BAHAN BACAAN
Pewarna remasol adalah salah satu jenis pewarna batik yang sangat popular. Nama ”Remasol”
berasal dari kata ”remanen” artinya sisa/limbah dan ”sol” berasal dari kata solution (larutan).
Remasol dibuat dari sisa-sisa pewarna yang dihasilkan dari industri tekstil. Remasol memberikan
warna cerah dan tahan lama pada kain batik.
Karakteristik Remasol
1. Remasol merupakan zat pewarna reaktif yang memiliki gugus fungsi vinil sulfon
(-SO2-CH=CH2) yang sangat aktif bereaksi dengan gugus hidroksil (-OH) pada serat alami
seperti rayon, katun dan linen. Alasannya kain-kain tersebut cocok diwarnai dengan remasol
yaitu, katun memiliki kandungan selulosa dengan banyak gugus hidroksil, rayon memiliki sifat
yang mirip dengan katun karena terbuat dari serat selulosa regenerasi, dan linen terbuat dari
serat rami dengan kandungan selulosa yang tinggi. Remasol membentuk ikatan kovalen antara
molekul pewarna dan serat sehingga membuat warna tidak mudah luntur, walaupun dicuci
berkali-kali.
2. Ikatan kovalen pada pewarna remazol merupakan ikatan kimia yang sangat stabil. Untuk
memperkuat ikatan kovalen, diperlukan proses fiksasi menggunakan alkali seperti waterglass/
soda abu. Pewarna remasol yang awalnya merupakan gugus vinil sulvon setelah ditambahkan
alkali akan menjadi gugus etilen (CH=CH2), yang kemudian akan bereaksi dengan gugus
hidroksil pada serat.
3. Zat warna remasol memiliki berbagai warna yang cerah dan beragam dengan intensitas tinggi
termasuk merah, biru, kuning, hijau dan hitam. Warna yang dihasilkan memiliki saturas tinggi,
dan juga tahan terhadap sinar UV.
4. Pewarna remasol merupakan pewarna berbasis air dan sangat mudah larut dalam air
hangat/dingin. Pada remasol yang dilarutkan dalam air hangat dapat mempercepat proses
penguraian dan penetrasi ke dalam serat. Sifat ini memepermudah pengaplikasian remasol
pada metode pencelupan. Kemudian juga remasol tidak meninggalkan residu/gumpalan,
sehingga warna merata.
5. Remasol mampu bertahan pada suhu yang tinggi, baik pada proses pencelupan maupun
pengeringan. Hal tersebut disebabkan karena ikatan kimia yang kuat dan daya tahan molekul
terhadap panas membuat warnanya tetap stabil. Namun, tetap perlu diperhatikan agar kain
tidak rusak/berubah tekstur.
Kelebihan Pewarna Remasol
1. Warna yang cerah dan tahan lama
Pewarna Remasol mampu memberikan warna yang cerah dan tahan lama pada kain batik. Hal
ini dikarenakan pewarna ini dibuat dari bahan kimia yang berkualitas tinggi dan memiliki daya
lekat yang baik pada serat kain batik.
2. Mudah digunakan
Pewarna Remasol sangat mudah digunakan, baik oleh para pengrajin batik profesional maupun
pemula. Anda hanya perlu mencampurkan pewarna dengan air hangat yang sesuai dengan
petunjuk yang tertera pada kemasan.
3. Hasil yang konsisten
Pewarna Remasol dihasilkan dengan menggunakan teknologi canggih yang memastikan hasil
pewarnaan yang konsisten pada setiap batik yang Anda buat. Anda dapat menghasilkan warna
yang sama pada setiap kali Anda menggunakan pewarna Remasol.
Kekurangan Remasol
1. Harga yang relatif lebih tinggi
Pewarna Remasol memiliki harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan jenis pewarna
batik yang lain. Hal ini dikarenakan pewarna Remasol dibuat dari bahan berkualitas tinggi dan
dihasilkan melalui proses produksi yang rumit.
2. Butuh perawatan khusus
Pewarna Remasol membutuhkan perawatan khusus agar warnanya tetap cerah dan tahan lama.
Anda perlu menjaga batik yang telah diwarnai dengan pewarna Remasol agar terhindar dari
sinar matahari langsung, penggunaan deterjen yang terlalu keras, dan pengeringan yang
berlebihan.
3. Tidak cocok untuk semua jenis kain
Pewarna Remasol tidak cocok digunakan untuk semua jenis kain. Beberapa jenis kain tertentu
seperti sutra dan nilon tidak dapat diwarnai dengan pewarna Remasol karena serat kain tersebut
tidak dapat menyerap pewarna dengan baik.
Bahan-Bahan Pewarnaan Remazol dan Fungsinya
Nama Bahan Fungsi
1. Zat warna Remazol (contoh: Memberikan warna pada kain. Remazol adalah zat warna
Remazol Red RR, Blue BB, reaktif yang larut air dan dapat berikatan secara kimia
Yellow FG) dengan serat kain.
Membantu membuka pori-pori kain agar warna mudah
2. Garam dapur (NaCl)
menyerap dan menempel. Fiksator warna.
Meningkatkan pH larutan agar warna bisa bereaksi dengan
3. Soda Ash (Natrium Karbonat
serat kain. Tanpa soda ash, warna tidak akan mengikat
/ Na₂CO₃)
secara permanen.
Sebagai media pelarut semua bahan dan sebagai bahan
4. Air bersih
utama larutan pewarna.
5. Kain katun atau rayon (yang Media yang akan diwarnai. Harus bersih agar warna
sudah dicuci bersih) meresap dengan sempurna.
Alat-Alat Pewarnaan Remazol dan Fungsinya
Nama Alat Fungsi
1. Ember plastik / baskom
Tempat mencampur larutan zat warna dan merendam kain.
besar
Untuk mengukur jumlah zat warna, garam, dan soda ash
2. Sendok ukur / gelas ukur
secara tepat.
3. Stik pengaduk / sendok
Mengaduk larutan agar zat warna larut merata.
plastik
4. Sarung tangan plastik / Melindungi tangan dari bahan kimia yang bisa mengiritasi
karet kulit.
5. Masker Menjaga saluran pernapasan saat mencampur bahan kimia.
6. Jemuran dan penjepit kain Digunakan untuk mengeringkan kain setelah pewarnaan.
Prinsip Dasar Percampuran Warna Remazol
Pencampuran warna dalam pewarnaan Remazol mengikuti prinsip additive mixing di dalam
larutan (saat dilarutkan dalam air) dan subtractive mixing ketika sudah diaplikasikan ke kain.
Secara umum, warna-warna dasar (primer) Remazol adalah:
1. Remazol Yellow RR (kuning)
2. Remazol Red RR (merah)
3. Remazol Blue RR (biru)
Dari ketiga warna ini, kita bisa membuat berbagai warna sekunder dan tersier dengan
mencampurkannya.
Hasil Percampuran Warna Remazol (Subtractive Color Mixing)
Warna 1 Warna 2 Hasil Campuran Catatan Teknis
Warna terang, sangat dipengaruhi konsentrasi
Kuning Merah Jingga / Oranye
kuning
Jika merah lebih dominan → ungu kemerahan;
Merah Biru Ungu
biru dominan → violet
Hijau cerah jika kuning dominan; hijau gelap
Kuning Biru Hijau
jika biru dominan
Biru + Tergantung takaran, bisa coklat muda hingga
Merah Coklat
Kuning gelap
Semua Abu-abu / Coklat
— Hasil campuran mendekati hitam atau netral
(R+B+Y) kusam
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perubahan Warna
1. Perbandingan Campuran
a. Warna tidak hanya tergantung dari jenis pewarna, tetapi juga takaran (gr/l) dari masing-
masing warna.
b. Misalnya: 1g kuning + 2g merah → oranye kemerahan, tapi 2g kuning + 1g merah →
oranye kekuningan.
2. pH Larutan
a. Remazol bekerja optimal di pH 10–11 (alkalis), biasanya dengan penambahan soda ash
(Na2CO3).
b. pH yang salah → warna tidak menyerap sempurna → warna kusam.
3. Waktu Fiksasi dan Suhu
a. Waktu terlalu singkat → warna belum menyerap sempurna.
b. Suhu terlalu tinggi → warna bisa rusak atau terlalu menyebar.
4. Jenis dan Daya Serap Kain
a. Kain katun menyerap Remazol sangat baik.
b. Pada kain sintetis, warna bisa tidak terserap atau tampak kusam.
5. Kelarutan dan Stabilitas Warna Campuran
a. Beberapa warna Remazol lebih larut dan stabil di air daripada yang lain.
b. Misalnya, Remazol Blue cenderung lebih kuat mendominasi campuran jika konsentrasi
[Link] Percampuran dalam Praktik Pewarnaan (g/l)
Misalnya ingin menghasilkan warna hijau:
a. 5g Remazol Yellow RR
b. 2g Remazol Blue RR
c. Air: 1 liter
d. NaCl (garam): 50g
e. Soda Ash: 20g
f. Suhu: 40–60°C
Jika dibalik proporsinya (Blue 5g, Yellow 2g), maka hasilnya bukan hijau cerah, tapi hijau
kebiruan (turquoise).
Kesalahan Umum dalam Percampuran
• Tidak mengaduk merata → muncul bercak warna (blotching)
• Tidak mencatat rasio → sulit mengulang warna yang sama
• Tidak mempertimbangkan efek pengeringan dan finishing, karena warna akan tampak
lebih gelap saat basah dan lebih terang saat kering
Prosedur Pewarnaan Remasol
a) Pertama-tama, sediakan bubuk remasol.
Kuning cerah - FG*
Kuning kunir - 4R
Oren - O3R
Biru cerah - KNR/RSP
Biru turkis - Turquoise
Biru gelap - B2R
Merah/Pink - 3B/6B/8B
Ungu - 5R/BNH (bisa juga dengan pencampuran antara bubuk merah dengan biru)
Abu-abu - Navy/Black B
Hitam - Black B/Black N
Untuk Warna Hijau - Campuran antara Kuning dan Biru (misal: FG dengan KNR)
Selain remasol, sediakan pula Soda atau Waterglass. Manfaatnya adalah untuk
mengunci/fiksasi warna agar tidak luntur.
b) Setelah pewarna dan pengunci warna disediakan, langkah kedua yaitu larutkan obat remasol
dengan takaran sesuai kebutuhan. Semakin tinggi pewarna maka semakin tua warnanya. Untuk
standar rata-rata yang biasanya yaitu untuk pewarna 25gr sampai 50gr untuk per 1 liter air
bersih.
c) Sedangkan untuk penguncinya, gunakan Soda Ash dengan takaran minimal 75% dari takaran
obat pewarna. Maka jika pewarnanya 30gr (misalnya), berarti pengunci (Soda Ash-nya)
minimal 22,5gr.
d) Tuangkan kedua takaran remasol dan pengunci warna yang sudah ditakar atau ditimbang
(untuk penimbangan/penakaran bubuk pewarna, sebaiknya gunakan timbanan digital untuk
akurasi tinggi) tadi ke dalam wadah (bisa ember, kaleng bekas cat dll, sesuaikan seberapa
banyak akan membuatnya).
e) Setelah kedua zat itu dituangkan ke dalam wadah, maka tinggal menambahkan air sesuai
dengan yang akan dibuat. Misal tadi menakar pewarna untuk 1 liter air, maka gunakan 1 liter
air.
f) Setelah itu, pewarna sudah siap digunakan untuk mewarnai kain.
g) Setelah kain kering maka proses pelorotan bisa dilakukan. Dikuaskan Ditiriskan & dijemur
Ditiriskan & dijemur Dicuci air
Jika akan dilakukan dengan proses pencelupan, maka kain tinggal dicelupkan.
*Catatan, biasanya untuk 1 liter pewarna yang telah siap, bisa digunakan untuk mencelup sekitar
3-5 meter kain dengan lebar 120cm.
Setelah dicelup, segera keringkan. Usahakan kain tidak dalam posisi terlipat-lipat terlalu lama
karena dapat menyebabkan hasil pewarnaan tidak rata. Maka sebaiknya, setelah kain dicelupkan,
segeralah untuk dijemur. Penjemurannya pun sebaiknya dengan membentangkan satu ujung kain
dan ujung lainnya dengan dikaitkan pada paku yang didesain khusus untuk memudahkan
penjemuran. Sebenarnya bisa menjemur dengan menaruhnya pada jemuran apa pun (bentangan
bambu/kayu, besi dll, misalnya), tapi hal ini bisa menyebabkan terjadinya ketidakrataan
pewarnaan. Tidak wajib menjemurnya di bawah panas matahari langsung, bisa menjemurnya
kapan pun asal tidak terkena hujan. Satu hal lagi, untuk hasil sempurna, sebelum kemudian dicuci
pada tahap akhir, sebaiknya kain yang sudah dicelupkan pada pewarna diinapkan terlebih dahulu.
Artinya meskipun sudah kering, sebaiknya jangan langsung dicucui, tetapi menunggu besok hari.
Atau setidaknya, tunggu hingga 6 jam sejak kering. Ingat, sejak kering, bukan sejak dicelupkan.
Nah, itu adalah proses mewarnai kain dengan cara pencelupan yang menggunakan penguat warna
Soda Ash. Sekarang, jika menggunakan Waterglass, maka prosesnya sedikit berbeda.
Untuk yang menggunakan Waterglass, cara penakaran pewarna sama di atas, tapi jangan dicampur
Soda Ash. Larutkan remasol sesuai kebutuhan. Lalu langsung celupkan kain. Setelah itu, larutkan
1 kilo Waterglass dengan maksimal 2 liter air bersih. Kain yang sudah dicelupkan pewarna (tanpa
Soda Ash) tadi, selanjutnya dicelupkan ke larutan Waterglass. Kain dicelupkan dalam sudah
kering. Setelah itu, dijemur hingga kering/warna sudah tidak luntur ditangan bila dicolek.
Kemudian, bilas dan jemur.
Sisa pewarna yang sudah terpakai (yang sudah bercampur Soda Abu/waterglass) tidak dapat
digunakan lagi di kemudian hari. Intinya, pewarna yang dilarutkan bersama dengan penguat (Soda
Ash/Waterglass) tidak dapat digunakan lagi di lain hari. Kalau tidak tercampur pengunci (seperti
proses pencelupan dengan penguat Soda Ash di atas), maka pewarna yang tak tercampur apa-apa
ini masih bisa digunakan lagi hingga maksimal sebulan atau bahkan lebih.
Selain itu, jangan lupa untuk menggunakan sarung tangan berbahan karet agar tangan tidak ikut
terwarna. Meski kita bisa memanfaatkan Kaporit untuk menghilangkan bekas pewarna yang
menempel pada kulit tangan kita, tapi alangkah lebih baik jika kita menghindari kontraksi pewarna
dengan tangan kita
Perbedaan Fiksasi Dengan Menggunakan Waterglass Dan Soda Abu
Fiksasi pada pewarna remasol bertujuan untuk mengunci warna pada serat kain agar tidak mudah
luntur saat dicuci atau digunakan. Dua bahan yang sering digunakan dalam proses fiksasi remasol
addalah waterglass (natrium silikat) dan soda abu (natrium karbonat).
Fiksasi Menggunakan Waterglass
Waterglass berfungsi sebagai pengikat warna pada serat kain dalam proses fiksaasi. Waterglass
bekerja dengan membuat ikatan kimia yang kuat antara molekul pewarna remasol dan serat kain.
Ikatan kain dapat menghasilkan warna yang lebih permanen dan tahan luntur meskipun sudah
melalui proses pencucian berulang kali. Dalam proses fiksasi, penggunaan waterglass dapat
menurutnkan intensitas warna sebanyak 10% saja. Kemudian, warna yang dihasilkan lebih stabil
dan tidak mudah berubah meskipun terpapar cuaca/suhu lingkungan. Kekurangannya, adalah dapat
menyebabkan kain menjadi sedikit kaku jika digunakan dalam jumlah berlebihan, selain itu bila
waterglass digunakan pada fiksasi kain dengan jumlah pembatikan yang butuh pewarnaan
berulang kali menyebabkan kekuatan perintang batik yaitu malah menjadi melemah karena zat
kimia yang dihasilkan oleh waterglass.
Fiksasi menggunakan Soda Abu
Soda abu dapat meningkatkan pH larutan [ewarna lebih mudah menempel pada serat kain, namn
tidak sekuat waterglass. Soda abu sering digunakan untuk fiksasi, dengan intensitas luntut warna
setelah pencucian yang cukup tinggi yaitu 50%. Proses fiksasi menggunakan soda abu memerlukan
waktu lebih lama dibandingkan waterglass. Biasanya dibutuhkan waktu sekitar sehari, baru
kemudian dibilas.
Komparasi Fiksasi menggunakan Waterglass dan Soda Abu
Aspek Waterglass (Natrium Silikat) Soda Abu (Natrium Karbonat)
Prinsip Kerja Ikatan kimia kuat dengan Meningkatkan pH agar warna
molekul warna lebih cerah
Efektivitas Fiksasi Sangat baik, warna tahan lunturRendah, warna mudah pudar
Penurunan 10% cenderung stabil 50% atau lebih cenderung mudah
Intensitas Warna luntur
Waktu Proses Cepat kering estimasi 15-60 Lama, dibutuhkan waktu sekitar 1
menit hari
Efek pada Tekstur Dapat membuat kain sedikit kaku Tidak mempengaruhi tekstur kain
Kain
Ketersediaan dan Agak mahal Murah dan mudah didapat
Biaya
Keamanan Warna Stabil dalam cuaca dan pencucian Warna tidak stabil dan cepa pudar
Referensi
Youtube:
1. Takaran Pewarna Remasol: [Link]
2. Pencelupan Waterglass: [Link]
3. Pewarnaan Remasol Teknik Celup:
[Link]
4. Pewarnaan Remasol Teknik Usap/Colet:
[Link]
5. Cara Meracik Remasol: [Link]
6. Cara Mengunci Remasol Menggunakan Waterglass:
[Link]
Artikel:
Luh, N., Saraswati, P. A., Made, I., Riawan, O., & Rihi, A. A. (2022). Studi Komparasi Adsorpsi
Tiga Jenis Zat Warna Remazol pada Permukaan Karbon Aktif. In Lantanida Journal (Vol.
10, Issue 1).