0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Pemahaman Jual Beli dalam Islam

Dokumen ini membahas tentang muamalah dalam Islam, yang mencakup pengertian, hukum, dan praktik jual beli. Jual beli diatur oleh syarat dan rukun tertentu yang harus dipenuhi agar sah menurut syariat Islam. Selain itu, terdapat berbagai jenis jual beli yang dibedakan menjadi yang sah, tidak sah, dan sah tetapi dilarang.

Diunggah oleh

Elsa Nurafni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Pemahaman Jual Beli dalam Islam

Dokumen ini membahas tentang muamalah dalam Islam, yang mencakup pengertian, hukum, dan praktik jual beli. Jual beli diatur oleh syarat dan rukun tertentu yang harus dipenuhi agar sah menurut syariat Islam. Selain itu, terdapat berbagai jenis jual beli yang dibedakan menjadi yang sah, tidak sah, dan sah tetapi dilarang.

Diunggah oleh

Elsa Nurafni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Muamalah
Agama Islam merupakan suatu kesatuan keyakinan dan ketentuan
Ilahi yang mengatur kehidupan manusia baik dalam hubungannya dengan
Tuahn maupun dalam hubungannya dengan manusia serta hubungan
manusia dengan alam [Link]’at Islam merupakan dasar hukum baik
mengenai ibadat maupun mengenai hidup kemasyarakatan.
Yang pertama disebut ibadah dan yang kedua disebut mu’amalah.
Antara keduanya terdapat suatu kaitan yang sangat erat. Sebagaimana
halnya antara aqidah syari’ah dan ibadah serta mu’amalah yang
kesemuanya itu tidak dapat dipisah-pisahkan.
Tugas pokok umat Islam tentang menegakkan kebaikan, menolak
maksiat dalam pribadi-pribadi atau yang mungkin terjadi diantara mereka
dengan tetangganya dan umat Islam dengan orang kafir, perbuatan yang
mencegah penganiayaan, mempertahankan hak, melakukan kebajikan,
menciptakan perdamaian dan ketentraman adalah kesemuanya itu disebut
dengan mu’amalah.
B. Pengertian Jual Beli
Dalam bab sebelumnya telah dikatakan bahwa manusia dijadikan
Allah SWT sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu
dengan yang lain, dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia
harus berusaha mencari karunia Allah yang ada di muka bumi sebagai
sumber ekonomi. Allah SWT berfirman : ”Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. Al Qasas : 77).
Jual Beli dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata yang mengandung makna
berlawanan yaitu Al Bai’ yang artinya jual dan Asy Syira’a yang artinya

3
4

beli. Menurut istilah hukum syara, jual beli adalah penukaran harta (dalam
pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda
(barang) yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad)
tertentu atas dasar suka sama suka.
C. Hukum Jual Beli
Dalam urusan jual beli orang harus mengetahui hukum jual beli
agar dalam jual beli tersebut tidak ada yang dirugikan, baik dari pihak
penjual maupun pihak pembeli, jual beli hukumnya mubah (boleh).
Dengan kata lain setiap orang boleh melakukan kegiatan jual beli dengan
cara-cara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Allah berfirman
dalam Q.S. An Nisa ayat 29 : ”Hai orang0rang yang beriman, janganlah
kamu saling memakan sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan
jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.”
Hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut :
”Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka sama suka.” (HR
Bukhari).
Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan
jual beli dan tawar menawar harus ada sepakatan atau keseuaian harga
antara penjual dan pembeli.
D. Rukun Dan Syarat Jual Beli

Dalam ajaran Islam ada beberapa rukun dalam praktik jual beli.
1. Penjual dan Pembeli

Adapun penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli harus


memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :

a. Berakal sehat, yaitu seorang penjual dan pembeli harus memiliki


akal yang sehat agar dapat melakukan jual beli dengan sadar.
b. Atas dasar suka sama suka, yaitu atas kehendak sendiri dan tidak
dipaksa oleh pihak manapun.
5

c. Balig, Baik penjual atau pembeli harus sudah mencapai usia balig
atau dewasa. Sedangkan anak yang belum balig tetap dibolehkan
melakukan jual beli dengan tujuan untuk mendidik mereka.

2. Syarat Ijab dan Kabul antara Penjual dan Pembeli


Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan.
Sedangkan kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari
perkataan si penjual. Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan
kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalah saling rela
(ridho) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata.
3. Adanya Barang/Benda yang Diperjual belikan
Barang dagangan yang diperjual belikan harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Suci atau bersih dan halal barangnya.
b. Barang yang diperjualbelikan harus diteliti terlebih dahulu.
c. Barang yang diperjualbelikan tidak berada dalam proses penawaran
dengan orang lain
d. Barang yang diperjualbelikan bukan hasil monopoli yang merugikan
e. Barang yang diperjualbelikan tidak boleh ditaksir (spekulasi).
f. Barang yang diperjualbelikan adalah milik sndiri atau yang diberi
kuasa.
g. Barang itu dapat diserahterimakan.

E. Macam – Macam Jual Beli

Setelah mempelajari beberapa rukun dan syarat dalam praktik jual beli,
maka dapat dipahami bahwa ada beberapa praktik jual beli yang sah
menurut syari’at dan ada pula yang dilarang. Beberapa macam jual beli
menurut kaca mata syari’at Islam, yakni sebagai berikut :

1. Bentuk Jual Beli yang Sah


Bentuk jual beli yang sah maksudnya adalah semua transaksi jual beli
6

yang sesuai dengan beberapa rukun dan syarat yang telah disebutkan
diatas.
2. Jual Beli yang Tidak Sah
Jual beli yang tidak sah, dikarenakan kurang memenuhi syarat dan
rukunnya, diantaranya sebagai berikut :

a. Jual beli dengan menggunakan sistem ijon, yaitu jual beli yang
belum jelas barangnya seperti buah-buahan yang masih mudah di
pohon, padi yang masih hijau dan lain sebagainya. Jual beli ini
dilarang karena dapat merugikan salah satu pihak dan membuat
mereka menjadi kecewa.
b. Jual beli anak binatang ternak yang masih dalam kandungan dan
belum jelas apakah setelah lahir anak binatang itu hidup atau mati.
c. Jual beli barang yang belum ada wujudnya di tangan. Maksudnya,
barang yang dijual masih berada di tangan penjual pertama.

3. Jual Beli yang Sah Tetapi Dilarang


Ada beberapa jenis jual beli yang hukumnya sah, tetapi dilarang
ajaran agama Islam disebabkan adanya satu sebab atau akibat dari
prosesnya. Adapun yang termasuk jual beli ini adalah :

a. Jual beli yang dilakukan pada waktu shalat Jum’at. Kegiatan jual
beli ini dipandang akan melalaikan kewajiban menunaikan shalat
Jum’at.
b. Jual beli barang dengan niat untuk ditimbun pada saat masyarakat
membutuhkan. Jual beli seperti ini sah tetapi dilarang karena akan
menyengsarakan orang banyak, sehingga harga barang menjadi
melambung tinggi di saat terjadi kelangkaan barang.
c. Membeli barang dengan cara menghadang di pinggir jalan. Jual
beli ini sah hukumnya tetapi dilarang karena penjual tidak
mengetahui harga umum di pasar sehingga memungkinkan ia
menjual barangnya dengan harga di bawh harga pasar.
d. Jual beli barang yang masih dalam tawaran orang lain.
7

e. Jual beli dengan cara menipu, seperti mengurangi timbangan atau


ukuran atau takaran.
f. Jual beli barang yang digunakan untuk perbuatan maksiat seperti
untuk pencurian, perampokan, berjudi dan lain-lain.

4. Khiyar

Tawar menawar antara penjual dan pembeli sebelum terjadinya


akad merupakan peristiwa yang pasti terjadi dalam setiap transaksi
jual beli. Kegiatan inilah yang disebut dangan istilah khiyar. Dalam
proses inilah antara penjual dan pembeli sama-sama memiliki hak
untuk meneruskan akad jual beli atau membatalkannya. Khiyar
dilakukan agar si penjual dan si pembeli memiliki kesempatan untuk
memikirkan yang terbaik dalam jual beli. Hukum khiyar adalah boleh
sepanjang tidak dipergunakan untuk menipu. Jika khiyar
dipergunakan oleh si penjual atau si pembeli untuk menipu, maka
hukumnya haram.

Anda mungkin juga menyukai