Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN
PROBLEM SOLVING MODEL POLYA TERHADAP
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS
SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH RAMBAH
Hartik A’afiyati Kartini1, Marfi Ario2, Riska Novia Sari3
1,2,3 Universitas Pasir Pengaraian
hartik175@[Link]
Abstract The low mathematical problem-solving abilities of students are due to teacher-centered
learning and a lack of independent study habits. This study aims to examine the effect of Polya's problem-
solving approach on the mathematical problem-solving abilities of eighth-grade students at SMP
Muhammadiyah Rambah. This research is a quasi-experimental study using the Non-Equivalent
Posttest-Only Control Group Design. The population consists of all eighth-grade students at SMP
Muhammadiyah Rambah. Samples were selected using random sampling, resulting in class VIII-1 as the
experimental group and class VIII-2 as the control group. The experimental group used Polya's problem-
solving approach, while the control group received conventional instruction. Data on mathematical
problem-solving abilities were collected through tests administered at the end of the learning process,
using validated instruments that measured validity, difficulty level, discrimination power, and reliability.
Data analysis included hypothesis testing, preceded by a normality test. The normality test results
indicated that the data were not normally distributed, so the Mann Whitney test was used for hypothesis
testing. The results showed that Zcount = 4.95 > Ztable = 1.96 with α = 0.05, leading to the rejection of H0.
Therefore, it can be concluded that Polya's problem-solving approach significantly affects the
mathematical problem-solving abilities of eighth-grade students at SMP Muhammadiyah Rambah.
Keywords: mathematical problem-solving, polya model, quasi-experimental research
Abstrak Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa disebabkan oleh pembelajaran
yang masih berpusat pada guru dan kurangnya kebiasaan belajar mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk
menguji pengaruh pendekatan pemecahan masalah model Polya terhadap kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah. Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimen semu dengan desain The Non-Equivalent Posttest-Only Control Group Design. Populasi
terdiri dari semua siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah. Sampel dipilih menggunakan random
sampling, dengan kelas VIII-1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas VIII-2 sebagai kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen menggunakan pendekatan pemecahan masalah model Polya, sedangkan
kelompok kontrol menerima pembelajaran konvensional. Data tentang kemampuan pemecahan masalah
matematis dikumpulkan melalui tes yang diberikan di akhir proses pembelajaran, menggunakan
instrumen yang telah divalidasi untuk mengukur validitas, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan
reliabilitas. Analisis data termasuk pengujian hipotesis, yang didahului oleh uji normalitas. Hasil uji
normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga digunakan uji Mann Whitney
untuk pengujian hipotesis. Hasilnya menunjukkan bahwa Zhitung=4,95>Ztabel=1,96 dengan α=0,05, yang
mengarah pada penolakan H0. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pendekatan pemecahan
masalah model Polya secara signifikan mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah.
Kata-kata Kunci: pengaruh, pendekatan problem solving model Polya, kemampuan pemecahan
masalah matematis.
z
[Link] 17
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
PENDAHULUAN
Matematika dipandang mempunyai peran yang sangat penting dalam berbagai bidang disiplin
ilmu. Hal ini dikarenakan matematika merupakan ilmu pasti yang menjadi dasar bagi banyak
ilmu pengetahuan, beberapa ilmu pengetahuan penemuan dan pengembangannya bergantung
pada matematika. Sejauh ini tanpa adanya matematika, tak akan berkembang ilmu-ilmu lain
seperti fisika, biologi, kimia, akuntansi, ekonomi, ilmu komputer, ilmu teknik, dan lain
sebagainya, itulah mengapa matematika dikatakan sebagai ratunya ilmu pengetahuan atau
mathematic as the queen of science.
Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang wajib diberikan diseluruh jenjang
pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat SLTA bahkan sampai tingkat perguruan
tinggi. Pentingnya pembelajaran matematika pada semua jenjang pendidikan dikarenakan tujuan
yang akan dicapai dapat memengaruhi kemampuan siswa memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari-hari. Berdasarkan Depdiknas (2006) menyatakan bahwa tujuan mata pelajaran
matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah agar siswa mampu:
(1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan
konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. (2)
Menggunakan pemecahan masalah pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
matematika. (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
(4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk
memperjelas keadaan atau masalah. (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta
sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Demikian pula tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran matematika oleh National Council of
Teachers of Mathematics (NCTM). NCTM dalam Effendi (2012) menetapkan lima standar
kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah
(problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection),
kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation). Berdasarkan
uraian tersebut, salah satu dari tujuan pendidikan Indonesia adalah siswa memiliki kemampuan
pemecahan masalah.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dimiliki oleh setiap siswa karena (a)
pemecahan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika, (b) pemecahan masalah
yang meliputi metoda, prosedur dan strategi merupakan proses inti dan utama dalam kurikulum
matematika, dan (c) pemecahan masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar
matematika (Branca dalam Sumartini, 2016). Pentingnya kemampuan pemecahan masalah
tersebut juga tercermin dalam kutipan Branca dalam Ulvah (2016) yang menyatakan bahwa
pemecahan masalah matematis merupakan salah satu tujuan penting dalam pembelajaran
matematika bahkan proses pemecahan masalah matematis merupakan jantungnya matematika.
Oleh karena itu, kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki siswa sebagai bekal
menghadapi berbagai permasalahan, baik itu masalah matematika itu sendiri, masalah bidang
studi lain, dan masalah dalam kehidupan sehari–hari.
Pada kenyataannya, kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia masih
tergolong rendah, hal ini terlihat dari hasil survey Programme for International Student Assesment
z
[Link] 18
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
(PISA) dan Trends International Mathematics and Science Study (TIMSS). Kemampuan pemecahan
masalah merupakan salah satu tolok ukur pencapaian kompetensi dalam kajian TIMSS dan
PISA. Hal ini dapat diidentifikasi dari soal-soal TIMSS dan PISA yang merupakan jenis soal
pemecahan masalah (Yulianti dalam Artinah, 2017).
Hasil survey PISA untuk kemampuan matematika dari setiap tahunnya, Indonesia selalu
mendapat skor di bawah rata-rata internasional dan peringkat bawah. Pada survey tersebut salah
satu aspek kemampuan pemecahan kognitif yang dinilai yaitu kemampuan pemecahan masalah
matematis (Tarudin dalam Artinah, 2017). Hasil studi PISA 2012, Indonesia berada di peringkat
ke-64 dari 65 negara peserta dengan skor rata-rata 375, sedangkan skor rata-rata internasional
494. Hasil studi PISA 2015, Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 70 negara peserta dengan
skor rata-rata 386 sedangkan skor rata-rata internasional 490 (OECD, 2016).
Disamping itu, Hasil studi TIMSS pada tahun 2015 berdasarkan data dari IEA
([Link] menyatakan bahwa Indonesia menempati peringkat 44 dari 49 negara
dengan skor rata-rata 397 dari skor rata-rata internasional yaitu 514. Soal-soal matematika dalam
studi TIMSS mengukur tingkatan kemampuan siswa dari sekedar mengetahui fakta, prosedur
atau konsep sampai dengan menggunakannya untuk memecahkan masalah yang sederhana
maupun masalah yang memerlukan pemecahan masalah tinggi (Wahyudi, 2015)
Berdasarkan hasil survey PISA dan TIMSS terlihat bahwa nilai rata–rata Indonesia masih
tertinggal dari nilai rata–rata Internasional, data ini membuktikan bahwa kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia masih tergolong rendah. Adapun untuk
lingkup yang lebih kecil, berdasarkan hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis yang
telah diberikan kepada siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah menunjukkan bahwa
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih tergolong sangat rendah.
Berdasarkan hasil observasi di SMP Muhammadiyah Rambah menunjukkan bahwa penyebab
rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, yaitu pertama selama ini proses
pembelajaran masih berpusat pada guru dan siswa sebagai pendengar hanya sebatas menerima
materi serta lebih banyak menghafal konsep pembelajaran tanpa melalui proses pemecahan
masalah. Hal ini membuat ide-ide matematis siswa yang merupakan kemampuan pemecahan
masalah siswa tidak terlatih dalam proses pembelajaran. Kedua, dalam mengerjakan latihan-
latihan soal, siswa cenderung berlatih mengerjakan soal rutin dengan mengikuti langkah-langkah
dari contoh soal yang telah dijelaskan oleh gurunya. Hal ini membuat siswa bergantung pada
guru dan langkah-langkah dari contoh soal yang diberikan, sehingga siswa tidak terbiasa
menyelesaikan masalah secara mandiri.
Menyikapi masalah tersebut, maka perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah matematis, yaitu guru perlu menerapkan strategi pembelajaran yang dapat
merangsang siswa untuk memanggil semua pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya
dalam memecahkan suatu masalah yang belum pernah ditemui. Strategi pembelajaran yang bisa
diterapkan adalah pendekatan problem solving model Polya.
Menurut Sani (2015) Pendekatan pembelajaran problem solving sangat potensial untuk melatih
siswa berpikir kreatif dalam menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi maupun
masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Pendekatan problem
solving memungkinkan siswa mengembangkan kemampuannya untuk memecahkan masalah
dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan penggunaan Model Polya diharapkan mampu
z
[Link] 19
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
meningkatkan kemampuan siswa untuk menganalisis dan memahami suatu masalah, membuat
rencana penyelesaian, melaksanakan rencana dan menelaah kembali hasil pekerjaannya.
Menurut Komariah dalam Handayani (2017) keunggulan pendekatan problem solving model
Polya yaitu: (1) membuat siswa lebih berhati-hati dalam mengenali tahap-tahap yang sesuai
dalam proses pemecahan masalah, (2) dapat menyediakan kerangka kerja yang tersusun rapi
untuk menyelesaikan masalah yang komplek dan panjang yang dapat membantu siswa untuk
mengorganisasikan usahanya dalam memecahkan masalah, (3) merangsang perkembangan
kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
Berdasarkan keunggulan pendekatan problem solving model Polya di atas, jika guru
menerapkan pendekatan ini dalam pembelajaran, siswa dapat menggunakan keterampilan dan
pengetahuan yang dimilikinya dengan dituntun langkah-langkah Polya untuk memecahkan
masalah matematis. Penerapan pendekatan problem solving model Polya membuat siswa
merasa lebih tertantang dalam menyelesaikan soal yang menurutnya menjadi suatu masalah,
sehingga menuntut siswa untuk berpikir secara menyeluruh, kreatif, realistis, dan merangsang
kemajuan berpikirnya. Berdasarkan hal tersebut diharapkan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa akan meningkat.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui
apakah ada pengaruh pendekatan pembelajaran problem solving model Polya terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment) dengan desain “The Non
Equivalent Posttest-Only Control Group Design”. Desain ini dinyatakan dalam Tabel 1 (Zarkasyi,
2017)
Tabel 1. Desain Penelitian
Kelas Perlakuan Posttest
Eksperimen X O
Kontrol - O
Keterangan:
X = Pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran problem solving model Polya.
- = Pembelajaran konvesional
O = Tes kemampuan pemecahan masalah matematis
Penelitian ini telah dilaksanakan di kelas VIII SMP Muhammdiyah Rambah tahun ajaran
2019/2020 pada materi pokok persamaan garis lurus. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa kelas VIII SMP Muhammdiyah Rambah. Teknik pengambilan sampelnya
menggunakan sampel jenuh, dan untuk menentukan kelas eksperimen dan kelas kontrol
dilakukan secara random sampling. Dalam penelitian ini, kelas VIII 1 terdiri dari 31 siswa dan
VIII 2 terdiri dari 30 siswa. Selanjutnya, terpilih kelas VIII 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas
VIII 2 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan teknik tes dan instrumen yang digunakan berupa soal uraian yang disusun
berdasarkan indikator kemampuan pemecahan masalah matematis. Adapun teknik analisis data
z
[Link] 20
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas dan uji hipotesis. Uji normalitas
menggunakan uji Liliefors dan uji hipotesis menggunakan uji Mann Whitney.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari penelitian ini dan dilanjutkan dengan pembahasan
atas hasil yang diperoleh tersebut. Hasil penelitian difokus pada data-data yang diperoleh dan
pembahasan menjelaskan makna dari data-data tersebut.
Hasil
Dari hasil analisis data, secara deskriptif data posttest kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Deskripsi Data Posttest
Kelas N "
𝑿 Xmaks Xmin S2
Eksperimen 23 73,74 95 27 448,98
Kontrol 26 32,46 68 0 335,17
Berdasarkan Tabel 2 terlihat rata-rata nilai posttest kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata hasil tes kemampuan
pemecahan masalah matematis pada kelas kontrol. Jika dilihat dari nilai maksimum kelas
eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol dan varians kelas eksperimen lebih tinggi dari
pada kelas kontrol. Hal ini berarti nilai pada kelas eksperimen memiliki keragaman nilai yang
lebih bervariasi daripada kelas kontrol. Adapun perolehan skor siswa berdasarkan tiap indikator
kemampuan pemecahan masalah matematis dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Deskripsi Data Setiap Indikator
No Indikator ! Skor Skor
Eksp Kont Maks
Kemampuan mengidentifikasi unsur-unsur yang
1 diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang 1,55 0,91 3
diperlukan.
Kemampuan merumuskan masalah matematik atau
2 2,47 1,97 4
menyusun ke dalam model matematik.
Kemampuan menerapkan strategi untuk
3 2,04 0,68 4
menyelesaikan masalah
Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa rata-rata skor setiap indikator kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas kontrol, dimana indikator 1 memiliki
skor maksimal 3 dan indikator 2 dan 3 memiliki skor maksimal 4. Hal ini memperlihatkan
bahwa penguasaan kemampuan pemecahan masalah matematis disetiap indikatornya, kelas
eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol.
z
[Link] 21
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
Sebelum data hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada kedua kelas
sampel dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji normalitas
dan uji homogenitas. Hasil uji normalitas posttest dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Data Posttest
Kelas Lhitung Ltabel Kriteria
Eksperimen 0,164 0,190 Berdistribusi Normal
Kontrol 0,200 0,173 Tidak Berdistribusi Normal
Berdasarkan Tabel 4 terlihat bahwa kelas eksperimen berdistribusi normal karena Lhitung <
Ltabel, sedangkan kelas kontrol Lhitung > Ltabel sehingga data tidak berdistribusi normal,
karena data memiliki kriteria yang berbeda maka kenormalan diabaikan sehingga kesimpulannya
kelas sampel tidak berdistribusi normal.
Hasil pengujian hipotesis mengunakan Uji Mann Whitney diperoleh nilai z_hitung = 4,95 dan
nilai z_tabel = 1,96 dengan taraf signifikan yang digunakan adalah α = 0,05. Karena > , maka
tolak H0. Hal ini berarti ada pengaruh pendekatan problem solving model Polya terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pendekatan problem solving model Polya
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah
Rambah. Adapun bentuk peranan-peranan pendekatan problem solving model Polya ini
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa terlihat pada proses
pembelajarannya. Tahap pertama adalah memahami masalah, dalam tahap ini siswa diminta
untuk mencari unsur yang diketahui, unsur yang ditanyakan dan kecukupan unsur untuk
memecahkan masalah tiap kegiatan dalam LAS. Pemahaman siswa terhadap suatu masalah akan
bermanfaat untuk menentukan cara yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan masalah.
Tahap kedua adalah merencanakan penyelesaian, siswa diminta untuk merencanakan startegi
pemecahan masalah dan diminta untuk menuliskannya pada LAS. Guru mengajukan beberapa
pertanyaan guna memanggil kembali pengalaman siswa, setelah itu guru membimbing siswa
untuk mengubah permasalahan dalam LAS ke dalam bentuk grafik, diagram, pola, tabel,
persamaan matematika dan lain sebagainya sesuai dengan konteks yang ditanyakan.
Selanjutnya tahap ketiga siswa menggunakan strategi yang telah direncanakan sebelumnya, Lalu
siswa memeriksa tiap langkah yang telah dikerjakan dan harus memastikan bahwa rencana yang
dipilih merupakan pilihan yang tepat.
Tahap keempat adalah memeriksa kembali, Pada tahap ini, siswa dituntut untuk memeriksa
kembali langkah langkah yang telah dilakukan dari awal hingga akhir, guru mengajukan beberapa
pertanyaan, antara lain 1) apakah kamu telah menghitung sesuai dengan data yang tepat dari
soal? 2) apakah langkah perhitunganmu sesuai dengan apa yang ditanyakan? 3) apakah masih
ada masalah lain dalam soal yang belum kamu jawab? Jika jawaban telah selesai, guru kemudian
meminta siswa untuk mempresentasikan hasilnya ke depan kelas.
z
[Link] 22
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
Dari keseluruhan tahapan dalam pendekatan problem solving model Polya diharapkan dapat
membantu siswa dalam melatih kemampuan pemecahan masalah mereka, sehingga kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa semakin berkembang.
Sedangkan pembelajaran konvensional, siswa selalu mendengarkan penjelasan materi dari guru,
memberikan contoh soal beserta langkah penyelesaiannya. Kemudian siswa diberikan latihan
berdasarkan contoh yang telah diberikan guru di papan tulis, siswa selalu mengikuti langkah-
langkah yang telah dilejaskan oleh guru dan ketika siswa tidak dapat mengerjakan latihan
tersebut, guru langsung menyelesaikan permasalahan tersebut. Sehingga tidak membuat siswa
menerima pengetahuan lebih banyak karena langsung diberikan oleh guru. Seperti yang
diungkapkan oleh Ruseffendi dalam Septianingsih (2016) pembelajaran konvensional adalah
pembelajaran biasa yaitu diawali oleh guru memberikan informasi, siswa bertanya, guru
memeriksa apakah siswa sudah mengerti atau belum, memberikan contoh soal, selanjutnya
meminta siswa untuk mengerjakan di papan tulis. Pembelajaran konvensional tersebut
menjadikan siswa hanya meniru langkah- langkah guru dalam menyelesaikan soal, hal ini
membuat siswa tidak melakukan proses berfikir sehingga ide-ide matematis siswa yang
merupakan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa tidak berkembang.
Menurut Suryadi (2015) mendefinisikan pendekatan langsung sebagai suatu pendekatan yang
lebih berpusat pada guru. Pembelajaran yang berpusat pada guru tersebut mengakibatkan guru
lebih banyak berperan dibandingkan siswa itu sendiri. Siswa tidak diberi kesempatan untuk
membangun pengetahuannya dengan bernalar dalam matematika. Selain itu, suasana yang
monoton juga dapat mengakibatkan siswa pasif. Akibatnya, hasil kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa dikelas konvensional lebih rendah dibanding kemampuan pemecahan
masalah matematis dikelas yang diberikan pendekatan pembelajaran problem solving model
Polya. Berdasarkan keterangan di atas dan hasil analisis uji hipotesis maka dapat disimpulkan
bahwa ada pengaruh pendekatan pembelajaran problem solving model Polya terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Rambah
tahun ajaran 2019/2020. Artinya ada perbedaan rata-rata kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa menggunakan pendekatan pembelajaran problem solving model Polya dengan
rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa menggunakan pembelajaran
konvensional.
SIMPULAN
Berdasarkan rumusan masalah, hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa ada pengaruh pendekatan pembelajaran problem solving model Polya
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah
Rambah tahun ajaran 2019/2020, dan nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa yang menggunakan pendekatan pembelajaran problem solving model Polya lebih tinggi
daripada nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang menggunakan
pembelajaran konvensional.
z
[Link] 23
Vol 1 No 1 Juni 2020 Kartini, Ario, & Sari
DAFTAR PUSTAKA
Artinah, T. 2017. “Penerapan Pembelajaran Diskursus Multi Representassi dalam
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Msalah Matematis Siswa SMP Kelas VII”.
(Skripsi, FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia). Tidak diterbitkan.
Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22
Tahun 2006 Standar Isi. Diakses dari [Link]
permendiknas-no-22-tahun [Link]
Effendi, L. A. 2012. Pembelajaran Matematika dengan Metode Penemuan Terbimbing untuk
Meningkatkan Kemampuan Representasi dan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
SMP. Jurnal Penelitian Pendidikan. 13(2). 1-10.
Handayani, dkk. 2017. Pengaruh Pendekatan Problem Solving Model Polya terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMP. Jurnal Sesiomadika. 393-400.
IEA. 2015. TIMSS 2015 and TIMSS Advanced 2015 International Results. Diakses dari
[Link]
OECD. 2016. PISA 2015 Result In Focus. Diakses dari [Link]
Sani, R. A. 2015. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Septianingsih, R. 2015. “Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis melalui
Strategi Pembelajaran The Power Of Two pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Rokan
IV Koto”. (Skripsi, Universitas Pasir Pengaraian). Tidak diterbitkan
Sumartini, T. S. 2016. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa melalui
Pembelajaran Berbasis Masalah. Jurnal Mosharafa. 5(2). 148-158.
Suryadi, D. 2015. Penggunaan Pendekatan Pembelajaran Tidak Langsung Serta Pendekatan
Gabungan Langsung dan Tidak Langsung dalam Rangka Meningkatkan Kemampuan
Berfikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa SLTP. (Disertasi, Universitas Pendidikan
Indonesia). Tidak diterbitkan.
Ulvah, S, dkk. 2016. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa ditinjau melalui Model
Pembelajaran SAVI dan Konvensional. Jurnal Riset Pendidikan. 2(2). 142-153.
Wahyudi, O. 2015. “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Matematika Siswa SMP Melalui
Model Problem Based Learning dan Project Based Learning”. (Skripsi, FKIP
Matematika Univrsitas Pendidikan Indonesia) Tidak diterbitkan.
Zarkasyi, W. 2017. Penelitian Pendidikan Indonesia. Bandung: PT. Refika Aditama.
z
[Link] 24