0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan3 halaman

Kazumi: Futanari dan Kontrak Pembunuhan

Kazumi, seorang futanari, menemukan kesenangan dalam kekacauan dan penghinaan, merekrut Darkness sebagai anggota party-nya yang aneh. Sementara itu, Kageha, seorang assassin, menerima kontrak untuk membunuh Kazumi karena rasa cemburu dari seorang bangsawan yang terobsesi dengan kebebasan dan tindakan cabul Kazumi. Misi pembunuhan Kageha dimulai dengan tujuan untuk mengakhiri kekacauan yang ditimbulkan oleh Kazumi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan3 halaman

Kazumi: Futanari dan Kontrak Pembunuhan

Kazumi, seorang futanari, menemukan kesenangan dalam kekacauan dan penghinaan, merekrut Darkness sebagai anggota party-nya yang aneh. Sementara itu, Kageha, seorang assassin, menerima kontrak untuk membunuh Kazumi karena rasa cemburu dari seorang bangsawan yang terobsesi dengan kebebasan dan tindakan cabul Kazumi. Misi pembunuhan Kageha dimulai dengan tujuan untuk mengakhiri kekacauan yang ditimbulkan oleh Kazumi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

The Horny Futanari Who Made Her

Dream Porn Universe


Chapter 60: Kontrak Pembunuhan

[ROLEPLAY CONTINUE: WONDERFUL PERVERTED WORLD!]

Jeritan ekstasi Darkness yang melengking tinggi adalah musik bagi telinga Kazumi. Ia telah
menemukan anggota party yang sempurna, seseorang yang menikmati kekacauan dan
penghinaan sama seperti Kazumi menikmati melakukannya. Dengan satu erangan puas, ia
muncrat di dalam vagina sang ksatria.

Tapi ia belum selesai. Ia menarik penisnya keluar, dan di depan seluruh guild yang kini
menonton dengan campuran antara ngeri dan rasa ingin tahu, ia menghantam lubang pantat
Darkness.

PLAK! PLAK! PLAK!

Setiap hentakan diiringi oleh tamparan keras di bokong Darkness yang besar.

“AAAAHHHHNNN! INI! INI YANG AKU CARI!” pekik Darkness, benar-benar berada di surga
masokisnya. “PENGHINAAN! KENIKMATAN! SAKIT! SEMUANYA JADI SATU! TERUSKAN, TUAN
PUTRI! HUKUM AKU LEBIH KERAS LAGI!”

Kazumi hanya bisa tersenyum. Ia mengabulkan permintaan ksatria gilanya itu, mengentot dan
menamparnya sampai ia kembali muncrat, meresmikan anggota terakhir dari party-nya yang
paling aneh dan paling cabul.

Beberapa hari pun berlalu. Kehidupan party ‘Paling Rusak di Axel’ pun dimulai. Sesuai
keinginan Kazumi, Darkness kini selalu bepergian tanpa armornya, hanya mengenakan pakaian
dalam sederhana yang sering kali ‘tidak sengaja’ robek saat bertarung, membuatnya pada
akhirnya selalu telanjang.

Kazumi juga menemukan hobi baru untuk menyiksa Aqua. Ia mempelajari skill petualang
tingkat rendah, ‘Steal’. Di tengah kota yang ramai, ia akan tiba-tiba merapalkan mantranya
pada Aqua.

“STEAL!”

Dengan kilatan cahaya, bukan celana dalam Aqua yang tercuri, melainkan seluruh rok birunya,
meninggalkan sang dewi yang hanya mengenakan G-string di depan umum.

“KAZUMIIIIIIII!!! KEMBALIKAN ROKKU, DASAR FUTANARI SAMPAH!” jerit Aqua sambil mencoba
menutupi dirinya, yang tentu saja hanya membuat Kazumi tertawa terbahak-bahak.
Megumin juga tidak luput dari kejahilan pemimpinnya. Sering kali, saat ia sedang
berkonsentrasi penuh untuk merapal sihir ‘Explosion’-nya, Kazumi akan tiba-tiba memeluknya
dari belakang dan mengentotnya.

“Nghh! Ka-Kazumi! Aku sedang merapal mantra… ahh…! Nanti ledakannya bisa… meleset…
AHH!”

Partai mereka adalah sebuah bencana berjalan, namun entah bagaimana, mereka selalu
berhasil menyelesaikan quest mereka berkat kekuatan fisik Kazumi yang luar biasa.

Di sisi lain kota, di sebuah mansion mewah yang tersembunyi, Kageha sang assassin sedang
bertemu dengan kliennya. Klien itu adalah seorang futanari bangsawan yang cantik, namun
wajahnya dipenuhi dengan rasa iri dan frustrasi.

“Aku ingin kau membunuh seseorang,” kata sang bangsawan, suaranya dingin.

Kageha, yang berdiri di bayang-bayang, hanya mengangguk.

“Targetnya adalah seorang petualang pendatang baru. Futanari bernama Kazumi,” lanjut sang
bangsawan. “Dia… dia berjalan keliling kota telanjang, melakukan apa pun yang ia mau. Ia
mempermalukan seorang dewi, merekrut seorang ksatria suci hanya untuk dijadikan budak
seks… Dia melakukan semua hal cabul yang aku impikan tapi tidak bisa kulakukan karena
statusku! Aku iri padanya! Aku benci dia! Aku ingin dia mati!”

Kageha mengerti. Ini adalah pekerjaan yang didasari oleh rasa cemburu. Pekerjaan yang
mudah. Ia ingin menjawab dengan profesional, “Serahkan padaku. Akan kuselesaikan dengan
cepat.”

Namun, kutukannya mengubah kata-kata itu.

“Serahkan penisnya padaku… ahhn~…” desah Kageha, wajahnya memerah di balik bayang-
bayang. “Akan… akan kulayani dengan cepat… sampai dia mati lemas karena muncrat terus-
menerus…”

Sang bangsawan menatapnya dengan jijik sekaligus sedikit bergairah. Ia melempar sebuah
kantung berisi koin emas ke lantai. “Lakukan tugasmu, assassin lonte. Bawa kepalanya
padaku.”

Kageha mengambil kantung itu. Ia ingin mengatakan, “Anggap saja sudah beres.”

Tapi yang keluar adalah:

“Anggap saja… ahh… lubang pantatnya sudah beres kubuat longgar…”

Dengan wajah yang terbakar karena malu atas mulutnya sendiri, Kageha tidak menunggu lebih
lama lagi. Ia melompat keluar jendela dan menghilang ke dalam kegelapan malam, kini dengan
satu target di dalam benaknya: Yuzuki Kazumi.
Misi pembunuhan telah dimulai.

(Bersambung...)

Anda mungkin juga menyukai