Nama : Iqbal Muhamad Fariz
NIM : 2350027015
Tugas Pengendalian Korosi
1. Korosi filiform
Korosi filiform merupakan korosi yang berbentuk seperti benang atau filamen tipis yang
merambat di bawah lapisan pelindung organik seperti cat atau pernis pada permukaan logam.
Ini adalah fenomena estetis yang merusak namun sering kali tidak langsung mengancam
integritas struktural, kecuali jika dibiarkan meluas.
Karakteristik utama:
1) Mirip jejak cacing atau rambut yang merayap di bawah cat. Setiap filamen memiliki
kepala (ujung aktif) dan ekor (jalur korosi yang sudah pasif).
2) Umumnya terjadi pada baja, alumunium dan magnesium yang dilapisi. Sangat umum di
lingkungan yang lembab, daerah pantai, atau lingkungan industri dengan polusi tinggi.
3) Kondisi pemicunya selalu dimulai dari cacat kecil pada lapisan pelindung (goresan, pori-
pori, ujung yang tidak tersegel). Kehadiran oksigen, air, dan ion pemicu korosi (terutama
klorida) sangat penting.
4) Kecepatan korosinya relatif lambat namun persisten.
Mekanisme korosi filiform:
1) Inisiasi: korosi dimulai di lokasi cacat lapisan pelindung. Air dan oksigen menembus,
memicu sel korosi elektrokimia.
2) Pembentukan sel elektrokimia:
Anoda (kepala filamen): di bagian depan filamen, logam teroksidasi (terkorosi).
Contoh pada baja: Fe → Fe2+ + 2e−. Ion hidrogen (H+) yang berasal dari hidrolisis
garam logam mendorong reaksi ini.
Katoda (ekor filamen): di bagian belakang filamen, oksigen tereduksi. Contoh O 2 +
2H2O + 4e- → 4OH-. Produk hidroksida ini meningkatkan ph di ekor, membuatnya
pasif.
3) Perambatan: perbedaan konsentrasi oksigen dan ph antara kepala dan ekor mendorong
pergerakan filamen. Kepala aktif terus bergerak ke area logam yang belum terkorosi di
bawah pelapis.
4) Ion klorida: kehadiran cl- (dari garam) mempercepat proses hidrolisis dan
mempertahankan lingkungan asam di kepala filamen, sehingga memperparah korosi.
Penanggulangannya:
1) Pelapisan yang baik diperlukan seperti kualitas pelapisan yang optimal, termasuk
ketebalan yang cukup, adhesi yang kuat dan bebas cacat.
2) Pembersihan permukaan yang sempurna sebelum pelapisan untuk menghilangkan
kontaminan.
3) Mengurangi kelembaban relatif, terutama di area penyimpanan material.
4) Penggunaan primer atau pelapis yang mengandung inhibitor korosi.
2. Korosi MIC (Microbiologically influenced corrosion)
Korosi yang dipengaruhi mikroorganisme (MIC) adalah korosi yang disebabkan atau
dipercepat secara signifikan oleh keberadaan dan aktivitas metabolisme mikroorganisme
(seperti bakteri, jamur, alga, atau biofilm yang mereka bentuk) pada permukaan logam. MIC
adalah masalah besar di berbagai industri, mulai dari minyak dan gas, pengolahan air, hingga
kelautan.
Beragam jenis mikroorganisme dapat menyebabkan MIC. Mereka tidak menyerang
logam secara langsung, tetapi mengubah lingkungan di sekitar logam dengan aktivitas
metaboliknya, sehingga menciptakan kondisi yang lebih korosif. Ciri khas MIC adalah
pembentukan biofilm—lapisan lendir yang terdiri dari mikroorganisme, produk sampingan
metabolisme mereka, dan material ekstraseluler pada permukaan logam. Biofilm ini adalah
"sarang" di mana korosi terjadi.
3. Korosi SRB (Sulfate-reducing bacteria) - bentuk kritis dari MIC
korosi SRB adalah jenis MIC yang secara spesifik disebabkan oleh aktivitas bakteri
pereduksi sulfat (sulfate-reducing bacteria/SRB). SRB adalah bakteri anaerob obligat, artinya
mereka tumbuh subur di lingkungan tanpa oksigen.
Karakteristik khas korosi SRB:
1) SRB menggunakan sulfat (SO42−) sebagai akseptor elektron terakhir dalam
metabolismenya, dan sebagai hasilnya, mereka memproduksi sulfida (s 2−), sering kali
dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S).
2) Sering ditemukan endapan besi sulfida berwarna hitam pada permukaan logam yang
terkorosi, dan dapat tercium bau khas telur busuk (H 2S). Korosi biasanya berupa sumuran
(pitting) yang dalam di bawah endapan hitam ini.
3) Lingkungan: umum di lingkungan anoksik seperti dasar tangki, pipa yang terendam, atau
di dalam tanah liat yang jenuh air.
SRB mempercepat korosi logam, terutama besi dan baja, melalui dua mekanisme utama:
1) Depolarisasi katodik (konsumsi hidrogen):
Pada proses korosi elektrokimia logam (misalnya Fe), elektron dilepaskan di anoda
(Fe →Fe2+ + 2e−)
Di katoda, elektron direduksi, seringkali dengan produksi hidrogen:
2H2O + 2e− → H2 + 2OH−
Biasanya, penumpukan H2 di katoda akan "mempolarisasi" permukaan dan
memperlambat laju korosi.
Namun, SRB "memakan" hidrogen ini sebagai sumber energi:
SO42− + 8HSRB → S2− + 4H2O.
Dengan menghilangkan hidrogen, SRB mencegah polarisasi katodik, memungkinkan
reaksi anodik (korosi logam) untuk terus berlanjut tanpa hambatan, sehingga
mempercepat laju korosi.
2) Produksi sulfida korosif:
Sulfida (S2− atau H2S) yang dihasilkan oleh SRB sangat reaktif dan korosif terhadap
logam. Sulfida dapat bereaksi langsung dengan ion logam terkorosi untuk membentuk produk
korosi seperti besi sulfida (FeS), yang sering kali berwarna hitam dan lengket. Lapisan FeS
ini sering kali bersifat semikonduktor, yang dapat lebih mempercepat korosi. Hidrogen
sulfida (H2S) juga dapat merusak lapisan pasif pada baja tahan karat, memicu pitting.
Penanggulangan MIC & SRB: strategi penanggulangan harus bersifat disiplin:
1) Kontrol biologi dengan penggunaan bahan kimia untuk membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme. Pilihan biosida harus tepat dan dosisnya terkontrol.
Menyaring air untuk menghilangkan mikroorganisme dan nutrisi.
2) Mengurangi ketersediaan nutrisi (seperti fosfat, nitrat, sulfat) yang dibutuhkan
mikroorganisme. Tergantung jenis MIC, kadang oksigenasi lingkungan dapat
menghambat SRB anaerob, atau deoksigenasi dapat menghambat mikroba aerob.
3) Mendesain sistem pipa atau tangki untuk menghindari area di mana air bisa stagnan dan
biofilm bisa menumpuk. Melakukan pigging atau pembersihan mekanis rutin pada pipa
untuk menghilangkan biofilm.