0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Jenis dan Kegunaan Waduk di Indonesia

Dokumen ini membahas tentang waduk, termasuk jenis-jenisnya, kegunaan, dan pembangunan Waduk Undip di Semarang. Waduk berfungsi untuk penyediaan air, pembangkit hidroelektrisitas, pengendalian banjir, dan rekreasi. Selain itu, dokumen juga menjelaskan persyaratan kualitas air dan parameter penting seperti pH, salinitas, TSS, dan TDS.

Diunggah oleh

adam nelfi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Jenis dan Kegunaan Waduk di Indonesia

Dokumen ini membahas tentang waduk, termasuk jenis-jenisnya, kegunaan, dan pembangunan Waduk Undip di Semarang. Waduk berfungsi untuk penyediaan air, pembangkit hidroelektrisitas, pengendalian banjir, dan rekreasi. Selain itu, dokumen juga menjelaskan persyaratan kualitas air dan parameter penting seperti pH, salinitas, TSS, dan TDS.

Diunggah oleh

adam nelfi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Waduk

Waduk atau reservoir adalah danau alam atau danau buatan, kolam

penyimpan atau pembendungan sungai yang bertujuan untuk menyimpan air.

Waduk dapat dibangun di lembah sungai dengan teknik konstruksi konvensional

seperti pembuatan tembok atau menuang beton.

2.1.1 Jenis Waduk

a. Waduk lembah

Waduk dibangun di lembah dengan memanfaatkan topografinya dan

mendapatkan air untuk waduk. Bagian pinggir lembah dimanfaatkan sebagai

tembok dan bendungannya terletak di bagian yang paling sempit, yang

biasanya memberikan kekuatan lebih besar dengan biaya yang lebih

rendah.

Pembangunan waduk lembah juga melibatkan pemecahan sungai saat

prosesnya, biasanya dengan membangun terowongan atau saluran khusus.

Di wilayah berbukit, bendungan biasanya dibangun dengan memperluas

danau yang sudah ada.

b. Waduk sisi sungai

Waduk sisi sungai dibangun dengan memompa air dari sungai. Waduk

seperti ini biasanya dibangun melalui eskavasi dan konstruksi pada bagian

tanggul yang biasanya mencakup lebih dari 6 km. Air yang disimpan di

4
5

waduk seperti ini biasanya diendapkan selama beberapa bulan agar

kontaminanan dan tingkat kekeruhannya berkurang secara alami.

c. Waduk pelayanan

Waduk pelayanan adalah waduk yang dibangun dekat dengan titik

distribusi, dengan air yang sudah disterilkan dan dibersihkan. Waduk

pelayanan biasanya dibangun berbentuk menara air yang dibangun di atas

pilar beton di wilayah datar. Beberapa lainnya dibangun di bawah tanah,

terutama untuk waduk pelayanan di negara-negara yang dipenuhi bukit atau

pegunungan.

2.1.2 Kegunaan

a. Penyedia air langsung

Banyak sungai yang dibendung dan kebanyakan bagian sisi waduk

digunakan untuk menyediakan pakan air baku instalasi pengolahan air yang

mengirim air minum melalui pipa-pipa air. Waduk tidak hanya menahan air

sampai tingkat yang dibutuhkan, waduk juga dapat menjadi bagian pertama

dalam proses pengolahan air. Waktu ketika air ditahan sebelum dikeluarkan

dikenal sebagai waktu retensi. Ini merupakan salah satu fitur desain yang

memudahkan partikel dan endapan lumpur untuk mengendap seperti ketika

melakukan perawatan biologi alami menggunakan alga, bakteri, dan

zooplankton yang hidup secara alami dengan air.


6

b. Hidroelektrisitas

Sebuah waduk dapat membangkitkan hidroelektrisitas menggunakan

turbin air yang terhubung penahan badan air dengan pipa berdiameter besar.

Beberapa waduk menghasilkan hidroelektrisitas menggunakan pompa yang

diisi ulang seperti waduk tingkat tinggi yang diisi dengan air menggunakan

pompa elektrik berkinerja tinggi pada waktu ketika permintaann listrik rendah

dan kemudian menggunakan air yang tersimpan untuk membangkitkan

elektrisitas dengan melepas air yang tersimpan kedalam waduk tingkat

rendah ketika permintaan listrik tinggi.

c. Kontrol sumber daya air

Waduk bisa digunakan dengan berbagai cara untuk mengontrol aliran air

melalui saluran ke hilir. Air bisa dilepaskan dari waduk yang lebih tinggi

sehingga bisa disaring menjadi air minum di daerah yang lebih rendah,

kadang bahkan ratusan mil lebih rendah dari waduk tersebut.

d. Irigasi.

Air di waduk untuk irigasi bisa dialirkan ke jaringan sejumlah kanal untuk

fungsi pertanian atau sistem pengairan sekunder. Irigasi juga bisa didukung

oleh waduk yang mempertahankan aliran air yang memungkinkan air diambil

untuk irigasi di bagian yang lebih rendah dari sungai.


7

e. Kontrol banjir

Waduk juga dikenal sebagai atenuasi atau penyeimbangan perermukaan

air. Waduk sebagai pengendali banjir mengumpulkan air saat terjadi curah

hujan tinggi, dan perlahan melepaskannya selama beberapa minggu atau

bulan. Beberapa dari waduk seperti ini dibangun melintang tehadap aliran

sungai dengan aliran air dikontrol melalui orrifice plate. Saat aliran sungai

melewati kapasitas orrific plate di belakang waduk, air akan berkumpul di

dalam waduk. Namun saat aliran air berkurang, air di dalam waduk akan

dilepaskan secara perlahan sampai waduk tersebut kembali kosong. Dalam

beberapa kasus waduk hanya berfungsi beberapa kali dalam satu dekade

dan lahan di dalam waduk akan difungsikan sebagai tempat rekreasi dan

berkumpulnya komunitas. Generasi baru dari bendungan penyeimbang

dikembangkan untuk mengatasi konsekuensi perubahan iklim, yang disebut

Flood Detention Reservoir (waduk penahan banjir). Karena waduk seperti ini

bisa menjadi kering dalam waktu yang sangat lama, maka bagian intinya

yang terbuat dari tanay liat terpengaruh dan mengurangi kekuatan

strukturnya. Karena itu kini mulai dikembangkan penggunaan material daur

ulang untuk menggantikan tanah liat.

f. Kanal-kanal

Di tempat-tempat yang tidak memungkinkan aliran air alami dialirkan ke

kanal, waduk dibangun untuk menjamin ketersediaan air ke sungai.

Contohnya saat kanal dibangun memanjat melintasi barisan perbukitan untuk

sarana transportasi lock.


8

g. Penyeimbang aliran

Waduk bisa digunakan untuk menyeimbangkan aliran air di tempat yang

manajemennya sangat maju, dengan menampung air saat aliran air deras

dan melepaskannya kembali saat aliran melambat. Untuk bisa menjalankan

fungsi ini tanpa campur tangan pompa, waduk membutuhkan pengendalian

secara hati-hati melalui pintu air di bendungan.

Saat badai besar datang, petugas waduk akan menghitung volume air

yang akan bertambah selama badai ke waduk. Jika badai diramalkan akan

melewati kapasitas waduk, air akan segera dilepaskan perlahan sebelum dan

selama badai. Jika pengaturan dilakukan dengan akurat, maka badai besar

tidak akan membuat waduk meluap dan daerah hilir tidak akan mengalami

kerusakan besar akibat banjir. Perkiraan cuaca yang akurat sangat

dibutuhkan agar petugas waduk bisa membuat perencanaan yang tepat

untuk mengosongkan waduk saat hujan lebat terjadi.

h. Rekreasi

Badan air yang tercipta karena waduk seringkali bisa memfasilitasi

rekreasi seperti pemancingan, kapal boat, dan aktivitas lainnya. Aturan-

aturan khusus bisa diterapkan untuk alasan keamanan dan melindungi

kualitas air dan ekologi di daerah sekitarnya. Banyak waduk kini mendukung

dan mendorong rekreasi yang lebih informal dan tidak terlalu berstrukur

seperti sejarah alam, pengamatan burung, lukisan lanskap, jalan kaki dan

hiking, serta juga sering memberikan papan informasi dan materi interpretasi

untuk penggunaan manfaat secara lebih bertanggung jawab.


9

2.2 Waduk Undip

Sebagai suatu lembaga akademis, Undip ingin membuat sesuatu sebagai

salah satu bentuk kontribusi dan pengabdian kepada masyarakat kota Semarang

pada umumnya dan masyarakat Tembalang khususnya dengan membuat suatu

areal waduk di sekitar kampus Undip Tembalang. Waduk tersebut tidak hanya

bermanfaat bagi masyarakat tapi juga bermanfaat bagi kampus Undip itu sendiri

baik itu dalam menyediakan air saat kemarau ataupun dapat dikembangkan

menjadi suatu PLTA kecil sehingga Undip bisa memenuhi kebutuhan listriknya

sendiri tanpa harus berlangganan dengan PLN. Dari sisi konservasi upaya

membangun waduk merupakan suatu sikap bijak lingkungan (environmental

wisdom), karena sesungguhnya memanfaatkan suatu sumberdaya alam yang

melimpah, dan secara ekonomis (air hujan) tidak memiliki nilai ekonomis atau

nilai jual beli apapun (Naiola, 1993). Bandingkan dengan eksploitasi air bawah

tanah berupa sumur bor atau sumur artetis yang sesungguhnya memiliki resiko

lingkungan yang sangat besar, apalagi bila digunakan pada lahan kering.

Adapun tujuan pembangunan Waduk Undip Tembalang adalah sebagai

berikut :

 Pemenuhan kebutuhan air baku untuk masyarakat sekitarnya

khususnya masyarakat daerah Pucang gading.

 Penyediaan kebutuhan air untuk kampus Undip Tembalang misalnya

untuk mushola, laboratorium, dan toilet kampus.

 Sarana rekreasi bagi mahasiswa UNDIP.

 Pengendalian banjir di daerah Semarang bawah pada saat curah

hujan tinggi.
10

 Pemanfaatan dan pengaturan air pada saat musim kemarau untuk

memenuhi kebutuhan irigasi pertanian sawah masyarakat

sekitarnya.

2.3 Persyaratan Kualitas Air

Dalam persyaratan kualitas air, air memiliki mutu dan juga kelas air. Menurut

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 tentang

pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air adalah kondisi

kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan parameter parameter tertentu

dan metoda tertentu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sementara Kelas air adalah peringkat kualitas air yang dinilai masih layak

untuk dimanfaatkan bagi peruntukan tertentu. Untuk mengetahui apakah air

tersebut memenuhi persyaratan kualitas air atau tidak, maka kita harus

membandingkan kualitas air dengan baku mutu air yang telah ditetapkan.

Dengan diketahuinya kualitas air ini, maka perlu dibandingkan pula dengan kelas

air tersebut

Menurut PP No 82 tahun 2001, klasifikasi mutu air terbagi menjadi empat

yaitu :

 Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air minum,

dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan

kegunaan tersebut.

 Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk

prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan ,air

untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan

mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.


11

 Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk

pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan

atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan

tersebut.

 Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk

mengairi,pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air

yang sama dengan kegunaan tersebut.

Adapun persyaratan kualitas air waduk antara lain sebagai berikut:

2.3.1 pH

pH merupakan suatu besaran yang mencerminkan aktivitas kation

hidrogennya, dan dinyatakan sebagai logaritma negatif dari aktivitas kation

hidrogen dalam mole per liter pada suhu tertentu. Istilah pH lazimnya digunakan

untuk menyatakan intensitas kondisi asam atau alkalin suatu larutan. pH sangat

penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju

kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-

mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan

diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak

untuk menunjang kehidupan mereka.

Pada dasarnya, nilai pH menunjukkan apakah air memiliki kandungan

padatan rendah atau tinggi. pH dari air murni adalah 7. Secara umum, air dengan

nilai pH lebih rendah dari 7 di anggap asam dan nilai pH lebih dari 7 di anggap

basa. Nilai pH normal untuk air permukaan biasanya antara 6,5 s/d 8,5. Tinggi

atau rendahnya pH air di pengaruhi oleh senyawa kandungan dalam air tersebut.
12

2.3.2Salinitas

Salinitas didefinisikan sebagai total padatan dalam air setelah semua

karbonat dikonversi menjadi oksida, semua bromida dan iodida diganti dengan

klorida, dan semua bahan organik telah dioksidasi. Satuan untuk salinitas

lazimnya adalah g/kg atau satu per seribu. Salinitas merupakan peubah penting

dalam perairan pantai dan estuarine, dan perubahan salinitas dapat

menyebabkan perubahan kualitas ekosistem akuatik, terutama ditinjau dari tipe-

tipe dan kelimpahan organisme. Salinitas harus digunakan sebagai parameter

pendugaan dampak untuk semua proyek pengembangan sumberdaya air yang

berhubungan dengan perairan pantai dan estuaria. Biasanya bahan yang

tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan terjadi pada suhu

103 – 105 0C.

2.3.3 Total Suspended Solid (TSS) dan TDS (Total Dissolve Solid)

Total Suspended Solid ( TSS ) adalah padatan yang terkandung dalam air

dan bukan merupakan larutan, bahan ini dibedakan dari padatan terlarut dengan

jalan uji filtrasi laboratorium. Satuannya adalah mg/l. TSS terdiri atas komponen

settleable, floating dan non-soluble (suspensi koloidal). TSS lazimnya

mengandung senyawa organik dan anorganik. Satu ciri dari TSS adalah

berkaitan dengan karakteristik turbiditas. TSS sangat penting karena

pengaruhnya terhadap kualitas estetika, filtrasi (penjernihan) dan desinfeksi; dan

potensial dampaknya terhadap ekosistem akuatik. Pada umumnya air yang

mengandung banyak TSS kurang bagus ditinjau dari sudut pandang estetika,

lebih sulit dan mahal untuk menjernihkannya, dan memerlukan lebih banyak

bahan kimia untuk dis-infeksinya. TSS yang berlebihan dapat membahayakan


13

ikan dan jasad akuatik lainnya melalui penyelimutan insang, reduksi radiasi

matahari, dan selanjutnya akan berpengaruh pada rantai makanan alami.

TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organic

maupun anorganic) yang terdapat pada sebuah larutan. Umumnya berdasarkan

definisi di atas seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat

melewati saringan yang berdiameter 2 mikrometer (2×10-6 meter). Aplikasi yang

umum digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan biasanya untuk

pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam renang, proses kimia, dan pembuatan

air mineral. Setidaknya, kita dapat mengetahui air minum mana yang baik

dikonsumsi tubuh, ataupun air murni untuk keperluan kimia misalnya pembuatan

kosmetika, obat-obatan, dan makanan (Misnani, 2010)

2.3.4 Metode Pengukuran TSS dan TDS

1. Gravimetri

Gravimetri adalah pemeriksaan jumlah zat dengan cara penimbangan

hasil reaksi pengendapan. Gravimetri merupakan pemeriksaan jumlah zat

yang paling tua dan paling sederhana dibandingkan dengan cara

pemeriksaan kimia lainnya. Kesederhanaan itu kelihatan karena dalam

gravimetri jumlah zat ditentukan dengan cara menimbang langsung massa

zat yang dipisahkan dari zat-zat lain. Analisis gravimetri sangat penting

dalam bidang kimia analisis, meskipun telah didengar bahwa teknik

gravimetrik telah digantikan oleh metode instrumen. Masih banyak kasus

dimana teknik gravimetrik merupakan pilihan terbaik untuk memecahkan

suatu problem analisis yang khusus.


14

Bagian terbesar dari penentuan secara analisis gravimetri meliputi

transformasi unsur atau radikal kesenyawaan murni stabil yang dapat segera

diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Metode gravimetri

memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat

diuji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat digunakan. Langkah

pengukuran pada gravimetri adalah pengukuran berat. Analit secara fisik

dipisahkan dari semua komponen lainnya maupun dengan solvennya.

Persyaratan yang harus dipenuhi agar garvimetri dapat berhasil ialah terdiri

dari proses pemisahan yang harus cukup sempurna sehingga kualitas analit

yang tidak mengendap secara analit tidak ditentukan dan zat yang ditimbang

harus mempunyai susunan tertentu dan harus murni atau mendekati murni

(Irha, 2011).

2. Elektrikal Konduktiviti

Konduktivitas listrik air secara langsung berhubungan dengan

konsentrasi padatan terlarut yang terionisasi dalam air. Ion dari konsentrasi

padatan terlarut dalam air menciptakan kemampuan pada air untuk

menghasilkan arus listrik yang dapat diukur menggunakan konduktivity

meter. Elektrikal konduktiviti ini adalah mengukur konduktivitas listrik

bahan-bahan yang terkandung dalam air. Semakin banyak bahan (mineral

logam maupun nonlogam) dalam air, maka hasil pengukuran akan semakin

besar pula. Sebaliknya, bila sangat sedikit bahan yang terkandung dalam air

maka hasilnya mendekati nol, atau yang kita sebut dengan air murni (pure

water) (Insan, 2008).

Konduktiviti meter adalah alat yang digunakan untuk menentukan daya

hantar suatu larutan dan mengukur derajat ionisasi suatu larutan elektrolit
15

dalam air dengan cara menetapkan hambatan suatu kolom cairan selain itu

konduktivity meter memiliki kegunaan yang lain yaitu mengukur daya hantar

listrik yang diakibatkan oleh gerakan partikel di dalam sebuah larutan.

Menurut literatur faktor-faktor yang mempengaruhi daya hantar adalah

perubahan suhu dan konsentrasi. Dimana jika semakin besar suhunya maka

daya hantar pun juga akan semakin besar dan apabila semakin kecil suhu

yang digunakan maka sangat kecil pula daya hantar yang dihasilkan dan

begitu dengan sebaliknya antara konsentrasi dan daya hantar. Oleh sebab

itu pengaruh suhu dan konsentrasi dapat mempengaruhi daya hantar

(Anonim, 2010).

Prinsip kerja elektrikal konduktiviti adalah dua buah probe dihubungkan

ke larutan yang akan diukur, kemudian dengan rangkaian pemprosesan

sinyal akan mengeluarkan output yang menunjukkan besar

konduktifitas/daya hantar listrik sampel air tersebut. (Endrah, 2010)

2.3.5 Tabel Baku Mutu Air

Tabel 1. kriteria mutu air


Kelas
Parameter Satuan
I II III IV

pH 6–9 6-9 6-9 5-9

Salinitas % < 0,05 0,05 - 3 0,05 - 3 0,05 - 3

TSS Mg/L 1000 1000 1000 2000

TDS Mg/L 50 50 400 400

Sumber : PP 82 Tahun 2001


16

2.4 Refraktometer

2.4.1 Pengertian Refraktometer

Refraktometer atau refractometer adalah sebuah alat yang biasa digunakan

untuk mengukur kadar/ konsentrasi bahan atau zat terlarut. Misalnya gula

(“Brix”), garam (“Baume”), protein, dsb. Metode kerja dari refraktometer ini

dengan memanfaatkan teori refraksi cahaya. Alat Refraktometer ini ditemukan

oleh Dr. Ernest Abbe, yaitu seorang ilmuan asal German pada awal abad 20

(Sekitar tahun, 2010 an).

Konsentrasi bahan terlarut sering dinyatakan dalam satuan Brix(%) yang

merupakan pronsentasi dari bahan terlarut dalam sample (larutan air). Kadar zat

terlarut merupakan total dari semua zat atau bahan dalam air, termasuk gula,

garam, protein, asam dsb. Pada dasarnya Brix(%) dinyatakan sebagai jumlah

gram dari gula tebu yang terdapat dalam larutan 100g gula tebu. Jadi pada saat

mengukur larutan gula, Brix(%) harus benar-benar tepat sesuai dengan

konsentrasinya.

2.4.2 Prinsip Kerja Refraktometer

Adapun prinsip kerja dari refraktometer sebagai berikut :

 Prinsip kerja Refractometer adalah pembiasan, Dasar pembiasan adalah

penyinaran yang menembus dua macam media dengan kerapatan yang

berbeda, Karena perbedaan kerapatan tersebut akan terjadi perubahan

arah sinar.
17

 Prinsip pengukuran dengan sinar yang ditransmisikan sinar kasa/sumber

sinar prisma sampel telescope

 Prinsip Kerja refractometer terdapat 3 bagian yaitu : Sampel, Prisma dan

Papan Skala. Refractive index prisma jauh lebih besar dibandingkan

dengan sample.

 Jika sampel adalah larutan berkonsentrasi rendah, maka sudut refraksi

akan lebar. Sehingga di papan skala sinar “a” akan jatuh pada skala

rendah.

 Jika larutan sampel pekat, maka sudut refraksi akan kecil. Sehingga di

papan skala sinar “b” jatuh pada skala besar.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa konsentrasi larutan akan berpengaruh

secara proporsional terhadap sudut refraksi. Pada prakteknya Refractometer

akan ditera pada skala sesuai dengan penggunaannya. Sebagai contoh

Refractometer yang dipakai untuk mengukur konsentrasi larutan gula akan ditera

pada skala gula. Begitu juga dengan refractometer untuk larutan garam, protein.

2.4.3 Jenis-Jenis Refraktometer

[Link] Refraktometer Abbe

Gambar 1. Refraktometer Abbe


18

Merupakan alat untuk determinasi secara cepat konsentrasi, kemurnian,

kualitas disperse dari sampel cair, padat dan plastik. Dapat digunakan untuk

mengukur bermacam-macam indeks bias suatu larutan dan juga dapat

digunakan untuk mengukur kadar suatu larutan. Bagian Refraktometer Abbe

mempunyai 2 lubang pengamatan.

Contoh sampel :

a. Larutan : alcohol, eter c. Makanan : sari buah, sirup

b. Minyak : wax

[Link] Refraktometer tangan (Hand Refraktometer)

Gambar 2. Refraktometer Tangan (Hand Refraktometer)

Refraktometer tangan digunakan untuk mengukur kadar zat tertentu.

Bagian Hand Refraktometer mempunyai 1 lubang pengamatan.

[Link] Refraktometer Brix

Mengukur konsentrasi padatan terlarut dari gula, garam, protein, dan lebih

dalam makanan dan cairan-ideal untuk kontrol kualitas. Hand refraktometer brik

untuk gula 0-32%

[Link] Refraktometer Garam (Refractometer Salt)

Mengukur kadar garam dalam bagian per seribu (ppt) dan berat jenis

atau% salinitas, tergantung pada model. Gunakan untuk mengukur konsentrasi

garam dari air atau air garam. Hand refraktometer untuk salt untuk NaCl 0-28%.

Anda mungkin juga menyukai