BAB II
TINJAUAN TEORITIS TENTANG KEMAMPUAN BACA TULIS
AL-QURAN DAN KECERDASAN SPIRITUAL
A. Kemampuan Baca Tulis Al-Quran
1. Pengertian Kemampuan Baca Tulis Al-Quran
a. Kemampuan Membaca
Kemampuan yaitu berkenaan dengan apa yang dapat dipelajari
oleh seseorang untuk melakukan sesuatu,1 sedangkan membaca menurut
Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah menyimak makna sesuatu yang
ditulis, melafalkan bunyi tulisan.2 Membaca adalah suatu proses yang
dilakukan serta digunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang
hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa
tulis.3 Jadi, kemampuan membaca adalah dapat menyimak makna sesuatu
yang ditulis, melafalkan bunyi tulisan serta memperoleh pesan yang
hendak disampaikan oleh penulis dalam suatu tulisan.
b. Kemampuan Menulis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menulis adalah membuat
huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan
sebagainya).4
Menulis yakni meletakkan simbol grafis yang memiliki bahasa
yang dimengerti orang lain. Menulis merupakan kegiatan seseorang
untuk menghasilkan sebuah tulisan,5 sedangkan menurut M. Atar Semi
dalam bukunya mengatakan bahwa menulis adalah suatu proses kreatif
memindahkan gagasan-gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. 6
1
Oemar Hamalik, Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan, (Bandung: Mandar Maju,
1989), hal. 4.
2
Yandiyanto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Bandung: M2S Bandung, 1996), hal. 32.
3
Hendri Guntur Tarigan, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
Angkasa, 1985), hal. 7.
4
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Arti Kata Tulis, [Link] diakses
pada 24 September 2016.
5
Sumarno, [Link]., Pembelajaran Menulis, (Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional,
2009), hal. 5.
6
M. Atar Sami, Dasar-Dasar Keterampilan Menulis, (Bandung: Angkasa, 2007), hal. 14.
8
9
Jadi, kemampuan menulis adalah kesanggupan atau kecakapan dalam
membuat huruf atau simbol dengan memindahkan gagasan-gagasan ke
dalam lambang-lambang tulisan.
c. Al-Quran
Kata al-Quran menurut bahasa ialah bacaan atau yang dibaca.
Al Quran merupakan mashdar dari qara’a yang diartikan dengan arti
isim maf’ul, yaitu maqru berarti yang dibaca.7
Kata al-Quran berasal dari kata qara’a yang berarti
mengumpulkan, menggabungkan, dan membaca, yakni menggabungkan
huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain.8
Secara istilah al-Quran ialah kalam Allah yang tiada tandingannya
(mukjizat), diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., penutup para nabi
dan rasul dengan perantara Malaikat Jibril ‘alaihissalaam, dimulai
dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, dan ditulis
dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita dengan cara
mutawattir serta membacanya adalah ibadah.9
Al-Quran adalah adalah firman Allah swt. yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw. yang mempunyai keutamaan-keutamaan sebagai
berikut:10
1) Diriwayatkan secara mutawattir
2) Membacanya adalah ibadah
3) Dijadikan objek tantangan bagi orang-orang yang pandai
berbahasa arab untuk menandingi walaupun seperti surat
terpendek dari al-Quran.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kemampuan baca tulis al-Quran
adalah kesanggupan atau kecakapan dalam melafalkan bunyi tulisan al-
7
T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1980), hal. 15.
8
Ibrahim Eldeeb, Be A Living Quran, Terjemahan Faruq Zaini, (Jakarta: Lentera Hati,
2009), hal. 43.
9
Muhammad Ali Ash-Shabuuniy, Studi Ilmu Al-Quran, (Bandung: Pustaka Setia, 1998),
hal. 15.
10
Ibrahim Eldeeb, Be A Living Quran, Terjemahan Faruq Zaini, hal. 43.
10
Quran dan membuat tulisan huruf-huruf al-Quran sesuai dengan kaidah
yang telah ditentukan.
2. Dasar Pembelajaran Baca Tulis Al-Quran
Dalam pembelajaran al-Quran, uraian mengenai dasar
pembelajaran baca tulis al-Quran dapat ditemukan setidaknya dua macam,
di antaranya:
a. Dasar Agama
Betapa pentingnya belajar membaca dan menulis, khususnya
belajar membaca dan menulis al-Quran. Di dalam al-Quran sendiri Allah
telah menegaskan arti penting membaca dan menulis, sebagaimana
tertuang di dalam al-Quran surat al-Alaq ayat 1-5,
1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. 2)
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3) Bacalah, dan
Tuhanmu-lah yang Maha Mulia. 4) Yang mengajar (manusia) dengan
pena. 5) Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS.
Al-Alaq: 1-5).11
Perintah mengenai membaca terdapat pada ayat pertama dalam surat ini,
yakni kata iqra’ yang berarti bacalah.
Pada ayat tersebut Rasulullah saw. diperintahkan untuk membaca
guna lebih memantapkan hati beliau. Ayat tersebut bagaikan
menyatakan: bacalah wahyu-wahyu ilahi yang sebentar lagi akan banyak
engkau terima dan baca juga alam dan masyarakatmu. Bacalah agar
engkau membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan. Bacalah semua
itu, tetapi dengan syarat hal tersebut engkau lakukan dengan atau demi
nama Tuhan yang selalu memelihara dan membimbingmu dan yang
mencipta semua makhluk kapan dan di manapun.12
11
Ahmad Hatta, Tafsir Al-Quran Perkata Dilengkapi Dengan Asbabun Nuzul dan
Terjemah, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2009), hal. 597.
12
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, (Jakarta:
Lentera Hati, 2011), Cet. Ke-4, hal. 454.
11
Selanjutnya, pada surat ini juga dijelaskan mengenai tulisan,
sebagaimana terdapat pada ayat keempat dan kelima yang menjelaskan
mengenai dua cara yang ditempuh Allah swt. dalam mengajar manusia,
yakni pertama melalui pena (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia,
dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara
yang kedua ini dikenal dengan istilah ‘ilm ladunniy.13
b. Dasar Yuridis Formal
Pembelajaran al-Quran merupakan bagian dari pendidikan Islam,
yang merupakan salah satu bagian dari pendidikan nasional yang
berdasarkan pada: 14
1) Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.
2) UUD 1945 bab XI pasal 29 ayat 1 dan 2, merupakan dasar
konstitusional yang berbunyi:
1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agama masing-masing dan beribadah menurut agama
dan kepercayaannya itu.
3) Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) bab VI (jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan) bagian kesembilan (pendidikan keagamaan)
pasal 30 yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
a) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan atau
kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
b) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik
menjadi anggota masyarakat yang memahami nilai-nilai agama
dan atau menjadi ahli ilmu agama.
c) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur
pendidikan formal, non formal, dan informal.
13
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Quran, hal. 464.
14
Tim Penyusun, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Sinar Grafika,
2011), hal. 20-21.
12
d) Pendidikan keagamaan berbentuk pendidikan diniyah, pesantren,
pasraman/pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis.
e) Ketentuan mengenai pendidikan keagamaan sebagaimana
dimaksudkan ayat 1-4 diatur lebih lanjut dengan peraturan
pemerintah.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Belajar Baca Tulis
Al-Quran
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan belajar baca tulis
al-Quran dapat digolongkan menjadi dua, yakni faktor internal dan faktor
ekternal.
a. Faktor Internal
Faktor internal ini meliputi dua faktor, yaitu: faktor fisiologis
dan faktor psikologis.
1) Faktor Fisiologis
Kondisi fisiologis pada umumnya sangat berpengaruh
terhadap kemampuan belajar seseorang. Begitu juga dengan belajar
baca tulis al-Quran. Seseorang yang dalam keadaan segar jasmaninya
akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.
Selain itu hal yang tidak kalah pentingnya adalah kondisi panca indra
(mata, hidung, pengecap, telinga, dan tubuh), terutama mata sebagai
melihat, dan telinga sebagai pendengar.15
2) Faktor Psikologis
Di antara faktor psikologis yang mempengaruhi kemampuan
baca tulis al-Quran adalah sebagai berikut:
a) Intelegensi
Intelegensi adalah kemampuan yang dibawa sejak lahir,
yang memungkinkan seseorang berbuat sesuatu dengan cara
tertentu. Selain itu, William Stern, seperti yang dikutip oleh
Ngalim Purwanto mengemukakan batasan sebagai berikut:
15
Saiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), hal. 189.
13
intelegensi ialah kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada
kebutuhan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir yang
sesuai dengan tujuannya,16 sedangkan menurut J.P. Chaplin,
seperti yang dikutip oleh Slameto, intelegensi ialah kecakapan
untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru
dengan cepat dan efektif, mengetahui/menggunakan konsep-
konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan
mempelajarinya dengan cepat.17
Kemampuan/intelegensi seseorang ini dapat terlihat adanya
beberapa hal, yaitu: 18
(1) Cepat menangkap isi pelajaran.
(2) Tahan lama memusatkan perhatian pada pelajaran dan
kegiatan.
(3) Dorongan ingin tahu kuat, banyak inisiatif.
(4) Cepat memahami prinsip dan pengertian.
(5) Sanggup bekerja dengan pengertian abstrak.
(6) Memiliki minat yang luas.
b) Bakat
Di samping Intelegensi (kecerdasan), bakat merupakan
faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar
seseorang, khususnya dalam baca tulis al-Quran. 19 Bakat atau
aptitude menurut Hilgard: the capacity to learn. Dengan kata
lain bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu
baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah
belajar atau berlatih.20
c) Minat
16
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011),
hal. 52.
17
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2010), hal. 56.
18
Zakiah Daradjat, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
1995), hal. 119.
19
Saiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, hal. 196.
20
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hal. 57.
14
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan itu
diperhatikan terus-menerus disertai dengan rasa senang.21
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang timbul dari luar diri siswa.
Adapun faktor eksternal yang mempengaruhi kemampuan membaca
dan menulis al-Quran adalah sebagai berikut:
1) Faktor Instrumental
a) Guru, adalah seorang tenaga profesional yang dapat
menjadikan siswanya mampu merencanakan, menganalisa dan
mengumpulkan masalah yang dihadapi.22
b) Kurikulum, merupakan sejumlah kegiatan yang diberikan
kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan
bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai dan
mengembangkan bahan pelajaran.23
c) Sarana dan fasilitas, sarana mempunyai arti penting dalam
suatu pendidikan, khususnya baca tulis al-Quran. Tersedianya
gedung sekolah misalnya sebagai tempat yang strategis bagi
berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar di sekolah.24
d) Lingkungan masyarakat, yang dimaksud disini adalah
lingkungan di luar sekolah, lingkungan masyarakat dapat
berarti lingkungan keluarga dan lingkungan sekelilingnya.
2) Faktor Keluarga
Pengaruh dari keluarga dapat berupa: cara orang tua
mendidik, pengertian orang tua, relasi antar anggota keluarga,
suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.25
3) Faktor Masyarakat Sekitar
21
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hal. 57.
22
M. Basyiruddin Usman, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta: Ciputat
Press, 2002), hal. 8.
23
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hal. 65.
24
Saiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, hal. 183.
25
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hal. 60.
15
Masyarakat merupakan salah satu faktor eksternal yang
berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh ini terjadi karena
keberadaan siswa dalam suatu lingkungan masyarakat. Dalam hal
ini bisa berupa: kegiatan siswa dalam masyarakat, teman
bergaul, bentuk kehidupan masyarakat, dan lingkungan sosial
budaya.26
4. Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Quran
Dalam pembelajaran baca tulis al-Quran diperlukan metode-
metode untuk memudahkan penyampaian materi agar sesuai dengan
tujuan yang ingin dicapai. Adapun metode-metode pembelajaran baca
tulis al-Quran di antaranya:
a. Metode Baghdadiyah
Metode ini disebut juga dengan metode “eja”, berasal dari
Baghdad masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Secara garis
besar, Kaidah Baghdadiyah memerlukan tujuh belas langkah. Tiga
puluh huruf hijaiyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap
langkah.27
b. Metode Iqro
Metode Iqro disusun oleh Bapak As'ad Humam dari Kotagede
Yogyakarta dan dikembangkan oleh AMM (Angkatan Muda Masjid
dan Musholla) Yogyakarta dengan membuka TK al-Quran dan TP
al-Quran. Metode Iqro terdiri dari 6 jilid dengan variasi warna cover
yang memikat perhatian anak TK al-Quran.28
c. Metode Qiroati
Metode qiroati ditemukan KH. Dachlan Salim Zarkasyi (w.
2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan
sejak awal 1970-an ini, memungkinkan anak-anak mempelajari al-
26
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, hal. 70.
27
Komari, “Metode Pengajaran Baca Tulis Al-Quran”, Pelatihan Nasional Guru dan
Pengelola TK-TPA, (Makassar: LP3Q DPP Wahdah Islamiyah, 24-26 Oktober 2008), hal. 1.
28
Komari, “Metode Pengajaran Baca Tulis Al-Quran”, Pelatihan Nasional Guru dan
Pengelola TK-TPA, hal. 2.
16
Quran secara cepat dan mudah. KH. Dachlan menerbitkan 6 jilid
buku pelajaran membaca al-Quran untuk TK al-Quran untuk anak
usia 4-6 tahun pada l Juli 1986. Dalam perkembangannya, sasaran
metode Qiroati kian diperluas. Kini ada qiroati untuk anak usia 4-6
tahun, untuk 6-12 tahun, dan untuk mahasiswa.29
d. Metode Tilawati
Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh tim terdiri dari
Drs. H. Hasan Sadzili, Drs H. Ali Muaffa dkk., kemudian
dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul Falah Surabaya.30
5. Kiat-Kiat Dalam Pembelajaran Al-Quran
Dalam pembelajaran al-Quran, diperlukan kiat-kiat khusus agar
sukses dalam pembelajaran. Berikut ini adalah kiat-kiat sukses dalam
tahsin tilawah menurut Ahmad Annuri, di antaranya:31
a. Niat yang ikhlas
Niat adalah salah satu syarat diterimanya amal, niat akan
menjadi motivator/spirit pada setiap langkah kita. Niat yang benar
ialah semata-mata karena Allah swt..
b. Yakin
Siapapun, suku manapun dan di manapun seseorang berada,
yakinlah dengan adanya upaya sungguh-sungguh belajar al-Quran,
maka Allah akan memudahkan kita untuk berinteraksi dengan al-
Quran secara benar.
c. Talaqqi dan musyaafahah
29
Komari, “Metode Pengajaran Baca Tulis Al-Quran”, Pelatihan Nasional Guru dan
Pengelola TK-TPA, hal. 2.
30
Komari, “Metode Pengajaran Baca Tulis Al-Quran”, Pelatihan Nasional Guru dan
Pengelola TK-TPA, hal. 4.
31
Ahmad Annuri, Panduan Tahsin Tilawah Al-Quran dan Pembahasan Ilmu Tajwid,
(Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2013), hal. 7-9.
17
Mempelajari al-Quran melalui seorang guru, langsung berhadap-
hadapan. Sebab tidak mungkin benar bacaan seseorang apabila tidak
bertemu dan berguru secara tatap muka dengan orang yang ahli di
bidangnya.
d. Disiplin dalam membaca setiap hari
Kontinyu dalam membaca al-Quran setiap hari, lidah dan bibir
akan semakin lentur, sehingga memudahkan kita dalam
menyesuaikan bacaan yang dicontohkan pembimbing.
e. Membiasakan dengan satu jenis tulisan dari mushaf
Dengan memakai satu mushaf akan memudahkan kita akrab
dengan bentuk tulisan, dan akan menjadikan tempo/ritme bacaan
semakin baik.
f. Merasa terikat dengan menambah jumlah atau target bacaan setiap
hari atau periodik
Menjadikan tadarrus sebagai kebutuhan, karena bagaimana pun
kalau sudah menjadi kebutuhan, pasti akan diupayakan untuk
terwujud.
g. Banyak mendengar bacaan murattal
Dengan sering mendengar bacaan murattal, baik seara langsung
atau cara lain, kita akan semakin cinta dengan al-Quran, dan
membuat kita termotivasi untuk menirukan bacaan yang didengar.
h. Membuka diri untuk menerima nasihat
Dengan keterbukaan hati dalam menerima nasihat, kritikan, baik
dari teman, keluarga, apalagi orang alim, maka kita akan semakin
tahu kelemahan dan kekurangan kita, sehingga menjadikan kita
bersemangat untuk menyempurnakan bacaan agar lebih baik.
B. Kecerdasan Spiritual
1. Pengertian Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan merupakan kata imbuhan yang berasal dari kata cerdas.
Cerdas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sempurna
18
perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya);
tajam pikiran. Kecerdasan berarti perbuatan mencerdaskan;
kesempurnaan perkembangan akal budi (seperti kepandaian, ketajaman
pikiran).32
Secara umum ada tiga faktor penting yang menengarai kecerdasan
seseorang, yakni penilaian (judgement), pengertian (comprehension), dan
penalaran (reasioning). Secara umum pula apa yang disebut kecerdasan
dalam perspektif ini adalah kemampuan mental seseorang merespon dan
menyelesaikan problem dari hal-hal yang bersifat kuantitatif dan
fenomenal seperti matematika, fisika, data-data sejarah dan sebagainya.33
Spiritual menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).34
Spiritual merupakan bentukan dari kata spirit. Spirit merupakan
kata yang memiliki banyak arti, misalanya spirit diartikan sebagai kata
benda (noun) seperti arwah, hantu, peri, orang, kelincahan, makna,
moral, cara berfikir, semangat, keberanian, sukma dan tabiat. Keduabelas
kata tersebut masih terlalu luas, apabila dipersempit lagi maka kata spirit
menjadi tiga macam arti saja, yaitu moral, semangat dan sukma. Kata
spiritual sendiri bisa dimaknai sebagai hal-hal yang bersifat spirit atau
berkenaan dengan semangat.35
Menurut Zohar dan Marshall, kecerdasan spiritual adalah
kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan
nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup dalam
konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai
bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan
yang lain.36
32
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Arti Kata Cerdas, [Link]
diakses pada 30 Oktober 2016.
33
Suharsono, Melejitkan IQ, ES, dan IS, (Jakarta: Inisiasi Press, 2004), hal. 4.
34
Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, Arti Kata Spiritual, [Link]
diakses pada 30 Oktober 2016.
35
Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, (Jakarta: Arga Wijaya Persada, 2001), hal. 51.
36
Zohar dan Marshall, SQ Kecerdasan Spiritual, Terjemahan Rahmani Astuti, et. al., (Bandung:
Mizan Pustaka, 2000), hal. 3.
19
Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa.
Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan
memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan
penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia
mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan
yang positif.37
Menurut Khalil Khavari, kecerdasan spiritual merupakan
kecakapan pada dimensi non material-jiwa manusia. Kecerdasan ini
merupakan intan yang belum terasah, yang dimiliki semua orang. Semua
harus mengenalinya seperti apa adanya, menggosoknya, sehingga
berkilap dengan tekad yang besar dan menggunakannya untuk
memperoleh kebahagiaan yang abadi. Seperti dua bentuk kecerdasan
lainnya (kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi), kecerdasan
spiritual dapat ditingkatkan dan diturunkan.38
Kecerdasan spiritual dalam Islam adalah kecerdasan yang
berhubungan dengan kemampuan memenuhi ruh manusia, berupa
ibadah, agar ia dapat kembali pada penciptanya dalam keadaan suci.39
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, dapat
disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang dimiliki
manusia dalam memahami dan memecahkan persoalan makna dan nilai
kehidupan yang harus dilatih dan diturunkan agar memperoleh
kebahagiaan abadi.
2. Sudut Pandang Menguji Tingkat Kecerdasan Spiritual Seseorang
Menurut Khalil Khavari terdapat tiga bagian yang dapat dilihat
untuk menguji kecerdasan spiritual seseorang:40
37
Ubaydillah AN, Selayang Pandang IQ, EQ, dan SQ, [Link] diakses
pada 24 September 2016.
38
Khalil A. Khavari, The Art Of Happiness: Mencipta Kebahagiaan Dalam Setiap Keadaan,
Terjemahan Agung Prihantoro, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2006), hal. 28.
39
Abdul Mujib dan Yusuf Mudzakir, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, hal. 319.
40
Khavari, The Art Of Happines (Mencapai Kebahagiaan dalam Setiap Keadaan). (Jakarta:
Mizan Pustaka, 2000), hal. 43.
20
a. Spiritual keagamaan (relasi vertikal, hubungan dengan yang Maha
Kuasa).
Sudut pandang ini akan melihat sejauh manakah tingkat relasi
spiritual seseorang dengan Sang Pencipta. Hal ini dapat diukur dari
segi komunikasi dan intensitas spiritual individu dengan Tuhannya.
Manifestasinya dapat terlihat daripada frekuensi doa, makhluq
spiritual, kecintaan kepada Tuhan yang bersemayam dalam hati, dan
rasa syukur kehadirat-Nya. Khavari lebih menekankan segi ini untuk
melakukan pengukuran tingkat kecerdasan spiritual, karena apabila
keharmonisan hubungan dan relasi spiritual keagamaan seseorang
semakin tinggi maka semakin tinggi pula tingkat kualitas kecerdasan
spiritualnya.
b. Relasi sosial-keagamaan.
Sudut pandang ini melihat konsekuensi psikologis spiritual
keagamaan terhadap sikap sosial yang menekankan segi terhadap
kesejahteraan orang lain dan makhluk hidup lain, bersikap dermawan.
Perilaku merupakan manifestasi dari keadaan jiwa, maka kecerdasan
spiritual yang ada dalam diri individu akan termanifestasi dalam
perilakunya.
c. Etika sosial.
Sudut pandang ini dapat menggambarkan tingkat etika sosial
sebagai manifestasi dari kualitas kecerdasan spiritual. Semakin tinggi
tingkat kecerdasan spiritualnya semakin tinggi pula etika sosialnya. Hal
ini tercermin dari ketaatan seseorang pada etika dan moral, jujur, dapat
dipercaya, sopan, toleran, dan anti terhadap kekerasan. Dengan
kecerdasan spiritual, maka individu dapat menghayati arti dari
pentingnya sopan santun, toleran, dan beradab dalam hidup.
3. Indikator-Indikator Kecerdasan Spiritual dan Pengembangan
Kecerdasan Spiritual
21
Menurut Abdul Wahid, beberapa ciri-ciri orang yang memiliki
kecerdasan spiritual:41
a. Memiliki prinsip dan pegangan hidup yang jelas dan kuat, yang
berpijak pada kebenaran universal, baik berupa kasih sayang,
keadilan, kejujuran, toleransi, integritas dan lain-lain. Semua itu
menjadi bagian terpenting dalam kehidupan dan tidak dapat
dipisahkan. Dengan prinsip hidup yang kuat, ia menjadi orang yang
betul-betul merdeka dan tidak diperbudak oleh siapapun.
b. Memiliki kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan
penderitaan dan memiliki kemampuan untuk menghadapi dan
melampaui rasa sakit. Berbagai penderitaan, halangan, rintangan, dan
tantangan yang hadir dalam kehidupan dihadapi dengan senyuman
dan keteguhan hati, karena itu semua adalah bagian dari proses
menuju kematangan kepribadian secara umum, baik moral dan
spiritual.
c. Mampu memaknai pekerjaan dan aktivitasnya dalam kerangka dan
bingkai yang lebih luas dan bermakna, sebagai apapun profesinya,
sebagai presiden, menteri, dokter, dosen, bahkan nelayan, petani,
buruh, atau tukang reparasi mobil, sepeda motor hingga tukang tambal
ban, tukang sapu dan lain-lain, ia akan memaknai semua aktifitas yang
dijalani dengan makna yang luas dan dalam dengan motivasi yang
luhur dan suci.
d. Memiliki kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi. Apapun yang
dilakukan, dilakukan dengan penuh kesadaran.
Dari alinea di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki
kecerdasan spiritual adalah orang yang dalam hidupnya bersikap jujur,
penuh energi, memiliki motivasi yang tinggi, spontan, tidak penuh
curiga, terbuka menerima hal-hal baru, senang belajar, mudah
memaafkan, tidak mendendam, berani mencoba hal-hal baru serta
tidak mudah putus asa jika mengalami atau menghadapi kegagalan
41
Abdul Wahid Hasan, Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ) Rasulullah
Di Masa Kini, (Yogyakarta: IRCiSod, 2006), hal. 69-71.
22
dalam kehidupan berkeluarga dan berorganisasi.
Empat langkah mengasah kecerdasan spiritual menurut Sukidi
adalah sebagai berikut:42
a. Kenalilah diri anda. Orang yang sudah tidak bisa mengenal dirinya
sendiri, akan mengalami krisis makna hidup maupun krisis
spiritual. Karenanya, mengenali diri sendiri adalah syarat pertama
untuk meningkatkan spiritual quotient.
b. Lakukan intropeksi diri. Dalam istilah keagamaan dikenal sebagai
upaya pertobatan, ajukan pertanyaan pada diri sendiri, “sudahkah
perjalanan hidup dan karier saya berjalan atau berada di rel yang
benar ?”. Barangkali saat kita melakukan intropeksi, kita
menemukan bahwa selama ini telah melakukan kesalahan,
kecurangan, atau kemunafikan terhadap orang lain.
c. Aktifkan hati secara rutin. Dalam konteks beragama adalah
mengingat Tuhan. Karena Dia adalah sumber kebenaran tertinggi
dan kepada Dia-lah kita kembali. Dengan mengingat Tuhan, maka
kita menjadi damai. Hal ini membuktikan kenapa banyak orang
yang mencoba mengingat Tuhan melalui cara berzikir, tafakur,
shalat tahajud, kontemplasi di tempat sunyi, bermeditasi, dan lain
sebagainya.
d. Menemukan keharmonisan dan ketenangan hidup. Kita tidak
menjadi manusia yang rakus akan materi, tetapi dapat merasakan
kepuasan tertinggi berupa kedamaian dalam hati dan jiwa, hingga
kita mencapai keseimbangan dalam hidup dan merasakan
kebahagian spiritual.
42
Sukidi, Mengapa SQ Lebih Penting Daripada IQ dan EQ, (Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama 2002), hal. 99.
23
4. Pengukuran Tingkat Kecerdasan Spiritual
Dalam mengukur tingkat kecerdasan spiritual, penentuan validitas
hasil pengukuran sangatlah relatif, tidak seakurat hasil pengukuran tes IQ.
Sebab, dalam pengukuran kecerdasan spiritual ini, seseorang hanya
diminta untuk mengisi (menjawab) poin-poin pertanyaan yang diajukan.
Hal yang bisa dilakukan untuk mengukur tingkat kecerdasan
spiritual seseorang adalah memberikan batasan-batasan (semacam
ancang-ancang/rambu-rambu) yang lentur. Tentu saja semua ini akan
berimplikasi pada ketidaksamaan penentuan skor untuk menentukan
tinggi rendahnya tingkat SQ seseorang.
Dalam pengukuran SQ, seseorang hanya diminta mengisi
(menjawab) poin-poin yang diajukan: tidak pernah (0), kadang-kadang (1),
sering (2), selalu (4). Setelah itu skor dijumlahkan. “Jika nilai total anda
100 (dari 25 pertanyaan yang diajukan) berarti anda memiliki kecerdasan
spiritual yang luar biasa” kata pencetus pengukuran tes SQ ini, Prof. Dr.
Khalil Kavari.43 Dengan demikian, kejujuran, kesungguhan dan
objektifitas orang yang hendak menjawab pertanyaan yang diajukan
menjadi taruhan utama.
C. Pembelajaran Al-Quran dan Kontribusinya Terhadap Kecerdasan
Spiritual
1. Mengasah Kecerdasan Spiritual Melalui Pendidikan Al-Quran
Banyak cara untuk mengasah kecerdasan spiritual, salah satunya
melalui pendidikan. Pendidikan menjadi kunci pembangunan suatu
bangsa. Pendidikan mempunyai peran besar dalam kemajuan
pembangunan suatu bangsa. Melalui pendidikan, kita dapat menanamkan
sikap yang pas dan memberikan bekal kompetensi yang diperlukan
kepada manusia-manusia yang menjalankan fungsi institusi-institusi yang
menentukan kemajuan bangsa.44
43
Abdul Wahid Hasan, SQ Nabi Aplikasi Strategi dan Model Kecerdasan Spiritual (SQ)
Rasulullah Di Masa kini, hal. 82.
24
Kecerdasan spiritual diperlukan dalam menghadapi abad ke-21 dan era
globalisasi. Untuk menghadapi abad ke-21 dan era globalisasi diperlukan
sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam undang-undang pendidikan
nasional Indonesia, manusia berkualitas adalah manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap dan mandiri, serta tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan.45 Untuk mewujudkan manusia yang berkualitas, maka perlu
adanya generasi Qur’ani. Bukan pekerjaan yang mudah dalam mewujudkan
generasi Qur’ani. Perlu adanya usaha yang teratur dan berkelanjutan, baik
melalui pendidikan formal maupun informal. Generasi Qur’ani tidak lahir
dengan sendirinya, tetap ia dimulai dari pembiasaan dan pendidikan dalam
keluarga, misalnya menanamkan pendidikan agama yang sesuai dengan
tingkat perkembangannya, menanamkan cinta dan kasih sayang mulai dari
lingkungan keluarga dan lingkungannya, dan pengawasan yang intensif
terhadap aktivitas yang dilakukan anak-anak agar tidak terjerumus pada
kemaksiatan dan tindakan amoral.46
Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman
hidupnya sejak kecil dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Semakin
banyak pengalaman yang bersifat agama, dan semakin banyak unsur agama,
maka sikap, tindakan, kelakuan, dan caranya menghadapi hidup akan sesuai
dengan ajaran agama.47
Perkembangan agama pada anak-anak memiliki beberapa fase atau
tingkatan yang harus dilalui, di antaranya adalah:48
a. Tingkatan dongeng (the fairy tale stage)
44
Boediono, dalam buku Kurikulum 2013, (Jakarta: PIH Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan RI, 2013), hal. 45.
45
Said Agil Husin Al-Munawar, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta:
Ciputat Press, 2002), hal. 351.
46
Said Agil Husin Al-Munawar, Al-Quran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, hal. 353.
47
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2005), hal. 55.
48
Noer Rohmah, Pengantar Psikologi Agama, (Yogyakarta: Teras, 2013), hal. 99-100.
25
Pada tingkatan ini, konsep mengenai Tuhan lebih banyak
dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, hingga dalam menanggapi agama
pun, anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh
dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
b. Tingkatan kenyataan (the realistic stage)
Pada masa ini, ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-
konsep berdasarkan kenyataan (realitas). Konsep ini timbul melalui
lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa
lainnya.
c. Tingkat individu (the individual stage)
Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi
sejalan dengan perkembangan usianya.
Dalam membentuk generasi Qur’ani diperlukan beberapa langkah yang
harus ditempuh seseorang agar terwujudnya hal tersebut. Berikut ini beberapa
perkara yang dapat membantu untuk menjadi manusia Qur’ani menurut
Ibrahim Eldeeb:49
a. Mempelajarai kaidah-kaidah bahasa Arab dan hukum-hukum tajwid.
b. Membatasi diri dari pergaulan, kecuali untuk hal-hal yang perlu sekali.
c. Membaca dan mempelajari kitab-kitab tafsir modern, seperti tafsir Fii
Zhilaalil Qur’an, al-Asaas Fii al-Tafsiir, al-Shaabuunii, dan lain-lain.
d. Membersihkan diri dari pengaruh pemikiran-pemikiran asing.
e. Segera menyambut dan melaksanakan panggilan-panggilan al-Quran.
f. Bergaul dengan orang-orang saleh, yang dapat mendorong untuk maju,
dan meningkatkan kualitas diri.
g. Berguru kepada seorang pendidik yang berpengalaman, yang dapat
menunjukkan jalan menuju keridhaan Allah swt..
2. Pembelajaran Al-Quran Sebagai Media Untuk Mengasah
Kecerdasan Spiritual
Mempelajari al-Quran adalah kewajiban setiap muslim, dan
juga wajib bagi setiap muslim mengetahui dan mengamalkan ajaran-
49
Ibrahim Eldeeb, Be A Living Quran terjemah Faruq Zaini, hal. 179.
26
ajaran yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, hendaknya anak
didik mempelajari al-Quran sedini mungkin, mulai dari membaca,
menulis, dan seterusnya. Keutamaan di dalam mempelajari al-Quran di
antaranya ialah mendapatkan keutamaan sebagai makhluk yang terbaik di
muka bumi, sebagaimana tertuang dalam hadits Nabi:
َخ ْيُر ُكْم َمْن َتَعَّلَم اْلُقْر َاَن َوَعَّلَمُه (رواه البخاري
)والترمذي
“Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar al-Quran dan
mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Tirmidzi).50
Di dalam hadits lain juga disebutkan mengenai keutamaan al-Quran,
yakni Allah akan mengangkat derajat hamba-Nya melalui al-Quran.
ِإَّن اللَه َيْر َفُع ِبَهَذا اْلِكَتاِب َأْقَواًما َوَيَضُع ِب ِه آَخ ِريَن ) رواه
( مسلم
“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seseorang melalui al-Quran ini
dan merendahkan sebagian lainnya.” (HR. Muslim).51
Dalam pembelajaran al-Quran, ada beberapa tingkatan dalam
mempelajarinya: 52 pertama belajar membaca sampai lancar, baik, dan benar,
sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Pada tingkatan ini, seseorang
secara tidak langsung menerima pembelajaran dari gurunya, baik itu berupa
materi pembelajaran maupun nasihat-nasihat yang berisikan nilai-nilai
spiritual yang menjadikannya lebih memahami arti sebuah kehidupan.
Kedua, belajar arti dan maksudnya, mengerti dan memahami makna-
makna yang terkandung di dalamnya. Pada tingkatan ini nilai-nilai spiritual
tertanam dalam diri sesorang. Dengan memahami nilai-nilai spiritual
kehidupan seseorang, memudahkan seseorang tersebut untuk lebih dekat
dengan Tuhannya.
50
Hadis sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 4639), Abu Dawud (hadis no.
1240), al-Tirmizi (hadis no. 2832), dan Ibn Majah (hadis no. 207).
51
Hadis sahih, diriwayatkan oleh Muslim (hadis no. 1353). Selain muslim, hadis ini juga
diriwayatkan oleh Ibn Majah (Hadis no. 214), Ahmad (Hadis no.226) dan al-Darimi (Hadis no.
3231).
52
Fatihuddin, Sejarah Al-Quran, Kandungan, dan Keutamaannya, (Yogyakarta: Kiswatun
Publishing, 2015), hal. 170-171.
27
Terakhir belajar menghafalnya sebagaimana yang dikerjakan oleh para
sahabat pada masa Rasulullah saw., demikian juga pada masa sekarang di
beberapa negeri Islam. Dengan menghafal al-Quran, seseorang memahami
bahwa dirinya memiliki amanah terbesar yang harus dijaga dan diupayakan
untuk terus melekat sampai akhir hayatnya.
Al-Quran memiliki pengaruh yang luar biasa bagi siapa saja yang
membacanya. Al-Quran bertujuan untuk memasukan perasaan ke dalam hati,
dan beramal dengannya. Jika tidak, maka sekadar menggerakan lidah untuk
membaca huruf-hurufnya adalah perbuatan yang ringan.53
Allah swt. menciptakan hati sebagai muara yang terhimpun di dalamnya
kejernihan dan kekeruhan, atau kesalehan dan kesesatan. Muara pada
dasarnya menampung berbagai macam kualitas air yang berasal dari berbagai
sumber. Jika manusia tidak bisa menjaga kualitas air, dan melindunginya dari
kotoran, maka muara itu akan kotor dan dijauhi manusia. Sebaliknya, muara
yang terjaga kualitas dan sumber aliran airnya, maka muara itu akan terlihat
jernih dan dikunjungi manusia. Begitu pula hati manusia, harus selalu terjaga
kejernihannya dari karat-karat hitam yang merusak hati dengan cara tilawah
al-Quran di samping memperbanyak ingat mati.54
Seharusnya hati orang yang membaca al-Quran merasakan pengaruhnya
sesuai dengan kandungan ayat-ayatnya seperti sedih, takut, penuh harapan,
keinginan berjihad dan syahid di jalan Allah, cinta akan keadilan, dan
seterusnya. Seperti yang dialami oleh Rasulullah saw. ketika hati beliau
tersentuh oleh ayat “Maka Bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila
Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami
mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu ” (QS. An-
Nisa [4]: 41) sehingga kedua mata beliau meneteskan air mata dan
memerintahkan Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya. Begitu juga dengan
Umar bin Khattab yang jatuh sakit selama satu bulan karena merasa takut
akan ancaman Allah swt. dalam ayat “Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti
terjadi.”(QS. ath-Thur[52]: 7).55
53
Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Quran terjemah Abdul Hayyi al-Kattani,
(Jakarta : Gema Insani Press, 1999), hal. 262.
54
Subhan Nur, Energi Ilahi Tilawah Al-Quran, (Jakarta: Republika Penerbit, 2012), hal.
100-101.
55
Ibrahim Eldeeb, Be A Living Quran terjemah Faruq Zaini, hal. 43.
28
Al-Quran bukan hanya sekadar bacaan layaknya buku pelajaran,
majalah, atau bacaan lainnya, tetapi al-Quran juga memberikan dampak yang
positif bagi nilai-nilai spiritualitas seseorang. Dengan membaca, memahami,
dan mengamalkan al-Quran seseorang akan merasakan kebahagiaan yang
hakiki, baik di dunia maupun di akhirat kelak.