0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Fungsi dan Jenis Relai Proteksi Listrik

Dokumen ini membahas tentang relai proteksi dan relai arus lebih dalam sistem kelistrikan, menjelaskan fungsi, karakteristik, dan cara kerja masing-masing. Relai proteksi berfungsi untuk mengamankan jaringan transmisi dari gangguan, sedangkan relai arus lebih mendeteksi arus gangguan dan memberikan sinyal trip untuk memutuskan aliran listrik. Terdapat berbagai jenis relai arus lebih yang dibedakan berdasarkan karakteristik waktu kerja, termasuk Instantaneous, Definite Time, dan Inverse Time.

Diunggah oleh

Silvia Yuliani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan15 halaman

Fungsi dan Jenis Relai Proteksi Listrik

Dokumen ini membahas tentang relai proteksi dan relai arus lebih dalam sistem kelistrikan, menjelaskan fungsi, karakteristik, dan cara kerja masing-masing. Relai proteksi berfungsi untuk mengamankan jaringan transmisi dari gangguan, sedangkan relai arus lebih mendeteksi arus gangguan dan memberikan sinyal trip untuk memutuskan aliran listrik. Terdapat berbagai jenis relai arus lebih yang dibedakan berdasarkan karakteristik waktu kerja, termasuk Instantaneous, Definite Time, dan Inverse Time.

Diunggah oleh

Silvia Yuliani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Relai Proteksi

Relai proteksi merupakan salah satu peralatan listrik yang dapat


mengamankan jaringan transmisi dari trip atau mencegah dan membatasi kerusakan
peralatan akibat gangguan atau kondisi tidak normal. Selain itu, relai proteksi
dibutuhkan untuk menginisiasi pemutusan dan mengisolasi daerah yang mengalami
gangguan serta menjaga agar daerah yang tidak mengalami gangguan tetap dapat
menjalankan fungsinya (Husodo dan Muhalan, 2014). Relai juga berfungsi untuk
menunjukkan lokasi dan gangguan, sehingga memudahkan evaluasi pada saat
terjadi gangguan (Arka et al., 2016). Jika terjadi gangguan pada jaringan transmisi,
relai akan memberikan sinyal perintah secara otomatis untuk membuka pemutus
tenaga (PMT) agar bagian yang mengalami gangguan dapat dipisahkan dari sistem.
Gangguan dapat diketahui dengan cara melakukan pengukuran atau
membandingkan besaran yang diterima seperti arus, tegangan, frekuensi, daya,
sudut fasa dan sebagainya sesuai dengan besaran relai yang ditentukan. Adapun
fungsi relai adalah sebagai berikut:
1. Merasakan, mengukur dan menentukan bagian sistem yang terganggu serta
memisahkannya dengan cepat, sehingga sistem lainya yang tidak terganggu
dapat beroperasi secara normal.
2. Mengurangi gangguan kerusakan yang lebih parah dari peralatan yang
terganggu.
3. Mengurangi pengaruh gangguan terhadap sistem yang tidak terganggu dan
mencegah meluasnya gangguan serta, memperkecil bahaya bagi manusia
(Darmawan dan Nugroho, 2017).
Relai pengaman tersebut harus memenuhi kriteria, yaitu: memiliki
keandalan (Reliability), sensivitas (Sensitivity), selektivitas (Selectivity), kecepatan
yang tinggi, serta memiliki nilai ekonomis (Hidayat et al., 2013). Relai pengaman
dapat dikatakan memiliki keandalan, saat relai dapat bekerja sesuai prinsip dasar

5
6

relai yaitu, besarnya arus input yang masuk kedalam peralatan melebihi harga arus
yang telah di-setting.
Arus yang dapat membuat relai bekerja, meliputi:
1. Arus pick up (Ip) adalah nilai arus minimum yang dapat menyebabkan relai
bekerja dan menutup kontaknya. Arus ini disebut juga arus kerja.
Berdasarkan British Standard, kesalahan pick up berkisar antara 1,05-1,50s
dari tiap setting arusnya.
2. Arus drop off (Id) adalah nilai arus maksimum yang menyebabkan relai
berhenti bekerja, sehingga kontaknya membuka kembali. Arus ini disebut
juga arus kembali (Pramono et al., 2017).
Setting relai dilakukan untuk menjamin kontinuitas penyaluran daya pada
sistem proteksi tersebut. Tingkat keberhasilan kontinuitas penyaluran daya pada
sistem tenaga listrik dapat dilihat dari kemampuan sistem tersebut menangani
gangguan yang terjadi (Hakim dan Zulkarnaini, 2014). Saluran udara tegangan
menengah (SUTM) memiliki wilayah yang sangat rawan untuk terjadi gangguan
arus hubung singkat. Umumnya gangguan terjadi pada 3 fasa, antar fasa dan 1 fasa
ke tanah. Penyebabnya dapat berupa petir, pohon tumbang atau binatang. Jika tidak
segera diatasi, maka akan terjadi blackout. Selain itu, blackout juga dapat terjadi
jika salah satu penyulang terkena gangguan dan menyebabkan penyulang lain yang
berada dalam bus yang sama akan trip juga.

2.2 Relai Arus Lebih


2.2.1 Pengertian Relai Arus Lebih
Relai arus lebih atau Over Current Relay (OCR) merupakan peralatan
pengaman listrik yang dapat mensinyalisir adanya ganggun yang disebabkan oleh
arus gangguan hubung singkat maupun beban lebih yang berada dalam wilayah
proteksinya. Relai akan pick up jika besar arus hubung melebihi nilai arus yang
telah di-setting (Arka et al., 2016).
7

Gambar 2.1 Rangkaian relai arus lebih (OCR) (Al Ridha dan Firdaus, 2016)

Prinsip kerja dari relai OCR adalah adanya arus lebih yang dirasakan relai
disebabkan oleh gangguan hubung singkat atau overload (beban lebih), kemudian
relai memberikan perintah trip ke PMT sesuai dengan karakteristik waktunya (Al
Ridha dan Firdaus, 2016).

2.2.2 Jenis relai berdasarkan karakteristik waktu


Berdasarkan karakteristik waktu kerja, relai dibedakan menjadi beberapa
jenis, yaitu: (Hidayat et al., 2013)
1. Instantaneous OCR (Relai arus lebih waktu kerja instant atau sesaat)
Relai ini akan bekerja dengan seketika tanpa adanya waktu tunda, jika
arus yang mengalir melebihi nilai arus setting seperti ditunjukkan pada gambar
2.1.2. Relai tersebut akan memberi perintah trip pada pemutus tenaga (PMT),
saat terjadi gangguan hubung singkat dan besar arus gangguannya mencapai
arus setting (Is). Jangka waktu kerja relai dimulai dari pick up hingga relai
bekerja sangat singkat tanpa penundaan waktu (20 ms-60 ms) (Arka et al.,
2016).

Gambar 2.2 Relai arus lebih dengan karakteristik waktu kerja sesaat
(Arka et al., 2016)
8

2. Definite Time OCR (Relai arus lebih waktu kerja tertentu)


Relai dengan karakteristik Definite Time bekerja dengan waktu tunda
yang telah ditentukan. Relai tersebut memberikan perintah trip pada pemutus
tenaga (PMT), bila nilai arus gangguannya mencapai nilai setting (Is) dan
jangka waktu kerja relai akan mulai pick up hingga relai kerja diperpanjang
dengan waktu yang tidak bergantung pada besarnya arus. Gambar 2.1.3
menunjukkan bahwa hal ini memungkinkan arus yang di-setting menjadi
bervariasi dengan waktu operasi yang berbeda untuk mengatasi arus gangguan
yang berbeda pula (Arka et al., 2016).

Gambar 2.3. Relai arus lebih dengan karakteristik waktu kerja tertentu
(Arka et al., 2016)

3. Inverse Time OCR (Relai arus lebih waktu kerja terbalik)


Cara kerja relai Inverse Time adalah relai akan memberikan perintah
trip pada pemutus tenaga (PMT), bila arus gangguan telah mencapai nilai
setting (Is) dan jangka waktu kerja relai mulai pick up hingga kerja relai
diperpanjang. Sehingga relai memiliki nilai yang berbanding terbalik dengan
besarnya arus gangguan.

Gambar 2.4. Relai arus lebih dengan karakteristik waktu kerja terbalik
(Arka et al., 2016)
9

Gambar 2.1.4 menunjukkan bahwa waktu tunda suatu relai bergantung


pada besarnya arus secara terbalik (inverse time), semakin besar arus gangguan
maka semakin kecil waktu tunda.
𝑛 × 𝐼 𝑠𝑒𝑡𝑡𝑖𝑛𝑔...................................................................(2.1.1)
Kelebihan dari karakteristik ini adalah saat arus mencapai nilai yang
sangat tinggi, waktu untuk membuka pemutus tenaga (PMT) atau trip menjadi
sangat pendek. Sehingga mengurangi resiko terhadap selektivitas dari suatu
relai.
4. Inverse Definite Minimum Time OCR (Relai Arus Lebih IDMT)
Semakin besar arus gangguan yang terjadi, maka semakin cepat relai
bekerja. Tetapi pada saat waktu yang telah ditentukan, kerja relai tidak lagi
ditentukan oleh arus gangguan melainkan oleh waktu. Karakteristik ini
memiliki kelebihan yaitu dapat digunakan sebagai pengaman banyak saluran.

Gambar 2.5. Relai arus minimum lebih dengan karakteristik waktu Definit

Menurut standar IEC 60255, IDMT memiliki empat karakteristik


Inverse, yaitu Standard Inverse (SI), Very Inverse (VI), Long Time Inverse
(LTI), dan Extremely Inverse (EI) (IEC, 2000). Standard Inverse adalah
karakteristik relai arus lebih yang sangat baik untuk dikoordinasikan, karna
memiliki waktu tunda yang statis, serta memiliki setelan kurva arus dan waktu.
Sehingga relai ini dapat memberikan waktu tunda yang bergantung dari arus
yang terukur. Very Inverse merupakan karakteristik relai arus lebih dengan
penundaan waktu sangat terbalik. Long Time Inverse adalah relai arus lebih
dengan waktu kerja yang lama dan terbalik. Sedangkan Extremely Inverse
adalah relai arus lebih dengan penundaan waktu amat sangat terbalik.
Karakteristik Inverse dapat dilihat pada gambar 2.1.6, relai yang bekerja
dengan waktu tunda yang berbeda tiap karakteristiknya .
10

Gambar 2.6. Karakteristik relai arus lebih waktu terbalik Standard Inverse,
Very Inverse dan Extremely Inverse.

2.2.3 Setting relai arus lebih


1. Setting relai arus lebih waktu Invers
Setting relai arus lebih waktu invers dapat di-setting dua bagian yaitu
setting pick up dan setting time dial. Pada setting pick up, batas setting relai
arus lebih adalah relai tidak bekerja saat beban bernilai maksimum. Oleh
karena itu setting arusnya harus lebih besar dari arus beban maksimum. Pada
relai arus lebih, nilai arus pick up ditentukan dengan pemilihan tap. Adapun
untuk menentukan besarnya tap yang digunakan dapat menggunakan
persamaan berikut :
𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇𝑎𝑝 = ............................................................(2.1.2)
𝐶𝑇 𝑃𝑟𝑖𝑚𝑎𝑟𝑦

Keterangan :
Tap = Setting arus pada sisi sekunder
Iset = Setting arus (A)
CT Primary = Rasio transformator arus pada sisi primer
11

Iset adalah arus pick up dalam satuan Ampere. Menurut Standart


British BS 142 batas setting adalah 1.05 Ifla < Iset low < 1.3 Ifla, dimana Ifla
merupakan arus saat beban bernilai maksimum.
(1,05 × 𝐼𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛) ≤ 𝐼𝑠𝑒𝑡 𝑙𝑜𝑤 ≤ (1,3 × 𝐼𝑏𝑒𝑏𝑎𝑛)...............(2.1.3)
Time dial menentukan waktu operasi relai. Untuk menentukan time dial
dari masing-masing kurva karakteristik invers relai arus lebih dapat digunakan
persamaan sebagai berikut :
k×T
td = 𝐼𝑠𝑐 ∝
.................................................................(2.1.4)
[( ) -1]
Iset
𝐼𝑠𝑐 ∝
𝑡𝑑×[( ) −1]
𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇= ...........................................................(2.1.5)
𝑘
Keterangan :
td = waktu operasi (detik)
T = time dial
Isc = nilai arus hubung singkat (Ampere)
Iset = arus pick up (Ampere)
k = koefisien invers 1 (lihat Tabel 2.1)
 = koefisien invers 2 (lihat Tabel 2.1)
Tabel 2.1 Koefisien Time dial
Koefisien
Tipe Kurva
K Α

Standard Inverse 0,14 0,02

Very Inverse 13,50 1,00

Ekstremely Inverse 80,00 2,00

Long Time Inverse 120 1

Ultra Inverse 315,2 2,5

Sumber : IEC 60255


12

Tabel 2.2 Time dial relai karakteristik waktu Inverse Time


Tipe Relai Setting Waktu
𝐼𝑠𝑐 0,02
𝑡𝑑 × [( ) − 1]
Standard Inverse 𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇=
0,14

𝐼𝑠𝑐 1,00
𝑡𝑑 × [( ) − 1]
Very Inverse 𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇=
13,50

𝐼𝑠𝑐 2,00
𝑡𝑑 × [( ) − 1]
Extremely Inverse 𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇=
80,00

𝐼𝑠𝑐 1
𝑡𝑑 × [( ) − 1]
Long Time Inverse 𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇=
120

𝐼𝑠𝑐 2,5
𝑡𝑑 × [( ) − 1]
Ultra Inverse 𝐼𝑠𝑒𝑡
𝑇=
315.2

Sumber : (Partha et al., 2017)


Setelah memperoleh nilai time dial, maka selanjutnya mencari waktu
trip relay dengan menggunakan persamaan :
𝑘×𝑇
𝑡= 𝐼𝑠𝑐 𝛼
..............................................................(2.1.6)
[( ) −1]
𝐼𝑠𝑒𝑡

Keterangan :
t = waktu trip (detik)
T = time dial
Isc = nilai arus hubung singkat (Ampere)
Iset = arus pickup (Ampere)
k = koefisien inverse 1 (lihat Tabel 1.2)
 = koefisien inverse 2 (lihat Tabel 1.2)
13

Tabel 2.3 Waktu trip relai karakteristik IDMT Standar IEC 60255
Type Relai Waktu trip
0,14 × 𝑇
𝑡=
Standard Inverse 𝐼𝑠𝑐 0,02
[( ) − 1]
𝐼𝑠𝑒𝑡

13,50 × 𝑇
𝑡=
Very Inverse 𝐼𝑠𝑐 1,00
[( ) − 1]
𝐼𝑠𝑒𝑡

80,00 × 𝑇
𝑡=
Ekstremely Inverse 𝐼𝑠𝑐 2,00
[( ) − 1]
𝐼𝑠𝑒𝑡

120 × 𝑇
𝑡=
Long Time Inverse 𝐼𝑠𝑐 1
[( ) − 1]
𝐼𝑠𝑒𝑡

315,2 × 𝑇
𝑡=
Ultra Inverse 𝐼𝑠𝑐 2,5
[( ) − 1]
𝐼𝑠𝑒𝑡

Sumber : Standar IEC 60255 (Nova dan Syahrial, 2013).

2. Setting relai arus lebih waktu Instan


Relai arus lebih dengan waktu instan seperti yang sudah dijelaskan pada
bab 2.2.2 akan bekerja seketika, jika ada arus lebih yang mengalir melebihi
batas yang diijinkan. Dalam menentukan setelan pickup instan ini digunakan
Isc min yaitu arus hubung singkat 2 fasa pada pembangkitan minimum.
Sehingga setting ditetapkan sebagai berikut:
𝐼𝑠𝑒𝑡 ≤ 0,8 𝐼𝑠𝑐 𝑚𝑖𝑛..........................................................(2.1.7)
Selain itu ada juga kondisi khusus yang perlu kita perhatikan dalam
mensetting relai arus lebih waktu instan. Salah satunya adalah kondisi khusus
untuk pengaman feeder yang dipisahkan oleh trafo. Koordinasi pengaman
dibedakan menjadi dua daerah, yakni daerah low voltage (LV) dan daerah high
voltage (HV) seperti pada gambar 1.7. Setting pickup dapat dilakukan dengan
syarat sebagai berikut:
𝐼𝑠𝑐 max 𝑏𝑢𝑠 𝐵 ≤ 𝐼𝑠𝑒𝑡 ≤ 0,8 𝐼𝑠𝑐 min 𝐴.............................(2.1.8)
14

Isc min A A

Isc max B
B

Gambar 2.7 Relai arus lebih pengamanan trafo

Dimana Isc max bus B merupakan arus hubung singkat tiga phasa
maksimum pada titik B, sedangkan Isc min, A adalah arus hubung singkat
minimum pada titik A.

3. Koordinasi berdasarkan arus dan waktu


Koordinasi ini adalah untuk menentukan time delay pada relai
pengaman, antara relai pengaman utama dan relai pengaman back up tidak
boleh bekerja secara bersamaan. Untuk itu diperlukan adanya time delay antara
relai utama dan relai back up. Perbedaan waktu kerja minimal antara relai
utama dan relai back up adalah 0.2 – 0.35 detik dengan spesifikasi sebagai
berikut menurut Standard IEEE 242 :
Waktu buka CB : 0.04 – 0.1s (2-5 cycle)
Overtravel dari relai : 0.1 s
Faktor keamanan : 0.12-0.22 s
Untuk relai berbasis microprosessor, Overtravel time dari relai
diabaikan. Sehingga total waktu yang diperlukan adalah 0.2-0.4 s.

2.3 Relai Gangguan Tanah


2.3.1 Pengertian relai gangguan tanah
Relai hubung tanah juga disebut dengan GFR (Ground Fault Relay)
merupakan relai yang memiliki prinsip kerja sama dengan relai arus lebih.
Perbedaanya adalah relai akan mendeteksi adanya hubung singkat ke tanah. Berikut
rangkaian relai hubung tanah.
15

Gambar 2.8. Rangkaian OCR dan GFR (SPLN, 1985)

2.3.2 Setting relai gangguan tanah


Arus pada relai gangguan tanah di-setting ± 10% dari nilai arus
gangguan tanah terkecil (arus gangguan pada 100% panjang penyulang). Hal
ini dilakukan sebagai antisipasi penghantar fasa bersentuhan dengan suatu
benda yang dapat menimbulkan tahanan tinggi, sehingga arus gangguan
hubung singkat menjadi kecil. Setting relai gangguan tanah mengunakan
persamaan berikut :
5-10% x Isc L-G ≤ Iset ≤ 100% x Isc L-G ..........................(2.1.9)
Keterangan :
Isc L-G = Arus hubung singkat 1 fasa ke tanah (A)
Iset = Arus pick up (A)
Pengaturan ini digunakan untuk menentukan nilai setelan waktu atau
time dial.
2.4 Gangguan Hubung Singkat
2.4.1 Pengertian gangguan hubung singkat
Gangguan hubung singkat adalah kondisi fisis yang mengakibatkan
kegagalan suatu komponen listrik bekerja sesuai dengan fungsinya. Gangguan
hubung singkat yang terjadi dalam sistem kelistrikan adalah :
16

1. Gangguan hubung singkat tiga fasa


2. Gangguan hubung singkat dua fasa
3. Gangguan hubung singkat satu fasa ke tanah
Arus gangguan dihitung menggunakan persamaan dasar :
𝑉
𝐼 = 𝑍 ......................................................(2.2)

Keterangan :
I = Arus yang mengalir pada hambatan Z (A)
V = Tegangan sumber (V)
Z = Impedansi jaringan (R)
2.4.2 Perhitungan Arus Hubung Singkat
1. Arus hubung singkat 3 phasa
𝑉𝐿 −𝑁
𝐼𝑠𝑐 3𝑓𝑎𝑠𝑎 = ...........................................(2.2.1)
𝑍1

Keterangan :
𝐼𝑠𝑐 3𝑓𝑎𝑠𝑎 = Arus hubung singkat 3 fasa (A)
𝑉𝐿 − 𝑁 = Tegangan fasa ke tanah (V)
Z1 = Impedansi urutan positif (Ω)

Gambar 2.9. Hubungan impedansi urutan untuk gangguan hubung singkat


3 fasa
2. Arus hubung singkat 2 phasa
𝑉𝐿 −𝐿
𝐼𝑠𝑐 2𝑓𝑎𝑠𝑎 = .....................................................(2.2.2)
𝑍1 +𝑍2

Keterangan :
𝐼𝑠𝑐 2𝑓𝑎𝑠𝑎 = Arus hubung singkat 2 fasa (A)
𝑉𝐿 − 𝐿 = Tegangan antar fasa (V)
𝑍1 = Impedansi urutan positif (Ω)
𝑍2 = Impedansi urutan negatif (Ω)
17

Gambar 2.10 Hubungan impedansi urutan untuk gangguan hubung singkat 2 fasa

3. Arus hubung singkat 1 fasa ke tanah


3𝑉𝐿 −𝑁
𝐼𝑠𝑐 1𝑓𝑎𝑠𝑎 = ...............................................(2.2.3)
𝑍1 +𝑍2 +𝑍0

Keterangan :
𝐼𝑠𝑐 1𝑓𝑎𝑠𝑎 = Arus hubung singkat 1 fasa ke tanah (A)
𝑉𝐿 − 𝑁 = Tegangan fasa ke tanah (V)
𝑍1 = Impedansi urutan positif (Ω)
𝑍2 = Impedansi urutan negatif (Ω)
𝑍0 = Impedansi urutan nol (Ω)

Gambar 2.11. Hubungan impedansi urutan untuk gangguan hubung singkat


1 fasa ke tanah (Akmal & Abimanyu, 2017)
2.5 Impedansi
2.5.1 Pengertian Impedansi
Impedansi atau hambatan dalam adalah nilai resistansi yang terukur pada
suatu rangkaian listrik.
2.5.2 Perhitungan Impedansi
Gangguan hubung singkat di titik tertentu pada suatu penyulang dapat
diketahui dengan mengetahui besarnya impedansi pada penyulang tersebut. Dalam
menghitung impedansi pada penyulang, diperlukan perhitungan impedansi urutan
jaringan, yaitu impedansi urutan positif (Z1), impedansi urutan negatif (Z2) dan
18

impedansi urutan nol (Z0). Untuk menghitung impedansi urutan jaringan, maka
perlu diketahui impedansi sumber, impedansi transformator dan impedansi
penyulang.
1. Impedansi Sumber
𝑀𝑉𝐴 ℎ𝑢𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 = 𝐼𝑠𝑐 × (𝑉𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟 𝑡𝑟𝑎𝑓𝑜 × √3)..............(2.2.4)
𝐾𝑉 2
𝑍𝑠 = .......................................(2.2.5)
𝑀𝑉𝐴 ℎ𝑢𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡

𝐾𝑉 2 (𝑠𝑖𝑠𝑖 𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟)
Zs (sisi 150 KV) = .......................................(2.2.6)
𝑀𝑉𝐴 (𝑏𝑢𝑠 𝑠𝑖𝑠𝑖 𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟)

𝐾𝑉 2 (𝑠𝑒𝑘𝑢𝑛𝑑𝑒𝑟)
Zs (sisi 20 KV) = × 𝑋𝑠(𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟)........................(2.2.7)
𝐾𝑉 2 (𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟)

Keterangan :
𝑀𝑉𝐴ℎ𝑢𝑏𝑢𝑛𝑔 𝑠𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 = Daya hubung singkat (MVA)
𝐼𝑠𝑐 = Arus hubung singkat (A)
𝑉𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟 𝑡𝑟𝑎𝑓𝑜 = Tegangan primer trafo (volt)
𝑍𝑠 = Impedansi sumber (Ω)
𝐾𝑉 2 (𝑠𝑒𝑘𝑢𝑛𝑑𝑒𝑟) = Tegangan sekunder (volt)
𝐾𝑉 2 (𝑝𝑟𝑖𝑚𝑒𝑟) = Tegangan primer (volt)
2. Impedansi Transformator
Impedansi trafo menggunakan persentase untuk menyatakan
penurunan tegangan sebuah transformator ketika beban penuh akibat tahanan
belitan transformator (Hidayat, et al., 2013).
𝐾𝑉 2 (𝑠𝑒𝑘𝑢𝑛𝑑𝑒𝑟)
𝑍𝑡(𝑝𝑎𝑑𝑎 100%) = ..........................................(2.2.8)
𝑀𝑉𝐴

Keterangan :
MVA = Kapasitas daya trafo tenaga (MVA)
Zt (pada 100%) = Impedansi trafo tenaga (Ω)
KV2 (sekunder) = Tegangan sisi sekunder trafo (volt)
3. Nilai Reaktansi Trafo Tenaga
Setelah mendapatkan nilai dari impedansi trafo, maka nilai reaktansi
urutan positif, reaktansi urutan negatif, dan reaktansi urutan nol dapat
diketahui. Persamaan reaktansi urutan positif dan reaktansi negatif didapatkan
melalui persamaan berikut:
19

a. Reaktansi Urutan Positif dan negatif (Xt2 = Xt1)


𝑋𝑡2 = 𝑋𝑡1 = % 𝑟𝑒𝑎𝑘𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 × 𝑋𝑡(100%) ..........................(2.2.9)
b. Reaktansi Urutan Nol (Xt0)
𝑋𝑡0 = 3 × 𝑋𝑡1 (Akmal dan Abimanyu, 2017)...........................(2.3)
4. Impedansi Saluran
Besarnya impedansi penyulang bergantung pada besar impedansi per
km dari panjang penyulang yang akan dihitung, dimana besar nilainya
bergantung pada jenis penghantar, luas penampang dan panjang
penghantarnya. Berikut persamaan impedansi saluran untuk impedansi positif,
negatif dan nol (Nugroho dan Sukmadi, 2017).
𝑍1 = 𝑍2 = 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 (𝑘𝑚) × 𝑍1 ...................(2.3.1)
𝑍0 = 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 (𝑘𝑚) × 𝑍0 ...................(2.3.2)
𝑍1 % = %𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 × 𝑍1 ..........................(2.3.3)
𝑍2 % = %𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 × 𝑍2 ..........................(2.3.4)
𝑍0 % = %𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 × 𝑍0 ..........................(2.3.5)
Keterangan :
Z1 = Impedansi urutan positif (Ω)
Z2 = Impedansi urutan negatif (Ω)
Z0 = Impedansi urutan nol (Ω)
5. Impedansi Ekivalen Jaringan
Impedansi ekivalen jaringan terdiri atas rangkaian seri, sehingga
perhitungan tersebut berupa penjumlahan dari impedansi. Berikut persamaan
ekivalen jaringan untuk urutan positif, negatif dan ekivalen jaringan urutan nol:
a. Impedansi ekivalen jaringan urutan positif & negatif
𝑍1𝑒𝑞 = 𝑍2𝑒𝑞 = 𝑍𝑠(𝑠𝑖𝑠𝑖 20 𝐾𝑉) + 𝑍𝑡1 + 𝑍𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 ............(2.3.6)
b. Impedansi ekivalen jaringan urutan nol
𝑍0𝑒𝑞 = 𝑍𝑡0 + 3𝑅𝑁 + 𝑍0 𝑝𝑒𝑛𝑦𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 (Akmal dan Abimanyu,2017)..(2.3.7)

Anda mungkin juga menyukai