0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan3 halaman

Kesempatan Emas di Pantai

Luna mendapatkan kesempatan untuk pergi liburan ke pantai, yang membuat Ari dan Jenny merasa bebas untuk melakukan hubungan intim tanpa pengawasan. Mereka merayakan kebebasan ini dengan berhubungan seks di pagi hari, dan terus melakukannya di bawah meja saat sarapan dengan Debbie, yang tidak menyadari apa yang terjadi. Suasana menjadi lebih santai dan menggairahkan bagi Ari dan Jenny setelah Luna pergi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan3 halaman

Kesempatan Emas di Pantai

Luna mendapatkan kesempatan untuk pergi liburan ke pantai, yang membuat Ari dan Jenny merasa bebas untuk melakukan hubungan intim tanpa pengawasan. Mereka merayakan kebebasan ini dengan berhubungan seks di pagi hari, dan terus melakukannya di bawah meja saat sarapan dengan Debbie, yang tidak menyadari apa yang terjadi. Suasana menjadi lebih santai dan menggairahkan bagi Ari dan Jenny setelah Luna pergi.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

The Horny Futanari Who Made Her

Dream Porn Universe


Chapter 72: Kesempatan Emas

[ROLEPLAY CONTINUE: PERVERTED SUMMER SAGA]

Setelah sarapan yang menegangkan itu selesai dan Debbie pergi untuk membereskan dapur,
Luna yang masih curiga mendekati Ari. "Pokoknya aku masih mengawasimu," desisnya
sebelum masuk ke kamarnya.

Tiba-tiba, ponsel Luna berdering. Ia mengangkatnya dan wajahnya yang tadi masam perlahan
berubah menjadi ceria. Setelah menutup telepon, ia keluar dari kamarnya dengan gembira.

“Mama! Ari! Jenny!” serunya. “Teman-temanku baru saja mengajakku liburan ke pantai selama
seminggu! Aku boleh pergi, kan? Aku berangkat besok pagi!”

Debbie, yang senang melihat Luna akhirnya bersenang-senang, langsung setuju. “Tentu saja
boleh, sayang! Siapkan barang-barangmu, ya!”

Mendengar berita itu, Ari dan Jenny saling bertatapan. Sebuah senyum licik yang sama persis
terukir di wajah mereka. Pengawas mereka… akan pergi. Ini adalah kesempatan emas.

Sore itu, saat Debbie sedang sibuk menyiram tanaman di halaman belakang, Ari menyelinap
masuk ke kamar Jenny. Tanpa perlu berkata apa-apa, mereka langsung bercinta dengan penuh
gairah, sebuah perayaan awal untuk kebebasan yang akan mereka dapatkan.

Keesokan paginya, Ari terbangun oleh sensasi paling nikmat yang bisa dibayangkan. Ia
merasakan penisnya bergerak naik turun di dalam sesuatu yang hangat, basah, dan sangat
sempit. Dalam keadaan setengah sadar, ia pikir ia sedang bermimpi, sebuah mimpi yang
sangat indah.

Ia membuka matanya perlahan dan mendapati Jenny sudah berada di atasnya, telanjang
bulat, menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang sensual. Kakak tirinya itu sedang
menungganginya dalam tidur.

Melihat Ari sudah bangun, Jenny menunduk, rambut pirangnya menjuntai di wajah Ari. Ia
memberikan ciuman yang dalam dan penuh gairah.

“Selamat pagi, sayang,” bisiknya sambil terus bergerak.

Pemandangan itu, sapaan itu, dan kenikmatan yang luar biasa itu sudah cukup. Dengan satu
desahan panjang, Ari muncrat di dalam vagina Jenny, sebuah orgasme pagi yang sempurna.
“Ahh… pagi yang terbaik…” desah Ari setelahnya.

Jenny terkekeh dan merebahkan dirinya di samping Ari. “Kau suka cara bangun tidurku?”

“Suka banget,” jawab Ari. Ia lalu memeluk Jenny dari belakang, tangannya meremas payudara
H-cup kakak tirinya itu. “Aku tidak sabar. Setelah Luna pergi, kita bisa melakukan ini setiap
saat. Ngentot diam-diam di belakang Mama Debbie…”

“Hehehe, itu akan jadi sangat menyenangkan,” balas Jenny.

Setelah bermanja-manja sejenak, mereka turun untuk sarapan. Di meja makan, hanya ada
Debbie.

“Pagi, anak-anak,” sapa Debbie dengan senyum keibuannya. “Luna sudah berangkat tadi
subuh. Dia sarapan lebih awal, katanya tidak mau ketinggalan kereta.”

“Oh, baguslah,” kata Ari, bertukar senyum penuh arti dengan Jenny.

Mereka pun duduk dan mulai sarapan. Suasananya jauh lebih santai tanpa tatapan curiga dari
Luna. Debbie berceloteh tentang rencananya hari itu, sama sekali tidak menyadari apa yang
terjadi di bawah meja.

Ari, yang duduk di sebelah Jenny, dengan nakal menyelinapkan tangannya di bawah meja dan
memasukkan satu jarinya ke dalam vagina Jenny yang masih basah oleh air mani mereka.

“Nghh~!”

Jenny mendesah cukup keras, tubuhnya sedikit tersentak.

“Kau kenapa, Jenny?” tanya Debbie bingung.

Jenny menatap ibunya dengan wajah ‘polos’. “Nggak apa-apa, Ma. Pancake-nya… enak banget,
sampai aku mendesah keenakan,” jawabnya, sebuah alasan yang sangat bodoh tapi entah
bagaimana dipercaya oleh Debbie.

“Oh, syukurlah kalau kau suka,” kata Debbie sambil tersenyum.

Melihat betapa mudahnya Debbie dikelabui, Jenny menjadi lebih berani. Sambil terus
menikmati sentuhan jari Ari di dalam dirinya, tangannya ganti menyelinap ke bawah meja dan
menemukan penis Ari. Ia mulai mengocoknya dengan lembut.

Ari menahan napas, mencoba untuk tidak mengeluarkan suara. Sensasi dirangsang secara
terang-terangan di bawah meja makan, tepat di depan ibu tirinya yang tidak menaruh curiga
sama sekali, adalah hal paling cabul dan paling menggairahkan yang pernah ia rasakan.

“Kau… suka pancake-nya juga, Ari?” tanya Debbie, melihat wajah Ari yang memerah.

“S-suka… Ma… ahh…” desah Ari pelan. “Enak… banget…”


Ia dan Jenny kembali bertatapan, senyum kemenangan terukir di wajah mereka. Minggu ini
akan menjadi minggu terbaik dalam hidup mereka.

(Bersambung...)

Anda mungkin juga menyukai