BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan
memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang
mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti
kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan
atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain
diperlukan imunisasi lainnya.
Program Imunisasi campak di Indonesia dimulai pada tahun 1982, dan
pada tahun 1991 Indonesia telah mencapai Imunisasi Dasar Lengkap
atau universal childs immunization (UCI) secara nasional. Sebagai
dampak program imunisasi tersebut terjadi kecenderungan penurunan
insidens campak pada semua golongan umur. Pada bayi (< 1 tahun)
dan anak umur I-4 tahun terjadi penurunan cukup tajam, sedangkan
pada golongan umur 5-14 tahun relatif landai.
Cakupan campak ada di pdf cakupan imunisasi… smpyn copy dari table
cakupan ya…
Data di tempat penelitian puskesmas doko untuk imunisasi campak…., data bayi yang
diimunisasi dan tidak diimunisasi serta sebabnya apa..
Mortalitas/kematian kasus campak yang dirawat inap Rumah Sakit
pada tahun 1982 adalah sebesar 73 kasus kematian dengan angka
fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) sebesar 4,8%, dan
mengalami penurunan sebesar 80% pada tahun 1996 (16 kematian,
CFR 0,6%).
Di beberapa daerah terutama daerah dengan cakupan imunisasi
campak rendah atau pada daerah dengan akumulasi kelompok rentan/
suseptibel yang tidak tercakup imunisasi dalam beberapa tahun (3-5
tahun) sering terjadi KLB campak.
Distribusi kelompok umur pada KLB umumnya terjadi pada kelompok
umur 1-4 tahun dan 5-9 tahun, dan pada beherapa daerah dengan
cakupan imunisasi tinggi dan merata cenderung bergeser pada
kelompok umur yang lebih tua (10-I 4 tahun).
Oleh karena rendahnya cakupan imunisasi campak maka peneliti tertarik mengambil
judul gambaran……
1.2 RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah gambaran faktor yang mempengaruhi tidak dilaksanakannya Imunisasi Campak
pada bayi di wilayah Puskesmas Doko kabupaten Blitar tahun 2012?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
1.3.1 TUJUAN UMUM
Mengetahui gambaran faktor yang mempengaruhi tidak dilaksanakannya Imunisasi Campak
pada bayi di wilayah Puskesmas Doko kabupaten Blitar tahun 2012.
1.3.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi tidak dilaksanakannya Imunisasi campak pada
bayi wilayah Puskesmas Doko kabupaten Blitar tahun 2012.
2. Mengidentifikasi jumlah bayi yang tidak dilakukan imunisasi campak di wilayah Puskesmas
Doko kabupaten Blitar tahun 2012.
3. Mengidentifikasi dampak akibat tidak dilaksanakannya Imunisasi Campak pada bayi di
wilayah Puskesmas Doko Kabupaten Blitar tahun 2012.
4. Menganalisa faktor yang mempengaruhi tidak dilaksanakannya Imunisasi campak pada bayi
wilayah Puskesmas Doko kabupaten Blitar tahun 2012.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Manfaat Teoritis
Menambah khasanah ilmu kebidanan khususnya tentang Imunisasi campak
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Responden
Memberikan informasi tentang dampak tidak dilakukan imunisasi campak bagi anak
2. Bagi Profesi Kebidanan
Memberikan informasi faktor yang mempengaruhi tidak dilakukannya imunisasi campak
3. Bagi Puskesmas
Memberikan informasi faktor yang mempengaruhi tidak dilakukannya imunisasi campak di
wilayah Puskesmas Doko serta jumlah bayi yang tidak dilakukan imunisasi campak
4. Bagi Dinas Kesehatan
Memberikan informasi tentang faktor yang mempengaruhi tidak dilakukannya campak dan
jumlah bayi yang tidak dilakukan imunisasi campak sehingga bisa dijadikan acuan untuk
membuat kebijakan dalam program imunisasi
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Imunisasi
2.1.1 Pengertian imunisasi
Imunisasi adalah suatu cara untuk memberikan kekebalan kepada
seseorang secara aktif terhadap penyakit menular (Mansjoer,
2000). Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia
terpapar antigen yang serupa tidak pernah terjadi penyakit (Ranuh dkk,
2001).
Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya
penyakit tertentu (Theophilus, 2007), sedangkan yang dimaksud dengan
vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu
penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk
menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit
(Theophilus, 2007).
Imunisasi adalah usaha untuk memberikan kekebalan terhadap
penyakit infeksi pada bayi, anak dan juga orang dewasa (Indiarti,
2008). Imunisasi merupakan reaksi antara antigen dan antibodi-
antibodi, yang dalam bidang ilmu imunologi merupakan kuman atau
racun (toxin disebut sebagai antigen) (Riyadi, 2009).
2.1.2 Tujuan pemberian imunisasi
1. Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan
menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau
bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia seperti pada imunisasi cacar
(Ranuh dkk, 2001).
2. Memberikan kekebalan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi yaitu Polio, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus, TBC
dan Hepatitis B (Depkes, 2000).
2.1.3 . Syarat – syarat imunisasi
Ada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya bagi anak,
yang pencegahannya dapat dilakukan dengan pemberian
imunisasi dalam bentuk vaksin. Dapat dipahami bahwa imunisasi hanya
dilakukan pada tubuh yang sehat. Berikut ini keadaaan yang tidak boleh
memperoleh imunisasi yaitu : anak sakit keras, keadaan fisik lemah,
dalam masa tunas suatu penyakit, sedang mendapat pengobatan dengan
sediaan kortikosteroid atau obat imunosupresif lainnya (terutama vaksin hidup)
karena tubuh mampu membentuk zat anti yang cukup banyak (Huliana, 2003).
Menurut Depkes RI (2005), dalam pemberian imunisasi ada syarat
yang harus diperhatikan yaitu : diberikan pada bayi atau anak yang sehat,
vaksin yang diberikan harus baik, disimpan di lemari es dan belum lewat
masa berlakunya, pemberian imunisasi dengan teknik yang tepat, mengetahui
jadwal imunisasi dengan melihat umur dan jenis imunisasi yang telah
diterima, meneliti jenis vaksin yang diberikan, memberikan dosis yang
akan diberikan, mencatat nomor batch pada buku anak atau kartu imunisasi
serta memberikan informed concent kepada orang tua atau keluarga sebelum
melakukan tindakan imunisasi yang sebelumnya telah dijelaskan kepada orang
tuanya tentang manfaat dan efek samping atau Kejadian Ikutan Pasca
Imunisasi (KIPI) yang dapat timbul setelah pemberian imunisasi.
2.14 Macam – macam Imunisasi Dasar Menurut Theophilus (2007)
1) Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerrin)
Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette Guerrin hidup
yang dilemahkan, diberikan secara intra cutan dengan dosis
0,05 ml pada insertio muskulus deltoideus. Kontraindikasi untuk vaksinasi
BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita
leukemia, penderita yang menjalani pengobatan
steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV). Reaksi yang mungkin
terjadi :
a). Reaksi lokal : 1 – 2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat
penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras.
Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustule
(gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka
(ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8
– 12 minggu dengan meningkatkan jaringan parut yang disebut scar.
Bila tidak ada scar berarti imunisasi BCG tidak jadi, maka bila akan
diulang dan bayi sudah berumur lebih dari 2 bulan harus dilakukan
uji Mantoux (tuberkulin).
b). Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher
tanpa disertai nyeri tekan maupun demam yang akan menghilang
dalam waktu 3 – 6 bulan.
2.3. Konsep Bayi
Masa bayi dimulai dari usia 0-12 bulan yang ditandai dengan pertumbuhan dan
perubahan fisik yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan zat gizi (Notoatmodjo,
2007). Selama periode ini, bayi sepenuhnya tergantung pada perawatan dan pemberian makan
oleh ibunya.
Nursalam, dkk (2005) mengatakan bahwa tahapan pertumbuhan pada masa bayi dibagi
menjadi masa neonatus dengan usia 0-28 hari dan masa pasca neonatus dengan usia 29 hari-12
bulan. Masa bayi merupakan bulan pertama kehidupan kritis karena bayi akan mengalami
adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ-organ
tubuh, dan pada pasca neonatus bayi akan mengalami pertumbuhan yang sangat cepat (Perry &
Potter, 2005).
2.3.2 Pertumbuhan Bayi
Supariasa (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam
besar, jumlah, ukuran, dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur dengan
ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Pertumbuhan fisik merupakan hal
yang kuantitatif, yang
dapat diukur. Indikator ukuran pertumbuhan meliputi perubahan tinggi dan berat badan,
gigi, struktur skelet, dan karakteristik seksual (Perry & Potter, 2005).
Pertumbuhan pada masa anak-anak mengalami perbedaan yang bervariasi sesuai
dengan bertambahnya usia anak. Secara umum, pertumbuhan fisik dimulai dari arah kepala ke
kaki (cephalokaudal). Kematangan pertumbuhan tubuh pada bagian kepala berlangsung lebih
dahulu, kemudian secara berangsur-angsur diikuti oleh tubuh bagian bawah. Selanjutnya,
pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara teratur (Nursalam dkk, 2005).
1.3 Ciri- Ciri Pertumbuhan
Hidayat (2008) menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengalami pertumbuhan bila
terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi
badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, perubahan proporsi yang
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi sampai
dewasa, terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan seperti adanya
rambut pada daerah aksila, pubis atau dada, hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa
pertumbuhan seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks
tertentu.
dapat diukur. Indikator ukuran pertumbuhan meliputi perubahan tinggi dan berat badan,
gigi, struktur skelet, dan karakteristik seksual (Perry & Potter, 2005).
Pertumbuhan pada masa anak-anak mengalami perbedaan yang bervariasi sesuai
dengan bertambahnya usia anak. Secara umum, pertumbuhan fisik dimulai dari arah kepala ke
kaki (cephalokaudal). Kematangan pertumbuhan tubuh pada bagian kepala berlangsung lebih
dahulu, kemudian secara berangsur-angsur diikuti oleh tubuh bagian bawah. Selanjutnya,
pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara teratur (Nursalam dkk, 2005).
1.3 Ciri- Ciri Pertumbuhan
Hidayat (2008) menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengalami pertumbuhan bila
terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi
badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, perubahan proporsi yang
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi sampai
dewasa, terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan seperti adanya
rambut pada daerah aksila, pubis atau dada, hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa
pertumbuhan seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks
tertentu.
20
21
Komplikasi yang mungkin timbul adalah :
a). Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan
karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan
menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan,
bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi
(pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan
disayat.
b). limfadenis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu
dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik
dalam waktu 2 – 6 bulan.
2) Imunisasi DPT (Difteri Pertusis dan Tetanus)
Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3 in 1 yang melindungi
terhadap difteri, pertusis, dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi
bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan
komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah
infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk
hebat yang menetap serta bunyi pernafasn yang melengking.
Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat
menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat
bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan
komplikasi yang serius seperti pneumonia, kejang dan kerusakan
otak. Tetanus adalah infeksi yang bisa menyebabkan kekakuan
pada rahang serta kejang.
22
Vaksin DPT adalah vaksin 3 in 1 yang bisa diberikan
kepada anak yang berumur kurang dari 7 bulan. Biasanya vaksin
DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot
paha secara suub cutan dalam. Imunisasi DPT diberikan sebanyak
3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT
II), 4 bulan (DPT III), selang waktu tidak kurang dari 4 minggu
dengan dosis 0,5 ml.
DPT sering menyebabkan efek samping yang ringan seperti
demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa
hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen
pertusis di dalam vaksin. Pada kurang dari 1% penyuntikan DPT
menyebabkan komplikasi sebagai berikut :
a). Demam tinggi (lebih 40,5 Celcius )
b). Kejang
c). Kejang demam (risiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya
pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam
keluarga)
d). Syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon)
Kontraindikasi dari pemberian imunisasi DPT adalah jika
anak mempunyai riwayat kejang. Pemberian imunisasi yang boleh
diberikan adalah DT, yang hanya dapat diperoleh di Puskesmas
(kombinasi toksoid difteria dan tetanus (DT) yang mengandung 10
23
– 12 Lf dapat diberikan pada anak yang memiliki kontraindikasi
terhadap pemberian vaksin pertusis) (Ranuh,dkk, 2005)
1 – 2 hari setelah mendapat suntikan DPT, mungkin akan
terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di
tempat penyuntikan. Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan
demam, bisa diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Untuk
mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan
kompres hangat atau lebih sering menggerak – gerakkan lengan
maupun tulang tungkai yang bersangkutan.
3) Imunisasi Polio
Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit poliomyelitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan
kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan atau tungkai.
Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot – otot
pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan
kematian. Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I, II, III dan
IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Vaksin polio
diberikan sebanyak 2 tetes (0,2 mL) langsung ke mulut anak atau
dengan menggunakan sendok yang berisi air gula. Kontraindikasi
pemberian vaksin polio :
a). Diare
b). Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi,
kortikosteroid)
24
c). Kehamilan
Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan
kejang – kejang. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk
menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga
dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan
antibodi sampai tingkat yang tertinggi.
4) Imunisasi Campak
Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap
penyakit campak. Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis
pada saat anak berumur 9 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian.
Vaksin disuntikkan secara subcutan sebanyak 0,5 mL. Jika terjadi
wabah campak, dan ada bayi yang belum berusia 9 bulan, maka
imunisasi campak boleh diberikan.
Kontra indikasi pemberian vaksin campak adalah sebagai berikut :
a). Infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38 Celcius
b). Gangguan system kekebalan
c). Pemakaian obat imunosupresan
d). Alergi terhadap protein telur
e). Hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
f). Wanita hamil
Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit,
diare, konjungtivitis dan gejala katarak serta ensefalitis (jarang).
25
5) Imunisasi HB (Hepatitis B)
Imunisasi HB memberikan kekebalan terhadap hepatitis B.
hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan
kanker hati dan kematian. Dosis pertama (HB 0) diberikan segera
setelah bayi lahir atau kurang dari 7 hari setelah kelahiran. Pada
umur 2 bulan, bayi mendapat imunisasi HB I dan 4 minggu
kemudian mendapat imunisasi HB II. Imunisasi dasar diberikan
sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan. Vaksin disuntikkan
pada otot paha secara subcutan dalam dengan dosis 0,5 ml.
Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat
sebaiknya ditunda sampai anak benar – benar pulih. Efek samping
dari vaksin HB adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan
sistematis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran
pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.
e. Jadwal Imunisasi
Tabel 2.1 Jadwal Imunisasi
Vaksin Unsur pemberian imunisasi
Bulan Tahun
Lbr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 19 12
Program Pengembangan Imunisasi ( PPI diwajibkan)
BCG 1
Hepatitis B 0 1 2
Polio 0 1 2 3 4 5
DPT 1 2 3 4 5
Campak 1
26
Vaksin Pemberian imunisasi Selang waktu Umur Ket
BCG 1X 0- 2 bulan
DPT 3 X ( DPT I, II, III ) 4 minggu 2- 6 bulan
Polio 4 X ( I, II, III, IV ) 4 minggu 0- 6 bulan
Campak 1X 9 bulan
Hepatitis B 3 X (Hep B I, II, III ) 4 miggu 0- 6 bulan Untuk bayi yang lahir di
Puskesmas/ RS, Hb, BCG
dan polio dapat segera
diberikan
Sumber : Buku Imunisasi Indonesia (2001)
2.2 Imunisasi campak
2.1.2 Definisi VAKSIN CAMPAK
Tahun 1963 dibuat dua jenis vaksin campak
• Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan, jangan terkena sinar
matahari
• Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam
larutan formalin yang dicampur dengan garam alumunium)
• Tiap 0,5 ml mengandung 1000 u virus strain CAM 70, 100 mcg kanamisin, 30 mg
eritromisin
Dosis dan cara pemberian
• Dosis minimal untuk vaksin yang dilemahkan adalah 0,5 ml secara subcutan atau intra
muscular
• Jadwal pemberian campak pada bayi umur 9-11 bulan
• Imunisasi ulangan diberikan pada saat anak masuk sekolah usia 6-7 tahun dalam program
BIAS
Reaksi KIPI
• Demam >39,5 C, biasanya setelah hari ke 5-6 dan berlangsung selama 2 hari
• Ruam, timbul pada hari ke 7-10 dan berlangsung selama 2-4 hari
Kontra indikasi
• Demam tinggi
• Sedang memperoleh pengobatan imunosupresi
• Hamil
• Mempunyai riwayat alergi
2.3 bayi
1. Konsep Bayi dan Pertumbuhan Bayi
Masa bayi dimulai dari usia 0-12 bulan yang ditandai dengan pertumbuhan dan
perubahan fisik yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan zat gizi (Notoatmodjo,
2007). Selama periode ini, bayi sepenuhnya tergantung pada perawatan dan pemberian makan
oleh ibunya.
Nursalam, dkk (2005) mengatakan bahwa tahapan pertumbuhan pada masa bayi dibagi
menjadi masa neonatus dengan usia 0-28 hari dan masa pasca neonatus dengan usia 29 hari-12
bulan. Masa bayi merupakan bulan pertama kehidupan kritis karena bayi akan mengalami
adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ-organ
tubuh, dan pada pasca neonatus bayi akan mengalami pertumbuhan yang sangat cepat (Perry &
Potter, 2005).
1.2 Pertumbuhan Bayi
Supariasa (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam
besar, jumlah, ukuran, dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur dengan
ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Pertumbuhan fisik merupakan hal
yang kuantitatif, yang
dapat diukur. Indikator ukuran pertumbuhan meliputi perubahan tinggi dan berat badan,
gigi, struktur skelet, dan karakteristik seksual (Perry & Potter, 2005).
Pertumbuhan pada masa anak-anak mengalami perbedaan yang bervariasi sesuai
dengan bertambahnya usia anak. Secara umum, pertumbuhan fisik dimulai dari arah kepala ke
kaki (cephalokaudal). Kematangan pertumbuhan tubuh pada bagian kepala berlangsung lebih
dahulu, kemudian secara berangsur-angsur diikuti oleh tubuh bagian bawah. Selanjutnya,
pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara teratur (Nursalam dkk, 2005).
1.3 Ciri- Ciri Pertumbuhan
Hidayat (2008) menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengalami pertumbuhan bila
terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi
badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, perubahan proporsi yang
terlihat pada proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi sampai
dewasa, terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan seperti adanya
rambut pada daerah aksila, pubis atau dada, hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa
pertumbuhan seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks
tertentu.
‘Faktor- faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Supariasa (2001) mengatakan pertumbuhan
dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal seperti biologis, termasuk genetik, dan
faktor eksternal seperti status gizi. 1.4.1 Faktor Internal (Genetik) Faktor internal (genetik) antara
lain termasuk berbagai faktor bawaan yang normal dan patologis, jenis kelamin, obstetrik dan ras
atau suku bangsa. Apabila potensi genetik ini dapat berinteraksi dengan baik dalam lingkungan,
maka pertumbuhan optimal akan tercapai (Supariasa, 2001). 1.4.2 Faktor Eksternal Faktor-faktor
eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain keluarga, kelompok teman sebaya,
pengalaman hidup, kesehatan lingkungan, kesehatan prenatal, nutrisi, istirahat, tidur dan olah
raga, status kesehatan, serta lingkungan tempat tinggal (Perry & Potter, 2005). Wong, dkk (2008)
mengatakan bahwa nutrisi memiliki pengaruh paling penting pada pertumbuhan. Bayi dan anak-
anak memerlukan kebutuhan kalori relatif besar, hal ini dibuktikan dengan peningkatan tinggi
dan berat badan. 1.5 Parameter Pertumbuhan Bayi Parameter untuk mengukur kemajuan
pertumbuhan biasanya yang dipergunakan adalah berat badan dan panjang badan (Hidayat,
2008).
1.5.1 Berat Badan Pengukuran berat badan digunakan untuk menilai hasil peningkatan atau
penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, misalnya tulang, otot, lemak, organ tubuh, dan
cairan tubuh sehingga dapat diketahui status keadaan gizi atau tumbuh kembang anak (Hidayat,
2008). Selain itu, berat badan juga dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis dan
makanan yang diperlukan dalam tindakan pengobatan (Supariasa, 2001). Pada usia beberapa
hari, berat badan bayi mengalami penurunan yang sifatnya normal, yaitu sekitar 10% dari berat
badan waktu lahir. Hal ini disebabkan karena keluarnya mekonium dan air seni yang belum
diimbangi dengan asupan yang mencukupi, misalnya produksi ASI yang belum lancar dan berat
badan akan kembali pada hari kesepuluh (Nursalam dkk, 2005). Pertumbuhan berat badan bayi
usia 0-6 bulan mengalami penambahan 150-210 gram/minggu dan berdasarkan kurva
pertumbuhan yang diterbitkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS), berat badan
bayi akan meningkat dua kali lipat dari berat lahir pada akhir usia 4-7 bulan (Wong dkk, 2008).
Berat badan lahir normal bayi sekitar 2.500-3.500 gram, apabila kurang dari 2.500 gram
dikatakan bayi memiliki berat badan lahir rendah (BBLR), sedangkan bila lebih dari 3.500 gram
dikatakan makrosomia. Pada masa bayi-balita, berat badan digunakan untuk mengetahui
pertumbuhan fisik dan status gizi. Status gizi erat kaitannya dengan pertumbuhan, sehingga
untuk mengetahui pertumbuhan bayi, status gizi diperhatikan (Susilowati, 2008).
Di Indonesia, baku rujukan yang digunakan sebagai pembanding penilaian satus gizi dan
pertumbuhan perorangan maupun masyarakat adalah baku rujukan WHO-NCHS (Supariasa,
2001). Baku rujukan WHO-NCHS ini membedakan antara laki-laki dan perempuan, agar
diperoleh perbedaan yang lebih mendasar. Pembagiannya dikategorikan menjadi gizi baik,
kurang, buruk, dan lebih (Soekirman, 2000).
Untuk table silahkan dicopy dari pdf sendiri klo gak mau ngetik….
Tabel 2.1 Pembagian status Gizi berdasarkan Berat Badan Kategori Ambang Batas Gizi Baik
Gizi Kurang Gizi Buruk Gizi Lebih +2 SD > skor_Z ≥-2 SD -2 SD > Skor_Z ≥ -3SD Skor_Z < -
3 SD Skor_ Z ≥ +2 SD Skor_Z = BBu- BBr SDr Keterangan : BBu = Berat badan BBr = Berat
badan berdasarkan tabel (Median) SDr = Standar deviasi yang diperoleh dari selisih Median
dengan -1 SD atau +1 SD dari tabel WHO-NCHS Berikut ini tabel rujukan WHO-NCHS untuk
anak perempuan dan laki-laki berdasarkan BB/U : Tabel 2.2 Rujukan BB/U untuk Anak
Perempuan Usia 0-6 Bulan menurut WHO-NCHS Umur (bulan) Nilai BB (kg) -3 SD -2 SD -1
SD Median +1 SD +2 SD +3 SD 0 1 2 3 4 5 6 1,8 2,2 2,7 3,2 3,7 4,1 4,6 2,2 2,8 3,3 3,9 4,5 5,0
5,5 2,7 3,4 4,0 4,7 5,3 5,8 6,3 3,2 4,0 4,7 5,4 6,0 6,7 7,2 3,6 4,5 5,4 6,2 6,9 7,5 8,1 4,0 5,1 6,1 7,0
7,7 8,4 9,0 4,3 5,6 6,7 7,7 8,6 9,3 10,0 Sumber: Soekirman (2000)
Tabel 2.3 Rujukan BB/U untuk Anak Laki-laki Usia 0-6 Bulan menurut WHO-NCHS Umur
(bulan) Nilai BB (kg) -3 SD -2 SD -1 SD Median +1 SD +2 SD +3 SD 0 1 2 3 4 5 6 2,0 2,2 2,6
3,1 3,7 4,3 4,9 2,4 2,9 3,5 4,1 4,7 5,3 5,9 2,9 3,6 4,3 5,0 5,7 6,3 6,9 3,3 4,3 5,2 6,0 6,7 7,3 7,8 3,8
5,0 6,0 6,9 7,6 8,2 8,8 4,3 5,6 6,8 7,7 8,5 9,2 9,8 4,8 6,3 7,6 8,6 9,4 10,1 10,8 Sumber: Soekirman
(2000) 1.5.2 Panjang Badan Istilah panjang dinyatakan sebagai pengukuran yang dilakukan
ketika anak telentang (Wong dkk, 2008). Pengukuran panjang badan digunakan untuk menilai
status perbaikan gizi. Selain itu, panjang badan merupakan indikator yang baik untuk
pertumbuhan fisik yang sudah lewat (stunting) dan untuk perbandingan terhadap perubahan
relatif, seperti nilai berat badan dan lingkar lengan atas (Nursalam dkk, 2005). Pengukuran
panjang badan dapat dilakukan dengan sangat mudah untuk menilai gangguan pertumbuhan dan
perkembangan anak. Panjang badan bayi baru lahir normal adalah 45-50 cm dan berdasarkan
kurva pertumbuhan yang diterbitkan oleh National Center for Health Statistics (NCHS), bayi
akan mengalami penambahan panjang badan sekitar 2,5 cm setiap bulannya (Wong dkk, 2008).
Penambahan tersebut akan berangsur-angsur berkurang sampai usia 9 tahun, yaitu hanya sekitar
5 cm/tahun dan penambahan ini akan berhenti pada usia 18-20 tahun (Nursalam dkk., 2005).
Kategori untuk panjang badan, dapat dibedakan menjadi kategori sangat pendek, pendek, normal
dan tinggi (Depkes RI, 2004). Tabel 2.4 Pembagian Status Gizi berdasarkan Panjang Badan
Kategori Ambang Batas Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi Skor_Z < -3 SD -2 SD > skor_Z
≥-3 SD +2 SD ≥ Skor_Z ≥ -2SD Skor_Z > +2 SD Skor_Z = TBu- TBr SDr Keterangan : TBu =
Tinggi badan TBr = Tinggi badan berdasarkan tabel (Median) SDr = Standar deviasi yang
diperoleh dari selisih Median dengan -1 SD atau +1 SD dari tabel WHO-NCHS Berikut ini tabel
rujukan WHO-NCHS pada anak perempuan dan laki-laki berdasarkan TB/U : Tabel 2.5 Rujukan
TB/U untuk Anak Perempuan Usia 0-6 Bulan menurut WHO-NCHS Umur (bulan) Nilai TB
(cm) -3 SD -2 SD -1 SD Median +1 SD +2 SD +3 SD 0 1 2 3 4 5 6 43,4 46,7 49,6 52,1 54,3 56,3
58,0 45,5 49,0 52,0 54,6 56,9 58,9 60,6 47,7 51,3 54,4 57,1 59,4 61,5 63,3 49,9 53,5 56,8 59,5
62,0 64,1 65,9 52,0 55,8 59,2 62,0 64,5 66,7 68,6 54,2 58,1 61,6 64,5 67,1 69,3 71,2 56,4 60,4
64,0 67,0 69,6 71,9 73,9 Sumber: Soekirman (2000)
Tabel 2.6 Rujukan TB/U untuk Anak Laki-laki Usia 0-6 Bulan menurut WHO-NCHS Umur
(bulan) Nilai TB (cm) -3 SD -2 SD -1 SD Median +1 SD +2 SD +3 SD 0 1 2 3 4 5 6 43,6 47,2
50,4 53,2 55,6 57,8 59,8 45,9 49,7 52,9 55,8 58,3 60,5 62,4 48,2 52,1 55,5 58,5 61,0 63,2 65,1
50,5 54,6 58,1 61,1 63,7 65,9 67,8 52,8 57,0 60,7 63,7 66,4 68,6 70,5 55,1 59,5 63,2 66,4 69,1
71,3 73,2 57,3 61,9 65,8 69,0 71,7 74,0 75,9 Sumber: Soekirman (2000)