0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan2 halaman

Pengakuan Terlarang Jenny dan Ari

Chapter ini menggambarkan hubungan intim yang terlarang antara Ari dan kakak tirinya, Jenny, di mana Ari mengambil alih kendali dalam ritual rahasia mereka. Dalam momen penuh gairah, Ari mengungkapkan perasaannya kepada Jenny, yang kemudian membalas dengan pengakuan cinta yang sama. Cerita berlanjut dengan eksplorasi lebih lanjut dari hubungan mereka yang kompleks dan penuh hasrat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan2 halaman

Pengakuan Terlarang Jenny dan Ari

Chapter ini menggambarkan hubungan intim yang terlarang antara Ari dan kakak tirinya, Jenny, di mana Ari mengambil alih kendali dalam ritual rahasia mereka. Dalam momen penuh gairah, Ari mengungkapkan perasaannya kepada Jenny, yang kemudian membalas dengan pengakuan cinta yang sama. Cerita berlanjut dengan eksplorasi lebih lanjut dari hubungan mereka yang kompleks dan penuh hasrat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

The Horny Futanari Who Made Her

Dream Porn Universe


Chapter 70: Pengakuan di Tengah Malam

[ROLEPLAY CONTINUE: PERVERTED SUMMER SAGA]

Rasa kaget yang dirasakan Jenny saat penis Ari tiba-tiba menusuknya dari belakang dengan
cepat melebur menjadi gelombang kenikmatan yang panas. Selama ini, ia selalu menjadi pihak
yang aktif dalam ritual rahasia mereka, pihak yang memegang kendali. Sekarang, untuk
pertama kalinya, Ari yang mengambil alih. Dan rasanya… luar biasa.

Ari mengentot kakak tirinya itu dengan tempo yang penuh gairah, melampiaskan semua
fantasi yang selama ini hanya bisa ia bayangkan saat sedang coli sendirian. Tangannya yang
bebas naik dan meremas payudara H-cup Jenny yang besar dan kenyal, terasa begitu nyata
dan sempurna di genggamannya.

Di tengah kabut nafsu yang menyelimuti mereka berdua di dalam kamar yang gelap itu, Ari
merasakan perasaan yang lebih dalam dari sekadar hasrat. Perasaan yang telah ia pendam
sejak pertama kali melihat kakak tirinya yang cantik dan tak tahu malu itu.

“Jenny…” desahnya di sela-sela hentakannya. “Aku… aku mencintaimu.”

Mendengar pengakuan itu, Jenny terdiam sejenak. Ia lalu menoleh ke belakang dengan wajah
yang dibuat-buat terlihat cemas dan bersalah, sebuah akting yang sangat ia nikmati.

“Tapi, Ari… kita…” bisiknya dengan suara gemetar yang palsu. “Kita kan kakak-adik… Ini salah…
kita tidak boleh melakukan ini…”

Protes yang terdengar seperti sebuah undangan itu adalah bahan bakar terbaik bagi Ari. “Aku
tidak peduli,” geramnya.

Dengan satu raungan yang tertahan, ia muncrat di dalam vagina Jenny, membanjirinya
dengan bukti nyata dari perasaannya yang ‘terlarang’.

Setelah orgasme itu sedikit mereda, Ari tidak melepaskan pelukannya. Ia menarik penisnya
keluar, membuat Jenny berpikir sesi mereka sudah selesai. Tapi kemudian, Ari memutar
pinggul Jenny sedikit, mengarahkan penisnya ke lubang yang lain.

“Tunggu, Ari, di sana jangan—!”

Terlambat. Ari sudah menghantam lubang pantat Jenny, memasukinya dengan satu hentakan
kuat.
PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pantat Jenny yang kini menungging sempurna.

“KYAAAAAHHHHH!”

Sebuah jeritan kenikmatan yang melengking keluar dari mulut Jenny. Kombinasi dari invasi
anal yang tiba-tiba dan tamparan yang memalukan itu membuatnya benar-benar gila.

“Sssst!” bisik Ari dengan panik, menyadari betapa kerasnya suara Jenny. “Jangan mendesah
terlalu keras! Nanti Mama dan Luna dengar!”

Ia terus menggerakkan pinggulnya di dalam lubang pantat Jenny yang terasa luar biasa
sempit dan nikmat.

Jenny mencoba untuk menahan suaranya. Ia menggigit bibir bawahnya, mencengkeram


seprai dengan erat. Tapi ia tidak bisa. Rasanya terlalu enak.

“Aku nggak bisa… ahh…! Aku nggak bisa menahannya…!” desahnya, suaranya kini terdengar
seperti isakan nikmat. “Penis-mu… di dalam pantatku… rasanya… ahhn… enak sekali…!”

Pengakuan jujur itu membuat Ari tersenyum. Ia menunduk dan mencium leher kakak tirinya.
“Aku tahu.”

“Aku…” lanjut Jenny, kini benar-benar jujur, melupakan semua permainannya. “Aku juga
mencintaimu, Ari…”

Ia berhenti sejenak, sebelum menambahkan dengan pengakuan yang paling jujur dan paling
cabul.

“Dan aku… sangat, sangat mencintai penismu ini… AHHH!”

Mendengar itu, Ari merasa menjadi futanari paling bahagia di seluruh dunia. Ia telah berhasil
menaklukkan dan memenangkan hati kakak tirinya yang paling ia dambakan.

(Bersambung...)

Anda mungkin juga menyukai