3.
5 Menerapkan elektronika dasar (kelistrikan, komponen elektronika dan skema rangkaian
elektronika)
Kompetensi Dasar :
3.5. Menerapkan elektronika dasar (kelistrikan, komponen elektronika dan skema rangkaian
elektronika)
4.5 Mempraktikkan fungsi kelistrikan dan komponen elektronika)
PENDAHULUAN
Ketika membongkar perangkat komputer, akan terlihat sebuah mainboard besar yang di
atasnya terhubung ratusan hingga ribuan komponen elektronika melalui sebuah rangkaian
dalam papan PCB (Printed Circuit Board). Komponen tersebut dapat berupa resistor, transistor
maupun kapasitor dan IC (Integrated Circuit) yang saling terhubung satu sama lainnya. Pada
dasarnya, komputer merupakan sebuah perangkat elektronik yang di dalamnya terdapat proses
kelistrikan dan mempresentasikan proses operasi logika ketika melakukan proses aritmetika.
Bagaimana cara kerja setiap komponen yang terdapat di dalam rangkaian ?
Amati dan pahami gambar diatas sebagaimana banyak rangkaian elektronik pada komponen
CPU.
A. ENERGI LISTRIK
Energi listrik adalah energi utama yang dibutuhkan bagi peralatan listrik/energi yang tersimpan
dalam arus listrik dengan satuan ampere (A) dan tegangan listrik dengan satuan volt (V)
dengan ketentuan kebutuhan konsumsi daya listrik dengan satuan Watt (W) untuk
menggerakkan motor, lampu penerangan, memanaskan, mendinginkan atau menggerakkan
kembali suatu peralatan mekanik untuk menghasilkan bentuk energi yang lain.
Energi yang dihasilkan dapat berasal dari berbagai sumber, seperti air, minyak, batu bara,
angin, panas bumi, nuklir, matahari, dan lainnya. Satuan dasar energi listrik adalah Joule,
satuan lain adalah KWh (Kilowattjam).
Sumber energi dibagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Energi primer adalah energi yang
bersumber dari alam, seperti angin, air, matahari, kayu, batu bara, minyak dan nuklir,
sedangkan energi sekunder adalah energi yang dihasilkan dari olahan energi primer yaitu
energi listrik dan gas.
Jika dilihat dari ketersediaannya di alam, energi dibagi menjadi dua yaitu energi terbarukan dan
energi tak terbarukan. Energi terbarukan adalah sumber energi yang memiliki jumlah tak
terbatas meskipun dipakai berkali-kali tidak akan habis karena selalu meregenerasi dengan
sendirinya contohnya adalah energi yang berasal dari panas bumi, matahari, angin, air, ombak
laut dan biomassa.
Energi tak terbarukan adalah energi yang berasal dari sumber-sumber dengan jumlah terbatas
di bumi, sehingga akan ada masanya sumber energi ini habis. Contohnya sumber energi yang
yang tidak dapat diperbarui adalah minyak bumi, batu bara, dan mineral alam.
1. Kuat Arus Listrik
Pada umumnya, aliran arus listrik sendiri mengikuti arah aliran muatan positif dengan kata lain,
arus listrik mengalir dari muatan positif menuju muatan negatif, atau bisa pula diartikan bahwa
arus listrik mengalir dari potensial menuju potensial rendah. Berdasarkan arah alirannya, arus
listrik dibagi menjadi dua kategori, yaitu :
Arus Searah (Direct Current/DC), dimana arus ini mengalir dari titik berpotensial tinggi menuju
titik berpotensial rendah.
Arus Bolak-Balik (Alternating Current/AC), dimana arus ini mengalir secara berubah-ubah
mengikuti garis waktu.
Hambatan Arus Listrik
Hambatan Hambatan listrik adalah sebuah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu
komponen elektronik seperti resistor dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik
dapat dirumuskan sebagai berikut:
V=IxR
I = V/R
R = V/I
Keterangan
V adalah tegangan
I adalah arus.
Satuan SI untuk Hambatan adalah Ohm (R).
Contoh Soal
Pengaturan Power Supply atau DC Generator untuk dapat menghasilkan output dengan
tegangan sebesar 10 V, kemudian nilai potensiometer diatur ke 10 ohm. Berapakah nilai arus
listrik (I) ?
Pembahasan:
Diketahui:
V = 10 V
R = 10 ohm
Ditanya:
I = ..?
Jawab:
I=V/R
I = 10 / 10
I = 1 Ampere
Jadi, nilai arus listriknya adalah 1 Ampere.
2. Daya Listrik
Rumus umum yang digunakan untuk menghitung Daya Listrik dalam sebuah Rangkaian Listrik
adalah :
P =V x I
Sebuah Televisi LCD memerlukan Tegangan 220V dan Arus Listrik sebesar 1,2A untuk
mengaktifkannya. Berapakah Daya Listrik yang dikonsumsinya ?
Diketahui :
V = 220V
I = 1,2 A
P=?
Jawaban :
P=VxI
P = 220V x 1,2A
P = 264 Watt
Jadi Televisi LCD tersebut akan mengkonsumsi daya listrik sebesar 264 Watt.
B. RESISTOR
Resistor merupakan salah satu komponen yang paling sering ditemukan dalam Rangkaian
Elektronika. Hampir setiap peralatan Elektronika menggunakannya. Pada dasarnya Resistor
adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang
berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika.
Resistor atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Hambatan atau Tahanan dan
biasanya disingkat dengan Huruf “R”. Satuan Hambatan atau Resistansi Resistor adalah OHM
(Ω). Sebutan “OHM” ini diambil dari nama penemunya yaitu Georg Simon Ohm yang juga
merupakan seorang Fisikawan Jerman.
Jenis-jenis Resistor
Pada umumnya Resistor dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah
Fixed Resistor, Variable Resistor, Thermistor dan LDR.
1. Fixed Resistor
Fixed Resistor adalah jenis Resistor yang memiliki nilai resistansinya tetap. Nilai Resistansi
atau Hambatan Resistor ini biasanya ditandai dengan kode warna ataupun kode Angka.
Bentuk dan Simbol Fixed Resistor :
Yang tergolong dalam Kategori Fixed Resistor berdasarkan komposisi bahan pembuatnya
diantaranya adalah :
Carbon Composition Resistor (Resistor Komposisi Karbon)
Resistor jenis Carbon Composistion ini terbuat dari komposisi karbon halus yang dicampur
dengan bahan isolasi bubuk sebagai pengikatnya (binder) agar mendapatkan nilai resistansi
yang diinginkan. Semakin banyak bahan karbonnya semakin rendah pula nilai resistansi atau
nilai hambatannya.
Nilai Resistansi yang sering ditemukan di pasaran untuk Resistor jenis Carbon Composistion
Resistor ini biasanya berkisar dari 1Ω sampai 200MΩ dengan daya 1/10W sampai 2W.
Carbon Film Resistor (Resistor Film Karbon)
Resistor Jenis Carbon Film ini terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan Subtrat isolator
yang dipotong berbentuk spiral. Nilai resistansinya tergantung pada proporsi karbon dan
isolator. Semakin banyak bahan karbonnya semakin rendah pula nilai resistansinya.
Keuntungan Carbon Film Resistor ini adalah dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang
lebih rendah dan juga rendahnya kepekaan terhadap suhu jika dibandingkan dnegan Carbon
Composition Resistor.
Nilai Resistansi Carbon Film Resistor yang tersedia di pasaran biasanya berkisar diantara 1Ω
sampai 10MΩ dengan daya 1/6W hingga 5W. Karena rendahnya kepekaan terhadap suhu,
Carbon Film Resistor dapat bekerja di suhu yang berkisar dari -55°C hingga 155°C.
Metal Film Resistor (Resistor Film Logam)
Metal Film Resistor adalah jenis Resistor yang dilapisi dengan Film logam yang tipis ke Subtrat
Keramik dan dipotong berbentuk spiral. Nilai Resistansinya dipengaruhi oleh panjang, lebar
dan ketebalan spiral logam.
Secara keseluruhan, Resistor jenis Metal Film ini merupakan yang terbaik diantara jenis-jenis
Resistor yang ada (Carbon Composition Resistor dan Carbon Film Resistor).
2. Variable Resistor
Variable Resistor adalah jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah dan diatur sesuai
dengan keinginan. Pada umumnya Variable Resistor terbagi menjadi Potensiometer, Rheostat
dan Trimpot.
Bentuk dan Simbol Variable Resistor : Simbol dan Bentuk Variable Resistor
Potensiometer
Potensiometer merupakan jenis Variable Resistor yang nilai resistansinya dapat berubah-ubah
dengan cara memutar porosnya melalui sebuah Tuas yang terdapat pada Potensiometer. Nilai
Resistansi Potensiometer biasanya tertulis di badan Potensiometer dalam bentuk kode angka.
Rheostat
Rheostat merupakan jenis Variable Resistor yang dapat beroperasi pada Tegangan dan Arus
yang tinggi. Rheostat terbuat dari lilitan kawat resistif dan pengaturan Nilai Resistansi dilakukan
dengan penyapu yang bergerak pada bagian atas Toroid.
Preset Resistor (Trimpot)
Preset Resistor atau sering juga disebut dengan Trimpot (Trimmer Potensiometer) adalah jenis
Variable Resistor yang berfungsi seperti Potensiometer tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil
dan tidak memiliki Tuas. Untuk mengatur nilai resistansinya, dibutuhkan alat bantu seperti
Obeng kecil untuk dapat memutar porosnya.
3. Thermistor (Thermal Resistor)
Thermistor adalah jenis Resistor yang nilai resistansinya dapat dipengaruhi oleh suhu
(Temperature). Thermistor merupakan Singkatan dari “Thermal Resistor”. Terdapat dua jenis
Thermistor yaitu Thermistor NTC (Negative Temperature Coefficient) dan Thermistor PTC
(Positive Temperature Coefficient).
Bentuk dan Simbol Thermistor :Simbol dan Bentuk Thermistor
4. LDR (Light Dependent Resistor)
LDR atau Light Dependent Resistor adalah jenis Resistor yang nilai Resistansinya dipengaruhi
oleh intensitas Cahaya yang diterimanya.
Bentuk dan Simbol LDR : Simbol dan Bentuk LDR
Fungsi-fungsi Resistor
Fungsi-fungsi Resistor di dalam Rangkaian Elektronika diantaranya adalah sebagai berikut :
- Sebagai Pembatas Arus listrik
- Sebagai Pengatur Arus listrik
- Sebagai Pembagi Tegangan listrik
- Sebagai Penurun Tegangan listrik
Nilai Resistensi Resistor
Seperti yang dikatakan sebelumnya, nilai Resistor yang berbentuk Axial adalah diwakili oleh
Warna-warna yang terdapat di tubuh (body) Resistor itu sendiri dalam bentuk Gelang.
Umumnya terdapat 4 Gelang di tubuh Resistor, tetapi ada juga yang 5 Gelang.
Gelang warna Emas dan Perak biasanya terletak agak jauh dari gelang warna lainnya sebagai
tanda gelang terakhir. Gelang Terakhirnya ini juga merupakan nilai toleransi pada nilai Resistor
yang bersangkutan. Tabel dibawah ini adalah warna-warna yang terdapat di bodyResistor :
Tabel Kode Warna Resistor
Satuan
Ohm (simbol: Ω) merupakan satuan SI untuk resistansi listrik, diambil dari sebuah nama yaitu
Georg Ohm.
Satuan yang dipakai prefix :
Ohm = Ω
Kilo Ohm = KΩ
Mega Ohm = MΩ
KΩ = 1 000Ω
MΩ = 1 000 000Ω
Perhitungan untuk Resistor dengan 4 Gelang warna :
Cara menghitung nilai resistor 4 gelang
Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-1 (pertama)
Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-2
Masukkan Jumlah nol dari kode warna Gelang ke-3 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10
(10n)
Merupakan Toleransi dari nilai Resistor tersebut
Contoh :
Gelang ke 1 : Coklat = 1
Gelang ke 2 : Hitam = 0
Gelang ke 3 : Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 : Perak = Toleransi 10%
Maka nilai Resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi
10%.
Perhitungan untuk Resistor dengan 5 Gelang warna :
Cara Menghitung Nilai Resistor 5 Gelang Warna
Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-1 (pertama)
Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-2
Masukkan angka langsung dari kode warna Gelang ke-3
Masukkan Jumlah nol dari kode warna Gelang ke-4 atau pangkatkan angka tersebut dengan 10
(10n)
Merupakan Toleransi dari nilai Resistor tersebut
Contoh :
Gelang ke 1 : Coklat = 1
Gelang ke 2 : Hitam = 0
Gelang ke 3 : Hijau = 5
Gelang ke 4 : Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 5 : Perak = Toleransi 10%
Maka nilai Resistor tersebut adalah 105 * 105 = 10.500.000 Ohm atau 10,5 MOhm dengan
toleransi 10%.
Untuk mempermudah menghafalkan warna di Resistor, menggunakan singkatan seperti
berikut :
HI CO ME O KU JAU BI UNG A PU
(HItam, COklat, MErah, Orange, KUning. HiJAU, BIru, UNGu, Abu-abu, PUtih)
Nilai toleransi pada dasarnya yaitu ±20%. Resistor dengan toleransi yang lebih rapat memakai
warna perak (±10%) ataupun emas (±5%) pada ujung lainnya.
Jenis Rangkaian Resistor
Jenis rangkaian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
A. Rangkaian Seri
Rangkaian seri adalah rangkaian tertutup yang terdiri atas dua atau lebih komponen resistor
yang terhubung secara sejajar atau seri. Berikut ini adalah rumus untuk menghitung rangkaian
seri dari resistor :
Rtotal = R1 + R2 + R3 + ..... + Rn
Berikut ini nilai arus listrik yang mengalir disetiap resistor memiliki nilai yang sama, maka rumus
sebagai berikut :
I1 = I2 = I3 = I4 ..... = In
Untuk mengetahui nilai besar tegangan total yang mengalir pada rangkaian seri resistor
menggunakan rumus :
Vtotal = V1 + V2 + V3 + ..... + Vn
Contoh soal 1 :
Terdapat sebuah rangkaian resistor dengan spesifikasi R1 = 1 KOhm, R2 = 2 KOhm, R3 = 10
KOhm, R4 = 20 KOhm, dengan tegangan setiap hambatan yaitu 12 V.
Sumber Gambar : [Link]
1. Berapa nilai hambatan total rangkaian tersebut ?
2. Berapakah besar tegangan total yang berada di rangkaian tersebut ?
3. Berapakah nilai kuat arus yang mengalir pada setiap resistor tersebut ?
Penyelesaian
1. Diketahui :
R1 = 1 kohm
R2 = 2 kohm
R3 = 10 kohm
R4 = 20 kohm
Rtotal = R1 + R2 + R3 + R4
Rtotal = 1 kohm + 2 kohm + 10 kohm + 20 kohm = 33 kohm = 33.000 ohm atau 33 kohm
2. Diketahui :
V = 12
Vtotal = V1 + V2 + V3 + V4
= 12 V + 12 V + 12 V + 12 V
= 48 V.
3. Diketahui :
V = 12 Volt
R = 33.000 ohm
I=V/R
I = 12 Volt / 33.000 ohm
I = 0,0003636 A = 0,37 mA
Jadi, besar arus yang mengalir pada resistor tersebut adalah 0,37 mA
B. Rangkaian Seri
Rangkaian paralel merupakan jenis rangkaian resistor yang terhubung secara paralel antara
kaki resistor yang satu dengan yang lainya. Jika salah satu resistor itu mati/rusak maka arus
listrik tetap dapat mengalir ke resistor yang lainnya. Nilai tegangan tiap titip resistor memiliki
besaran yang sama, maka didapatkan rumus :
Vtotal = V1 = V2 = V3 = ..... = Vn
Total kuat arus listrik secara keseluruhan merupakan penjumlahan dari setiap besar arus listrik
yang mengalir pada masing-masing resistor. Berikut rumus kuat arus listrik.
Itotal = I1 + I2 + I3 + I4 ..... + In
Untuk mengetahui nilai hambatan secara keseluruhan dari rangkaian paralel resistor memiliki
rumus :
Sumber Gambar : [Link]
Contoh soal 1:
1. Terdapat sebuah rangkaian paralel resistor dengan spesifikasi R1 = 100 Ohm, R2 = 100
Ohm, R3 = 50 Ohm, dengan tegangan = 12 V
Sumber Gambar : [Link]
1. Berapakah nilai hambatan total rangkaian tersebut ?
2. Berapakah nilai arus listrik yang mengalir disetiap resistor tersebut ?
Penyelesaian
1. Diketahui :
R1 = 100 ohm
R2 = 100 ohm
R3 = 50 ohm
1/Rtotal = 1/R1 + 1/R2 + 1/R2
= 1/100 Ohm + 1/100 Ohm + 1/50 Ohm
= ( 1 + 1 + 2 ) / 100 Ohm
= 4/100 Ohm
= 100/4
= 25 Ohm
2. Diketahui :
V = 12 V
R = 25 Oh,
I=V/R
I = 12 V / 25 Ohm
= 0,48 A, atau 480 mA
B. Rangkaian Paralel dan Seri ( Gabungan )
Contoh soal 2 :
1. Berapakah nilai hambatan total dari sebuah rangkaian campuran diatas
Penyelesaian
1. Diketahui :
R1 = 10 Ohm
R2 = 10 Ohm
R3 = 20 ohm
Rtotal = (R // R ) + R
1 2 3
Pertama kita hitung nilai hambatan paralelnya (R1 // R2)
1/Rparalel = 1/R1 + 1/R2
1/Rparalel = 1/10Ω + 1/10Ω
1/Rparalel = 2/10Ω
Rparalel/1 = 10/2Ω
Rparalel/1 = 5Ω
Rparalel = 5Ω
Kemudian kita hitung nilai hambatannya serinya (Rparalel + R3) ;
Rtotal = Rparalel + R3
Rtotal = 5Ω + 20Ω
Rtotal = 25Ω
Jadi nilai hambatan total dari rangkaian campuran diatas adalah 25 ohm.