0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan3 halaman

Ancaman Gairah di Dunia Futanari

Dalam chapter ini, party Kazumi menjadi terkenal di kota Axel karena keberhasilan mereka dalam menyelesaikan quest dengan cepat. Setelah merayakan di penginapan, situasi berubah ketika Kageha, seorang assassin, muncul untuk mengancam Kazumi, namun ancamannya malah terdengar menggoda. Kazumi kemudian mengambil alih situasi dan berinteraksi dengan Kageha dengan cara yang tidak terduga, menciptakan ketegangan yang unik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
44 tayangan3 halaman

Ancaman Gairah di Dunia Futanari

Dalam chapter ini, party Kazumi menjadi terkenal di kota Axel karena keberhasilan mereka dalam menyelesaikan quest dengan cepat. Setelah merayakan di penginapan, situasi berubah ketika Kageha, seorang assassin, muncul untuk mengancam Kazumi, namun ancamannya malah terdengar menggoda. Kazumi kemudian mengambil alih situasi dan berinteraksi dengan Kageha dengan cara yang tidak terduga, menciptakan ketegangan yang unik.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

The Horny Futanari Who Made Her

Dream Porn Universe


Chapter 61: Ancaman yang Menggoda

[ROLEPLAY CONTINUE: WONDERFUL PERVERTED WORLD!]

Beberapa hari berikutnya, party Kazumi telah menjadi bahan pembicaraan utama di kota Axel.
Mereka menyelesaikan quest dengan kecepatan yang tidak masuk akal—Kazumi akan meninju
monster apa pun hingga hancur, sementara ketiga rekannya hanya berdiri dan menonton.
Mereka adalah party terkuat sekaligus paling tidak fungsional yang pernah ada.

Suatu malam, setelah seharian penuh membunuh monster, mereka kembali ke penginapan
untuk merayakannya. Aqua, yang sudah menenggak beberapa botol anggur, menjadi sangat
ceria. Ia berdiri di atas meja dan mulai memamerkan trik-trik pesta murahan dewinya,
menyemburkan air mancur kecil dari tangannya.

“Lihat, semuanya! Lihatlah keagungan dari Dewi Air Aqua!” serunya dengan bangga.

Saat ia membungkuk untuk mengambil botol anggur lagi, gaunnya yang pendek tersingkap,
memperlihatkan pemandangan pantatnya yang tidak mengenakan celana dalam. Ia
melakukannya secara tidak sengaja, tapi bagi Kazumi yang sedang memperhatikannya, itu
adalah sebuah undangan.

“Kau sengaja, ya?” geram Kazumi.

Ia melompat ke atas meja, menerkam Aqua, dan langsung mengentotnya di depan Megumin
dan Darkness yang hanya bisa menghela napas pasrah.

“KYAAAA! KAZUMI BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN PADA DEWI SUCI INI DI DEPAN
UMUM?! NGHH!”

Saat Kazumi sedang asyik ‘menghukum’ dewinya yang tidak berguna itu, tiba-tiba, suasana di
penginapan menjadi dingin. Sebuah bayangan muncul di sudut ruangan yang gelap, dan dari
sana, melangkahlah sesosok wanita.

Itu adalah Kageha. Matanya yang dingin tertuju lurus pada satu target: Kazumi. Ia menghunus
belati kembarnya yang berkilauan.

Para pengunjung penginapan lain langsung panik dan berlarian keluar. Kazumi berhenti
bergerak, menoleh ke arah sang assassin.

Kageha bersiap untuk mengucapkan kalimat ancamannya yang paling keren. Di dalam
benaknya, ia berkata, “Yuzuki Kazumi, aku datang atas nama klienku untuk mengambil
nyawamu.”

Namun, saat ia membuka mulutnya, kutukannya mengambil alih.

“Yuzuki Kazumi… ahhn~…” desahnya, suaranya terdengar serak dan penuh gairah. “Aku
datang… atas nama hasratku… untuk mengambil… keperawanan futanarimu…”

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Kazumi, yang masih berada di dalam Aqua,
menatap Kageha dengan bingung. Aqua, Megumin, dan Darkness juga menatapnya dengan
tatapan aneh.

Ancaman itu… sama sekali tidak terdengar seperti ancaman.

Kazumi tersenyum lebar. Ia menarik dirinya keluar dari Aqua. “Oh ya? Kau mau
‘mengambilnya’?” katanya, sama sekali tidak merasa terancam. Ia justru sangat, sangat sange.

Ia berjalan mendekati Kageha yang kini membeku, ngeri karena kata-kata yang baru saja keluar
dari mulutnya sendiri.

“Aku suka caramu mengancam seseorang. Sangat unik,” kata Kazumi. Ia berdiri di depan
Kageha, menatap ‘pakaian’ sihir sang assassin itu. “Tapi sebelum kita mulai, mari kita lepaskan
dulu benda-benda yang menghalangi ini.”

Dengan gerakan cepat, Kazumi melepaskan dildo, vibrator puting, dan buttplug dari tubuh
Kageha, membuat sang assassin kini benar-benar telanjang bulat dan tak berdaya.

“Tu-tunggu! Seharusnya tidak begini!” pekik Kageha.

Kazumi tidak mendengarkan. Ia mengangkat Kageha dan membaringkannya di atas meja


terdekat. “Sekarang, coba katakan lagi. Apa yang mau kau lakukan padaku?”

Ia menancapkan penisnya ke dalam vagina Kageha.

“HNNNGGGHHHH…!” Kageha tidak bisa berkata-kata, otaknya diserang oleh sensasi yang
belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia benci futanari. Tapi ini… kenapa rasanya enak?

“Ayo, katakan,” bisik Kazumi sambil mulai bergerak.

Kageha mencoba melawan. Ia ingin berteriak, “Aku akan membunuhmu!”

Tapi kutukannya berkata lain.

“Aku… ahh… aku akan… membuatmu muncrat… sampai kau tidak bisa berdiri lagi…!” desahnya
pasrah.

Mendengar itu, Kazumi tertawa. “Ide yang bagus. Ayo kita lihat siapa yang akan muncrat
duluan.”
Ia mengentot Kageha dengan lebih cepat. Sang assassin hanya bisa meracaukan hal-hal cabul
yang tidak terkendali setiap kali ia mencoba menghina Kazumi, yang justru membuat Kazumi
semakin bernafsu.

Sial, cewek ini… luar biasa, pikir Kazumi. Setiap kali dia mencoba marah, yang keluar malah
kata-kata sange. Ini… ini adalah partner yang sempurna! Aku sangat menyukainya!

(Bersambung...)

Anda mungkin juga menyukai