0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan74 halaman

Peningkatan Hasil Belajar Kelas V SD 108/II

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri 108/II Perumnas melalui penerapan model pembelajaran Experiential Learning. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa, dari rata-rata 56,25% pada siklus I menjadi 81,25% pada siklus II. Penerapan model ini terbukti efektif dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa.

Diunggah oleh

Darsi Yanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan74 halaman

Peningkatan Hasil Belajar Kelas V SD 108/II

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas V di SD Negeri 108/II Perumnas melalui penerapan model pembelajaran Experiential Learning. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil belajar siswa, dari rata-rata 56,25% pada siklus I menjadi 81,25% pada siklus II. Penerapan model ini terbukti efektif dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa.

Diunggah oleh

Darsi Yanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL

EXPERIANTAL LEARNING DI KELAS V SEKOLAH DASAR


NEGERI 108/II PERUMNAS KECAMATAN RIMBO
TENGAH KABUPATEN BUNGO

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan


Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S.1)
Pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

Oleh :
USWATUN KASANAH
NIM: PM.02.220.0921

YAYASAN NURUL ISLAM


INSTITUT AGAMA ISLAM YASNI BUNGO
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH
IBTIDAIYAH
2024
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN MODEL
EXPERIANTAL LEARNING DI KELAS V SEKOLAH DASAR
NEGERI 108/II PERUMNAS KECAMATAN RIMBO
TENGAH KABUPATEN BUNGO

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar menggunakan Model
Pembelajaran Experiential Learning dapat meningkatkan hasil belajar pada Siswa
Kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/ii Perumnas Kecamatan Rimbo Tengah
Kabupaten Bungo dan untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran
Experiential Learning dapat meningkatkan hasil belajar Siswa Kelas V Sekolah
Dasar Negeri 108/ii Perumnas Kecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo. Jenis
penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini terdiri dari 2
siklus dilaksanakan melalui 4 tahap yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, dan
refleksi. Setiap siklus terdiri dari 2 kali [Link] pengumpulan data yang
diginakan adalah observasi, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian penerapan
model pembelajaran Experiential Learning dapat meningkatkan hasil terbukti
dengan diperolehnya hasil belajar hasil belajar pada setiap siklusnya.
Peningkatan hasil belajar dimana pada siklus I dengan rata-rata perolehan
56,25%. Pada siklus II rata-rata nilai perolehan kembali meningkat menjadi 81,25%
hal ini membuktikan terjadinya peningkatan hasil belajar pada setiap siklusnya.
Penerapan model pembelajaran Experiential Learning memiliki dampak positif
dalam meningkatkan hasil belajar yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan
belajar siswa dalam setiap siklus di Sekolah Dasar Negeri 108/ii Perumnas
Kecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo.

Kata-kata kunci: Hasil Belajar, Model, Experiential Learning

i
IMPROVING LEARNING OUTCOMES USING EXPERIANTAL LEARNING
MODELS IN CLASS V PRIMARY SCHOOL NEGERI 108/II PERUMNAS
RIMBO DISTRICT CENTRAL BUNGO DISTRICT

ABSTRACT

This research aims to determine learning outcomes using the Experiential Learning
Learning Model which can improve learning outcomes for Class V Students at State
Elementary School 108/ii Perumnas, Central Rimbo District, Bungo Regency and to
find out whether the application of the Experiential Learning learning model can
improve learning outcomes for Class V Elementary School Students. Negeri 108/ii
Perumnas Tengah Rimbo District, Bungo Regency. This type of research uses
classroom action research. This research consists of 2 cycles carried out through 4
stages, namely, planning, action, observation and reflection. Each cycle consists of 2
meetings. The data collection techniques used are observation, tests and
documentation. The research results of applying the Experiential Learning learning
model can improve results as proven by the achievement of learning outcomes in
each cycle. Increased learning outcomes in cycle I with an average gain of 56.25%.
In cycle II the average gain score increased to 81.25%, this proves that there is an
increase in learning outcomes in each cycle. The application of the Experiential
Learning learning model has a positive impact in improving learning outcomes which
is marked by increasing student learning completeness in each cycle at State
Elementary School 108/ii Perumnas, Central Rimbo District, Bungo Regency.

Key words: Learning Outcomes, Model, Experiential Learning

ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI

Muara Bungo, 24 Juli 2024


Pembimbing I : Dr.M. Syukri Ismail,M.A.
Pembimbing II : Prengki Ade Candra,[Link].I
Alamat : Institut Agama Islam (IAI) Yasni Bungo Jalan Lintas Sumatra
Km. 4 Arah Padang Kel. Sei Binjai Kec. Batin III

Kepada
Yth. Rektor IAI Yasni Bungo
Di
Muara Bungo
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Setelah membaca dan membimbing, maka kami berpendapat bahwa skripsi
saudari USWATUN KASANAH PM.02.220.0921 yang berjudul:
“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN
MODEL EXPERIENTAL LEARNING DI KELAS V SEKOLAH DASAR
NEGERI 108/II PERUMNAS KECAMATAN RIMBO TENGAH KABUPATEN
BUNGO" telah dapat diajukan untuk dimunaqasyahkan guna melengkapi tugas-tugas
dan memenuhi syarat-syarat untuk mencapai gelar Sarjana Satu (S.1) pada IAI Yas ni
Bungo.
Demikian skripsi ini kami ajukan semoga bermanfaat bagi kepentingan
agama, nusa dan bangsa.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

PEMBIMBING I PEMBIMBING II

Dr.M. Syukri Ismail, M.A. Prengki Ade Candra,[Link].I


NIDN : 2125108501 NIDN : 2110018801

iii
YAYASAN NURUL ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM
YASNI BUNGO
Alamat : Jl. Lintas Sumatera KM.04 Sei Binjai Kec. Bathin III Kab. Bungo Kode Pos 37211
HP. 08526674041 Website : [Link] e-mail : [Link]

PENGESAHAN

Skripsi atas nama Uswatun Kasanah NIM: PM.02.220.0921 Program Studi


Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan telah
dimunaqasyahkan oleh sidang Institut Agama Islam (IAI) Yasni Bungo dan telah
diterima sebagai bagian dari persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh gela
Sarjana Strata Satu (S.1).
Muara Bungo, ..................... 2024
Sekretaris Sidang Ketua

NIDN : NIDN :

Penguji I Pembimbing I

[Link] Ismail, M.A.


NIDN : NIDN : 2125108501

Penguji II Pembimbing II

Prengki Ade Candra [Link].I


NIDN : NIDN :2110018801

iv
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Uswatun Kasanah


NIM : PM.02.220.0921
Tempat Tanggal Lahir : Purwoharjo, 22 januari 2002
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Program Studi : S.1 / Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul
“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN
MODEL EXPERIENTAL LEARNING Di KELAS V SEKOLAH DASAR
NEGERI 108 /II PERUMNAS KECAMATAN RIMBO TENGAH
KABUPATEN BUNGO " adalah benar-benar merupakan karya asli saya, kecuali
kutipan-kutipan yang disebutkan sumbernya. Apabila terdapat kesalahan dan
kekeliruan dalam skripsi ini maka sepenuhnya merupakan tanggung jawab saya
sebagai penulis.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya unyuk dapat di
pergunakan sebagaimana mestinya.

Muara Bungo, 2024


Penulis

Uswatun Kasanah
NIM : PM.02.220.0921

v
MOTTO

َّ ‫ش ْيـًئا َّو َجعَ َل لَ ُك ُم ال‬


‫س ْم َع‬ ُ ُ‫ّٰللاُ ا َ ْخ َر َج ُك ْم ِّم ْن ب‬
َ َ‫ط ْو ِّن ا ُ َّم ٰهتِّ ُك ْم َل ت َ ْعلَ ُم ْون‬ ‫َو ه‬
َ‫ار َو االَ افـِٕدَة َ ۙ لَ َعلَّ ُك ْم ت َ ْش ُك ُر ْون‬َ ‫ص‬َ ‫َو ْالَ ْب‬
Artinya : “Dan allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu apapun dan Dia Allah memberi kamu pendengaran,
penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur” (Q.S An-Nahl Ayat 78 ).1

1
Kementerian Agama, Alquran dan Terjemahannya (Jakarta: CV Tahta Media Grup, 2021), h.4

vi
UCAPAN TERIMAKASIH

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, puji dan sukur kehadirat Allah SWT. Yang telah
melimpahkan kemuliaan dan rahmat ilmu serta kekuatan bagi penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Maka dengan segala kerendahan hati penulis
menyampaikan ucapan terimakasih yang sedalam-dalamnya untuk orang-orang
tersayang yang sangat banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skrisi ini,
penulis banyak menerima bimbingan, petunjuk dan bantuan serta dorongan dari
berbagai pihak, baik yang bersifat moral maupun material. Karya ilmiah ini penulis
dedikasikan untuk :

1. Ayahanda dan ibunda tercinta, yang selalu mendukung peneliti dalam bentuk
perhatian, kasih sayang, semangat dan serta doa yang tidak henti- hentinya
mengalir demi kelancaran dan kesuksesan peneliti dalam menyelesaikn skripsi
ini.

2. Terimakasih untuk suamiku tercinta, yang selalu mendukung, mensupport


memberikan perhatian dan juga membantu istrinya untuk selalu mengerjakan
skripsi ini.

3. Terimakasih banyak adik tercinta, yang telah memberikan doa, dukungan serta
perhatian kepada peneliti.

4. Terimakasih banyak kepada seluruh keluarga besar yang telah memberikan doa,
dukungan kepada peneliti.

5. Teman-teman terdekat yang banyak membantu, memberikan motivasi serta


memberi dorongan bagi penulis yang tidak dapat disebut satu persatu.

6. Teman-teman seperjuangan Program Studi PGMI angkatan 2020 yang sama-


sama telah memberikan semangat bagi penulis.

vii
7. Terimaksih kepada Ibu Fitria Riani [Link]. selaku wali kelas V SD N 108/II
Perumnas Kabupaten Bungo, yang telah membantu peneliti menyelesaikan
penelitian.

8. Keluarga besar SD N 108/II Perumnas Kabupaten Bungo yang sudah


memberikan izin riset dan membantu dalam menyelesaikan penelitian.

viii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.


yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya. Mahasuci Allah yang telah
memudahkan segala urusan, karena berkat Kasih Sayang-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas akhir (skripsi) ini. Shalawat dan salam semoga tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia
sampai akhir zaman. Penulis dapat menyelesaikan skripsi ini berjudul “
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN
MODEL EXPERIENTAL LEARNING DI KELAS V SEKOLAH DASAR
NEGERI 108/II PERUMNAS KECAMATAN RIMBO TENGAH
KABUPATEN BUNGO. ”

Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk


memperoleh gelar Strata Satu (S.1) pada program studi Tadris Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di Institut Agama Islam (IAI) Yasni Bungo.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu
demi kelancaran dalam penyelesaian skripsi ini, terutama kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. As’ad Isma, [Link]. selaku kopertais wilayah XIII Jambi.
2. Bapak Drs. H. Idham Kholik, ME. selaku ketua Yayasan IAI Yasni Bungo.
3. Bapak Dr. Muhammad Solihin, [Link].I. selaku Rektor IAI Yasni Bungo.
4. Bapak Dr. Muhammad Zaki, [Link], M.A. selaku wakil rektor I. Ibu Dra. Hj.
Nurbeda, [Link].I., selaku wakil rektor II. Ibu Feerlie Moonthana Indhra, [Link].
selaku wakil rektor III IAI Yasni Bungo.
5. Ibu Sriani, [Link].I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
6. Bapak Dr. Sugeng Kurniawan, [Link].I selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah.

ix
7. Bapak Dr.M. Syukri Ismail, M.A. selaku Pembimbing I.
8. Bapak Prengki Ade Candra,MPd.I. selaku Pembimbing II
9. Segenap Dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah IAI Yasni
Muara Bungo yang telah mendidik serta memberi izin penelitian guna penulisan
skripsi.
10. Seluruh Civitas Akademik dan Staf Perpustakaan.
11. Ibu Fadilah,[Link]. selaku kepala sekolah SD N 108/II Perumnas Kabupaten
Bungo.
12. Terimaksih kepada Ibu Fitria Riani,[Link]. selaku wali kelas V SD N 108/II
Perumnas Kabupaten Bungo, yang telah membantu peneliti menyelesaikan
penelitian.
13. Keluarga besar SD N 108/II Rantau Panjang Kabupaten Bungo yang sudah
memberikan izin riset dan membantu dalam menyelesaikan penelitian.
Sebagai manusia biasa penulis menyadari penyusunan skripsi ini jauh dari kata
sempurna karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh
penulis. Oleh karenanya atas kesalahan dan kekurangan dalam penulisan skripsi ini,
penulis memohon maaf dan bersedia menerima kritikan yang membangun.
Harapan penulis, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi
siapa saja yang membacanya.

Muara Bungo,10 Oktober 2024

USWATUN KASANAH

PM.02.220.0921

x
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ..........................................................................................
ABSTRAK ........................................................................................................... i
ABSTRACT .......................................................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................... iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ iv
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS .................................................. v
MOTTO ............................................................................................................... vi
UCAPAN TERIMAKASIH................................................................................ vii
KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ix
DAFTAR TABEL................................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................................... 6
C. Batasan Masalah .............................................................................................. 7
D. Rumusan Masalah ............................................................................................ 7
E. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 7
F. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 7
BAB II KAJIAN TEORETIK
A. Landasan Teori ................................................................................................. 9
B. Penelitian Yang Relevan .................................................................................. 9
C. Kerangka Berfikir ............................................................................................. 11
D. Hipotesis Tindakan........................................................................................... 12
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ................................................................................................. 19
B. Setting dan Subjek Penelitian ........................................................................... 20

xi
C. Prosedur Penelitian ........................................................................................... 22
D. Jenis dan Sumber Data ..................................................................................... 24
E. Teknik Pengumpulan Data ............................................................................... 25
F. Instrumen Pengumpulan Data ........................................................................... 25
G. Teknik Analisis Data ........................................................................................ 27
H. Verifikasi Data ................................................................................................. 28
I. Indikator Keberhasilan Tindakan....................................................................... 28
J. Jadwal Penelitian ............................................................................................... 29
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Hasil Penelitian ................................................................................................ 30
B. Pembahasan Hasil Penelitian............................................................................ 46
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan....................................................................................................... 50
B. Saran ................................................................................................................. 51
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

xii
DAFTAR TABEL

No. Keterangan Tabel Hal


1.1 : Hasil Nilai UTS IPAS kelas V Sd 108/II Perumnas 4

3.1 : Kriteria Penilaian Aktivitas Guru 25

3.2 : Kriteria Penilaian Peserta Didik 26

3.3 : Kriteria Hasil Belajar 26

3.4.: Interval Ketuntasan Belajar 27

4.1 : Nilai Hasil Tes Peserta Didik Siklus I Kelas V 33

4.2 : Nilai Hasil Tes Peserta Didik Siklus II 42

4.3 : Data Proses Pembelajaran 43

4.4 : Data Proses Pembelajaran Persiklus 44

xiii
DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Tabel Hal
4.1 Kegiatan Siklus inti Pembelajaran I 31

4.2 Kegiatan Siklus inti Pembelajaran II Pertemuan Pertama 36

4.3 Kegiatan Inti Siklus Pembelajaran II Pertemuan Ke Dua 39

xiv
DAFTAR BAGAN

No. Keterangan Tabel Hal


2.1 Kerangka Konseptual 17

3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas Menurut Arikunto 21

4.1 Peningkatan Hasil Belajar Persiklus 45

xv
No. Keterangan Lampiran

1. Pedoman Wawancara dan Observasi


2. Modul Ajar
3. Surat izin melakukan penelitian
4. Surat keterangan selesai meneliti
5. Dokumen foto kegiatan
6. Daftar Riwayat Hidup

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa.
Demikian dengan bangsa ini, dimana pemerintah sangat memperhatikan bidang
pendidikan, terutama pendidikan dasar untuk membentuk karakter peserta didik.
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dijelaskan
bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, kemajuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 1
Pendidikan di tingkat dasar adalah sebuah Pendidikan yang membantu peserta
didik mendapatkan pengetahuan keterampilan dan menumbuhkan sikap dasar yang
diperlukan dalam masyarakat. Undang -undang sistem Pendidikan nasional pada bab
VI pasal 17 mendeskripsikan Pendidikan dasar berbentuk SD dan MI di sini
merupakan fondasi dari peradaban manusia esensinya ditekankan pada fakta dan
membaca fakta -fakta dalam pergelaran objektivitas alam semesta. Kurikulum
Merdeka Belajar adalah kurikulum baru yang diterapkan di Indonesia dengan tujuan
untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk
menghadapi tantangan global di masa depan.2
Sebagaimana yang juga telah allah jelas kan dalam ayat alqur’an surah

1
Peraturan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan No. 37 Tahun 2018 Pada Pendidikan Dasar Dan
Pendidikan Menengah Dalam Pasal 2A’, 2018
2
Kemdikbud. (2020) “Asesmen Nasional: AKM, Survey Karakter dan Lingkungan Belajar,” (Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan, 2019), h. 123.

1
2

munajah ayat 11 yang berbunyi

‫ّٰللاُ لَ ُك ْۚ ْم َواِّذَا قِّ ْي َل‬


‫ح ه‬ َ ‫س ُح ْوا يَ ْف‬
ِّ ‫س‬ َ ‫س ُح ْوا فِّى الْ َمجٰ ِّل ِّس فَا ْف‬ َّ َ‫ٰيٰٓاَيُّ َها الَّ ِّذيْنَ ٰا َمنُ ْٰٓوا اِّذَا قِّيْ َل لَ ُك ْم تَف‬
‫ّٰللاُ الَّ ِّذيْنَ ٰا َمن ُ ْوا ِّم ْنكُ ْم َوالَّ ِّذيْنَ ا ُ ْوتُوا ْال ِّع ْل َم دَ َرجٰ ٍۗت َو ه‬
‫ّٰللاُ بِّ َما تَعْ َمل ُ ْو َن‬ ‫ش ُز ْوا يَ ْرفَ ِّع ه‬ ُ ‫ش ُز ْوا فَا ْن‬ُ ‫ا ْن‬
4
‫َخبِّيْر‬
Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu “Berilah kelapangan
di dalam majelis-majelis,” lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Apabila dikatakan, “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan
mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Salah satu fokus dari Kurikulum Merdeka Belajar adalah pengembangan
keterampilan abad ke-21, termasuk keterampilan dalam bidang lingkungan hidup.
Dalam muatan kurikulum 2013 dan sebelumnya mata pelajaran IPA dan IPS berdiri
sendiri namun dengan pertimbangan psikologi perkembangan anak usia SD/MI saat
masa strategis untuk penambangan kemampuan inkuiri anak. Dalam desain kurikulum
merdeka belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan ilmu pengetahuan Sosial digabung
menjadi ilmu pengetahuan alam dan sosial (IPAS). Selain itu untuk mengurangi
beban jam belajar murid, maka pelajaran IPA dan IPS pada Fase B dan Pada jenjang
SD. Pendidikan di SD IPS merupakan mata pelajaran ditujukan untuk membangun
kemampuan literasi sains dasar. Muatan IPAS merupakan fondasi untuk menyiapkan
peserta didik mempelajari ilmu pengetahuan alam dan ilmu sosial yang lebih kompleks
di jenjang sekolah menengah pertama (SMP).5
IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dalam Kurikulum
Merdeka Belajar bertujuan untuk mengembangkan pendidikan yang lebih holistik,
multidisiplin, dan kontekstual. Dalam integrasi ini, kedua mata pelajaran tersebut tidak

3
Kementerian Agama, Alquran dan Terjemahannya (Jakarta: CV Tahta Media Grup, 2021), h.230
4
Mulyasa,: Pendidikan Bermutu Dan Berdaya Saing. (Bandung: PT Remaja Rosdkary, 2012), h.67.
3

hanya dipelajari secara terpisah, tetapi juga dihubungkan satu sama lain sehingga
peserta didik dapat memahamiketerkaitan antara aspek alamiah dan sosial dalam
kehidupan sehari-hari.
Integrasi IPA dan IPS juga dapat meningkatkan relevansi pembelajaran dengan dunia
nyata dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan di era globalisasi seperti
berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan berinovasi. Selain itu, integrasi juga
dapat membantu siswa memahami peran ilmu pengetahuan dalam memecahkan
masalah sosial dan lingkungan serta menjawab tantangan masa depan.6IPAS atau Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial adalah salah satu mata pelajaran yang diajarkan di
sekolah dasar. IPAS memuat pembelajaran tentang sains dan sosial, yang meliputi
kajian tentang alam, teknologi.
Ada beberapa teori pembelajaran yang relevan dengan pembelajaran IPAS, yaitu teori
konstruktivisme, teori pembelajaran kooperatif, dan teori pembelajaran berbasis
proyek. Pembelajaran IPAS bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi
belajar, serta memperluas wawasan peserta didik dalam pembelajaran, jika dirasa
kurang tercapai apabila peserta didik tidak aktif dalam proses belajar dan tidak
memiliki kreativitas. Untuk mencapai hal itu diharapkan guru memiliki kreativitas dan
kemampuan professional yang baik.7
Pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan model
pembelajaran yang inovatif untuk peningkatan partisipasi peserta didik dalam
mengikuti berbagai mata pelajaran. Keberhasilan pembelajaran dapat ditunjukkan
dengan dikuasainya tujuan pembelajaran oleh pesertdidik. Diakui bahwa salah satu
faktor keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan pendidik dalam
merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Pembelajaran yang berhasil dan

5
Anjarwati, Sulis,. Meningkatkan Keterampilan Proses sain dan Hasil Belajar Biologi Melalui Model
Pembelajaran Experintal Learning Siswa Kelas VIIa SMP Negri 1 Gedung aji. Jurnal Bioedukasi. Vol.
9, no I, h. 45.
6
Afandi, R. (2015). Pengembangan media pembelajaran permainan ular tangga untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa dan hasil belajar IPA di sekolah dasar. JINoP (Jurnal Inovasi Pembelajaran),
1(1), 77-89.
4

kondusif biasanya diukur dengan tingkat penguasaan materi pembelajaran melalui tes
dan partisipasi peserta didik selama proses pembelajaran.8
Berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan pada tanggal 07- 12
agustus 2024 yang didampingi oleh Ibu fitria Riani, [Link] selaku pendidik kelas V
dengan topik apa itu magnet dan sifatnya. Bahwa proses pembelajaran IPAS masih
berfokus pada pendidik, rendahnya respon umpan balik dari peserta didik saat proses
pembelajaran, pendidik kurang memvariasikan model pembelajaran, tingkat
penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran IPAS yang masih rendah.
Berikut data hasil belajar peserta didik kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II
Perumnas.

Tabel 1.1
Hasil Nilai UTS IPAS kelas V SEKOLAH Dasar 108/II Perumnas :
INISIAL SKOR
NO P/L KETUNTASAN
PESERTA DIDIK PEROLEH
1 AM L 70 TIDAK TUNTAS
2 DNS P 60 TIDAK TUNTAS
3 DS L 80 TUNTAS
4 FM P 60 TIDAK TUNTAS
5 HSS P 80 TUNTAS
6 JM P 90 TUNTAS
7 KR P 60 TIDAK TUNTAS
8 MAL L 85 TUNTAS
9 MJ P 50 TIDAK TUNTAS
10 MDA L 60 TIDAK TUNTAS
11 MAA L 60 TIDAK TUNTAS
12 MD L 70 TIDAK TUNTAS
13 MR L 50 TIDAK TUNTAS
14 NMP P 85 TUNTAS
15 NS P 80 TUNTAS
16 RAR L 50 TIDAK TUNTAS

7
Ibid. h. 90
5

17 RS L 70 TIDAK TUNTAS
18 RPA P 60 TIDAK TUNTAS
19 RAK L 65 TIDAK TUNTAS
20 RA P 50 TIDAK TUNTAS
1 ≥ 75 Tuntas 6 30 %
2 ˂ 75 Belum 14 70 %
Tuntas
Jumlah 20 100 %
Sumber : Guru kelas V nilai UTS IPAS Sekolah Dasar Negeri108/II Perumnas

Bedasarkan tabel 1.1 nilai IPAS peserta didik kelas V Sekolah Dasar Negeri
108/II Perumnas menunjukkan masih terdapat banyak peserta didik yang belum tuntas
dalam pembelajaran. Pembelajaran tersebut menggunakan standar nilai KKTP
(Kriteria Ketercapaia Tujuan Pembelajaran) 75, peserta didik yang dinyatakan
tuntas belajar baru mencapai 30% atau jumlah peserta didik yang mencapai nilai
diatas 75 berjumlah 6 orang peserta didik dari 20 peserta didik. Dan peserta didik
yang belum dinyatakan belum tuntas mendapat nilai dibawah 75 berjumlah 14 orang
peserta didik atau 70% dari 20 peserta didik yang ada dikelas. Untuk data nilai
lengkap ada pada lampiran. Berdasarkan fakta yang telah diterangkan pada tabel 1.1,
dapat peneliti simpulkan bahwa seorang pendidik dituntut untuk dapat menarik minat
peserta didik dan dituntut agar dapat membuat peserta didik berperan aktif dalam
proses pembelajaran. Berbagai macam strategi dan jenis media pembelajaran ataupun
model pembelajaran yang bisa digunakan oleh pendidik untuk memfasilitasi dan
memvariasikan kegiatan proses belajar mengajar agar mendapatkan hasil yang baik
pula yang sesuai dengan harapan. Dalam usaha pengembangan tersebut salah satunya
dengan menggunakan model pembelajaran Experintal Lerning.9
Model Experiental learning menyciptakan pembelajaran yang lebih nyata
sehingga di harapkan dapat mebantu peserta didik mudah memahami materi yang di
sampaikan oleh pendidik. Faktor ini juga dapat menjadi permasalahan dalam

8
Muhammad , Experintal Learning. (Englewood Cliffs, Nj: Prentice, 2018), h. 128.
6

pembelajaran dapat menjadi penghambat dalam kegiatan belajar mengajar. Seorang


pendidik harus memiliki kreatifitas dalam mengajar agar mampu menciptakan
pembelajaran yang menarik, berkesan dan menyenangkan sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik. Adapun solusi yang di berikan untuk
peningkatan proses dan hasil belajar IPAS dengan menggunakan Model Experiental
learning pada peserta didik kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas.
Penggunaan Model pembelajaran Experiental Learning di rasa cukup efektif karena
proses pembelajaran mengkontruksi pengetahuan melalui transformasi pengalaman.
Belajar dari pengalaman mencakup keterkaitan antara berbuat atau berpikir.
Tentang apa yang di pelajarinya dan kemudian bagaimana menerapkan apa yang telah
di pelajari dalam situasi nyata.10
Pembelajaran Experiental Learning adalah suatu Model proses belajar mengajar
yang mengaktifkan pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan keterampilan
melalui pengalaman secara langsung. Pengalaman tersebut sebagai katalisator untuk
menolong pembelajaran mengembagkan kapasitas dan kemampuan dalam proses
pembelajaran.11
Pembelajaran dari model Experintal Learning akan membantu peserta didik dan
dilibatkan oleh pengalaman-pengalaman baru yang melibatkan hubungan antara
peserta didik lain dengan lingkungan sekitarnya. Pengalaman yang baru tersebut
nantinya akan menjadi pengetahuan baru yang diperoleh peserta didik. Penerapan
Model pembelajaran Experiental Learning di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II
Perumnas di harapkan dalam pembelajaran ada peningkatan proses dan hasil belajar .
IPAS mengunakan Model pembelajaran Experiental Learning. Karena Model
pembelajaran Experiental Learning merupakan alat bantu untuk menciptakan
pembelajaran yang efektif karna setiap pembelajaran yang baik di tandai dengan
adanya beberapa unsur, antara lain tujuan, bahan, model, alat dan evaluasi. Dalam

9
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia,2011), h. 271
10
Abdul Majid, Pembelajaran Tematik Terpadu, (bandung : PT Remaja Rosda Karya, 2014), h.140.
7

pembelajaran IPAS alat peraga dan alat bantu merupakan media pengajaran yang
cukup membantu peserta didik di dalam kelas.

Berdasarkan latar belakang sebagai mana telah diuraikan, maka dalam


penelitian tindakan kelas ini peneliti memilih judul Peningkatkan Proses dan Hasil
Belajar IPAS Peserta didik Melalui Model Pembelajaran Experiental Learning di
kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang maka peneliti dapat mengidentifikasi
masalah yang terdapat dikelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas sebagai
berikut:
1. Pembelajaran IPAS masih berfokus pada pendidik
2. Rendahnya respon umpan balik dari peserta didik saat pembelajaran
3. Pendidik kurang memvariasikan model pembelajaran
4. Tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran IPAS masih
rendah
5. Hasil belajar peserta didik yaitu 31% yang tuntas dan 69% yang tidak tuntas

C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah dipaparkan,
penelitian ini difokuskan pada penggunaan model pembelajaran Expriental Learning
untuk meningkatkan proses dan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran IPAS
kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian sebagai
berikut:
a. Bagaimana meningkatan hasil belajar Model Expriental Learning pada mata
Pelajaran IPAS di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas?
b. Bagaimana peserta didik setelah menggunakan Model Expriental Learning
8

pada Pelajaran IPAS di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas

E. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan :
a. Mendeskripsikan peningkatan proses belajar IPAS peserta didik melalui Model
Expriental Learning pada pembelajaran IPAS di kelas V SDN 108/II Perumnas.
b. Mendeskripsikan peningkatan hasil belajar IPAS peserta didik Model Expriental
Learning pada pembelajaran IPAS di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II
Perumnas.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak diantaranya
sebagi berikut:
a. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam dunia
pendidikan berupa gambaran mengenai sebuah teori yang menyatakan bahwa
peningkatan proses dan hasil belajar ilmu pengetahuan alam menggunakan model
pembelajaran Experiental Learning terhadap peserta didik sekolah dasar sangat
bermanfaat bagi peserta didik.

6. Manfaat Praktis

a. Bagi Peserta didik

Meningkatkan proses pembelajaran pada mata pelajaran ilmu pengetahuan al


Meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam menerapkan model pembelajaran
Experiental Learning pada proses pembelajaran.
b. Bagi Pendidik

1) Pendidik dapat menganalisis terjadinya permasalahan-permasalahan pembelajaran


dan mengatasinya

2) Memperoleh informasi mengenai model Experiental Learning dalam meningkatkan


9

proses dan hasil belajar ilmu pengetahuan alam.


c. Bagi Sekolah

1) Dapat meningkatkan mutu pendidikan sekolah.

2) Menciptakan kondisi dan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenagkan.


d. Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis dan diharapkan dapat memberikan
manfaat sebagai peneliti yang relevan yang lain.
BAB II

KAJIAN TEORITIK
A. Landasan Teori
1. Proses dan Hasil Belajar
a. Proses Hasil Belajar
Proses belajar merupakan keseluruhan kegiatan yang untuk membelajarkan
peserta didik. Pada satuan pendidikan proses pembelajaran di selenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyengakan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.1
Belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil
atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni
mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan
kelakuan. Selain itu belajar adalah stau proses perubahan tingkah laku individu
melalui interaksi dengan lingkungan. Hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang
terjadi pada diri peserta didik baik yang menyangkut afektif, dan psikomotorik
sebagai hasil dari kegiatan belajar. Sedangkan hasil belajar di bidang pendidikan
adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif,
afektif, dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan
menggunakan instrumen tes atau instrument yang relevan jadi hasil belajar adalah
pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan oleh bentuk symbol, huruf
maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap peserta didik
pada periode tertentu.2
Berdasarkan beberapa pengertian diatas peneliti menyimpulkan pengertian hasil

1
Abdul Majid, Belajar dan pembelajaran pendidikan Agama Islam, (Bandung
:Remaja Rosdayakarya,2012), h.127.
2
Ibid, h 180.

10
11

belajar adalah perubahan kemampuan dalam segi kognitif, afektif, maupun


psikomotorik yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil kegiatan atau
proses belajar mengajar.
b. Tujuan Belajar
Adapun tujuan belajar secara lebih mendetail tertera pada poin-poin berikut ini,
diantaranya:1
1) Meningkatkan Kemandirian

Belajar merupakan cara agar manusia dapat lebih disiplin dan mandiri. Dalam
mempelajari suatu bidang, seseorang perlu untuk meluangkan waktu khusus secara
rutin.
2) Mengembangkan Kecerdasan

Tujuan utama belajar adalah untuk mengembangkan kecerdasan. Mempelajari


beberapa macam ilmu dan pengetahuan juga termasuk sebagai cara
mengembangkan pemikiran.
3) Meningkatkan Keterampilan Sosial

Tujuan belajar yang terakhir adalah sebagai langkah untuk meningkatkan


kemampuan keterampilan sosial. Pendidik dan peserta didik merupakan interaksi
antara manusia dalam sebuah rangka pendidikan yang dinamis.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas penulis menyimpulkan tujuan belajar
adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa peserta didik telah melakukan
tugas belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap
yang baru, yang diharapkan tercapai oleh peserta didik. tujuan belajar adalah suatu
deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh peserta didik setelah
berlangsungnya proses belajar.

3
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia,2011), h. 271.
12

c. Faktor Yang Mempengaruhi Belajar


Faktor yang membengaruhi belajar dipengaruhi diantaranya adanya sifat ingin tahu
yang ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, Adanya sifat yang kreatif yang ada
pada manusia dan keinginan untuk selalu maju, Adanya keinginan untuk mendapatkan
simpati dari orang tua, pendidik dan teman-teman, Adanya keinginan untuk
memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi
maupun dengan kompetisi, Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bila
menguasai pelajaran dan Adanya ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada
belajar.1

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor
kemampuan siswa dan faktor lingkungan. factor-faktor yang mempengaruhi hasil
belajar ke dalam sepuluh macam, yaitu kecerdasan, kesiapan peserta didik, bakat
peserta didik, kemampuan belajar, minat peserta didik, model penyajian materi, sikap
pendidik, suasana belajar, kopetensi pendidik, kondisi masyarakat.2
2. Pengertian Pembelajaran IPAS

a. Pengertian IPAS

Seiring dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan juga senantiasa


mengalami perkembangan. Apa yang kita ketahui sebagai sebuah kebenaran ilmiah di
masa lampau boleh jadi mengalami pergeseran di masa kini maupun masa depan. Itu
sebabnya ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan merupakan sebuah upaya terus
menerus yang dilakukan oleh manusia untuk mengungkap kebenaran dan
memanfaatkannya untuk kehidupan.3
Daya dukung alam dalam memenuhi kebutuhan manusia dari waktu ke waktu
juga semakin berkurang. Pertambahan populasi manusia yang terjadi secara

4
Rusmaini,Ilmu pendidikan,([Link] Pelindo Press,2011),h.1.
5
Nana Sudjana, Dasar- dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo,2013), h. 28.
6
Aunurrahman, belajar dan pembelajaran,(Bandung, Alfabeta, 2014),h.33.
13

eksponensial juga memicu banyaknya permasalahan yang dihadapi. Seringkali


permasalahan yang muncul tidak dapat diselesaikan dengan melihat dari satu sudut
pandang: keilmuan alam atau dari sudut pandang ilmu sosial saja, melainkan
dibutuhkan pendekatan yang lebih holistik yang meliputi berbagai lintas disiplin
ilmu.1
Untuk memberikan pemahaman ini kepada peserta didik, pembelajaran ilmu
pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial perlu dipadukan menjadi satu kesatuan
yang kemudian kita sebut dengan istilah IPAS. Dalam pembelajaran IPAS, ada 2
elemen utama yakni pemahaman IPAS (sains dan sosial), dan keterampilan
Proses.

b. Pembelajaran IPAS di sekolah dasar


Pembelajaran IPAS di sekolah dasar seharusnya difokuskan pada
pengembangan kemampuan berpikir siswa dan keterlibatan siswa secara aktif dalam
pembelajaran. IPAS adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya
secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir, dan berkembang melalui metode
ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah.2
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia. Pengetahuan
alam berarti pengetahuan tentang alam semesta beserta isinya. Sedangkan ilmu adalah
pengetahuan yang ilmiah, pengetahuan yang diperoleh secara ilmiah, artinya
diperoleh dengan metode ilmiah. Dengan pengertian ini, maka IPAS dapat diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang sebab dan akibat kejadian-kejadian yang ada
di alam ini.3
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Ilmu

7
Lefudin,Belajar dan pembelajaran,(Yogyakarta Deepublish,2012), h. 89.
8
Moh User Usman, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar,(Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 1993) h. 96.
9
Ummy Kalsum, Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas IV di MI
Wahtoniyah Palembang,Wawancara 9 Setember 2017, h.211.
14

Pengetahuan Alam dan sosial (IPAS) merupakan ilmu pengetahuan yang sistematika
dan dapat mengembangkan pemahaman serta penerapan konsep untuk dijadikan
sebuah produk. IPAS adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi
di alam dengan melakukan pengamatan, percobaan dan penyimpulan yang dilakukan
oleh manusia. Dalam hal ini diharapkan dengan kemampuan yang dimiliki peserta
didik dapat mampu melakukan kerja ilmiah yang diiringi sikap ilmiah maka akan
diperoleh berupa fakta, konsep, hukum, dan teori.
3. Model Pembelajaran Experiental Learning

a. Pengertian Model pembelajaran Experiental Learning


Model pembelajaran Experiental Learning adalah belajar sebagai proses
mengkontruksi pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Belajar dari
pengalaman mencakup keterkaitan antara berbuat atau berpikir,jika seseorang berbuat
aktif maka orang itu akan belajar jauh lebih baik hal ini di sebabkan dalam proses
belajar tersebut pembelajaran secara aktif berfikir tentang apa yang di pelajarinya dan
kemudian bagai mana menerapkan apa yang telah di pelajari dalam situasi nyata.1

Pembelajaran Experiental Learning adalah suatu Model proses belajar mengajar


yang mengaktifkan pembelajaran untuk membangun pengetahuan dan keterampilan
melalui pengalaman secara langsung. Pengalaman tersebut sebagai fasilitas untuk
menolong pembelajaran mengembagkan kapasitas dan kemampuan dalam proses
pembelajaran.2
Experiental learning model (model belajar melalui pengalaman), Model ini
memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memperlakukan lingkungan
mereka dengan keterampilan-keterampilan berpikir yang tidak berhubungan dengan
suatu bidang studi atau mata pelajaran khusus. Hal ini berdasarkan temuan Pieget

10
Mel Silberman, Hand Book Experiential Learning ( Strategi Pembelajaran Dari Dunia Nyata), (
Bandung: Nusa Media), h. 2-3.
11
Ibid, hlm. 181
15

bahwa perkembangan koqnitif terjadi ketika peserta didik berinteraksi dengan aspek
lingkungan mereka yang membingungkan atau Nampak bertentangan. Oleh sebab itu,
apabila Model ini digunakan, waktu belajar Harus di isi dengan kegiatan-kegiatan
yang dapat menumbuh kembangkan rasa ingin tahu peserta didik, dan mampu
menyedot seluruh perhatian mereka. Misalnya berupa kegiatan bermain dengan
benda-benda kongkrit atau bahan- bahan yang memungkinkan mereka melihat apa
yang terjadi pada benda atau bahan tersebut.1
b. Langkah-langkah Experiental Learning

Terdapat 4 tahapan dalam Model Pembelajaran Experiential, sebagai berikut: 2


1) Concrete experience (pengalaman konkret) Pada tahap ini pembelajar disediakan
stimulus yang mendorong mereka melakukan sebuah aktivitas. Aktivitas ini bisa
berangkat dari suatu pengalaman yang pernah dialami sebelumnya baik formal
maupun informal ataupun situasi yang realistik. Aktivitas yang disediakan bisa di
dalam ataupun di luar kelas dan dikerjakan oleh pribadi ataupun kelompok.
2) Reflective observation (observasi refleksi) Pada tahap ini pembelajar mengamati
pengalaman dari aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan panca indra.
Selanjutnya pembelajar merefleksikan pengalamannya dan dari hasil refleksi ini
mereka menarik pelajaran. Dalam hal ini, proses refleksi akan terjadi bila
pendidik mampu mendorong untuk mendeskripsikan kembali pengalaman yang
diperolehnya, mengkomunikasikan kembali, dan belajar dari pengalaman tersebut.
3) Abstract conseptualisation (konseptualisasi abstrak) Pada tahap pembentukan
konsep, pembelajar mulai mengonseptualisasi suatu teori dari pengalaman yang
diperoleh dan mengintegrasikan dengan pengalaman sebelumnya. Pada fase ini
dapat ditentukan apakah terjadi pemahaman baru atau proses belajar pada diri
pembelajar atau tidak. Jika terjadi proses belajar, maka A) pembelajar akan

11
Abdul Majid, Loc,Cit., h.182.
12
Ibid, h. 134.
16

mampu mengungkapkan aturan-aturan umum untuk mendeskripsikan


pengalaman tersebut; B) pembelajar menggunakan teori yang ada untuk menarik
kesimpulan terhadap pengalaman yang diperoleh; C) pembelajar mampu
menerapkan teori yang terabstraksi untuk menjelaskan pengalaman tersebut.
4) Active experimental (percobaan aktif) Pada tahap ini, pembelajar mencoba
merencanakan bagaimana menguji keampuhan teori untuk menjelaskan
pengalaman baru yang akan diperoleh selanjutnya. Peserta didik melakukan
percobaan atau melaksanakan apa yang telah disimpulkan pada tahap abstract
conseptualisation. Pada tahap ini akan terjadi proses bermakna karena
pengalaman yang diperoleh pembelajar sebelumnya dapat diterapkan pada
pengalaman atau situasi problematika yang baru.
4. Kelebihan Model Experietal Learning
Kelebihan model pembelajaran experiential secara individual dan kelompok.
Kelebihan model pembelajaran experiential secara individual yaitu: 1

1) Meningkatkan kesadaran akan rasa percaya diri


2) Meningkatkan kemampuan berkomunikasi, perencanaan, dan pemecahan
masalah.
3) Menumbuhkan dan meningkatkan 17 kemampuan untuk menghadapi situasi
yang buruk
4) Menumbuhkan dan meningkatkan rasa percaya antar sesama anggota kelompok;
5) Menumbuhkan dan meningkatkan semangat kerja sama dan kemampuan
untuk berkompromi;
6) Menumbuhkan dan meningkatkan komitmen dan tanggung jawab.
7) Kelebihan Model pembelajaran Experiential secara kelompok yaitu
mengembangkan dan meningkatkan rasa saling ketergantungan antarsesama
kelompok dan melibatkan keterlibatan dalam pemecahan masalah dan

13
Nasution, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar & Mengajar ( Jakarta: Bumi
Aksara,2013), h. 111-112
17

pengambilan keputusan.
8) Sedangkan kekurangan Model pembelajaran Experiential adalah membutuhkan
waktu yang cukup lama dalam melakukan percobaan untuk memperoleh
kesimpulan atau suatu konsep yang utuh.
B. Penelitian yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan merupakan uraian sistematis tentang hasil- hasil
penelitian yang dilakukakan oleh peneliti terdahulu yang relevan dengan substansi
yang diteliti. Penelitian terdahulu berfungsi sebagai pendukung untuk melakukan
penelitian. Adapun beberapa penelitian yang dianggap relevan dengan penelitian ini,
yaitu:
a. Haryanti, dkk (2019) dalam jurnalnya dengan judul “penerapan model experiental
learning untuk meningkatkan hasil belajar IPA tema panas dan perpindahannya di
sekolah dasar”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model experiental learning
dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada tema panas dan perpindahannya di
kelas V Sekolah Dasar Negeri 3 Waluyo yang dibuktikan dengan presentase
ketuntasan hasil belajar pada siklus I sebesar 76,33% menjadi 92,63% pada siklus
II. dalam jurnal Jurnal Bioedukasi bahwa “model Experiential Learning
menekankan pada keinginan kuat dari dalam peserta didik untuk berhasil dalam
belajarnya”. Peningkatan keterampilan proses sains peserta didik dan hasil belajar
terjadi karena peserta didik tertarik dan sudah terbiasa dengan model pembelajaran
Experiential Learning dimana siswa semangat dalam bereksperimen kelompok
untuk membuktikan sebuah teori yang didukung dengan keterampilan proses sains
sehingga suasana belajar lebih efektif dan menyenangkan sehingga mempengaruhi
cara berpikir peserta didik, sikap dan nilai- nilai, persepsi, dan perilaku peserta
didik.
b. Sedangkan pada Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan oleh
Sholihah., dkk (2016), menyatakan bahwa Model pembelajaran Experiential
Learning berpengaruh signifikan dalam meningkatkan semangat belajar karena
18

belajar bersifat aktif mendorong serta mengembangkan berpikir kritis dimana


peserta didik partisipatif untuk menemukan sesuatu serta mengambil tindakan
solusi yang paling tepat untuk penyelesaian suatu masalah yang terjadi di
lingkungan sekitar peserta didik.
c. Jurnal Bio-Pedagogi (2014) oleh Mariyam, dkk juga menjelaskan Pembelajaran
Experiential Learning dengan studi kasus berpengaruh pada kemampuan berpikir
kritis peserta didik. Tidak hanya itu, tetapi juga terbukti bahwa dapat menciptakan
suasana belajar yang efektif dan interaktif antar peserta didik dan antara peserta
didik dengan pendidik. Keseluruhan tahap pembelajaran di atas dilakukan peserta
didik secara berkelompok baik dalam bekerja (praktikum) maupun berdiskusi,
sehingga memberi kesempatan pada peserta didik untuk terlibat aktif secara
langsung dalam kegiatan pembelajaran. Sebab dengan belajar dalam kelompok,
peserta didik akan menerima lebih banyak ide dan informasi dari orang lain yang
dijadikan sebagai pengalaman belajar.

C. Kerangka Konseptual
Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal pendidik hendaknya
menggunakan Pendekatan, untuk itu peneliti menerapkan model Experiental Leaning
yang sesuai dengan masalah yang telah diuraikan pada latar belakang masalah diatas.
Sorang pendidik ada baik nya dapat menggunakan media dan model pembelajaran
yang tidak monoton sehingga peserta didik merasa senang mengikuti pelajaran dan
tidak merasa bosan. Bahwa tidak ada satu metode pembelajaran yang paling baik di
antara yang lainnya, karena masing-masing metode dapat dirasakan baik apabila diuji
cobakan untuk pembelajaran tertentu. Dalam penelitian ini difokuskan pada salah satu
Peningkatkan proses dan hasil belajar IPAS, yaitu Model Pembelajaran Experiental
Learning. masing-masing metode dapat dirasakan baik apabila diuji cobakan untuk
pembelajaran tertentu. Dalam penelitian ini difokuskan pada salah satu Peningkatkan
proses dan hasil belajar IPAS, yaitu Model PembelajaranExperiental Learning.
19

1. Pembelajaran masih berpusat pada pendidik.


Kondisi 2. Rendahnya respon umpan balik dari peserta didik pada
Awal saat pembelajaran.
3. Model pembelajaran yang digunakan kurang
bervariasi.
4. Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPAS
yang masih rendah belum mencapai batas KKTP 75%.

Langkah- langkah model pembelajaran Experiental


learning

1. Concrete experience (pengalaman konkret).


Pelaksanaan 2. Reflective observation (observasi refleksi)
3. Abstract consetualisation (konseptualisasi abstrak)
4. Active experimental (percobaan aktif)
Kondisi Dengan model pembelajaran Experiental learning
Akhir diharapkan dapat meningkatkan proses dan hasil
belajar IPAS kelas V SDN 108/II Perumnas dari
hasil belajar sebelumnya.

Bagan 2.1 Kerangka Konseptual


Berdasarkan bagan 2.1 di atas dapat dijelaskan bahwa guru IPAS dalam

pembelajaran menggunakan Motede pembelajaran Experiental Learning untuk

peningkatkan proses dan hasil belajar IPAS. Pembelajaran ini diharapkan peserta

didik dapat memahami materi yang disampaikan oleh pendidk.

D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Proses belajar IPAS peserta didik melalui Model Expriental Learning

pada pembelajaran IPAS di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas.

2. Hasil belajar IPAS peserta didik Model Expriental Learning pada pembelajaran
IPAS di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas
20

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan
kelas memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Pendidik sebagai pihak yang terlibat dalam PTK berupaya secara sadar
mengembangkan kemampuan mendeteksi masalah dan memecahkan masalah
pembelajaran. Implementasi PTK oleh pendidik yang dilakukan dengan tindakan
bermakna dapat memecahkan masalah berupa perbaikan pembelajaran untuk
mengukur keberhasilan peserta didik. Menurut Hamzah Penelitian Tindakan Kelas
adalah penelitian yang dilakukan oleh pendidik di dalam kelasnya sendiri melalui
refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai pendidik, sehingga
proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, dan hasil belajar peserta didik
meningkat. 1
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan sebuah kegiatan yang
dilaksanakan untuk mengamati kejadian dalam kelas untuk memperbaiki praktek
dalam pembelajaran agar lebih berkualitas dalam proses sehingga hasil belajarpun
menjadi lebih baik.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan sebuah penelitian yang dilakukan oleh
pendidik di dalam kelas untuk memecahkan masalah yang merupakan temuan dalam
pembelajaran dengan melakukan tindakan-tindakan pembelajaran berdasarkan refleksi
dari hasil tindakan, sehingga dapat memperbaiki proses pembelajaran sehingga hasil
belajar peserta didik meningkat.

1
Wahyudi, Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), (Bandung: Alfabeta, 2015), h. 124.

20
21

B. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini akan di lakukan di kelas V Sekolah Dasar Negeri
108/II Perumnas, kecamatan Rimbo tengah , Muara Bungo untuk mata pelajaran IPAS
(Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial)
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2023/2024
di kelas V Sekolah Dasar Negeri 108/II perumnas.
3. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh peserta didik kelas V
Sekolah Dasar Negeri 108/II Perumnas, dengan jumlah peserta didik 23 orang yaitu,
11 orang laki-laki dan 12 orang perempuan.
C. Prosedur Penelitian
Prosedur pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas sesuai dengan prosedur yang
telah dikemukan oleh model kemmis Dan Mc. Taggar. dimana penelitian yang
dilaksanakan oleh pendidik didalam kelasnya melalui refleksi diri yang bertujuan
untuk melakukan perbaikan dalam sebuah pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas
ini secara sistematis dibagi menjadi tiga kata yakni Penelitian, Tindakan dan Kelas.
Penelitian sendiri diartikan sebagai kegiatan mengamati suatu objek tertentu dengan
menggunakan prosedur tertentu untuk menemukan data dengan tujuan meningkatkan
mutu. Kemudian ada tindakan yaitu perlukan yang dilakukan dengan sengaja dan
terencama dengan tujuan tertentu. Penelitian
Tindakan Kelas secara umum terdiri dari dua Siklus yaitu Siklus I dan Siklus
II. Dimana pada setiap Siklus terdapat empat tahapan-tahapan yang terdiri dari : 1.
Perencanaan (Planning), 2. Pelaksanaan Tindakan (Action), 3. Pengamatan
(Observing), dan 4. Refleksi (Reflection). Berikut merupakan Bagan Siklus Penelitian
Tindakan Kelas Menurut Arikunto:
22

Bagan 3.1 Siklus Penelitian Tindakan Kelas Menurut Arikunto


Adapun penjelasan dari masing-masing tahapan Penelitian Tindakan Kelas
sebagai berikut :1
1) Perencanaan (planning)
Perencanaan atau rencana merupakan kegiatan pokok pada tahap awal yang
dilakukan pendidik sebelum melakukan penelitian tindakan kelas.
Dengan perencanaan yang baik pendidik pelaksana PTK akan lebih mudah
untuk mengatasi kesulitan dan mendorong pendidik untuk bertindak dengan lebih
efektif. Sebagai bagian dari perencanaan, pendidik sebagai peneliti harus dapat
berkolaborasi atau bekerja sama dan dapat berdiskusi dengan teman sejawat untuk
membangun kriteria dan kesamaan bahasa dan juga persepsi dalam merancang
tindakan untuk perbaikan.

2
Ibid, h. 82.
23

2) Pelaksanaan Tindakan (action)


Setelah perencanaan tindakan telah disiapkan, maka langkah selanjut nya
adalah melaksanakan tindakan. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan kegiatan
implementasi atau penerapan perencanaan tindakan. Pelaksanaan tindakan penelitian
ini, peneliti bertindak sebagai praktisi dan guru kelas IV sebagai observer.
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan dan
pada saat yang bersamaan kegiatan pelaksanaan tindakan ini juga diikuti dengan
kegiatan observasi dengan ini peneliti menggunakan langkah- langkah Experintal
Learning menurut Agus (2013:300) dengan 4 tahapan : (1) Concrete Experience,
(2)ReflectiveObservation,(3)Abstract Conseptualisation, (4) Active Experimental.

3) Pengamatan (observing)
Pengamatan ini berfungsi untuk mengetahui dan mendokumentasikan
pengaruh yang disebabkan oleh tindakan yang sudah dilakukan didalam kelas. Hasil
pengamatan ini merupakan dasar dilakukannya refleksi sehingga pengamatan yang
sudah dilakukan harus dapat diceritakan dengan cerita yang sesungguhnya.
4) Refleksi (reflecting)
Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah
dilaksanakan, yang akan dipergunakan peneliti untuk memperbaiki kinerja pendidik
pada pertemuan berikutnya. Refleksi dalam PTK adalah upaya untuk mengkaji
kembali apa yang telah terjadi atau yang tidak terjadi saat penelitian, apa yang telah
dihasilkan atau belum berhasil dilaksanakan dengan tindakan perbaikan yang telah
dilakukan. Hasil refleksi ini digunakan untuk menetapkan langkah lebih lanjut dalam
upaya mencapai tujuan PTK. Dengan kata lain, refleksi merupakan kajian terhadap
keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian tujuan sementara dan untuk
menentukan tindak lanjut dalam rangka pencapaian berbagai tujuan sementara lainnya
24

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan Data
Tujuan utama dari penelitian ini adalah unruk mendapatkan data melalui
teknikpengumpulan data dengan langkah yang stategis dalam penelitian. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas adalah:1

a. Teknik Observasi

Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan dengan sistematik terhadap


fenomena-fenomena yang diteliti. Sehingga dalam penelitian ini teknik observasi
digunakan untuk mengamati peristiwa dan kegiatan yang berkaitan dengan
aktivitas belajar peserta didik dengan menggunakan model Experiental Learning
melalui lembar observasi yang telah disediakan.
b. Soal Tes

Soal Tes dilakukan untuk mendapatkan gambaran terhadap input dan output
berupa hasil belajar peseta didik. Soal Tes diberikan sebelum kegiatan
pembelajaran dan sesudah kegiatan pembelajaran menggunakan model Experiental
Learning. Dengan kegiatan ini dapat di ketahui perbandingan hasil belajar peserta
didik sebelumnya dan hasil peserta didik pada akhir kegiatan pembelajaran. Bentuk
soal tes yang sering digunakan untuk mengukur hasil belajar peserta didik tersebut.
c. Teknik Dokumentasi

Dokumentasi merupakan bukti fisik dalam kegiatan pembelajaran yang


digunakan peneliti sebagai bahan refleksi setelah kegiatan pembelajaran berakhir.
Dokumentasi juga digunakan sebagai tanda bahwa peneliti benar melakukan
penelitian dikelas dan disekolah yang akan diteliti.

3
Ibid., h. 137.
25

2. Instrumen Penelitian

Instrumen merupakan alat pengumpul data yang sesuai dengan masalah yang
diteliti, merumuskan instrumen merupakan kegiatan penting dalam perencanaan
penelitian yang sedang dilakukan. Intrumen penelitian adalah alat yang dapat
digunakan untuk menggumpulkan data atau informasi penelitian. intrumen penelitian
adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar
pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, lebih lengkap, cermat dan
sistematis sehingga lebih mudah diolah.
Dari penjelasan para ahli diatas dapat disumpulkan bahawa instrument
penelitian adalah alat untuk menggumpulkan data dan mendapatkan informasi agar
mempermudah suatu pekerjaan.
a. Observasi
Observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan
pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan mengamati individu atau
kelompok secara langsung. Dalam penelitian ini, observasi yang dilakukan merupakan
pengamatan terhadap aktivitas peserta didik selama kegiatan pembelajaran dengan
menggunakan model Experiental Learning yang terjadi saat dilakukan pemberian
tindakan.1
b. Instrumen Tes Hasil Belajar Peserta Didik
Instrumen tes hasil belajar digunakan untuk mengukur sejauh mana
kemampuan peserta didik atau tingkat penguasaan materi pembelajaran. Metode tes
digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik baik sebelum pembelajaran.
Tes adalah beberapa pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang

4
Arikunto, Prosedur Penelitia: Suatu Pendekatan Praktek. (Jakatra: PT. Rineka Cipta, 2013), h. 97.
26

dimiliki oleh individu atau kelompok.1


Tes hasil belajar digunakan untuk memperoleh data mengenai kemajuan hasil
belajar peserta didik. Dimana tes dilakukan diakhir siklus dengan indikator
pengetahuan (ranah kognitif).Instrumen yang digunakan untuk mengetahui tingkat
kemampuan peserta didik dalam penelitian ini berupa tes tertulis. Soal tersebut
disusun mengacu pada kompetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan.
E. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah peningkatan hasil belajar


peserta didik dengan menggunakan model Experiental Learning pada pelajaran IPAS
dari siklus I ke siklus II diharapkan mencapai 80%. Peningkatan hasil belajar peserta
didik ditandai dengan tercapainya kriteria ketuntasan minimal (KKTP) mata pelajaran
IPAS peserta didik memperoleh nilai 75. Sedangkan indikator keberhasilan proses
belajar IPA menggunakan model Experiental Learning jika terdapat peningkatan
hingga 80 %.2

F. Teknik Analisis Data


Suatu data yang telah dikumpulkan dalam penelitian akan menjadi tidak
bermakna apabila tidak dianalisis yakni diolah dan diintepretasikan. Suatu proses
mengolah dan mengintepretasi data dengan tujuan untuk mendudukkan berbagai
informasi sesuai dengan fungsinya hingga memiliki makna dan arti yang jelas sesuai
dengan tujuan penelitian.30
a. Data Kualitatif
1. Lembar Observasi Pendidik
Data yang di peroleh dari hasil lembaran observasi guru dalam proses
pembelajaran dianalisi menggunakan rumus sebagai berikut:

4
Bahri, Aliem, Penelitian Tindakan Kelas. ( Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar,
2012), h 111.
6
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2021) Pengembangan Kurikulum
Merdeka Belajar. Available at: [Link]
kurikulummerdeka-belajar
27

Tabel 3.1 Kriteria Penilaian Aktivitas Guru


Interval Total Skor Skor
80-100 Sangat baik
66-79 Baik
56-65 Sedang
41-55 Kurang
0-40 Sangat Kurang
Sumber : Arikunto & Jabar

2. Lembaran Observasi Peserta Didik

Analisis data lembar observasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar


mengunakan rumus sebagai berikut:

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛

nilai = 𝑥 100

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Keterangan:
P = Angka Presentase
F = Jumlah frekuensi siswa yang terlibat N
N = Jumlah individu siswa

Kategori penilaian aktifitas pembelajaran siswa mencakup kategori baik, cukup,


dan kurang. Hasil kisaran nilai tiap kategori penilaian proses siswa dilukiskan dalam
tabel.
28

Tabel 3.2
Kriteria Penilaian Peserta Didik

Interval Total Skor Skor


80% ≤ NR ≤ 100% Sangat baik
66% ≤ NR ≤ 79% Baik
56% ≤ NR ≤ 65% Sedang
41% ≤ NR ≤ 55% Kurang
0≤ NR < 40% Sangat Kurang
Sumber: Arikunto & Jabar, (2014:215)
2. Data Kuantitatif
a. Rumus Penilaian Hasil Belajar
Rumus menghitung hasil belajar siswa secara individual.
Tabel 3.3 Kriteria Hasil Belajar
Nilai Predikat Kategori
Skala 0-100
90-100
A SB (Sangat Baik)
70-80
60-70
B B (Baik)
50-60
40-50
C C (Cukup)
30-40
20-30
10-20 D K (Kurang)
0-10
Sumber: kemendikbud (2013:131)

b. Persentase Ketuntasan Belajar


29

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛

nilai = 𝑥 100

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚

Keterangan:

KB : Ketuntasan Belajar Klasikal

NS : Jumlah siswa yang mendapat Nilai 70 ke atas

N : Jumlah siswa yang hadir mengikuti tes

Tabel 3.4.
Interval Ketuntasan Belajar

Interval Total Skor Skor


90 – 99,9% Sangat tinggi
70 – 89,9% Tinggi
50 – 69,9% Sedang
30 – 49,9% Rendah
10 – 29,9% Sangat rendah
Ada beberapa langkah yang dilakukan dalam tahapan reduksi data
yaitu:
1) Mengumpulkan Data
Sebelum melakukan reduksi data, hal pertama yang harus dilakukan peneliti
untuk mendapatkan data adalah dengan melakukan pencarian data. Melakukan
pencarian data ini bisa dilakukan dari berbagai cara, misalnya didapatkan dari hasil
wawancara, atau bisa juga didapat dari survei kepuasan pelanggan.
2) Pengelompokan Data
Setelah mendapatkan semua data yang diinginkan secara kompleks,
mengelompokkan data-data tersebut atau mengklasifikasikan data tersebut
30

berdasarkan beberapa jenis. Misalnya dikelompokkan berdasarkan penilaiannya, mana


data yang paling penting sehingga akan dijadikan data utama, atau data yang
kurang penting, data yang agak penting.

3). Mereduksi Data

Setelah semua data didapatkan dari hasil penelitian dan pengamatan di lapangan
dan setelah data berhasil diklasifikasikan atau dikelompokkan, selanjutnya peneliti
bisa mulai melakukan reduksi data. Melakukan reduksi data ini artinya peneliti harus
menyederhanakan lagi berbagai data yang didapatkan. Akan tetapi yang perlu
diketahui, dalam mereduksi data, semua data yang direduksi tersebut hasil akhirnya
harus mewakili semua data yang sudah didapatkan.
31

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan secara kolaboratif antara guru kelas dan peneliti. Pada
semester ganjil di tahun ajaran 2024/2025, berlangsung selama kurang lebih satu
bulan yaitu pada tanggal 01—09 oktober 2024 disesuaikan dengn modul ajar yang
telah dibuat dan disetujui oleh kepala sekolah Sekolah Dasar Negeri 108 / II Perumnas
Kecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo. Adapun deskripsi pelaksanaan
penelitian tindakan kelas siklus I sebagai berikut:

1. Hasil Penelitian Siklus I


Pelaksanaan siklus I dilaksanakan pada hari selasa 01 0ktober 2024,yang dirincikan

sebagai berikut:

a. Siklus I Pertemuan 1

Pertemuan 1 pada siklus I dilaksanakan pada hari senin 01 Oktober 2024 dimulai

pukul 08.00 sampai pukul 09.10 WIB, yaitu dengan tahapan sebagai berikut:

1) Perencanaan pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus I mempertimbangkan


proses dan hasil pengamatan siklus I pertemuan I yang dilaksanakan pada
pembelajaran IPAS pada hari Selasa 01 Oktober 2024 dengan materi
pembelajaran apa itu magnet dan sifatnya. Perencanaan pelaksanaan
pembelajaran disusun seperti berikut:
a) Menyiapkan lembar observasi pendidik dan peserta didik.
b) Menyiapkan Modul Ajar tentang magnet dan sifatnya.

c) Menentukan observer dimana yang bertindak sebagai observer yaitu wali kelas dan

teman sejawat.

31
32

d) Menyiapkan soal latihan siklus I.

e) Menyusun daftar kelompok peserta didik.

2) Pelaksanaan

siklus I dilaksanakan hari selasa 01 oktober 2024 dimulai pukul 08.00 sampai

pukul 09.10 WIB. Pertemuan 1 dilaksanakan masing-masing selama 2 x 35 menit

pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

a) Kegiatan Awal

Pada kegiatan ini peneliti bertindak sebagai pendidik. Pelaksanaan diawali

dengan mengucapkan salam, kemudian pendidik mengajak peserta didik berdoa

menurut agama dan keyakinan masing-masing, pendidik mengecek kesiapan peserta

didik dengan mengisi lembar kehadiran, memeriksa kerapian pakaian, dan kebersihan

kelas. kemudian pendidik melakukan apresiasi tentang magnet dan sifatnya.

Pendidik : Assalamualaikum anak-anak. Peserta didik: Waalaikumsalam buk

Pendidik : Sebelum kita memulai pembelajaran pada hari ini kita berdoa dulu ya?

Setelah itu baru ibu absen, semuanya duduk rapi ya.

Peserta didik: baik bu

Setelah berdoa dan memeriksa kerapian dan kebersihan kelas pendidik

memberikan apresiasi mengenai materi magnet dan sifatnya serta melakukan tanya

jawab bersama peserta didik (Concrete Experience).

b) Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti pembelajaran dilakukan dengan menggunakan model


33

Experiental Learning. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran (Reflective

Observation). Pendidik melakukan tanya jawab dengan peserta didik, hal ini

dilakukan untuk mendorong keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

Kemudian pendidik menjelaskan materi magnet dan sifatnya pendidik menjelaskan

contoh serta mengaitkan materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari peserta

didik. Setelah itu pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk

bertanya tentang materi yang belum dipahami.1

Pendidik membagi peserta didik menjadi empat kelompok,dimana masing- masing

kelompok terdiri dari 5 peserta didik. Setelah pendidik memberikan penjelasan materi

dan peserta didik telah mendapatkan kelompok, tiap kelompok akan menjawab soal

yang telah disiapkan pendidik. Pendidik mengarahkan peserta didik untuk melakukan

pengamatan dilingkungan sekolah untuk menjawab.

Pertanyaan yang telah diberikan oleh pendidik. Pendidik membimbing tiap

kelompok dalam berdiskusi dan mengamati lingkungan sekolah. Setelah melakukan

pengamatan dan diskusi pendidik mengarahkan peserta didik untuk memasuki kelas

kembali dan mempersentasikan hasil pengamatannya (Abstract Conseptualisation).

1
Muhammad (2015:128). Experintal Learning. Englewood Cliffs, Nj: Prentice
34

Gambar 4.1 kegiatan inti siklus I

c). Kegiatan Akhir


Pada kegiatan ini pendidik dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan materi
pembelajaran, yaitu apa itu magnet dan sifatnya. Pendidik memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk bertanya tentang materi yang belum paham. Untuk
mengakhiri pembelajaran, pendidik mengajak peserta didik untuk berdoa bersama-
sama menurut agama dan keyakinan masing-masing (Active Experimental).
3).Tahap observasi
a). data hasil Peningkatan Keaktifan belajar Individual
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I, peserta didik aktif dan semangat dalam
mengikuti pembelajaran,. Akan tetapi, ada sebagian peserta didik yang masik belum
fokus dalam mengikuti pembelajaran. Sebagian dari mereka asik dengan kegiatannya
masing-masing seperti mengobrol dengan teman sebangkunya. Selain itu masih ada
peserta didik yang belum berani mengajukan pertanyaan dan hanya sebagian yang
menjawab pertanyaan. Adanya belajar merupakan langkah awal yang baik setidaknya
peserta didik antusias dalam belajar.
35

Peserta didik pada siklus I masih kesulitan dalam belajar IPAS materi magnet dan
sifat-sifat magnet . Hal ini dapat terlihat dari hasil tes belajar peserta didik yang belum
sesuai yang diharapkan. Hasil belajar peserta didik pada siklus I menunjukkan nilai
sebagai berikut:
Tabel. 4.1

Nilai Hasil Tes Peserta Didik Kelas V Siklus I

TIDAK
NAMA PESERTA NILA I TUNT AS
NO KKM TUNTA S
DIDIK
1 AF 75 70 🗸
2 AM 75 75 🗸
3 ASD 75 70 🗸
4 DDA 75 80 🗸
5 DN 75 75 🗸
6 DAS 75 80 🗸
7 EJ 75 70 🗸
8 FR 75 75 🗸
9 FN 75 75 🗸
10 HANH 75 80 🗸
11 JDH 75 70 🗸
12 JAR 75 75 🗸
13 JE 75 80 🗸
14 NLB 75 60 🗸
15 NS 75 70 🗸
16 NA 75 70 🗸
17 S 75 60 🗸
18 SKN 75 70 🗸
19 YNH 75 80 🗸
20 ZAP 75 60 🗸
Nilai Tertinggi 80
Nilai terendah 60
Peserta didik Tuntas 10 50%
Peserta didik Tidak Tuntas 10 50%

Berdasarkan tabel hasil tes belajar diatas dapat diketahui bahwa terdapat 10
36

orang peserta didik yang tidak tuntas dengan persentase ketuntasan yang didapat 50%,

dan 10 orang peserta didik yang tuntas dengan persentase ketuntasan yang didapat

50% Maka, dapat disimpulkan bahwa penelitian siklus I ini dikatakan belum berhasil

karena belum memenuhi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas. Peneliti

bersama observer (Wali kelas V dan teman sejawat) berdiskusi dan sepakat untuk

melanjutkan penelitian ini pada siklus II.

b. Tahap pengamatan atau observasi

1). Lembar Observasi Proses Belajar Peserta Didik


Pada saat proses pembelajaran, yang bertindak sebagai obserVer adalah teman

sejawat dengan menggunakan lembar obserVasi peserta didik yang telah disiapkan

peneliti. Proses belajar yang diamati yaitu Concrete Experience, Reflective

observation, Abstract conseptualisation dan Active experimental. 2

Hasil observasi proses belajar peserta didik pada siklus I bedasarkan

pengamatan teman sejawat dapat diketahui bahwa secara umum proses peserta didik

selama kegiatan pembelajaran berlangsung sudah sesuai harapan. Pada proses belajar

peserta didik yang berada di kategori baik jika dipersentasikan yaitu 50% maka taraf

keberhasilan proses belajar peserta didik berada pada kategori cukup.

c. Refleksi

Tahapan keempat dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu refleksi. Refleksi

2 32
Bahri, Aliem. (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar.
37

bertujuan untuk meninjau kembali apa yang diperoleh dari penelitian, mengkaji

kekurangan dan kelebihan dalam penelitian serta menemukan masalah-masalah dalam

penelitian dan mencari pemecahan masalah atau solusi yang akan dilakukan untuk

siklus selanjutnya agar lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian siklus I terlihat bahwa

pembelajaran IPAS menggunakan model Experiental learning belum mencapai

indikator keberhasilan, dapat dilihat dari nilai hasil tes peserta didik yaitu 50% dimana

indikator keberhasilan yang diharapkan mencapai 80% Karena dalam pencapaian

proses dan hasil belajar belum mencapai indakator keberhasilan maka penelitian ini

dilanjutkan ke siklus II.

2. Hasil Penelitian Siklus II

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan pada hari selasa 08 oktober dan hari rabu 9
oktober 2024 dimana pada siklus II terdiri dari dua kali pertemuan. Tahap pelaksanaan
penelitian pada siklus II sama dengan tahap pelaksanaan penelitian pada siklus I, yang
diawalidengan tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Kegiatan
pembelajaran pada siklus II dilakukan dalam dua kali pertemuan dimana
setiappertemuan berlangsung selama 2 x 35 menit dan 2 x 35 menit . Evaluasi
dilakukan dalam bentuk pemberian tugas tambahan.

a. Siklus II pertemuan pertama

Pelaksanaan siklus II dilaksanakan pada hari selasa 08 oktober yang dirincikan sebagai

berikut:

1). Perancangann
Perencanaan pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus II mempertimbangkan

proses dan hasil pengamatan siklus II pertemuan I yang dilaksanakan pada


38

pembelajaran IPAS pada hari selasa 8 oktober 2024 dengan materi pembelajaran

magnet dan sifat-sifat magnet. Perencanaan pelaksanaan pembelajaran disusun seperti

berikut:

a) Menyiapkan Modul Ajar tentang magnet dan sifatnya.

b) Menyiapkan lembar observasi peserta didik.

c) Menentukan observer dimana yang bertindak sebagai observer yaitu wali kelas

dan teman sejawat.

d) Menyiapkan soal latihan siklus II.

e) Menyusun daftar kelompok peserta didik.

2). Pelaksanaan

a) Kegiatan Awal

Pada kegiatan ini peneliti bertindak sebagai pendidik. Pelaksanaan diawali


dengan mengucapkan salam, kemudian mengajak peserta didik berdoa menurut
agama dan keyakinan masing- masing, pendidik mengecek kesiapan peserta didik
dengan mengisi lembar kehadiran, memeriksa kerapian pakaian, dan kebersihan kelas.
Pendidik menumbuhkan semangat belajar peserta didik dengan bertanya tentang
materi yang telah diajarkan sebelumnya (Concrete Experience).

Pendidik : “Apakah anak-anak ibu ingat bagaimana ?????

Peserta didik : “ masih bu” (peserta didik bersemangat menjawab pertanyaan

dari pendidik)

Pendidik melakukan apersepsi tentang bagian magnet dan sifat-sifatnya.

Pendidik : “Apakah anak-anak ibu tau apa itu magnet dan sifatnya.
39

Peserta didik : “tahu bu” (peserta didik mendengarkan pendidik dan menjawab

secara bersamaan).

a) Kegiatan Inti

Gambar 4.2 kegiatan inti siklus II Pertemuan Pertama

Pada kegiatan inti pembelajaran dilakukan dengan menggunakan model

Experiental Learning. Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran (Reflective

Observation). Pendidik melakukan tanya jawab dengan peserta didik, hal ini

dilakukan untuk mendorong keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.

Kemudian pendidik menjelaskan materi magnet dan sifat-sifat magnet. pendidik

menjelaskan contoh serta mengaitkan materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-

hari peserta didik. Setelah itu pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik

untuk bertanya tentang materi yang belum [Link] membagi peserta didik

menjadi empat kelompok, dimana masing-masing kelompok terdiri dari 5 peserta

didik. Setelah pendidik memberikan penjelasan materi dan peserta didik telah

mendapatkan kelompok, tiap kelompok akan menjawab soal yang telah disiapkan
40

pendidik. Pendidik mengarahkan peserta didik untuk melakukan pengamatan

dilingkungan sekolah untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh pendidik.

Pendidik membimbing tiap kelompok dalam berdiskusi. Setelah selesai peserta didik

mempersentasikan hasil diskusinya (Abstract Conseptualisation).

b) Kegiatan Akhir

Pada kegiatan ini pendidik dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan materi

pembelajaran, yaitu magnet dan sifat-sifat magnet. Pendidik memberikan kesempatan

kepada peserta didik untuk bertanya tentang materi yang belum paham. Untuk

mengakhiri pembelajaran, pendidik mengajak peserta didik untuk berdoa bersama-

sama menurut agama dan keyakinan masing-masing (Active Experimental).

b. Siklus II pertemuan 2

Pertemuan 2 pada siklus II dilaksanakan pada hari rabu 09 oktober yaitu dengan

tahapan sebagai berikut:

1) Perencanaan pelaksanaan penelitian tindakan kelas siklus II mempertimbangkan


proses dan hasil pengamatan siklus II pertemuan II yang dilaksanakan pada
pembelajaran IPAS pada hari rabu 09 oktober 2024 dengan menjelaskan tentang
magnet dan sifatnya
Perencanaan pelaksanaan pembelajaran disusun seperti berikut :

a) Menyiapkan media infokus yang dibutuhkan untuk model pembelajaran

Experietal Learning.

b). Menjelaskan materi yang diajarkan

c). Melakukan tanya jawab tentang materi yang diajarkan


41

d). Menyiapkan soal untuk melihat hasil belajar peserta didik secara indiVidu

2) Pelaksanaan

Pertemuan 2 siklus II dilaksanakan hari kamis 09 oktober 2024.

Pertemuan 2 dilaksanakan masing-masing selama 2 x 35 menit pembelajaran yang

meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir

a) Kegiatan Awal

Pada kegiatan ini peneliti bertindak sebagai pendidik. Pelaksanaan diawali

dengan mengucapkan salam, kemudian mengajak peserta didik berdoa menurut

agama dan keyakinan masing-masing, pendidik mengecek kesiapan peserta didik

dengan mengisi lembar kehadiran, memeriksa kerapian pakaian, dan kebersihan

kelas. Pendidik menumbuhkan semangat belajar peserta didik dengan bertanya

tentang materi yang telah diajarkan sebelumnya (Concrete Experience).

Pendidik: masih ingat tentang bagian bagian hewan yang bapak ajarkan kemarin?

Peserta didik : masih pak (peserta didik menjawab dengan semangat).

Pendidik melakukan apersepsi tentang materi menggunakan magnet dan sifatnya.

Peserta didik mendengarkan dan menjawab pertanyaan dari pendidik. Sebagian

peserta didik menjawab bisa dan sebagian menjawab tidak bisa.

b) Kegiatan Inti
42

Gambar 4.3 kegiatan inti sisklus II Pertemuan Ke dua

Pada kegiatan inti pembelajaran dilakukan dengan menggunakan model

Experiental Learning. Kemudian pendidik menjelaskan materi tentang magnet dan

sifatnya (Reflective Observation). Setelah itu pendidik memberikan kesempatan

kepada peserta didik untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. Pendidik

membagikan soal yang harus diisi peserta didik secara individu. Sebelum pendidik

membagikan soal kepada peserta didik. Kemudian pendidik mengarahkan peserta

didik untuk mengerjakan soal dimana dalam pertemuan 2 ini untuk mengukur tingkat

pemahaman peserta didik (Abstract Conseptualisation).

C). Kegiatan Akhir

Pada kegiatan ini pendidik dan peserta didik bersama-sama

menyimpulkan materi pembelajaran. Pendidik memberikan kesempatan kepada

peserta didik untuk bertanya tentang materi yang belum paham.

Sebelum mengakhiri pembelajaran pendidik dan peserta didik aktif dalam tanya
43

jawab. Untuk mengakhiri pembelajaran, pendidik mengajak peserta didik untuk

berdoa bersama-sama menurut agama dan keyakinan masing- masing (Active

Experimental).

Berdasarkan hasil penelitian siklus II peserta didik aktif dan semangat dalam

mengikuti pembelajaran dan umumnya peserta didik sudah fokus dalam mengikuti

pembelajaran baik secara individu maupun kelompok. Serta sudah banyak peserta

didik yang berani mengajukan pertanyaan atau menjawab pertanyaan dari pendidik.

Hal ini dapat terlihat dari hasil tes belajar peserta didik yang belum sesuai yang

diharapkan.

Berdasarkan tabel hasil tes belajar diatas dapat diketahui bahwa terdapat 10

orang peserta didik yang tidak tuntas dengan persentase ketuntasan yang didapat 50%,

dan 10 orang peserta didik yang tuntas dengan persentase ketuntasan yang didapat

50% Maka, dapat disimpulkan bahwa penelitian siklus II ini dikatakan berhasil

karena telah memenuhi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas. Peneliti

bersama observer (Wali kelas V dan teman sejawat) berdiskusi dan sepakat untuk

berhenti penelitian ini pada siklus II.

c. Tahap pengamatan atau observasi

1) Lembar Observasi Proses Belajar Peserta Didik

Pada saat proses pembelajaran, yang bertindak sebagai observer adalah teman

sejawat dengan menggunakan lembar observasi peserta didik yang telah disiapkan
44

peneliti. Proses belajar yang diamati yaitu Concrete Experience, Reflective

observation, Abstract conseptualisation dan Active experimental.3

Hasil observasi proses belajar peserta didik pada siklus I pertemuan 1

bedasarkan pengamatan teman sejawat dapat diketahui bahwa secara umum proses

peserta didik selama kegiatan pembelajaran berlangsung sudah sesuai harapan. Pada

proses belajar peserta didik yang berada di kategori baik jika dipersentasikan yaitu

50% pada pertemuan I sedangkan pada pertemuan II yaitu 80% peserta didik yang

berada di kategori baik Maka peserta didik yang berada di kategori ≥ baik yaitu jika

dipersentasikan 80% maka taraf keberhasilan proses belajar peserta didik berada pada

kategori baik.

2). Serta sudah banyak peserta didik yang berani mengajukan pertanyaan atau

menjawab pertanyaan dari pendidik. Hal ini dapat terlihat dari hasil tes belajar

peserta didik yang belum sesuai yang diharapkan. Hasil belajar peserta didik pada

siklus I menunjukkan nilai sebagai berikut:

Tabel. 4.2 Nilai Hasil Tes Peserta Didik Kelas V siklus II

TIDAK
NAMA PESERTA NILA I TUNT AS
NO KKM TUNTA S
DIDIK
1 AF 75 75 🗸
2 AM 75 75 🗸
3 ASD 75 70 🗸
4 DDA 75 80 🗸
5 DN 75 75 🗸

3
Kemdikbud. (2020) “Asesmen Nasional: AKM, Survey Karakter dan Lingkungan
45

6 DAS 75 80 🗸
7 EJ 75 75 🗸
8 FR 75 75 🗸
9 FN 75 75 🗸
10 HANH 75 80 🗸
11 JDH 75 70 🗸
12 JAR 75 80 🗸
13 JE 75 85 🗸
14 NLB 75 60 🗸
15 NS 75 80 🗸
16 NA 75 80 🗸
17 S 75 75 🗸
18 SKN 75 75 🗸
19 YNH 75 85 🗸
20 ZAP 75 60 🗸
Nilai Tertinggi 85
Nilai terendah 60
Peserta didik Tuntas 16 80%
Peserta didik Tidak Tuntas 4 20%

Tahapan keempat dalam penelitian tindakan kelas ini yaitu refleksi. Refleksi
bertujuan untuk meninjau kembali apa yang diperoleh dari penelitian, mengkaji
kekurangan dan kelebihan dalam asil observasi hsail belajar dan keaktifan siswa.
d. Refleksi

Berdasarkan hasil penelitian siklus II peserta didik aktif dan semangat dalam

mengikuti pembelajaran dan umumnya peserta didik sudah fokus dalam mengikuti

pembelajaran baik secara individu maupun kelompok penelitian serta menemukan

masalah-masalah dalam penelitian dan mencari pemecahan masalah atau solusi yang

akan dilakukan untuk siklus selanjutnya agar lebih baik. .karena peserta didik yang

memperoleh nilai ≥75 (nilai KKM) sudah mencapai indikator keberhasilan yaitu

≥80% dari jumlah seluruh peserta didik yang tuntas belajarnya. Karena dalam
46

pencapaian proses dan hasil belajar sudah mencapai indakator keberhasilan maka

penelitian ini di selesaikan.

B. Pembahasan hasil penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan dua siklus. Kegiatan

pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi kegiatan awal, kegiatan inti

dan kegiatan akhir. Pada kegiatan awal pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran

yang akan dicapai sebagai acuan bagi peserta didik. Dalam kegiatan inti penddidk

melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model Experiental learning

sebagai upaya dalam peningkatan proses dan hasil pembelajaran IPAS kelas V

sekolah Sekolah Dasar Negeri 108 / II Perumnas Kecamatan Rimbo Tengah

Kabupaten Bungo

1. Penerapan Experiental learning dalam peningkatkan proses pembelajaran

IPAS kelas V

Hasil penelitian yang telah dilaksanakan dengan menggunakan Experiental

learning yaitu peserta didik menjadi lebih aktif dan berani mengungkapkan idea atau

pendapat. Menumbuhkan dan menimbulkan minat serta antusias peserta didik dalam

proses belajar. Selain itu, hasil belajar peserta didik meningkat dari pembelajaran

sebelum menggunakan Experiental learning Hal ini terlihat dari hasil lembar

obserVasi peserta didik sebagai berikut:

Tabel 4.3 Data Proses Belajar Peserta Didik

Kegiatan Siklus I Siklus II


Jumlah 50% 80%
47

Berdasarkan data hasil obserVasi terhadap hasil persiklus diatas dapat

diketahui bahwa sikap belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPAS dengan

menggunakan Experiental learning dari setiap siklus mengalami peningkatan yang

baik. Berdasarkan hal tersebut, proses pembelajaran dengan menggunakan

Experiental learning layak diterapkan disekolah dasar karena dapat meningkatkan

proses belajar IPAS dan memperbaiki hasil belajar peserta didik. Untuk lebih

jelasnya, peneliti menyajikan dalam bentuk diagram batang penilaian proses belajar

peserta didik dalam belajar IPAS persiklus sebagai berikut:

Penilaian proses belajar peserta didik pada siklus 1 yaitu 50% sedangkan pada siklus

II mengalami peningkatan yaitu 80%. Berdasarkan hal tersebut proes pembelajran

dengan menggunakan model Experiental learning dapat meningkatkan proses belajar

IPA disekolah dasar.

2. Penerapan model Experiental learning dalam meningkatkan hasil belajar

IPAS kelas V

Hasil belajar dalam penelitian ini merupakan hasil perolehan nilai peserta didik

saat proses pembelajaran berlangsung. Hasil belajar peserta didik yang dicapai dalam

penelitian ini selalu mengalami peningkatan pada setiap siklus. Hal

ini dipengaruhi oleh perubahan cara pendidik dalam mengelola pembelajaran

dikelas. Hasil belajar peserta didik Sekolah Dasar Negeri 108/II perumnas kecamatan

Rimbo Tengah Kabupaten Bungo pada mata pelajaran IPAS dengan model

Experiental learning untuk siklus I dan siklus II sebagai berikut:


48

Tabel 4.4 Data Peningkatan Hasil Belajar Persiklus

Kegiatan Siklus I Siklus II


Peserta didikPeserta didikPeserta didikPeserta didik
tuntas tidak tuntas tuntas tidak tuntas
Penilaian 10 10 16 4
Persentase 50% 50% 80% 20%

Berdasarkan tabel tersebut data peningkatan hasil belajar persiklus dapat

diketahui bahwa hasil belajar peserta didik dalam mata pelajaran IPAS dengan

menggunakan model Experiental learning dari setiap siklus mengalami peningkatan

yang baik. Berdasarkan indikator keberhasilan dan analisis data penelitian tersebut,

setelah dilakukan proses pembelajaran IPAS selama II siklus diketahui bahwa hasil

pembelajaran dikelas tersebut meningkat dari siklus I ke siklus II. Peneliti menyajikan

dalam bentuk diagram batang hasil belajar peserta didik sebagai berikut:

Diagram batang 4.1 Peningkatan Hasil Belajar Persiklus

Peningkatan Hasil Belajar Persiklus

16
16
14
80%
12 10 10

10 50% 50% 4
8
20%
6 Siklus I Siklus II

4 Peserta Didik Tuntas Peserta Didik Tidak Tuntas

0
49

Berdasarkan diagram batang 4.1 hasil belajar peserta didik diatas dapat

diketahui bahwa ketuntasan hasil belajar peserta didik pada siklus I peserta didik yang

tuntas yaitu 10 (50%) peserta didik sedangkan pada siklus II mengalami

peningkatan peserta didik yang tuntas yaitu 16 (80%) peserta didik. Maka dapat

disimpulkan bahwa dengan menerapkan model Experiental learning dapat

meningkatkan proses dan hasil belajar pada mata pelajaran IPAS kelas V Sekolah

Dasar Negeri 108 / II Perumnas Kecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo.


BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan

Penerapan pembelajaran dengan menggunakan model Experiental learning

apat meningkatkan proses dan hasil belajar IPAS peserta didik kelas sekolah Sekolah

Dasar Negeri 108 / II Perumnas Kecamatan Rimbo Tengah Kabupaten Bungo. Hal ini

dikarenakan peserta didik dalam pelaksanaan penelitian memperhatikan langkah-

langkah pembelajaran untuk meningkatkan proses dan hasil belajar peserta didik.

Dengan menerapkan pembelajaran menggunakan model Experiental learning dan

memperhatikan langkah-langkah pembelajaran serta memberikan lembar soal pada

peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik maka terdapat

peningkatan proses dan hasil belajar peserta didik sebagai berikut:

1. Meningkatnya proses pembelajaran dapat dilihat dari perhitungan lembar

obserVasi pendidik dalam pembelajaran pada siklus I yaitu 50% menjadi 80%

pada siklus II. Lembar obserVasi peserta didik dalam proses pembelajaran pada

siklus I memperoleh nilai persentase keberhasilan 50% dan hasil persentase

keberhasilan pada siklus II yaitu 80%.

2. Meningkatnya hasil belajar peserta didik yang dilihat dari hasil tes belajar siklus I

peserta didik kelas V yaitu 50% peserta didik yang tuntas sedangkan peserta didik

yang tidak tuntas yaitu 50% dan mengalami peningkatan 80% peserta didik yang

tuntas serta 20% peserta didik yang tidak tuntas pada siklus II.

50
51

B. Saran

Saran dalam proses penelitian meliputi saran untuk peserta didik, Pendidik dan
peneliti yang diuraikan sebagai berikut:

1. Peserta Didik

a. Mengikuti dengan baik pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan oleh

Pendidik.

b. Aktif bertanya dalam pembelajaran, menjawab berbagai macam jawaban dari

pertanyaan yang diajukan teman ataupun Pendidik dan mau menyampaikan

pendapat.

2. Pendidik

a. Member pendampingan terhadap peserta didik yang belum mencapai keberhasilan

dalam pembelajaran.

b. Menerapkan pembelajaran yang efektif dan inofatif untuk member pembelajaran

yang sesuai.

3. Peneliti berikutnya

a. Mendokumentasikan setiap langkah pembelajaran dalam penelitian sebagai data

pendukung untuk memperkuat hasil penelitian.

b. Menindak lanjuti penelitian ini


52

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid, ( 2012). Belajar dan pembelajaran pendidikan Agama Islam, Bandung :Remaja
Rosdayakarya.
Abdul Majid, (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu, Bandung : PT Remaja Rosda Karya.
Abdul Majid, (2015). Strategi [Link]:[Link] Rosdakarya
Afandi, R. (2015). Pengembangan media pembelajaran permainan ular tangga untuk
meningkatkan motivasi belajar siswa dan hasil belajar IPA di sekolah dasar. JINoP
(Jurnal Inovasi Pembelajaran), 1(1), 77-89.
Agus.(2013).Pandun AplikasiTeori-teori belajarmengajar teraktual dan
[Link]:DIVA Press.
Ahmad,Susanto.(2013). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah [Link]: kencana
prenada media grup.
Allufia,F.T.,& Setyaningsih,M.(2023).analisis kesiapan guru dalam menghadapi kurikulum
merdekamata pelajaran IPAS kelas [Link] of Education journal,14(2),326-338.
Anjarwati, Sulis. (2018). Meningkatkan Keterampilan Proses sain dan Hasil Belajar Biologi
Melalui Model Pembelajaran Experintal Learning Siswa Kelas VIIa SMP Negri 1
Gedung aji. Jurnal Bioedukasi. Vol. 9 (1)., e- ISSN 2442-9805, p-ISSN 2086-4701
Arikunto. (2013). Prosedur Penelitia: Suatu Pendekatan Praktek. Jakatra: PT. Rineka Cipta
Aunurrahman, (2014). Belajar Dan Pembelajaran, Bandung: Alfabeta
Bahri, Aliem. (2012). Penelitian Tindakan Kelas. Makassar: Universitas Muhammadiyah
Makassar.
Hamdani, (2011). Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Pustaka Setia.
Camelia,F.(2020).Analisis Landasan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Dalam
Pengembangan [Link](Susunan Artikel Pendidikan),5(1).
Depdiknas.(2003). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20
[Link]:Depdiknas.
Kementrisn Pendidikan,Kebudayaan,Riset Dan Teknologi Republik
Indonesia.(2020).Kajian Akademik Kurikulum Untuk Pemulihan [Link]:Badan
Standar,Kurikulum,Dan Asesmen
[Link]:Https://[Link]/Situsartikel/Pengembangankurikulum
merdeka-Belajar
Kemdikbud. (2020) “Asesmen Nasional: AKM, Survey Karakter dan Lingkungan
Belajar,” Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Perbukuan Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (2021)
Pengembangan Kurikulum Merdeka Belajar. Available at:
[Link]
kurikulummerdeka- belajar.
Lefudin, 2012. Belajar dan pembelajaran,Yogyakarta:Deepublish.
Mariyam,Siti Neng,Sri,Dwiastuti Dan Puguh,Karyanto.(2014). Pengaruh Model Pembelajaran
53

Ekperintal Learning Dengan Studi Kasus Terhadap Kemampuan Berfikir Kritis Siswa
Pad Pad Materi Sistem Repruduksi [Link].3.(1).ISSN:2252-6897.
Mel Silberman, 2012. Hand Book Experiential Learning ( Strategi Pembelajaran Dari Dunia
Nyata), Bandung: Nusa Media
Muhammad.(2015:128).Experintal [Link] Cliffs,Nj:Pretice Hall.

Muhammad.(2015).Model-Model Pembelajaran [Link]:Ar-Ruzz Media


Mulyasa,E.(2006). Kurikulum Tingkat Satuan [Link]:Remaja Rosdakarya.
Moh User Usman, 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad (2015:128). Experintal Learning. Englewood Cliffs, Nj: Prentice
Muhammad Fathurrohman, ( 2015). Model- model Pembelajaran
Inovatif, Jogjakarta: ArRuzza Media
Mulyasa. (2012). Pendidikan Bermutu Dan Berdaya Saing. Bandung: PT Remaja Rosdkary
Nana Sudjana, ( 2013), Dasar- dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru
Algensindo)
Nasution, 2013, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar & Mengajar ( Jakarta: Bumi
Aksara
Peraturan Mentri Pendidikan Dan Kebudayaan No. 37 Tahun 2018 Pada Pendidikan
Dasar Dan Pendidikan Menengah Dalam Pasal 2A’, 2018.
Rusmaini,Ilmu pendidikan,([Link] Pelindo Press,2011),hlm.1 Sanjaya,
Wina. 2011. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Kencana
Ummy Kalsum, Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Kelas IV di MI
Wahtoniyah Palembang,Wawancara 9 Setember 2017
Wahyudi, 2015. Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Bandung: Alfabeta
DOKUMENTASI

Foto Peneliti bersama kepala sekolah Foto besama wali kelas

Foto kegiatan pembelajaran siklus 1 Foto kegiatan pembelajaran siklus 1


Foto kegiatan proses pemebelajaran siklus II Foto kegiatan proses pemebelajaran siklus II

Foto wawanca peserta didik Foto wawanca peserta didik


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Uswatun Kasanah


Tempat, Tanggl Lahir : Purwoharjo, 22 januari 2002
NamaOrang Tua : - Ayah : Jumari
-Ibu : Supriana
Nama suami : Taufik Hidayat
Alamat : Perumahan Barcelona Blok G 23 Perumnas, Kec Rimbo
Tengah, [Link]
Riwayat Pendidikan :
1. SD N 084/VIII Tahun 2009-2014
2. MTS Tsanawiyah Darussalam Tahun 2014-2017
3. MA Ghozaliyah Darussalam Tahun 2017-2020
4. IAI Yasni Bungo Tahun 2020-2024
Riwayat Organisasi :.
1. Osis Tahun 2018 Sebagai Seksi Keamanan.
2. Osis Tahun 2019 Sebagai Seksi Olahraga .

Anda mungkin juga menyukai