BAB 4 (METODOLOGI DAN PROSES
PELAKSANAAN ANALISIS SWOT)
A. Pendahuluan
Dalam sebuah proses pengambilan keputusan
strategis, pemahaman terhadap posisi dan kondisi
organisasi secara menyeluruh menjadi hal yang
sangat penting. Organisasi yang mampu mengenali
kekuatan dan kelemahannya secara internal, serta
memahami peluang dan ancaman dari lingkungan
eksternal, akan lebih siap untuk merancang
strategi yang tepat, relevan, dan berdaya saing.
Salah satu pendekatan yang umum digunakan
untuk menganalisis hal tersebut adalah analisis
SWOT.
SWOT merupakan akronim dari Strengths
(kekuatan), Weaknesses (kelemahan),
Opportunities (peluang), dan Threats (ancaman).
Keempat elemen ini menjadi komponen utama
dalam proses analisis yang bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi
keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi
dalam mencapai tujuan strategisnya. Analisis SWOT
tidak hanya digunakan dalam dunia bisnis, tetapi
juga telah banyak diterapkan dalam pengembangan
lembaga pendidikan, organisasi sosial, instansi
1
pemerintahan, bahkan proyek-proyek
pembangunan di daerah.
Pelaksanaan analisis SWOT dalam
penelitian ini dimaksudkan untuk menghasilkan
pemetaan strategis yang objektif dan terukur
berdasarkan kondisi aktual organisasi. Dengan
pendekatan ini, hasil analisis tidak hanya
berhenti pada identifikasi faktor-faktor strategis,
tetapi juga diarahkan pada perumusan strategi
yang aplikatif, yang disesuaikan dengan
kebutuhan dan potensi yang dimiliki oleh
organisasi atau objek kajian.
Lebih dari sekadar pemetaan situasi,
analisis SWOT juga berperan sebagai alat bantu
untuk membangun kesadaran strategis di dalam
organisasi. Dengan mengetahui kekuatan yang
dapat dioptimalkan, serta kelemahan yang perlu
diperbaiki, organisasi dapat merancang prioritas
tindakan secara lebih efisien. Di sisi lain, dengan
memahami peluang eksternal yang bisa
dimanfaatkan dan ancaman yang harus
diantisipasi, organisasi memiliki pijakan untuk
menyusun langkah adaptif dalam menghadapi
dinamika lingkungan.
Pada bab ini, peneliti menjelaskan secara
terstruktur metode yang digunakan dalam
melakukan analisis SWOT, mulai dari pendekatan
umum penelitian, teknik pengumpulan data,
2
prosedur analisis, hingga bagaimana strategi
dirumuskan berdasarkan hasil identifikasi dan
validasi. Dengan penjelasan metodologis yang
rinci, diharapkan pembaca dapat memahami alur
berpikir dan proses analitis yang melandasi
kesimpulan serta rekomendasi strategis yang
diajukan pada bab-bab berikutnya.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian dalam analisis SWOT ini
dirancang untuk menghasilkan pemahaman yang
mendalam dan menyeluruh mengenai faktor-faktor
strategis internal dan eksternal yang memengaruhi
organisasi. Oleh karena itu, pendekatan yang
digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif
yang dikombinasikan dengan teknik kuantitatif
secara terbatas (kuantifikasi bobot dan skor SWOT),
guna memperkuat objektivitas hasil analisis.
1. Pendekatan Deskriptif Kualitatif
Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan untuk
mengeksplorasi dan mendeskripsikan fenomena
berdasarkan fakta, persepsi, dan pengalaman
para pelaku atau pemangku kepentingan yang
terlibat langsung dalam organisasi. Fokus utama
pendekatan ini adalah menggambarkan secara
sistematis kondisi organisasi sebagaimana
adanya, tanpa melakukan manipulasi terhadap
variabel-variabel yang diteliti.
3
Melalui pendekatan ini, peneliti dapat
mengidentifikasi:
Bagaimana kekuatan (strengths) organisasi
dibangun dan dipertahankan.
Apa saja kelemahan (weaknesses) yang masih
menjadi hambatan internal.
Peluang (opportunities) eksternal apa yang
dapat dimanfaatkan secara strategis.
Ancaman (threats) apa saja yang berpotensi
menghambat pencapaian tujuan organisasi.
Data kualitatif diperoleh melalui teknik
wawancara mendalam, observasi lapangan, dan
analisis dokumen yang relevan. Hasilnya
kemudian disusun dalam bentuk narasi tematik
dan dikategorikan berdasarkan dimensi SWOT.
Pendekatan ini sangat efektif diterapkan dalam
berbagai jenis organisasi karena:
Mampu menangkap nuansa sosial, budaya,
dan emosional yang tidak tertangkap dalam
pendekatan kuantitatif murni.
Fleksibel dalam mengadaptasi konteks lokal
organisasi (seperti karakteristik masyarakat
pesisir pada UMKM di daerah, atau kultur
kerja di lembaga pendidikan dan
pemerintahan).
4
Cocok untuk menjelaskan dinamika organisasi
yang kompleks dan tidak selalu terukur secara
numerik.
2. Unsur Kuantitatif dalam SWOT (Mixed Method)
Meskipun penelitian ini secara umum
menggunakan pendekatan kualitatif, unsur
kuantitatif digunakan pada tahap analisis untuk
memberikan bobot dan skor terhadap setiap
faktor SWOT. Tujuannya adalah:
Menyediakan dasar yang lebih terukur dalam
menentukan prioritas strategi.
Mengurangi subjektivitas dalam pemilihan
faktor yang dianggap strategis.
Langkah-langkah yang digunakan meliputi:
Memberikan bobot pada setiap faktor SWOT
berdasarkan tingkat kepentingannya (skala 0,0–
1,0, dengan total bobot 1,0 per kategori).
Memberikan rating/tingkat kekuatan dari
masing-masing faktor (skala 1–4).
Mengalikan bobot dan rating untuk
menghasilkan skor tertimbang (Weighted Score).
Hasil akhir dari analisis ini disusun dalam bentuk
matriks SWOT kuantitatif, yang menunjukkan:
Faktor mana yang paling dominan dan signifikan.
5
Kombinasi strategi (SO, WO, ST, WT) mana yang
paling relevan untuk diambil.
3. Rasionalitas Pemilihan Pendekatan
Pemilihan pendekatan kualitatif dengan dukungan
kuantitatif didasarkan pada alasan berikut:
Kompleksitas Konteks: Organisasi yang diteliti
berada dalam lingkungan sosial-ekonomi yang
dinamis dan kompleks, yang memerlukan
pemahaman kontekstual.
Keterbatasan Data Numerik: Dalam banyak
organisasi lokal atau komunitas, data statistik
atau numerik sering tidak tersedia secara
lengkap, sehingga pendekatan kualitatif lebih
sesuai.
Kebutuhan Rekomendasi Strategis yang
Realistis: Rekomendasi yang bersifat praktis dan
kontekstual lebih mudah dirumuskan melalui
pendekatan yang bersifat eksploratif.
C. Teknik dan Sumber Pengumpulan Data
Dalam proses analisis SWOT, kualitas hasil
sangat bergantung pada ketepatan dan keakuratan
data yang digunakan. Oleh karena itu, tahap
pengumpulan data menjadi komponen krusial yang
menentukan validitas dan keandalan temuan
analisis. Data yang digunakan dalam penelitian ini
dikumpulkan melalui kombinasi teknik kualitatif
6
dan kuantitatif, yang dirancang untuk menggali
informasi dari berbagai sumber, baik primer
maupun sekunder.
Pengumpulan data dilakukan secara
sistematis melalui empat teknik utama, yaitu
wawancara, observasi, dokumentasi, dan kuesioner,
dengan melibatkan narasumber dan sumber data
yang relevan dengan karakteristik organisasi atau
objek studi.
1. Wawancara Mendalam (In-depth Interview)
Binary Wawancara digunakan untuk menggali
informasi secara langsung dari individu yang
memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait
organisasi yang dianalisis. Teknik ini
memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman
yang lebih kaya dan kontekstual mengenai
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Sasaran wawancara meliputi:
Pimpinan organisasi (pemilik UMKM, kepala
sekolah, kepala dinas, manajer startup, dsb.)
Pegawai atau staf operasional yang memahami
proses internal
Mitra eksternal seperti pelanggan utama,
masyarakat sekitar, atau regulator
7
Jenis pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka,
memungkinkan responden memberikan penjelasan
mendalam, opini pribadi, serta narasi pengalaman.
Proses wawancara dilakukan secara tatap muka
atau daring (jika dibutuhkan), dan direkam atau
dicatat secara sistematis.
2. Observasi Langsung
Observasi dilakukan untuk mengamati langsung
kondisi fisik, perilaku, pola kerja, dan interaksi yang
berlangsung dalam organisasi. Teknik ini bermanfaat
untuk:
Memvalidasi informasi yang diperoleh dari
wawancara
Mengidentifikasi aspek yang tidak terungkap
dalam pernyataan lisan
Mendapatkan data faktual mengenai fasilitas,
alur kerja, atau layanan
Contoh observasi:
Pada UMKM: pengamatan proses produksi,
penyimpanan bahan baku, cara pelayanan
pelanggan
Pada sekolah: kondisi ruang belajar, aktivitas
guru dan siswa, sarana pendidikan
Pada instansi pemerintah: proses pelayanan
publik, interaksi antar pegawai, pemanfaatan
teknologi
8
Pada komunitas atau organisasi sosial:
partisipasi anggota, transparansi kegiatan,
dokumentasi program
Data dari observasi dicatat dalam bentuk
catatan lapangan, foto (dengan izin), atau lembar
observasi terstruktur.
3. Studi Dokumentasi
Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data
sekunder dari dokumen resmi dan arsip
organisasi. Teknik ini membantu:
Menelusuri sejarah organisasi
Mengidentifikasi capaian, hambatan, dan
kebijakan sebelumnya
Menyediakan bukti tertulis sebagai dasar
analisis
Jenis dokumen yang dianalisis antara lain:
Laporan tahunan atau laporan kegiatan
Rencana strategis organisasi (Renstra)
Struktur organisasi dan SOP
Data keuangan (laporan laba rugi, biaya
operasional, dsb.)
Notulensi rapat, MoU kerja sama, kebijakan
internal
Materi publikasi (brosur, website, media sosial)
9
Dokumen ini diverifikasi keasliannya dan
disesuaikan dengan informasi dari teknik
pengumpulan data lainnya.
4. Kuesioner (Opsional/Suplemen)
Kuesioner digunakan sebagai teknik tambahan
untuk menjaring opini dari responden dalam
jumlah lebih besar, terutama untuk menggali
persepsi masyarakat, pelanggan, atau pengguna
layanan terhadap organisasi.
Tujuan penggunaan kuesioner:
Mengukur persepsi terhadap kualitas layanan,
keunggulan produk, atau reputasi organisasi
Mengetahui tantangan yang dirasakan oleh pihak
eksternal
Mendapatkan masukan yang bersifat kuantitatif
untuk memperkuat analisis
Kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan
tertutup dan terbuka. Data yang diperoleh
kemudian dianalisis secara deskriptif dan digunakan
sebagai pelengkap informasi SWOT.
5. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini diklasifikasikan
menjadi dua kategori:
10
Data Primer :
Data yang diperoleh langsung dari lapangan
melalui wawancara, observasi, dan kuesioner.
Sumber primer terdiri atas pelaku organisasi
(internal) dan pihak luar yang berkaitan
(eksternal).
Data Sekunder :
Data yang berasal dari dokumen, arsip, laporan
resmi, dan sumber publik lain yang relevan. Data
ini berfungsi untuk memperkuat dan
memverifikasi informasi primer.
6. Validasi dan Triangulasi Data
Untuk memastikan keabsahan data, dilakukan
teknik triangulasi sumber dan teknik, yaitu:
Membandingkan data dari wawancara dengan
hasil observasi dan dokumen
Melibatkan narasumber dari berbagai posisi
dalam organisasi
Meninjau konsistensi antara data primer dan
data sekunder
Validasi ini penting untuk menghindari bias
informasi dan memastikan bahwa hasil analisis
SWOT benar-benar mencerminkan kondisi aktual
organisasi.
D. Langkah-langkah Pelaksanaan Analisis SWOT
11
Pelaksanaan analisis SWOT dilakukan melalui
tahapan sistematis yang bertujuan untuk
mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merumuskan
strategi berdasarkan kondisi internal dan eksternal
organisasi. Langkah-langkah ini dirancang agar
proses analisis tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi
juga mampu memberikan dasar pengambilan
keputusan strategis yang tepat.
Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan
analisis SWOT yang dilakukan dalam penelitian ini:
1. Persiapan dan Penetapan Tujuan Analisis
Langkah awal adalah menetapkan tujuan dari
analisis SWOT, yaitu untuk:
Menilai kondisi organisasi secara
komprehensif
Mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang
mempengaruhi kinerja
Menyusun strategi pengembangan yang
relevan dan aplikatif
Dalam tahap ini, dilakukan juga pembentukan
tim analisis atau kelompok kerja (jika dilakukan
bersama organisasi mitra), serta penyusunan
kerangka kerja analisis.
2. Identifikasi Faktor Internal (Strengths dan
Weaknesses)
12
Identifikasi faktor internal bertujuan untuk
mengenali kekuatan (Strengths) dan kelemahan
(Weaknesses) yang melekat dalam organisasi.
Faktor ini berasal dari sumber daya, struktur
organisasi, proses kerja, produk, SDM,
keuangan, teknologi, dan budaya organisasi.
Metode yang digunakan:
Wawancara dan diskusi internal dengan
pemangku kepentingan
Analisis laporan keuangan dan performa
Observasi langsung terhadap kegiatan
operasional
Contoh indikator:
Strengths: reputasi baik, SDM terampil,
inovasi produk, jaringan mitra luas
Weaknesses: sistem manajemen belum
terdigitalisasi, dana terbatas, turnover
karyawan tinggi
3. Identifikasi Faktor Eksternal (Opportunities dan
Threats)
Analisis eksternal dilakukan untuk mengetahui
faktor-faktor peluang (Opportunities) dan
ancaman (Threats) yang berasal dari lingkungan
luar organisasi, seperti perubahan kebijakan,
13
tren pasar, kondisi sosial-ekonomi, teknologi,
pesaing, dan regulasi.
Metode yang digunakan:
Studi literatur dan analisis dokumen kebijakan
publik
Wawancara dengan pihak eksternal
(pelanggan, mitra, masyarakat, ahli)
Analisis kondisi pasar, lingkungan, dan
teknologi
Contoh indikator:
Opportunities: permintaan pasar meningkat,
dukungan pemerintah, tren digitalisasi
Threats: pesaing baru, inflasi, regulasi ketat,
ketergantungan bahan impor
4. Penyusunan Matriks SWOT
Setelah faktor internal dan eksternal
teridentifikasi, dilakukan penyusunan Matriks
SWOT empat sel (4-cell SWOT matrix) untuk
mengelompokkan faktor-faktor ke dalam empat
kategori utama:
S (Strengths)
W (Weaknesses)
O (Opportunities)
T (Threats)
14
Matriks ini disusun dalam format tabel dan
dilengkapi deskripsi atau poin-poin faktor
strategis. Tahap ini bertujuan mengorganisasi
informasi secara terstruktur sebelum masuk ke
tahap formulasi strategi.
5. Penilaian Bobot dan Skor SWOT (Jika
Menggunakan Kuantifikasi)
Jika pendekatan kuantitatif digunakan, maka
setiap faktor SWOT diberi:
Bobot: menunjukkan tingkat kepentingan
relatif (0,0–1,0, total 1 per kategori)
Rating: menunjukkan kekuatan dampak (skala
1–4)
Skor Tertimbang: hasil perkalian bobot ×
rating
Langkah ini memungkinkan dibuatnya matriks
SWOT kuantitatif yang membantu mengukur
prioritas strategi secara objektif.
6. Analisis SWOT Kuadran (SWOT Matching)
Tahap selanjutnya adalah menggabungkan faktor
internal dan eksternal untuk merumuskan
strategi dalam empat jenis kombinasi:
Kuadran Kombinasi Jenis Strategi
SO Strengths + Strategi Agresif (pemanfaatan
15
Kuadran Kombinasi Jenis Strategi
Opportunities kekuatan untuk mengejar peluang)
Weaknesses + Strategi Konservatif (memanfaatkan
WO
Opportunities peluang untuk mengatasi kelemahan)
Strategi Diversifikasi (gunakan
ST Strengths + Threats
kekuatan untuk menghadapi ancaman)
Weaknesses + Strategi Bertahan (meminimalkan
WT
Threats kelemahan dan menghindari ancaman)
Dari hasil kombinasi ini, akan diperoleh alternatif
strategi yang bisa diterapkan organisasi dalam
jangka pendek, menengah, dan panjang.
7. Penyusunan Rekomendasi Strategis
Berdasarkan hasil analisis kuadran SWOT,
disusun rekomendasi strategis yang aplikatif dan
realistis. Rekomendasi ini mempertimbangkan:
Sumber daya organisasi
Kapasitas implementasi
Dampak jangka panjang terhadap
keberlanjutan organisasi
Strategi yang dipilih dapat difokuskan pada
penguatan SDM, transformasi digital,
pengembangan pasar, atau efisiensi operasional
—tergantung pada hasil analisis.
8. Validasi Hasil dan Umpan Balik
16
Hasil akhir analisis SWOT disampaikan kepada
pihak-pihak terkait untuk mendapatkan validasi
dan umpan balik. Validasi dilakukan melalui:
Forum diskusi kelompok terfokus (FGD)
Presentasi internal organisasi
Konsultasi dengan pakar atau stakeholder
eksternal
Tujuannya adalah memastikan strategi yang
disusun sesuai dengan konteks aktual dan dapat
diterima secara kolektif.
E. Pengukuran dan Penilaian Prioritas Strategi
Setelah merumuskan berbagai alternatif strategi
hasil analisis SWOT, langkah selanjutnya adalah
melakukan pengukuran dan penilaian prioritas
strategi. Tahapan ini penting untuk menentukan
strategi mana yang paling layak diimplementasikan
berdasarkan faktor-faktor objektif dan relevansi
strategis. Penilaian dilakukan secara sistematis
dengan menggunakan alat bantu kuantitatif dan
kualitatif untuk memastikan proses pengambilan
keputusan yang rasional dan terarah.
1. Tujuan Pengukuran Prioritas Strategi
Tujuan dari proses ini adalah:
17
Mengukur sejauh mana strategi yang
dihasilkan dapat menjawab kondisi SWOT
organisasi
Memberi bobot objektif terhadap setiap
alternatif strategi
Menyusun urutan prioritas strategi
berdasarkan skor tertinggi
Menentukan strategi utama (core strategy) dan
strategi pendukung (supporting strategy)
2. Teknik Pengukuran: Matriks QSPM (Quantitative
Strategic Planning Matrix)
Salah satu metode paling efektif dalam
mengukur dan memprioritaskan strategi hasil
SWOT adalah Matriks QSPM. QSPM
memungkinkan penilaian kuantitatif terhadap
setiap strategi dengan mempertimbangkan bobot
dan daya tarik relatifnya terhadap faktor SWOT.
Langkah-langkah QSPM:
Identifikasi Faktor Strategis
Gunakan daftar faktor dari matriks SWOT
sebelumnya, terdiri atas:
1. Faktor internal: Strengths dan
Weaknesses
2. Faktor eksternal: Opportunities dan
Threats
18
Pemberian Bobot
Masing-masing faktor diberikan bobot (antara
0.0 sampai 1.0) yang mencerminkan tingkat
pentingnya terhadap keberhasilan organisasi.
Total seluruh bobot = 1.
Alternatif Strategi
Cantumkan semua strategi yang dirumuskan
(SO, WO, ST, WT).
Attractiveness Score (AS)
Berikan skor (1–4) untuk setiap strategi
terhadap faktor:
1. 1 = tidak menarik
2. 2 = agak menarik
3. 3 = menarik
4. 4 = sangat menarik
Total Attractiveness Score (TAS)
TAS = Bobot × AS. Jumlahkan TAS dari setiap
strategi.
Penentuan Prioritas
Strategi dengan TAS tertinggi diprioritaskan
untuk diimplementasikan.
3. Contoh Matriks QSPM Sederhana
Strategi A Strategi B
Faktor Strategis Bobot AS TAS AS TAS
(SO) (WO)
Kekuatan SDM 0.15 4 4 0.60 3 0.45
Dukungan
0.10 3 3 0.30 4 0.40
Pemerintah
Lemahnya
0.20 2 2 0.40 4 0.80
Infrastruktur
19
Strategi A Strategi B
Faktor Strategis Bobot AS TAS AS TAS
(SO) (WO)
Ancaman dari
0.10 3 3 0.30 2 0.20
pesaing
Potensi pasar
0.20 4 4 0.80 3 0.60
digital
Regulasi ketat 0.25 2 2 0.50 3 0.75
TOTAL 1.00 2.90 3.20
Hasil dari contoh di atas menunjukkan bahwa
Strategi B (WO) lebih layak diprioritaskan
dibanding Strategi A (SO), karena memiliki skor
TAS lebih tinggi.
4. Alternatif Teknik: Metode AHP (Analytical
Hierarchy Process)
Jika diperlukan penilaian multi-kriteria secara
lebih rinci, bisa digunakan metode AHP, yang
memungkinkan:
Membandingkan setiap strategi secara
berpasangan (pairwise comparison)
Memberi bobot berdasarkan preferensi
pengambil keputusan
Menghasilkan prioritas akhir strategi
berdasarkan perhitungan konsistensi
Metode AHP cocok digunakan jika jumlah
strategi cukup banyak dan pengambilan
keputusan melibatkan beberapa pihak (misalnya:
20
tim manajemen, dewan pengarah, atau
akademisi).
5. Penilaian Kelayakan Implementasi (Feasibility
Assessment)
Setelah menentukan urutan prioritas strategi,
perlu dilakukan penilaian terhadap kemungkinan
implementasi strategi berdasarkan aspek berikut:
Ketersediaan sumber daya (manusia, dana,
teknologi)
Waktu pelaksanaan
Risiko dan hambatan eksternal
Dukungan dari pemangku kepentingan
Strategi yang prioritas tinggi namun tidak layak
secara sumber daya dapat ditunda atau direvisi.
6. Validasi Hasil dan Pengambilan Keputusan
Hasil penilaian strategi kemudian:
Disampaikan dalam forum atau rapat
manajemen
Didiskusikan secara kolektif untuk
mendapatkan kesepakatan
Diintegrasikan ke dalam dokumen rencana
strategis atau program kerja
21
Validasi ini penting agar strategi tidak hanya
kuat di atas kertas, tetapi juga mendapat
dukungan penuh dari pelaksana lapangan.
7. Validasi dan Konsultasi Hasil
Setelah memperoleh hasil awal dari analisis
SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities,
Threats), langkah selanjutnya adalah melakukan
proses validasi untuk memastikan bahwa hasil
tersebut benar-benar mencerminkan kondisi
aktual yang relevan dan dapat diandalkan dalam
pengambilan keputusan. Hasil awal dari analisis
SWOT belum bisa langsung digunakan sebagai
dasar pengambilan keputusan tanpa melalui
tahapan validasi yang lebih mendalam. Tahap
validasi bertujuan untuk mengonfirmasi bahwa
setiap faktor yang diidentifikasi dalam analisis
SWOT benar-benar mencerminkan situasi yang
ada dan memiliki relevansi terhadap konteks saat
ini.
8. Perumusan Rekomendasi Strategis
Berdasarkan hasil analisis SWOT dan validasi
yang telah dilakukan, tahap selanjutnya adalah
perumusan rekomendasi strategis yang akan
dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan
dan perencanaan jangka panjang organisasi.
Rekomendasi strategi yang disusun harus bersifat
aplikatif, realistis, dan terukur agar dapat
22
diimplementasikan secara efektif dalam konteks
organisasi yang ada. Setiap strategi yang
diusulkan perlu dilengkapi dengan elemen-elemen
berikut:
Daftar Pustaka
David, F. R., & David, F. R. (2020). Strategic management: A
competitive advantage approach, concepts and cases (17th
ed.). Pearson.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2020). Marketing management
(15th ed.). Pearson Education.
Wheelen, T. L., Hunger, J. D., Hoffman, A. N., & Bamford, C.
E. (2020). Strategic management and business policy:
Globalization, innovation, and sustainability (16th ed.).
Pearson.
23
Bryson, J. M. (2020). Strategic planning for public and
nonprofit organizations: A guide to strengthening and
sustaining organizational achievement (5th ed.). Jossey-Bass.
Pearce, J. A., & Robinson, R. B. (2020). Strategic
management: Planning for domestic & global competition
(14th ed.). McGraw-Hill Education.
Hill, C. W. L., Jones, G. R., & Schilling, M. A. (2020).
Strategic management: Theory: An integrated approach (13th
ed.). Cengage Learning.
Mulyadi. (2020). Sistem perencanaan dan pengendalian
manajemen. Salemba Empat.
Robbins, S. P., & Coulter, M. (2020). Management (14th ed.).
Pearson.
Osterwalder, A., Pigneur, Y., Bernarda, G., & Smith, A.
(2020). Value proposition design: How to create products and
services customers want. Wiley.
Tentang Penulis
FOTO
24
Ari Widiastono, [Link].,MT.,MH, buku ini adalah
salah satu karya dan inshaa allah secara konsisten
akan disusul dengan buku-buku berikutnya. Pokok
bahasan buku yang ditulis semata-mata untuk berbagi
ilmu pengetahuan.
25