Analisa Hidrograf Sintetik Sungai Bilokka
Analisa Hidrograf Sintetik Sungai Bilokka
SIDENRENG RAPPANG”
OLEH :
FAKULTAS TEKNIK
MAKASSAR
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan
Tugas Akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan akademis
dalam menyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada Program Studi Teknik Sipil
Selama pembuatan Tugas Akhir ini, penulis banyak dapatkan bantuan dari
kekurangannya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima
kasih kepada :
2. Bapak Dr. Ir. Andi Alifuddin, ST., M.T., IPM., sebagai Ketua Program
Makassar.
4. Ibu Prof. Dr. Ir. Ratna Musa, M.T., selaku dosen pembimbing I.
vi
6. Bapak Dr. Ir. H. Andi Amin Latif, S.T.,M.T., selaku dosen pembimbing III.
Makassar.
8. Kedua orang tua serta keluarga besar penulis yang senantiasa mendoakan agar
penulis selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam penyusunan tugas akhir.
Penulis mengharapkan koreksi dan saran atas kekurangan dari tulisan ini guna
untuk menyempurnakan. Akhir kata semoga semua bantuan dan amal baik tersebut
Penulis,
vii
DAFTAR ISI
TUGAS AKHIR........................................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………….....ii
LEMBAR KESIAPAN…………………………………………………...……… iii
TUGAS AKHIR…………………………………………………………………. iv
ABSTRAK ............................................................................................................. v
KATA PENGANTAR.............................................................................................vi
DAFTAR ISI..........................................................................................................vii
DAFTAR TABEL....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................xii
DAFTAR NOTASI...............................................................................................xiii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1. Latar Belakang..........................................................................................1
vii
2.3 Analisis Frekuensi...................................................................................15
2.4.1. Debit banjir rencana yang diperoleh dari debit maksimum harian
Error! Bookmark not defined.
viii
4.2. Analisis Data Debit.................................................................................75
4.3. Pembahasan.............................................................................................79
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.3 Hubungan reduksi data rata-rata (Yn) dengan jumlah data
(n) ................20
Tabel 2.4 Hubungan antara deviasi standar dan reduksi data dengan jumlah
data ..21
Tabel 4. 6 Analisis Curah Hujan Rencana dengan Metode log pearson Type
III .....61
x
Tabel 4. 7 Rekapitulasi Analisis Curah Hujan Rencana untuk Periode Ulang Tahun
(Xt) dengan Distribusi Log Pearson Type
III ..........................................................62
Tabel 4. 8 Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Efektif ....................................65
Tabel 4.9 Uji Smirnov Kolmogorov untuk Distribusi Log Pearson III .................66
Tabel 4.10 Perhitungan Uji Chi-Kuadrat Untuk Distribusi Log Pearson Tipe III..68
Tabel 4. 18 Debit Banjir Rancangan Kala Ulang 100 Tahun (m3/dtk) .................79
Tabel 4. 21 Analisis Curah Hujan Rencana dengan Metode log pearson Type
III ................................................................................................................................
84
Tabel 4. 22 Rekapitulasi Analisis Debit Banjir Rancangan untuk Periode Ulang
Tahun (Xt) dengan Distribusi Log Pearson Type III .............................................85
Tabel 4.23 Rekap Debit Banjir Maksimum dari Data Debit dan Data Curah
Hujan ..........................................................................................................................
......87
xi
DAFTAR GAMBAR
xii
DAFTAR NOTASI
X = Nilai rata-rata
Yt = Reduced Variate
xiii
Lt = Intensitas hujan dalam t jam (mm/jam)
C = Koefisien pengaliran
n = Koefisien Manning
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
Bilokka memiliki luas sekitar 500 km², yang sebagian besar lahannya
Kecamatan Tellu Limpoe, dengan catchment area seluas sekitar 100 km²
(Badan Pusat Statistik Kabupaten Sidrap, 2022). Peran ekonomi dan sosial
yang vital dari Sungai Bilokka membuatnya menjadi salah satu sumber daya
1
2021). Curah hujan yang tinggi di daerah ini, terutama selama musim
penghujan, dapat meningkatkan debit sungai secara drastis, yang sering kali
beberapa rumah.
kapasitas tampungan air yang penting untuk pengelolaan sumber daya air
Nakayasu, SCS, Snyder, GAMA-1, serta HSS ITB (ITB 1 dan ITB 2).
2
banjir rencana, yang sangat penting untuk perencanaan pengendalian banjir
1. Bagaimana menentukan debit banjir sungai dari data curah hujan dan data
2. Berapa besar tingkat akurasi debit banjir rancangan terhadap DAS Bilokka
(ITB1 – ITB2 ) ?
1. Untuk mengetahui besarnya debit banjir berdasarkan data DAS dan data
3
DAS Bilokka dengan metode HSS Nakayasu dan HSS ITB ( ITB1 –
ITB2).
2. Penggunaan data Curah hujan dan data DAS Bilokka 10 tahun terakhir.
3. Melakukan perbandingan antara data Curah Hujan dan data DAS Bilokka.
lanjutan.
4
1.6 Sistematika Penulisan
Bab 1 Pendahuluan
Menjadi landasan teori berdasarkan apa yang dibaca melalui jurnal, melalui
buku dan melalui website yang terkait dengan apa yang diteliti.
Daftar Pustaka
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
besaran debit dan waktu. Hidrograf sendiri merupakan respon dari hujan yang
terjadi pada suatu wilayah. Karena sebab itulah untuk masing-masing wilayah
atau DAS memiliki bentuk hidrograf yang berbeda tergantung kondisi DAS dan
Hidrograf memiliki tiga bagian yang penting, yaitu : bagian naik, bagian
5
menjadi limpasan langsung di outlet pengeluaran catchment area. Untuk setiap
juga untuk hidrograf satuan sintetik umumnya diturunkan dari karakteristik suatu
DAS yang khas dan unik, seperti halnya HSS Nakayasu dan HSS ITB yang akan
Daerah Aliran Sungai Menurut Manan (1979), daerah aliran sungai (DAS)
dapat diartikan sebagai kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis yang
ekosistem yang terdiri dari unsurutama vegetasi, tanah, air dan manusia dengan
bahwa DAS merupakan kumpulan dari beberapa Sub-DAS yang merupakan suatu
wilayah kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah, air hujan meresap atau
mengalir melalui sungai. Manusia dengan aktivitasnya dan sumberdaya tanah, air, flora
serta fauna merupakan komponen ekosistem di Sub-DAS yang saling berinteraksi dan
berinterdependensi.
DAS pada dasarnya merupakan suatu wilayah daratan yang merupakan satu
6
menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut
Apabila fungsi dari suatu DAS terganggu, maka sistem hidrologi akan
berkurang, atau memiliki aliran permukaan (run off) yang tinggi. Vegetasi penutup
dan tipe penggunaan lahan akan kuat mempengaruhi aliran sungai, sehingga
sangat dipengaruhi oleh jumlah curah hujan yang diterima, geologi dan bentuk
terhadap longsor).
Daerah aliran sungai (DAS) bagian hulu memiliki kondisi tutupan vegetas,
kualitas air, kemampuan menyimpan air serta curah hujan. Ciri daerah aliran
sungai (DAS) hulu adalah daerah dengan lanskap pegunungan dengan topografi
beragam, mempunyai curah hujan tinggi dan menjadi daerah konservasi untuk
7
(DAS) bagian hulu sangat penting untuk melindungi tata kelola air, karena
tersebut meliputi fluktuasi debit dan transportasi sedimen pada aliran sungai.
pemanfaatan air sungai bagi kepentingan ekonomi dan sosial. Ciri area ini
mempunyai kuantitas dan kualitas air yang baik, kemampuan menyalurkan air,
bercabang Dengan cara yang sama, namun setiap pola akan berbeda sesuai medan
Salah satu faktor penentu kecepatan hidrologi adalah bentuk dan pola
DAS, sistem jaringan sungai DAS dapat dibedakan berdasarkan bentuk atau pola
dimana bentuk ini mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang jatuh &
8
Meskipun semua jaringan alur sungai bercabang-cabang dengan cara yang
sama akan tetapi masing-masing menunjukkan pola yang berbeda satu dengan
berbentuk seperti bulu burung. Bentuk ini biasanya akan menyebabkan besar
aliran banjir relatif lebih kecil karena perjalanan banjir dari anak sungai itu
b. DAS berbentuk Radial, bentuk ini karena arah sungai seolah-olah memusat
akibat dari bentuk tersebut maka waktu yang diperlukan aliran yang datang
dari segala penjuru anak sungai memerlukan waktu yang hampir bersamaan.
Apabila terjadi hujan yang sifatnya merata di seluruh DAS akan menyebabkan
9
Gambar 2.3 Bentuk DAS Radial (sumber : Hikmat Ramdan, 2004)
c. DAS berbentuk Paralel, DAS ini dibentuk oleh dua jalur DAS yang bersatu di
bagian hilir. Apabila terjadi banjir di daerah hilir biasanya terjadi setelah di
al. 2022).
dari DAS yang berkaitan dengan kondisi geologi dan geomorfologi (Anif farida,
et. al. 2020). Karakteristik sosial ekonomi budaya dan kelembagaan, yaitu
lahan, menjadi faktor dominan dalam menentukan besar kecilnya curah hujan
b. Kondisi tanah dan batuan yang menentukan besarnya bagian curah hujan yang
mengalami peresapan ke dalam lapisan tanah dan batuan yang dikenal dengan
infiltrasi tanah.
11
c. Kondisi tutupan vegetasi dan jenis tanaman semusim yang berfungsi untuk
menerima atau menangkap dan menyimpan air hujan yang jatuh di permukaan
Data hujan yang diperoleh dari stasiun pengamatan hujan merupakan hujan
yang terjadi pada satu tempat atau titik saja (point rainfall). Hujan sangat
bervariasi terhadap tempat (space), sehingga untuk kawasan yang luas satu alat
tersebut. Oleh karena itu diperlukan hujan kawasan yang didapat dari harga rata-
rata curah hujan beberapa stasiun penakar hujan yang ada di dalam dan/atau di
Umumnya data curah hujan harian terbesar tahunan dapat digunakan untuk
menentukan tinggi curah hujan tahunan. (Alamsyah, et. al, 2023). Metode
12
2.4.1. Metode rata-rata aljabar (Aritmatika)
Tinggi rata-rata curah hujan didapatkan dengan mengambil nilai rata-rata hitung
Menurut Soewarno (2000) metode ini hanya disarankan untuk kondisi DPS
dengan topografi pedataran (flat topography) dengan jumlah pos hujan cukup
banyak dan lokasinya tersebar merata (uniformly distributed) pada lokasi yang
terwakili. Curah hujan rata-rata untuk metode ini dapat dilihat pada gambar 2.5
P1 P4
P3
P2
Cara ini akan memberikan hasil yang dapat dipercaya jika pos-pos penakarnya
mewakili luasan disekitarnya. Pada suatu luasan di dalam DAS dianggap bahwa
hujan adalah sama dengan yang terjadi pada stasiun yang terdekat, sehingga hujan
yang tercatat pada suatu stasiun mewakili luasan tersebut. Metode ini digunakan
apabila penyebaran stasiun hujan didaerah yang ditinjau tidak merata. Hitungan
curah hujan rerata dilakukan dengan memperhitungkan daerah pengaruh dari tiap
1. Stasiun pencatat hujan digambarkan pada peta DAS yang ditinjau, termasuk
3. Dibuat garis berat pada sisi-sisi segitiga seperti ditunjukkan dengan garis
yang mewakili luasan yang dibentuk oleh poligon. Untuk stasiun yang
berada didekat batas DAS, garis batas DAS membentuk batas tertutup dari
poligon.
5. Luas tiap poligon diukur dan kemudian dikalikan dengan kedalaman hujan di
14
stasiun yang berada didalam poligon.
6. Jumlah dari hitungan untuk semua stasiun di bagi dengan luas daerah yang
𝑝̅ =
A 1 p 1+ A 2 p 2+…+ Anpn
A 1+ A 2+…+ An
.............................................................. (2.2)
𝑝̅
Dengan :
= besar curah hujan rerata daerah (mm)
P3PPP3
A3
A2
P4
AA4
P2
A1
P1
Dalam hal ini kita harus menggambarkan dulu kontur dengan tinggi curah
15
Gambar 2. 7 Metode Isoyet (sumber : Triatmojo,2008)
Kemudian luas bagian diantara garis kontur yang berdekatan diukur, dan
Dimana :
A1, A2, ..... , An : Luas daerah yang dibatasi oleh garis ishoeit
Ini adalah cara yang paling teliti untuk mendapatkan hujan areal rata-rata,
tetapi memerlukan jaringan pos penakar yang relatif lebih padat yang
16
distribusi hujan (Hujan Orografik) (Sosrodarsono dan Takeda,1987)
Perhitungan curah hujan rencana akan dilakukan terhadap data curah hujan
harian maksimum tahunan dan akan dihitung dengan kala ulang 2 tahun, 5 tahun,
1 Normal Cs = 0, Ck = 3
hujan harian terhadap nilai rata-rata tahunannya dalam periode ulang tertentu
Distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss. Fungsi
densitas peluang normal (PDF= probability density function) yang paling dikenal
adalah bentuk bell dan dikenal sebagai distribusi normal. PDF distribusi normal
dapat dituliskan dalam bentuk rata-rata dan simpangan bakunya, sebagai berikut :
…………………(2.6)
XT = ų + K Tσ
Yang dapat didekati dengan :
17
………………... (2.7)
XT = X + K TS
KT = ………………... (2.8)
XT −X
S
Dimana :
KT = Faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang dan
peluang.
Periode Ulang
No. Peluang KT
T (tahun)
10. 2 0,5 0
([Link]:Andi)
mengikuti distribusi Log normal. PDF (probably density function) untuk distribusi
Log Normal dapat dituliskan daalam bentuk rata- rata dan simpangan bakunya,
sebagai berikut :
19
1
P(X) = exp ¿ X>0 ……………….....(2.9)
Xσ √ 2 π
Dimana :
………………..(2.10)
YT = μ + KTσ
………………...(2.11)
YT = Y + KTS K
YT−Y ………………..(2.12)
KT =
S
Dimana :
peluang.
seperti untuk analisis frekuensi banjir. Gumbel menggunakan harga ekstrim untuk
………………..(2.19)
X = μ+σK
Dimana :
K = Faktor probabilitas.
………………..(2.20)
X = X + SK
Dimana :
dalam persamaan :
21
Ytr−Yn
K=
Sn
………………..(2.21)
Dimana :
YTr = Reduced variate, yang dapat dihitung dengan persamaan berikut ini :
Ytr {
= - ln – ln
Tr−1
Tr }
Tabel 2.10 Gumbel Hubungan n (Besar Sampel) dengan Yn dan Sn
2 0,3668
5 1,5004
10 2,2510
20 2,9709
25 3,1993
50 3,9028
100 4,6012
200 5,2969
250 5,5206
500 6,2149
1000 6,9087
5000 8,5188
10000 9,2121
23
Sumber:
([Link]:Andi)
Salah satu distribusi dari serangkaian distribusi yang dikembangkan pearson yang
menjadi perhatian ahli sumber daya air adalah Log Pearson Type III. Tiga
parameter yang paling penting dalam Log Pearson Type III yaitu harga rata-rata,
Log X =
∑ LogXi ………………..(2.13)
i=1
n
3. Hitung harga simpangan baku :
s=¿ ¿
………………..(2.14)
n
G = n∑ ¿¿¿
i=l ......……………(2.15)
Ck= i=l
(n−1)(n−2)(n−3) s 4
......……………(2.16)
S
Cv=
X
......……………(2.17)
7. Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus :
Log XT = log X + K.s …..……………(2.18)
Dimana :
Tabel 2.8 Nilai KT untuk Distribusi Log Pearson Type III Kemencengan (Positif)
Tabel 2.9 Nilai KT untuk Distribusi Log Pearson Type III Kemencengan
(Negatif)
26
-0,7 0,116 0,857 1,183 1,488 1,663 1,806 1,926
-0,8 0,132 0,856 1,166 1,488 1,606 1,733 1,837
-0,9 0,148 0,854 1,147 1,407 1,549 1,66 1,749
-1 0,164 0,852 1,128 1,366 1,492 1,588 1,664
-1,1 0,18 0,848 1,107 1,324 1,435 1,518 1,581
-1,2 0,195 0,844 1,086 1,282 1,324 1,449 1,501
-1,3 0,21 0,838 1,064 1,24 1,27 1,383 1,424
-1,4 0,225 0,832 1,041 1,198 1,217 1,318 1,351
-1,5 0,24 0,825 1,018 1,157 1,166 1,256 1,282
-1,6 0,224 0,817 0,994 1,116 1,069 1,197 1,216
-1,7 0,268 0,808 0,97 1,075 1,023 1,14 1,155
-1,8 0,282 0,799 0,945 1,035 0,98 1,087 1,097
-1,9 0,294 0,788 0,92 0,996 0,939 1,037 1,044
-2 0,307 0,777 0,895 0,959 0,9 0,99 0,995
-2,1 0,319 0,765 0,869 0,923 0,864 0,946 0,949
-2,2 0,33 0,752 0 0,888 0,83 0,905 0,907
-2,3 0,341 0,739 1,336 0,855 0,798 0,867 0,869
-2,4 0,351 0,725 1,333 0,823 0,768 0,832 0,833
-2,5 0,36 0,711 1,328 0,793 0,166 0,799 0,8
-2,6 0,368 0,696 1,323 0,764 0,74 0,769 0,796
-2,7 0,376 0,681 1,317 0,738 0,714 0,74 0,741
-2,8 0,384 0,666 1,309 0,712 0,689 0,714 714
-2,9 0,39 0,651 1,301 0,683 0,666 0,69 0,69
-3 0,396 0,636 1,292 0,66 0,666 0,667 0,667
0 0 0,842 1,282 0,282 2,054 2,325 2,576
Sumber : Bambang Triadmodjo, 2008
maksimum jam- jaman serta curah hujan efektif. Berdasarkan distribusi hujan,
maka banyaknya hujan pada setiap jam akan jatuh selama waktu konsentrasi
27
periode jatuh hujan tersebut. Adapun konsentrasi hujan dalam periode satu
hari adalah 6 jam, maka pembagian banyaknya hujan akan turun pada setiap
jam tersebut. Intensitas hujan adalah laju hujan atau tinggi air per satuan
I =
R 24 24 23
24 t [ ]
... ............................................................................. .....................
(2.16)
Dimana :
langsung (direct run-off). Besarnya curah hujan efektif dapat dinyatakan sebagai
berikut:
Rn = C . I ....................................................................................................... (2.16)
Dimana:
C = koefisien pengaliran
28
I = Intensitas curah hujan (mm/hari
sebagai berikut :
mononobe.
3. Waktu Konsentrasi
4. Waktu Permulaan Banjir Sampai Puncak Hidrograf Banjir dan Debit Puncak
Banjir
a). Waktu permulaan banjir sampai puncak hidrograf banjir dihitung dengan
rumus:
29
Tp = Tg + 0,8 Tr ..........................................................................(2.18)
C A Rt
Q P= ........................................................................
3 ,6 (0 , 3 Tp+T 0 , 3)
(2.19)
[ ]
2,4
T
Qa = Qp ............................................................................. (2.20)
Tp
c). Waktu Dari Puncak Hidrograf Banjir Sampai 0,3 Debit Puncak Banjir
1). Waktu dari puncak hidrograf banjir sampai 0,3 debit puncak
menggunakan rumus:
2). Waktu dari 0,3 debit puncak banjir sampai 0,09 debit puncak
30
T0,09 = 1,5 T0,3 ......................................................................(2.23)
Pada saat (Tp + T0,3) < T < (Tp + 2,5 T 0,3) ; kurva hidrograf banjir
menggunakan rumus :
Qd2 =
Qp 0 ,3
[ T−Tp+0 , 3T 0, 3
1, 5 T 0 , 3 ] ...................................................... (2.24)
3). Waktu setelah 0,09 debit puncak banjir dihitung dengan rumus: Pada
Qd3 =
Qp 0 ,3
[ T−Tp+0 , 3T 0, 3
2 T0 ,3 ] ........................................................ (2.25)
Hidrograf Satuan Sintesis (HSS) ITB HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 bermanfaat
31
menggunakan cara HSS ITB. Perbedaan pada perhitungan HSS ITB-1 adalah
Tinggi hujan satuan yang umum digunakan adalah 1 inchi atau 1 mm. Durasi
hujan satuan umumnya diambil Tr = 1 jam. Apabila dipilih durasi 0,5 jam
maka tinggi hujan setiap jam harus dibagi 2 dan didistribusikan dalam interval
0,5 jam.
2. Time Lag (TL), Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb)
Data Time Lag (TL), Waktu Puncak (Tp) dan Waktu Dasar (Tb) merupakan
Dimana
Dimana
Tp : Waktu puncak
TL : Time lag
32
Tr : Durasi hujan satuan
𝑇𝐵 = 𝑇𝑏 = 10 ∗ 𝑇𝑝………………………………….......................
(2.28)
Dimana
Tb : Waktu dasar
Tp : Waktu puncak
Bentuk dasar hidrograf satuan pada Metode HSS ITB-1 dan HSS ITB-2 adalah
sebagai berikut :
HSS ITB-1 memiliki persamaan lengkung naik dan lengkung turun seluruhnya
1 αCp
q(t) = exp { 2 - t – } ………………………………………….. (2.29)
t
HSS ITB-2 memiliki persamaan lengkung naik dan lengkung turun yang
q (t) = exp (1-t βCp ) Lengkung turun ( t > 1 s/d ∞)……………… (2.31)
nilai α = 1,50 sedangkan pada HSS ITB-2 menggunakan nilai α = 2,50 dan β=
1,00 (SNI, 2016). Untuk menentukan Luasan HSS tak berdimensi menggunakan
1
Ai = x (ti-ti-1 )(qi+qi-1 )…………………………………….……(2.32)
2
Dimana
33
qi: Debit ke-i
Qi = qi x Qp..................................................................................................... (2.33)
Dimana
Qi : Debit ke-i
1
V= x 3600 x ( Ti − Ti-1 )( Qi + Qi+1)............................................................ (2.34)
2
Dimana
Ti : Waktu ke-i
Prinsip konservasi masa dan definisi hidrograf satuan sintesis maka dapat
disimpulkan bahwavolume satuan hujan efektif yang jatuh merata diseluruh DAS
harus sama dengan volume hidrograf satuan sintesis dengan waktu puncak, dapat
R A DAS 3
Qp = . (m /s).................................................................
3.6 Tp A HSS
(2.37)
Dimana
35
2.8 Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan rujukan untuk membuktikan bahwa adanya keterkaitan antara penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya, serta menghindari manipulasi data baik dari jurnal ilmiah, skripsi, tesis dan sebagainya, uraian
berikut akan membahas hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini,
Variabel
No Penulis dan Tahun Judul Metode Analisa Hasil
Penelitian
1. Esa Bagus Analisa Debit Data DEM Penentuan hujan Hidrograf Satuan Sintetis
Nugrahanto, Slamet Banjir Rancangan ( Digital rancangan dilakukan (HSS)
Suprayogi, Dengan Metode Elevation dengan cara statistik Nakayasu memberikan
Muhammad Hidrograf Satuan Model ), Data yaitu dengan analisis analisis debit banjir
Pramonohadi, Rissa Sintetis Nakayasu Curah Hujan frekuensi. Analisis rancangan dengan waktu
Rahmadwiati (2022) Di Sub DAS Harian frekuensi dimaksudkan yang tetap dan debit yang
Keduang untuk mencari hubungan semakin meningkat pada
antara besarnya kejadian periode ulang yang semakin
ekstrim terhadap besar.
frekuensi kejadian Hidrograf yang terjadi di Sub
35
dengan menggunakan DAS Keduang memiliki tipe
distribusi probabilitas. banjir yang cepat tinggi dan
Analisis frekuensi lama surutnya. Hal ini dapat
dilakukan dengan menjadi peringatan bagi
beberapa jenis sebaran, masyarakat sekitar karena
seperti Normal, Log- banjir akan mencapai puncak
Normal, Log-Pearson hanya membutuhkan waktu
III, dan Gumbel. Data 3,66 jam. Penggunaan HSS
input yang diperlukan Nakayasu untuk analisis
adalah data curah hujan debit rancangan dapat
tahun 2007-2018 dari digunakan sebagai dasar
pos pengamatan yang mitigasi bencana banjir
tersedia di dalam dan di karena mampu
sekitar Sub DAS menggambarkan kejadian sat
Keduang. hujan, puncak banjir dan
durasi banjir yang terjadi
hingga debit surut kembali.
2. Alvine Cinta Analisis Debit Data Curah hujan Dalam melakukan Dari penelitian yang
Damayanti, Lily Banjir Rancangan perhitungan untuk dilakukan, perhitungan nilai
36
Montarcih dengan Metode menentukan analisis data hujan rancangan dilakukan
Limantara,Rivanto curah hujan pada DAS dengan menggunakan empat
HSS Nakayasu,
Haribowo (2022) Manikin, maka perlu metode distribusi. Keempat
HSS ITB-1, dan
dilakukan analisis metode distribusi tersebut
HSS Limantara
terhadap data curah adalah distribusi Normal,
pada DAS
hujan harian maksimum Log Normal, Gumbel, dan
Manikin di
yang diperoleh dari Log Pearson Type III.
Kabupaten
stasiun curah hujan. Setelah didapatkan nilai
Kupang
Pada penelitian in hujan rancangan, maka
menggunakan data curah dilakukan uji persyaratan
hujan di Stasiun Hujan statistik dan distribusi yang
Baun dan Oelatsala. memenuhi persyaratan yaitu
Distribusi Log Pearson Type
Data curah hujan yang
III.
digunakan dalam
Nilai hujan rancangan
penelitian ini adalah data
dengan metode Distribusi
curah hujan selama 40
Log Pearson Type III adalah
tahun (1977-2018).
sebagai berikut: kala ulang
1,01 tahun = 22,75 mm; 2
37
tahun = 109,29 mm; 5 tahun
= 154,23 mm; 10 tahun =
177,36 mm; 20 tahun =
195.34 mm: 25 tahun =
200.32 mm: 50 tahun =
213.78 mm: 100 tahun =
224.78 mm: 200 tahun
= 233,87 mm; 500 tahun =
243,56 mm; 1000 tahun =
249,51 mm. Setelah
diperoleh nilai hujan
rancangan, maka selanjutnya
dilakukan perhitungan debit
banjir rancangan dengan
menggunakan ketiga metode
Hidrograf Satuan Sintetis.
Ketiga metode HSS tersebut
adalah HSS Nakayasu, HSS
IT-1, dan HSS Limantara.
38
Nilai PMF dari ketiga
metode tersebut yaitu: HSS
Nakayasu = 1597,16 m°/det;
HSS ITB-1 = 965,64 m^det;
HSS Limantara = 401,32
m™/det. Berdasarkan ketiga
metode tersebut, nilai debit
banjir rancangan pada
perhitungan HSS Nakayasu
yang mendekati kondisi di
DAS Manikin.
3. Arif Hidayat, Sari Analisis Data curah hujan, Menggunakan metode Metode Nakayasu*
Nurani, Andi Perbandingan morfologi DAS, Nakayasu dan ITB (ITB menunjukkan hasil yang
Pratama ( 2022 ) Metode Nakayasu karakteristik 1 dan ITB 2) untuk lebih baik dalam
dan ITB dalam hujan. menghitung hidrograf memprediksi debit puncak,
Hidrograf Satuan satuan. Perbandingan sedangkan *Metode ITB 1*
Sintetik pada hasil model dengan data lebih akurat dalam
DAS Code, observasi dilakukan memperkirakan waktu
39
Yogyakarta untuk mengevaluasi puncak.
akurasi.
4. Rina Wulandari, Perbandingan Curah hujan, luas Menganalisis hidrograf Metode ITB 2* lebih akurat
Bimo Santoso, Eka Metode Nakayasu DAS, morfologi satuan sintetik dengan dalam memperkirakan waktu
Putra ( 2021 ) dan ITB dalam DAS. metode Nakayasu dan puncak, sementara *Metode
Estimasi ITB (ITB 1 dan ITB 2). Nakayasu* memberikan
Hidrograf Satuan Hasil dibandingkan estimasi debit puncak yang
pada DAS dengan data observasi lebih sesuai dengan data
Ciliwung, Jakarta debit untuk menentukan lapangan.
akurasi masing-masing
metode menggunakan
R², RMSE, dan ENS.
5. Bayu Krisna Analisis Data debit sungai Proses pembuatan DAS Dari analisis indeks
dilakukan dengan kesesuaian, Metode yang
Wisnulingga, Puji Hidrograf Banjir
menghubungkan paling sesuai untuk
Harsanto (2018) dengan Metode
punggung-punggung digunakan dalam analisis
Nakayasu dan bukit atau gunung di hidrograf banjir di Sub DAS
sekeliling Sungai Progo Progo hulu adalah Metode
40
ITB di Sungai hulu dengan titik outlet ITB-2 [Link]
pada stasiun AWLR nilai debit banjir dan bentuk
Progo Hulu
Borobudur hingga hidrograf Metode Nakayasu
membentuk garis utuh. dan ITB dengan nilai debit
Identifikasi Karateristik dan bentuk grafik limpasan
Sub DAS Progo Hulu langsung AWLR besar
Progo hulu dilakukan kemungkinan disebabkan
dengan mengamati oleh jenis penutup lahan,
bentuk, menghitung luas, jenis tanah, dan tingkat
menganalisis elevasi, permeabilitas tanah pada Sub
dan menghitung panjang DAS Progo.
sungai utama DAS
dengan memanfaatkan
software ArcMap 10.2.1.
6. Nastasia F. Margini, Analisa Hidrograf Data DAS,Data Menghitung hujan rata- Hasil pemodelan Nakayasu
Asli dan Nakayasu
Danayanti A. D. Satuan Sintetik debit pengukuran rata wilayah dengan
Modifikasi 2, Nakayasu
Nusantara, M. Bagus Nakayasu Dan pada stasiun menggunakan Aritmatic
41
Ansori (2017) ITB Pada Sub AWRL,Data method dikarenakan Modifikasi 2 lebih
DAS Konto, Jawa Hujan hanya terdapat 2 stasiun menunjukkan nilai Qp dan
Timur yang berpengaruh Tp yang mendekati data
pengamatan.
terhadap Sub DAS
42
karena bersifat unik dari
setiap perbedaan
karakteristiknya.
7. Muhammad Fajar Analisis Data hujan, peta Perhitungan data huan Hasil kalibrasi beberapa
metode HSS dengan debit
Angga Safrida1), Hidrograf Aliran topografi wilavan menggunakan
terukur dilakukan metode
Sobriyah2), Agus Daerah SUngai metode Poligon Thiessen
kalibrasi debit puncak, waktu
Hari Wahyudi3) Tirtimoyo dan dibuat perubahan puncak dan jumlah volume
banjir pada beberapa
Dengan Beberapa hujan wilayah dengan
2014 kejadian banjir. Hasil
Metode Hidrograf menggunakan pola
kalibrasi menunjukkan
Satuan Sintetis distribusi hujan jam- bahwa metode HSS ITB-1
dan ITB-2 paling sesuai
jaman. Untuk
digunakan dalam hal
menghitung debit
peramalan debit puncak
terukur dari data AWL.R banjir pada tanggal 19-20
Februari 2013 dan 29-30
maka digunakan rating
43
Balai Penelitian Maret 2013.
44
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Bilokka merupakan bagian dari WS. Saddang, yang mana WS. Saddang terbagi
atas 2 SWS (Sub Wilayah Sungai), yaitu SWS Walanae-cenranae dan SWS
Saddang, Sungai Bilokka masuk dalam SWS Walanae-Cenranae yang mana sungai
utama adalah Sungai Walanae, atau dengan kata lain bahwa Sungai Bilokka adalah
anak/cabang Sungai Bila yang mengalir kearah barat, bergabung dengan sungai
walanae.
dengan ibu kota Sidenreng yang berjarak 60 Km dari Parepare. Selain dikenal
sebagai daerah lumbung pagan nasional juga merupakan tempt peternakan ayam
Terletak pada koordinat antara 3°43' Lintang Selatan 119°41' -120°10 Bujur Timur.
permukaan laut. Keadaan Topografi wilayah di daerah ini sangat bervariasi berupa
wilayah datar sekitar 46.72%, perbukitan sekitar 15.43%, dan pegunungan sekitar
aliran aliran sugai dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Wattang Pulu
43
dan Kecamatan Dua Pitue, yakni 8 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada 3
sungai yaitu sungai Bilokka dengan panjang sekitar 20.000 meter, disusul sungai
Bila dengan panjang sekitar 15.100 meter dan sungai Rappang dengan panjang
15.000 meter2.
44
3.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu suatu jenis penelitian yang
kejadian. Data yang digunakan merupakan data sekunder (Sumber: Dinas PUPR
penelitian ini dan institusi terkait antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Balai
Data peta: peta topografi, batas wilayah, wilayah tangkapan sungai, dan
variabel bebas karena variabel ini bebas dalam memengaruhi variabel lain.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variabel curah hujan maksimum
45
dan debit sungai maksimum.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah korelasi data curah hujan dan
sebagai berikut:
46
3.6. Bagan Alir Penelitian
Identifikasi
Mulai Masalah
Pengumpulan Data
Data Sekunder
Data Topografi
Data Hidrologi
Kalaborasi
Data
Tidak
Cek Data
Rumusan :
1. Menghitung Hujan Rerata DAS
2. Menghitung Curah Hujan Rancangan
3. Menghitung Debit Banjir Rancangan
Selesai
47
Gambar 3.2 Bagan Alir Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, A., & Bertarina, B. (2022). Analisis karakteristik aliran sungai pada
Minahasa.
Farida, A., & Irnawati, I. (2020). Kajian Karakteristik Morfometri Daerah Aliran
Hamdani, H., Permana, S., & Susetyaningsih, A. (2014). Analisa daerah rawan
Iyan, E. R., Labdul, B. Y., & Husnan, R. (2022). Optimasi Koefisien Parameter
Hidrograf Satuan Sintetik Itb-1 Dan Itb-2 Di Sub Das Bionga Kayubulan.
48
LAIA, A. (2024). IDENTIFIKASI DAERAH ALIRAN SUNGAI DHARMA
Bencana Banjir pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Walanae Kecamatan
49
BAB IV
(aljabar) atas dasar peta stasiun tersebut belum tersedia, karena yang terdiri dari 3
stasiun pencatatan curah hujan yaitu curah hujan Stasiun Mata Allo, curah hujan
Stasiun Salubarani, curah hujan Stasiun Malua dengan masing-masing stasiun curah
hujan selama 10 tahun mulai tahun 2013 sampai dengan tahun 2022 seperti berikut.
2013 77 86 107
2014 119 92 86
2015 95 79 81
2016 96 70 120
2017 110 73 150
2018 103 85 63
2019 145 101 71
2020 70 81 185
2021 75 80 95
2022 100 93 173
77+86+107
Curah Hujan Rata-rata = = 90,00
3
menggunakan metode aritmatika dapat dilihat pada tabel 4.2, sebagai berikut.
Curah Hujan
Tahun Pos Makale Pos Salubarani Pos Mataallo
Rata-rata (mm)
51
Curah Hujan Rata-rata Curah Hujan Rata-rata
(mm) Terbesar (mm)
90.00 122.00
99.00 111.83
84.90 110.83
95.33 105.50
110.83 99.00
83.67 95.33
105.50 90.00
111.83 84.90
83.33 83.67
122.00 83.33
Sumber data : Hasil Perhitungan
Dari tabel curah hujan maksimum harian rata-rata kemudian diurutkan dari
statistik untuk mengetahui metode perhitungan curah hujan rencana yang dapat
digunakan.
1
= (986,4)
10
= 98,64 mm
√
n
(xi−x )2
Standar deviasi (S) = ∑ n−1
i=1
=
√ 1648 , 49
9
= 13,53
52
s
Koefisien variasi (Cv) =
x
13 , 53
=
98 , 64
= 0,14
10 x 6961, 18
= 3
(10−1)(10−2)13 , 5 3
= 0,39
= 2,95
rata-rata curah hujan maksimum. (Xi = Curah hujan rata-rata dari yang terbesar
ke-terkecil)
(Xi-X) = (122-98,64)
= 23,36 mm
(Xi-X¿2 = (23,36¿2
= 545,69 mm
(Xi-X¿3 = (23,36¿3
= 12747,31 mm
(Xi-X¿ 4 = (23,36¿ 4
= 297777,14 mm
53
Untuk langkah perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang
sama. Adapun hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.
Setelah diperoleh hasil pada tabel 4.4, selanjutnya untuk menentukan jenis
metode yang digunakan dapat dilihat pada tabel 4.5, sebagai berikut:
Cs = 0,
Normal Tidak Memenuhi
Ck = 3
Cs = 3, Cv = 1,8 ,
Log Normal Tidak Memenuhi
Cv = 0.6
CS = 0.39
Cs ≈ 1,14 , Cv = 0,14
Gumbel Tidak Memenuhi
Ck ≈ 5,4002 Ck = 2,95
Bila ketiga kriteria
diatas tidak dipenuhi.
Log Pearson Type
Maka digunakan jenis Memenuhi
III
distribusi Log Pearson
Tipe III
54
Dari analisis parameter statistic di atas, dapat dilihat pada tabel 4.5
diperoleh nilai Cs, Cv dan Ck tidak memenuhi syarat untuk metode Normal dan
Gumbel. Maka, metode yang digunakan adalah metode log pearson type III
karena untuk metode ini tidak memiliki syarat nilai Cs, Cv dan Ck seperti
19,904
=
10
= 1,99 mm
=
√ 0,031
9
= 0,059
10.(0,000)
=
( 10−1 ) ( 10−2 ) 0,0593
= 0,232
= 2,734
55
Log Xi = log (122)
= 2,09 mm
= 0,10 mm
= 0,01 mm
= 0,00 mm
Untuk langkah perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
Tabel 4. 6 Analisis Curah Hujan Rencana dengan Metode log pearson Type III
N
Xi Log Xi (Log Xi - Log X) (log Xi - Log X)² (Log Xi - Log X)³ (Log Xi - Log X)⁴
o
1 122.00 2.086 0.096 0.009 0.001 0.000
2 111.83 2.049 0.058 0.003 0.000 0.000
3 110.83 2.045 0.054 0.003 0.000 0.000
4 105.50 2.023 0.033 0.001 0.000 0.000
5 99.00 1.996 0.005 0.000 0.000 0.000
6 95.33 1.979 -0.011 0.000 0.000 0.000
7 90.00 1.954 -0.036 0.001 0.000 0.000
8 84.90 1.929 -0.062 0.004 0.000 0.000
9 83.67 1.923 -0.068 0.005 0.000 0.000
10 83.33 1.921 -0.070 0.005 0.000 0.000
Jumlah 19.904 1.299 0.031 0.000 0.000
Sumber data : Hasil Perhitungan
X2 = 10 log Xt
X2 = 10 log1,988 = 97,311 mm
56
Untuk langkah perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang
sama. Adapun hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut.
Tabel 4. 7 Rekapitulasi Analisis Curah Hujan Rencana untuk Periode Ulang Tahun
log x + K.S
Periode Ulang log Xt
K 10
T
Dari tabel 4.8, dapat dinyatakan bahwa hasil perhitungan curah hujan rencana
untuk periode ulang 2 tahun = 97,312 mm, 5 tahun = 109,456 mm, 10 tahun =
116,763 mm, 25 tahun = 125,381 mm, 5 0 tahun = 131,439 mm, 100 tahun =
137,270 mm.
Pada perencanaan ini tidak memiliki data pencatatan hujan jam-jaman, maka
[ ][ ]
2 /3
R 24 t
It =
t T
Dimana :
57
t = Waktu konsentrasi hujan (jam)
Adapun lama waktu konsentrasi hujan (t) di Indonesia rata-rata t = 5 jam, maka
diperoleh :
[ ][ ]
2/ 3
R 24 5
Untuk T = 1 jam, maka diperoleh I1 = = 0,5848. R24
5 1
[ ][ ]
2/ 3
R 24 5
Untuk T = 2 jam, maka diperoleh I2 = = 0,3684. R24
5 2
[ ][ ]
2 /3
R 24 5
Untuk T = 3 jam, maka diperoleh I3 = = 0,2811. R24
5 3
[ ][ ]
2/ 3
R 24 5
Untuk T = 4 jam, maka diperoleh I4 = = 0,2321. R24
5 4
[ ][ ]
2/ 3
R 24 5
Untuk T = 5 jam, maka diperoleh I5 = = 0,2000. R24
5 5
= (0,5848𝑅24) − (0 × 0)
= (0,7368𝑅24) − (1 × 0,5848)
= (0,8433𝑅24) − (2 × 0,3684)
58
= 0,1065 × 100% = 10,65%
= (0,9284𝑅24) − (3 × 0,2811)
= (1,0000𝑅24) − (4 × 0,2321)
Untuk mencari curah hujan rancangan efektif jam-jaman dalam periode ulang
sebagai berikut;
Tr = 2 tahun
X2 = 97,312 mm
Rn = C . X2
= 0,78×97,312
= 75,90 mm/hari
𝑅 × 𝑅n = 58,480% × 75,90
= 44,388 mm/hari.
Untuk langkah perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
59
Tabel 4.8 Rekapitulasi Perhitungan Curah Hujan Efektif Berbagai Kala Ulang.
2,086−1,990
= =1,627
0,059
60
1
P (Xi) = x 100 % = 0,091
(10+1)
denga Cs
Px = 1 – P’ (Xi)
= 1 – 0,091 = 0,908
∆ maks = [ Px – P (Qi) ]
Tabel 4.9 : Uji Smirnov Kolmogorov untuk Distribusi Log Pearson III
Nomo Xi Log
f(t) m P(Xi) P'(Xi) Px Δp
r (mm) Xi
122.00
1 2.086 1.627 1.000 0.091 0.134 0.866 0.775
0
111.83
2 2.049 0.986 2.000 0.182 0.067 0.933 0.752
3
110.83
3 2.045 0.920 3.000 0.273 0.053 0.947 0.674
3
105.50
4 2.023 0.557 4.000 0.364 0.041 0.959 0.596
0
5 99.000 1.996 0.088 5.000 0.455 0.024 0.976 0.521
6 95.333 1.979 -0.190 6.000 0.545 0.019 0.981 0.436
7 90.000 1.954 -0.614 7.000 0.636 0.015 0.985 0.349
8 84.900 1.929 -1.043 8.000 0.727 0.011 0.989 0.262
9 83.667 1.923 -1.151 9.000 0.818 0.012 0.988 0.170
10.00
10 83.333 1.921 -1.180 0.909 0.012 0.988 0.079
0
19.90
Jumlah (Σ) Δmaks 0.775
4
Sumber data : Hasil Perhitungan
Taraf signifikan diambil 5% dari jumlah data (n), didapat ΔCr dari tabel.
Δmaks = 0,775
Δkritis = 0,409
61
Karena Δ Maks < Δ Kritis Maka distribusi teoritis yang digunakan untuk
b. Uji Chi-Kuadrat
K = banyaknya kelas
= 1 + 3,22 x n
= 1 + 3,22 x 10
= 4,22 = 4
P = Batas kelas
1
=
K
1
= = 0,25 = 25%
4
DK = K – (α + 1 )
=4–(2+1)
=1
n
Ef =
K
10
= = 2,5
4
= 122,000 – 83,333
62
=38,667
R
Ik =
n
38,333
= = 3,867
10
Ef x Ik = 2,5 x 3,867
= 9,667
P1 = Xi terkecil + (Ef x Ik )
P2 = P1 + (Ef x Ik )
P3 = P2 + (Ef x Ik )
P4 = P3 + (Ef x Ik )
X
2
= ∑ ¿¿ ¿
Pearson Type III dengan uji Smirnov Kolmogorof dan uji Chi Square (kuadrat)
Tabel 4.10 : Perhitungan Uji Chi-Kuadrat Untuk Distribusi Log Pearson Tipe III
Jumlah Data
No Kemungkinan (Of-Ef)² (Of-Ef)²/Ef
Ef Of
1 X <X< 93.000 2.5 4.0 2.250 0.900
2 93.000 <X< 102.667 2.5 2.0 0.250 0.100
63
102.66
3 <X< 112.333 2.5 3.0 0.250 0.100
7
112.33
4 <X< 122.000 2.5 1.0 2.250 0.900
3
Jumlah 10.0 10.0 5.000 2.000
Sumber data : Hasil Perhitungan
Taraf Signifikan = 5%
2
X = 2,000
2
X Kritis = 3,841
(X²) < (X² Cr) = 2,0000 < 3,8415, maka distribusi frekuensi dapat diterima.
64
Untuk panjang sungai L > 15 km, maka t g = 0,40 + 0,058 L
tr = 0,8 tg , maka
b. Menghitung waktu (time lag) dari permulaan hujan sampai puncak banjir
1027 . 1 3
Qp = =34,350 m /det
3 ,6. [ ( 0 , 3.4,841 ) +6,853]
1) Kurva naik
0 ≤ t < 4,841
2) Kurva turun
65
4,841 ≤ t < 11,694
t−Tp
Rumus kurna turun Qt1 = Qp.0,3 , maka
T 0,3
t −4,841
Qt1 = 34,350.0 , 3 11,694 (persamaan kurva turun1)
t−T p +(0 , 5T 0 , 3)
Rumus kurva turun Qt2 = Qp.0,3 , maka
1 ,5 T 0 ,3
t−4,841+(0 ,5.6,853)
Qt2 =34,350.0,3 (persamaan kurva turun 2)
1, 5.6,853
t−T P +(1 , 5 T 0 , 3)
rumus kurva turun Qt 3 = Qp . 0,3 = , maka
2.T 0 ,3
t−4,841+(1, 5.6,853)
Qt 3 = 34,350.0,3 (persamaan kurva turun)
2.6,853
66
Sumber data : Hasil Perhitungan
Dari tabel 4.11, diperoleh lengkung kurva naik (Qd0) berada pada waktu (t)
4,841 jam, lengkung kurva turun tahap 1 (Qd1) berada pada waktu (t) 11,694
jam, lengkung kurva turun tahap 2 (Qd2) berada pada waktu (t) 21,973 jam,
lengkung kurva turun tahap 3 (Qd3) berada pada waktu (t) 24 jam. Untuk hasil
67
Gambar 4. 1 Grafik Hidrograf Rancangan HSS Nakayasu
Dari gambar 4.1, dapat dinyatakan bahwa debit puncak pada perhitungan
= 44,388 x 0,78
= 49,928 x 0,78
= 53,261 x 0,78
68
Qrancangan 25 tahun = Rn (Tabel 4.8) x Qn (Tabel 4.12)
= 57,192 x 0,78
= 59,955 x 0,78
= 62,615 x 0,78
71
Curah Hujan Jam-Jaman Debit
Banjir
t Qn R1 R2 R3 R4 R5
Rancanga
53.261 13.843 9.699 7.750 6.521 n
(m3/dtk/
(jam) (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) (m3/dtk)
mm)
0.000 0.00 0.000 0.000
1.000 0.78 41.537 0.000 41.537
2.000 4.12 219.232 10.796 0.000 230.028
3.000 10.89 580.127 56.982 7.564 0.000 644.674
1157.11 150.78
4.000 21.73 39.925 6.044 0.000 1353.869
4 5
1829.51 300.75 105.64
4.841 34.35 31.903 5.086 2272.910
8 5 9
1779.20 475.52 210.72
5.000 33.41 84.420 26.842 2576.716
4 5 6
1492.52 462.44 333.18 168.38
6.000 28.02 71.028 2527.563
5 7 0 3
1252.03 387.93 324.01 266.23 141.67
7.000 23.51 2371.892
9 4 7 1 1
1050.30 325.42 271.80 258.90 223.99
8.000 19.72 2130.444
1 7 9 9 7
272.99 228.01 217.19 217.83
9.000 16.54 881.069 1817.103
2 3 2 7
229.00 191.27 182.19 182.73
10.000 13.88 739.104 1524.318
6 4 6 7
192.10 160.45 152.84 153.29
11.000 11.64 620.014 1278.708
6 5 0 3
161.15 134.60 128.21 128.59
11.694 10.31 548.855 1101.416
3 1 3 4
142.65 112.91 107.55 107.87
12.000 9.94 529.523 1000.521
7 3 4 4
137.63
13.000 8.84 470.994 99.954 90.224 90.492 889.297
2
122.42
14.000 7.87 418.934 96.433 79.869 75.911 793.568
0
108.88
15.000 7.00 372.629 85.774 77.056 67.199 711.547
8
16.000 6.22 331.442 96.853 76.294 68.539 64.832 637.959
17.000 5.54 294.807 86.148 67.861 60.963 57.666 567.445
18.000 4.92 262.222 76.626 60.360 54.225 51.292 504.724
19.000 4.38 233.238 68.156 53.688 48.231 45.623 448.936
20.000 3.90 207.458 60.623 47.754 42.900 40.580 399.315
21.000 3.46 184.527 53.922 42.476 38.158 36.095 355.178
21.973 3.09 164.657 47.962 37.781 33.941 32.105 316.445
72
22.000 3.08 164.262 42.797 33.605 30.189 28.556 299.410
23.000 2.82 150.448 42.695 29.986 26.852 25.400 275.381
24.000 2.59 137.795 39.104 29.914 23.961 22.593 253.367
73
0 2
17.00
5.54 316.568 92.506 72.870 65.463 61.923 609.329
0
18.00
4.92 281.577 82.282 64.815 58.227 55.078 541.979
0
19.00
4.38 250.454 73.187 57.651 51.791 48.990 482.074
0
20.00
3.90 222.771 65.097 51.279 46.067 43.575 428.790
0
21.00
3.46 198.148 57.902 45.611 40.975 38.759 381.395
0
21.97
3.09 176.810 51.502 40.570 36.446 34.475 339.803
3
22.00
3.08 176.387 45.956 36.085 32.418 30.664 321.511
0
23.00
2.82 161.553 45.846 32.200 28.834 27.275 295.708
0
24.00
2.59 147.966 41.990 32.122 25.729 24.260 272.069
0
74
10.00 257.79 159.41 205.09 205.70
13.88 832.005 1660.010
0 0 0 8 6
11.00 216.25 133.72 172.05 172.56
11.64 697.947 1392.537
0 3 5 1 1
11.69 181.40 112.17 144.32 144.75
10.31 617.843 1200.516
4 9 8 9 7
12.00 160.58 121.07 121.43
9.94 596.081 94.103 1093.278
0 9 3 3
13.00 154.93 101.56 101.86
8.84 530.195 83.303 971.862
0 2 5 7
14.00 137.80
7.87 471.592 80.369 89.908 85.453 865.129
0 7
15.00 122.57
7.00 419.466 71.485 86.742 75.646 775.914
0 5
16.00 109.02
6.22 373.102 63.584 77.154 72.981 695.848
0 7
17.00
5.54 331.863 96.976 56.556 68.626 64.914 618.935
0
18.00
4.92 295.181 86.257 50.305 61.041 57.739 550.523
0
19.00
4.38 262.555 76.723 44.745 54.294 51.357 489.673
0
20.00
3.90 233.534 68.243 39.799 48.293 45.681 435.549
0
21.00
3.46 207.721 60.700 35.400 42.955 40.632 387.407
0
21.97
3.09 185.353 53.990 31.487 38.207 36.141 345.178
3
22.00
3.08 184.909 48.177 28.007 33.984 32.146 327.222
0
23.00
2.82 169.358 48.061 24.991 30.228 28.593 301.231
0
24.00
2.59 155.115 44.019 24.931 26.973 25.432 276.471
0
75
3.000 10.89 682.015 66.990 6.304 0.000 755.309
1360.33 177.26
4.000 21.73 33.274 7.106 0.000 1577.986
8 8
2150.83 353.57
4.841 34.35 88.049 37.506 5.979 2635.946
6 6
2091.68 559.04 175.62
5.000 33.41 99.247 31.556 2957.151
5 1 2
1754.65 543.66 277.67 197.95
6.000 28.02 83.503 2857.459
7 6 7 6
1471.93 456.06 270.04 312.98 166.55
7.000 23.51 2677.583
4 7 0 9 3
1234.76 382.58 226.52 304.38 263.33
8.000 19.72 2411.596
5 2 9 2 8
1035.81 320.93 190.02 255.33 256.09
9.000 16.54 2058.210
1 8 9 7 6
10.00 269.22 159.41 214.19 214.83
13.88 868.913 1726.576
0 6 0 6 2
11.00 225.84 133.72 179.68 180.21
11.64 728.907 1448.377
0 6 5 3 6
11.69 189.45 112.17 150.73 151.17
10.31 645.251 1248.795
4 6 8 1 8
12.00 167.71 126.44 126.81
9.94 622.522 94.103 1137.602
0 2 4 9
13.00 161.80 106.07 106.38
8.84 553.714 83.303 1011.278
0 5 0 5
14.00 143.92
7.87 492.511 80.369 93.897 89.244 899.941
0 0
15.00 128.01
7.00 438.074 71.485 90.589 79.001 807.162
0 3
16.00 113.86
6.22 389.653 63.584 80.576 76.219 723.895
0 3
17.00 101.27
5.54 346.584 56.556 71.670 67.794 643.882
0 8
18.00
4.92 308.276 90.083 50.305 63.748 60.301 572.713
0
19.00
4.38 274.201 80.126 44.745 56.702 53.636 509.410
0
20.00
3.90 243.894 71.270 39.799 50.435 47.707 453.104
0
21.00
3.46 216.936 63.392 35.400 44.860 42.434 403.022
0
21.97
3.09 193.575 56.385 31.487 39.902 37.744 359.093
3
22.00
3.08 193.112 50.314 28.007 35.491 33.572 340.495
0
23.00
2.82 176.871 50.193 24.991 31.568 29.861 313.485
0
24.00
2.59 161.996 45.972 24.931 28.169 26.561 287.629
0
76
Adapun rekapitulasi hasil perhitungan debit banjir rencana dengan
menggunakan metode HSS Nakayasu, dapat dilihat pada tabel 4.19 berikut:
77
22.000 249.532 280.675 299.410 321.511 327.222 340.495
23.000 229.506 258.149 275.381 295.708 301.231 313.485
24.000 211.160 237.513 253.367 272.069 276.471 287.629
Qmax 2147.470 2415.480 2576.716 2766.911 2839.004 2957.151
Dari tabel 4.19, rekapitulasi hasil perhitungan debit banjir rencana metode HSS
Nakayasu dapat dinyatakan bahwa debit banjir rencana maksimum periode ulang 2
m3/dtk. Untuk grafik hidrograf banjir HSS Nakayasu dapat dilihat pada gambar 4.2
berikut;
Dari gambar 4.2, dapat dinyatakan bahwa debit puncak pada perhitungan hidrograf
banjir dengan metode HSS Nakayasu pada periode ulang 100 tahun sebesar 2957,151
78
4.2. Analisis Data Debit
2013 603.57
2014 318.81
2015 295.51
2016 995.87
2017 769.73
2018 570.00
2019 225.13
2020 1077.10
2021 967.60
2022 717.20
Jumlah (Σ) 6540.52
Banyak Data (n) 10.00
Rata - Rata (X) 654.05
Sumber data : Hasil Perhitungan
Banjir rancangan adalah banjir terbesar tahunan dengan suatu kemungkinan yang
tertentu, atau banjir dengan suatu kemungkinan periode ulang tertentu. Debit
banjir rancangan adalah curah hujan terbesar tahunan dengan suatu peluang
tertentu yang mungkin terjadi di suatu daerah pada periode ulang tertentu.
Distribusi Log Pearson Type III banyak digunakan dalam analisis hidrologi,
terutama dalam analisis data maksimum (banjir) dan minimum (debit minimum)
79
dengan nilai ekstrem (Soewarno, 1995:141). Metode ini sering dipakai dengan
pertimbangan bahwa metode ini lebih fleksibel dan dapat dipakai untuk semua
sebaran data, yang mana besarnya harga parameter statistiknya (Cs atau Ck) tidak
diperlukan oleh distribusi Log Pearson Type III adalah nilai Cs, Cv dan Ck seperti
a. Mengubah data debit banjir tahunan sebanyak n buah Q1, Q2, Q3, ………., Qn
menjadi log Q1, log Q2, log Q3, ………….., log Qn.
27 , 62
= = 2,76 mm
10
=
√ 0 ,52
9
= 0,24
10.(−0 , 06)
= = - 0,635
( 10−1 ) ( 10−2 ) 0 , 24 3
e. Menghitung logaritma debit dengan waktu balik yang dikehendaki dengan rumus
sebagai berikut :
= - 0,27 mm
= 0,07 mm
= 0,02 mm
Untuk langkah perhitungan selanjutnya dapat dihitung dengan cara yang sama.
Tabel 4. 21 Analisis Curah Hujan Rencana dengan Metode log pearson Type III
Qi
No Log Qi (Log Qi - Log Qi ̅) (Log Qi - Log Qi ̅)² (Log Qi - Log Qi ̅)³
(mm)
1077.1
1 3.03 0.27 0.07 0.02
0
2 995.87 3.00 0.24 0.06 0.01
3 967.60 2.99 0.22 0.05 0.01
4 769.73 2.89 0.12 0.02 0.00
5 717.20 2.86 0.09 0.01 0.00
6 603.57 2.78 0.02 0.00 0.00
7 570.00 2.76 -0.01 0.00 0.00
8 318.81 2.50 -0.26 0.07 -0.02
9 295.51 2.47 -0.29 0.09 -0.02
10 225.13 2.35 -0.41 0.17 -0.07
Jumlah 27.62 0.00 0.52 -0.06
Sumber data : Hasil Perhitungan
= 2,76 + (- 0,635).(0,24)
= 2,787 mm
Q = 10 logQt
81
Qt = 10 log2,787
Qt = 612,963 mm
K = Nilai distribusi pada tabel Log Pearson Type III (Tabel 2.6)
sama. Adapun hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.22 berikut.
Dari tabel 4.22, dapat dinyatakan bahwa hasil perhitungan data debit
rancangan untuk periode ulang 2 tahun = 612,963 mm, 5 tahun = 930,489 mm, 10
tahun = 1121,892 mm, 25 tahun = 1339,879 mm, 50 tahun = 1485,614 mm, 100
82
4.3. Pembahasan
Penelitian ini merupakan pengeolahan data curah hujan dan data debit yang
dilakukan pada Sungai Mata Allo, untuk mendapatkan debit banjir rencana.
1. Dari analisis perhitungan metode Log Pearson Type III, dapat dilihat pada tabel
4.7 Rekapitulasi Analisis Curah Hujan Rencana untuk Periode Ulang Tahun (Xt)
dengan Distribusi Log Pearson Type III, dapat dinyatakan bahwa hasil
perhitungan curah hujan rencana untuk periode ulang 2 tahun = 97,312 mm, 5
tahun = 109,456 mm, 10 tahun = 116,763 mm, 25 tahun = 125,381 mm, 50 tahun
2. Dari tabel 4.13, rekapitulasi hasil perhitungan debit banjir rencana metode HSS
Nakayasu dapat dinyatakan bahwa debit banjir rencana maksimum periode ulang
2957,151 m3/dtk
B. Data Debit
Dari analisis perhitungan metode Log Pearson Type III, dapat dilihat pada
tabel 4.16 Rekapitulasi Analisis Debit Banjir Rencana untuk Periode Ulang Tahun
(T) dengan Distribusi Log Pearson Type III, dapat dinyatakan bahwa hasil
perhitungan data debit rancangan untuk periode ulang 2 tahun = 612,963 mm, 5
Tabel 4.23 Rekap Debit Banjir Maksimum dari Data Debit dan Data Curah
Hujan
Debit Banjir
Debit Banjir
Rancangan dari
Kala Ulang (T) Rancangan dari Data Selisih (%)
Data Debit
Curah Hujan
(AWLR)
2 612.9626 2147.470 350.343
5 930.4893 2415.480 259.592
10 1121.8918 2576.716 229.676
25 1339.8794 2766.911 206.504
50 1485.6141 2839.004 191.100
100 1618.2014 2957.151 182.743
Sumber data : HasilPerhitungan
Dari grafik diatas, dapat disimpulkan bahwa data debit banjir rancangan dengan
84
rancangan dari data debit, dengan selisih untuk kala ulang 2 tahun 3,254%, 5
tahun 2,152%, 10 tahun 1,789%, 25 tahun 1,507%, 50 tahun 1,371%, dan 100
tahun 1,273%. Hal ini disebabkan karenaa erosi lahan di bagian DAS dan erosi
85
BAB V
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Data debit rancangan dengan metode HSS Nakayasu dapat dinyatakan bahwa
debit banjir rencana maksimum periode ulang 2 tahun = 2147,470 m3/dtk, 5 tahun
Analisis Debit Banjir Rencana untuk Periode Ulang Tahun (T) dengan Distribusi
Log Pearson Type III, dapat dinyatakan bahwa hasil perhitungan data debit
rancangan untuk periode ulang 2 tahun = 612,963 mm, 5 tahun = 930,489 mm, 10
tahun = 1121,892 mm, 25 tahun = 1339,879 mm, 50 tahun = 1485,614 mm, 100
bahwa data debit banjir rancangan dengan menggunakan data curah hujan lebih
tinggi, dibandingkan debit banjir rancangan dari data debit, dengan selisih untuk
kala ulang 2 tahun 3,254%, 5 tahun 2,152%, 10 tahun 1,789%, 25 tahun 1,507%,
5.2. Saran
86
Sehubung dengan selesainya penulisan Tugas akhir ini, penulis bermaksud
1. Hasil Hasil penelitian Tugas Akhir ini diharapkan dapat menjadi masukan
data baik data sekunder maupun data yang diperoleh secara langsung agar
dan terarah.
2. Diperlukan pemahaman akan sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Mata Allo
banjir) untuk memelihara alur sungai (normalisasi alur sungai) dari beban
periodik.
87
88