0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan3 halaman

Pagi yang Terlarang: Tantangan Gairah

Ari terbangun di pagi hari dengan kejutan dari Jenny yang sedang menghisap penisnya, tetapi mereka hampir ketahuan oleh Luna yang datang untuk membangunkan Ari. Setelah situasi tegang itu, Ari dan Jenny berhasil menyembunyikan aktivitas mereka dengan alasan yang tidak meyakinkan. Meskipun Luna curiga, mereka berhasil lolos dari penangkapan untuk saat ini.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
126 tayangan3 halaman

Pagi yang Terlarang: Tantangan Gairah

Ari terbangun di pagi hari dengan kejutan dari Jenny yang sedang menghisap penisnya, tetapi mereka hampir ketahuan oleh Luna yang datang untuk membangunkan Ari. Setelah situasi tegang itu, Ari dan Jenny berhasil menyembunyikan aktivitas mereka dengan alasan yang tidak meyakinkan. Meskipun Luna curiga, mereka berhasil lolos dari penangkapan untuk saat ini.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

The Horny Futanari Who Made Her

Dream Porn Universe


Chapter 71: Hampir Ketahuan

[ROLEPLAY CONTINUE: PERVERTED SUMMER SAGA]

Keesokan paginya, Ari terbangun bukan karena alarm, melainkan karena sebuah sensasi yang
luar biasa nikmat. Dalam keadaan setengah sadar, ia merasakan sesuatu yang hangat, basah,
dan sangat ahli sedang memanjakan penisnya. Ia mendesah pelan, mengira ia sedang
bermimpi.

Saat ia membuka matanya perlahan, ia melihat gundukan di bawah selimutnya yang bergerak-
gerak. Ia menyibakkan sedikit selimut itu dan matanya langsung terbelalak. Di sana, dengan
rambut pirangnya yang berantakan, adalah Jenny, sedang asyik menghisap penisnya.

Merasakan gerakan, Jenny mengangkat kepalanya dari bawah selimut, jejak air mani dari
orgasme tidur Ari masih ada di sudut bibirnya. Ia tersenyum nakal.

“Selamat pagi, sayang,” bisiknya dengan suara serak.

Pemandangan itu dan panggilan mesra itu membuat penis Ari yang baru saja sedikit lemas,
kembali menegang sempurna. “Jenny…”

Jenny kembali menunduk, siap untuk melanjutkan sarapannya. Ari pun pasrah, bersiap untuk
menikmati pagi yang paling indah. Namun, tiba-tiba…

TOK! TOK! TOK!

“Ari! Bangun! Mama suruh bangunin kamu buat sarapan!”

Itu suara Luna.

Jantung Ari dan Jenny serasa berhenti berdetak. “Sial!” desis Ari.

Tanpa pikir panjang, Jenny langsung menyelam sepenuhnya ke dalam selimut,


menyembunyikan dirinya. Pintu kamar pun terbuka, dan Luna (Saki dalam wujud dewasanya)
masuk.

“Ari, kau sudah bangun?” tanyanya.

Ari mencoba terdengar senormal mungkin, sebuah tugas yang mustahil saat kakak tirinya
sedang melanjutkan menghisap penisnya di bawah selimut.

“Nghh… i-iya, Luna…” jawab Ari, suaranya bergetar. “Gue… gue turun sebentar lagi… ahh…”
Luna menatapnya dengan curiga. “Kau kenapa? Wajahmu merah. Dan kenapa kau mendesah?”

Di bawah selimut, Jenny sengaja menghisap lebih kuat, membuat Ari nyaris menjerit.

“Nggak apa-apa! Cuma… ahhn… mimpi basah… iya, mimpi basah!” kata Ari, mencoba mencari
alasan. “Udah, sana turun dulu!”

Luna mengangkat bahu. “Aneh. Ya sudah, cepat turun.”

Saat Luna berbalik dan berjalan menuju pintu, Ari tahu ia tidak akan bisa menahannya lebih
lama lagi. Tepat saat Luna memegang gagang pintu, Ari mencapai puncaknya.

“HNNNGGGHHHH!”

Sebuah erangan yang keras dan tertahan keluar dari mulut Ari.

Luna berhenti dan menoleh. “Hmm? Kau bilang sesuatu?”

“NGGAK!” teriak Ari dengan panik. “Cuma ngulet aja! Udah sana pergi!”

Luna menatapnya aneh sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar keluar dan menutup pintu.

Begitu pintu tertutup, Ari ambruk di bantal, terengah-engah. Jenny muncul dari bawah
selimut dengan senyum kemenangan, mulutnya penuh dengan air mani Ari.

“Hampir saja,” kata Jenny sambil menelan semuanya.

Gairah dari situasi yang nyaris ketahuan itu terlalu besar. Tanpa banyak bicara, Ari menarik
Jenny dan langsung mengentotnya dengan cepat dan kasar, sebuah luapan adrenalin dan
nafsu.

Setelah selesai, saat Jenny hendak bangkit, Ari menahannya. “Tunggu,” katanya dengan
seringai. “Aku punya tantangan untukmu.”

“Tantangan apa?”

“Jangan bersihkan air mani-ku dari vaginamu,” kata Ari. “Biarkan saja seharian ini. Berani?”

Jenny, si lonte yang tak punya malu, hanya tertawa. “Tentu saja berani. Tantangan macam apa
itu?”

Mereka pun turun ke ruang makan. Ari berjalan seperti biasa, sementara Jenny harus berjalan
sedikit aneh, mencoba menahan sisa-sisa air mani agar tidak menetes terlalu jelas.

Saat mereka duduk, Luna yang sedang mengoleskan selai ke rotinya, menatap mereka berdua
dengan curiga. Ia melihat penis Ari yang masih terlihat sedikit basah. Ia juga ingat desahan
aneh dari kamar Ari tadi.

“Tunggu sebentar,” kata Luna, matanya menyipit. “Kalian berdua tadi… ngentot, ya?”
Ari dan Jenny langsung membeku.

“Hah?! Nggak mungkin!” sahut Debbie dari dapur. “Mereka kan kakak-adik!”

“Tapi tadi aku dengar desahan, Ma,” kata Luna, matanya masih menatap tajam ke arah Ari.
“Dan penismu itu basah.”

Ari tertawa dengan gugup. “Ah, itu…,” katanya, mencoba berpikir cepat. “Gue tadi pagi bangun
kesiangan, jadi gue coli sambil nonton film porno biar cepat bangun. Terus nggak sengaja
volumenya kegedean, makanya kedengeran kayak desahan. Penis gue basah ya… karena belum
sempet gue lap. Hehehe.”

Luna menatapnya dengan tidak percaya, tapi ia tidak punya bukti. “Alasanmu aneh sekali.”

“Sudahlah, Luna,” kata Debbie sambil meletakkan sepiring pancake di meja. “Jangan menuduh
adik dan kakakmu yang tidak-tidak. Ari tidak mungkin melakukan itu.”

Luna akhirnya menyerah, meskipun rasa curiganya tidak hilang. Ari dan Jenny saling
bertatapan di seberang meja, bertukar senyum licik. Mereka berhasil lolos. Untuk saat ini.

(Bersambung...)

Anda mungkin juga menyukai