ANALISIS MODEL SARANA SANITASI PADA FASILITAS SOSIAL DI
DAERAH RAWAN BENCANA KABUPATEN PIDIE
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap kejadian bencana yang terjadi pasti akan di ikuti dengan pengungsian. Pada
masa tanggap darurat bencana, fasilitas sosial sering kali dimanfaaatkan sebagai tempat
penampungan sementara. Secara psikologis masyarakat akan merasa aman dan nyaman
apabila berlindung dan di tempatkan pada tempat-tempat ibadah seperti mesjid dan
musholla.
Kondisi tempat pengungsian yang penuh sesak dengan segala keterbatasan sering
menimbulkan permasalahan dan ketidaknyamanan, terutama permasalahan dalam
pemenuhan kebutuhan sanitasi, seperti air bersih, MCK, Pembuangan air limbah dan
pembuangan sampah. Pengungsi sebagai manusia, baik sebagai individu maupun
sebagai kelompok masyarakat yang sedang menghadapi masalah, mempunyai kebutuhan
hidup yang harus dipenuhi. Apabila kebutuhan hidup itu tidak dapat terpenuhi dalam
kurun waktu yang lama maka akan menimbulkan masalah kesehatan terutama wanita,
anak-anak dan para lansia serta dapat terjadi masalah sosial, sehingga masyarakat tidak
dapat melaksanakan fungsi sosialnya1.
Pada barak pengungsian korban bencana gempabumi dan tsunami di Aceh pernah
dilaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan di daerah Tanah Pasir yang
menyebabkan 274 penderita mengalami keracunan makanan. Jumlah penderita yang
dirawat sebanyak 38 orang. Setelah 6 bulan bencana tsunami jumlah kasus malaria klinis
pada pengungsi di Propinsi Aceh adalah 9510 kasus. Di Simeulue jumlah kasus
mingguan pada pengungsi meningkat perlahan dan mencapai puncak pada minggu ke-
22. Jumlah kasus tertinggi di Simeulue (34,11% atau 3244 kasus) dan terendah di
Lhokseumawe (0,23% atau 50 kasus). Slide Posirivity rute (SPR) propinsi Aceh adalah
23,7 %2.
Kecamatan Tangse merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie Aceh yang
rawan terhadap bencana, dengan jumlah penduduk sekitar 25.000 jiwa yang tersebar di
28 desa. Kecamatan Tangse berada di atas ketinggian 600-1200 mdpl. Curah hujan yang
tinggi dan terletak pada jalur patahan menjadikan wilayah tersebut sangat rawan terjadi
bencana banjir dan gempabumi. Bencana alam silih berganti terjadi di kawasan tersebut.
pada hari selasa 22 Oktober 2013 pukul 12.40 WIB wilayah Tangse diguncang gempa
5,6 SR. Bencana kali ini merupakan yang keempat kali dalam dua tahun terakhir, yaitu
banjir bandang 10 Maret 2011, banjir luapan 25 Februari 2012, dan gempa 6,0 SR pada
22 Januari 20133.
Permasalahan pengungsi pada fase tanggap darurat di Kecamatan Tangse adalah,
pada waktu relokasikan korban bencana ke tempat pengungsian, bangunan fasilitas
sosial yang digunakan sebagai tempat penampungan sementara tidak di rancang
desainnya sebagai tempat penampungan pengungsi, sehingga tidak memenuhi standar
minimal persyaratan sebuah barak pengungsian.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah: 1) Untuk mengidentifikasikan fasilitas sanitasi pada
tempat penampungan sementara korban banjir bandang Tangse tahun 2011. 2) Untuk
menentukan lokasi dan bangunan sosial sebagai tempat penampungan sementara korban
bencana. 3) Membuat re-desain model bangunan sosial menjadi tempat penampungan
sementara bagi korban bencana sesuai dengan standar sanitasi kesehatan.
BAB II
TEORI PENELITIAN
BAB III
METODELOGI DAN HASIL PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan desain “Penelitian
Pengembangan” (Research and Development). Menurut Borg dan Gall (1989) Metode
“research based development”, yang muncul sebagai strategi dan bertujuan untuk
mengembangkan model. Dalam penelitian ini Research and Development dimanfaatkan
untuk menghasilkan model desain sarana sanitasi pada fasilitas sosial yang akan
dijadikan sebagai tempat penampungan sementara dalam masa tanggap darurat di
Kecamatan Tangse Kabupaten Pidie4.
Informan dalam penelitian ini adalah pengambil kebijakan dan pelaksana program
penanggulangan bencana. Tehnik pengambilan sampel dilakukan dengan metode
Purposive Sampling, yaitu dengan cara memilih orang-orang tertentu yang di anggap
kompeten dan sesuai dengan topik penelitian.
Penelitian ini dibagi dalam empat tahapan yaitu: 1) Studi Pendahuluan 2) Analisis
kebutuhan. 3) Pembuatan model desain. 4) Validitas desain model. 5) Revisi desain
model.
B. Hasil Penelitian
Tahap awal penelitian dimulai dengan melakukan survey lapangan ke wilayah
yang terkena dampak banjir bandang tahun 2011. Desa-desa yang terkena dampak
bencana banjir bandang adalah Blang Dhot, Blang Pandak, Blang Dalam, Ranto
Panyang, Blang Jeurat, Blang Bungong, Krueng Meriam, Pulo Baro, Layan, Peunalom I,
Peunalom II.
Identifikasikan Fasilitas Sanitasi pada Tempat Penampungan Sementara
Banjir Bandang Tangse 2011
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Pidie tahun 2011, hampir 90% penempatan
pengungsi pada saat masa tanggap darurat bencana berada di tenda-tenda yang
dibangun di dalam pekarangan fasilitas umum seperti, sekolah, mesjid dan meunasah
dengan fasilitas sanitasi yang sangat minim. Tempat penampungan korban bencana
tersebar di beberapa lokasi, sehingga penangganan menjadi kurang efektif. Jumlah
pengungsi dan lokasi yang di jadikan sebagai tempat penampungan sementara, yaitu:
1) 116 jiwa (34 KK) di Meunasah Dusun Ulee Kalee Desa Peunalom Sa.
2) 134 jiwa (36 KK) di sekolah SD Dusun Ireu Desa Krueng Meriam.
3) 139 jiwa (32 KK) di Desa Ranto Panyang.
4) 56 jiwa (10 KK) di Masjid Peunalom Sa.
5) 75 jiwa (12 KK) di Pesantren Peunalom Sa.
6) 287 jiwa (58 KK) di sekolah SD Blang Dalam.
7) 108 jiwa (35 KK) Mesjid Pulo Baroh.
Menentukan Lokasi dan Bangunan Tempat Penampungan Sementara
Setelah dilakukan identifikasi ke lokasi penampungan pengungsian yang pernah
dipergunakan oleh masyarakat pada saat bencana banjir bandang tahun 2011, maka
lokasi dan bagunan yang ideal dan layak untuk digunakan sebagai tempat penampungan
sementara korban bencana dalam masa tanggap darurat bencana adalah bangunan SMP
Negeri 1 Tangse, yang terletak di pusat kota Kecamatan Tangse. Empat desa yang rawan
terhadap bencana banjir bandang dapat dengan mudah menuju ke lokasi tersebut. Ke
empat desa tersebut adalah desa Pulo Baro, Layan, Peunalom I dan Peunalom II.
Untuk menentukan lokasi dan bangunan yang akan dijadikan sebagai tempat
penampungan sementara, maka yang harus di perhatikan adalah:
1) Menentukan jalur evakuasi yang cepat dan aman bagi pengungsi untuk menuju ke
tempat pengungsian.
2) Menentukan jalur alternatif selain jalur utama.
3) Memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ke tempat pengungsian.
4) Melakukan survei akan ketersediaan kendaraan yang dapat digunakan dalam proses
evakuasi.
5) Membuat peta evakuasi berdasarkan hasil survei.
6) Sosialisasi kepada masyarakat tentang jalur evakuasi, lokasi dan tempat
penampungan sementara korban bencana.
Pemilihan lokasi dan bangunan tersebut berdasarkan pertimbangan:
1) Memiliki jalan aspal dengan lebar 5 meter sebagai jalur evakuasi utama, sehingga
mudah dilalui oleh kendaraan roda dua dan roda empat.
2) Di jalur evakuasi utama terdapat beberapa fasilitas umum seperti mesjid dan sekolah
yang posisinya terletak pada zona aman sehingga dapat dijadikan titik evakuasi.
3) Selain jalan utama terdapat juga jalan lain atau jalur evakuasi alternatif lainnya,
melalui lahan persawahan yang dapat terhubung langsung dengan lokasi SMP Negeri
1 sebagai tempat penampungan sementara.
Membuat Re-desain Model Bangunan Sekolah Sebagai Tempat Penampungan
Sementara.
Berdasarkan kajian pustaka dan survei lapangan, ada beberapa permasalahan dalam
membuat desain sarana dan prasarana sanitasi pada fasilitas umum di Kecamatan Tangse
yang akan digunakan sebagai tempat penampungan sementara pada masa tanggap
darurat bencana, diantaranya adalah:
1) Kecamatan Tangse terletak pada daerah patahan sehingga sangat rawan terjadi
bencana gempabumi.
2) Bangunan yang tersedia belum memenuhi standar konstruksi keamann terhadap
bencana gempabumi.
3) Belum adanya sistim peringatan dini banjir bandang.
4) Belum adanya peta rawan bencana.
5) Belum adanya jalur dan sistim evakuasi bencana.
Penyediaan Air Bersih
Pembuatan model tempat penyediaan air bersih yang dapat dikembangkan pada
SMP Negeri 1 Tangse adalah:
1) Pembangunan 1 buah sumur bor
2) Pembuatan 2 buah tower bak penampungan dengan kapasitas 1500 liter.
3) Pembuatan kolam penampung air dengan kapasitas 10.000 liter di lokasi fasilitas
MCK wanita.
4) Pembuatan sistim pemanenan air hujan yang ditangkap dari atap-atap konstruksi
bangunan sekolah.
Mandi Cuci Kakus (MCK)
Pengembangan model fasilitas tempat pemandian untuk pengungsi, terpisah untuk
laki-laki dan perempuan serta dibangun bersamaan dengan WC/Jamban, yaitu dengan
membangun 10 kamar mandi/WC untuk laki-laki dan 12 kamar mandi/WC untuk wanita
serta disertai dengan pembuatan bak penampungan tinja/septik tank.
Sebagai tempat pemandian alternatif lainnya, maka akan dikembangkan
pembangunan 1 buah kolam pemandian umum di lokasi MCK wanita, yang juga dapat
digunakan sebagai tempat pencucian. Untuk tempat pencucian dibangun dengan luas
lantai minimal 2,40 m2 (1,20m x 2,0m) dan dibuat tidak licin dengan kemiringan kearah
lubang saluran pembuangan kurang lebih 1%5.
Saluran Pembuangan Air Limbah
Pengembangan model desain saluran pembuangan air limbah yaitu dengan cara
membuat saluran pembuangan air limbah pada seluruh bangunan. Pembuatan bak
penampungan air limbah bekas pemandian dan pencucian. Pada tempat MCK saluran
pembuangan dibuat tertutup dan dialiri ke septik tank atau langsung dialiri ke sungai
dengan ketentuan harus sesuai dengan standar persyaratan yang berlaku.
Tempat Pembuangan Sampah
Pengembangan model tempat pembuangan sampah pada SMP Negeri 1 Tangse
adalah:
1) Penambahan 15 buah bak sampah.
2) Pembuatan bak penampungan sampah sementara pada sudut halama depan sekolah.
3) Menerapkan sistem pengelolaan sampah dengan cara pemilahan sampah.
Gambar 1. Desain Pengembangan Model SMP Negeri 1 Tangse
Validitas Model Desain
Validasi model desain dilakukan oleh ahli atau pakar dari instansi Dinas Kesehatan,
BMCK, Bappeda, Dinas Pendidikan Kebudayaan, dan BPBD Kabupaten
[Link] validasi dengan menggunakan skala likert, berdasarkan penilaian dari
ahli atau pakar terhadap desain model yang ditawarkan
Berdasarkan hasil validasi, maka mayoritas ahli dari masing-masing instansi sangat
setuju dengan desain model yang akan dikembangkan pada SMP Negeri 1 Tangse untuk
dijadikan sebagai tempat penampungan sementara.
Revisi Model Desain
Berdasarkan hasil validasi dengan beberapa orang ahli, terdapat beberapa masukan
untuk melakukan revisi atau penyempurnaan terhadap desain model yang sudah
dikembangkan. antara lain yaitu:
1) Memperbaiki fasilitas jalan dan jembatan di sepanjang daerah yang
sangat rawan bencana.
2) Pembuatan/pembangunan gudang logistik pada kecamatan Tangse
sangat diperlukan.
3) Perlu direncanakan suatu sistem peringatan dini dan tindakan evakuasi
yang tepat dan terarah.
4) Untuk sarana pencuncian dengan bak penampungan air yang di desain di lokasi
WC/jamban wanita, lebih baik di pindahkan ke lokasi alternative lainnya yang
berdekatan dengan lokasi sekolah agar akses menuju ke kamar mandi dan
WC/jamban lebih mudah.
BAB IV
KESEIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:
1) Fasilitas sanitasi, air bersih, MCK, saluran pembuangan air limbah dan tempat
pembuangan sampah pada tempat penampungan sementara korban bencana banjir
bandang Tangse tahun 2011 belum memenuhi standar sanitasi kesehatan, karena
semua fasilitas tersebut tidak mencukupi bahkan tidak tersedia di lokasi
penampungan.
2) Lokasi Gedung sekolah SMP Negeri 1 Tangse merupakan tempat ideal untuk
dijadikan sebagai tempat penampungan sementara pada masa tanggap darurat
bencana, karena memenuhi kriteria sebagai tempat penampungan sementara, yaitu
akses jalan mudah dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Jarak tempuh dari
desa terjauh ± 5 km dengan perkiraan waktu tempuh ± 45 menit.
3) Pengembangan model desain SMP Negeri 1 Tangse sebagai tempat penampungan
sementara adalah dengan menambah sarana sanitasi untuk ketersediaan air besih,
MCK, saluran pembuangan air limbah dan tempat pembuangan sampah yang
disesuaikan dengan luas pekarangan dan kondisi bangunan yang sudah ada.
B. Saran
Untuk mengurangi risiko bahaya bencana pada bangunan SMP Negeri 1 Tangse
yang harus dilakukan adalah bangunan sekolah tersebut perlu dilakukan retrofit dalam
konteks konstruksi bangunan yang tahan terhadap bencana gempabumi.
Diharapkan kepada BPBD sebagai instansi terkait untuk dapat merencanakan
pembuatan peta jalur evakuasi serta sistim peringatan dini pada daerah rawan bencana
banjir bandang.
Diharapkan kepada Instansi terkait agar dapat menentukan zona aman dan jalur
evakuasi alternatif selain jalur evakuasi utama untuk memudahkan korban bencana
menuju ketempat penampungan sementara.
Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan sebagai jalur evakuasi harus
diprioritaskan.
Meningkatkan koordinasi antar lembaga di dalam SKPD dalam penanggulangan
bencana dan masalah pengungsian, sosialisasi, alih pengetahuan dan simulasi kepada
masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana.
DAFTAR PUSTAKA
1
Pracoyo, NE, 2008, Dampat Bencana Tsunami Terhadap Hygine Sanitasi Makanan
dan Air di Barak Pengungsian Nanggroe Aceh Darussalam, Media Litbang
Kesehatan Volume XVIII Nomor: 3
2
Ompusunggu, 2009, Faktor Resiko malaria di Indonesia (Analisis Data Riset
Kesehatan Dasar 2007), Buletin Penelitian Kesehatan, Vol 8
3
BPBD Kabupaten Pidie, 2011, Laporan Bencana banjir bandang Tangse, Sigli
4
Sugiyono, 2011, Metode Penelitian Kombinasi, Alfabeta, Bandung
5
Margareta Wahlsrom, 2012, Building the Future We Want, UNISDR