Shakusō Sentai Karikaiger
Chapter 1: Pahlawan Telah Lahir! Namaku Karika Red!
Deru kehidupan Tokyo tidak pernah berhenti. Bagi Asakura Taiga, seorang mahasiswa berusia
19 tahun, ritme kota ini adalah musik latar dari obsesinya. Sambil berjalan pulang dari
kampusnya, earphone terpasang di telinga, yang terdengar bukanlah lagu pop terbaru,
melainkan lagu pembuka dari Choujin Sentai Jetman. Bibirnya tanpa sadar ikut
bersenandung, dan tangannya sesekali mengepal, meniru pose Red Hawk saat melakukan
jurus pamungkasnya.
“Keren…,” gumamnya pada diri sendiri sambil tersenyum.
Bagi orang lain, dia mungkin terlihat aneh. Tapi bagi Taiga, Super Sentai lebih dari sekadar
tontonan masa kecil. Itu adalah kitab suci kepahlawanan, sebuah ensiklopedia keberanian
yang setiap halamannya ia hafal di luar kepala. Dari pose perubahan Aka Ranger hingga pidato
perpisahan Time Fire, semua terekam jelas dalam benaknya. Mimpinya sederhana: menjadi
pahlawan yang bisa menyelamatkan orang, sama seperti para idolanya.
Langkahnya terhenti di sebuah perlintasan yang ramai. Lampu merah menyala, dan
kerumunan orang menunggu dengan sabar. Di seberang jalan, seorang anak laki-laki kecil lepas
dari genggaman ibunya, bola merahnya menggelinding ke tengah jalan. Tanpa pikir panjang,
anak itu berlari mengejarnya.
Pada saat yang sama, sebuah truk barang melaju dengan kecepatan tinggi, klaksonnya
meraung membelah udara.
Waktu seolah melambat bagi Taiga. Semua orang berteriak. Ibu anak itu menjerit panik. Taiga
tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri, didorong oleh insting yang telah diasahnya dengan
menonton ribuan episode kepahlawanan. Dia melesat ke depan, mendorong tubuh kecil anak
itu dengan sekuat tenaga hingga terlempar ke trotoar yang aman.
BRAKK!
Dunia Taiga menjadi gelap, diiringi suara decitan ban yang memekakkan telinga dan benturan
logam yang meremukkan tulang. Dalam detik-detik terakhirnya, saat kesadarannya memudar,
satu pikiran melintas di benaknya, sebuah monolog terakhir yang sangat sesuai dengan
dirinya.
"Kuharap aku bisa menjadi pahlawan... Tapi kalau aku mati dengan gaya... itu bukan hal yang
buruk, kan?"
Lalu, segalanya menjadi sunyi.
Kehangatan. Itulah yang pertama kali Asakura Taiga rasakan. Perlahan, ia membuka matanya.
Langit biru yang familier menyambutnya, dihiasi awan putih yang bergerak malas. Dia
terduduk, refleks memeriksa tubuhnya. Tidak ada luka, tidak ada darah, bahkan pakaiannya
utuh.
“Dimana ini? Surga?” tanyanya pada kehampaan.
Dia berdiri dan memandang sekeliling. Pemandangannya sangat mirip dengan distrik Shibuya,
lengkap dengan gedung-gedung pencakar langit dan papan reklame digital raksasa. Tapi ada
yang aneh. Salah satu papan reklame terbesar menampilkan para pahlawan dari Tokusou
Sentai Dekaranger dengan slogan besar: "Kepolisian Dekapolis: Melindungi Sejarah Kita Sejak
2004!"
Taiga mengerjap. “Iklan layanan masyarakat? Aneh sekali.”
Dia berjalan tanpa tujuan, mencoba memahami situasinya. Semua tampak normal, namun
terasa salah. Orang-orang berlalu lalang, teknologi terlihat sama, tapi di setiap sudut ia
menemukan bukti bahwa Super Sentai bukanlah fiksi di dunia ini. Ada kafe bertema Goggle-V,
patung Battle Fever Robo di sebuah taman kota, dan anak-anak yang bermain dengan action
figure Ohsama Sentai King-Ohger yang diperlakukan layaknya tokoh sejarah, bukan karakter
TV.
Dunia ini… semua seri Super Sentai itu nyata. Mereka adalah bagian dari sejarah.
Tiba-tiba, jeritan panik memecah lamunannya. Orang-orang berlarian tunggang langgang,
menjauhi sebuah gang sempit. Dari dalam gang itu, muncul sekelompok makhluk aneh. Tubuh
mereka humanoid, berwarna abu-abu kusam dengan tonjolan-tonjolan seperti tumor dan
kabel-kabel aneh yang menancap di punggung mereka. Wajah mereka kosong, tanpa ekspresi,
hanya mata merah yang menyala-nyala. Helix Troopers.
Di belakang mereka, seorang anak perempuan kecil tersandung dan jatuh, menangis
ketakutan saat para monster itu perlahan mendekat.
Pemandangan itu menyentak jiwa Taiga. Situasinya hampir sama persis dengan momen
sebelum kematiannya. Kali ini, tidak ada truk. Yang ada adalah monster yang nyata. Tanpa
ragu, Taiga berlari ke arah yang berlawanan dari kerumunan, ke arah bahaya.
“Menjauh dari anak itu!” teriaknya, sambil meraih tutup tempat sampah logam di dekatnya
untuk dijadikan perisai darurat.
Para Helix Troopers menoleh serempak, mata merah mereka tertuju pada Taiga. Salah satu
dari mereka mendesis dan menerjang maju, cakarnya yang tajam teracung. Taiga menahan
napas, tahu bahwa tutup sampah ini tidak akan bisa menahan serangan itu. Dia hanya
berharap bisa mengulur waktu.
Saat monster itu hanya berjarak beberapa inci darinya, sebuah cahaya merah menyilaukan
melesat turun dari langit dan berhenti tepat di depan wajah Taiga. Cahaya itu meredup,
menampakkan sebuah smartphone ramping berwarna merah-hitam. Di bagian belakangnya
terukir logo heliks DNA yang dikelilingi garis-garis tipis berwarna-warni.
Layar ponsel itu menyala, dan sebuah suara mekanis yang tenang namun tegas terdengar,
seolah berbicara langsung di dalam kepalanya.
“DNA Sinkronisasi cocok. Identitas baru terbentuk: Karika Red. Akses dimulai.”
Bersamaan dengan suara itu, gelombang informasi yang luar biasa deras membanjiri pikiran
Taiga. Nama Shakusō Sentai Karikaiger, organisasi musuh GENEBREAK, misi untuk
mengumpulkan DNA Coin, dan yang terpenting… cara untuk berubah. Cara untuk bertarung.
Syok, kaget, dan rasa tak percaya bercampur aduk dengan luapan kegembiraan yang tak
terkendali. Ini nyata. Mimpinya yang paling liar menjadi kenyataan.
Monster itu sedikit terkejut oleh cahaya mendadak, memberinya sepersekian detik yang ia
butuhkan. Taiga tidak menyia-nyiakannya. Dengan seringai lebar di wajahnya, dia melempar
tutup sampah itu ke arah monster dan menangkap smartphone canggih yang melayang di
udara. Rasanya pas di tangannya, seolah dibuat khusus untuknya.
“Jadi begini caranya…” gumamnya, jari-jarinya menari di atas layar seolah dia sudah
melakukannya ribuan kali. Dia menekan ikon DNA di tengah layar.
Para Helix Troopers kembali fokus dan berlari ke arahnya.
Taiga mengangkat smartphone itu tinggi-tinggi, dadanya membusung penuh percaya diri. Ini
adalah momen yang telah ia latih sepanjang hidupnya dalam imajinasi.
“Karika Change!” teriaknya, suaranya menggelegar penuh kekuatan.
"KAAAAARIKAIGER!"
Sebuah efek suara yang epik menggema di seluruh area saat perangkat itu merespons.
Pusaran data digital berwarna pelangi meledak dari DNA Changer, membentuk untaian-
untaian heliks DNA yang berputar-putar di sekeliling Taiga. Armor merah berkilauan mulai
terbentuk di tubuhnya. Pelindung kaki dan tangan terkunci di tempatnya, diikuti oleh
pelindung dada yang kokoh dengan lambang heliks DNA perak yang bersinar terang di
tengahnya. Dua pelindung bahu identik muncul, juga dihiasi dengan logo heliks. Terakhir, helm
merah dengan visor hitam pekat dan aksen perak terbentuk, menutupi kepalanya dengan
bunyi klik yang memuaskan. Mata visornya menyala merah terang.
Transformasi selesai. Dia berdiri tegak, kini sebagai Karika Red. Dia mengepalkan tangannya,
merasakan kekuatan baru yang mengalir di setiap sel tubuhnya. Kekuatan ini terasa nyata,
berat, dan luar biasa.
Para Helix Troopers berhenti, seolah bingung dengan perubahan mendadak mangsanya.
Taiga terkekeh di balik helmnya. Ini adalah bagian favoritnya. Dia menunjuk lurus ke arah para
monster, lalu menyilangkan tangannya di dada sebelum mengayunkannya ke samping dalam
sebuah pose yang dinamis dan penuh wibawa.
“Peminjam warisan para pahlawan!” suaranya terdengar lebih tajam dan bergema melalui
vokoder helmnya. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan jempolnya. “Karika Red!”
Saat dia menyelesaikan kalimatnya, partikel cahaya merah berkumpul di tangan kanannya dan
membentuk sebuah pedang. Bilahnya ramping dan tajam, dengan pelindung tangan yang
menyerupai DNA Changer miliknya dan ukiran heliks halus di sepanjang bilahnya. Karika
Blade.
“Shakusō Sentai Karikaiger... Siap bertarung!” dia mendeklarasikan nama timnya untuk
pertama kalinya, meskipun hanya dia yang ada di sana.
Salah satu Helix Trooper mendesis dan menyerang. Taiga dengan tenang mengayunkan Karika
Blade-nya. Gerakannya begitu cepat dan tepat, hasil dari sinkronisasi tubuh barunya yang
atletis dan pengetahuannya yang luas tentang gaya bertarung Sentai.
CLANG!
Pedangnya dengan mudah menangkis cakar monster itu. Dengan putaran tubuh yang elegan,
dia menebas perut monster itu, membuatnya meledak menjadi partikel digital.
“Satu tumbang,” katanya dengan santai.
Dua monster lagi menyerang dari samping. Taiga melompat, melakukan salto ke belakang
untuk menghindari serangan mereka, dan mendarat dengan ringan. Dia menusukkan
pedangnya ke tanah, menggunakan gagangnya untuk menendang salah satu monster tepat di
dada, lalu menarik pedangnya dan melakukan tebasan horizontal yang menghabisi monster
kedua.
Dia bergerak seperti penari yang mematikan. Setiap tebasan, setiap tendangan, setiap pose
adalah penghormatan kepada para pahlawan yang ia kagumi. Dia menggabungkan kecepatan
Gekiranger dengan presisi Shinkenger, menciptakan gaya bertarung uniknya sendiri.
Melihat pemimpin mereka dikalahkan dengan mudah, sisa Helix Troopers mundur selangkah,
ragu-ragu.
Taiga mengarahkan Karika Blade ke arah mereka. “Mau lari? Tidak akan kubiarkan!”
Dia berlari ke depan, pedangnya menyala dengan energi merah. Dengan satu tebasan kuat
berbentuk busur, dia melepaskan gelombang energi yang menghantam sisa kroco itu
sekaligus, membuat mereka semua meledak dalam hujan partikel.
Keheningan kembali menyelimuti gang itu. Taiga berdiri di tengah, pedangnya masih
tergenggam erat. Dia melihat ke arah anak perempuan yang diselamatkannya. Anak itu
menatapnya dengan mata berbinar-binar, penuh kekaguman dan rasa terima kasih.
Karika Red memberinya anggukan kecil sebelum pedangnya menghilang dalam kilatan cahaya.
Dia melihat tangannya yang bersarung merah, lalu ke DNA Changer yang kini terpasang di
sabuknya.
Semuanya nyata. Dunianya telah berakhir, tapi mimpinya baru saja dimulai. Dia bukan lagi
hanya Asakura Taiga, si penggemar Super Sentai.
Dia adalah Karika Red, seorang prajurit Super Sentai. Dan misinya baru saja dimulai.
(Bersambung...)