The Horny Futanari Who Made Her
Dream Porn Universe
Chapter 62: Kutukan yang Nikmat
[ROLEPLAY CONTINUE: WONDERFUL PERVERTED WORLD!]
Setiap kata cabul yang keluar dari mulut sang assassin adalah bahan bakar terbaik bagi
Kazumi. Ia tidak pernah bertemu seseorang yang begitu sempurna. Seseorang yang
perlawanannya justru adalah bentuk undangan yang paling erotis. Dengan pikiran yang
dipenuhi oleh fantasi tentang partner barunya ini, Kazumi akhirnya tidak bisa menahannya
lagi.
“Aku… suka sekali… mulut kotormu itu…!” geram Kazumi.
Dengan satu raungan, ia muncrat di dalam vagina Kageha, menandai penaklukan pertamanya
atas sang assassin legendaris.
Ia menarik penisnya keluar, tapi ia sama sekali belum selesai. Ia menatap Kageha yang kini
terbaring lemas di atas meja, tubuhnya gemetar karena orgasme yang tidak ia inginkan namun
sangat ia nikmati. Kazumi membalik tubuh Kageha hingga menungging, menyajikan
pemandangan bokongnya yang kencang dan lubang pantatnya yang masih perawan (dari
penis).
“Sekarang,” bisik Kazumi. “Mari kita coba lubangmu yang satunya.”
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pantat Kageha.
“NGHH!”
“T-tunggu! Jangan di sana!” pekik Kageha, mencoba mempertahankan satu-satunya benteng
kesucian yang tersisa menurutnya.
Tapi Kazumi sudah menancapkan penisnya, merobek keperawanan anal sang assassin dengan
satu hentakan kuat.
“GYAAAAAAAAAHHHHHHH!!!”
Jeritan Kageha bercampur dengan desahan saat rasa sakit yang tajam dengan cepat berubah
menjadi kenikmatan yang luar biasa, sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan
sebelumnya.
Kazumi mulai mengentotnya dengan kasar sambil terus menampar pantatnya. Setiap
tamparan membuat Kageha semakin gila. Ia mencoba menghina, mencoba memaki, mencoba
mengeluarkan semua kata-kata kebencian yang ada di otaknya.
Di dalam benaknya, ia berteriak, “Lepaskan aku, brengsek! Aku bukan mainanmu!”
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah: “Jangan lepaskan aku, Sayang… ahh! Jadikan aku
mainan pantatmu selamanya…! Lebih dalam lagi…!”
Kazumi tertawa mendengarnya. “Oh, jadi kau mau jadi mainan pantatku, ya? Tentu saja,
permintaanmu akan kukabulkan!”
Ia menghantam lebih dalam. Kageha menggigit bibirnya, mencoba menahan kata-kata
terkutuknya. Ia berpikir, “Rasa sakit ini… akan kubalaskan seribu kali lipat!”
Namun yang terdengar adalah: “Rasa nikmat ini… ahh… berikan aku seribu kali lipat lagi…!
Pukul aku lebih keras! Entot aku lebih brutal! Aahh!”
Di meja sebelah, Aqua hanya bisa menatap dengan jengkel. “Sudah selesai belum?! Aku lapar!
Dan kenapa assassin aneh itu yang dapat giliran?! Seharusnya aku yang dihukum!”
Darkness, di sisi lain, menatap pemandangan itu dengan wajah penuh iri dan ekstasi. “Oh…
dihina… tapi mulutnya malah berkata jujur pada hasratnya… Betapa indahnya… Aku juga mau
diperlakukan seperti itu…”
Kazumi, yang kini benar-benar sange karena permintaan-permintaan cabul dari Kageha, terus
menggempur lubang pantat sang assassin. Ia merasa telah menemukan partner yang paling
sempurna, seseorang yang setiap kata-katanya adalah afrodisiak murni.
(Bersambung...)