Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah
Pasal 1
46. Aparat Pengawas Internal Pemerintah adalah inspektorat jenderal kementerian, unit pengawasan
lembaga pemerintah nonkementerian, inspektorat provinsi, dan inspektorat kabupaten/kota.
Pasal 209
2) Perangkat Daerah kabupaten/kota terdiri atas:
a. sekretariat daerah;
b. sekretariat DPRD;
c. inspektorat;
d. dinas;
e. badan; dan
f. Kecamatan.
Pasal 216
1) Inspektorat Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 ayat (1) huruf c dan ayat (2) huruf c
dipimpin oleh inspektur.
2) Inspektorat Daerah mempunyai tugas membantu kepala daerah membina dan mengawasi
pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan oleh
Perangkat Daerah.
3) Inspektorat Daerah dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada kepala daerah melalui
sekretaris Daerah.
Pasal 385
(1) Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan atas dugaan penyimpangan yang dilakukan oleh
aparatur sipil negara di instansi Daerah kepada Aparat Pengawas Internal Pemerintah
dan/atau aparat penegak hukum.
(2) Aparat Pengawasan Internal Pemerintah wajib melakukan pemeriksaan atas dugaan penyimpangan
yang diadukan oleh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan atas pengaduan yang disampaikan oleh
masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setelah terlebih dahulu berkoodinasi dengan
Aparat Pengawas Internal Pemerintah atau lembaga pemerintah nonkementerian yang membidangi
pengawasan.
(4) Jika berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditemukan
bukti adanya penyimpanga yang bersifat administratif, proses lebih lanjut diserahkan kepada
Aparat Pengawas Internal Pemerintah.
(5) Jika berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditemukan
bukti adanya penyimpangan yang bersifat pidana, proses lebih lanjut diserahkan kepada aparat
penegak hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor
18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
Pasal 33
1) Inspektorat Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) huruf c merupakan
unsur pengawas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.
2) Inspektorat Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh inspektur.
3) Inspektur Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam melaksanakan tugasnya
bertanggung jawab kepada bupati/wali kota melalui sekretaris Daerah.
4) Inspektorat Daerah kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mempunyai tugas
membantu bupati/wali kota dalam membina dan mengawasi pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang
menjadi kewenangan Daerah dan Tugas Pembantuan oleh Perangkat Daerah.
5) Inspektorat Daerah kabupaten/kota dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
menyelenggarakan fungsi:
a. perumusan kebijakan teknis bidang pengawasan dan fasilitasi pengawasan;
b. pelaksanaan pengawasan internal terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, reviu,
evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya;
c. pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan dari bupati/wali kota
dan gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat;
d. penyusunan laporan hasil pengawasan;
e. pelaksanaan koordinasi pencegahan tindak pidana korupsi;
f. pengawasan pelaksanaan program reformasi birokrasi;
g. pelaksanaan administrasi inspektorat Daerah kabupaten/kota; dan
h. pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh bupati/wali kota terkait dengan tugas dan
fungsinya.
Pasal 33A
Dalam hal terdapat potensi penyalahgunaan wewenang dan/atau kerugian keuangan negara/
Daerah, inspektorat Daerah kabupaten/kota melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 33 ayat (5) huruf c tanpa menunggu penugasan dari bupati/wali kota dan/atau gubernur
sebagai wakil Pemerintah Pusat.
Pasal 33B
1) Dalam hal pelaksanaan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (5) huruf b dan huruf c
terdapat indikasi penyalahgunaan wewenang dan/atau kerugian keuangan negara/ Daerah, inspektur
Daerah kabupaten/kota wajib melaporkan kepada gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.
2) Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat melakukan supervisi kepada inspektorat Daerah
kabupaten/kota dalam menangani laporan indikasi penyalahgunaan wewenang dan/atau kerugian
keuangan negara Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
3) Pelaksanaan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melibatkan lembaga yang melaksanakan
tugas dan fungsi penga.,vasan intern Pemerintah.
Peraturan Bupati Pinrang Nomor 49 Tahun 2020 tentang Kedudukan, Susunan Organsisasi,
Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Inspektorat Daerah Kabupaten Pinrang
Pasal 1
14. Pengawasan dan pengendalian pegawai selanjutnya disebut wasdalpeg adalah pelaksanaan kegiatan
pemeriksaan, pengevaluasian, pemantauan dan melakukan tindakan korektif terhadap pelaksanaan
peraturan perundang-undangan bidang kepegawaian yang dapat dilakukan secara reguler, reviu dan
investigasi.
Pasal 3
1) Susunan organisasi inspektorat terdiri atas:
a. Inspektur
b. Sekretariat terdiri atas:
1. Sub bagian perencanaan dan keuangan
2. Sub bagian analisis, evaluasi dan tindak lanjut dan
3. Sub bagian umum dan kepegawaian
c. Inspektur pembantu wilayah I
d. Inspektur pembantu wilayah II
e. Inspektur pembantu wilayah III
f. Inspektur pembantu wilayah IV
g. Inspektur Pembantu bidang pencegahan dan investigasi
h. Jabatan fungsional pengawasan
i. Jabatan fungsional
Pasal 10
1) Inspektur bidang pencegahan dan investigasi mempunyai tugas pengawasan untuk tujuan tertentu
atas penugasan gubernur, koordinasi pencegahan tindak pidana korupsi, dan pengawasan
pelaksanaan program reformasi birokrasi
2) Untuk melaksanakan tugas sebagaimana pada ayat (1) inspektur pembantu bidang pencegahan
dan investigasi melakukan:
a. Mengusulkan program kegiatan sesuai tugas pokok dan fungsi
b. Menyusun rencana kegiatan tahunan sebagai pedoman pelaksanaan tugas dan fungsi
c. Mengumpulkan bahan penyusunan rencana pelaksanaan tugas dan fungsi
d. Mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan kegiatan pengawasan untuk tujuan
tertentu atas penugasan gubernur, pelaksanaan kegiatan koordinasi pencegahan tindak pidana
korupsi, pelaksanaan kegiatan koordinasi pencegahan tindak pidanan korupsi, pelaksanaan
kegiatan pengawasan program reformasi birokrasi oleh tim pelaksanan tugas
e. Melakukan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan gubernur melalui tahapan
perencanaan, pelaksanaan tugas, evaluasi dan pelaporan
f. Melaksanakan koordinasi pencegahan tindak pidana korupsi melalui tahapan kegiatan
konsultansi, asistensi dan pelaporan
g. Melaksanakan pengawasan program reformasi birokrasi yang dilakukan melalui tahapan
kegiatan perencanaan, pemantauan, evaluasi dan pelaporan
h. Mengkoordinasikan, memberikan saran , dan mengoreksi penyusunan laporan pelaksanaan
tugas pokok dan fungsi
i. Memberikan saran dan pertimbangan kepada pimpinan sesuai tugas dan fungsi
j. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh pimpinan sesuai dengan tugas dan fungsinya
KEWENANGAN PENGHITUNGAN KERUGIAN KEUANGAN NEGARA
Penjelasan pasal 32 ayat 1 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 menyebutkan bahwa yang dimaksud
dengan “secara nyata telah ada kerugian keuangan negara” adalah kerugian yang sudah dapat dihitung
jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk. Pihak
yang menghitung kerugian keuanga negara adalah ahli menurut pengertian kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP), ahli menurut UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan
atau ahli menurut pasal 32 ayat (1) UU nomor 31 Tahun 1999 Tentang Tindak Pidana Korupsi, ahli
menurut perpres Nomor 192 tahun 2014 tentangn BPKP dan ahli menurut Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 003/PUU-IV/2006
Untuk lebih jelasnya sebagai berikut:
Ahli Menurut KUHAP
Pasal 1 angka 28
Keterangan ahli adalah keterangan yang diberikan oleh seorang yang memiliki keahlian khusus tentang
hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.
Pasal 1 angka 28 dan pasal 179 KUHAP tidak menjelaskan kualifikasi yang harus dipunyai seseorang
agar dapat disebut sebagai Ahli untuk memberikan keterangan ahli demi keadilan.
Pasla 1 angka 28 KUHAP telah memberikan petunjuk mengenai siapa yang dianggap ahli, yaitu
seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu
perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan.
Pasal 120
1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki
keahlian khusus
2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi
keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta
martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia menyimpan rahasia dapat menolak
memberikan keterangan yang diminta.
Dengan demikian, dapat ditafsirkan bahwa untuk menghitung kerugian keuangan negara seorang ahli
harus memiliki keahlian khusus tentang kerugian keuangan negara, sehingga ia dapat membuat terang
suatu perkara pidana korupsi guna kepentingan pemeriksaan tersebut.
Ahli Menurut UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah
diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001
Pasal 32
1) Dalam hal penyidik menemukan dan berpendapat bahwa satu atau lebih unsur tindak pidana korupsi
tidak terdapat cukup bukti, sedangkan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara, maka
penyidik segera menyerahkan berkas perkara hasil penyidikan tersebut kepada jaksa pengacara
negara untuk dilakukan gugatan perdata atau diserahkan kepada instansi yang dirugikan untuk
mengajukan gugatan
2) Putusan bebas dalam perkara tindak pidana korupsi tidak menghapuskan hak untuk menuntut
kerugian terhadap keuangan negara
Penjelasan :
Yang dimaksud dengan secara nyata telah ada kerugian keuangan negara adalah kerugian negara yang
sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik.
Yang dimaksud dengan putusan bebas adalah putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam pasal
191 ayat (1) dan ayat (2) Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
Penjelasan undang-undang menjelaskan kondisi “secara nyata telah ada kerugian negara” diartikan oleh
undang-undang terjadi apabila kerguian itu sudah dapat dihitung jumlahnya, penjelasannya menyebutkan
bahwa perhitungan kerugian keuangna negara itu berdasarkan temuan instansi yang berweang atau
akuntan publik yang ditunjuk.
Ahli Menurut BPK
Pasal 12 UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan
BPK dapat memberikan:
a. Pendapat kepada DPR, DPD, DPRD pemerintah pusat/pemerintah daerah, lembaga negara lain,
Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik
Daerah, Yayasan dan Lembaga atau badan lain yang diperlukan karena sifat pekerjaanya;
b. Pertimbangan atas penyelesaian kerugian negera/ daerah yang ditetapkan oleh pemerintah
pusat/daerah dan/atau
c. Keterangan ahli dalam proses peradilan mengenai kerugian negara/daerah.
Ahli menurut perpres BPKP
Peraturan Presiden Nomor 192 tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
(BPKP) telah mengatur tugas dan fungsi BPKP berkaitan dengan penghitungan kerugian keuangan
negara adalah sebagai berikut :
Pasal 2
Badan pengawasan Keuangan dan Pembangunan merupakan aparat pengawasan intern pemerintah yang
berada di bawah dan bertanggungjawab kepada presiden
Pasal 3 huruf e
BPKP mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pengawsan keuangan
negara/daerah dan pembangunan nasional, serta menyelanggarakan fungsi antara lain melakukan
pengawasan terhadap perencanaan dan pelaksaan program dan /atau kegiatan yang dapat menghambat
kelancaran pembangunan, audit atas penyesuaian harga audit klaim, audit investigatif terhadap kasus-
kasus penyimpangan yang berindikasi merugikan keuangan negara/daerah, audit penghitungan kerugian
keuangan negera/ daerah, pemberian keterangan ahli dan upaya pencegahan korupsi.
Ahli menurut putusan mahkamah konstitusi (Putusan Nomor 31/PUU-X/2012 tanggal 23 Oktober
2012)
Penyidik (dalam perkara tersebut : KPK) bukan hanya dapat berkoodinasi dengan BPKP dan BPK dalam
rangka pembuktian suatu tindak pidana korupsi, melainkan dapat juga berkoodinasi dengan instansi lain,
bahkan bisa membuktikan sendiri di luar temuan BPKP dan BPK, misalnya dengan mengundang ahli
atau dengan meminta bahan dari inspektorat jendral atau badan lain yang mempunyai fungsi yang
sama dengan itu dari masing-masing instansi pemerintah, bahkan dari pihak lain (termasuk dari
perusahaan), yang dapat menunjukkan kebenaran materiil dalam penghitungan kerugian keuangan negara
dan/atau dapat membuktikan perkara yang sedang ditanganinya.