Resiko Perilaku Bunuh Diri
1. Pengertian
Resiko bunuh diri adalah rentan terhadap menyakiti diri sendiri dan cedera
yang mengancam jiwa (NANDA-I 2018)). Tindakan mengakhiri hidupnya berupa
isyarat, ancaman, dan percobaan bunuh diri (Stuart, Keliat, Pasaribu, 2016).
Resiko bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja
untuk mengakhiri kehidupan (Herdman, 2012). Individu secara sadar berkeinginan
untuk mati sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan keinginan
tersebut. Resiko bunuh diri terdiri dari 3 kategori,yakni:
A. Isyarat bunuh diri
B. Ancaman bunuh diri
C. Percobaan bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan perilaku tidak langsung (gelagat) ingin
bunuh diri, misalnya dengan mengatakan: “Tolong jaga anak-anak karena saya
akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.” Pada kondisi
ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak
disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya
mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak
berdaya. Pasien juga mengungkapkan halhal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan Resiko bunuh diri.
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk
mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat
untuk melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan
rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri. Walaupun
dalam kondisi ini pasien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat
harus dilakukan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk
melaksanakan rencana bunuh dirinya.
Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri
untuk mengakhiri kehidupan. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh diri
dengan berbagai cara. Beberapa cara bunuh diri antara lain gantung diri, minum
racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko bunuh diri atau melindungi
darinya. Bunuh diri terkait dengan bentuk cedera dan kekerasan lainnya.
Misalnya, orang yang pernah mengalami kekerasan, termasuk pelecehan anak,
perundungan, atau kekerasan seksual memiliki risiko bunuh diri yang lebih tinggi.
Terhubung dengan dukungan keluarga dan masyarakat serta memiliki akses
mudah ke layanan kesehatan dapat mengurangi pikiran dan perilaku bunuh diri.
2. Penyebab (faktor presdiposisi dan faktor presipitasi)
Proses terjadinya Resiko bunuh diri akan dijelaskan dengan menggunakan
konsep stress adaptasi Stuart yang meliputi stressor dari faktor predisposisi dan
presipitasi.
1) Faktor Presdiposisi
Hal-hal yang dapat mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri meliputi :
a. Faktor Biologis
Faktor-faktor biologis yang berkaitan dengan adanya faktor
herediter, riwayat bunuh diri, riwayat penggunaan Napza, riwayat
penyakit fisik, nyeri kronik, dan penyakit terminal.
b. Faktor Psikologis
Pasien Resiko bunuh diri mempunyai riwayat kekerasan masa
kanakkanak, riwayat keluarga bunuh diri, homosekual saat remaja,
perasaan bersalah, kegagalan dalam mencapai harapan, gangguan jiwa.
c. Faktor Sosial Budaya
Faktor sosial budaya yang berkaitan dengan Resiko bunuh diri
antara lain perceraian, perpisahan, hidup sendiri dan tidak bekerja.
2) Faktor Presipitasi
2
Faktor pencetus Resiko bunuh diri meliputi : perasaan terisolasi
karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan hubungan yang
berarti, kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stress,
perasaan marah/bermusuhan. Bunuh diri dapat merupakan cara pasien
menghukum diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan.
3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala Resiko bunuh diri dapat dinilai dari ungkapan pasien yang
menunjukkan keinginan atau pikiran untuk mengakhiri hidup dan didukung
dengan data hasil wawancara dan observasi.
a. Data Subjektif
1) Merasa hidupnya tak berguna lagi
2) Ingin mati
3) Pernah mencoba bunuh diri
4) Mengancam bunuh diri
5) Merasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak berdaya
b. Data Objektif
1) Ekspresi murung
2) Tak bergairah
3) Banyak diam
4) Ada bekas percobaan bunuh diri
4. Etiologi
Penyebab dari perilaku resiko bunuh diri antara lain :
1) Stress yang berlebihan
2) Gangguan konsep diri
3) Kehilangan dukungan sosial
4) Kejadian negatif dalam hidup
5) Penyakit kritis
6) Perpisahan atau perceraian
7) kesulitan ekonomi
8) korban kekerasan
3
9) Riwayat bunuh diri individu atau keluarga
5. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan Medis
Pada kasus bunuh diri pasien membutuhkan obat penenang saat
mereka bertindak kekerasan pada diri mereka atau orang lain.
2) Penatalaksanaan Keperawatan
a) Tindakan Keperawatan untuk pasien
● Membina hubungan saling percaya kepada pasien
● Melindungi pasien dari perilaku bunuh diri
● Membantu pasien untuk mengekspresikan perasaannya
● Membantu pasien untuk meningkatkan harga dirinya
● Membantu pasien untuk menggunakan koping individu yang
adaptif
b) Tindakan keperawatan untuk keluarga
● Membina hubungan saling percaya
● Memanfaatkan sistem pendukung yang ada
6. Pohon masalah
4
7. Analisa data
Diagnosis Data Mayor Data Minor
Resiko Bunuh diri A. Subjektif A. Subjektif
● Mengungkapkan ● Mengungkapkan
kata-kata seperti isyarat bunuh diri
“Tolong jaga tetapi tidak
anak-anakkarena disertai
saya akan pergi ancamanmelakuk
jauh!” atau an bunuh diri
“segala sesuatu ataupun tanpa
akan lebih baik percobaan
tanpa saya” ● Mengungkapkan
● Mengunkapkan perasaan ersalah,
kata-kata “ saya sedih marah
mau mati”, putus asa atau
“jangan tolong tidak berdaya
saya”, “biarkan ● Mengungkapkan
saya”, “saya tidak hal-hal negatif
mau ditolong” tentang diri
● Memberikan sendiri yang
ancaman akan mnggambarkan
melakukan bunuh harga diri rendah
diri
● Mengungkapkan B. Objektif
ingin mati ● Kontak mata
● Mengungkapkan kurang
rencana ingin ● Tidur kurang
mati ● Mondar-mandir
● Banyak melamun
B. Objektif ● Terlihat sedih
● Murung, tak ● Menangis teurs-
bergairah menerus
● banyak diam
● Menyiapkan alat
untuk bunuh diri
● Membenturkan
kepala
● Menjatuhkan
kepala dari
tempat yang
tinggi
● Melakukan
percobaanbunuh
diri secaraaktif
5
dengan berusaha
memotong nadi
menggantung diri
dan meminum
racum
8. Asuhan keperawatan
1) Pengkajian Keperawatan
Pengkajian dilakukan dengan cara wawancara dan observasi pada
pasien dan keluarga. Tanda dan gejala Resiko bunuh diri dapat ditemukan
melalui wawancara dengan pertanyaan sebagai berikut:
a. Bagaimana perasaan pasien saat ini?
b. Bagaimana penilaian pasien terhadap dirinya?
c. Apakah pasien mempunyai pikiran ingin mati?
d. Berapa sering muncul pikiran ingin mati?
e. Kapan terakhir berpikir ingin mati?
f. Apakah pasien pernah mencoba melakukan percobaan bunuh diri?
Sudah berapa kali? Kapan terakhir melakukannya? Dengan apa pasien
melakukan percobaan bunuh diri? Apa yang menyebabkan pasien ingin
melakukan percobaan bunuh diri?
g. Apakah saat ini masih terpikir untuk melakukan perilaku bunuh diri?
Tanda dan gejala Resiko bunuh diri yang dapat ditemukan melalui
observasi adalah sebagai berikut:
a. Pasien tampak murung
b. Pasien tidak bergairah
c. Pasien tanpak banyak diam
d. Ditemukan adanya bekas percobaan bunuh diri
Data hasil wawancara dan observasi didokumentasikan pada kartu
berobat pasien di puskesmas.
Pengkajian dengan menggunakan SIRS (Suicidal Intervention
Rating Scale) :
6
1. Skor 0 : Tidak ada ide bunuh diri yang lalu dan sekarang
2. Skor 1 : Tidak ada ide, ancaman, dan percobaan bunuh diri
3. Skor 2 : Ada ide dan pikiran bunuh diri tapi tidak ada ancaman
dan percobaan
4. Skor 3 : Ada ancaman bunuh diri
5. Skor 4 : Ada percobaan bunuh diri
2) Diagnosis Keperawatan
1. Resiko Perilaku Bunuh Diri (SDKI : D.0135)
2. Isolasi Sosial (SDKI:D.0121)
3. Harga diri rendah (SDKI:D.0086)
3) Intervensi keperawatan
Intervensi pencegahan bunuh diri (SIKI, 2017)
1. Observasi
● Identifikasi gejala risiko bunuh diri (mis: gangguan
mood, halusinasi, delusi, panik, penyalahgunaan zat,
kesedihan, gangguan kepribadian)
● Identifikasi keinginan dan pikiran rencana bunuh diri
● Monitor lingkungan bebas bahaya secara rutin (mis:
barang pribadi, pisau cukur, jendela)
● Monitor adanya perubahan mood atau perilaku
2. Terapeutik
● Libatkan dalam perencanaan perawatan mandiri
● Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
● Lakukan pendekatan langsung dan tidak menghakimi
saat membahas bunuh diri
● Berikan lingkungan dengan pengamanan ketat dan
mudah dipantau (mis: tempat tidur dekat ruang
perawat)
● Tingkatkan pengawasan pada kondisi tertentu (mis:
rapat staf, pergantian shift)
7
● Lakukan intervensi perlindungan (mis: pembatasan
area, pengekangan fisik), jika diperlukan
● Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri
sebelumnya, diskusi berorientasi pada masa
sekarang dan masa depan
● Diskusikan rencana menghadapi ide bunuh diri di
masa depan (mis: orang yang dihubungi, ke mana
mencari bantuan)
● Pastikan obat ditelan
3. Edukasi
● Anjurkan mendiskusikan perasaan yang dialami
kepada orang lain
● Anjurkan menggunakan sumber pendukung (mis:
layanan spiritual, penyedia layanan)
● Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri kepada
keluarga atau orang terdekat
● Informasikan sumber daya masyarakat dan program
yang tersedia
● Latih pencegahan risiko bunuh diri (mis: latihan
asertif, relaksasi otot progresif)
4. Kolaborasi
● Kolaborasi pemberian obat antiansietas, atau
antipsikotik, sesuai indikasi
● Kolaborasi tindakan keselamatan kepada PPA
● Rujuk ke pelayanan kesehatan mental, jika perlu
4) Implementasi Keperawatan
a. Tindakan keperawatan untuk pasien resiko bunuh diri
Tujuan :
8
1) Pasien ancaman/percobaan bunuh diri: Pasien mampu:
● Membina hubungan saling percaya
● Aman dan selamat
2) Pasien isyarat bunuh diri: Pasien mampu:
● Membina hubungan saling percaya
● Mengontrol pikiran bunuh diri melalui pikiran positif
diri
● Mengontrol pikiran bunuh diri melalui pikiran positif
keluarga dan lingkungan
● Menyusun rencana masa depan
● Melakukan kegiatan rencana masa depan
Tindakan Keperawatan
1) Membina hubungan saling percaya, dengan cara:
● Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan
pasien
● b) Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama dan
nama panggilan yang Perawat sukai, serta tanyakan
nama dan nama panggilan pasien
● Menanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini
● Buat kontrak asuhan: apa yang akan dilakukan bersama
pasien, berapa lama akan dikerjakan, dan tempatnya di
mana.
● Jelaskan bahwa Perawat akan merahasiakan informasi
yang diperoleh untuk kepentingan terapi
● Setiap saat tunjukkan sikap empati terhadap pasien
● Penuhi kebutuhan dasar pasien bila memungkinkan
2) Pada pasien ancaman/percobaan bunuh diri
a. Lindungi pasien dari perilaku bunuh diri:
● Menemani pasien terus-menerus sampai dia
dapat dipindahkan ke tempat yang aman
● Menjauhkan semua benda yang berbahaya
(misalnya pisau, silet, gelas, tali pinggang)
9
● Mendapatkan orang yang dapat segera
membawa pasien ke rumah sakit untuk
pengkajian lebih lanjut dan kemungkinan
dirawat
b. Pada pasien isyarat bunuh diri:
a) Mendiskusikan tentang cara mengatasi
keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta
bantuan dari keluarga atau teman, berpikir
positif terhadap diri, keluarga dan lingkungan.
b) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
● Memberi kesempatan pasien
mengungkapkan perasaannya.
● Berikan pujian bila pasien dapat
mengatakan perasaan yang positif.
● Meyakinkan pasien bahwa dirinya
penting
● Membicarakan tentang keadaan yang
sepatutnya disyukuri oleh pasien
● Merencanakan aktifitas yang dapat
pasien lakukan
c) Meningkatkan kemampuan menyusun rencana
masa depan, dengan cara:
● Mendiskusikan dengan pasien tentang
harapan pasien
● Mendiskusikan cara-cara mencapai masa
depan
● Melatih pasien langkah-langkah kegiatan
mencapai masa depan
● Mendiskusikan dengan pasien efektifitas
masing-masing kegiatan mencapai masa
depan
5) Evaluasi Keperawatan
10
Selanjutnya, setelah dilakukan tidakan keperawatan, evaluasi
dilakukan terhadap kemampuan pasien resiko bunuh diri dan keluarganya
serta kemampuan perawat dalam merawat pasien resiko bunuh diri
9. SP
10. Stimulasi
Daftar Pustaka
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. (2022). Sumber Daya Pencegahan Bunuh Diri
untuk Aksi: Kompilasi Bukti Terbaik yang Tersedia Atlanta, GA: Pusat Nasional Pencegahan
dan Pengendalian Cedera, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Zulaikha, A., & Febriyana, N. (2018). Bunuh diri pada anak dan remaja. Jurnal Psikiatri
Surabaya, 7(2), 62-72.
Purbaningsih, E. S. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Depresi Dan Resiko Bunuh
Diri. Syntax Lit. J. Ilm. Indones, 4(8), 60-69.
Adinda, S. T., & Prastuti, E. (2021). Regulasi emosi dan dukungan sosial: sebagai prediktor
ide bunuh diri mahasiswa. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, 6(1), 135-151.
11