0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan3 halaman

Menciptakan Waifu: Aqua yang Hidup

Arisa memutuskan untuk menciptakan karakter Aqua dari memori roleplay-nya sebagai anggota baru keluarga mereka. Setelah berhasil memanggil Aqua, suasana di rumah menjadi lebih berisik dan penuh kekacauan, terutama dengan sifat Aqua yang cerewet. Arisa merasa bahagia dengan kehadiran Aqua dan langsung terlibat dalam interaksi intim di depan anggota keluarga lainnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan3 halaman

Menciptakan Waifu: Aqua yang Hidup

Arisa memutuskan untuk menciptakan karakter Aqua dari memori roleplay-nya sebagai anggota baru keluarga mereka. Setelah berhasil memanggil Aqua, suasana di rumah menjadi lebih berisik dan penuh kekacauan, terutama dengan sifat Aqua yang cerewet. Arisa merasa bahagia dengan kehadiran Aqua dan langsung terlibat dalam interaksi intim di depan anggota keluarga lainnya.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

The Horny Futanari Who Made Her

Dream Porn Universe


Chapter 64: Waifu Pertama

Beberapa hari pun berlalu. Kehidupan di rumah Yuzuki kini memiliki dinamika baru yang aneh.
Yuki, yang sekarang hidup dengan ‘Kutukan Hasrat’, telah belajar untuk lebih banyak diam.
Setiap kali ia mencoba berbicara, terutama saat kesal, mulutnya akan mengkhianatinya
dengan kata-kata cabul, yang tentu saja akan langsung dimanfaatkan oleh Arisa. Ia tampak
sudah terbiasa, dalam artian ia sudah pasrah pada nasibnya yang terkutuk.

Suatu sore, Arisa sedang bersantai di sofa sementara Miki dengan penuh kasih sayang
mengocok penisnya. Saat Arisa menatap wajah Miki yang penuh cinta, tiba-tiba ia teringat
sesuatu. Ia teringat pada Aqua. Karakter dewi sombong, tidak berguna, tapi luar biasa seksi
yang Miki perankan dengan begitu sempurna.

Sebuah ide gila, bahkan untuk standar Arisa, muncul di kepalanya.

Aku bisa… membuatnya jadi nyata.

Pikiran itu begitu menggoda. Selama ini ia hanya mengubah atau menambah anggota
keluarganya. Ia belum pernah benar-benar menciptakan ‘waifu’ dari nol, seorang entitas yang
sepenuhnya baru dan terpisah.

“Ma,” panggil Arisa, menghentikan gerakan tangan Miki.

“Iya, sayangku… ahhn…?”

“Gimana kalau… kita hidupkan Aqua?”

Miki mengerjapkan matanya. “Maksudmu… aku cosplay jadi Aqua lagi…?”

“Bukan,” kata Arisa. “Maksud gue, kita ciptakan Aqua yang asli. Karakter yang lu perankan itu.
Sebagai entitas baru yang tinggal di sini bersama kita. Waifu pertama gue.”

Ide itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu berhenti beraktivitas. Yuki, Saki, dan
Kaori menatap Arisa.

“Nee-chan mau nambah anggota keluarga lagi?” tanya Saki. “Apa nggak kebanyakan?”

“Apa kau yakin, Arisa?” tanya Yuki, mencoba berhati-hati dengan kata-katanya agar tidak salah
ucap. “Karakter Aqua itu… sangat menyebalkan.”

“Justru itu yang bikin seru,” kata Arisa. “Tapi gue mau minta izin kalian dulu. Kehadirannya
mungkin bakal bikin rumah ini jadi lebih berisik. Kalian nggak apa-apa?”
Miki tersenyum lembut. “Apa pun yang membuatmu bahagia, Arisa. Mama setuju.”

Kaori mengangguk. “Bibi juga. Rumah ini akan jadi lebih ramai, sepertinya menyenangkan.”

Saki mengangkat bahu. “Asal aku tetap jadi adik favoritmu, aku nggak peduli.”

Semua mata tertuju pada Yuki. Ia menghela napas. “Hmph. Terserah kau saja, Arisa. Asalkan…
ahh… kau tetap menghukumku dengan penismu setiap malam…” Sialan. Kutukannya kambuh
lagi.

Arisa tersenyum puas. “Kalau begitu, sudah diputuskan!”

Ia berdiri di tengah ruangan, memejamkan mata, dan memanggil kekuatan OmniGenesis.


“Perintah: Materialisasikan entitas fiksi ‘Aqua’ dari memori roleplay. Berikan tubuh fisik dan
kesadaran terpisah.”

Di tengah ruang keluarga, partikel-partikel cahaya biru mulai berkumpul, membentuk sesosok
wanita. Dalam beberapa detik, di sana berdirilah Dewi Aqua, lengkap dengan pakaian
surgawinya yang minim, persis seperti yang ada di ingatan Arisa.

Arisa lalu menambahkan sentuhan terakhir. “Perintah: Tanamkan memori yang dimodifikasi.
Subjek mengingat Arisa. Subjek mengingat petualangan mereka, tapi dengan akhir di mana
mereka berhasil mengalahkan Ratu Iblis. Subjek mengingat bahwa sebagai hadiah, Arisa
membawanya ke dunianya yang damai ini.”

Sebuah kilatan cahaya masuk ke kepala Aqua. Matanya yang tadi kosong kini memiliki
kesadaran. Ia mengerjapkan matanya, menatap sekeliling dengan bingung, sebelum akhirnya
pandangannya berhenti pada Arisa.

“Kazumi… eh, bukan,” Aqua mengoreksi ingatannya. “Arisa!” pekiknya. “Tempat apa ini?!
Kenapa kau membawaku ke sini?! Dan kenapa semua orang di sini telanjang?!” omelnya, sama
sekali tidak berubah.

Arisa hanya tersenyum. “Selamat datang di rumah barumu, Aqua.”

“Hah?! Rumah baru?! Aku ini dewi! Seharusnya aku kembali ke surga dan dipuja-puja!”

“Berisik,” kata Arisa. Ia berjalan mendekat, dan dengan gerakan yang sudah sangat ia kuasai, ia
menampar pantat Aqua dan membuka tutup lubang pantatnya.

“NGH! APA YANG KAU LAKUKAN DI DEPAN MEREKA SEMUA?!” jerit Aqua, wajahnya merah
padam karena malu saat sadar bahwa Miki, Yuki, Saki, dan Kaori sedang menontonnya.

Ia mencoba mencari pengalihan. Matanya tertuju pada Yuki. “Ke-kenapa kau menghukumku?!
Hina saja dia!” katanya sambil menunjuk Yuki. “Wajahnya sama judesnya dengan si assassin
lonte yang kita temui dulu itu! Dia pasti juga cabul!”

Yuki, yang merasa tersinggung, ingin membalas dengan tajam, “Apa katamu, dewi palsu?!”
Tapi kutukannya mengubahnya.

“Sentuh aku juga, Arisa… ahh…” desah Yuki pasrah. “Biar aku bisa merasakan hukuman
nikmatmu itu juga…”

Mendengar itu, Aqua tertawa terbahak-bahak. “LIHAT! DIA SENDIRI MENGAKU KALAU DIA
CABUL! BUHAHAHA!”

Yuki hanya bisa menatap Aqua dengan tatapan membunuh sambil membekap mulutnya
sendiri.

Arisa, yang melihat pemandangan kacau dari haremnya yang kini lengkap, merasa sangat
bahagia. Ia melepaskan Aqua, lalu mengangkat dagu dewi itu.

“Selamat datang di keluarga, Aqua,” bisiknya, sebelum langsung menerkam dan mengentot
waifu pertamanya itu di depan seluruh keluarganya.

(Bersambung...)

Anda mungkin juga menyukai