0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan27 halaman

Atrial Fibrilasi: Diagnosis dan Penanganan

Laporan ini membahas tentang Atrial Fibrilasi (AF), sebuah gangguan irama jantung yang umum, ditandai dengan ketidakteraturan dan peningkatan frekuensi denyut jantung. Penyebab AF meliputi faktor struktural, inflamasi, iskemik, serta pengaruh obat dan genetik, dengan berbagai manifestasi klinis seperti palpitasi, nyeri dada, dan sesak napas. Penatalaksanaan AF mencakup pengobatan farmakologi, kardioversi elektrik, dan prosedur pembedahan, serta pemeriksaan diagnostik untuk menilai kondisi pasien.

Diunggah oleh

Ridan Nurlathif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan27 halaman

Atrial Fibrilasi: Diagnosis dan Penanganan

Laporan ini membahas tentang Atrial Fibrilasi (AF), sebuah gangguan irama jantung yang umum, ditandai dengan ketidakteraturan dan peningkatan frekuensi denyut jantung. Penyebab AF meliputi faktor struktural, inflamasi, iskemik, serta pengaruh obat dan genetik, dengan berbagai manifestasi klinis seperti palpitasi, nyeri dada, dan sesak napas. Penatalaksanaan AF mencakup pengobatan farmakologi, kardioversi elektrik, dan prosedur pembedahan, serta pemeriksaan diagnostik untuk menilai kondisi pasien.

Diunggah oleh

Ridan Nurlathif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ( LP )

PRAKTEK KLINIK KEPERAWATAN GAWAT DARURAT I


ATRIAL FIBRILASI (AF)
(Laporan Pendahuluan Ini Diajukan Untuk Memenuhi Praktikum Mata Kuliah Keperawatan
Gawat Darurat I)

Disusun oleh :

Ibrahim Majid

211FK01026

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG

2024/2025
I. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Atrial Fibrilasi ( AF ) merupakan suatu gangguan yang terjadi pada jantung paling
umum ( ritme jantung abnormal ) ditandai dengan ketidakteraturan irama denut
jantung dan peningkatan frekuensi denyut jantung, yaitu sebesar 350-650 x/menit.
Secara umum atrial fibrilasi yaitu suatu takikardi supraventikuler dengan aktivasi atrial
yang tidak terkoordinasi sehingga terjadi gangguan fungsi mekanik atrium sehingga
berakibat pada ketidakefektifan proses mekanik atau pompa darah jantung. Pada
elektrokardiogram (EKG), ciri dari FA adalah tiadanya konsistensi gelombang P, yang
digantikan oleh gelombang getar (fibrilasi) yang bervariasi amplitudo, bentuk dan
durasinya. Pada fungsi NAV yang normal, FA biasanya disusul oleh respons ventrikel
yang juga ireguler, dan seringkali cepat. Ciri-ciri FA pada gambaran EKG umumnya
sebagai berikut:
a. EKG permukaan menunjukkan pola interval RR yang ireguler
b. Tidak dijumpainya gelombang P yang jelas pada EKG permukaan. Kadang-
kadang dapat terlihat aktivitas atrium yang ireguler pada beberapa sadapan EKG,
paling sering pada sadapan V1.
c. Interval antara dua gelombang aktivasi atrium tersebut biasanya bervariasi,
umumnya kecepatannya melebihi 450x/ menit.
2. Manifestasi Klinik
Menurut Effendi (2017), Pada 10-25% penderita, diagnosis atrial fibrilasi
ditemukan tanpa gejala atau didiagnosis setelah terjadi komplikasi. Gejala atrial
fibrilasi bergantung pada banyak faktor seperti laju ventrikuler, durasi atrial fibrilasi,
serta ada tidaknya gangguan struktur jantung.
Mayoritas penderita atrial fibrilasi mengalami palpitasi (perasaan yang kuat
dari denyut jantung yang cepat atau berdebar dalam dada), nyeri dada terutama saat
melakukan aktivitas, pusing atau pingsan, sesak napas, cepat lelah, laju denyut
jantung meningkat, intoleransi terhadap olahraga, sinkop atau gejala tromboemboli,
atau disertai gagal jantung ( seperti rasa lemah, sakit kepala berat, dan sesak napas),
terutama jika denyut ventrikel yang sangat cepat ( sering 140-150 denyutan x/menit ).
3. Etiologi Dan Factor Predisposisi
Atrial Fibrilasi menyebabkan ventrikel berkontraksi lebih cepat dari biasanya.
Etiologi yang terkait dengan atrial fibrilasi terbagi menjadi beberapa faktor, antara
lain :
a. Peningkatan tekanan/resistensi atrium ( penyakit katup jantung, kelainan
pengisian dang pengosongan ruang atrium, hipertrofi jantung, kardiomiopati dan
hipertensi pulmo serta tumor intracardiac ).
b. Proses infiltratif dan inflamasi ( pericarditis/miocarditis, amiloidosis dan
sarcoidosis dan faktor peningkatan usia)
c. Iskemik Atrium ( Infark myocardial )
d. Obat-obatan ( alkohol dan kafein )
e. Keturunan / genetic
4. Patofisiologi
Pada dasarnya mekanisme atrial fibriasi terdiri dari 2 proses, yaitu proses
aktivasi fokal dan multiple wavelet reentry. Pada proses aktivasi fokal bisa melibatkan
proses depolarisasi tunggal atau depolarisasi berulang. Pada proses aktivasi fokal,
fokus ektopik yang dominan adalah berasal dari vena pulmonalis superior. Selain itu,
fokus ektopik bisa juga berasal dari atrium kanan, vena cava superior dan sinus
coronarius. Fokus ektopik ini menimbulkan sinyal elektrik yang dapat mempengaruhi
potensial aksi pada atrium dan menggangu potensial aksi yang dicetuskan oleh nodus
sino-atrial (SA).
Sedangkan multiple wavelet reentry, merupakan proses potensial aksi yang
berulang dan melibatkan sirkuit atau jalur depolarisasi. Mekanisme multiple wavelet
reentry tidak tergantung pada adanya fokus ektopik seperti pada proses aktivasi fokal,
tetapi lebih tergantung pada sedikit banyaknya sinyal elektrik yang mempengaruhi
depolarisasi. Timbulnya gelombang yang menetap dari depolarisasi atrial atau wavelet
yang dipicu oleh depolarisasi atrial prematur atau aktivas aritmogenik dari fokus yang
tercetus secara cepat. Pada multiple wavelet reentry, sedikit banyaknya sinyal elektrik
dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu periode refractory, besarnya ruang atrium dan
kecepatan konduksi. Hal ini bisa dianalogikan, bahwa pada pembesaran atrium
biasanya akan disertai dengan pemendekan periode refractory dan terjadi penurunan
kecepatan konduksi. Ketiga faktor tersebut yang akan meningkatkan sinyal elektrik
dan menimbulkan peningkatan depolarisasi serta mencetuskan terjadinya atrial
fibrilasi.
Gambar 1.1 Proses aktivasi fokal dan multiple wavelet re-entry
Mekanisme fibrilasi atrium identik dengan mekanisme fibrilasi ventrikel
kecuali bila prosesnya ternyata hanya di massa otot atrium dan bukan di massa otot
ventrikel. Penyebab yang sering menimbulkan fibrilasi atrium adalah pembesaran
atrium akibat lesi katup jantung yang mencegah atrium mengosongkan isinya
secara adekuat ke dalam ventrikel, atau akibat kegagalan ventrikel dengan
pembendungan darah yang banyak di dalam atrium. Dinding atrium yang
berdilatasi akan menyediakan kondisi yang tepat untuk sebuah jalur konduksi yang
panjang demikian juga konduksi lambat, yang keduanya merupakan faktor
predisposisi bagi fibrilasi atrium.
5. Klasifikasi
a. AF deteksi pertama
Semua pasien dengan AF selalu diawali dengan tahap AF deteksi pertama.
Tahap ini merupakan tahapan dimana belum pernah terdeteksi AF sebelumnya
dan baru pertama kali terdeteksi.
b. Paroksismal AF
Jenis paroksismal AF merupakan suatu keadaan atrial fibrilasi yang
berlangsung kurang dari 7 hari atau atrial fibrilasi yang memiliki episode pertama
kali kurang dari 48 jam. Atrial fibrilasi jenis ini cenderung bisa sembuh sendiri
dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa bantuan kardioversi.
c. Persisten AF
Jenis persisten AF memiliki sifat menetap dan berlangsung lebih dari 48 jam
tetapi kurang dari 7 hari. Persisten AF perlu bantuan kardioversi untuk
mengembalikan irama sinus kembali normal.
d. Kronik/permanen AF
Jenis kronik/permanen AF memiliki sifat menetap dan berlangsung lebih dari
7 hari. Pada jenis ini penggunaan kardioversi kurang berarti karena dinilai cukup
sulit untuk mengembalikkan ke irama sinus yang normal.
Disamping klasifikasi menurut AHA ( American Heart Association ),
klasifikasi atrial fibrilasi menurut lama waktu berlangsung, antara lain :
a. Atrial Fibrilasi Akut
Atrial fibrilasi akut dikategorikan menurut waktu berlangsungnya kurang dari
48 jam atau kurang dari dua hari.
b. Atrial Fibrilasi Kronik
Atrial fibrilasi kronik dikategorikan menurut waktu berlangsung lebih dari 48
jam atau lebih dari sua hari [ CITATION Rah21 \l 1057 ].
Berdasarkan kecepatan laju respon ventrikel (interval RR) maka FA dapat
dibedakan menjadi:
a. FA dengan respon ventrikel cepat: Laju ventrikel >100x/ menit

Gambar 1.2 Rekaman EKG FA dengan respon ventrikel normal


b. FA dengan respon ventrikel normal: Laju ventrikel 60- 100x/menit

Gambar 1.3 Rekaman EKG FA dengan respon ventrikel normal


c. FA dengan respon ventrikel lambat: Laju ventrikel <60x/ menit
Gambar 1.4 Rekaman EKG FA dengan respon ventrikel lambat
6. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan penunjang menurut Rahayu Ayu (2021), antara lain :


a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dapat diperiksa antara lain:
1) Darah lengkap (anemia, infeksi)
2) Elektrolit, ureum, kreatinin serum (gangguan elektrolit atau gagal ginjal)
3) Enzim jantung seperti CKMB dan atau troponin (infark miokard sebagai
pencetus FA)
4) Peptida natriuretik (BNP, N-terminal pro-BNP dan ANP) memiliki asosiasi
dengan FA. Level plasma dari peptida natriuretik tersebut meningkat pada
pasien dengan FA paroksismal maupun persisten, dan menurun kembali
dengan cepat setelah restorasi irama sinus.
5) D-dimer (bila pasien memiliki risiko emboli paru)
6) Fungsi tiroid (tirotoksikosis)
7) Kadar digoksin (evaluasi level subterapeutik dan/atau toksisitas)
8) Uji toksikologi atau level etanol
b. Pemeriksaan EKG
Pada pemeriksaan ini dapat diketahui antara lain irama (verifikasi FA),
hipertropi ventrikel kiri, pre-eksitasi (sindroma WPW), identifikasi adanya
iskemia)
c. Foto rontgen toraks
Pada pemeriksaan ini penderita atrial fibrilasi biasanya normal, tetapi kadang-
kadang ditemukan bukti gagal jantung atau tanda-tanda patologi parenkim atau
vaskuler paru (misalnya emboli paru dan pneumonia)
d. Ekokardiografi
Pada pemeriksaan ini digunakan untuk melihat antara lain kelainan katup,
ukuran dari atrium dan ventrikel, hipertrofi ventrikel kiri, fungsi ventrikel kiri,
obstruksi outflow dan TEE (Trans Esopago Echocardiography) untuk melihat
trombus di atrium kiri
e. Pemeriksaan fungsi tiroid
Pada atrial fibrilasi episode pertama bila laju irama ventrikel sulit dikontrol
f. Uji latihI
dentifikasi iskemia jantung, menentukan adekuasi dari kontrol laju irama
jantung.
g. Holter monitoring
Holter monitoring digunakan untuk menegakkan diagnosis FA paroksismal,
dimana pada saat presentasi, FA tidak terekam pada EKG. Selain itu, alat ini juga
dapat digunakan untuk mengevaluasi dosis obat dalam kendali laju atau kendali
irama.
h. Studi elektrofisiologi
Studi elektrofisiologi dapat membantu mengidentifikasi mekanisme takikardia
QRS lebar, aritmia predisposisi, atau penentuan situs ablasi kuratif.
i. Computed tomography (CT) scan dan magnetic resonance imaging (MRI) Pada
pasien dengan hasil D-dimer positif, CT angiografi mungkin diperlukan untuk
menyingkirkan emboli paru. Teknologi 3 dimensi seperti CT scan atau MRI
seringkali berguna untuk mengevaluasi anatomi atrium bila direncanakan ablasi
FA. Data pencitraan dapat diproses untuk menciptakan peta anatomis dari atrium
kiri dan VP.
7. Penatalaksanaan Medik dan Implikasi Keperawatan
Menurut Rahayu Ayu (2021), penatalaksanaan pada penderita atrial fibrilasi
dibagi menjadi 3 yaitu pengobatan farmakologi, pengobatan elektrik dan
pembedahan.
a. Farmakologi
1) Mencegah pembekuan darah (tromboembolisme) yaitu warfin dan aspirin
2) Mengurangi denyut jantung yaitu digitalis, ᵦ-bloker, dan Antagonis Kalsium
3) Mengembalikan irama jantung yaitu Amiodarone, Dofettilide, Flecainide,
Ibutilide, Propafenone dan Quinidine.
b. Electrical Cardioverson
Suatu teknik memberikan arus listrik ke jantung melalui dua pelat logam
(bantalan) ditempatkan pada dada berfungsi untuk mengembalikan irama jantung
kembali normal atau sesuai dengan NSR (nodus sinus rhythm). Pasien AF
hemodinamik yang tidak stabil akibat laju ventrikel yang cepat disertai tanda
iskemia, hipotensi, sinkop peru segera dilakukan kardioversi elektrik. Kardioversi
elektrik dimulai dengan 200 joule. Bila tidak berhasil dapat dinaikkan menjadi
300 joule. Pasien dipuasakan dan dilakukan anestesii dengan obat anetesi kerja
pendek.
c. Operasi/pembedahan
1) Catheter ablation
Prosedur ini menggunakan teknik pembedahan dengan membuat
sayatan pada paha, kemudian dimasukkan kateter kedalam pembuluh darah
utama hingga masuk kedalam jantung. Pada bagian ujung kateter terdapat
elektroda yang berfungsi menghancurkan fokus ektopik yang bertanggung
jawab terhadap terjadinya AF.
2) Maze operation
Pada prosedur pembedahan ini akan meghasilkan suatu labirin yang
berfungsi untuk membantu menormalitaskan sistem konduksi sinus SA.
3) Artifical pacemaker
Merupakan alat pacu jantung yang ditempatkan di jantung yang
berfungsi untuk mengontrol irama dan denyut jantung.
Penatalaksanaan menurut American Heart Association (AHA) (2014) adalah
sebagai berikut :
a. Terapi antitrombotik
Penaksiran resiko stroke dan pendarahan
1) Antagonis vitamin K (AVK)
Antagonis vitamin K (Warfin atau coumadin) adalah obat antikoagulan
yang paling banyak digunakan untuk mencegah stroke pada Atrial Fibrilasi
2) Antikoagulan baru (AKB)
Terdapat tiga jenis AKB yang merupakan AVK dipasaran Indonesia
yaitu dabigatran, rivaroxaban, dan apixaban. Dabigatran bekerja dengan cara
menghambat langsung trombin sedangkan rivaroxaban dan apixaban
keduanya bekerja dengan cara menghambat faktor Xa.
3) Penutupan aurikel atrium kiri (AAK)
Aurikel atrium kiri merupakan tempat utama pembentukan trombus
apabila lepas dapat menyebabkan stroke iskemik pada atrial fibrilasi.
4) Panduan praktis obat antikoagulan
Obat antikoagulan baru terbukti non-inferior dibanding dengan wafarin
dengan tingkat keamanan yang lebih baik.
b. Tata Laksana pada Fase Akut
1) Kendali laju fase akut
Pada pasien dengan hemodinamik stabil dapat diberikan obat yang
dapat mengontrol respon ventrikel. Pemberian penyekat beta atau antagonis
kanal kalsium non-dihidropiridin oral dapat digunakan pada pasien dengan
hemodinamik stabil. Antagonis kanal kalsium non-dihidropiridin hanya boleh
dipakai pada pasien dengan fungsi sistolik ventrikel yang masih baik. Obat
intravena mempunyai respon yang lebih cepat untuk mengontrol respon irama
ventrikel. Digoksin atau amiodaron direkomendasikan untuk mengontrol laju
ventrikel pada pasien dengan FA dan gagal jantung atau adanya hipotensi.
Namun pada FA dengan preeksitasi obat terpilih adalah antiaritmia kelas I
(propafenon, disopiramid, mexiletine) atau amiodaron. Obat yang
menghambat NAV tidak boleh digunakan pada kondisi FA dengan preeksitasi
karena dapat menyebabkan aritmia letal. Pada fase akut, target laju jantung
adalah 80-100 kpm.
2) Kendali irama fase akut
Respon irama ventrikel yang terlalu cepat akan menyebabkan
gangguan hemodinamik pada pasien FA. Pasien yang mengalami
hemodinamik tidak stabil akibat FA harus segera dilakukan kardioversi
elektrik untuk mengembalikan irama sinus. Pasien yang masih simtomatik
dengan gangguan hemodinamik meskipun strategi kendali laju telah optimal,
dapat dilakukan kardioversi farmakologis dengan obat antiaritmia intravena
atau kardioversi elektrik. Saat pemberian obat antiaritmia intravena pasien
harus dimonitor untuk kemungkinan kejadian proaritmia akibat obat,
disfungsi nodus sinoatrial (henti sinus atau jeda sinus) atau blok
atrioventrikular. Obat intravena untuk kardioversi farmakologis yang tersedia
di Indonesia adalah amiodaron. Kardioversi dengan amiodaron terjadi
beberapa jam kemudian setelah pemberian.
3) Terapi pil dalam saku (pildaku)
Pemberian propafenon oral (450-600 mg) dapat mengonversi irama FA
menjadi irama sinus. Efektivitas propafenon oral tersebut mencapai 45%
dalam 3 jam. Strategi terapi ini dapat dipilih pada pasien dengan simtom yang
berat dan FA jarang (sekali dalam sebulan).41,84 Oleh karena itu, propafenon
(450-600 mg) dapat dibawa dalam saku untuk dipergunakan sewaktu-waktu
pasien memerlukan (pil dalam saku – pildaku). [ CITATION Jan14 \l 1057 ]
c. Tata Laksana Jangka Panjang
1) Strategi terapi FA
Tata laksana FA mencakup beberapa hal yaitu terapi optimal penyakit
kardiovaskuler yang menyertai, pemilihan strategi kendali irama atau kendali
laju, pencegahan tromboemboli, dan terapi upstream.
2) Kendali laju jangka panjang
Simtom akibat FA adalah hal penting untuk menentukan pemilihan
kendali laju atau irama. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah FA yang
sudah lama, usia tua, penyakit kardiovaskular berat, penyakit lain yang
menyertai, dan besarnya atrium kiri. Pada pasien dengan FA simtomatik yang
sudah terjadi lama, terapi yang dipilih adalah kendali laju. Namun, apabila
pasien masih ada keluhan dengan strategi kendali laju, kendali irama dapat
menjadi strategi terapi selanjutnya.
3) Kendali irama jangka panjang
Tujuan utama strategi kendali irama adalah mengurangi simtom.
Strategi ini dipilih pada pasien yang masih mengalami simtom meskipun
terapi kendali laju telah dilakukan secara optimal. Pilihan pertama untuk
terapi dengan kendali irama adalah memakai obat antiaritmia. Pengubahan
irama FA ke irama sinus (kardioversi) dengan menggunakan obat paling
efektif dilakukan dalam 7 hari setelah terjadinya FA. Kardioversi
farmakologis kurang efektif pada FA persisten.
4) Kardioversi elektrik
Kardioversi elektrik adalah salah satu strategi kendali irama.
Keberhasilan tindakan ini pada FA persisten mencapai angka 80- 96%,89 dan
sebanyak 23% pasien tetap sinus dalam waktu setahun dan 16% dalam waktu
dua tahun. Amiodaron adalah antiaritmia yang paling kuat mencegah
terjadinya rekurensi FA setelah keberhasilan kardioversi. Kebanyakan
rekurensi FA terjadi dalam 3 bulan pasca kardioversi.
5) Ablasi atrium kiri
Strategi ablasi merupakan salah satu cara menyembuhkan AF
bertujuan agar irama sinus bertahan lebih lama dibandingkan pemakaian obat
antiaritmia.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari rangkaian proses
keperawatan. Tahap pengkajian merupakan tahapan dari pengumpulan data klien dan
perumusan kebutuhan atau masalah status kesehatan klien. Data yang dikumpulkan
meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual [ CITATION Fat18 \l 1057 ].
a. Identitas Pasien
Identitas pasien terdiri dari : Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
status perkawinan, pekerjaan, suku bangsa, alamat, diagnosa medis, nomor rekam
medis, tanggal dan jam MRS.
b. Identitas Penanggung Jawab
Identitas penanggung jawab pasien, meliputi : Nama, umur, jenis kelamin,
agama, pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, suku bangsa, dan alamat.
c. Keluhan Utama
Keluhan yang biasanya muncul pada pasien atrial fibrilasi yaitu palpitasi
(perasaan yang kuat dari denyut jantung yang cepat atau berdebar dalam dada),
nyeri dada terutama saat melakukan aktivitas, pusing atau pingsan, sesak napas.
d. Riwayat Penyakit Pasien
1) Riwayat penyakit sekarang
Melakukan pengkajian yang dapat mendukung keluhan utama dengan
cara memberikan pertanyaan mengenai kronologis keluhan utama yang
dirasakan dan keluhan penyerta.
2) Riwayat penyakit dahulu
Mengkaji riwayat penyakit yang diderita klien yang berhubungan
dengan penyakit saat ini, apakah pasien pernah menderita penyakit yang
berhubungan lansung dengan system kardio vascular. Tanyakan kepada
pasien adanya riwayat nyeri dada, nafas pendek, alkoholik, anemia, demam
rematik, sakit tenggorokan yang di sebabkan streptococcus, penykakit
jantung bawaan, stroke, pingsan hipertensi, thromboplebitis, nyeri yang
hilang timbul,varises dan oedema.
3) Riwayat alergi terhadap obat-obatan atau yang lain
Penting untuk mengkaji riwayat konsumsi obat-obatan dan riwayat
alergi terhadap jenis obat, makanan, udara, debu.
4) Riwayat kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan
Kaji apakah pasien memiliki riwayat kebiasaan merokok, minum-
minuman keras, ketergantungan obat-obatan, dan olahraga.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Dikaji apakah terdapat anggota keluarga yang menderita penyakit- penyakit
yang berhubungan dengan sistem kardiovaskuler.
f. Riwayat Psikososial
Kaji konsep spiritual dan konsep diri (meliputi : gambaran diri, ideal diri,
harga diri, identitas diri, dan peran) pada pasien atrial fibrilasi
g. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari
1) Pola persepsi sehat dan manajemen sehat.
Perawat harus menanyakan adanya factor resiko utama . Faktor resiko
utama kardiovaskuler : peningkatan serum lipid, merokok, kurang aktifitas,
dan obesitas,. Pola hidup stress dan DM harus ditanyakan juga . Jika pasien
merokok ditanyakan jenis rokok, jumlah rokok perhari, dan usaha pasien
untuk berhenti merokok. Penggunaan alcohol harus juga di catat (jenis,
jumlah, perubahan reaksi, dan frekuensi). Kebiasaan penggunaan obat-
obatan termasuk obat-obat recresional Menanyakan riwayat alergi , perawat
menanyakan bagaimana reaksi obat dan alergi yang pernah dialami.
Konfirmasi penyakit darah yang berhubungan dengan keturunan dan
riwayat keluaraga yang cendrung terhadap penyakit arteri coroner, penyakit
vascular seperti claudication intermiten , varicosities. Tanyakan riwayat
kesehatan keluarga pada kondisi non cardiac seperti astma, penyakit ginjal
dan kegemukan harus di kaji karena dapat berakibat pada sistem
kardiovaskuler.
2) Pola nutrisi
Kelebihan berat badan dan kekurangan berat badan dapat
mengidentfikasikan sebagai masalah kardiovaskuler.. Tipe diit seharihari
perlu dikaji untuk mengetahui gaya hidup pasien. Jumlah asupan garam dan
lemak juga perlu dikaji.
3) Pola Eliminasi
Warna kulit, temperatur, keutuhan/integritas dan turgor mungkin dapat
mengimformasikan tentang masalah sirkulasi. Arterisklerosis dapat
menyebabkan eksterimitas dingin dan sianotik dan odema dapat
mengidentifikasi gagal jantung . Pasien dengan diuretik dapat dilaporkan
ada peningkatan eliminasi urin. Masalah-masalah dengan konstipasi harus
di catat. Mengejan atau valsava manufer harus di hindari pada pasien
dengan masalah kardiovaskuler.
4) Pola latihan – aktifitas
Keuntungan latihan pada kesehatan kardiovaskuler tidak dapat
disangkal. Dengan latihan aerobik yang benar menjadi sangat
bermamfaat,dan Perawat harus dengan hati-hati dalam menentukan latihan,
lama latihan, frekuensi dan efek yang tidak diinginkan yang akan timbul
selama latihan. Lamanya waktu latihan harus di catat, gejala- gejala lain
yang mengidentifikasi dari masalah kardiovaskuler misalnya sakit kepala,
nyeri dada , nafas pendek selama latihan harus di catat. Pasien juga harus
ditanya kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
5) Pola istirahat – tidur
Masalah-masalah kardiovaskuler seringkali mengganggu tidur, PND
diasosiasikan gagal jantung tingkat lanjut. Banyak pasien dengan gagal
jantung membutuhkan tidur dengan kepala mereka di tinggikan dengan
bantal dan perawat mencatat jumlah bantal yang diperlukan untuk
kenyamanan. Nokturia sering kali ditemukan pada pasien dengan masalah
kardiovaskuler, yang menggangu pola tidur yang normal.
6) Pola kognitif - persfektif.
Perawat menanyakan ke pasien tentang masalah persepsi kognitif.
Nyeri dihubungkan dengan kardiovaskuler seperti nyeri dada dan
claudication intermiten yang harus ditanyakan atau di laporkan. Masalah
kardiovaskuler seperti aritmia, hipertensi dan stroke mungkin menyebabkan
masalah vertigo, bahasa dan memori.
7) Pola persepsi - konsep diri
Jika ada kejadian kardiovaskuler yang akut., biasanya persepsi diri
pasien sering terpengaruhi. Diagnostik invasif dan prosedur paliatif sering
berperan penting. Pasien dengan masalah kardiovaskuler kronik biasanya
pasien tidak dapat mengidentifikasi penyebabnya.
8) Pola hubungan peran
Jenis kelamin, ras dan usia pasien mempunyai hubungan dengan
kesehatan kardiovaskuler Diskusikan dengan pasien status perkawinan,
peran dalam rumah tangga, jumlah anak dan usia mereka, lingkungan
tempat tinggal dan pengkajian lain yang penting dalam mengidentifikasi
kekuatan dan suffort sistemdalam kehidupan pasien. Perawat juga harus
mengkajitingkat kenyamanan atau ketidak nyamanan dalam menjalankan
fungsi peran yang berpotensi menjadi stress atau konflik.
9) Pola sexuality dan reproduksi.
Pasien dengan masalah kardiovaskuler biasanya berefek pada pola sex
dan kepuasaan. pasien memiliki rasa ketakutan akan kematian yang tiba-
tiba saat berhubungan sexual dan menyebabkan perubahan utama pada
kebiasaan sex. Fatique atau nafas pendek dapat juga membatasi aktifitas
sex. Impoten dapat menjadi tanda dari gangguan penyakit kardiovaskuler
perifer, ini merupakan efek samping dari beberapa pengobatan yang
digunakan untuk mengobati masalah - masalah kardiovaskuler seperti beta
bloker, diuretik. Konseling pasien dan pasangan dapat dianjurkan.
10) Pola toleransi coping stress
Pasien harus ditanya untuk mengidentifikasi stress atau kecemasan.
Metode coping yang biasa dipakai harus dikaji, perilaku-perilaku explosif,
marah dan permusuhan dapat dihubungkan dengan resiko penyakit jantung.
Informasi tentang suffort sistem keluarga, teman-teman, psikolog atau
pemuka agama dapat memberikan sumber yang terbaik untuk
mengembangkan rencana perawatan.
11) Pola nilai-nilai dan kepercayaan
Nilai-nilai dan kepercayaan individu dipengaruhi oleh kultur dan
kebudayaan yang berperan penting dalam tingkat komplik yang dihadapi
pasien ketika dihadapkan dengan penyakit kardiovaskuler.
2. Pemeriksaan fisik
a. Tanda-tanda vital :
- Denyut nadi ireguler
- Tekanan darah tinggi
- Pernapasan meningkat
b. Respirasi
- Ronkhi pada paru menunjukkan kemungkinan terdapat gagal
jantung kongestif.
- Keluhan sesak nafas, batuk (dengan atau tanpa sputum).
c. Sirkulasi
- Adanya riwayat penyakit jantung koroner (90-95%
mengalami disritmia)
- Auskultasi jantung ditemukan adanya irama ireguler.
- Irama gallop S3 pada auskultasi jantung menunjukkan
kemungkinan terdapat gagal jantung kongestif,
- Terdapat bising pada auskultasi kemungkinan adanya penyakit
katup jantung.

d. Neurosensori
- Keluhan pening hilang timbul, sakit kepala, pingsan.
- Letargi (mengantuk)
- Reaksi pupil berubah.
- Reflek tendon hilang menggambarkan disritmia yang mengancam
jiwa (ventrikuler tachicardi atau bradikardia berat).
e. Edema perifer
- Kemungkinan terdapat gagal jantung kongestif
- Kulit mengalami diaforesis, pucat, sianosis.
f. Edema dependen
- Distensi vena jugularis
- Penurunan urine output.
a. Pola Kebiasaan Sehari-hari
1) Aktivitas / istirahat
- Keluhan kelemahan fisik secara umum dan keletihan
berlebihan.
2) Cairan dan Nutrisi
- Keluhan berupa intoleransi terhadap makanan, mual, muntah.
- Tidak nafsu makan
- Perubahan turgor atau kelembapan kulit
3) Psikologis
- Merasa cemas, takut, menarik diri, marah, menangis, dan mudah
tersinggung.
Analisa Data

NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM


1. Ds : Faktor usia, obat- Penurunan Curah
obatan, Jantung
- Perubahan Irama Jantung
kardomiopati
(Palpitasi)
- Perubahan
Preload (Lelah)
- Perubahan Kelainan katup
afterload (dispnea) atrium
- Perubahan
kontraktilitas (Batuk)
Do :
- Takikardia/Brakikardia
- Gambaran EKG aritmia
- Distensi vena jugularis
- TD meningkat
atau menurun
- Nadi perifer
teraba lemah
- Tedengar suara jantung
S3 atau S4
- Pemeriksaan enzim
jantung (CKMB dan
Troponin
meningkat)
- Pemeriksaan elektrolit
menurun (K, Na, Ca,
Mg)
- Hasil foto thorax
AF terlihat adanya
pembesaran jantung
Resistensi atrium
dextra

Vol
atrium meningkat

Pengosongan
atrium inadekuat

ATRIAL
FIBRILASI

Takikardi

Pengisian darah ke
paru-paru

Atrial flow
velocities menurun

Trombus
atrium sinistra

Disfungsi ventrikel
sinistra

Penurunan curah
jantung
2. DS : Faktor usia, obat- Pola Nafas Tidak
- Dispnea obatan, Efektif
- Ortopnea kardomiopati
Do :
- Penggunaan otot bantu
pernafasan Kelainan katup
- Fase ekspirasi atrium
memanjang
- Pola nafas abnormal Resistensi atrium
(takipnea, dextra
bradipnea,
hiperventilasi)
- Pernafasan cuping Vol
hidung atrium meningkat

- Tekanan ekspirasi
menurun Pengosongan
- Tekanan inspirasi atrium inadekuat
menurun
ATRIAL
FIBRILASI

Takikardi

Palpitasi

Sesak Nafas

Pola Nafas Tidak


Efektif

3. DS : Faktor usia, obat- Intoleransi


- Mengeluh lelah obatan, Aktivitas
- Dispnea kardomiopati
saat/setelah
aktivitas
- Merasa tidak
nyaman setelah Kelainan katup
beraktivitas atrium
- Merasa lemah
DO :
- Frekuensi jantung
meningkat >20% dari
kondisi istirahat
- Gambaran EKG
menunjukkan aritmia
saat/ setelah aktivitas
- Sianosis
- Gambaran EKG
menunjukkan
iskemia
- Pemeriksaan enzim Resistensi atrium
jantung (CKMB dan dextra
Troponin
meningkat)
Vol
atrium meningkat

Pengosongan
atrium inadekuat

ATRIAL
FIBRILASI

Takikardi

Pengisian darah ke
paru-paru

Suplai darah ke
jaringan menurun

Metabolisme
anaerob

Asidosis metabolik

Penimbunan asam
laktat

Fatigue

Intoleransi
Aktivitas

3. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan Curah Jantung (D.0008) b/d kontraktilitas miokardial
b. Pola Nafas Tidak Efektif (D.0005) b/d ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
c. Intoleransi Aktivitas (D.0056) b/d Kelemahan umum atau fatigue

4. Intervensi Keperawatan

NO SDKI SLKI SIKI


1. Penurunan Setelah dilakukan PERAWATAN JANTUNG
Curah tindakan keperawatan (I.02075)
Jantung selama 3x24 jam 1. Observasi
(D.0008) diharapkan masalah
- Identifikasi tanda/gejala
penurunan curah
primer penurunan curah
jantung (L.02008)
jantung (meliputi dispnea,
klien teratasi dengan
kelelahan dan peningkatan
kriteria hasil :
CPV)
- Takikardi
cukup menurun - Identifikasi tanda/gejala

(4) sekunder penurunan curah

- Edema menurun (5) jantung (meliputi peningkatan

- Tekanan darah BB, batuk, palpitasi)

membaik (5) - Monitor tekanan darah

- Monitor saturasi oksigen

- Monitor nilai laboratorium


jantung (misalnya elektrolit,
enzim jantung)
2. Terapeutik

- Posisikan semifowler

- Berikan terapi relaksasi untuk


mengurangi stress

- Berikan oksigen untuk


mempertahankan saturasi
oksigen

3. Edukasi

- Anjurkan beraktivitas fisik


sesuai toleransi dan secara
bertahap

4. Kolaborasi

- Kolaborasi
pemberian antiaritmia
jika perlu
2. (D.0005) Tujuan umum : PEMANTAUAN RESPIRASI
Pola Nafas (L.01004) Pola nafas (I.01014)
Tidak membaik
1. Observasi
Efektif
- Monitor frekuensi, irama,
Kriteria Hasil :
kedalaman, dan upaya
- Dypsnea atau sesak
napas
nafas menurun (5)
- Monitor pola napas
- Pernafasan cuping
(seperti bradipnea,
hidung menurun (5)
takipnea, hiperventilasi)
- Monitor kemampuan batuk
efektif
- Monitor saturasi oksigen
- Monitor nilai AGD
2. Terapeutik
- Atur interval pemantauan
respirasi sesuai kondisi
pasien
- Dokumentasikan hasil
pemantauan

3. Edukasi
- Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
- Informasikan hasil
pemantauan, jika itu perlu

TERAPI OKSIGEN (I.01025)


1. Observasi
- Monitor kecepatan aliran
oksigen
- Monitor posisi alat terapi
oksigen
- Monitor tanda-tanda
hipoventilasi
- Monitor aliran oksigen
secara periodik
2. Terapeutik
- Pertahankan kepatenan
jalan nafas
- Siapkan dan atur
pemberian oksigen
- Berikan oksigen
tambahan, jika diperlukan
- Gunakan perangkat
oksigen yang sesuai
dengan tingkat mobilitas
pasien
3. Edukasi
- Ajarkan pasien dan
keluarga cara
menggunakan oksigen di
rumah
4. Kolaborasi
- Kolaborasi penentuan
dosis oksigen
- Kolaborasi penggunaan
oksigen saat aktivitas dan
atau tidur.
3. (D.0056) Tujuan umum: (I. 05178) MANAJEMEN
Intoleransi (L.05047) Toleransi ENERGI
Aktivitas aktivitas meningkat 1. Observasi
- Identifkasi gangguan fungsi
Kriteria Hasil : tubuh yang mengakibatkan
- Keluhan kelelahan
lelah - Monitor kelelahan fisik dan
menurun (5) emosional
- Keluhan dispnea - Monitor pola dan jam tidur
menurun (5) - Monitor lokasi dan
- Frekuensi ketidaknyamanan selama
nadi melakukan aktivitas
meningkat (5) 2. Terapeutik
- Perasaan - Sediakan lingkungan nyaman
lemah dan rendah stimulus (mis.
menurun (5) cahaya, suara, kunjungan)
- Lakukan ROM aktif/pasif
- Berikan aktivitas distraksi
yang menyenangkan
- Fasilitas duduk di sisi tempat
tidur, jika tidak dapat
berpindah atau berjalan

3. Edukasi
- Anjurkan tirah baring
- Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap
4. Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
asupan makanan

TERAPI AKTIVITAS (I.05186)


1. Observasi
- Identifikasi kemampuan
berpartisipasi dalam
aktivitas tertentu
- Identifikasi makna
aktivitas rutin (mis.
bekerja) dan waktu luang
- Monitor respon
emosional, fisik, sosial,
dan spiritual terhadap
aktivitas
2. Terapeutik
- Fasilitasi fokus pada
kemampuan, bukan
deficit yang dialami
- Sepakati komitmen untuk
meningkatkan frekuensi dan
rentang aktivitas
- Fasilitasi memilih aktivitas
yang konsisten sesuai
kemampuan fisik,
psikologis, dan sosial
- Koordinasikan pemilihan
aktivitas sesuai usia
- Fasilitasi aktivitas fisik
rutin (mis. ambulansi,
mobilisasi, dan perawatan
diri) sesuai kebutuhan
- Tingkatkan keterlibatan
dalam aktivitas untuk
menurunkan kecemasan (mis.
vocal group, bola voli, tenis
meja, jogging, berenang,
perawatan diri)
- Libatkan kelarga dalam
aktivitas, jika perlu
- Fasilitasi mengembankan
motivasi dan penguatan
diri
- Fasilitasi pasien dan
keluarga memantau
kemajuannya sendiri untuk
mencapai tujuan
- Jadwalkan aktivitas dalam
rutinitas sehari-hari
3. Edukasi
- Jelaskan metode aktivitas
fisik sehari-hari, jika
perlu
- Ajarkan cara
melakukan aktivitas
yang dipilih
- Anjurkan keluarga untuk
memberi penguatan positif
atas partisipasi dalam
aktivitas
4. Kolaborasi
- Rujuk pada pusat atau
program aktivitas
komunitas, jika perlu

5. Daftar Pustaka
Agestin, N. (2020). Studi Literatur : Asuhan Keperawatan pada Pasien Hipertensi
dengan Masalah Keperawatan Gangguan Pola Tidur. [Link].
Dinarti, Yuli Mulyanti. (2017). Bahan Ajar Keperawatan : Dokumentasi
Keperawatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Effendi. (2017). Tatalaksana Fibrilasi Atrium. cdkjournal, 93-96 (44).
Fatmawati, A. H. (2018). Pengaruh Pelayanan Asuhan Keperawatan Terhadap
Kepuasan Pasien di Puskesmas Takalala Kabupaten Soppeng. Mirai: Journal
Of Management, 33-57.
January. CT, dkk. (2014 ). AHA/ACC/HRS Guideline for the Management of Patient
Atrial Fibrilation A report of the American College of Cardiology/American
Herat Assesment Force on Practice Guidelines and the Hearth Rhytm
Society. Journal of the American Heart Association , 5- 86.
PERKI. (2014). Pedoman Tata Laksana Fibrilasi Atrium. Jakarta: Centra
Communications Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia.
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Pranata Raymond, dkk. (2016). Komplikasi Kardiovaskular dan Neurologis yang
Berhubungan dengan Fibrilasi Atrium. Jurnal Kardiologi Indonesia, 164-
172 (37).
Rahayu Ayu. (2021). Terapi Non Farmakologi Pada Atrial Fibrilasi. Gowa: Pustaka
Taman Ilmu.

Anda mungkin juga menyukai