BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar
1. Konsep kebutuhan dasar manusia
Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow atau yang
disebut dengan Hierarki kebutuhan dasar Maslow yang meliputi lima
kategori kebutuhan dasar, yaitu:
a. Kebutuhan fisiologis Kebutuhan fisiologi merupakan kebutuhan
paling dasar, yaitu kebutuhan fisiologis seperti oksigen, cairan
(minuman), nutrisi (makanan), keseimbangan suhu tubuh, eliminasi,
tempat tinggal, istirahat dan tidur, serta kebutuhan seksual.
b. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan Kebutuhan rasa aman dan
perlindungan dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan
pisikologis. Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman
tubuh atau hidup. Ancaman tersebut dapat berupa penyakit,
kecelakaan, bahaya dari lingkungan dan sebagianya. Perlindungan
psikologis yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang
baru atau asing.
c. Kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki Kebutuhan rasa cinta
serta memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih
sayang, mendapatkan kehangatan keluarga, memiliki sahabat, diterima
oleh kelompok serta lingkungan sosial.
d. Kebutuhan harga diri Kebutuhan harga diri maupun perasaan dihargai
oleh orang lain. Kebutuhan ini terkait dengan keinginan untuk
mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri, dan
kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari
orang lain.
e. Kebutuhan aktualisasi diri Kebutuhan aktualisasi diri merupakan
kebutuhan tertinggi dalam hierarki maslow, berupa kebutuhan untuk
berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi
diri sepenuhnya.
5
6
2. Pengertian Oksigenasi
Oksigen merupakan kebutuhan dasar paling vital dalam kehidupan
manusia. Dalam tubuh oksigen berperan penting di dalam proses
metabolisme sel. Kekurangan oksigen akan menimbulkan dampak yang
bermakna bagi tubuh, salah satunya kematian. Karenanya, berbagai upaya
perlu selalu dilakukan untuk menjamin agar kebutuhan dasar ini terpenuhi
dengan baik. Adapun pengertian oksigenasi itu sendiri yaitu salah satu
komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk
kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh (Haswita & Sulistyowati, 2017).
3. Proses Oksigenasi
Proses oksigenasi melibatkan sistem pernafasan dan kardiovaskular.
Prosesnya terdiri dari 3 tahapan:
a. Ventilasi merupakan proses pertukaran udara atmosfer dengan alveoli.
Masuknya oksigen atmosfer ke dalam alveoli dan keluarnya
karbondioksida dari alveoli ke atmosfer yang terjadi saat respirasi
(inspirasi-ekspirasi)
b. Difusi proses pertukaran gas oksigen dengan karbondioksida antara
alveoli dengan darah pada membran kapiler alveolar paru.
c. Transportasi gas merupakan perpindahan gas ke paru ke jaringan dan
dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah) (Haswita &
Sulistyowati, 2017)
4. Faktor yang mempengaruhi Fungsi Oksigenasi
a. Posisi tubuh
Pada keadaan duduk atau berdiri pengembangan paru dan pergerakkan
diagfragma lebih baik daripada posisi datar atau tengkurap sehingga
pernapasan lebih mudah.
b. Lingkungan
Oksigen di atmosfer sekitar 21%, namun keadaan ini tergantung dari
tempat atau lingkungannya, contoh pada tempat yang tinggi, dataran
tinggi, dan daerah kutub akan membuat kadar oksigen menjadi
berkurang.
7
c. Polusi udara
Polusi udara yang terjadi baik karena industri maupun kendaraan
bermotor berpengaruh terhadap kesehatan paru paru dan kadar
oksigen karena mengandung karbon monoksida yang dapat merusak
ikatan oksigen dengan hemoglobin.
d. Gaya hidup dan kebiasaan
Kebiasaan merokok dapat menyebabkan penyakit pernapasan seperti
emfisema, bronkitis, kanker, dan infeksi lainnya. Pengguna alkohol
dan obat obatan memengaruhi susunan saraf pusat yang akan
mendepresi pernapasan sehingga menyebabkan frekuensi pernapasan
menurun.
e. Nutrisi
Nutrisi mengandung unsur nutrien sebagai sumber energi dan untuk
memperbaiki sel-sel rusak. Protein berperan dalam pembentukan
hemoglobin yang berfungsi mengikat oksigen untuk disebarkan ke
seluruh tubuh.
f. Peningkatan aktivitas tubuh
Aktivitas membutuhkan metabolisme untuk menghasilkan energi.
Metabolisme membutuhkan oksigen sehingga peningkatan
metabolisme akan meningkatkan kebutuhan lebih banyak oksigen
g. Obstruksi saluran pernapasan
Obstruksi saluran pernapasan seperti pada penyakit asma dapat
menghambat aliran udara masuk ke paru-paru (Tarwoto dan
Wartonah, 2015).
5. Masalah pada Oksigenasi
a. Hipokesmia
Merupakan keadaan di mana terjadi penurunan konsentrasi oksigen
dalam darah arteri (PaO2) atau saturasi oksigen dibawah normal
(normal PaO 85-100 mmHg, SaO2 95%). Keadaan ini disebabkan
oleh gangguan ventilasi, perfusi, difusi atau berada pada tempat yang
kurang oksigen. Tanda gejala hipoksemia diantaranya sesak nafas,
frekuensi nafas dapat meningkat serta sianosis.
8
b. Hipoksia
Merupakan keadaan kekurangan oksigen dijaringan atau tidak
adekuatnya pemenuhan kebutuhan oksigen seluler akibat defisiensi
oksigen yang diinspirasi atau meningkatnya pergunaan oksigen pada
tingkat seluler. Penyebabnya lain seperti menurunnya hemoglobin,
berkurangnya konsentrasi oksigen, ketidakmampuan jaringan
mengikat oksigen. Tanda Gejalanya seperti kelelahan, kecemasan,
menurunnya kemampuan konsentrasi, nadi meningkat, pernapasan
cepat dan dalam.
c. Gagal napas
Merupakan keadaan di mana terjadi kegagalan tubuh memenuhi
kebutuhan oksigen karena pasien kehilangan kemampuan ventilasi
secara adekuat sehingga terjadi kegagalan pertukaran karbon dioksida
dan oksigen. Gagal napas dapat disebabkan oleh gangguan sistem
saraf pusat yang mengontrol sistem pernapasan, kelemahan
neuromuskular, keracunan obat, gangguan metabolisme, kelemahan
otot pernapasan, obstruksi jalan napas.
d. Perubahan pola nafas
a) Tachypnea, merupakan pernapasan yang memiliki frekuensi lebih
dari 24 kali per menit. Proses ini terjadi karena paru dalam keadaan
atelektaksis atau terjadi emboli.
b) Bradypnea, merupakan pola pernapasan yang lambat dan kurang
dari 10 kali permenit. Pola ini dapat ditemukan dalam keadaan
peningkatan tekanan intracranial yang disertai narkotik atau sedatif.
c) Kusmaul, merupakan pola pernapasan cepat dan dangkal yang
dapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolik.
d) Dyspnea, merupakan perasaan sesak dan berat saat pernapasan. Hal
ini dapat disebabkan oleh perubahan kadar gas dalam
darah/jaringan, kerja berat/berlebihan, dan pengaruh psikis.
9
e) Orthopnea, merupakan kesulitan bernapas kecuali dalam posisi
duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang
yang mengalami kongestif paru.
f) Cheyne stokes, merupakan siklus pernapasan yang amplitudonya
mulamula naik, turun, berhenti, kemudian mulai dari siklus baru.
Pernapasan paradoksial, merupakan pernapasan yang ditandai
dengan pergerakan dinding paru berlawanan arah dari keadaan
normal, sering ditemukan pada keadaan atelektaksis.
g) Biot, merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengan
pergerakan Cheyne stokes tetapi aplitudonya tidak teratur, pola ini
sering dijumpai pada rangsangan selaput otak, tekanan intracranial
yang meningkat, trauma kepala, dan lain-lain.
h) Stridor, merupakan pernapasan bising yang terjadi karena
penyempitan pada saluran pernapasan. Pola ini pada umumnya
ditemukan pada kasus spasme trackea atau obstruksi laring
(Tarwoto dan Wartonah, 2015).
B. Tinjauan Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Nama, usia, jenis kelamin, alamat, [Link], status pernikahan,
agama, suku, pendidikan, pekerjaan, lama bekerja, No. RM, tanggal
masuk, tanggal pengkajian, sumber informasi, nama keluarga dekat yang
biasa dihubungi, status, alamat, [Link], pendidikan, dan pekerjaan.
b. Keluhan utama
Terdiri dari Sesak nafas ( saat aktivitas, paroxysmal nocturnal
dyspnea, orthopnea, atau saat istirahat), bengkak pada kedua kaki dan
tangan, lelah, pusing, nyeri dada, nafsu makan menurun, nausea, distensi
abdomen, urine menurun.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pengkajian yang mendukung keluhan utama dengan memberikan
pertanyaan tentang kronologi keluhan utama. Pengkajian yang didapat
dengan gejala-gejala kongesti vaskuler pulmonal, yakni munculnya
10
dispnea, ortopnea, batuk, dan edema pulmonal akut. Tanyakan juga
gajala-gejala lain yang mengganggu pasien.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Untuk mengetahui riwayat penyakit dahulu tanyakan kepada pasien
apakah pasien sebelumnya menderita nyeri dada khas infark miokardium,
hipertensi, DM. Tanyakan juga obat-obatan yang biasanya diminum oleh
pasien pada masa lalu, yang mungkin masih relevan. Tanyakan juga
alergi yang dimiliki pasien
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada keluarga pasien yang menderita penyakit jantung, dan
penyakit keturunan lain seperti DM, Hipertensi.
f. Pengkajian data Bio- Psiko –Sosial-Spiritual
1) Aktivitas dan istirahat: menunjukkan adanya kelelahan, insomnia,
letargi, sakit dada, dispnea pada saat istirahat atau saat beraktivitas.
2) Sirkulasi: ada kelainan katup, riwayat bedah jantung, endokarditis,
anemia, syok septik, bengkak pada kaki, asites, takikardi, disritmia,
dan hepatomegali.
3) Status mental: pasien gagal jantung kongestif yang dirawat di
rumah sakit biasanya akan mengalami perubahan status mental
seperti cemas, gelisah, mudah marah, stress yang berhubungan
dengan penyakit hingga permasalahan finansial.
4) Eliminasi: menunjukkan penurunan output urine dan lebih pekat,
nokturia, diare, konstipasi.
5) Makanan dan cairan: hilangnya nafsu makan, mual muntah, dan
edema pada ekstremitas bawah.
6) Neurologi: muncul pusing, letargi, disorientasi, hingga pingsan.
7) Rasa nyaman: pada umumnya pasien akan mengalami sakit dada
atau angina akut hingga kronik.
8) Perasaan aman: akan mengalami perubahan status mental, hingga
gangguan pada kulit atau dermatitis.
11
9) Interaksi sosial: mengalami perubahan interaksi sosial setelah sakit
yaitu berkurangnya aktivitas sosial karena mengalami suatu
penyakit.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum: Kesadaran dan keadaan emosi, kenyamanan,
distress, sikap dan tingkah laku pasien
2) Head to toe
a) Kepala: bentuk, kesimetrisan
b) Mata: konjungtiva anemis, ikterik atau tidak?
c) Hidung: Pernapasan dengan cuping hidung(megap-megap,
dispnea)
d) Mulut dan bibir: Membran mukosa sianosis (karena penurunan
oksigen) bernapas dengan mengerutkan mulut (dikaitkan dengan
penyakit paru kronik)
e) Leher: apakah ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe, Adanya
distensi/bendungan (dikaitkan dengan gagal jantung kanan)
f) Dada: gerakan dada, deformitas
g) Abdomen: Terdapat asites, hati teraba dibawah arkus kosta
kanan
h) Ekstremitas: reflex, warna dan tekstur kulit, edema, clubbing,
bandingkan arteri radialis kiri dan kanan.
i) Kulit Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunya aliran darah
perifer), Sianosis secara umum (hipoksemia), Penurunan turgor
(dehidrasi), Edema (dikaitkan dengan gagal jantung kiri dan
gagal jantung kanan)
j) Jari dan kuku, Sianosis perifer (karena kurangnya suplai oksigen
ke perifer), Clubing finger (karena hipoksemia kronik).
h. Pemeriksaan khusus jantung :
1) Inspeksi: vena leher dengan JVP meningkat, letak ictus cordis
(normal: ICS ke5)
2) Palpasi: PMI bergeser kekiri, inferior karena dilatasi atau hepertrofi
ventrikel , denyut jantung meningkat, serta edema pada ekstremitas.
12
3) Perkusi: batas jantung normal pada orang dewasa
a) Kanan atas: SIC II Linea Para Sternalis Dextra
b) Kanan bawah: SIC IV Linea Para Sternalis Dextra
c) Kiri atas: SIC II Linea Para Sternalis sinistra
d) Kiri bawah: SIC IV Linea Medio Clavicularis Sinistra
4) Auskulatsi: bunyi jantung I dan II
a) BJ I terjadi karena getaran menutupnya katup atrioventrikular,
yang terjadi pada saat kontraksi simetris dari bilik pada
permulaan systole
b) BJ II terjadi akibat getaran menutupnya katup aorta dan arteri
pulmonalis pada dinding toraks. Ini terjadi kira-kira pada
permulaan diastole.
c) BJ II normal selalu lebih lemah daripada BJ I
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis mengenai
respon pasien terhadap masalah kesehatan (PPNI, Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia, 2017). Diagnosa berdasarkan SDKI adalah :
Tabel 2.1 Diagnosa keperawatan
No Diagnosa Penyebab/ Tanda & Gejala Kondisi klinis
faktor resiko Mayor Minor terkait
1. Penurunan 1. Penurunan Subjektif: Subjektif: 1. Gagal
curah irama jantung Palpitasi, Cemas dan jantung
jantung 2. Perubahan lelah, dispnea, gelisah kongestif
(D.0008) frekuensi paroxymal sindrom
jantung nocturnal, Objektif: koroner akut
Definisi: 3. Perubahan otopnea, batuk Murmur 2. Stenosis
ketidakadekua kontraktilitas jantung, berat mitra
tan jantung 4. Perubahan Objektif: badan 3. Stenosis
memompa preload Bradikardi/tak bertambah, aorta
darah untuk 5. Perubahan ikardia, cardiac index 4. Aritmia
memenuhi afterload edema, (CI) 5. Penyakit
kebutuhan distensi vena jantung
metabolisme jugularis, bawaan
tubuh tekanan darah
meningkat,
terdengar
suara jantung
S3 dan S4
2 Pola nafas 1. Depresi pusat Subjektif: Subjektif: 1. Depresi
tidak efektif pernapasan Dispnea Ortopnea sistem saraf
(D.0005) 2. Hambatan pusat
13
upaya napas Objektif: Objektif: 2. Cedera
Definisi: 3. Deformitas Penggunaan Pernapasan kepala
inspirasi dinding dada otot bantu pursed-lip, 3. Trauma
dan/atau 4. Deformitas pernapasan, pernapasan thorak
ekspirasi yang tulang dada fase ekspirasi cuping hidung, 4. Stroke
tidak 5. Gangguan memanjang, diameter
memberikan neuromuskula pola napas thoraks
ventilasi r abnormal anterior-
adekuat 6. Gangguan (takipnea, posterior
neurologis bradipnea) meningkat,
7. Penurunan ventilasi
energi semenit
8. Obesitas menurun
3 Hipervolemia 1. Gangguan Subjektif: Subjektif: 1. Penyakit
(D.0022) mekanisme Ortopnea, Tidak tersedia ginjal:gagal
regulasi Dispnea ginjal
Definisi: 2. Kelebihan akut/kronis
peningkatan asupan caran Objektif: Objektif: 2. Hipoalbumi
volume cairan 3. Kelebihan Edema Distensi vena nemia
intravaskuler, asupan anasarka atau jugularis, 3. Gagal
interstisiel, Natrium edem aperifer, terdengar jantung
dan/atau 4. Gangguan berat badan suara napas kongestif
intraseluler. aliran balik meningkat tambahan, 4. Kelainan
vena dalam waktu hepatomegali, hormon
5. Efek agen singkat, kadar Hb/Ht 5. Penyakit
farmakologis Jugularis turun, Oliguria hati
Venous 6. Penyakit
Pressure JVP vena perifer
meningkat
4. Intoleransi 1. Ketidakcukup Subjektif: Subjektif: 1. Anemia
aktivitas an antara Mengeluh Dispnea 2. Gagal
(D.0056) suplai dan lelah saat/setelah jantung
kebutuhan aktivitas, kongestif
Definisi: oksigen Objektif: merasa tidak 3. Penyakit
ketidakcukupa 2. Tirah baring Frekuensi nyaman jantung
n energi untuk 3. Kelemahan jantung setelah koroner
melakukan 4. Imobilitas meningkat beraktivitas, 4. Penyakit
aktivitas 5. Gaya hidup >20% dari merasa lemah katup
sehari-hari monoton kondisi jantung
istirahat Objektif: 5. Aritmia
Tekanan darah 6. PPOK
berubah >20%
dari kondisi
istirahat,
gambaran
EKG
menunjukkan
aritmia
saat/setelah
aktivitas,
sianosis
Sumber: Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017)
14
3. Rencana Keperawatan
Rencana keperawatan merupakan tahapan selanjutnya dari
diagnosis keperawatan yang sudah ditegakkan. Dalam rencana keperawatan
pada gagal jantung kongestif penulis akan lebih fokus pada rencana untuk
penurunan curah jantung (PPNI, SIKI & SLKI, 2018).
Tabel 2.2 Intervensi keperawatan
No Diagnosa Tujuan & Kriteria hasil Intervensi keperawatan
keperawatan
1 Penurunan Tujuan: Setelah dilakukan Perawatan jantung (I.02075)
Curah Jantung tindakan keperawatan a. Identifikasi tanda gejala
(D.0008) 3x24 jam diharapkan primer penurnan curah jantung
keadekuatan darah (meliputi dispnea, kelelahan,
memompa jantung edema)
meningkat b. Identifikasi tanda gejala
sekunder penurunan curah
Kriteria hasil: jantung meliputi penurunan
a. Kekuatan nadi perifer berat badan, distensi vena
meningkat jugularis
b. Palpitasi menurun c. Monitor tekanan darah
c. Bradikardi/takikardi d. Monitor intake dan outpute
menurun cairan
d. Lelah menurun e. Monitor saturasi oksigen
e. Edema menurun f. Monitor aritmia
f. Distensi vena jugularis g. Posisikan semi fowler atau
menurun fowler
g. Dispnea menurun h. Fasilitasi pasien dan keluarga
h. Tekanan darah untuk modifikasi gaya hidup
membaik sehat
i. Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi
oksigen
j. Anjurkan aktivitas secara
bertahap
k. Kolaborasi pemberian
antiaritmia
2 Pola nafas tidak Tujuan: Setelah dilakukan Manajamen pola nafas
efektif (D.0005) tindakan keperawatan (I.01011)
3x24 jam diharapkan pola a. Monitor pola napas
nafas membaik (frekuensi,kedalaman,usaha
napas)
Kriteria Hasil: b. Monitor bunyi napas
a. Dispnea menurun (gargling,ronkhi)
b. Penggunaan otot bantu c. Monitor sputum
napas menurun d. Posisikan semi fowler
c. Pemanjangan fase e. Berikan minum hangat
ekspirasi menurun f. Lakukan fisioterapi dada
d. Frekuensi napas g. Berikan oksigen,jika perlu
membaik h. Ajarkan teknik batuk efektif
e. Kedalaman napas i. Kolaborasi pemberian
membaik bronkodilator, jika perlu
15
3 Hipervolemia Tujuan: Setelah dilakukan Manajemen hipervolemia
(D.0022) tindakan keperawatan (I.03114)
3x24 jam diharapkan a. Periksa tanda gejala
keseimbangan cairan hipervolemia seperti dispnea
meningkat dan edema
vena jugularis meningkat
Kriteria Hasil: b. Identifikasi penyebab
a. Asupan cairan hipervolemia
meningkat c. Monitor intake dan output
b. Haluaran urin cairan
meningkat d. Batasi asupan caran dan
c. Kelembaban membran garam
mukosa meningkat e. Ajarkan cara mengukur dan
d. Edema menurun mencatat asupan dan
e. Dehidrasi menurun haluaran cairan
f. Turgor kulit membaik f. Ajarkan cara membatasi
cairan
g. Kolaborasi pemberian
diuretik
4 Intoleransi Tujuan: Setelah dilakukan Manajemen energi (I.05178)
Aktivitas tindakan keperawatan a. Identifikasi gangguan fungsi
(D.0056) 3x24 jam diharapkan tubuh yang mengakibatkan
Respons terhadap aktivitas kelelahan
meningkat b. Monitor kelelahan fisik dan
emosional
Kriteria hasil: c. Monitor pola dan jam tidur
a. Frekuensi nadi d. Lakukan rentang gerak pasif
meningkat dan aktif
b. Saturasi oksigen e. Anjurkan tirah baring
meningkat f. Anjurkan melakukan aktivitas
c. Kemudahan dalam secara bertahap
melakukan aktivitas g. Ajarkan strategi koping untuk
meningkat mengurangi kelelahan
d. Keluhan lelah menurun h. Kolaborasi dengan ahli gizi
e. Dispnea saat aktivitas tentang cara meningkatkan
menurun asupan makanan
f. Perasaan lemah
menurun
g. Frekuensi napas
membaik
Sumber: Tim Pokja SLKI, SIKI DPP PPNI (2018)
4. Implementasi Keperawatan
Menurut PPNI, (2018). Implementasi atau tindakan keperawatan
adalah perilaku atau aktivitas spesifik yang dikerjakan oleh perawat untuk
mengimplementasikan intervensi yang disusun dalam tahap perencanaan
kemudian mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat tindakan
keperawatan dan respon klien terhadap tindakan yang diberikan.
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah status
16
kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Proses pelaksanaan
implementasi harus berpusat kepada kebutuhan pasien, faktor-faktor lain
yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi
keperawatan, dan kegiatan komunikasi.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan untuk
dapat menentukan keberhasilan dalam asuhan keperawatan.
Membandingkan status keadaan kesehatan pasien dengan tujuan atau
kriteria hasil yang telah ditetapkan (Tarwoto dan Wartonah, 2015).
Langkah –langkah evaluasi adalah sebagai berikut:
2.3 Evaluasi keperawatan sesuai SLKI
Diagnosa keperawatan: Penurunan curah jantung
Curah jantung (L.02008) Kriteria hasil:
1. Kekuatan nadi perifer meningkat
Definisi: 2. Ejection fraction (EF) meningkat
Keadekuatan jantung memompa darah 3. Palpitasi menurun
untuk memenuhi kebutuhan metabolisme 4. Bradikardia/Takikardia menurun
tubuh 5. Lelah menurun
6. Edema menurun
7. Distensi vena jugularis menurun
8. Dispnea menurun
9. PND menurun
10. Pucat/sianosis menurun
11. Suara jantung S3 menurun
12. Hepatomegali menururun
Diagnosa keperawatan: Pola nafas tidak efektif
Pola nafas (L.01004) Kriteria hasil:
1. Ventilasi semenit meningkat
Definisi: 2. Dispnea menurun
Inspirasi atau ekspirasi yang memberikan 3. Penggunaan otot bantu napas menurun
ventilasi adekuat 4. Pemanjangan fase ekspirasi menurun
5. Ortopnea menurun
6. Pernapasan cuping hidung menurun
7. Frekuensi napas membaik
8. Kedalaman napas membaik
Diagnosa keperawatan: Hipervolemia
Keseimbangan cairan (L.03020) Kriteria hasil:
1. Asupan cairan meningkat
Definisi: 2. Haluaran urine meningkat
Ekuilibrium antara volume cairan diruang 3. Asupan makanan meningkat
intraseluler dan ekstraseluler tubuh 4. Edema menurun
5. Dehidrasi menurun
6. Tekanan darah membaik
7. Membran mukosa membaik
Diagnosa keperawatan: Intoleransi aktivitas
Toleransi aktivitas (L.05047) Kriteria hasil:
17
1. Frekuensi nadi meningkat
Definisi: 2. Saturasi oksigen meningkat
Respon fisiologis terhadap aktivitas yang 3. Keluhan lelah menurun
membutuhkan tenaga 4. Dispnea saat aktivitas menurun
5. Dispnea setelah aktivitas menurun
6. Sianosis menurun
7. Warna kulit membaik
8. Frekuensi napas membaik
Sumber: Tim Pokja SLKI DPP PPNI (2018)
C. Tinjauan Konsep Penyakit
1. Definisi ADHF
Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) atau yang disebut juga
gagal jantung dekompensasi adalah suatu kondisi perburukan atau munculnya
gejala atau tanda-tanda gagal jantung yang terjadi dengan cepat dan
mendadak. Kondisi ini merupakan kondisi medis yang mengancam jiwa yang
memerlukan evaluasi dan tata laksana segera. ADHF yaitu penyakit gagal
jantung akut dimana serangan nya cepat dari gejala-gejala yang diakibat oleh
abnormalnya fungsi jantung. Disfungsi dapat berupa sistolik maupun diastolik
abnormalitas irama jantung. Gagal jantung bisa terjadi pada seseorang dengan
serangan baru tanpa kelainan jantung sebelumnya (Tjahjono, 2021).
ADHF penyakit gagal jantung akut dimana serangan nya cepat dari
gejala-gejala yang diakibat oleh abnormalnya fungsi jantung. Disfungsi dapat
berupa sistolik maupun diastolik abnormalitas irama jantung. Gagal jantung
bisa terjadi pada seseorang dengan serangan baru tanpa kelainan jantung
sebelumnya. Decompensasi cordis adalah suatu kondisi dimana jantung
mengalami penurunan atau kegagalan dalam memompa darah dimana terjadi
penurunan kemampuan kontraktilitas fungsi pompa jantung untuk mencukupi
kebutuhan tubuh akan nutrisi dan oksigen secara adekuat (Kardiyudiani,
2019).
Pada gagal jantung kanan akan timbul masalah seperti : edema,
anorexia, mual, dan sakit didaerah perut. Sementara itu gagal jantung kiri
menimbulkan gejala cepat lelah, berdebar-debar, sesak nafas, batuk, dan
penurunan fungsi ginjal. Bila jantung bagian kanan dan kiri sama-sama
mengalami keadaan gagal akibat gangguan aliran darah dan adanya
18
bendungan, maka akan tampak gejala gagal jantung pada sirkulasi sitemik
dan sirkulasi paru
Pasien gagal jantung mengeluhkan berbagai jenis gejala, salah satunya
yang tersering adalah sesak nafas (dyspnea) yang semakin berat dan biasanya
tidak hanya dikaitkan dengan peningkatan tekanan pengisian jantung, tetapi
juga mempresentasikan keterbatasan curah jantung.
a. Anatomi Jantung
Gambar 2.1 Anatomi Jantung
Jantung adalah organ berupa otot, berbentuk kerucut, berongga,
basisnya diatas, dan puncaknya dibawah. Aspeknya (puncaknya)
miring kesebelah kiri. Berat jantung kira-kira 300 gram.
Sistem peredaran darah terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan
saluran limfe. Jantung merupakan organ pemompa besar yang
memelihara peredaran melalui seluruh tubuh. Arteri membawa darah
dari jantung. Vena membawa darah ke jantung kapiler
menggabungkan arteri dan vena, terentang diantaranya dan
merupakan jalan lalu lintas antara makanan dan bahan buangan.
19
b. Fisiologi Jantung
Sisklus jantung merupakan periode ketika jantung kontraksi
dan relaksasi. Satu kali siklus jantung sama dengan satu periode
sistole (saat ventrikel kontraksi) dan satu periode diastole ( saat
ventrikel relaksasi). Normalnya, siklus jantung dimulai dengan
depolarisasi spontan sel pacemarker dari SA node dan berakhir
dengan keadaan relaksasi ventrikel.
Ada 5 pembuluh darah mayor yang mengalirkan darah ke
jantung. Vena cava inferior dan vena cava superior mengumpulkan
darah dari sirkulasi vena dan mengalirkan darah tersebut ke jantung
sebelah kanan. Darah masuk ke atrium kanan, dan melalui katup
trikuspid menuju ventrikel kanan, kemudian ke paru-paru melalui
katup pulmonal. Darah tersebut melepaskan karbondioksida,
mengalami oksigenasi di paru-paru,selanjutnya darah ini kemudian
menuju atrium kiri melalui keempat vena pulmonalis. Tekanan ini
selanjutnya dinamakan tekanan darah diastolik. Pada kedua atrium
dan ventrikel ini berkontraksi secara bersamaan.
Curah jantung merupakan volume darah yang dipompakan
selama satu menit. Curah jantung ditentukan oleh jumlah denyut
jantung permenit dan stroke volume. Isi sekuncup ditentukan oleh
1) Beban awal
Pre-load adalah keadaan ketika serat otot ventrikel kiri jantung
memanjang atau meregang sampai akhir diastole. Pre-load adalah
jumlah darah yang berada dalam ventrikel pada akhir diastole.
2) Daya kontraksi
Kekuatan kontraksi otot jantung sangat berpengaruh terhadap curah
jantung, makin kuat kontraksi otot jantung dan tekanan ventrikel.
Daya kontraksi dipengaruhi oleh keadaan miokardium,
keseimbangan elektrolit terutama kalium, natrium, kalsium, dan
keadaan konduksi jantung.
20
3) Beban akhir
After load adalah jumlah tegangan yang harus dikeluarkan ventrikel
selama kontraksi untuk mengeluarkan darah dari ventrikel melalui
katup semilunar aorta. Kondisi yang menyebabkan baban akhir
meningkat akan mengakibatkan penurunan isi sekuncup.
2. Etiologi ADHF
Faktor-faktor penyebab dekompensasi akut pada pasien gagal jantung
kronik adalah (Kardiyudiani, 2019).
a. Penurunan kontrakktilitas
b. Penyempitan pembuluh darah koroner
c. Putus obat atau reduksi dosis yang tidak tepat untuk terapi gagal
jantung
d. Iskemia miokard/infark.
e. Aritmia (takikardia atau bradikardia)
f. Beban tekanan berlebihan pembebanan sistolik (systolic overload)
Beban berlebihan pada kemampuan ventrikel menyebabkan
pengosongan ventrikel terhambat.
g. Beban volume berlebihan pembebanan diastolic (diastolic overload)
h. Konsumsi alcohol
i. Hipertensi yang semakin parah
Menurut (Smeltzer & Brenda, 2010) gagal jantung disebabkan
dengan berbagai keadaan seperti:
a. Kelainan otot jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot
jantung,disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang
mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung mencakup
aterosklerosis koroner, hipertensi arterial dan penyakit degeneratif
atau inflamasi misalnya kardiomiopati.
Peradangan dan penyakit miocardium degeneratif, berhubungan
dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak
serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
21
b. Aterosklerosis koroner
Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium
karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan
asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium
(kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung.
Infark miokardium menyebabkan pengurangan kontraktilitas,
menimbulkan gerakan dinding yang abnormal dan mengubah daya
kembang ruang jantung.
c. Hipertensi Sistemik atau pulmonal (peningkatan after load)
Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya
mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung. Hipertensi dapat
menyebabkan gagal jantung melalui beberapa mekanisme, termasuk
hipertrofi ventrikel kiri. Hipertensi ventrikel kiri dikaitkan dengan
disfungsi ventrikel kiri sistolik dan diastolik dan meningkatkan risiko
terjadinya infark miokard, serta memudahkan untuk terjadinya aritmia
baik itu aritmia atrial maupun aritmia ventrikel
d. Penyakit jantung lain
Terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang
secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat
mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung (stenosis katub
semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah(tamponade,
pericardium, perikarditif konstriktif atau stenosis AV), peningkatan
mendadak after load. Regurgitasi mitral dan aorta menyebabkan
kelebihan beban volume (peningkatan preload) sedangkan stenosis
aorta menyebabkan beban tekanan (after load)
e. Faktor sistemik
Terdapat sejumlah besar faktor yang berperan dalam
perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju
metabolisme (misal: demam, tirotoksikosis). Hipoksia dan anemia
juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis
respiratorik atau metabolik dan abnormalitas elektronik dapat
menurunkan kontraktilitas jantung.
22
3. Tanda dan gejala
Gejala dan tanda umum gagal jantung dekompensasi (Yuniadi Y,dkk,
2017):
a. Dispnea (saat aktivitas, paroxysmal nocturnal dyspnea, orthopnea,
atau saat istirahat)
b. Takipnea
c. Batuk
d. Berkurangnya kapasitas aktivitas fisik
e. Nokturia
f. Peningkatan /penurunan berat badan
g. Edema (ektremitas, atau daerah lainnya)
h. Penurunan nafsu makan atau rasa kenyang yang cepat
i. Dengan asites/lingkar perut bertambah, kuadran kanan atas nyeri/tidak
nyaman, hepatomegaly/splenomegaly, sklera icterus, berat badan
bertambah, tekanan vena jugularis meningkat, bunyi jantung S3
meningkat.
j. Lelah yang ditandai dengan extremitas dingin.
k. Berkonsentrasi yang ditandai dengan pucat, kulit agak kelabu,
perubahan warna kulit, hipotensi.
l. Gangguan tidur.
m. Palpitasi.
4. Patofisologi ADHF
ADHF dapat muncul pada organ yang sebelumnya menderita gagal
jantung atau belum pernah mengalami gagal jantung, patofisiologi Adhf
secara umum dibagi menjadi dua bagian yaitu kegagalan fungsi jantung
dan kegagalan fungsi vaskular. Pada kegagalan fungsi jantung,
mekanisme yang mendominasi adalah ejection fraction (EF) ventrikel kiri
yang rendah dengan tekanan darah arteri normal atau rendah. Kegagalan
fungsi vaskular disebabkan oleh vasokonstriksi hebat yang menyebabkan
peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri (Tjahjono, 2021).
Kelainan fungsi otot jantung disebabkan oleh aterosklerosis koroner,
hipertensi arterial dan penyakit otot degeneratif atau inflamasi.
23
Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena
terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis
(akibat penumpukan asam laktat). Infark Miokardium biasanya
mendahului terjadinya gagal jantung. Hipertensi sistemik pulmonal
(peningkatan afterload) meningkatkan beban kerja jantung dan pada
gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.
Efek tersebut (hipertrofi miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme
kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung. Hipertrofi
otot jantung menyebabkan jantung tidak dapat berfungsi secara normal,
dan akhirnya terjadi gagal jantung. Hal ini tentunya akan meningkatkan
bendungan darah diparu-paru. Bendungan akan mengakibatkan aliran ke
jaringan dan alveolus paru terjadi edema pada paru.
Gagal jantung dapat dimulai dari sisi kiri atau kanan jantung. Sebagai
contoh, hipertensi sitemik yang kronis akan menyebabkan ventrikel kiri
mengalami hipertrofi dan melemah. Hipertensi paru yang berlangsung
lama akan menyebabkan ventrikel kanan mengalami hipertofi dan
melemah. Letak suatu infark miokardium akan menentukan sisi jantung
yang pertama kali terkena setelah terjadi serangan jantung.
Tanda dominan ADHF yaitu tekanan arteri dan vena meningkat.
Tekanan ini mengakibatkan peningkatan tekanan vena pulmonalis
sehingga cairan mengalir dari kapiler ke alveoli dan terjadilah edema
paru. Edema paru mengganggu pertukaran gas di alveoli sehingga timbul
dispnea dan ortopnea. Keadaan ini membuat tubuh memerlukan energi
yang tinggi untuk bernafas sehingga menyebabkan pasien mudah lelah.
Dengan keadaan yang mudah lelah ini penderita cenderung immobilisasi
lama sehingga berpotensi menimbulkan thrombus intrakardial dan
intravaskuler. Begitu penderita meningkatkan aktivitasnya sebuah
thrombus akan terlepas menjadi embolus dan dapat terbawa ke ginjal,
otak, usus dan tersering adalah ke paru-paru menimbulkan emboli paru.
Emboli sistemik juga dapat menyebabkan stroke dan infark ginjal.
24
5. Pathway ADHF
Gambar 2.2 Pathway ADHF (Nurarif, 2015)
25
6. Klasifikasi Gagal Jantung
Klasifikasi Fungsional gagal jantung sebagai berikut:
Tabel 2.4 : Klasifikasi Fungsional gagal
jantung
Tidak ada batasan: aktivitas fisik yang biasa tidak
Kelas 1 menyebabkan dipsnea napas, palpitasi atau keletihan
berlebihan
Gangguan aktivitas ringan: merasa nyaman ketika
Kelas 2 beristirahat, tetapi aktivitas biasa menimbulkan keletihan
dan palpitasi.
Keterbatasan aktifitas fisik yang nyata: merasa nyaman
Kelas 3 ketika beristirahat, tetapi aktivitas yang kurang dari biasa
dapat menimbulkan gejala.
Tidak dapat melakukan aktifitas fisik apapun tanpa
merasa tidak nyaman: gejala gagal jantung kongestif
Kelas 4 ditemukan bahkan pada saat istirahat dan
ketidaknyamanan semakin bertambah ketika melakukan
aktifitas fisik apapun.
Sumber : (Asociation, 2015)
7. Manifestasi Klinis ADHF
a. Sesak nafas (dyspnea) muncul saat istirahat dan beraktivitas.
b. Ortopnea yaitu saat berbaring sesak nafas, memerlukan posisi tidur
setengah duduk dengan menggunakan bantal lebih dari satu.
c. Paroxysmal Nocturnal Dyspneu (PND) yaitu sesak tiba-tiba pada
malam hari
d. Terasa sesak nafas dan disertai batuk-batuk
e. Takikardia dan berdebar-debar
f. Mudah lelah (fatique)
g. Penumpukan cairan pada jaringan atau edema. Edema disebabkan
oleh aliran darah yang keluar dari jantung melambat, sehingga darah
balik ke jantung menjadi terhambat. Hal tersebut mengakibatkan
cairan menumpuk di jaringan. Kerusakan ginjal yang tidak mampu
mengeluarkan natrium dan air juga menyebabkan retensi cairan dalam
jaringan. Penumpukan cairan di jaringan ini dapat terlihat dari
bengkak di kaki maupun pembesaran perut (Kardiyudiani, 2019).
26
8. Penatalaksanaan ADHF
Penatalaksanaan terhadap pasien gagal jantung harus dilakukan
agar tidak terjadi perburukan kondisi. Tujuan penatalaksanaan adalah
untuk menurunkan kerja otot jantung, meningkatkan kemampuan pompa
ventrikel, memberikan perfusi adekuat pada organ penting, mencegah
bertambah parahnya gagal jantung dan merubah gaya hidup (Muttaqin,
2012).
a. Keperawatan
1) Tirah Baring
Dimana akan mengurangi kerja jantung yang meningkat sehingga
tenaga jantung menurunkan tekanan darah melalui induksi diuresis
berbaring.
2) Oksigen
Pemenuhan oksigen ini akan mengurangi pada demand miokard
yang membantu memenuhi kebutuhan oksigen pada tubuh.
3) Diet
Pengaturan diet ini akan membuat ketegangan otot jantung
berkurang. Selain itu pembatasan natrium ditujukan untuk
mencegah, mengatur, atau mengurangi edema.
Terapi non farmakologi:
a. Diet rendah garam
b. Pembatasan cairan
c. Mengurangi BB
d. Menghindari alkohol
e. Mengurangi stress
f. Pengaturan aktivitas fisik
b. Medis
1) Digitalis: untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan
memperlambat frekuensi jantung misal: digoxin 2 diuretik: untuk
memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal serta mengurangi
edema paru misal: Furosemide (lasix)
27
2) Vasodilator untuk mengurangi tekanan terhadap penyemburan
darah oleh ventrikel misal Natriumnitrofusida, nitrogliserin
3) Angiotension Converting Enzyme Inhibitor (Ace Inhibitor) adalah
agen yang menghambat pembentukan angiotensi II sehingga
menutunkan tekanan darah. Obat ini juga menurunkan beban awal
(preload) dan beban akhir (afterload) misal: catropil, ramipril,
fosinopril
4) Inotropik (dopamin dan dobutamin). Dopamin untuk meningkatkan
tekanan darah, curah jantung dan produksi. Urin pada syok
kerdiogenik dobutamin untuk menstimulasi adrenoreseptor
dijantung sehingga menigkatkan penurunan tekanan darah
(Muttaqin, 2012).
9. Komplikasi ADHF
Komplikasi gagal jantung akut adalah:
a. Komplikasi paru: pneumonia dan pulmonary embolus, dan jika telah
mengalami edema paru akut berulang dapat terjadi episode akut
menyebabkan kematian sebelum mendapatkan perawatan medis.
b. Stroke: terjadi karena aliran darah dapat menjadi relatif “lamban” dan
sebagian karena gumpalan darah yang terbentuk di jantung dapat
melakukan perjalanan ke otak dan menyebabkan kematian jaringan
otak.
c. Kegagalan organ: karena suplai darah ke organ berkurang sehingga
menyebabkan kerusakan organ, seperti gagal ginjal, dan gangguan
gastrointestinal yang parah.
d. Kematian mendadak: disebabkan oleh aritmia jantung (takikardia
ventrikel atau fibrilasi ventrikel), namun, juga bisa karena otot jantung
yang sudah rusak tiba-tiba berhenti merespons sinyal listrik jantung
sering disebut sebagai "disosiasi elektro-mekanis."
28
10. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut (Nurarif, 2015) pada pasien
ADHF yaitu:
a. Rontgen toraks: menunjukkan adanya kongesti paru, efusi pleura, edema
interstitial atau alveolar.
b. Elektrokardiografi (EKG): EKG dilakukan dengan 12 lead, untuk
mengidentifikasi penyakit jantung yang mendasarinya seperti, iskemia
miokard akut, atrial fibrilasi, kardiomegali, dan gangguan irama jantung
yang lain.
Ekokardiografi model M (berguna untuk mengevaluasi volume balik dan
kelainan regional, model M paling sering dipakai dan ditanyakan
bersama EKG) Ekokardiografi dua dimensi (CT scan). Ekokardiografi
dopoler (memberikan pencitraan dan pendekatan transesofageal terhadap
jantung)
c. Radiografi dada Dapat menunjukkan pembesaran jantung. Bayangan
mencerminkan dilatasi atau hipertropi bilik, atau perubahan dalam
pembuluh darah abnormal
d. Katerisasi jantung: dengan menggunakan zat kontras disuntikan kedalam
ventrikel menunjukkan ukuran normal dan ejeksi fraksi/perubahan
kontraktilitas, jika tekanan abnormal menjadi indikasi membedakan
gagal jantung sisi kanan, sisi kiri, dan stenosis katup atau insufisiensi,
juga mengkaji potensi arteri kororner.
e. Tes laboratorium
1) Cardiac troponin: berguna untuk mendeteksi ACS sebagai penyebab
AHF.
2) Analisa gas darah: Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis
respiratory ringan (dini) atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2
(akhir)
3) Hitung darah lengkap: pada keadaan anemia penting untuk
pertimbangan manajemen segera, serta prognosis.
4) Tes fungsi ginjal: nitrogen urea darah (BUN), kreatinin, elektrolit
darah (natrium, kalium), laju filtrasi glomerulus. Pada keadaan adanya
29
gangguan fungsi ginjal penting untuk pertimbangan manajemen
segera, serta prognosis.
5) Tes fungsi hati tes fungsi hati yang abnormal mengidentifikasi pasien
yang berisiko prognosis buruk dan untuk manajemen yang optimal.