome (DSS).

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1Definisi Dengue Syok Syndrome (DSS)


Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah penyakit demam akut yang disertai dengan adanya
manifestasi perdarahan, yang bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat menyebabkan
kematian (Mansjoer :2022). Dengue shock syndrome atau dengue haemorrhagic fever adalah komplikasi
dari demam berdarah dengue yang sudah parah.

Demam berdarah merupakan penyakit infeksi akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti. Bila kasusnya
ringan, demam berdarah akan menimbulkan demam dan gejala lain yang serupa dengan gejala flu.
Namun, pada orang yang mengalami dengue shock syndrome, gejala yang muncul bisa lebih serius dan
bahkan dapat berujung pada perdarahan, syok (penurunan tekanan darah secara tiba-tiba, hingga
kematian).Kasus demam berdarah banyak ditemukan pada negara yang terletak di daerah tropis dan
subtropis. Hingga saat ini, Indonesia masih termasuk dalam salah satu wilayah endemik [Link] artinya,
penyakit demam berdarah sudah menjadi wabah penyakit yang selalu ada dan biasa ditemukan di
masyarakat Indonesia.

Dengue Syok Sindrom (DSS) adalah kasus demam berdarah dengue disertai dengan manifestasi
kegagalan sirkulasi/ syok/ [Link] Syok Syndrome (DSS) adalah sindroma syok yang terjadi
pada penderita Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD).DSS terjadi
pada penderita DBD derajat III dan [Link] klinik yang menunjukkan ancaman terjadinya syok
adalah hipotermi, nyeri perut, muntah dan penderita gelisah. Pada DBD derajat III terdapat tanda-tanda
terjadinya syok (DSS), yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, gelisah, sianosis sekitar mulut,
kulit teraba dingin dan lembab, terutama pada ujung hidung, jari tangan dan kaki, sedangkan pada DBD
derajat IV, pasien sedang mengalami syok, terjadi penurunan kesadaran, nadi tidak teraba dan tekanan
darah tidak terukur (Setiawati, 2021).
2.2 Etiologi
Dengue merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue, yang ditularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Virus ini terdapat dalam empat serotipe berbeda, masing-

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


masing dengan potensi menyebabkan berbagai manifestasi klinis dan tantangan kesehatan yang berbeda.
Memahami berbagai jenis virus dengue sangat penting untuk upaya pencegahan dan pengobatan yang efektif.

2.2.1Jenis-Jenis Virus Dengue

1. Dengue Virus Serotipe 1 (DENV-1)


DENV-1 adalah salah satu dari empat serotipe virus dengue yang telah diidentifikasi. Serotipe ini
adalah yang pertama kali ditemukan dan dilaporkan secara luas. Infeksi dengan DENV-1 dapat
menyebabkan gejala dengue klasik seperti demam tinggi, nyeri otot, dan ruam. Walaupun umumnya
tidak lebih berat dibandingkan dengan serotipe lainnya, infeksi DENV-1 dapat menurunkan kekebalan
terhadap infeksi serotipe lain, yang dapat meningkatkan risiko terkena dengue berat pada infeksi
berikutnya.

2. Dengue Virus Serotipe 2 (DENV-2)


DENV-2 dikenal karena kemampuannya untuk menyebabkan bentuk infeksi dengue yang lebih serius,
seperti dengue berat atau dengue dengan shock (Dengue Shock Syndrome, DSS). Infeksi dengan
DENV-2 dapat menimbulkan gejala lebih parah dan meningkatkan risiko terjadinya komplikasi, seperti
perdarahan dan penurunan tekanan darah yang dapat mengancam nyawa. Kadar infeksi DENV-2
cenderung meningkat di beberapa daerah endemis dan sering menyebabkan wabah besar.

3. Dengue Virus Serotipe 3 (DENV-3)


DENV-3 dapat menyebabkan gejala yang serupa dengan serotipe lainnya, namun infeksi ini memiliki
potensi untuk menyebabkan dengue berat jika terpapar kembali dengan serotipe lain. Infeksi dengan
DENV-3 juga berhubungan dengan risiko terjadinya fenomena pemantulan kekebalan (immune
enhancement) yang memperburuk gejala saat terinfeksi serotipe lain di masa depan.

4. Dengue Virus Serotipe 4 (DENV-4)


DENV-4 merupakan serotipe terbaru yang diidentifikasi dan, seperti serotipe lainnya, dapat
menyebabkan berbagai tingkat keparahan penyakit. DENV-4 sering kali kurang dikenal di beberapa
daerah dibandingkan dengan serotipe lain, tetapi tetap dapat menyebabkan infeksi serius.
Keterpaparan awal terhadap DENV-4 dapat mengakibatkan peningkatan kerentanan terhadap infeksi
serotipe lain di masa depan.

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


2.3Klasifikasi
Berdasarkan lokasi gejala,DSS terbagi dalam empat derajat menurut WHO (Andriyani, et al., 2021) yaitu:
1. Derajat I: Demam dengan adanya manifestasi perdarahan dalam pengujian trombositopenia,
himokonsentrasi, tourniquet positif. 12
2. Derajat II: Derajat I serta terjadi perdarahan spontan dalam kulit ataupun yang lainnya.
3. Derajat III: terjadi gagalnya sirkulasi, dan ditandai dengan lemahnya nadi, hipotensi, gelisah dan kulit yang
dingin.
4. Derajat IV: Sirkulasi terjadi kegagalan, tekanan darah tidak teratur dan nadi tidak teraba,
4.4 Patofisiologi
Sesudah virus dengue masuk ke dalam tubuh penderita, dapat menyebabkan kondisi viremia.
Keberadaan virus dalam darah akan merangsang pusat pengatur suhu di hipotalamus, yang kemudian
memicu pelepasan zat seperti thrombin, serotonin, bradikinin, dan histamin. Reaksi ini mengakibatkan
demam. Selain itu, dapat juga menyebabkan pelebaran dinding pembuluh darah, sehingga terjadi
perpindahan cairan dan plasma dari dalam pembuluh darah ke ruang antar sel (intersisial). Hal ini dapat
menyebabkan hipovolemia atau penurunan volume cairan dalam sirkulasi. Selain itu, trombositopenia
(penurunan jumlah trombosit) dapat terjadi sebagai respons dari sistem kekebalan tubuh yang menghasilkan
antibodi melawan virus, yang mempengaruhi produksi trombosit dalam tubuh (Candra, 2019).
Pada pasien yang mengalami trombositopenia, gejala yang muncul meliputi perdarahan pada kulit
terjadi pendarahan atau petekia pada mukosa yang ada dalam mulut. Kondisi tersebut menyebabkan
gangguan dalam kekebalan tubuh yang menjalankan melakukan mekanisme hemostasis engan normal. Hal
ini bisa menyebabkan perdarahan, serta apabila tidak ditangani dengan baik, dapat menyebabkan syok. Virus
dengue memiliki masa inkubasi dalam 3 sampai 15 hari, dengan rata-rata 5 sampai 8 hari. Virus ini masuk
dalam tubuh seseorang dalam gigitan nyamuk Aedes aegypti. Sesudah masuk ke tubuh, virus menyebabkan
viremia yang berdampak pada penderita terjadi sakit kepala, demam, nyeri otot, mual, bintik merah, ruam,
pembesaran kelenjar getah bening, hipermia tenggorokan serta bisa mengakibatkan adanya pembesaran
hati (hepatomegali) (Candra, 2019).
Setelah terbentuknya kompleks virus-antibodi, kompleks tersebut akan beredar pada sirkulasi serta
mengaktifkan sistem komplemen. Pengaktivan C3 dan C5 dalam sistem komplemen menghasilkan peptida
C3a dan C5a, yang berperan menjadi mediator kuat untuk meningkatkan permeabilitas 11 dinding kapiler

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


pembuluh darah. Hal ini menyebabkan perpindahan plasma dari dalam pembuluh darah ke ruang
ekstraseluler. Perpindahan plasma ini mengakibatkan kekurangan volume plasma, yang pada gilirannya
menyebabkan hipotensi (tekanan darah rendah), hemokonsentrasi (peningkatan konsentrasi zat terlarut
dalam darah), hipoproteinemia (penurunan kadar protein dalam darah), dan renjatan serta efusi (syok).
Hemokonsentrasi, yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai hematokrit (>20%), merupakan indikator
kebocoran pembuluh darah, dan nilai hematokrit ini penting dalam menentukan pemberian cairan intravena
yang tepat (Candra, 2019).
Bocornya plasma ke dalam ruang ekstra vaskuler dapat terbukti ari adanya penumpukan cairan pada
rongga serosa, seperti rongga pleura, peritonium, serta perikardium. Dalam otopsi, jumlah cairan yang
ditemukan dalam rongga-rongga tersebut melebihi jumlah cairan yang diambil dalam infus. Sesudah
memberikan pemberian intravena, meningkatnya trombosit ditunjukkan dari kebocoran plasma yang telah
diatasi. Oleh karena itu, dalam memberikan cairan intravena perlu dilakukan pengurangan dalam hal jumlah
dan kecepatannya, agar bisa digunakan sebagai pencegahan adanya gagal jantung dan edema paru. Namun,
apabila pasien tidak memperoleh cairan yang baik, mereka bisa terjadi kekurangan cairan yang bisa
menyebabkan keadaan yang tidak baik sampai dengan renjatan. Jika renjatan atau hipovolemia berlangsung
dalam jangka waktu yang lama, dapat terjadi kekurangan oksigen dalam jaringan, asidosis metabolik, dan
akhirnya kematian jika tidak ditangani secara maksimal (Candra, 2019)
4.5 Manifestasi Klinis

Menurut (Amir et al., 2021), manifestasi klinis Dengeu Syok Syndrome (DSS) yaitu:

a. Demam terjadi secara mendadak dengan suhu tinggi 40℃ berlangsung 2 sampai 7 hari.

b. Perdarahan biasa terjadi pada demam hari ke-2 dan ke-3 menggunakan uji tourniquet menghasilkan ptekia
(bintik-bintik merah yang disebabkan intradernal), purpura (perdarahan pada kulit), epitaksis (mimisan),
perdarahan gusi.

c. Trombositopenia (<100.000)

d. Nyeri otot dan sendi bersamaan dengan leukopenia, ruam, lemfadenofati.

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


e. Adanya perembesan plasma dengan bertanda hemokonsentrasi ataupun menumpuknya cairan di rongga
tubuh.

f. Renjatan (syok), biasa dialami dalam hari ke 3 saat awal demam, tanda kegagalan dari sirkulasi yakni dingin,
kulit lembab dalam jari tangan, ujung hidung, serta hari kaki dan sianosis di sekitar mulut.

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


4.6Pathway

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


4.7 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang merupakan salah satu bagian untuk mendiagnosa suatu penyakit, disamping
dikaji terkait pemeriksaan fisik dan tanda gejala yang dialami pasien. Pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada pasien DSS sebagai berikut :
4.7.1 Hasil laboratorium
✓ Trombosit menurun <100.000/ µ (pada hari sakit ke 3 — 7

✓ Hematokrit meningkat 20% atau lebih

✓ Albumin cenderung menurun


✓ SGOT, SGPT sedikit meningkat

✓ Asidosis metabolik pada lab BGA (pc02 < 35 — 40 mmHg, HCO3 menurun.

✓ Dengue blatIgM positif IgG positif pada hari ke 6.

✓ NS 1 positif

4.7.2 Foto rontgen

Pemeriksaan foto thorax RLD (Right Lateral Dext) : Efusi Pleura

4.7.3 USG

Pada pemeriksaan USG biasanya ditemukan :

✓ Asites dan Efusi pleura

✓ Hepatomegali

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


4.8PENATALAKSAAN MEDIS

Sedangkan penatalaksanaan Dengue syok syndrom (DSS) menurut UPF IKA, 2021; 203 — 206 adalah :

4.8.1 Hiperpireksia (suhu 400C atau lebih) diatasi dengan antipiretika dan “surface cooling”. Antipiretik
yang dapat diberikan ialah golongan asetaminofen,asetosal tidak boleh diberikan pada :

- Umur 6 — 12 bulan : 60 mg / kali, 4 kali sehari.

- Umur 1 — 5 tahun : 50 — 100 mg, 4 sehari.

- Umur 5 — 10 tahun : 100 — 200 mg, 4 kali sehari.

- Umur 10 tahun keatas : 250 mg, 4 kali sehari.


 Infus cairan ringer laktat dengan dosis 75 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 kg
atau 50 ml / kg BB / hari untuk anak dengan BB < 10 10 kg bersama — sama di berikan
minuman oralit, air bauh susu secukupnya.
 Untuk kasus yang menunjukan gejala dehidrasi disarankan minum sebanyak —
banyaknya dan sesering mungkin. Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya
jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita
dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut :
 100 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB < 25 kg
 75 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 26 — 30 kg.
 60 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 31 — 40 kg.
 50 ml/kgBB/24 jam, untuk anak dengan BB 41 — 50 kg.
4.8.2 Obat-obatan lain :
 Antibiotika apabila ada infeksi sekunder lain.
 Antipiretik untuk anti panas.
 Darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat.

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a. Data Umum
1. Identitas : Umur, Alamat (daerah endemis, lingkungan rumah / sekolah ada yang
terkena DB)
2. Riwayat Kesehatan
3. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas, muntah,
epistaksis, pendarahan gusi.
4. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah
sakit) : kapan mulai panas?
5. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh pasien)
6. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat genetic atau tidak)
7. Riwayat tumbuh kembang: adakah keterlambatan tumbuh kembang?
8. Riwayat imunisasi
b. Pola Kesehatan Fungsional
1) Pola presepsi dan pemeliharaan kesehatan

Berupa pemahaman tentang bagaiaman klien memelihara sebuah


kesehatan serta memahami tentang bagaiaman upaya yang dilakukan untuk
memelihara suatu kesehatan
2) Pola nutrisi dan metabolic

Pola nutrisi dan metabolik berupa bagaimana pola makan sebelum sakit
dan pada saat sakit apakah pola makan klien terganggu ataupun ada

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


penurunan
3) Pola elimiasi
Berupa seberapa frekuensi pola BAB dan BAK klen

4) Pola aktivitas dan latian

Tentang bahgaiaman pola aktivitas sehari hari dalam kegiatan ataupun


pekerjaan apakah ada keluhan yang muncul setelah melakukan aktivitas
5) Pola istirahat dan tidur

Bagaimana kebiasaan tidur adakah keluhan kesulitan tidur ataupun


tidak dan seberapa lama waktu tidur
6) Pola kognitif-preseptual sensori

Adakah suatu keluhan yang berkaitan dengan kemampuan sensori,


serta kaji tentang nyeri dengan menngguanakn P,Q,R,S,T
7) Pola presepsi diri dan konsep dir

Tinjau harapan klien terhadap setelah terapi serta penilaian mereka


terhadap pemikiran mereka terkait hal yang terjadi kini.
8) Pola mekanisme koping

Menggambarkan mekanisme koping, stresor, dan adanya dukungan mental

9) Pola seksual reproduksi

Menggambarkan pemahaman klien tentang fungsi seksual dan


menentukan apakah masalah hubungan seksual menjadi perhatian serta
pengkajian terhadap perempuan tentang riwayat menstruasi
10) Pola peran berhubungan dengan orang lain

Menjelaskan bagaiaman klien membangun relasi dengan individu di


sekitarnya dan kemampuan dalam berkomunikasi

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


11) Pola nilai dan kepercayaan

Tentang bagaiaman klien melaksanakan aktivitas agama atau


kepercayaannya adakah suatu pertentengan antara kepercayaan dengan
pengobatan Kesehatan.
C. Pemeriksaan Fisik (head to toe)
1. Kesadaran

Composmentis, apatis, delirium, somnolen, sopor, semi coma, coma.

2. Penampilan

Tampak lemah, lesu

3. Vital sign

Suhu, tekanan darah, respirasi, dan nadi

4. Kepala

Bentuk kepala, warna rambut serta kebersihan adanya ketombe atau


rambut yang rontok

5. Mata

Pemeriksaan mata dilakukan meliputi kemampuan penglihatan, reaksi


pupil terhadap cahaya, konjungtivitas anemis dan apakah memakai alat bantu
peneglihatan

6. Hidung

Bagaiamana kebersihan hidung apakah terdapat secret, adakah polip,


adakah memakai oksigen, adakah nafas cuping hidung

7. Telinga

Pemeriksaan dilihat apakah simetris antara telinga kanan dan kiri,


Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS
adakah gangguan pendengaran, apakah memakai alat bantu pendengaran

8. Mulut dan tenggorokan

Kaji tentang adakah kesulitan bicara, pemeriksaan gigi, adakah


kesulitan mengunyah makanan, adakah kesulitan menelan makanan, adakah
benjolan dileher.

9. Dada

 Jantung : inspeksi,
palpasi, perkusi, auskultasi

 Paru paru : inspeksi, palpasi,


perkusi, auskultasi

 Abdomen : inspeksi, palpasi,


perkusi, auskultasi

10. Genetalia

kaji kebersihan genetalia, adanya luka atau infeksi, dan kajiapakah terpasang

Kateter

11. Ekstermitas atas dan bawah

Bagaiamana kemampuan fungsi esktermitas apakah ada kelainan


gerak dan kekuatan otot

12. Kulit

Kaji tentang kebersihan, warna, turgot, dan adakah edema

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


3.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya.
Diagnosa keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu,
keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan masalah
kesehatan.
Diagnosa yang mungkin muncul dari hasil pengkajian dapat meliputi sebagai
berikut (Khoir & Clara, 2020):
1. Hipertermi b/d proses infeksi virus dengue (viremia)
2. Ketidakseimbangan volume cairan b/d perpindahan cairan dari
intravaskuler ke ekstravaskuler
3. Resiko perdarahan b/d trombisitopenia
4. Resiko Jatuh b/d kekuatan otot menurun
3.3 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan merupakan tindakan yang dilakukan perawat yang
didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai tujuan dan
memberikan asuhan keperawatan sehingga akan mempengaruhi kondisi yang
diharapkan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2020).
1. Hipertermi
TGL Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi

18/09/ Hipertermi berhubungan dengan: Tujuan Manajemen Hipertermi


1. Proses infeksi virus dengue Setelah dilakukan asuhan Observasi:
2024
Ditandai dengan. keperawatan..x.. menit - identifikasi penyebab
Data Subjektif: hipertermi turun dengan hipertermia (mis.
1. Mengeluh kulit terasa kriteria hasil: Dehidrasi, terpapar
hangat a. Kulit tidak lingkungan panas,
Data Objektif: kemerahan penggunaan incubator)
1. Suhu tubuh diatas nilai b. Tekanan darah - Monitor Suhu tubuh
normal membaik - Monitor Kadar elektrolit
2. Kulit merah c. Menggigil - Monitor haluaran urine
3. Kejang menurun - Monitor komplikasi
4. Takikardi d. Kejang menurun akibat hipertermia
5. Takipnea e. Konsumsi oksigen
6. Kulit terasa hangat menurun Teraupetik:
f. Hipoksia menurun - Sediakan
g. Suhu tubuh
lingkungan yang
membaik
h. Suhu kulit dingin
membaik
- Longgarkan atau
i. Pengisian kapiler
membaik lepaskan pakaian
j. Ventilasi membaik
- Basahi dan kipasi
permukaan
tubuh
- Berikan cairan
oral
- Ganti linen setiap
hari atau lebih
sering jika
mengalami
hyperhidrosis
(keringat
berlebih)
- Lakukan
pendinginan
eksternal (mis.
Selimut
- hipotermia atau
kompres dingin
pada dahi, leher,
dada, abdomen,
aksila)
Edukasi:
- Ajurkan tirah baring
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
intravena, jika perlu

2. Ketidakseimbangan Volume Cairan


TGL Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
18/09/ Ketidakseimbangan Volume Cairan Tujuan : Observasi:
berhubungan dengan Setelah dilakukan 1. Monitor status hidrasi
2024
1. Prosedur pembedahan mayor intervensi keperawatan
([Link], kekuatan
diharapkan tercapai
2. Penyakit ginjal dan kelenjar
keseimbangan cairan nadi, akral, pegisian
3. Luka bakar Kriteria hasil:
kapiler, kelembaban
1. Asupan cairan
4. Trauma / pembedahan
meningkat mukosa, turgor kulit,
5. Asites 2. Tekanan arteri rata-rata
tekanan darah)
membaik
6. Obstruksi intestinal
3. Mata cekung membaik 2. Monitor berat badan
7. Peradagan pankreas 4. Turgor kulit membaik
harian
5. Berat badan membaik
8. Disfungsi intestinal
6. Keluaran urine 3. Monitor berat badan
9. Pendarahan meningkat
sebelum dan sesudah
7. Asupan makanan
Ditandai dengan
meningkat dialisis
Data Subjektif:
8. Kelembaban mukosa
Tidak ada daftar Gejala di diagnosis 4. Monitor hasil
cukup meningkat
tersebut
9. Edema menurun pemeriksaan
10. Asites menurun
laboratorium
11. Dehidrasi menurun
12. Tekanan darah 5. Monitor status
membaik

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


13. Denyut nadi radial hemodianmik (mis.
membaik
MAP,CVP,PAP)
Teraupetik:
-Catat intake – output
dan hitung balance
cairan 24 jam
-Berikan asupan cairan
sesuai kebutuhan
-Berikan cairan intravena
jika perlu
Edukasi:
Tidak ada daftar
Intervensi-Edukasi di
diagnosis tersebut
Kolaborasi:
- Kolaborasi
pemberian
diuretic, jika
perlu

3. Resiko jatuh

TGL Diagnosis Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


18/09/ Risiko Jatuh Tujuan : Observasi
2024 Faktor Risiko:
Setelah dilakukan 1. Identifikasi faktor
1. Dewasa intervensi keperawatan risiko jatuh
selama …x… menit/jam
a. Usia > 65 tahun 2. Identifikasi masalah
tingkat jatuh menurun
fisik, kognitif dan
b. Riwayat jatuh Kriteria hasil : factor lingkungan
sebelumnya yang meningkatkan
1. Jatuh dari tempat risiko jatuh
c. Tinggal sendiri tidur menurun
3. Identifikasi riwayat
d. Penggunaan alat bantu 2. Jatuh saat berdiri jatuh sebelumnya
2. Anak menurun
4. Monitor
a. Usia <2 tahun 3. Jatuh saat duduk keseimbangan, gaya
berjalan pasien saat

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


b. Kurangnya pengawasan menurun ambulasi

3. Gangguan Kognitif 4. Jatuh saat berjalan 5. hitung Skor risiko


menurun jatuh menggunakan
4. Lingkungan tidak aman (mis.
skala morse dan
Licin, gelap, lingkungan 5. Jatuh saat
humpty dumpty
asing) dipindahkan
menurun 6. ...................................
5. Kondisi pasca operasi
....
6. Jatuh saat naik
6. Hipotensi ortostatik tangga menurun Terapeutik
7. Perubahan kadar glukosa 7. Jatuh saat dikamar 1. Orientasikan pasien
darah mandi menurun terhadap ruangan
8. Anemia 8. Jatuh saat
2. Pastikan roda
membungkuk
9. Kekuatan otot menurun tempat tidur dan
menurun
kursi roda selalu
10. Gangguan pendengaran dalam kondisi
terkunci
11. Gangguan keseimbangan
3. Intruksikan pasien
12. Gangguan penglihatan ( mis. dalam penggunaan
glaukoma,katarak,ablasio alat bantu untuk
retina,neuritis optikus) mobilisasi (kursi
roda, walker)
13. Neuropathy
4. Pasang pengaman
14. Efek agen farmakologis (mis.
bed, side rail
Sedasi, alkohol, anastesi
umum) 5. Dekatkan bel di
dekat pasien jika
tidak ada penunggu

6. Sediakan
pencahayaan yang
adekuat

7. Pasang gelang Risiko


Jatuh pada risiko
tinggi

Edukasi

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


1. Anjurkan
memamnggil
perawat jika
membutuhkan
bantuan untuk
berpindah

2. Anjurkan
menggunakan alas
kaki yang tidak licin

3. Anjurkan
peningkatan
pengawasan pada
anak

4. Anjurkan
melebarkan
kedua kaki
meningkatkan
keseimbangan saat
berdiri

Kolaborasi:

1. Minimal pemberian
obat yang memberikan
efek samping
meningkatkan resiko
jatuh.

1.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Implementasi keperawatan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
perawat untuk membantu pasien mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi
menjadi lebih baik dengan kriteria hasil sesuai yang diharapkan. Proses
pelaksanaan implementasi harus berfokus pada kebutuhan pasien dan
memastikan asuhan keperawatan yang efisien, aman dan efektif (Khoir & Clara,
2019).

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


1.5 EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses
keperawatan, tujuannya untuk mengetahui apakah tindakan keperawatan yang
telah dilakukan tercapai atau perlu pendekatan lain. Evaluasi keperawatan
merupakan tolak ukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan
keperawatan dalam pemenuhan kebutuhan pasien (Khoir & Clara, 2019).

Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien DSS


DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Y., & Leniwita, H. (2019). Modul Keperawatan Medikal Bedah II. Jakarta:
Universitas Kristen Indonesia.
Basri, B., Utami, T., & Mulyadi, E. (2020). Konsep Dasar Dokumentasi Keperawatan.
Bandung: Media Sains Indonesia.
Hafizh, M, S., & Lubis, M, D. (2021). Hubungan Gastroesophaheal Reflux Disease dengan
Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara. Sumatera Utara: Universitas Muhammadiyah
Sumatera Utara
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2020). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2020). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan
Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan
Perawat Nasional Indonesia.
Philipus et al. (2023). Pola hidup [Link]:Universitas Kristen Indonesia

Anda mungkin juga menyukai