0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan8 halaman

Unsur dan Tujuan Proses Belajar

Dokumen ini membahas konsep belajar, yang didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku individu melalui pengalaman dan latihan. Terdapat tujuh unsur utama dalam proses belajar, termasuk tujuan, kesiapan, dan situasi, serta tiga tujuan belajar yang meliputi memperoleh pengetahuan, menanamkan keterampilan, dan membentuk sikap. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, baik internal maupun eksternal, serta tingkatan keberhasilan belajar.

Diunggah oleh

Elsa Nurafni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan8 halaman

Unsur dan Tujuan Proses Belajar

Dokumen ini membahas konsep belajar, yang didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku individu melalui pengalaman dan latihan. Terdapat tujuh unsur utama dalam proses belajar, termasuk tujuan, kesiapan, dan situasi, serta tiga tujuan belajar yang meliputi memperoleh pengetahuan, menanamkan keterampilan, dan membentuk sikap. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar, baik internal maupun eksternal, serta tingkatan keberhasilan belajar.

Diunggah oleh

Elsa Nurafni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PEMBAHASAN

A. Belajar

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara etimologis


belajar memiliki arti "berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu". Definisi
ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai
kepandaian atau ilmu. Belajar merupakan proses peru- bahan tingkah laku
manusia berdasarkan pengalaman dan latihan, dari belum tahu menjadi tahu,
dari pengalaman yang sedikit kemudian bertambah. Belajar adalah suatu
[Link] itu terjadi dengan mengembangkan suatu ketrampilan
baru,memahami pengetahun baru hingga bisa merubah sikap dan
[Link] tersebut tidak hanya bersifat incidental namun bersifat
alami seiring dengan pertambahan usia5 Belajar merupakan suatu proses
pengajaran dan pembelaaran untuk merubah perilaku baik buruk seseorang
untuik menjadi perilaku yang lebih baik, yaitu meningkatkan pengetahuan,
pemikiran, pemahaman, sikap dan berbagai kemampuan lainnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara etimologis


belajar memiliki arti "berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu". Definisi
ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai
kepandaian atau ilmu. Belajar merupakan proses peru-bahan tingkah laku
manusia berdasarkan pengalaman dan latihan, dari belum tahu menjadi tahu,
dari pengalaman yang sedikit kemudian bertambah.
Dari pengeritian diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah
suatu Propses perubahantingkah laku secara keseluruhan, bersifat positif dan
bertujuan serta mencakup seluruh aspek tingkah laku lainnya.

B. Unsur – Unsur Belajar


Unsur-unsur belajar sangat diperlukan dalam proses pendidikan. Terutama
bagi siswa dan guru itu sendiri. Cronbach (1954) dalam nana Syaodih

4
5

Sukmadinata (2007) mengemukakan adanya tujuh unsur utama dalam proses


belajar, yaitu sebagai berikut:

1. Tujuan.
Belajar dimulai karena adanya sesuatu tujuan yang ingin dicapai.
Tujuan ini muncul untuk memenuhi suatu kebutuhan.
2. Kesiapan.
Untuk dapat melakukan perbuatan belajar dengan baik, anak atau
individu perlu memiliki kesiapan, baik kesiapan fisik dan psikis, kesiapan
yang berupa kematangan untuk melakukan sesuatu, maupun penguasaan
pengetahuan dan kecakapan-kecakapan yang mendasarinya
3. Situasi.
Kegiatan belajar berlangsung dalam suatu situasi belajar. Dalam
situasi belajar ini terlihat tempat, lingkungan sekitar, alat dan bahan yang
dipelajari, orang-orang yang turut bersangkut dalam kegiatan belajar, serta
kondisi siswa yang belajar..
4. Interpretasi.
Dalam menghadapi situasi, individu mengadakan interpretasi, yaitu
melihat hubungan di antara komponen-komponen situasi belajar, melihat
makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan
kemungkinan pencapaian tujuan.
5. Respons.
Berpegang kepada hasil dari interpretasi apakah individu mungkin
atau tidak mungkin mencapai tujuan yang diharapkan maka ia memberikan
respon.
6. Konsekuensi.
Setiap usaha akan membawa hasil, akibat atau konsekuensi, entah
itu keberhasilan ataupun kegagalan, demikian juga dengan respons atau
usaha belajar siswa. Apabila siswa berhasil dalam belajarnya ia akan
merasa senang, puas, dan akan lebih meningkatkan semangatnya untuk
melakukan usaha-usaha belajar berikutnya.
6

7. Reaksi terhadap kegagalan.


Selain keberhasilan, kemungkinan yang lain diperoleh siswa dalam
belajar adalah kegagalan. Peristiwa ini akan menimbulkan perasaan sedih
dan kecewa. Reaksi siswa terhadap kegagalan dalam belajar bisa
bermacam-macam. Kegagalan bisa menurunkan semangat, tetapi bisa juga
sebaliknya, kegagalan membangkitkan semangat yang berlipat ganda untuk
menembus dan menutupi kegagalan tersebut.
C. Tujuan Belajar
Menurut Sadirman (2011: 26-28), secara umum ada tiga tujuan
belajar, yaitu:

1. Untuk Memperoleh Pengetahuan

Hasil dari kegiatan belajar dapat ditandai dengan meningkatnya


kemampuan berpikir seseorang. Jadi, selain memiliki pengetahuan baru,
proses belajar juga akan membuat kemampuan berpikir seseorang menjadi
lebih baik. Dalam hal ini, pengetahuan akan meningkatkan kemampuan
berpikir seseorang, dan begitu juga sebaliknya kemampuan berpikir akan
berkembang melalui ilmu pengetahuan yang dipelajari. Dengan kata lain,
pengetahuan dan kemampuan berpikir merupakan hal yang tidak dapat
dipisahkan.
2. Menanamkan Konsep dan Keterampilan
Keterampilan yang dimiliki setiap individu adalah melalui proses
belajar. Penanaman konsep membutuhkan keterampilan, baik itu
keterampilan jasmani maupun rohani. Dalam hal ini, keterampilan jasmani
adalah kemampuan individu dalam penampilan dan gerakan yang dapat
diamati. Keterampilan ini berhubungan dengan hal teknis atau
pengulangan. Sedangkan keterampilan rohani cenderung lebih kompleks,
karena bersifat abstrak. Keterampilan ini berhubungan dengan
penghayatan, cara berpikir, dan kreativitas dalam menyelesaikan masalah
atau membuat suatu konsep.
3. Membentuk Sikap
7

Kegiatan belajar juga dapat membentuk sikap seseorang. Dalam hal


ini, pembentukan sikap mental peserta didik akan sangat berhubungan
dengan penanaman nilai-nilai sehingga menumbuhkan kesadaran di dalam
dirinya. Dalam proses menumbuhkan sikap mental, perilaku, dan pribadi
anak didik, seorang guru harus melakukan pendekatan yang bijak dan
hati-hati. Guru harus bisa menjadi contoh bagi anak didik dan memiliki
kecakapan dalam memberikan motivasi dan mengarahkan berpikir.
Bertolak dari berbagai definisi yang telah diuraikan para pakar tersebut,
secara umum belajar dapat dipahami sebagai suatu tahapan perubahan
seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap (permanent) sebagai
hasil pengalaman.

D. Prinsip – Prinsip Belajar


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), secara etimologis belajar
memiliki arti "berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu". Definisi ini
memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai
kepandaian atau ilmu. Belajar merupakan proses peru- bahan tingkah laku
manusia berdasarkan pengalaman dan latihan, dari belum tahu menjadi tahu,
dari pengalaman yang sedikit kemudian bertambah. Prinsip Belajar Menurut
Gestalt Adalah suatu transfer belajar antara pendidik dan peserta didik
sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi belajar mengajar
yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta didik akan mampu
menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui teori-teori dan
pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya. Prinsip Belajar Menurut
Robert H DaviesSuatu komunikasi terbuka antara pendidik dengan peserta
didik sehingga siswa termotivasi belajar yang bermanfaat bagi dirinya melalui
contoh-contoh dan kegiatan praktek yang diberikan pendidik lewat metode
yang menyenangkan siswa.

E. Teori Belajar
Tokoh psikologi belajar memiliki persepsi dan penekanan tersendiri
tentang hakikat belajar dan proses ke arah perubahan sebagai hasil belajar.
8

Berikut ini adalah beberapa kelompok teori yang memberikan pandangan


khusus tentang belajar:
a. Behaviorisme
Teori ini meyakini bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh
kejadian-kejadian di dalam lingkungannya yang memberikan pengalaman
tertentu kepadanya. Behaviorisme menekankan pada apa yang dilihat,
yaitu tingkah laku, dan kurang memperhatikan apa yang terjadi di dalam
pikiran karena tidak dapat dilihat

b. Kognitivisme
Merupakan salah satu teori belajar yang dalam berbagai pembahasan
juga sering disebut model kognitif. Menurut teori belajar ini tingkah
laku seseorang ditentukan oleh persepsi atau pemahamannya tentang
situasi yang berhubungan dengan tujuan. Oleh karena itu, teori ini
memandang bahwa belajar itu sebagai perubahan persepsi dan pemahaman.
c. Teori belajar psikologi sosial
Menurut teori ini proses belajar bukanlah proses yang terjadi dalam
keadaan menyendiri, akan tetapi harus melalui interaksi.
d. Teori belajar gagne
Yaitu teori belajar yang merupakan perpaduan antara behaviorisme
dan kognitivisme. Belajar merupakan sesuatu yang terjadi secara alamiah,
akan tetapi hanya terjadi dengan kondisi tertantu. Yaitu kondisi internal
yang merupakan kesiapan peserta didik dan sesuatu yang telahdipelajari,
kemudian kondisi eksternal yang merupakan situasi belajar yang secara
sengaja diatur oleh pendidik dengan tujuan memperlancar proses belajar.
e. Teori fitrah
Pada dasarnya peserta didik lahir telah membawa bakat dan
potensi-potensi yang cenderung kepada kebaikan dan kebenaran.
Potensi-potensi tersebut pada hakikatnya yang akan dapat berkembang
dalam diri seorang anak. Artinya adalah, teori fitrah dalam pendidikan
islam memandang seorang anak akan dapat mengembangkan
9

potensipotensi baik yang telah dibawanya sejak lahir melalui


pendidikan/ belajar.

F. Faktor Yng mempengaruhi Belajar


Secara umum faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar dibedakan atas
dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal Kedua faktor tersebut
saling memengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan
kualitas hasil belajar.
1. Faktor internaL
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor
internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis
1) Faktor fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan
dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua
macam. Pertama, keadaan jasmani. Keadaan jasmani pada umumnya
sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. Kondisi fisik yang
sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan
belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan
menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Secara umum
kondisi fisikologi, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan
lelah, dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya
semuanya akan membantu dalam proses dan hasil belajar.
Siswa yang kekurangan gizi misalnya, ternyata kemampuan
belajarnya berada dibawah siswa-siswa yang tidak kekurangan gizi,
sebab mereka yang kekurangan gizi, pada umumnya cenderung cepat
lelah dan capek, cepat ngantuk dan akhirnya tidak mudah dalam
menerima pelajaran. Demikian juga kondisi saraf pengontrol kesadaran
dapat berpengaruh pada proses dan hasil belajar. Misalnya, seseorang
yang minum-minuman kerasakan kesulitan melakukan proses belajar,
karena saraf pengomtrol kesadarannya terganggu. Bahkan, perubahan
10

tingkah laku akibat pengaruh minuman keras tersebut, tidak dapat


dikatakan perubahan tingkah laku hasil belajar.
2) Faktor psikologis
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang
dapat memengaruhi proses belajar. Setiap manusia atau anak didik pada
dasrnya memilki kondisi psikologis yang berbeda-beda, terutama dalam
hal kadar, bukan dalam hal jenis. Tentunya perbedaan-perbedaan ini
akan berpengaruh pada proses dan hasil belajarnya maisng-
masing. Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses
belajar adalah kecerdasan/intelegensi siswa, motivasi,
minat, perhatian, sikap,bakat, dan kognitif dan daya nalar.
2. Faktor eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor
eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar siswa. Dalam hal ini, Syah
(2003) menjelaskan bahwa faktor faktor eksternal yang memengaruhi
belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor lingkungan
sosial dan faktor lingkungan nonsosial
1.1 Faktor Lingkunga
1.2 Lingkungan sosial
1.3 Lingkungan nonsosial

G. Tingkat Keberhasilan Belajar


Setiap proses belajar mengajar selalu menghasilkan hasil belajar. Masalah
yang dihadapi adalah sampai di tingkat mana prestasi (hasil) belajar yang telah
dicapai. Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi
atas beberapa tingkatan atau taraf.
Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Istimewa/ maksimal: Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu
dapat dikuasai oleh siswa
2. Baik sekali/ optimal: Apabila sebagian besar (76% s.d. 99%) bahan
pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai olehsiswa
11

3. Baik/minimal : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya 60% s.d.


75% saja dikuasai oleh siswa
4. Kurang : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang dari 60% dikuasai
oleh siswa.

Anda mungkin juga menyukai