Rencana Keselamatan Konstruksi Labkesmas
Rencana Keselamatan Konstruksi Labkesmas
PEMBANGUNAN LABKESMAS
DOKUMEN
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI
PEMBANGUNAN LABKESMAS
DAFTAR ISI
PEMBANGUNAN LABKESMAS
BULAN KE-
NO ELEMEN KEGIATAN PIC
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1. Kepemimpinan dan Kunjungan pimpinan penyedia jasa Direktur Utama v v v v v v v
partisipasi pekerja dalam pekerjaan konstruksi
keselamatan konstruksi
2. Masalah-masalah Diskusi dengan pekerja tentang masalah- Direktur Utama HSE v v v v v v v
keselamatan konstruksi di masalah keselamatan konstruksi di lapangan
lapangan
3. Solusi pemecahan masalah Memberikan solusi pemecahan masalah Direktur Utama HSE v v v v v v v v
keselamatan konstruksi terhadap masalah masalah keselamatan
konstruksi di lapangan
4. Disiplin atas pelanggaran Menegakkan kedisiplinan dengan melihat Direktur Utama HSE v v v v v v v
atas pelanggaran-pelanggaran yang terjadi
PEMBANGUNAN LABKESMAS
Bahaya adalah sesuatu yang memiliki potensi untuk menyebabkan cidera atau sakit (bagi
pekerja, kontraktor, pengunjung atau masyarakat sekitar) atau kerusakan terhadap properti
perusahaan. Sumber bahaya ditempat kerja dapat berasal dari antara lain :
1. bahan/material
2. alat/mesin
3. proses
4. lingkungan kerja
5. metode kerja
6. cara kerja
7. produk
Peluang adalah kecenderungan untuk terjadi cidera, sakit atau kerusakan terhadap properti
perusahaan yang timbul akibat paparan bahaya. Penilaian risiko adalah proses penilaian
terhadap suatu risiko dengan menggunakan parameter akibat dan peluang dari bahaya yang
[Link] keparahan/kerugian yang mungkin terjadi dari suatu kecelakaan akibat bahaya
yang ada, yaitu :fatality atau kematian, cacat, perawatan medis, P3K.
Ada beberapa prosedur yang akan dilakukan dalam menerapkan Sistem Manajemen
Keselamatan Konstruksi (K3) seperti :
1. Identifikasi Bahaya
a. Pada tahap awal, tim akan melakukan identifikasi bahaya yang ada pada
obyek/aktivitas yang akan dinilai risikonya. Bahaya ini dapat ditentukan dengan
melihat apa saja yang dapat mencelakai personil atau menimbulkan kecelakaan
kerja.
b. Identifikasi bahaya juga dilakukan dengan cara observasi suatu aktivitas atau
melakukan wawancara dengan personil yang terkait dengan aktivitas tersebut.
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI
PEMBANGUNAN LABKESMAS
2. Penilaian Risiko
a. Setelah semua bahaya dapat diidentifikasi selanjutnya dari tiap bahaya itu
ditentukan tingkat risikonya dengan menggunakan formulir Identifikasi Bahaya
Potensial, Penilaian Risiko, dan Pengendalian Risiko.
b. Penilaian risiko mempertimbangkan dua faktor yaitu peluang dan akibat.
Kriteria dari masing-masing faktor ini dapat menggunakan petunjuk yang ada
pada Tabel Evaluasi Risiko.
c. Penentuan nilai risiko ini dilakukan oleh tim dalam suatu rapat membahas hasil
temuan di lapangan.
Nilai risiko yang ditentukan harus mempertimbangkan tindakan pengendalian yang sudah
ada sebelumnya.
Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko, Pengendalian dan Peluang ditunjukkan dalam Tabel B.1.
sebagai berikut :
RENCANA KESELAMATAN KONSTRUKSI
PEMBANGUNAN LABKESMAS
PEMBANGUNAN LABKESMAS
[Link] No. Kep. 51/Men/1999 Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja Kerja
Dukungan Keselamatan Konstruksi dapat terwujud apabila Pihak manajemen memiliki kebijakan yang
mendukung pelaksanaan K3 Sehubungan dengan hal itu Kami menyadari bahwa aspek Keselamatan dan Kesehatan
Kerja adalah penting dalam pelaksanaan seluruh kegiatan operasi perusahaan, oleh karena itu kami berkomitmen untuk
meningkatkan kepuasan pelanggan dan menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat dengan menerapkan perbaikan
yang berkelanjutan melalui Sistem Manajemam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). konsisten untuk
melaksanakan pengelolaan aspek Keselamatan Konstruksi secara efektif dan efesien dengan cara :
1. Menginformasikan kepada seluruh personil baik internal dan eksternal perusahaan mengenai tanggung
jawabnya dalam pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan perusahaan
2. Mematuhi undag-undang dan persyaratan lainnya yang berkaitan dengan K3, serta mengintegrasikannya kedalam
semua aspek kegiatan operasi perusahaan
3. Meminimalkan jumlah terjadinya kesalahan kerja, terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
4. Melakukan identifikasi bahaya sesuai dengan sifat dan skala resiko-resiko K3
5. Meningkatkan kompetensi pekerja sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya
6. Mengkomunikasikan dan menanamkan kesadaran kebijakan ini kepada seluruh personil secara berkala
Kebijakan ini dibuat untuk dapat dipahami oleh seluruh karyawan dan menjadi acuan dalam pelaksanaan seluruh
kegiatan operasi perusahaan.
C.1. Sumber Daya
Menyediakan fasilitas yang memadai dan sumber daya sehingga kebijakan keselamatan konstruksi dapat
diimplementasikan baik termasuk anggaran, personil, pelatihan, kesempatan meningkatkan kualitas dan wadah
untuk berpartisipasi dalam perencanaan, evaluasi pelaksanaan, dan tindakan menuju perbaikan Pelatihan K3
harus dimulai dengan orientasi karyawan, ketika seorang karyawan baru atau ditransfer ke pekerjaan baru. Sesi
orientasi yang berkaitan dengan K3 biasanya harus mencakup:
1. Prosedur darurat
2. Lokasi pertolongan pertama
3. Tanggung Jawab K3
4. Pelaporan cedera, kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman
5. Penggunaan peralatan pelindung diri (APD);
6. Hak untuk menolak pekerjaan yang berbahaya;
7. Bahaya, termasuk di luar area kerja mereka sendiri
8. Alasan untuk setiap aturan K3.
Pekerja tidak harus dilihat sebagai pengamat dalam [Link] bertanggung jawab untuk melindungi
keselamatan konstruksi mereka sendiri di tempat kerja sehingga mereka perlu mengambil bagian dalam
memastikan berfungsinya kebijakan K3. Untuk melakukan ini, mereka perlu menyadari dan memahami berbagai
bahaya keselamatan konstruksi, standar dan praktek-praktek yang relevan dengan pekerjaan mereka
C.1.1 Peralatan
a. Surat Ijin Kelaikan Operasi (SILO)
Memuat Surat Ijin Kelaikan Operasi (SILO) pesawat angkat & angkut (alat berat) yang digunakan pada
pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi
b. Sertifikat kelaikan peralatan konstruksi lainnya
Memuat sertifikat kelaikan peralatan konstruksi lainnya yg digunakan pada Pelaksanaan Pekerjaan
Konstruksi.
c. Daftar Peralatan Utama
Memuat daftar peralatan utama yang akan digunakan pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi minimal terdiri
dari jenis peralatan, merk & tipe peralatan, kapasitas peralatan, jumlah peralatan, kondisi peralatan, lokasi
peralatan, dan status kepemilikan peralatan yg dibuktikan dengan surat kepemilikan maupun surat
perjanjian. Daftar peralatan utama ditandatangani oleh Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
C.1.2 Material
a. Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB)
Memuat Informasi terkait dengan pengendalian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) berupa Lembar Data
Keselamatan Bahan (LDKB) dari pemasok.
b. Daftar Material Impor
Memuat daftar material impor yang akan digunakan pada pelaksanaan pekerjaan konstruksi minimal terdiri
dari jenis material, jumlah material, negara asal, dan jadwal pengiriman barang. Daftar material impor
ditandatangani oleh Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi
C.1.3 Biaya
Perhitungan Biaya SMKK mengacu BOQ
2 Jabatan : Emergency/Darurat
Tugas dan Tanggung Jawab
a. Menerapkan program emergency/kedaruratan
b. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan pelatihan keadaan darurat secara Keseluruhan
c. Mendata seluruh personil dan menugaskan Tim P3K dalam pencarian orang yang hilang
d. Mengkoordinir pelaksanaan penanganan kondisi darurat, evakuasi dan evaluasi kondisi darurat secara
keseluruhan
e. Melakukan pemantauan dan pengendalian dalam setiap kondisi keadaan darurat termasuk melakukan
mitigasi apabila terjadi kecelakaan kerja
f. Memastikan kesiapan tim dan peralatan keadaan darurat tersedia sesuai kondisi lapangan
3 Jabatan : P3K
Tugas dan Tanggung Jawab
a. Menerapkan program P3K.
b. Melaksanakan tindakan P3K di tempat kerja.
c. Merawat fasilitas P3K di tempat kerja, meliputi:
- Ruang P3k
- Kotak P3K dan Isinya
- Alat evakuasi dan transportasi
- Fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri (APD) dan/atau peralatan khusus di tempat kerja yang
memiliki potensi bahaya yang bersifat khusus.
4 Jabatan : Kebakaran
Tugas dan Tanggung Jawab
a. Menerapkan program Kebakaran.
b. Menyusun rencana kegiatan sesuai kebijakan.
c. Menetapkan semua kegiatan unit manajemen keselamatan kebakaran pada pekerjaan konstruksi.
d. Mengimplementasikan kebijakan operasi pemadam kebakaran konstruksi dan lingkungannya.
e. Melaksanakan aktifitas unit manajemen keselamatan kebakaran di tempat kerja
f. Mengendalikan aktifitas terkait pencegahan dan penanggulangan kebakaran sesuai rencana kerja.
g. Melakukan koordinasi dengan pihak instansi pemadam kebakaran dan instansi terkait.
DIAGRAM ALIR KEADAAN DARURAT KECELAKAAN DI PROYEK
Catatan :
Petugasi K3 berkewajiban untuk mendata nama rumah sakit terdekat dengan lokasi proyek beserta nomor
telephonenya.
PENGENDALIAN OPERASIONAL K3
Pengendalian operasional berupa prosedur kerja/petunjuk kerja, yang harus mencakup seluruh upaya pengendalian pada
Tabel 1 kolom (5), diantaranya :
1. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan sesuai Tabel 1 kolom (5).
2. Rencana penunjukan personil yang akan ditugaskan menjadi Penganggung Jawab Kegiatan SMK3
3. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja:
4. Rencana prosedur / petunjuk kerja yang perlu di siapkan
5. Rencana program pelatihan / soisalisasi sesuai pengendalian resiko pada Tabel 1 kolom (5)
6. Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan
7. Persyaratan Operator Alat Angkat
- Operator Alat Angkat harus memenuhi kompetensi Operator alat angkat.
- Setiap Operator alat angkat harus memiliki SIO (Surat Izin Operasi) alat yang di
keluarkan oleh Badan yang berwenang
8. Rambu Peringatan / Larangan / Anjuran
- Penempatan Rambu-rambu peringatan/larangan/anjuran harus dipasang sesuai dengan
kondisi di tempat kerja.
- Rambu peringatan/larngan/anjuran harus mudah dilihat dan dapat dibaca
9. Alat Pelindung Diri
- Alat pelindung diri diidentifikasi berdasarkan hasil penilaian risiko.
- Alat pelindung diri (APD) diberikan kepada pekerja sesuai dengan jenis pekerjaan
10. Tamu/pengunjung dan pihak luar
- Pengendalian dan pembatasan akses masuk dan akses keluar tempat kerja
- Persyaratan APD (Alat Pelindung Diri)
- Induksi K3
- Persyaratan tanggap darurat
C.2. Kompetensi
No. Dok :
STANDARD OF OPERATING Tgl. Terbit :
PROCEDURE (SOP) No. Revisi :
Hal
1. TUJUAN
Memberikan panduan dalam kegiatan peningkatan kompetensi pegawai pada :
PT. MAMAN PUTRA BRAYAN
Prosedur ini dilaksanakan dalam lingkup kegiatan kompetensi pegawai pada :
PT. MAMAN PUTRA BRAYAN
meliputi : Usulan program peningkatan kompetensi pegawai, Pembentukan tim, Penentuan peserta,
Pelaksanaan kegiatan peningkatan Komptensi Karyawan.
2. a. Pedoman Mutu
b. Prosedur Penerimaan Karyawan
3. ISTILAH DAN DEFINISI
Istilah dan definisi yang dipakai dalam penulisan Pedoman Mutu, SOP, Instruksi Kerja serta dokumen
lainnya diuraikan secara rinci sesuai SMM ISO 9001:2008, diurutkan berdasarkan abjad dituangkan pada
Lampiran Istilah dan Definisi.
4. DIAGRAM ALIR, DOKUMEN DAN KETERANGAN KEGIATAN (Tercantum pada halaman 2/2
prosedur ini)
5. FORM
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal Kegiatan
d. Form Evaluasi
6. INSTRUKSI KERJA
7. REKAMAN MUTU
a. Daftar peserta program peningkatan kompetensi pegawai
b. Daftar hadir peserta
c. Jadwal Kegiatan
d. Evaluasi pelaksanaan kegiatan
Tugas, tanggung jawab dan wewenang kantor penyedia jasa:
a. Melaksanakan tugas yang diberikan dengan mematuhi peraturan dalam dokumen yang berkaitan dengan
penyelenggaraan bangunan.
b. Mengadakan konsultasi dengan divisi perencana serta mendapatkan bimbingan maupun pengarahan dari
divisi pengawas mengenai pelaksanaan pekerjaan.
c. Menyusun rencana kerja proyek.
d. Menyiapkan tenaga kerja, peralatan bahan, dan segala sesuatu yang digunakan untuk menunjang kelancaran
pelaksanaan pekerjaan.
e. Melaksanakan pekerjaan berdasarkan keahlian dan pengalaman yang dimiliki sesuai dengan gambar rencana
yang dibuat oleh konsultan perencana dan tidak keluar darispesifikasi kerja yg telah disetujui.
f. Membuat detail pelaksanaan (shop drawing) dan membuat gambar akhir pekerjaan (as built drawing).
g. Menjamin keamanan dan keselamatan kerja.
h. Membuat laporan harian, mingguan, dan bulanan.
g. Mengadakan pengujian terhadap hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan.
h. Mengadakan perbaikan, perubahan,rekonstruksi dan perbaikan terhadap semua kesalahan selama masa
pemeliharaan.
i. Menyerahkan pekerjaan apabila pekerjaan telah selesai secara keseluruhan kepada owner.
C.3. Kepedulian
Kepedulian merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan membuat rencana dan program kerja
sebagai tindakan pencegahan terhadap risiko kecelakaan kerja, sakit akibat pekerjaan dan pemulihan lingkungan
tercemar akibat pekerjaan konstruksi. Program kepedulian keselamatan konstruksi sebagai berikut:
Kepedulian kami terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kegiatan operasional dan bisnis perusahaan yang pelaksanaannya merupakan tanggung jawab semua jajaran di
perusahaan. Kami bertekad untuk melaksanakan kegiatan perusahaan yang bergerak dalam bidang JASA
KONSTRUKSI yang mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja dengan penerapan program perbaikan
berkelanjutan melalui Sistem, Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja (OHSAS 18001) sehingga dapat tercipta
tempat kerja yang aman serta nyaman bagi siapapun yang berada di tempat kerja.
1. Membangun manajemen perusahaan yang mengacu pada sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) berpedoman pada Peraturan dan Perundang-undangan yang berlaku.
2. Menetapkan tujuan, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi sasaran dan program Manajemen K3
(Kesehatan & Keselamatan Kerja) secara berkala agar selaras, baik dengan perkembangan kondisi perusahaan,
peraturan atau standar yang berlaku.
3. Mematuhi peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainnya yang berkaitan dengan K3, serta
mengintegrasikannya ke dalam semua aspek kegiatan operasi perusahaan kami.
4. Melaksanakan identifikasi bahaya sesuai dengan sifat dan skala resiko K3 dalam semua aktivitas operasi.
5. Menyediakan kerangka kerja untuk menetapkan dan meninjau sasaran - sasaran K3.
6. Menyediakan sumberdaya yang cukup untuk mengimplementasikan Sistem manajemen K3.
7. Mendokumentasikan, menerapkan dan memelihara SMK3.
8. Memelihara program Lindungan Lingkungan terhadap kegiatan disemua area lokasi kerja.
9. Mengkomunikasikan dan menanamkan kesadaran akan kebijakan ini kepada semua personil secara berkala
10. Mengelola dan menangani semua material, baik yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya, termasuk
mengendalikan potensi bahaya terhadap pekerja.
11. Meningkatkan kompetensi pekerja sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
12. Meninjau aspek Manajemen K3 secara periodik agar tetap relevan.
13. Memberikan perlindungan bagi semua personil di tempat kerja sehingga dapat dicegah kecelakaan dan penyakit
akibat kerja
14. Memberikan pelatihan dan kompetensi yang sesuai dan memadai
15. Memperhatikan aspek K3 dalam semua kegiatan operasinya
Selama Masa Konstruksi
C.4. Komunikasi
a) TUJUAN
Memberikan pedoman untuk penyebarluasan atau mengkomunikasikan infomasi lingkungan hidup,
keselamatan dan kesehatan kerja kepada pihak internal dan eksternal perusahaan secara efektif.
b) RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku untuk seluruh fasilitas operasi kami dan semua pihak yg bekerja di area tersebut. Hal
hal yang diatur dalam prosedur ini adalah cara untuk menyebarluaskan informasi terkait dengan lingkungan,
keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan kepada pihak internal maupun eksternal Perusahaan.
c) DEFINISI
a Informasi K3, yaitu informasi tentang lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja yang meliputi:
- Peraturan perundangan K3 Indonesia dan Internasional
- Standar Nasional Indonesia dan Internasional
- Kebijakan terpadu dan EHS Management System Manual
- Kondisi bahaya, laporan inspeksi dan laporan & hasil investigasi kecelakaan kerja
- Laporan internal / eksternal audit dan hasil rapat tinjauan ulang manajemen
- Prosedur dan instruksi kerja K3
- Risalah rapat bulanan / khusus P2K3, pelatihan-pelatihan K3
- Tanda-tanda, peringatan bahaya dan tanda / peringatan K3 lainnya
- Dan informasi-informasi lainnya yang terkait dengan K3
d) REFERENSI
- Permenaker No.05/MEN/1996, SMK3,.
- ISO 14001:2004, Environmental Management System
- OHSAS 18001:1999, OHS Management System
- EHS Management System Manual
e) PROSEDUR
a. Tanggung Jawab
- Divisi K3 bertanggung jawab untuk senantiasa berkoordinasi baik secara internal maupun eksternal
perusahaan (Kementerian Lingkungan Hidup, Depnaker Propinsi / Kab. / Kodya, Bapedda Propinsi /
Kabupaten / Kotamadya, Depkes, Pemda dan instansi / institusi lain terkait berkaitan dengan aspek K3)
bertujuan untuk memastikan bahwa peraturan dan perundangan, standar, dan informasi K3 lainnya
senantiasa up to date dan dikomunikasikan/diinformasikan pada departemen terkait di dalam
lingkungan operasi Perusahaan kami.
- Divisi Pengadaan/Logistik bertanggung jawab untuk menginformasikan ketentuan- ketentuan K3
Perusahaan kepada supplier / pemasok dan sub kontraktor yang akan memasok barang atau jasa yang
bekerja dilingkungan operasi Perusahaan Kami.
- Kepala Divisi K3 bertanggungjawab untuk menyediakaan sarana dan penyebarluasan informasi K3
kepada seluruh karyawan yang ada di Divisinya
C.4.1 Prosedur dan/atau petunjuk kerja induksi Keselamatan Konstruksi (safety induction)
a. Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja Induksi Keselamatan Konstruksi (safety induction) yang
ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi.
b. Induksi Keselamatan Konstruksi dilakukan untuk pekerja yang dipindah tugaskan, tamu, pemasok, dan pihak
pihak terkait pada pelaksanaan pekerjaan yg akan masuk ke dalam area Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi.
Tabel Pengisian Prosedur dan/atau petunjuk kerja induksi Keselamatan Konstruksi (safety induction)
Penanggung
No Uraian Aktivitas Keterangan
Jawab
1 Penyuluhan keselamatan Ahli Keselamatan Anggota peserta penyuluhan keselamatan konstruksi (Safety
konstruksi harus spernah Konstruksi/Ahli induction) adalah: semua anggota kelompok pekerja
dilaksanakan minimal 1 K3 pegawai/ karyawan/pekerja baru yang terlibat dalam proses
(satu) kali untuk tenaga Konstruksi/Petug pekerjaan secara langsung dilapangan, dan / atau siapa saja
kerja/pekerja baru dan harus as Keselamatan yang masuk dalam kelompok pekerja belum pernah
diberikan saat tenaga Konstruksi mendapatkan penyuluhan keselamatan konstruksi (Safety
kerja/pekerja akan mulai Induction) sebelumnya.
bekerja atau sebelum
bekerja
2 Penyuluhan keselamatan
konstruksi dapat
dilaksanakan kapan saja
(sewaktu-waktu) dengan
durasi waktu banyaknya
jumlah materi yang hendak
disampaikan.
3 Hasil penyuluhan
keselamatan konstruksi
harus di dokumentasikan,
diantaranya, daftar absensi
kehadiran peserta
penyuluhan keselamatan
konstruksi, topik-topik
keselamatan konstruksi
yang disampaikan,
semuanya harus di record.
C.4.2 Prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan pagi hari (safety morning )
a. Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan pagi hari (safety morning) yang ditandatangani oleh
penanggung jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
b. Pertemuan pagi hari (safety morning) diikuti oleh seluruh pekerja setiap pagi sebelum pekerjaan dimulai.
Tabel Pengisian Prosedur dan/atau petunjuk kerja Pertemuan Pagi Hari (Safety Morning)
Penanggung
No Uraian Aktivitas Keterangan
Jawab
Pelaksanaan Pertemuan Pagi Keselamatan Konstruksi:
Pertemuan Pagi Ahli Keselamatan Anggota Pertemuan Pagi Keselamatan Konstruksi adalah:
Keselamatan Konstruksi, Konstruksi/Ahli semua anggota kelompok pekerja pegawai/karyawan/pekerja
dilaksanakan secara K3 baru yang terlibat dalam proses produksi pekerjaan secara
periodik minimum sekali Konstruksi/Petug langsung di lapangan
1. dalam satu minggu dengan as keselamatan
jadwal yang ditetapkan oleh Konstruksi
Kepala
Proyek/Plant/Kawasan
Semua
pelaksana/Supervisor harus
membantu menetapkan
topik-topik keselamatan
yang berbasis identifikasi
potensi sumber bahaya
dalam lingkaran
kegiatannya dan/atau
terhadap kejadian/peristiwa
2.
yang cenderung mengarah
ke kondisi kecelakaan kerja
dan/atau telah terjadi
kecelakaan kerja, sesuai
dengan jenis pekerjaan yang
dikerjakannya
C.4.3 Prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan kelompok kerja (toolbox meeting)
a. Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pertemuan kelompok kerja (toolbox meeting) yang ditandai oleh
Penanggung Jawab Keselamatan Kerja dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
b. Pertemuan kelompok kerja (toolbox meeting) diikuti oleh kelompok pekerja sebelum pekerjaan dimulai
Tabel Pengisian Prosedur dan/atau petunjuk kerja Pertemuan Pagi Hari (Safety Morning)
Penanggung
No Uraian Aktivitas Keterangan
Jawab
Pelaksanaan Pertemuan Kelompok Pekerja Keselamatan Konstruksi:
1. Pertemuan kelompok Ahli Keselamatan Anggota pertemuan kelompok pekerja adalah kelomppok
Pekerja dapat dilaksanakan Konstruksi/Ahli pekerja yang terlibat dalam proses pekerjaan secara
kapan saja (sewaktu-waktu) K3 langsung dilapangan
dengan durasi waktu Konstruksi/Petug
pertemuan cukup pendek, as Keselamatan
berkisar 10 s/d 15 menit Konstruksi
atau lebih, dan tempat
pelaksanaannya dimana saja
di lokasi tempat kerja
(lapangan).
2. Pertemuan Kelompok
Pekerja harus dilaksanakan
minimal 1 kali dalam 1
minggu, yang lebih utama,
dapat dilaksanakan setiap
hari.
3. Pelaksanaan Pertemuan
Kelompok Pekerja
dilaksanakan dengan
teliti/akurat, sederhana
sejalan dengan aktifitas
harian, semua peringatan
keselamatan konstruksi
harus di tekankan dalam
pelaksanaan pekerjaan ke
semua tingkatan pekerja,
semua masalah di atas harus
berbasis identifikasi potensi
sumber bahaya.
C.4.4 Prosedur dan/atau petunjuk kerja Rapat Keselamatan Konstruksi (construction safety meeting)
Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja Rapat Keselamatan Konstruksi (construction safety meeting) yang
ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi.
Rapat Keselamatan Konstruksi (construction safety meeting) dipimpin oleh Penanggung Jawab Keselamatan
Konstruksi dan/atau Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi dan diikuti oleh seluruh Kepala Unit Kerja.
Rapat Keselamatan
Ahli K3
4 Konstruksi (construction Selama Masa Konstruksi 210 hari
Konstruksi
safety meeting)
Ahli K3
5 HSE Statistic Board Selama Masa Konstruksi 210 hari
Konstruksi
f) Komunikasi
a. Tanggung Jawab
- Seluruh Karyawan diberikan atau mendapat informasi mengenai pedoman & prosedur Sistem
Manajemen Lingkungan, Keselamatan & Kesehatan Kerja serta pelaksanaanya dilingkungan
Perusahaan, melalui kegiatan pelatihan & pelaksanaanya dikoordinir oleh Technical Training
Department.
- Seluruh Karyawan mendapatkan informasi mengenai kebijakan terpadu (kualitas, lingkungan,
keselamatan dan kesehatan kerja), manual SMK3, hasil rapat P2K3, artikel K3, perubahan pada
prosedur/instruksi kerja, penyelesaian masalah/keluhan K3, program-program dan kinerja K3
Perusahaan. Informasi ini diberikan melalui pelatihan, penjelasan/briefing K3 harian atau
mingguan atau melalui papan pengumuman dan bulletin K3 (melalui media cetak atau elektronik
internal perusahaan).
A. Perencanaan Operasi
Perencanaan operasional berupa prosedur kerja / petunjuk kerja, yang harus mencakup seluruh upaya
pengendalian, diantaranya :
a. Upaya pengendalian berdasarkan lingkup pekerjaan
b. Rencana penunjukan personil yang akan ditugaskan menjadi Penganggung Jawab Kegiatan K3
c. Prediksi dan rencana penanganan kondisi keadaan darurat tempat kerja
d. Rencana prosedur / petunjuk kerja yang perlu di siapkan
e. Rencana program pelatihan / soisalisasi sesuai pengendalian resiko
f. Sistem pertolongan pertama pada kecelakaan
g. Persyaratan Operator Alat Angkat :
- Operator Alat Angkat harus memenuhi kompetensi
- Setiap Operator alat angkat harus memiliki SIO (Surat Izin Operasi)
- atau bersertifikat yang di keluarkan oleh Badan yang berwenang
h. Rambu Peringatan / Larangan / Anjuran
- Penempatan Rambu-rambu peringatan/larangan/anjuran harus dipasang sesuai dengan kondisi di tempat
kerja
- Rambu peringatan/larangan/anjuran harus mudah dilihat dan dapat dibaca
i. Alat Pelindung Diri
- Alat pelindung diri diidentifikasi berdasarkan hasil penilaian risikodipasang sesuai dengan kondisi di
tempat kerja
- Alat pelindung diri (APD) diberikan kepada pekerja sesuai dengan jenis pekerjaan
j. Tamu/pengunjung dan pihak luar
- Pengendalian dan pembatasan akses masuk dan akses keluar tempat kerja
- Persyaratan APD (Alat Pelindung Diri) tempat kerja
- Induksi K3 tempat kerja
- Prosedur dan Persyaratan tanggap darurat tempat kerja
B. Daftar Induk Prosedur dan/atau Instruksi Kerja
Memuat daftar induk prosedur dan/atau instruksi kerja yang ditandatangani oleh Ahli Teknik terkait dan Kepala
Pelaksana Pekerjaan Konstruksi/Wakil Manajemen. Seluruh pekerjaan konstruksi dan penerapan SMKK pada
pelaksanaan pekerjaan konstruksi harus memiliki prosedur dan/atau petunjuk kerja yang telah ditandatangani.
Prosedur dan/atau instruksi kerja sekurang-kurangnya memuat dokumen sebagai berikut:
Kepedulian
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Kepala Pelaksana Pekerjaan
peningkatan kepedulian Keselamatan Konstruksi dan Ahli Teknik terkait
Konstruksi berdasarkan tingkat resiko
Komunikasi
Prosedur dan/atau petunjuk kerja induksi Penanggung Jawab Keselamatan
Keselamatan Konstruksi (safety induction) Konstruksi dan Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Penanggung Jawab Keselamatan
pertemuan pagi hari (safety morning) Konstruksi dan Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Penanggung Jawab Keselamatan
pertemuan kelompok kerja (toolbox Konstruksi dan Kepala Pelaksana
meeting) Pekerjaan Konstruksi
Prosedur dan/atau petunjuk kerja rapat Penanggung Jawab Keselamatan
keselamatan konstruksi (construction Konstruksi dan Kepala Pelaksana
safety meeting) Pekerjaan Konstruksi
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Penanggung Jawab Keselamatan
penerapan informasi bahaya-bahaya Konstruksi dan Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi
Informasi Terdokumentasi
Prosedur pengendalian dokumen atas Kepala Pelaksana Pekerjaan
semua dokumen yang dimiliki Konstruksi
Pengelolaan Keselamatan Kerja (lampiran PMPM P.01 s.d. P.09)
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Penanggung Jawab Teknik
Prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem Penanggung Jawab Teknik
Prosedur dan/atau petunjuk kerja sistem Penanggung Jawab Teknik
Pengelolaan Kesehatan Kerja
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Ahli terkait dan Kepala Pelaksana
pengelolaan kesehatan kerja Pekerjaan Konstruksi / Wakil
Manajemen
Pengamanan Lingkungan Kerja
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Ahli terkait dan Kepala Pelaksana
Pengamanan Lingkungan Pekerjaan Konstruksi / Wakil
Manajemen
Pengelolaan Lingkungan Kerja
Prosedur dan/atau petunjuk kerja Penanggung Jawab Keselamatan
Pengelolaan Lingkungan Kerja Konstruksi dan Kepala Pelaksana
Pekerjaan Konstruksi/Wakil
Manajemen
Urutan
Identifikasi Bahaya
Langkah Pengendalian Penanggung jawab
(Skenario Bahaya)
pekerjaan
Tertimpa material- Semua pekerja wajib menggunakan Ahli K3 Konstruksi
Jatuh dari ketinggian apd dan diawasi saat melakukan
pekerjaan.
- Pekerjaan panas (hot work) yaitu seluruh pekerjaan yang berpotensi menghasilkan sumber api;
- Pekerjaan galian (excavation) yaitu untuk pekerjaan galian yang akan dilakukan;
- Pekerjaan pengangkatan (lifting) yaitu untuk pekerjaan yang menggunakan alat angkat;
- Pekerjaan di ruang terbatas (confined space) yaitu untuk pekerjaan di dalam ruangan yang
mungkin ventilasinya secara alami kurang, mengandung gas mudah terbakar dan/atau mengandung
gas beracun;
- Pekerjaan menyelam (diving) yaitu untuk pekerjaan di bawah permukaan air;
- Pekerjaan dingin (cold work) yaitu seluruh pekerjaan lain yang tidak tercakup pada pekerjaan di
atas;
- Pekerjaan di malam hari (working at night) yaitu jika terdapat pekerjaan yang dilakukan melebihi
jam kerja normal;
- Pekerjaan di ketinggian;
- Pekerjaan menggunakan perancah;
- Pekerjaan dengan menggunakan radiography (x-ray);
- Pekerjaan bertegangan listrik (electrical work); dan/atau
- Pekerjaan penggalian atau kedalaman (excavation work)
1. Prosedur dan/atau petunjuk kerja pengamanan lingkungan Memuatprosedur dan/atau petunjuk kerja
pengamanan lingkungan yang ditandatangani oleh Ahli Teknik terkait dan Kepala Pelaksana Pekerjaan
Konstruksi/Wakil Manajemen yang sekurang-kurangnya mencakup:
a. Petugas keamanan dengan jumlah sesuai dengan kebutuhan pada pengendalian risiko keamanan;
b. CCTV yang dibutuhkan terutama dilokasi kerja untuk pekerjaandengan tingkat risiko besar dan
berpotensi terhadap tindakan kriminal;
c. Pagar pengaman yang digunakan pada lokasi yang berbatasan langsung dengan masyarakat sekitar dan
berpotensi terjadinya kecelakaan; dan
d. Tanda pengenal (ID Card) yang digunakan untuk seluruh pekerja, tamu, pemasok, dan pihak terkait
pada pelaksanaan pekerjaan yang masuk ke dalam area pekerjaan konstruksi.
b. Memuat perambuan yg dipakai pada zona kerja dalam manajemen lalu lintas, di antaranya Rambu tanda
awal pekerjaan, penyempitan ruas, pengarah lalu lintas, kerucut lalu lintas atau reflektor, pagar
pembatas zona kerja, rambu peringatan diawal dan akhir pekerjaan, papan informasi, papan pembatas
zona kerja, alat bantu penerangan (sesuai kebutuhan).
c. Untuk pekerjaan dengan keselamatan konstruksi sedang / besar disusun manajemen keselamatan lalu
lintas dalam RMLLP.
PENGGALIAN
1. Tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan galian sebelum mendapat ijin dari pihak berwenang.
2. Galian yang lebih dalam dari 1,5 meter diberi pengaman atau digali dengan kemiringan tertentu dan harus
dilakukan pemeriksaan sebelum melanjutkan pekerjaan galian.
3. Seluruh galian harus diberi tanda – tanda dan pengahalang disekeliling galian tersebut.
4. Setiap galian harus disediakan sebuah tangga untuk naik dan turunnya pekerja.
5. Setiap tumpukan/timbunan bekas tanah galian harus diletakan minimal 1 meter dari tepi/pinggir galian
6. Semua galian harus diperiksa ulang/ kembali apabila pada saat pekerjaan berhenti karena turun hujan
sebelum dilanjutkan pekerjaan kembali.
C. Pengendalian Subkontraktor dan Pemasok
Memuat uraian pengendalian subpenyedia jasa dan pemasok dalam mendukung pelaksanaan kontrak sesuai
dengan kontrak yang telah disetujui dan menjelaskan hubungan koordinasi antara subpenyedia jasa/pemasok
dengan penyedia jasa dalam rangka pengelolaan keselamatan kerja. Penyedia Jasa harus memastikan bahwa
di dalam kontrak antara Penyedia Jasa dan Subkontraktor serta Pemasok telah menganggarkan Biaya
Penerapan SMKK.
Pengendalian Subkontraktor
Pengendalian pemasok
Melakukan kegiatan untuk memperoleh derajat kesehatan setinggi- tingginya bagi tenaga kerja konstruksi dan
masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan jasa konstruksi dengan melakukan pencegahan gangguan
kesehatan dan penyakit akibat melalui cara:
A. Pemeriksaan Kesehatan
1. Memuat prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan kesehatan kerja mencakup: pemeriksaan
kesehatan berkala, pemeriksaan kesehatan khusus, pencegahan penyakit menular dan penyakit akibat
kerja yang ditandatangani oleh Ahli terkait dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi / Wakil
Manajemen.
2. Prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan kesehatan kerja sekurang-kurangnya mencakup:
a. Pemeriksaan kesehatan bagi seluruh pekerja dilakukan sebelum atau setelah memasuki masa kerja
pertama kali dan secara berkala sekurang kurangnya sekali dalam setahun.
b. Terdapat klinik yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana kesehatan yang dibutuhkan untuk
pekerjaan konstruksi yang memiliki risiko besar dan akses terbatas menuju fasilitas kesehatan.
c. Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan untuk referensi
d. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K):
- Terdapat peralatan P3K dengan jumlah 1 kotak P3K setiap 25 pekerja dan ditempatkan di area
yang mudah dilihat dan dijangkau.
- Isi kotak P3K sekurang-kurangnya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
- Isi kotak P3K harus diperiksa secara teratur dan harus dijaga supaya tetap berisi (tidak boleh
kosong)
e. Pemberantasan penyakit menular dan berbahaya
Dilakukan identifikasi bahaya kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan di antaranya:
- Demam berdarah dengan melakukan kegiatan Fogging yg berkoordinasi dengan puskesmas
terdekat;
- HIV/AIDS dengan melakukan tindakan pencegahan melalui sosialisasi sesuai peraturan yang
ada; dan
- Penyakit epidemik lainnya.
f. Peningkatan kesegaran jasmani untuk menjamin kebugaran pekerja.
g. Perlindungan sosial tenaga kerja
Seluruh pekerja memiliki BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan.
Peraturan
Nilai Ambang
No Jenis Pengukuran Perundang- Periode Pengukuran
Batas
undangan
Permenkes No
1 Debu 0,15 mg/m3 1405/MENKES/SK 1 Tahun sekali
/XI/2002
Permen Naker No 8
2 Kebisingan 85 dBA 1 Tahun sekali
Tahun 2020
Permen Naker No 8
3 Getaran 5m/det2 1 Tahun sekali
Tahun 2021
Permenkes No
4 Pencahayaan 200 lux 1405/MENKES/SK 1 Tahun sekali
/XI/2002
Permenkes No
18-28 derajat
5 Udara 1405/MENKES/SK 1 Tahun sekali
Celcius
/XI/2002
Kekeruhan 25 PP no 32 tahun
6 Air 1 Tahun sekali
NTU 2017
Permenkes No
7 Gas Berbahaya 29 mg/m3 1405/MENKES/SK 1 Tahun sekali
/XI/2004
CO, 2 gram/km
Permen LH No 10
8 Uji Emisi Kendaraan HC, 0,8 gram/km Tahun 2012 1 Tahun sekali
Nox, 0,15 gram/km
Laporan pelaksanaan pengujian lingkungan dituangkan dalam format Laporan Periksa Lingkungan pada
Lampiran Laporan Pelaksanaan RKK.
B. Tata Graha (Housekeeping)
1. Prosedur dan/atau petunjuk kerja pengelolaan tata graha (housekeeping)
Memuat prosedur dan petunjuk kerja pengelolaan Tata Graha (Housekeeping) terkait Program 5R
(Ringkas, Rapih, Resik, Rawat, Rajin) yang ditandatangani oleh Penanggung Jawab Keselamatan
Konstruksi dan Kepala Pelaksana Pekerjaan Konstruksi / Wakil Manajemen. Program tata graha
(housekeeping) yg dilakukan sekurang-kurangnya satu kali sehari di akhir pelaksanaan pekerjaan.
B. Lembar Periksa
Memuat format lembar periksa lingkup pekerjaan, pesawat angkat & angkut (alat berat), perkakas,
bahan/material, lingkungan, kesehatan, keamanan, dan lain-lain. Lembar periksa ditandatangani pada satu
periode waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan).
Inspeksi terdiri dari berbagai macam bentuk lembar periksa sekurang- kurangnya mencakup:
a. Lingkup pekerjaan ditandatangani oleh ahli teknik terkait, Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi;
b. Pesawat angkat & angkut (alat berat) ditandatangani oleh ahli teknik terkait, Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi;
c. Perkakas ditandatangani oleh ahli teknik terkait, Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi;
d. Bahan material ditandatangani oleh ahli teknik terkait, Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi dan
disetujui oleh Pengawas Pekerjaan;
e. Lingkungan (housekeeping, pencemaran, hygiene) ditandatangani oleh ahli terkait, Penanggung Jawab
Keselamatan Konstruksi;
f. Kesehatan ditandatangani oleh ahli terkait, Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi; dan
g. Keamanan/security ditandatangani oleh ahli terkait, Penanggung Jawab Keselamatan Konstruksi.
Pengendalian pemeriksaan dan evaluasi kinerja K3 dilakukan mengacu pada kegiatan yg dilaksanakan pada
bagian D. (Pengendalian Operasional) berdasarkan pengendalian pada bagian C (Perencanaan K3) sesuai
dengan uraian Tabel 2 (Sasaran dan Program K3).
Pengukuran dan Pemantauan bertujuan antara lain untuk :
1. Mengamati perkembangan, pertemuan K3,Pemenuhan tujuan K3 dan peningkatan berkelanjutan.
2. Memantau Pemenuhan peraturan perundang-undangan dan persyaratan lainya berkaitan dengan
3. penerapan K3
Memantau di tempat kerja. kerja bila ada ataupun penyakit.
kejadian/Kecelakaan
4. Menyediakan data untuk evalasi keefektifan pengendalian operasi K3 atau untuk mengevaluasi perunya
5. modifikasi
Menyediakanpengendalian
data untuk ataupun pengenalan personil
menilai kompetensi pilihan pengendalian
K3 baru
6. Menyediakan data untuk mengevaluasi penerapan sistim manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
perusahaan