BAB VII LANDASAN PERANCANGAN
7.1 LANDASAN PERANCANGAN TATA RUANG BANGUNAN
Ruang yang dibutuhkan pada RSJ kelas C harus sesuai dengan fungsi dan pengguna
bangunan, dengan kebutuhan ruang yang sudah diatur pada Permenkes Indonesia Nomor
340/MENKES/PER/III/2010. Penambahan dan penataan tata ruang disesuaikan dengan pola
perilaku yang menjadi pedoman untuk melakukan penataan ruang agar ruang bisa mendukung
kegiatan atau fungsi dari ruang yang direncakan. Pada tata ruang dalam di RSJ ini seperti yang
sudah dibahas pada bab sebelumnya di bab 3 tentang perancangan ruang.
Untuk pola tata ruang dalam menggunakan pola bentuk radial. Pola ini memudahkan
pengguna agar tidak kebingungan dalam penggunaan ruang.
Tata ruang luar pada bangunan RSJ disesuaikan pada kebutuhan bangunan dan fungsi
bangunan. Tetapi pada setiap bangunan terdapat lahan untuk parkir dikarenakan perancangan
massa bangunann yang terpisah. Jalur sirkulasi untuk menuju satu bangunan ke bangunan
lainnya juga tidak dipisah antara pengelola dan pengunjung.
7.2 LANDASAN PERANCANGAN BENTUK BANGUNAN
Bentuk masa bangunan yang direncanakan menggunakan bentuk masa yang proporsi agar
tidak menimbulkan kesan aneh dari pasien ODGJ dan lebih cenderung mengikuti bentuk masa
pada bangunan di sekitar tapak agar tidak terlalu kontras. Bentuk dasar masa bangunan yang
akan digunakan adalah bujur sangkar, karena untuk mempermudah dalam pembagian ruang dan
tidak membuat bingung pasien gangguan jiwa.
7.3 LANDASAN PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN
7.3.1 Pondasi
Pondasi yang direncanakan pada RSJ ini menggunakan pondasi batu kali dan pondasi
foot plate. Mengingat pada perencanaannya tidak menggunakan konsep bangunan vertikal
atau hanya bangunan satu lantai. Untuk pengaplikasiannya akan melihat sesuai kebutuhan
dan fungsi bangunannya.
7.3.2 Dinding
Dinding yang akan digunakan kebanyakan adalah dinding batu bata. Digunakannya
dinding batu bata dikarenakan mudah untuk didapat serta mudah untuk perawatan dan
perbaikannya. Tetapi meluhat dari kebutuhan dan situasi juga direncanakan dipilihnya
dinding partisi semi permanen hanya untuk membatasi ruang atau menyekat ruang. Pada
permukaan dinding juga harus permukaan yang rata dan tidak bertekstur.
7.3.3 Atap
Sistem struktur atap yang akan digunakan adalah struktur atap rangka baja ringan.
Digunakannya struktur tersebut karena kebutuhan atap tidak terlalu memperdulikan bentuk
atap yang estetik tetapi lebih mementingkan fungsional. Selain itu juga menggunakan dak
beton dan struktur rangka ruang / Space Frame. Penggunaan beberapa struktur akan
disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan luasan ruang yang membutuhkan luas ruang yang
lebar dan penyesuaian bentuk masa bangunan bujur sangkar, serta penyesuaian terhadap
iklim tropis.
7.4 LANDASAN PERANCANGAN BAHAN BANGUNAN
7.4.1 Material Penutup Lantai
Lantai bangunan menggunakan material kramik dan parquet kayu. Untuk lantai kramik
akan diaplikasikan pada fungsi bangunan pengelola, pelayanan UGD, rawat jalan, dan
service. Untuk parquet akan diaplikasikan pada bangunan rawat jalan agar terasa nyaman
dan aman untuk pasien ODGJ. Serta dalam mendesain meminimalisir adanya perbedaan
ketinggian level lantai antara pembatas ruang.
7.4.2 Material Pelapis Dinding
Pelapis dinding yang digunakan di eksterior adalah cat. Diusahakan cat yang dipilih
menggunakan warna- warna cerah dan teduh karena warna tersebut memberikan kesan
tenang dan damai.
Untuk interior menggunakan pelapis dinding vinyl, busa dan keramik. Vinyl dan busa
diaplikasikan pada ruang- ruang yang memiliki fungsi rawat inap yang memungkinkan
pasien menetap, dimaksudkan agar aman jika pasien terbentur dinding dan bisa meredam
suara. Untuk keramik diaplikasikan pada ruang yang rentan kotor dan diharuskan memiliki
kesan steril pada ruang.
7.4.3 Material Penutup Atap
Material penutup atap yang digunakan adalah genteng beton dan tanah liat, dak beton.
Digunakannya material genteng tanah liat dan beton dikarenakan material yang mudah
didapat, tahan terhadap panas, dan untuk menghindari kebisingan di saat terjadi hujan.
Penutup atap dak beton disesuaikan dengan ruang yang dibutuhkan atap dak beton, untuk
memberikan nilai estetis, dan menyesuaikan bentuk masa bangunan.
7.5 LANDASAN PERANCANGAN WAJAH BANGUNAN
Pada perancangan wajah bangunan perlu diperhatikan karena bisa memberikan stigma
pada saat melihat bentuk visualnya. Bukaan pada bangunan disesuaikan dengan fungsi
bangunan sesuai kebutuhan dan kriteria pada bangunan. Bentuk visual pada wajah bangunan
juga menyesuaikan fungsi yang ada, untuk fungsi bangunan rawat inap lebih fokus pada
ornament dan pemilihan warna karena bangunan ini akan digunakan setiap hari oleh pasien
ODGJ.
Visual dari wajah bangunan di desain se ramah mungkin agar menghindari kesan seperti
tempat isolasi atau penjara, supaya terlihat nyaman dan pasien tidak takut saat awal melihat
wajah bangunan. Pemilihan ornament dan elemen yang digunakan sebagai tekstur untuk
wajah bangunan agar tidak terkesan bosan adalah material kayu, warna cat, dan batu alam.
7.6 LANDASAN PERANCANGAN TATA RUANG TAPAK
Pada perancangan tata ruang tapak sangat memperhatikan kebutuhan dari fungsi
berkaitan dengan kapasitas yang dituju dan pencapaiannya. Penentuan dengan melihat
literatur dan pengamatan sangat menjadi pertimbangan dalam perancangannya. Ruang
terbuka dan vegetasi akan dirancang di setiap bangunan untuk memberikan kesan lega dan
tidak terlalu padat, tetapi untuk ruang terbuka yang diperuntukan kegiatan pasien akan
dirancang sesuai kebutuhan terkait seating grup, sirkulasi, dan akses.
Pembagian zonasi terbagi menjadi 3 bagian yaitu zona pengelola dan fasilitas umum
(Rawat jalan, UGD), Rawat inap, dan Servis. Untuk zona pengelola dan fasilitas umum akan
diletakkan tidak jauh dari akses masuk tapak atau yang mudah dijangkau pada saat pertama
kali mengakses tapak. Untuk zona rawat inap akan diletakkan di tapak bagian dalam,
meminimalisir kontak langsung dari pengguna di luar RSJ. Untuk zona servis akan
diletakkan sesuai fungsi bangunannya dan dikelompokkan.
Akses masuk dan keluar pada tapak akan lebih dari satu mengingat perancangan yang
menggunakan konsep komplek bangunan.
7.7 LANDASAN PERANCANGAN UTILITAS BANGUNAN
7.7.1 Sistem Air Bersih
Sistem air bersih yang direncanakan menggunakan sistem downfeed dengan sumber air
dari PDAM untuk sumber air primer dan sumur air dalam untuk menambah sumber air
bersih, serta pemanfaatan sumber air dari penampungan air hujan untuk sumber air
sekunder. Lalu ditampung di ground water untuk sebelum naik ke roof tank. Sistem ini
nantinya aka nada di setiap bangunan atau unit pada RSJ untuk memudahkan penyediaan
kebutuhan air bersih.
7.7.2 Sistem Air Kotor
Sistem air kotor akan menggunakan sistem two pipe stack, dimana menggunakan pipa
berbeda untuk menyalurkan limbah cair dan padat. Disetiap unit fasilitas akan menerapkan
sistem air kotor ini, dan untuk pembuangan limbah akan ditampung di septic tank dan
sumur resapan.
Gambar 7.1 Alur sistem air bersih & kotor
Sumber: Google
7.7.4 Sistem Jaringan Listrik
Sistem jaringan listrik pada RSJ berasal dari dua sumber yauti dari sumber utama PLN
(Perusahaan Listrik Negara) dan dari Genset.
a. Sumber listrik dari PLN merupakan sumber listrik utama. Listrik dari PLN akan
disalurkan dari trafo di bagian timur dan utara tapak lalu akan disalurkan ke gardu
lingkungan sebelum disalurkan ke unit- unit bangunan fasilitas yang ada di RSJ.
b. Sumber listrik yang kedua berasal dari genset yang digunakan pada saat mendesak
atau terjadi pemadaman listrik dan perbaikan dari PLN. Disaat terjadi pemadaman
listrik dari PLN genset akan menyala secara otomatis untuk menggantikan suplai
listrik dari PLN.
7.7.5 Sistem Pemadam Kebakaran
A. Sistem Proteksi Pasif
Di setiap bangunan rumah sakit harus memiliki sistem proteksi pasif untuk bahaya
kebakaran yang diaplikasikan pada desain atau komponen arsitektur dan struktur
sehingga dapat melindungi penghuni dan benda dari kerusakan saat terjadi
kebakaran.
Pengaplikasian pada desain adalah dengan menghindari atau meminimalisir
material yang mudah terbakar seperti kayu.
B. Sistem Proteksi Aktif
Adalah peralatan deteksi dan pemadam yang dipasang tetap atau tidak tetap yang
digunakan untuk mendeteksi dan memadamkan kebakaran.
1. Hidran halaman
Diperuntukkan untuk pemadaman api di luar bangunan gedung.
Gambar 7.2 Hydrant
Sumber: Google
5. Sprinkler
Sistem sprinkler otomatis dirancang untuk memadamkan kebakaran atau
mencegah kebakaran agar tidak berkembang sekurang- kurangnya 30 menit sejak
sprinkle pecah
Gambar 7.3 Sprinkler
Sumber: Google
6. Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
APAR ditujukan untuk pemadaman terhadap api tahap awal, konstruksinya
dapat berupa portable atau beroda.
Gambar 7.4 APAR
Sumber: Google
7. Sistem deteksi & alarm kebakaran
Sistem deteksi kebakaran berfungsi untuk mendeteksi terjadinya kebakaran baik
secara otomatis ataupun manual.
8. Tanda arah
Bila suatu akses keluar atau evakuasi tidak tempak secara langsung dengan jelas
oleh pengguna bangunan maka harus dipasang tanda penunjuk berupa tanda
panah menunjukkan arah evakuasi atau area aman.
7.7.6 Sistem Panggil Perawat (Nurse Call)
Sistem panggilan darurat digunakan untuk memberikan pelayanan kepada pasien yang
memerlukan bantuan tenaga medis baik secara rutin atau darurat. Sistem ini bertujuan
menjadi alat komunikasi darurat atau memudahkan pasien dalam memberikan sinyal pada
tenaga medis dalam bentuk audible (suara).
Cara kerjanya adalah pasien hanya perlu menekan tombol yang disediakan dalam ruang
maka akan terkirim alarm atau sinyal kepada pusat panel kontrol dan memberikan ruang
mana yang mengirimkan sinyal panggilan dari pasien.
Gambar 7.5 Sistem nursing call
Sumber: Google
7.7.7 Sistem Penangkal Petir
Sistem instalasi penangkal petir dapat melindungi bangunan rumah sakit, termasuk
manusia yang ada di dalamnya, dan instalasi serta peralatan lainnya terhadap bahaya
sambaran petir yang dapat menyebabkan kebakaran atau kerusakan pada bangunan. Tipe
penangkal petir yang digunakan adalah tipe Franklin, dikarenakan sederhana karena
menggunakan jalur kabel tunggal untuk mengalirkan listrik dari ujung penangkal petir
menuju grounding.
Gambar 7.7 Sistem penangkal petir Franklin
Sumber: Google
LAMPIRAN
A. TENTANG GANGGUAN KEJIWAAN
1. Schizofrenia
Para penderita schizofrenia ini ada disintegrasi pribadi dan kepecahan pribadi. Tingkah
laku emosional dan intelektualnya jadi ambigious (majemuk), serta mengalami
gangguan serius, juga mengalami regresi atau dementia total. Pasien selalu berusaha
melarikan diri dari kenyataan hidup dan berdiam dalam dunia fantasinya. Tampaknya
dia tidak bisa memahami lingkungannya dan responnya selalu maniacal atau kegila –
gilaan (Kartono, 2012 : 243) Berdasarkan buku Pengantar Psikologi dalam
Keperawatan, Faktor – faktor penyebab Schizofrenia adalah :
Faktor biologis, yaitu factor gen yang melibatkan schizofrenia, obat – obatan,
anak keturunan dari ibu schizofrenia, anak kembar yang identik ataupun
fraternal dan abnormalitas cara kerja otak.
Faktor psikologis, yaitu faktor –faktor yang berhubungan dengan gangguan
pikiran, keyakinan, opini yang salah, ketidakmampuan membina,
mempertahankan hubungan sosial, adanya delusi dan halusinasi yang
abnormal dan gangguan afektif.
Faktor lingkungan, yaitu pola asuh yang cenderung schizofrenia, adopsi
keluarga schizofrenia dan tuntutan hidup yang tinggi (Pieter, 2010 : 111).
Perilaku penderita schizofrenia adalah: tingkah laku yang kegila – gilaan, suka tertawa,
kemudian bisa menangis tersedu- sedu, mudah tersinggung, marah tanpa sebab, dan
menjadi kekanak-kanakan.
2. Gangguan Mental Organik
Gangguan mental organik adalah yaitu kegaduhan, kegelisahan, dan kekacauan dalam
fungsi kognitif (alam pikiran), afektif (alam perasaan/ emosi), dan psikomotor
(perilaku), yang disebabkan oleh efek langsung NAPZA terhadap susunan saraf pusat
(otak) (Hawari, 2003 : 17).
Perilaku penderita gangguan mental organik: menurunnya fungsi intelektual dan
memori, gangguan dalam bahasa dan berbicara, disorientasi waktu ruang dan orang,
gangguan motorik, gangguan dalam pembuatan keputusan tindakan, ketidakstabilan
perasaan dan emosi, dan perubahan kepribadian.
3. Gangguan Penggunaan NAPZA
Penyalahgunaan/ ketergantungan NAPZA adalah suatu kondisi yang dapat
dikonseptualisasikan sebagai suatu gangguan jiwa, yaitu gangguan mental dan
perilaku (mental and behavior disorder) akibat penyalahgunaan NAPZA (Hawari,
2003 : 12). Penyalahgunaan NAPZA dapat membuat seseorang menjadi kecanduan,
dapat membuat seseorang menjadi berhalusinasi, kerja organ tubuh seperti jantung dan
otak lebih cepat dari biasanya, menekan sistem syaraf pusat dan mengurangi aktivitas
fungsional tubuh.
Perilaku penderita gangguan penggunaan NAPZA adalah kesulitan dalam
mengendalikan penggunaan alkohol dan psikoaktif, sakau, cemas, sering murung,
gugup, insomnia, apabila putus alkohol atau zat psikoaktif pasien sering berkeringat,
mual pada pagi hari dan sering berhalusinasi.
4. Gangguan Psikotik
Gangguan Psikotik adalah gangguan mental di mana kepribadian seseorang yang
sangat bingung dan seperti orang yang kehilangan kontak dengan realitas. Ketika hal
ini terjadi, seseorang menjadi tidak yakin tentang apa yang nyata dan apa yang tidak
nyata dan biasanya mengalami halusinasi, delusi, ucapan yang kacau dan inkoherensi
([Link] : Maret, 2015).
Perilaku penderita gangguan psikotik adalah sering mendengar suara-suara aneh,
kebingunan, was-was, sering menaruh rasa curiga kepada orang lain, pembicaraan
yanganeh atau kacau, keadaan emosional yang labil dan ekstrim.
5. Gangguan Bipolar
Gangguan Bipolar adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang
yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa depresi dan
mania. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub
(bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang
ekstrim ([Link] : Maret, 2015).
Perilaku penderita gangguan bipolar adalah berbicara dengan cepat, berkurangnya
kebutuhan tidur, fokus perhatian mudah terlalih, peningkatan suasana perasaan dan
mudah tersinggung, merasa dirinya penting secara berlebihan, suasana perasaan
menurun atau sedih dan tiba-tiba perasaan langsung berubah menjadi senang.
6. Gangguan Depresif
Gangguan Depresif adalah gangguan perasaan yang ditandai dengan adanya perasaan
sedih yang berkepanjangan dan terus – menerus yang dapat mengganggu kehidupan
social dan kondisi fisik yang menurun (Pieter, 2010 : 119). Adapun faktor – faktor
penyebab timbulnya depresi yaitu :
Stress berat
Penyakit fisik kronis
Kematian anggota keluarga
Kematian orang yang dicintai
Perceraian atau kehilangan pekerjaan
Perilaku penderita gangguan depresif adalah suasana perasaan sedih, gangguan tidur,
merasa bersalah atau hilang kepercayaan diri, gangguan nafsu makan, merasa lebih
baik mati, sulit untuk konsentrasi, sering kali disertai juga dengan gejala ansietas atau
kegelisahan, cepat marah dan cepat tersinggung.
7. Gangguan Neurotik
Gangguan Neurotik adalah gangguan di mana gejalanya membuat distres yang tidak
dapat diterima oleh penderitanya. Hubungan sosial mungkin akan sangat terpengaruh
tetapi biasanya tetap dalam batas yang dapat diterima. Gangguan ini relatif bertahan
lama atau berulang tanpa pengobatan ([Link] : Maret, 2015).
Perilaku penderita gangguan neurotik adalah penderita menghindari atau membatasi
aktivitas sebab rasa takut yang timbul karena objek atau situasi tertentu, kesulitan
untuk bepergian ketempat umum, kadang-kadang disertai gejala fisik (berdebar, napas
pendek, asma).
8. Retardasi Mental
Keterbelakangan mental (Mental Retardation) adalah suatu keadaan yang ditandai
dengan fungsi kecerdasan yang berada di bawah rata – rata yang disertai dengan
dengan kurangnya kemampuan menyesuaikan diri, yang mulai tampak pada awal
kelahiran (Pieter, 2011 : 134).
Perilaku penderita gangguan retardasi mental adalah:
Pada anak-anak : kelambatan perkembangan (berjalan, berbicara, buang air kecil dan
besar), kesulitan dalam menyelesaikan tugas sekolah sesuai dengan kemampuan anak
lain dengan umur yang sebaya, dan dapat juga disertai problem pada tingkah laku.
Pada remaja : kesulitan bergaul dengan sebaya, kadang-kadang disertai perilaku
seksual yang tidak sesuai.
Pada dewasa : kesulitan dalam melaksanakan tugas sehari-hari (memasak,
membersihkan rumah), problem yang berkaitan dengan perkembangan kematangan
sosial (menikah, mencari pekerjaan, mengasuh anak).
9. Gangguan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja
Diagnosis gangguan jiwa pada anak-anak dan remaja adalah perilaku yang tidak sesuai
dengan tingkat usianya, menyimpang bila dibandingkan dengan norma budaya, yang
mengakibatkan kurangnya atau terganggunya fungsi adaptasi (Townsend, 1999).
Dasar untuk memahami gangguan yang terjadi pada bayi, anak-anak, dan remaja
adalah dengan menggunakan teori perkembangan. Penyimpangan dari norma-norma
perkembangan merupakan tanda bahaya penting adanya suatu masalah.
Perilaku penderita gangguan kesehatan jiwa anak dan remaja adalah; kecemasan yang
mendadak dan berlebihan, sulit untuk ditenangkan atau dihibur, bereaksi secara
berlebihan terhadap peristiwa yang biasa terjadi, menolak perubahan lingkungan,
gejala motorik yang janggal, cara bicara yang tidak normal, sulit untuk melakukan
kontak mata, dan mutilasi diri.
10. Epilepsi
Epilepsi adalah sekelompok gangguan neurologis jangka panjang yang cirinya
ditandai dengan serangan-serangan epileptik. Serangan epileptik ini episodenya bisa
bermacam-macam mulai dari serangan singkat dan hampir tak terdeteksi hingga
guncangan kuat untuk periode yang lama. Dalam epilepsi, serangan cenderung
berulang, dan tidak ada penyebab yang mendasari secara langsung sementara serangan
yang disebabkan oleh penyebab khusus tidak dianggap mewakili epilepsy
([Link] : Maret, 2015).
Prilaku penderita epilepsi adalah kehilangan kesadaran atau perubahan kesadaran yang
terjadi bisa berulang kali, disertai dengan kejang umum (mulut berbusa dan
mengompol) atau tanpa kejang sama sekali melainkan seperti orang melamun, bisa
disertai dengan gejala fisik atau psikis, terjadi perubahan kesadaran disertai dengan
gerakan automatisme seperti keluyuran dan gerakan mengunyah berulang.
B. KLASIFIKASI KELAS RUMAH SAKIT JIWA
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MENKES/PER/III/2010 tentang klasifikasi rumah sakit. Berdasarkan pelayanan,
sumber daya manusia, peralatan, sarana dan prasarana, dan administrasi dan manajemen,
Rumah Sakit Jiwa dapat dibagi menjadi tiga kelas yaitu kelas A, kelas B dan kelas C.
Dibawah ini merupakan penjabaran dari kelas-kelas yang ada pada rumah sakit jiwa :
1. Rumah Sakit Jiwa Kelas A
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MENKES/PER/III/2010 tentang klasifikasi rumah sakit. Standar – standar
yang terdapat pada rumah sakit jiwa kelas A adalah :
A. Pelayanan
Rumah Sakit Jiwa kelas A harus memiliki : Pelayanan kesehatan tumbuh
kembang anak dan remaja, Pelayanan kesehatan jiwa dewasa, Pelayanan
kesehatan jiwa lansia, Pelayanan gangguan mental organik, Pelayanan
psikologi dan psikometri, Pelayanan ketergantungan obat / NAPZA,
Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat, Pelayanan konseling dan psikoterapi,
Pelayanan Rehab Mental, Pelayanan Rehab Medik, Pelayanan Spesialis
Saraf, Pelayanan Spesialis Radiologi, Pelayanan Spesialis Anak, Pelayanan
Spesialis Anestesi, Pelayanan Laboratorium, Pelayanan Spesialis Penyakit
Dalam, Pelayanan Gawat Darurat, Pelayanan Kesehatan Umum, Pelayanan
Kesehatan Gigi, Pelayanan Rawat Inap, dan Pelayanan Rawat Intensif.
B. Tenaga Kerja
a. Medis : Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Subspesialis
Kedokteran Jiwa, Dokter Spesialis Saraf, Dokter Spesialis Radiologi,
Dokter Spesialis Anak, Dokter Spesialis Anestesi, Dokter Spesialis
Patologi Klinik, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis
Rehab Medis, Dokter Umum, dan Dokter Gigi.
b. Keperawatan : Keperawatan Ruang Rawat Inap, Keperawatan Ruang
Rawat Intensif, Keperawatan Ruang Gawat Darurat (per shift),
Keperawatan Ruang Rawat Jalan.
c. Tenaga Kesehatan Lain : Apoteker, Psikolog Klinis, Pekerja Sosial,
SKM, SMF / SAA, Ahli Madya Gizi / SPAG, Ahli Madya Kesehatan
Lingkungan, Ahli Madya Rekam Medis, Ahli Madya Fisioterapis, Ahli
Madya Analis Kesehatan (AAK), Perawat Anestesi, Ahli Madya
Radiografer, Ahli Madya Elektromedis, Petugas Proteksi Radiasi (PPR).
d. Tenaga Penunjang : S2 Perumahsakitan / Manajemen, Sarjana Ekonomi
/ Akuntansi, Sarjana Hukum, Sarjana Administrasi, Akademi Komputer,
D3 Umum / SLTA / STM
C. Sarana dan Prasarana
a. Bangunan Utama:
6. Ruang Administrasi adalah ruangan yang dimana pada ruangan ini
dipergunakan untuk mengurus segala urusan administrasi rumah sakit.
7. Ruang Rawat Jalan adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat
untuk melakukan kegiatan pelayanan konsultasi, pemeriksaan dan
pengobatan (klinik). Yang terdiri dari: - Klinik tumbuh kembang anak
dan remaja - Klinik jiwa dewasa - Klinik psikogeriatri - Klinik
gangguan mental organik - Klinik psikometri - Klinik ketergantungan
obat / NAPZA - Klinik spesialisasi lain - Klinik konseling
8. Ruang Rekam medik merupakan suatu unit di rumah sakit yang
bertanggung jawab terhadap pengumpulan, pengelolaan, analisa dan
penyajian data/informasi yang dapat digunakan bagi kepentingan
rumah sakit maupun pemerintah.
9. UGD/IGD merupakan salah satu fungsi yang sangat penting dalam
penyelenggaran pelayanan medik di fasilitas pelayanan kesehatan
karena merupakan pintu pertama yang dituju oleh pasien dalam kondisi
gawat darurat.
10. Ruang Rawat Inap merupakan salah satu fungsi yang utama dalam
penyelenggaraan pelayanan medik dirumah sakit. Fungsi bangunan
rawat inap adalah sebagai fasilitas untuk pasien yang memerlukan
asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara
berkesinambungan lebih dari 24 jam. Untuk kelas A memiliki
kapasitas tempat tidur >100 TT.
11. Ruang Rawat Inap Forensik adalah ruangan yang digunakan untuk
pelayanan rawat inap forensik
12. Ruang Tindakan merupakan ruangan yang berfungsi untuk melakukan
tindakan invasive ringan maupun non invasive.
13. Ruang Rehabilitasi Medik merupakan bagian dari rumah sakit yang
berperan menyelenggarakan program kesehatan yang mencangkup
usaha peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), penyembuhan
(kuratif), Pemulihan (rehabilitatif).
14. Ruang Rehabilitasi Mental & Sosial adalah ruangan yang difungsikan
sebagai rehabilitasi atau pemulihan pada mental dan sosial pasien.
15. Ruang Rawat Jiwa Intensif merupakan instalasi pelayanan khusus jiwa
di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan
berkesinambunagn selama 24 jam.
16. Ruang Kesehatan Jiwa Masyarakat adalah ruangan yang melayani
kesehatan jiwa masyarakat
17. Ruang Radiologi adalah salah satu sarana penunjang medis yang
memberikan layanan pemeriksaan radiologi dengan hasil pemeriksaan
berupa foto/gambar/imaging yang dapat membantu dokter dalam
merawat pasien.
18. Ruang Farmasi adalah suatu bagian dari suatu Rumah Sakit di bawah
pimpinan seorang Apoteker dan dibantu oleh beberapa orang Apoteker
yang memenuhi persyaratan perundang-undangan yang berlaku dan
kompeten secara professional, tempat, atau fasilitas penyelenggaraan
yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan
kefarmasian.
19. Ruang Laboratorium merupakan tempat riset ilmiah, eksperimen,
pengukuran, ataupun pelatihan ilmiah dilakukan. Pada laboratorium
rumah sakit jiwa terdapat ruangan hematologi, ruang kimia klinik,
ruang serologi, mikrobiologi dan parasitologi.
20. Ruang Komite Medik dan SPI adalah ruangan yang diperuntukkan
kepada Komite Medik dan SPI ( Satuan Pengawas Internal) yang
berfungsi untuk mengawasi semua kegiatan baik yang bersifat medis
maupun non medis/ administrasi pada rumah sakit.
21. Ruang Penyuluhan PKMRS adalah ruang penyuluhan kesehatan yang
khusus dikembangkan untuk membantu pasien dan keluarganya untuk
bisa menagani kesehatanya, hal ini merupakan tanggung jawab
bersama yang berkesinambungan antara dokter dan pasien atau
petugas kesehatan dengan pasien dan keluarganya.
22. Ruang Pemulasaraan Jenazah Fasilitas untuk meletakkan/menyimpan
sementara jenazah sebelum diambil oleh keluarganya, memandikan
jenazah, pemulasaraan dan pelayanan forensik.
23. Dapur / Gizi Fasilitas melakukan proses penanganan makanan dan
minuman meliputi kegiatan; pengadaan bahan mentah, penyimpanan,
pengolahan, dan penyajian makanan-minuman.
b. Bangunan Penunjang
1. Ruang Generator Set adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat
Genset
2. IPAL merupakan singkatan dari Instalasi Pengolahan Air Limbah. IPAL
berfungsi sebagai tempat pengolahan air limbah dari rumah sakit seperti
air limbah kamar mandi, air limbah dapur, air limbah laundry, dll.
3. Tempat Pembuangan Sampah sementara adalah tempat penampungan
terhadap sampah rumah sakit yang sifatnya hanya sementara nantinya
akan diangkut oleh DKP dan di bawa menuju TPA.
4. Gudang Farmasi adalah tempat penerimaan, penyimpanan dan
pendistribusian barang berupa obat – obatan, alat kesehatan, dan
perbekalan kesehatan lainnya.
5. Gudang Barang adalah ruangan yang digunakan sebagai tempat
penyimpanan alat – alat pada rumah sakit.
6. Laundry merupakan fasilitas yang disediakan oleh rumah sakit yang
berfungsi sebagai tempat pencucian linen kotor seperti pakaian pasien,
selimut, bed cover dll.
7. IPSRS / Bengkel merupakan singkatan dari Instalasi Pemeliharaan
Sarana Rumah Sakit. Fungsi IPSRS adalah pemeliharaan terhadap
bangunan rumah sakit seperti instalasi listrik, telepon, alat elektro medik,
mesin atau sarana – sarana lain yang terdapat pada rumah sakit.
8. Ruang Perpustakaan merupakan salah satu contoh jenis perpustakaan
khusus, koleksinya sebagian besar berhubungan dengan kesehatan,
kedokteran dan sejenisnya. Pemakai juga khusus, mulai dari pasien,
keluarga yang sedang menunggu pasien hingga tenaga kesehatan.
9. Ruang Diklat adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat pelatihan
dan pendidikan bagi mahasiswa yang akan praktek kerja lapangan.
10. Ruang Pertemuan merupakan ruangan yang berfungsi sebagai tempat
pertemuan atau kunjungan.
11. Tempat ibadah adalah tempat yang dipergunakan untuk melaksanakan
peribadahan atau persembahyangan.
D. Peralatan
1. Instalasi Gawat Darurat : Diagnostik Set, Alat Fiksasi, Tabung Oxygen,
Minor Surgery Set, Minor Surgery Set, Sterilisator, Vacuum Suction,
Defribrilator, Resusitasi Set, Electrocardiography.
2. Instalasi Rawat Jalan : ECG (Electro Cardio Gram), ECT Kit (Electro
Comvulsive Therapy), Perlengkapan diagnostik, Peralatan Fisioterapi,
EEG Brain mapping (Electro Enchephalo Graphy).
3. Alat Diagnostik : Psikometri, Psikodiagnostik.
4. Elektromedik : EKG, EEG, EEG Brain Mapping.
5. Instalasi Rawat Inap : Suction, Sterilizator, Electronic Convulsion
Therapy (ECT)
6. Instalasi Radiologi : X-Ray
7. Instalasi Laboratorium
a. Peralatan Canggih : Automatic Haematology Analyzer, Automatic
Blood Chemistry Analyzer, ELISA automatic / semiautomatic
Analyzer, Drug Monitor
b. Peralatan Sedang : Binocular Microscope, Sentrifuge, Autoclave
c. Peralatan Sederhana : Rak dan Tabung LED, Haemotology Cell
Counter, Hb meter + Pipet eritrosit + pipet leukosit + bilik kantong,
Glucose meter
8. Ruang Isolasi Jiwa
b. APD untuk petugas kesehatan : (Masker, Sepatu Boots, Gaun /
Sarung tangan / Kaos kaki disposable, Kaca mata goggles, tutup
wajah, apron.)
c. Peralatan untuk pasien : Termometer, Stetoscope,
Sphygmomanometer, Tourniquet, IV Set, Pole, Basin, Mobile
Screen, Bedpan, Bed linen.
9. Instalasi Rahabilitasi Medik : Exercises Treadmill, Static Bicycle /
Ergocycle, Shortwave Diathermy, Infrared, Nebulizer.
10. Instalasi Rehabilitasi Mental : Alat Olah Raga, Alat Musik, Alat Tata
Boga, Alat Tata Busana, Alat Pertukangan, Alat Melukis, Alat
Pertamanan / Pertanian / Perikanan / Peternakan.
E. Administrasi dan Manajemen
Rumah Sakit Jiwa kelas A harus memiliki: Status Badan Hukum,
Struktur Organisasi, Tatalaksana / Tata Kerja / Uraian Tugas, Peraturan
Internal Rumah Sakit (HBL & MSBL), Komite Medik, Komite Etik &
Hukum, Satuan Pemeriksaan Internal, Surat Izin Praktik Dokter, Perjanjian
Kerjasama Rumah Sakit & Dokter, Akreditasi RS.
i. Rumah Sakit Jiwa Kelas B
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MENKES/PER/III/2010 tentang klasifikasi rumah sakit. Standar – standar
yang terdapat pada rumah sakit jiwa kelas B adalah :
A. Pelayanan Apabila dibandingkan dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A, Rumah
Sakit Jiwa Kelas B memiliki kekurangan yaitu tidak memiliki : pelayanan
spesialis anak dan pelayanan spesialis anestesi.
B. Tenaga Kerja
Apabila dibandingkan Rumah Sakit Jiwa A, Rumah Sakit Jiwa Kelas B
memiliki kekurangan yaitu tidak memiliki :
1. Medis : Dokter Subspesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Spesialis Anak,
Dokter Spesialis Anestesi, dan Dokter Spesialis Rehab Medis.
2. Keperawatan : Rumah Sakit Jiwa Kelas B memiliki Tenaga Keperawatan
yang sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
3. Tenaga Kesehatan Lain : Rumah Sakit Jiwa Kelas B memiliki Tenaga
Kesehatan Lain yang sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
4. Tenaga Penunjang : Rumah Sakit Jiwa Kelas B memiliki Tenaga
Penunjang yang sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
C. Sarana dan Prasarana
Apabila dibandingkan dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A, Rumah Sakit
Jiwa Kelas B memiliki kekurangan yaitu tidak memiliki :
1. Bangunan Utama: Rumah Sakit Jiwa Kelas B tidak memiliki Klinik
Psikometri pada Ruang Rawat Jalan. Pada ruang rawat inap Rumah
Sakit Jiwa Kelas B juga hanya memiliki kapasitas tempat tidur 50-100
TT.
2. Bangunan Penunjang : Rumah Sakit Jiwa Kelas B tidak memiliki
Ruang Diklat.
D. Peralatan
Apabila dibandingkan dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A, Rumah Sakit
Jiwa Kelas B tidak memiliki Alat Diagnostik yang terdiri dari Psikometri
dan Psikodiagnostik. Pada Instalasi Rehabilitasi Medik tidak memiliki
Exercises Treadmill selebihnya Rumah Sakit Jiwa Kelas B memiliki
peralatan yang sama seperti Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
E. Administrasi dan Manajemen
Rumah Sakit Jiwa Kelas B memiliki administrasi dan manajemen yang
sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
3. Rumah Sakit Jiwa Kelas C
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MENKES/PER/III/2010 tentang klasifikasi rumah sakit. Standar – standar
yang terdapat pada rumah sakit jiwa kelas C adalah :
D. Pelayanan
Apabila dibandingkan dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A, Rumah Sakit
Jiwa Kelas C memiliki kekurangan yaitu tidak memiliki : pelayanan rehab
medik, pelayanan spesialis saraf, pelayanan spesialis radiologi, pelayanan
spesialis anak, pelayanan spesialis anestesi, pelayanan spesialis penyakit
dalam, dan pelayanan kesehatan gigi.
E. Tenaga Kerja
Apabila dibandingkan Rumah Sakit Jiwa A, Rumah Sakit Jiwa Kelas C
memiliki kekurangan yaitu tidak memiliki :
a. Medis : Dokter Subspesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Spesialis Saraf,
Dokter Spesialis Radiologi, Dokter Spesialis Anak, Dokter Spesialis
Anestesi, Dokter Spesialis Patologi Klinik, Dokter Spesialis Penyakit
Dalam, Dokter Spesialis Rehab Medis, dan Dokter Gigi.
b. Keperawatan : Rumah Sakit Jiwa Kelas C memiliki Tenaga
Keperawatan yang sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
c. Tenaga Kesehatan Lain : Rumah Sakit Jiwa Kelas C tidak memiliki
SKM.
d. Tenaga Penunjang : Rumah Sakit Jiwa Kelas C memiliki Tenaga
Penunjang yang sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
F. Sarana dan Prasarana
Apabila dibandingkan dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A, Rumah Sakit
Jiwa Kelas B memiliki kekurangan yaitu tidak memiliki :
1. Bangunan Utama: Rumah Sakit Jiwa Kelas B tidak memiliki Klinik
Psikogeriatri, Klinik Gangguan Mental Organik, Klinik Psikometri, dan
Klinik Spesialisasi Lain pada Ruang Rawat Jalan. Tidak memiliki
Ruang Rawat Inap Forensik, Ruang Rehabilitasi Medik, Ruang
Rehabilitasi Mental dan Sosial, dan Ruang Radiologi.
2. Bangunan Penunjang : Rumah Sakit Jiwa Kelas C tidak memiliki
Ruang Diklat.
G. Peralatan
Apabila dibandingkan dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas A, Rumah Sakit
Jiwa Kelas C tidak memiliki Vacuum Suction, Defribilator, Resusitasi Set,
dan Electrocardiography pada Instalasi Gawat Darurat. Pada Instalasi Rawat
Jalan tidak memiliki ECT Kit dan EEG Brain mapping. Tidak memiliki Alat
Diagnostik yang terdiri dari Psikometri dan Psikodiagnostik. Tidak
memiliki EEG dan EEG Brain mapping pada Elektromedik. Pada Instalasi
Laboratorium tidak memiliki peralatan canggih hanya memiliki peralatan
sedang dan sederhana saja. Pada Instalasi Rehabilitasi Medik tidak memiliki
Exercises Treadmill, Static Bicycle / Ergocycle, dan Shortwave Diatermhy.
selebihnya, Rumah Sakit Jiwa Kelas C memiliki peralatan yang sama seperti
Rumah Sakit Jiwa Kelas A.
H. Administrasi dan Manajemen
Rumah Sakit Jiwa Kelas C memiliki administrasi dan manajemen yang
sama dengan Rumah Sakit Jiwa Kelas C
C. PERSYARATAN TEKNIS SARANA RUMAH SAKIT
1. Atap
1.1.1 Umum
Atap harus kuat, tidak bocor, tahan lama dan tidak menjadi tempat
perindukan serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.
1.1.2 Persyaratan atap.
(1) Penutup atap.
a. Penutup atap dari bahan beton dilapis dengan lapisan tahan air,
merupakan pilihan utama.
b. Penutup atap bila menggunakan genteng keramik, atau genteng beton,
atau genteng tanah liat (plentong), pemasangannya harus dengan sudut
kemiringan sesuai ketentuan yang berlaku.
c. Mengingat pemeliharaannya yang sulit khususnya bila terjadi
kebocoran, penggunaan genteng metal sebaiknya dihindari.
(2) Rangka atap.
a. Rangka atap harus kuat memikul beban penutup atap.
b. Apabila rangka atap dari bahan kayu, harus dari kualitas yang baik dan
kering, dan dilapisi dengan cat anti rayap.
c. Apabila rangka atap dari bahan metal, harus dari metal yang tidak
mudah berkarat, atau di cat dengan cat dasar anti karat.
1.2. Langit-langit.
(1) Umum.
Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan.
(2) Persyaratan langit-langit
a. Tinggi langit-langit di ruangan, minimal 2,70 m, dan tinggi di selasar
(koridor) minimal 2,40 m.
b. Rangka langit-langit harus kuat.
c. Langit-langit mungkin harus dari bahan kedap suara.
2.. Dinding dan Partisi.
2.1 Umum
Dinding harus keras, tidak porous, tahan api, kedap air, tahan karat, tidak
punya sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan. Disamping itu dinding
harus tidak mengkilap.
2.2 Persyaratan Dinding Pada Ruang Khusus
1. Pelapisan dinding dengan bahan keras seperti formika, mudah dibersihkan
dan dipelihara. Sambungan antaranya bisa di “seal” dengan filler plastik.
Polyester yang dilapisi (laminated polyester) atau plester yang halus dan
dicat, memberikan dinding tanpa kampuh ( tanpa sambungan = seamless).
2. Dinding yang berlapiskan keramik/porselen, megumpulkan debu dan
mikro organisme diantara sambungannya. Semen diantara
keramik/porselin tidak bisa halus, dan kebanyakan sambungan yang
diplaster cukup porous sehingga mudah ditinggali mikro organisme
meskipun telah dibersihkan.
3. Keramik/porselin bisa retak dan patah.
4. Cat epoksi pada dasarnya mempunyai kecenderungan untuk mengelupas
atau membentuk serpihan.
5. Pelapis lembar/siku baja tahan karat (stailess steel) pada sudut-sudut
tempat benturan membantu mengurangi kerusakan.
D. KRITERIA DESAIN ELEMEN RUANG
E. TEORI PEMETAAN PERILAKU (BEHAVIOR MAPPING)
Dari beberapa teknik survey tang dapat dipakai dalam kajian arsitektur
lingkungan dan perilaku, teknik behavorial mapping yang dikembangkan oleh
Ittelson sejak tahun1970-an merupakan teknik yang sangat popular dan banyak
dipakai. Selain relatif mudah dipahami, teknik ini mempunyai kekuatan utama pada
aspek spasialnya. Artinya, dengan teknik ini akan didapatkan sekaligus suatu bentuk
informasi mengenai suatu fenomena (terutama perilaku individu dan sekelompok
manusia) yang terkait dengan system spasialnya. Haryadi (1995).
Sommer (1986) mengatakan bahwa Behavorial Mapping digambarkan dalam
bentuk sketsa atau diagram mengenai suatu area dimana manusia melakukan
berbagai kegiatannya. Tujuannya adalah untuk menggambarkan perilaku dalam
peta, mengidentifikasikan jenis dan frekuensi perilaku, serta menunjukkan kaitan
antara perilaku tersebut dengan suatu bentuk rancangan yang spesifik.
Dalam setiap lingkungan buatan manusia, kemungkinan perbedaan maksud atau
tujuan dari desain dengan bagaimana desain benarbenar digunakan sangatlah
mungkin timbul.
Pemetaan Perilaku memungkinkan peneliti untuk menentukan bagaimana
peserta menggunakan ruang yang dirancang dengan merekam perilaku peserta dan /
atau melacak pergerakan partisipan di dalam ruang itu sendiri.
Metodologi ini bersifat “tidak mengganggu” (dilakukan "di kejauhan") dan
sering dilakukan di tempat umum, jadi persetujuan peserta mungkin tidak
diperlukan. Pemetaan Perilaku bersifat “person-centred”, terdiri dari 4 komponen
proses, yakni Material, Parameter, Record (catatan), Analisis.
1. Material
• Bisa dimulai dengan mencari denah lokasi yang sedang dipelajari, sketsa
di atas kertas atau dibuat dengan aplikasi perangkat lunak grafis.
• Membuat sejumlah fotokopi atau cetakan denah seperlunya. (Satu lembar
denah dapat menangkap gerakan dan perilaku, mengumpulkan data secara
visual dalam prosesnya, namun ini mungkin lebih sulit dibaca daripada
melacak peserta individual pada lembaran terpisah.)
2. Parameter
• Cantumkan perilaku yang akan direkam selama pengamatan. Langkah ini
akan membantu menghindari untuk mencatat setiap perilaku yang diamati
dari pada yang dianggap paling relevan dengan pertanyaan penelitian.
• Kembangkan metode notasi untuk menemukan perilaku yang tercatat di
peta, seperti inisial, simbol atau titik warna.
3. Record
• Setiap peneliti mencatat perilaku satu peserta secara tunggal, membuat
notasi di peta sampai salah satu syarat untuk menghentikan observasi
terpenuhi. Pada titik ini, peneliti baru bisa mengamati peserta berikutnya
yang datang.
4. Anlysis
• Melihat hasilnya secara keseluruhan seringkali merupakan langkah awal
yang berguna. Misalnya, secara visual menyatukan hasil amatan jalur yang
diambil peserta dapat membantu menentukan zona lalu lintas yang padat
dibandingkan area yang kurang dimanfaatkan.
Variasi metode pemetaan perilaku
1. Placed-Centered
Tidak memerlukan "tracking/pelacakan'" pada setiap gerakan individu
melalui sebuah ruang. Sebaliknya, area atau ruang tersebut dengan
cepat disurvei sekaligus dan semua perilaku dicatat di peta.
Selanjutnya "snapshot" dapat diambil pada interval untuk membantu
mengidentifikasi pola yang konsisten. Berguna
untuk menentukan bagaimana berbagai area dalam ruang yang
digunakan.
2. Chart-based
Metode ini hanya menghitung perilaku dalam bentuk grafik, sering kali
bersamaan dengan data waktu, dan bukan menempatkannya di peta
lingkungan. Berguna bila fitur lingkungan bukan fokus utama.
3. Pelacakan Jejak
Mengamati bukti fisik kegiatan, biasanya sebagai jejak fisik yang
nampak (misal:jejak pola lalu lalang atau jejak pengguna di halaman
terbuka).
4. CARS, SOPLAY, SOPARC, OSRAC-P*
Empat dari beberapa model formal untuk pemetaan perilaku dengan
fokus khusus pada aktivitas fisik anak-anak.
5. GPS / GIS / RFID / WLAN
Teknologi yang memungkinkan pelacakan pergerakan pejalan kaki,
pesepeda, kendaraan, keranjang belanja, dll secara otomatis.
6. Time-Lapse Video
Berguna untuk merekam pola kendaraan atau pejalan kaki, atau
penggunaan ruang dalam periode yang lebih lama. Data dikumpulkan
dengan meninjau materi pada langkah kedua.
7. Shadowing atau Membayangi
Meskipun agak mirip dengan pemetaan perilaku, teknik ini
mengharuskan peserta mengikuti dengan seksama untuk melacak
gerakan dan perilaku mereka, sambil melontarkan dengan pertanyaan
gaya wawancara untuk mendapatkan data kualitatif "tepat di tempat"
tentang penalaran atau motivasi peserta.
F. TEORI ORGANISASI RUANG
D.K. Ching (1943) menyebutkan bahwa organisasi ruang dapat dibagi menjadi 5
bagian, yaitu:
1. Organisasi Linear
Gambar . Organisasi Linear
Sumber : Francis DK Ching
Organisasi linier ini merupakan urutan dalam satu garis dari ruang-ruang yang
berulang. Pada organisasi linear ini memiliki sifat yang flexsibel serta dapat
menanggapi berbagai macam kondisi tapak. Bentuk organisasi linear dapat
disesuaikan dengan adanya perubahan yang terjadi pada topografi. Bentuk lurus,
bersegmen, atau melengkung merupakan konfigurasi horizontal sepanjang tapak,
diagonal menaiki suatu kemiringan atau berdiri tegak seperti sebuah menara. Bentuk
organisasi linear dapat digunakan untuk:
Untuk menghubungkan ruang-ruang yang memiliki ukuran, bentuk dan
fungsi yang sama atau berbeda-beda.
Untuk mengarahkan orang untuk menuju ke ruang-ruang tertentu.
2. Organisasi Grid
Gambar . Organisasi Grid
Sumber : Francis DK Ching
Pada organisasi grid ini sebuah keteraturan dan kontinuitas pola yang meliputi
unsur yang diorganisir dapat menghasilkan kekuatan yang menjadikan suatu grid
menjadi organisasi. Sebuah grid dapat mengalami perubahan bentuk yang lainnya.
Guna membentuk ruang utama atau menampung bentuk-bentuk alami pada tapak
maka pola grid dapat diputus. Sebagian grid dapat dipisahkan dan diputar terhadap
sebuah titik dalam pola dasarnya. Lewat dari daerahnya, grid dapat mengubah
kesannya dari suatu pola titik ke garis, ke bidang dan berakhir ke ruang. Bentuk
organisasi grid dapat digunakan sebagai berikut:
Untuk mendapatkan kejelasan orientasi dalam sirkulasi.
Untuk memberi kemudahan dalam penyusunan struktur dan konstruksi
bangunan.
3. Organisasi Terpusat
Gambar . Organisasi Terpusat
Sumber : Francis DK Ching
Organisasi terpusat merupakan ruang dominan terpusat dengan
pengelompokan sejumlah ruang sekunder. Pada organisasi terpusat yang memiliki
bentuk yang relatif padat dan secara geometri teratur dapat digunakan sebagai
berikut :
Untuk menetapkan titik-titik yang menjadi point of interest dari suatu ruang.
Untuk menghentikan kondisi-kondisi aksial.
Digunakan sebagai suatu bentuk obyek di dalam daerah atau volume ruang
yang tetap.
4. Organisasi Radial
Gambar . Organisasi Radial
Sumber : Francis DK Ching
Organisasi radial merupakan sebuah bentuk yang mengembangkan keluar
lingkupnya serta memadukan unsur- unsur baik organisasi terpusat maupun linear.
Pola baling-baling di mana lengan linearnya berkembang dari sisi sebuah ruang
pusat berbentuk segi empat atau bujur sangkar hal ini merupakan variasi tertentu
dari organisasi radial. Susunan tersebut dapat menghasilkan suatu pola dinamis yang
secara visual dapat mengarah kepada gerak berputar mengelilingi pusatnya. Bentuk
organisasi radial dapat digunakan sebagai berikut:
Untuk membagi ruang yang dapat dipilih melalui entrance.
Untuk memberi pilihan bagi orang untuk menuju ke ruang-ruang yang
diinginkannya.
5. Organisasi Cluster
Gambar . Organisasi Cluster
Sumber : Francis DK Ching
Organisasi ini merupakan sebuah kelompok ruang berdasarkan kedekatan
hubungan atau bersama-sama memanfaatkan satu ciri hubungan visual. Tingkat
kepentingan sebuah ruang harus ditegaskan melalui ukuran karena tidak terdapatnya
tempat utama di dalam pola organisasi berbentuk kelompok. Bentuk organisasi
cluster dapat digunakan sebagai :
Pembentuk ruang dengan kontur yang berbeda-beda
Mendapatkan view dari tapak dengan kualitas yang sama bagi masing - masing
ruang.
Pembentuk tatanan ruang yang memiliki bentuk, fungsi dan ukuran yang
berbeda-beda.
G. Tinjauan Pemetaan dan Perilaku pengguna RSJ
1. Pasien rawat inap
Pada studi Kasus di RSJ magelang yang nantinya akan menjadi acuan, memiliki
pembagian pasien berdasarkan jenis kelamin yaitu pria dan wanita. Setelah menjalani
pengamatan secara langsung maupun dengan metode wawancara maka disimpulkan
perilaku pada pasien pria dan wanita tidak jauh berbeda. Selain pasien, terdapat juga
pengguna lainnya yaitu perawat dan psikolog atau dokter.
Pola perilaku di bangsal rawat inap jiwa
Keterangan: : pola perawat bangsal
: pola pasien
Temuan:
Pasien yang menempati bangsal rawat inap adalah pasien yang memerlukan
perawatan intensif yang sebelumnya sudah memalui tahap seleksi dari
psikolog atau dokter yang lalu menganjurkan untuk rawat inap. Di setiap
gedung rawat inap dikelompokan berdasarkan gender dan umur. Pada
penelitian ini dilakukan di bangsal rawat inap komunal atau kelas 2 yang
dihuni 20 pasien. Peneliti hanya mencantumkan satu contoh gedung karena
pola perilaku pasien pada bangsal wanita dan pria tidak jauh berbeda
Bangsal pasien sebenarnya memiliki fungsi yang tidak jauh dari rumah
tinggal. Di dalamnya pasien tidur dan berkegiatan, seperti makan, kegiatan
kelompok. Pasien kerap kali berjalan- jalan di dalam bangsal untuk
menghilangkan rasa bosan dan sesekali mengbobrol dengan perawat yang
berjaga. Jika di dalam kamar pasien biasa melihat suasana ke luar jendela dan
memanggil siapa saja yang lewat. Pasien tidak diperbolehkan keluar bangsal
selain jam yang ditentukan dari jadwal pasien. Di saat keluar bangsal, pasien
biasa berjalan- jalan mengelilingi komplek RSJ didampingi perawat atau
hanya sekedar di sekitaran bangsal, untuk pasien pria biasanya juga ada yang
merokok saat jam keluar bangsal.
Pasien RSJ terlihat sering bosan jika di dalam bangsal karena perabot dan
suasana ruang yang monoton, maka sering kali ingin keluar untuk mencari
suasana yang baruagar tidak bosan.
2. Pasien rehabilitasi
Pola perilaku di gedung rehabilitasi
Keterangan: : pola pengelola atau pegawai
: pola instruktur kegiatan Rehabilitasi
: pola pasien
Temuan:
Pasien yang memiliki kegiatan di gedung 1 merupakan pasien yang memilih
kegiatan vokasi boga. Pada kegiatan vokasi boga didominasi oleh pasien
wanita.
Sebelum melakukan kegiatan rehabilitasi, pasien wanita berkumpul di satu
titik yaitu di ruang pertemuan di gedung 1 untuk melakukan pengarahan
sebelum menuju ke kegiatan rehabilitasi masing- masing.
Pada saat berlangsungnya kegiatan vokasi boga, pasien semua terpusat
melakukan kegiatan di ruang vokasi boga didampingi oleh instruktur yang
mengarahkan kegiatan tersebut. Dikarenakan ruangan vokasi boga berdekatan
dengan ruang kantor pengelola, kantin, dan ruang instruktur, pasien sering
berjalan- jalan sekedar melihat lingkungan di sekitarnya dikarenakan bosan,
atau bahkan tidak sering pasien berjalan keluar gedung.
Pengelola dan pegawai Rehabilitasi berada di satu ruangan. Setiap pegawai
memiliki meja masing- masing sesuai kedudukan di Rehabilitasi. Pegawai di
gedung 1 kebanyakan melakukan kegiatan di ruang kantor atau di meja masing-
masing. Terkecuali untuk pegawai di bagian koordinator lapangan sering
berkunjung ke gedung- gedung lain atau pada kegiatan Rehabilitasi untuk
mengecek kegiatan yang berlangsung.