BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. BELAJAR DAN HASIL BELAJAR
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan satu istilah yang sangat lekat dalam setiap waktu dan
tempat bagi seseorang. Setiap individu yang hidup di dunia ini akan selalu
berusaha untuk menyesuaikan dirinya setiap waktu dengan tempat di mana ia
berada. Sejak lahir manusia yang sebelumnya sebagai bayi sangat tidak berdaya.
Ia sangat tergantung pada orang-orang di sekitarnya. Dalam hal ini pun ia mulai
belajar.
Rochman Natawijaya dan Moein Moesa (1992/1993) menyatakan bahwa
terdapat enam faktor yang mempengaruhi belajar, yaitu : siswa, guru, interaksi
guru-siswa, siswa sebagai kelompok, lingkungan fisik, dan faktor pendorong dari
luar. Kesemua faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu
faktor dari dalam diri seseorang (faktor internal) dan faktor yang berasal dari luar
seseorang (faktor eksternal). Faktor-faktor internal meliputi : (a) kematangan
untuk belajar, (b) kemampuan/ketrampilan untuk belajar , dan (c) dorongan untuk
berprestasi. Ada pun faktor eksternal meliputi : (a) suasana tempat belajar, (b)
pelatihan, dan (c) penguatan.
Dari beberapa pengertian di atas dapat dikemukakan bahwa belajar
merupakan aktivitas yang dilakukan individu dalam usaha untuk dapat
memperoleh informasi, memahami informasi dan meningkatkan suatu
ketrampilan dalam kaitannya dengan kesiapan individu dalam menghadapi waktu,
tempat, kepribadian dan objek yang berbeda-beda (Jurnal Pendidikan Widya
Tama vo. 4 No. 2, Juni 2007 hlm. 17-18)
2. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Hamalik hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan
tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur bentuk
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai
terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan
6
yang tidak tahu menjadi tahu. Hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil
maksimum yang telah dicapai oleh seseorang siswa setelah mengalami proses
belajar mengajar dalam mempelajari materi pelajaran tertentu. Hasil belajar tidak
mutlak berupa nilai saja, akan tetapi dapat berupa perubahan, penalaran,
kedisiplinan, keterampilan dan lain sebagainya yang menuju pada perubahan
positif.
Pengertian hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar
siswa melalui kegiatan penilaian atau pengukuran hasil belajar. Berdasarkan
pengertian di atas hasil belajar dapat menerangai tujuan utamanya adalah untuk
mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu
kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai
dengan skala nilai berupa huruf atau kata atau simbol.
Hasil belajar menunjukkan kemampuan siswa yang sebenarnya yang telah
mengalami proses pengalihan ilmu pengetahuan dari seseorang yang dapat
dikatakan dewasa atau memiliki pengetahuan kurang. Jadi dengan adanya hasil
belajar, orang dapat mengetahui seberapa jauh siswa dapat menangkap,
memahami, memiliki materi pelajaran tertentu. Atas dasar itu pendidik dapat
menentukan strategi belajar mengajar yang lebih baik. Hasil belajar ini pada
akhlirnya difungsikan dan ditunjukan untuk keperluan berikut ini:
1. Untuk seleksi, hasil dari belajar seringkali digunakan sebagai dasar untuk
menentukan siswa-siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis
pendidikan tertentu.
2. Untuk kenaikan kelas, untuk menentukan apakah seseorang siswa dapat
dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi atau tidak, memerlukan informasi yang
dapat mendukung keputusan yang dibuat guru.
3. Untuk penempatan, agar siswa dapat berkembang sesuai dengan tingkat
kemampuan dan potensi yang mereka miliki, maka perlu dipikirkan
ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai.3
Hasil belajar mencakup tiga ranah yaitu:
a) Ranah Kognitif Adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Segala
upaya yang menyangkup aktivitas otak adalah termasuk ranah kognitif.
Menurut Bloom, ranah kognitif itu terdapat enam jenjang proses berfikir
yaitu: knowledge (pengetahuan/hafalan/ingatan), compherehension
7
(pemahaman), application (penerapan), analysis (analisis), syntetis(sintetis),
evaluation (penilaian).
b) Ranah afektif Taksonomi untuk daerah afektif dikeluarkan mula mula oleh
David R. Krathwohl dan kawan-kawan dalam buku yang diberi judul
taxsonomy of educational objective: affective domain. Ranah afektif adalah
ranah yang berkenaan dengan sikap seseorang dapat diramalkan
perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat
tinggi. Tipe hasil belajar afektif akan Nampak pada murid dalam berbagai
tingkahlaku seperti: perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi
belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasan belajar dan hubungan
sosial.
c) Ranah psikomotorik. Hasil belajar psikomotor dikemukakan oleh simpson.
Hasil belajar ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill), dan kemampuan
bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan, yakni: gerakan reflek
(keterampilan pada gerakan yang tidak sadar), keterampilan pada gerak-
gerak sadar, kemampuan perceptual, termasuk di dalamnya membedakan
visual, membedakan auditif, motorik dan lain-laian, kemampuan di bidang
fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan dan ketetapan, gerakan-gerakan skill,
mulai keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang komplek,
kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi nondecursive, seperti
gerakan ekspresif dan interpretatif.
B. JENIS-JENIS HASIL BELAJAR
Jenis-jenis hasil belajar yaitu pemahaman konsep (aspek kognitif),
keterampilan proses (aspek psikomotor), dan sikap siswa (aspek afektif). Hal
tersebut sesuai dengan penjlasan yang dikemukakan oleh Suprijono (2009:8) yaitu
keterampilan, pengetahuan, informasi, sikap dan pemecahan masalah. Hal serupa
Susanto (2013:6) menjelaskan bahwa macam-macam hasil belajar yaitu
pemahaman konsep (aspek kognitif), keterampilan proses (aspek psikomotor), dan
sikap siswa (aspek afektif).
8
Jenis-jenis belajar terbagi menjadi tiga bagian yaitu belajar tanda-tanda,
belajar konsep, belajar pemecahan. Definisi tersebut sesuai dengan pernyataan
yang dikemukakan oleh Sukmadinata yang menjelaskan jenis-jenis belajar yaitu,
sebagai berikut:
1. Belajar tanda-tanda yaitu merupakan tahapan belajar yang sederhana setahap
lebih tinggi dari perubahan refleks.
2. Belajar konsep adalah menyangkut pemahaman dan penggunaan konsep.
3. Belajar pemecahan masalah kegiatan belajar-mengajar ini peserta didik
dihadpakan dengan masalah-maslah yang harus dipecahkannya, baik masalah
yang bersifat praktis dalam kehidupan maupun teoritis dalam suattu bidang
ilmu.
Dalam proses belajar terdapat Jenis-jenis hasil belajar diantaranya yaitu
hasil belajar kognitif, hasil belajar afektif, dan hasil belajar psikomotorik.
Beberapa penjelasan mengenai jenis-jenis hasil belajar yang dipaparkan oleh
beberapa para ahli berbeda diantaranya yaitu:
1. Jenis hasil belajar dibagi menjadi dua jenis yaitu ranah kongnitif dan ranah
afektif. Hal tersebut sesuai dengan definisi yang diutarakan oleh Bloom yang
dikutip oleh Dimyati (2006:26) mengidentifikasi jenis hasil belajar, yakni:
1) Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut:
a) Pengetahuan. Mencapai kemampuan untuk mengingat tentang hal yang
telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu
berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, dan prinsip.
b) Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang
hal yang dipelajari.
c) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode untuk
menghadapi masalah yang nyata dan baru.
d) Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam
bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan
baik.
e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru. Misalnya
kemampuan menyusun program kerja.
9
f) Evaluasi. Mencakup kemampuan dalam membentuk pendapat
tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu.
2) Ranah afektif terdiri dari lima perilaku-perilaku sebagai berikut:
a) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan
kesediaan memperhatikan hal tersebut.
b) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan
berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
c) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai,
menghargai, mengakui dan menentukan sikap.
d) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem
nilai sebagai pedoman dan pegangan hidup.
e) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati
nilai dan membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi.
f) Secara garis besar jenis hasil belajar terbagi menjadi dua yaitu ranah
kongnitif dan ranah afektif. Diperjelas oleh Benyamin Bloom, yang
menyatakan secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni
ranah kognitif, afektif, dan psikomotoris.
Ranah afektif berkaitan dengan nilai dan sikap. Penilaian hasil
belajar secara afektif kurang mendapat perhatian dari guru. Para guru
masih lebih banyak menilai ranah kognitif semata. Contoh hasil belajar
afektif terlihat pada siswa dalam berbagai tingkah laku, seperti
perhatiannya terhadap pelajaran, motivasi belajar, disiplin, menghargai
guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
3) Ranah Psikomotoris
Hasil belajar psikomotoris terlihat dalam bentuk keterampilan atau
skill dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkat keterampilan,
yaitu: a) Gerakan refleks, b) Keterampilan dalam gerakan-gerakan dasar,c)
Kemampuan perseptual, d) Kemampuan di bidang fisik, e) Gerakan-
gerakan skill, f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-
decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.
10
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BELAJAR
Hasil belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh proses pembelajaran.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa, menurut
Ngalim Purwanto (2007: 107) hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi
oleh dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang
datang dari luar diri siswa.
1. Faktor Intern
Faktor yang terdapat dalam diri individu, dikelompokkan
menjadi dua faktor yaitu faktor psikis dan faktor fisik. Faktor psikis
antara lain: kognitif, afektif, psikomotor, kepribadian.
2. Faktor ekstern
Faktor yang terdapat dalam diri individu, dikelompokkan
menjadi dua faktor yaitu faktor psikis dan faktor fisik. Faktor psikis
antara lain: kognitif, afektif, psikomotor, kepribadian. Faktor yang ada
diluar individu yang disebut sebagai faktor sosial antara lain faktor
keadaan keluarga, guru dan cara mengajar, lingkungan dan
kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial.
D. METODE PEMBELAJARAN
1. Pengertian Metode Pembelajaran.
Metode pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk
strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai sutu pembelajaran.
2. Jenis-jenis Metode Pembelajaran
Jenis-jenis model pembelajaran yang dijelaskan oleh para ahli
beragam. Salah satu referensi yang paling sering digunakan adalah model
pembelajaran Richard Arends (2012) yang terdiri dari delapan jenis. Di
antaranya presentasi dan penjelasan, langsung, media visual dan teks, inkuiri,
teaching thinking, berbasis kasus, kooperatif, dan berbasis masalah. Selain
jenisnya yang beragam, pengaplikasiannya juga beragam dan bergantung
pada tujuan pembelajaran yang dirumuskan oleh guru. Maka dari itu, jenis-
jenisnya dapat disesuaikan dengan konteks kebutuhan yang bersangkutan.
11
3. Kriteria pemilihan Metode Pembelajaran
Dalam pembelajarkan suatu materi (tujuan/kompetensi) tertentu,
tidak ada satu model pembelajaran yang lebih baik dari model pembelajaran
lainnya. Artinya, setiap model pembelajaran harus disesuaikan dengan
konsep yang lebih cocok dan dapat dipadukan dengan model pembelajaran
yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dalam
memilih suatu model pembelajaran harus mempertimbangkan antara lain:
materi pelajaran, lingkungan belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia.
Dengan cara ini, tujuan (kompetensi) pembelajaran yang telah ditetapkan
dapat dicapai.
Sejalan dengan pendapat Arends (1997: 7) yaitu model
pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan,
termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan
pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Harapannya
bahwa setiap model pembelajaran dapat mengarahkan kita mendesain
pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Sehingga dalam pemilihan model pembelajaran sangat
dipengaruhi oleh: 1) sifat dari materi yang akan diajarkan, 2) tujuan yang
akan dicapai dalam pembelajaran, 3) tingkat kemanpuan peserta didik, 4) jam
pelajaran (waktu pelajaran), 5) lingkungan belajar, dan 6) fasilitas penunjang
yang tersedia.
E. METODE DISKUSI
1. Pengertian Metode diskusi
Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan
peserta didik pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk
memecahkan permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami pengeta-
huan peserta didik, serta untuk membuatu suatu keputusan. Oleh karena itu,
diskusi bukanlah debat yang mengadu arguementasi. Diskusi lebih bersifat
bertukar pengalaman untuk menentukan keputusantertentu secara bersama-
12
sama. Selama ini banyak guru yang merasa keberatan untuk menggunakan
metode diskusi dalam proses pembelajaran. Keberatan itu biasanya timbul
dari asumsi; pertama, diskusi merupakan metode yang sulitu diprediksi
hasilnya oleh karena interaksi antar peserta didik muncul secara spontan,
sehingga hasil dan arah diskusi sulit ditentuan, kedua, diskusi biasanya
memerlukan waktu yang cukup panjang, pada hal waktu pembelajaran di
dalam kelas sangat terbatas, keterbatasan itu tidak mungkin dapat
menghasilkan sesuatu secara tuntas. Sebenarnya hal ini tidak perlu dirisaukan
oleh guru sebab dengan perencanaan dan persiapan yang matang kejadian
semacam itu bisa dihindari.
2. Langkah-langkah Metode diskusi
Menurut Hamdayama (2015), agar dalam pelaksanaan metode diskusi
berjalan dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah melaksanakan
metode diskusi dengan tepat, yaitu sebagai berikut:
Langkah Persiapan
Merumuskan tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan yang bersifat umum
maupun tujuan khusus.
Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai.
Menetapkan masalah yang akan dibahas.
Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis
pelaksanaan diskusi, misalnya ruang kelas dengan segala fasilitasnya,
petugas-petugas diskusi seperti moderator, notulis dan tim perumus
manakala diperlukan.
3. Kelebihan dan Kelemahan Metode
Menggunakan metode pembelajaran yang beragam membuat siswa
tidak mudah bosan ketika melakukan kegiatan belajar mengajar. Hal ini perlu
dilakukan guru untuk lebih kreatif dan inovatif menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan.
13
Setiap metode pembelajaran tentu mempunyai kelebihan dan nilai
tersendiri bagi siswa. Ada beberapa kelebihan metode diskusi, di antaranya
sebagai berikut
Merangsang Siswa Kreatif Memberikan Gagasan atau Ide
Berani mengungkapkan pendapat
Dapat bertukar pikiran
Bekerjasama dengan baik
Belajar menjadi pemimpin
4. Kekurangan metode diskusi
Hanya beberapa siswa yang aktif
Pembahasannya yang cenderung meluas
Membutuhkan waktu yang cukup panjang
Menimbulkan emosional yang tidak terkontrol
F. PELAJARAN AGAMA KATOLIK
1. Pengertian Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti adalah usaha yang dilakukan
secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk memperteguh iman dan ketaqwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Agama Katolik.
2. Tujuan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Tujuan Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti bertujuan agar peserta didik
memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap membangun hidup yang
semakin beriman. Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas-aktivitas:
mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi.
Ketrampilan diperoleh melalui aktivitas-aktivitas: mengamati, menanya,
mencoba, menalar, menyaji dan mencipta. Sikap dibentuk melalui
kemampuan: menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, dan
mengamalkan.
14
3. Ruang Lingkup Pendidikann Agama Katolik dan Budi Pekerti
a. Pribadi peserta didik; Ruang lingkup ini membahas tentang diri sebagai
laki-laki atau perempuan yang memiliki kemampuan dan keterbatasan
kelebihan dan kekurangan, yang dipanggil untuk membangun relasi
dengan sesama serta lingkungannya sesuai dengan Tradisi Katolik.
b. Yesus Kristus; Ruang lingkup ini membahas tentang pribadi Yesus
Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah, seperti yang terungkap dalam
Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, agar peserta didik
membangun relasi dengan Yesus Kristus dan meneladani-Nya.
c. Gereja; Ruang lingkup ini membahas tentang makna Gereja, agar peserta
didik mampu melibatkan diri dalam hidup menggereja.
d. Masyarakat; Ruang lingkup ini membahas tentang perwujudan iman
dalam hidup bersama di tengah masyarakat sesuai dengan tradisi
Katolik.
15