The Horny Futanari Who Made Her
Dream Porn Universe
Chapter 69: Rahasia yang Terungkap
[ROLEPLAY CONTINUE: PERVERTED SUMMER SAGA]
Makan malam yang aneh itu akhirnya selesai. Debbie, yang sudah lelah mengomeli anak-anak
tirinya yang tidak punya malu, langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat. Luna juga masuk ke
kamarnya, mungkin untuk melarikan diri dari kegilaan di rumah itu.
Ari dan Jenny saling bertatapan sejenak di ruang makan yang kini kosong, sebuah senyum
penuh arti terukir di wajah mereka berdua, sebelum akhirnya mereka juga naik dan masuk ke
kamar masing-masing.
Malam pun tiba.
Di dalam kegelapan kamarnya, Jenny menunggu dengan sabar. Ia mendengarkan suara-suara
di dalam rumah hingga semuanya menjadi sunyi. Ia tahu Debbie dan Luna sudah tertidur
lelap. Dan yang terpenting, ia tahu adik tirinya, Ari, juga sudah tertidur.
Dengan gerakan yang sudah sangat ia kuasai, ia menyelinap keluar dari kamarnya. Telanjang
bulat, ia berjalan tanpa suara melintasi lorong dan dengan hati-hati membuka pintu kamar Ari.
Di sana, di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui jendela, Ari tertidur pulas. Selimutnya
sedikit tersingkap, memperlihatkan penisnya yang, seperti biasa, ereksi dengan sempurna
bahkan saat tidur.
Pemandangan itu membuat vagina Jenny langsung basah. Ini adalah ritual malamnya.
Misinya.
Ia merangkak naik ke atas tempat tidur, memposisikan dirinya di antara kedua kaki Ari. Dengan
tatapan memuja, ia menatap penis adik tirinya itu sebelum akhirnya memasukkannya ke
dalam mulutnya. Ia mulai menghisapnya dengan lembut, menikmati rasa khas yang sudah
membuatnya ketagihan.
Namun, malam ini berbeda. Mungkin karena interaksi mereka di lorong tadi, atau mungkin
karena hasrat Ari yang juga sedang memuncak, stimulasi itu terasa lebih kuat.
Di tengah tidurnya, Ari merasakan sensasi yang luar biasa. Sebuah mimpi yang terasa sangat
nyata. Mulut yang hangat dan ahli sedang memanjakannya. Ia mendesah pelan dalam
tidurnya. Perlahan, kesadarannya mulai terusik. Ini… ini terasa terlalu nyata untuk sebuah
mimpi.
Ia membuka matanya.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamarnya. Dan pemandangan kedua
adalah kepala kakak tirinya, Jenny, yang sedang bergerak naik turun dengan ritmis di atas
selangkangannya.
Jantung Ari serasa berhenti berdetak. Syok. Ia tidak pernah menyangka fantasinya akan
menjadi nyata dengan cara seperti ini.
“Je-Jenny…?!” bisiknya, suaranya serak.
Merasakan gerakan di bawahnya berhenti dan mendengar suaranya, Jenny sadar ia telah
ketahuan. Tapi ia tidak panik. Ia adalah Jenny. Si lonte yang tak punya malu. Dengan gerakan
yang sensual, ia melepaskan mulutnya. Ia menatap Ari yang masih syok, lalu tersenyum nakal.
Sebelum Ari sempat berkata apa-apa lagi, Jenny mencondongkan tubuhnya dan
membungkam mulut Ari dengan sebuah ciuman yang dalam dan basah.
“Sssst,” bisiknya setelah melepaskan ciuman itu. “Jangan berisik. Nanti Mama dan Luna
bangun.”
Dan dengan itu, ia kembali menunduk dan melanjutkan tugasnya, menghisap penis Ari dengan
lebih berani dan lebih ahli dari sebelumnya, kini karena ia tahu penontonnya sudah bangun.
Otak Ari yang tadinya syok, kini dipenuhi oleh gelombang gairah yang luar biasa. Kakak tirinya
yang seksi sedang menghisap penisnya di tengah malam. Ini adalah mimpi yang menjadi
kenyataan. Tangannya yang bebas naik dan meremas payudara H-cup Jenny yang besar dan
kenyal.
“Nghh… Jenny…” desah Ari, suaranya bergetar. “Aku… aku tidak pernah menyangka… kita akan
melakukan hal secabul ini…”
Mendengar itu, Jenny hanya tersenyum di sekitar penis Ari sebelum menghisapnya lebih
dalam lagi. Kenikmatan itu terlalu hebat. Dengan satu erangan yang tertahan, Ari muncrat,
membanjiri mulut kakak tirinya dengan air maninya yang hangat.
Jenny menelan semuanya tanpa sisa, menjilat bibirnya dengan puas. “Rasanya tetap yang
terbaik,” bisiknya.
Ia lalu bangkit, berniat untuk kembali ke kamarnya seolah misinya sudah selesai. “Nah, aku
harus kem—”
Tiba-tiba, sebuah lengan melingkari pinggangnya dari belakang, menghentikannya. Ari sudah
berdiri di belakangnya, memeluknya dengan erat.
“Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah membuatku sange begini?” bisik Ari tepat di
telinga Jenny.
Jenny terkejut. Ia terbiasa menjadi pihak yang memegang kendali dalam ritual rahasia ini. Ia
tidak pernah menyangka Ari akan membalasnya.
“A-apa yang mau kau—”
Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ari mengangkatnya sedikit, memposisikan
penisnya yang sudah kembali mengeras, dan menancapkannya ke dalam vagina Jenny dari
belakang.
“KYAAAA!” pekik Jenny tertahan, tubuhnya tersentak kaget karena invasi yang tiba-tiba itu.
(Bersambung...)