Shakusō Sentai Karikaiger
Chapter 2: Jaringan Warisan dan Empat Cahaya Lainnya
Asakura Taiga, atau lebih tepatnya Karika Red, berdiri tegak di tengah gang yang sunyi.
Adrenalin dari pertarungan perlahan surut, digantikan oleh kesadaran yang luar biasa akan
apa yang baru saja terjadi. Dia melihat ke arah anak perempuan yang tadi ia selamatkan. Anak
itu, yang sudah dijemput oleh ibunya yang menangis lega, melambaikan tangan kecil ke
arahnya sebelum menghilang di tikungan jalan.
Taiga membalas dengan acungan jempol, sebuah gestur pahlawan klasik yang ia lihat ribuan
kali. Di balik helmnya, senyum puas terukir.
"Luar biasa..." bisiknya. Kekuatan ini, rasa tanggung jawab ini... semuanya lebih baik dari yang
pernah ia bayangkan.
Namun, dia tidak bisa selamanya berdiri di sini dengan kostum mencolok. Dia harus kembali
ke wujud manusianya. Tapi bagaimana? Sambil berpikir, dia mengamati DNA Changer yang
terpasang di sabuknya. Sebuah tombol kecil dengan ikon "Release" bersinar lembut.
"Ah, semudah itu ya?"
Dia menekan tombol itu. Seketika, armor merah yang melindunginya pecah menjadi jutaan
partikel cahaya, tersedot kembali ke dalam DNA Changer dengan suara desingan lembut. Dia
kembali menjadi Asakura Taiga, mahasiswa biasa dengan jaket dan jeans, meski tubuhnya
terasa lebih ringan dan penuh energi.
Dia baru saja akan memasukkan DNA Changer ke dalam sakunya ketika perangkat itu kembali
bersuara, layarnya menyala dengan teks berwarna biru.
“Misi pertama selesai. Inisiasi Karika Red berhasil. Sekarang, berkumpullah dengan anggota
tim yang lain.”
Taiga mengerutkan kening. "Anggota lain? Aku pikir aku sendirian. Apakah maksudmu aku
harus merekrut orang?"
“Negatif. Karika Blue, Yellow, Green, dan Pink telah aktif sebelum dirimu. Kau, Karika Red,
adalah anggota kelima dan yang terakhir diaktifkan. Kau adalah pemimpin tim, Shakusō Sentai
Karikaiger.”
Kepala Taiga terasa pening. "Tunggu, tunggu, tunggu! Pemimpin?" Dia menunjuk dirinya
sendiri dengan tidak percaya. "Kalau aku pemimpinnya, kenapa aku yang paling terakhir
muncul? Bukankah seharusnya pemimpin yang pertama?!"
“Potensi sinkronisasi DNA tertinggi membutuhkan pemicu emosional terkuat untuk membuka
akses penuh. Aktivasimu yang didasari oleh pengorbanan tanpa pamrih adalah kunci yang
dibutuhkan. Kehadiranmu menandakan dimulainya fase pertempuran sesungguhnya melawan
GENEBREAK.”
Penjelasan itu, meskipun terdengar sangat keren dan logis dalam dunia Sentai, tetap saja
membuatnya bingung. Dia mengutak-atik DNA Changer di tangannya dan membuka sebuah
menu berlabel "Database Warisan". Di dalamnya, ada ikon DNA miliknya, "Karika Red", yang
bersinar terang. Di sampingnya, sudah ada tiga ikon lain yang menyala redup.
"Ini... DNA Sentai terdahulu?" tanyanya, mengenali logo-logo itu seketika.
Yang pertama adalah logo petir dari Denshi Sentai Denziman.
Yang kedua adalah logo kepalan tangan dari Juken Sentai Gekiranger.
Dan yang ketiga adalah lencana S.P.D. dari Tokusou Sentai Dekaranger.
"Aku bahkan belum melawan monster apapun yang membawa DNA mereka. Bagaimana bisa
aku sudah memilikinya?"
"Semua DNA Changer terhubung ke Jaringan Warisan. Saat satu anggota Karikaiger berhasil
mengalahkan Gene Reaver dan memindai DNA Coin yang dijatuhkannya, data tersebut akan
secara otomatis dibagikan ke semua anggota tim. Rekan-rekanmu telah berjuang sebelum kau
bergabung."
Taiga terdiam. Jadi, ada empat orang lain di luar sana yang bertarung, mengumpulkan
kekuatan ini untuk tim. Mereka sudah berjuang sementara dia hanya menjalani hidupnya
sebagai otaku. Rasa hormat dan tanggung jawab yang baru menyelimutinya.
Saat dia mencoba memproses semua ini, serangkaian ingatan baru yang aneh muncul di
benaknya. Ingatan tentang dunia ini. Dia masih Asakura Taiga, seorang mahasiswa di
Universitas Touto. Namun di dunia ini, dia adalah seorang yatim piatu yang tinggal sendirian di
sebuah apartemen kecil. Ingatan itu terasa begitu nyata, seolah-olah dia telah menjalani
hidup ini sejak lahir. Dia tahu jalan pulang.
Di sisi lain kota, di sebuah distrik pergudangan yang terbengkalai, pertempuran sengit baru
saja berakhir.
"Sial! Dia kabur lagi!"
Suara yang tajam dan penuh kekesalan itu datang dari Karika Blue. Dia berdiri tegak, armor
birunya sedikit tergores. Di tangannya ada sebuah senjata yang berbentuk seperti pistol,
Karika Blaster. Di sekelilingnya, tiga rekannya mengatur napas.
"Dia kuat sekali! Aku suka itu!" seru Karika Yellow, seorang gadis dengan armor kuning ceria.
Dia memukul-mukulkan kedua tinjunya yang terbungkus Karika Knuckles, sarung tangan
tempur yang kuat.
"Data menunjukkan organisme itu telah menggabungkan DNA monster dari era Bioman
dengan teknik kecepatan tinggi... mungkin dari Turboranger. Kombinasi yang tidak stabil tapi
efektif," kata Karika Green dengan suara tenang. Armor hijaunya dilengkapi dengan berbagai
sensor, dan dia memegang Karika Dagger yang ramping.
"Yang penting semuanya selamat," ucap Karika Pink dengan lembut, armor merah mudanya
bersinar saat dia menurunkan Karika Shield miliknya. Dia memeriksa kondisi rekan-rekannya
dengan cemas.
Mereka adalah Kujo Riku (Blue), Aihara Mizuki (Yellow), Midorikawa Kei (Green), dan Sakura
Honami (Pink). Selama beberapa minggu terakhir, mereka berempat telah berjuang melawan
pasukan GENEBREAK dalam skala kecil.
Tiba-tiba, keempat DNA Changer mereka berbunyi serempak.
“Peringatan: Karika Red telah aktif. Titik aktivasi: Distrik Shibuya. Pemimpin kalian telah
muncul.”
Keempatnya saling berpandangan setelah melepaskan transformasi mereka.
Riku, seorang pemuda berwajah serius dengan rambut hitam pendek, menyilangkan
tangannya. "Pemimpin? Akhirnya dia muncul juga. Kenapa sekarang?"
"Waaah! Aku tidak sabar bertemu dengannya!" Mizuki, gadis berambut cokelat yang dikuncir
kuda, melompat-lompat kecil dengan antusias. "Menurutmu dia orang seperti apa? Apa dia
keren? Apa dia kuat?"
"Aku harap dia baik-baik saja," kata Honami, gadis berambut panjang yang lembut. "Aktivasi
berarti dia pasti berada dalam situasi yang sangat berbahaya."
Kei, pemuda berkacamata yang lebih banyak diam, menatap layar DNA Changer-nya. "Data
dari aktivasinya menunjukkan lonjakan energi warisan yang sangat tinggi. Jauh di atas rata-
rata kita saat pertama kali berubah. Ini menarik."
Riku menghela napas. "Apapun itu, misi kita besok sudah jelas. Kita harus menemukan Karika
Red dan berkumpul. Pertarungan yang sebenarnya akan segera dimulai."
Taiga berjalan menyusuri jalanan yang kini terasa familier. Kakinya membawanya ke sebuah
gedung apartemen dua lantai yang sederhana namun terawat baik, dengan papan nama
bertuliskan "Maison Soleil". Saat ia melangkah masuk ke halaman kecilnya, aroma bunga yang
manis menyambutnya.
"Taiga-kun, selamat datang kembali."
Sebuah suara lembut memanggilnya. Di dekat taman kecil, seorang wanita muda yang sangat
cantik sedang menyiram bunga. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, dan senyumnya
sehangat matahari. Dia adalah Yukishiro Sanae, pemilik apartemen sekaligus satu-satunya
figur keluarga yang dimiliki Taiga di dunia ini.
Taiga merasakan pipinya sedikit memanas, sebuah reaksi yang terasa alami. "Ah, Sanae-san.
Aku pulang."
Sanae meletakkan alat penyiramnya dan berjalan mendekat. Matanya yang jernih menatap
Taiga dengan sedikit kekhawatiran. "Tumben malam sekali? Apa ada kelas tambahan? Kamu
juga terlihat sedikit pucat. Apa kamu baik-baik saja?"
"Ti-tidak apa-apa! Sungguh!" jawab Taiga sedikit gugup. "Hanya... ada sedikit urusan
mendadak. Tapi semua sudah beres."
Sanae tersenyum lagi, senyuman yang bisa meluluhkan hati siapapun. "Syukurlah kalau
begitu. Jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kalau kamu butuh sesuatu, atau hanya ingin
bicara, kamarku selalu terbuka. Oh, aku membuat kari malam ini. Aku sisihkan sebagian
untukmu, nanti kuantar ke atas."
"Te-terima kasih banyak, Sanae-san!"
Taiga cepat-cepat membungkuk dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua,
jantungnya berdebar kencang.
Dia masuk ke dalam apartemennya yang kecil namun nyaman. Di dindingnya, sama seperti di
kamar lamanya, tertempel poster-poster Super Sentai. Ada poster Gokaiger, Shinkenger,
bahkan Gorenger yang sudah menguning. Dunia ini mungkin berbeda, tapi cintanya pada
Sentai tetap sama.
Dia menjatuhkan diri ke tempat tidur, menatap DNA Changer di tangannya. Semuanya terasa
seperti mimpi. Dia menjadi pahlawan. Dia punya tim. Dia adalah pemimpin. Dan di dunia ini,
ada seseorang seperti Sanae-san yang mengkhawatirkannya.
Dia punya alasan baru untuk bertarung. Bukan hanya untuk impian masa kecilnya, tapi juga
untuk melindungi kehangatan dan kebaikan yang baru saja ia temukan di dunia ini.
"Karika Blue, Yellow, Green, Pink..." gumamnya. "Besok, aku akan mencari kalian."
Tekadnya telah bulat. Kehidupannya sebagai Asakura Taiga, pemimpin Shakusō Sentai
Karikaiger, akan benar-benar dimulai esok hari.
(Bersambung...)